GBP/JPY diperdagangkan dengan kecenderungan naik pada Senin, karena Pound Inggris mengungguli Yen Jepang. Sentimen pasar membaik, didorong harapan tercapainya kesepakatan AS-Iran. Nilai silang ini berada di sekitar 214,52 saat penulisan, naik 0,30% pada hari itu, setelah laporan menyebut ada kemajuan menuju kesepakatan sementara yang pada akhirnya dapat membuka kembali Selat Hormuz. Namun laporan Wall Street Journal menyebut negosiasi masih menghadapi hambatan terkait program nuklir Iran dan pelonggaran sanksi, sehingga optimisme tetap terbatas.
Harga minyak turun setelah berita tersebut, meredakan kekhawatiran lonjakan inflasi akibat minyak (inflasi yang naik karena energi lebih mahal). Meski begitu, harga masih di atas level sebelum perang. Kondisi ini tetap membebani ekonomi Jepang yang bergantung pada impor melalui biaya energi yang lebih tinggi. Secara teknikal, pasangan ini menekan area hambatan (resistance, level yang sering menahan kenaikan) mendatar di dekat 214,50 dan tetap berada di atas SMA 100 hari (simple moving average/rata-rata bergerak sederhana 100 hari; indikator tren) di 212,36 serta SMA 200 hari di 207,94, memperkuat tren naik yang lebih luas. Indikator momentum (pengukur kekuatan pergerakan harga) cenderung positif ringan, dengan RSI (Relative Strength Index/indeks kekuatan relatif; mengukur momentum) sekitar 56 dan MACD (Moving Average Convergence Divergence; indikator momentum berbasis rata-rata bergerak) sedikit positif; support (area penopang) terlihat di 212,36 lalu 210,00, sementara tembus di atas 214,50 dapat memperpanjang kenaikan.
Peluang Strategi Derivatif di Dekat Resistance
Kami mengamati bias positif pada GBP/JPY saat menguji level resistance kunci di sekitar 214,50. Perbaikan sentimen pasar terkait perkembangan geopolitik memberi dukungan bagi pasangan ini. Susunan teknikal ini membuka peluang strategi derivatif (instrumen turunan, nilainya mengikuti aset acuan seperti kurs) dalam beberapa pekan ke depan.
Dengan potensi penembusan (breakout, harga melewati level penting) di atas 214,50, kami mempertimbangkan membeli opsi call (kontrak yang memberi hak membeli pada harga tertentu). Kenaikan yang bertahan akan membuat strike (harga kesepakatan dalam opsi) seperti 215,50 atau 216,00 menarik untuk jatuh tempo (expiry) Juni atau Juli 2026. Strategi ini memungkinkan memanfaatkan momentum naik dengan risiko yang terukur.
Pendorong Fundamental dan Manajemen Risiko Penurunan
Pandangan bullish (proyeksi naik) ini ditopang selisih suku bunga (interest rate differential, perbedaan suku bunga antarnegara) antara Inggris dan Jepang yang melebar, kini di atas 500 basis poin (bps; 1 bps = 0,01%). Bank of England bertahan karena data terbaru menunjukkan inflasi inti Inggris (core inflation, inflasi tanpa komponen yang bergejolak seperti energi dan makanan) masih tinggi di 3,5%, sementara Bank of Japan lambat menormalkan kebijakan (mengembalikan kebijakan dari sangat longgar menuju kondisi lebih normal). Perbedaan fundamental ini tetap mendukung Pound yang lebih kuat terhadap Yen.
Pelemahan Yen diperparah biaya energi yang tinggi, dengan harga minyak bertahan di sekitar US$90 per barel, jauh di atas level sebelum 2022. Ini menekan ekonomi Jepang yang banyak bergantung pada impor dan sejalan dengan data posisi spekulatif dari CFTC (Commodity Futures Trading Commission; regulator AS yang merilis laporan posisi di pasar berjangka), yang menunjukkan net short pada Yen (posisi jual bersih; bertaruh Yen melemah) masih dekat level tertinggi dalam beberapa tahun. Karena itu, setiap penurunan pada nilai silang bisa dilihat sebagai peluang beli.
Untuk mengelola risiko jika pembicaraan gagal atau sentimen berbalik, kami memakai rata-rata bergerak 100 hari di sekitar 212,36 sebagai acuan. Membeli opsi put (kontrak yang memberi hak menjual pada harga tertentu) dengan strike di bawah 212,00 dapat menjadi lindung nilai (hedge, perlindungan terhadap kerugian) jika terjadi penurunan mendadak. Ini melindungi posisi jika pasangan ini gagal mempertahankan struktur naiknya.