Kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average (DJIA futures) ditutup Senin nyaris tidak berubah dibanding Jumat, meski ketegangan AS–Iran meningkat sepanjang akhir pekan. Presiden Trump mengatakan AS menembaki dan menyita kapal kargo berbendera Iran di Teluk Oman, dan Iran menarik diri dari perundingan di Pakistan yang dimediasi AS.
WTI (West Texas Intermediate, patokan harga minyak AS) naik 5% ke atas US$88 per barel, sementara Brent (patokan harga minyak global) juga naik sekitar 5% ke atas US$94. Pengiriman lewat Selat Hormuz masih dibatasi, dan gencatan senjata saat ini disebut mendekati masa berakhirnya pada pekan ini.
Reaksi Pasar Tetap Terbatas
DJIA futures turun saat pembukaan kembali perdagangan Minggu menuju 49.100, lalu naik sepanjang sesi AS hingga finis di sekitar 49.400, sedikit di bawah Jumat. Pada hari itu, S&P 500 (indeks 500 saham besar AS) turun 0,4% dan Nasdaq Composite (indeks saham teknologi dan pertumbuhan) turun 0,5%.
Trump mengatakan penyitaan itu terkait sanksi sebelumnya dari Departemen Keuangan AS, dan memperingatkan serangan ke pembangkit listrik serta jembatan Iran jika Iran tidak menyetujui syarat AS sebelum gencatan senjata berakhir. Media pemerintah Iran mengatakan AS tidak memenuhi kewajiban setelah Iran sempat menyatakan selat sudah dibuka kembali.
Pekan lalu, S&P 500 naik 4,5% dan Nasdaq naik sekitar 7%, dengan 13 sesi kenaikan beruntun pada Jumat—menyamai rangkaian yang terakhir terlihat pada 1992. iShares Expanded Tech-Software Sector ETF (IGV)—ETF (reksa dana yang diperdagangkan di bursa) yang melacak saham perangkat lunak—naik 0,6% pada Senin.
Kondisi serupa pernah terjadi pada 2025, ketika pasar saham mengabaikan kenaikan tensi AS–Iran. Dow nyaris tidak bergerak bahkan saat sebuah kapal tanker disita, sementara pasar minyak memasang harga risiko lewat lonjakan 5%. Perbedaan arah antara saham yang tenang dan komoditas yang gelisah kembali terlihat.
Penyesuaian Posisi untuk Perubahan Harga Volatilitas
Per April 2026, sikap pasar yang terlalu tenang terlihat dari CBOE Volatility Index (VIX)—indeks yang mengukur perkiraan gejolak (volatilitas) S&P 500 berdasarkan harga opsi—yang bertahan di sekitar level rendah 14. Ini menandakan pelaku pasar melihat risiko jangka pendek kecil, meski titik panas global tetap tegang. Dengan S&P 500 sudah naik lebih dari 8% sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YTD), biaya “asuransi portofolio” yang murah terlihat tidak sejalan dengan risikonya.
Minyak kembali menjadi pasar yang paling responsif, dengan WTI bertahan di atas US$85 per barel. Data terbaru dari Energy Information Administration (EIA)—lembaga statistik energi pemerintah AS—menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah yang mengejutkan, sehingga pasokan makin ketat bahkan sebelum ada lonjakan tensi geopolitik. Opsi beli (call option, hak untuk membeli aset pada harga tertentu sebelum jatuh tempo) pada ETF pelacak minyak mencerminkan kekhawatiran lebih besar soal gangguan pasokan.
Dengan perbedaan ini, pedagang derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan kontrak berjangka) bisa menilai betapa murahnya perlindungan saat pasar turun pada indeks saham utama. Membeli opsi jual (put option, hak untuk menjual aset pada harga tertentu sebelum jatuh tempo) pada S&P 500 atau membeli opsi beli pada VIX dapat menjadi cara lindung nilai (hedging, mengurangi risiko) dengan biaya rendah terhadap guncangan mendadak yang belum “dihargai” pasar saham. Lingkungan volatilitas rendah membuat posisi ini relatif murah.
Mentalitas “buy the dip” (membeli saat harga turun) yang menguat selama reli 2025 masih menekan volatilitas. Pelaku pasar berulang kali mendapat “imbalan” karena mengabaikan berita negatif. Pola ini bisa berbalik tajam bila krisis nyata akhirnya memicu reaksi pasar.
Strategi yang lebih spesifik adalah memanfaatkan perbedaan kinerja antar-sektor, seperti pada 2025 ketika perangkat lunak memimpin sementara minyak memasang harga risiko. Trader dapat memakai opsi untuk mengambil posisi beli (long, diuntungkan saat harga naik) di sektor energi yang diuntungkan dari risiko pasokan, sambil mengambil posisi yang diuntungkan saat turun (bertaruh turun/short, misalnya lewat opsi) pada sektor teknologi yang melesat. Transaksi nilai relatif (relative value trade, mencari untung dari selisih kinerja dua aset/sektor) ini dirancang untuk meraih peluang bila terjadi rotasi dari saham pertumbuhan yang terlalu tenang ke aset riil saat ketegangan meningkat.