Indeks Real Effective Exchange Rate (REER) BIS—yakni nilai tukar efektif riil, yang mengukur daya saing mata uang terhadap sekeranjang mata uang mitra dagang dan sudah disesuaikan dengan inflasi—berdasarkan perubahannya dalam lima tahun terakhir, menunjukkan euro dan dolar AS semakin mendekati valuasi yang sama dalam enam bulan terakhir. Yen Jepang tetap dinilai rendah jika dilihat dari REER.
Koordinasi AS–Jepang terkait nilai tukar disebut sudah berlangsung. Pergerakan lanjutan dalam kisaran euro dan dolar dikaitkan dengan faktor struktural (pendorong jangka panjang) seperti kekuatan teknologi AS dan kemandirian Eropa terkait pertahanan.
Jepang dinilai tidak mendapat dorongan yang sebanding. Akibatnya, yen menunjukkan pelemahan yang lebih panjang dalam jangka panjang, bukan sekadar “gagal menguat”.
Pelemahan yen yang berkepanjangan dipandang sebagai risiko persaingan yang lebih besar bagi eksportir Zona Euro dibanding AS, karena mereka lebih sering bersaing di pasar ekspor yang sama. Namun, artikel mencatat persaingan ini melemah dari waktu ke waktu, terutama di sektor otomotif, setelah China mengganggu pasar global.
Selama perjalanan Menteri Keuangan AS Scott Bessent ke Tokyo, USD/JPY kembali turun tajam dalam waktu singkat. Pasar akan mencermati data intervensi akhir bulan untuk menilai langkah Kementerian Keuangan Jepang—yakni aksi jual-beli mata uang oleh pemerintah untuk memengaruhi kurs—yang sejauh ini dinilai berdampak terbatas.
Yen Jepang masih dinilai sangat murah, dan pasar menguji level terendah baru terhadap dolar. Dengan USD/JPY saat ini diperdagangkan mendekati level 170, selisih suku bunga AS dan Jepang tetap menjadi pendorong utama, mengalahkan upaya intervensi resmi. Seperti pada 2024, intervensi biasanya hanya memberi kelegaan sementara, sehingga gejolak jangka pendek menjadi hasil yang paling mungkin.
Eropa lebih rentan terhadap pelemahan yen yang berkepanjangan dibanding AS, sehingga membuka peluang pada perdagangan silang mata uang (currency cross), yaitu pasangan mata uang yang tidak melibatkan dolar AS. Data BIS terbaru menunjukkan REER yen berada di titik terendah baru dalam beberapa dekade, memperbesar keunggulan daya saing eksportir Jepang terhadap pesaingnya di Zona Euro, khususnya sektor otomotif. Karena itu, pasar perlu memantau sinyal “intervensi verbal” dari Bank Sentral Eropa (ECB), yaitu pernyataan pejabat yang bertujuan memengaruhi ekspektasi pasar, yang dapat menekan pasangan EUR/JPY.