Setelah perundingan gagal, para penasihat mempertimbangkan serangan terbatas terhadap Iran dan blokade AS di Selat Hormuz yang dibatasi, lapor WSJ

    by VT Markets
    /
    Apr 13, 2026

    The Wall Street Journal pada Senin melaporkan bahwa para penasihat Gedung Putih sedang mempertimbangkan serangan AS berskala terbatas di Iran setelah perundingan damai menemui jalan buntu. Laporan itu mengutip pejabat dan orang-orang yang mengetahui situasi tersebut.

    WSJ menyebut opsi yang dibahas termasuk serangan terbatas bersamaan dengan blokade AS di Selat Hormuz. Tujuan yang disebut dalam laporan itu adalah memecah kebuntuan negosiasi.

    Laporan itu juga mengatakan Presiden Donald Trump bisa memulai lagi kampanye pengeboman penuh, tetapi pejabat menilai opsi ini lebih kecil kemungkinannya. Mereka mengutip kekhawatiran soal ketidakstabilan kawasan dan sikap presiden yang tidak menyukai konflik berkepanjangan.

    Opsi lain dalam laporan itu adalah blokade jangka pendek sambil AS menekan sekutu agar mengambil misi pengawalan jangka panjang melalui selat tersebut. WSJ tidak menyebutkan jadwal pengambilan keputusan.

    Dengan meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz, risiko langsung terhadap pasar energi meningkat. Sekitar 25% minyak dunia yang diangkut lewat laut melewati “titik sempit” ini, sehingga setiap blokade atau aksi militer cenderung mendorong strategi membeli opsi beli (call option), yaitu kontrak yang memberi hak (bukan kewajiban) untuk membeli aset pada harga tertentu, atas kontrak berjangka (futures), yaitu perjanjian membeli/menjual komoditas pada harga dan waktu yang disepakati, minyak WTI dan Brent. Peluang gangguan pasokan disebut belum sepenuhnya tercermin dalam harga pasar saat ini.

    Situasi ini mengingatkan pada guncangan sebelumnya. Pada 2019, serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi membuat kontrak berjangka Brent melonjak hampir 20% dalam satu hari. Blokade selat akan berdampak lebih besar dan lebih lama terhadap pasokan global, sehingga instrumen turunan (derivatif), yaitu produk keuangan yang nilainya mengikuti harga aset lain, yang diuntungkan dari lonjakan harga menjadi pertimbangan utama.

    Karena itu, posisi pasar mengarah pada lonjakan volatilitas, yaitu besarnya naik-turun harga, yang diukur oleh VIX, indeks yang mencerminkan ekspektasi gejolak pasar saham AS. Saat gejolak geopolitik awal 2022, VIX sempat di atas 30, dan pergerakan serupa bisa terjadi. Pelaku pasar dapat mempertimbangkan membeli opsi beli VIX atau memakai opsi jual (put option), yaitu kontrak yang memberi hak untuk menjual pada harga tertentu, pada indeks luas seperti S&P 500 untuk lindung nilai (hedging), yaitu mengurangi risiko kerugian portofolio saat pasar turun.

    Dalam ketidakpastian, dana biasanya mengalir ke aset “safe haven”, yaitu aset yang dianggap lebih tahan gejolak. Emas bertahan di sekitar US$2.450 per ons, dan berpeluang menuju rekor baru jika serangan dimulai. Posisi beli (bullish), yaitu bertaruh harga naik, melalui kontrak berjangka emas atau opsi atas ETF berbasis emas, yaitu reksa dana yang diperdagangkan di bursa dan mengikuti harga emas, bisa diuntungkan dari peralihan dana ke aset aman.

    see more

    Back To Top
    server

    Hai 👋

    Bagaimana saya boleh membantu?

    Segera berbual dengan pasukan kami

    Chat Langsung

    Mulakan perbualan secara langsung melalui...

    • Telegram
      hold Ditangguh
    • Akan datang...

    Hai 👋

    Bagaimana saya boleh membantu?

    telegram

    Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

    Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

    QR code