Persediaan minyak mentah AS turun karena ekspor minyak mengurangi stok di dalam negeri, menurut Bloomberg. Badan Informasi Energi AS (Energy Information Administration/EIA, lembaga pemerintah yang merilis data energi) melaporkan penurunan 17,8 juta barel, sehingga persediaan mencapai level terendah dalam hampir satu tahun.
Permintaan minyak produksi AS naik di tengah konflik di Timur Tengah. Pengiriman minyak mentah ke luar negeri rata-rata 5,3 juta barel per hari bulan ini dan, jika bertahan, akan mencetak rekor baru.
Ekspor Mendorong Penurunan Persediaan
Data terbaru menunjukkan AS menjadi eksportir bersih untuk pertama kalinya dalam catatan. Eksportir bersih berarti jumlah ekspor lebih besar daripada impor. Ekspor disebut membantu menahan kenaikan harga minyak mentah.
Pembeli mencari pasokan alternatif setelah Selat Hormuz ditutup. Selat Hormuz adalah jalur laut utama pengiriman minyak global. AS juga melepas minyak dari Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve/SPR, stok darurat pemerintah) untuk mengurangi dampak gangguan pasokan.
Penurunan 17,8 juta barel ini dipandang sebagai sinyal kuat bahwa harga minyak berpotensi naik. Dengan persediaan sekitar 415 juta barel, terendah dalam lebih dari setahun, “bantalan pasokan” (cadangan stok yang biasanya menahan gejolak harga) makin menipis. Ini mengindikasikan harga West Texas Intermediate (WTI, patokan harga minyak AS) yang saat ini sekitar US$95 cenderung menguat.
Penurunan besar ini didorong ekspor yang mendekati rekor, dengan laju berpotensi melampaui 5,3 juta barel per hari bulan ini. Konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz membuat harga Brent (patokan global) sekitar US$7 lebih tinggi dari WTI, sehingga pengapalan minyak AS ke luar negeri menjadi sangat menguntungkan. Selama selisih harga (spread) Brent–WTI tetap lebar, stok AS berisiko terus terkuras cepat.
Posisi Pasar dan Level Kunci
Meski produksi minyak AS kuat, levelnya sudah mendekati rekor sekitar 13,3 juta barel per hari. Produsen kemungkinan sulit menaikkan produksi dengan cepat untuk menutup permintaan domestik yang tinggi dan tarik-menarik permintaan dari luar negeri. Ini menandakan keseimbangan pasokan-permintaan tetap ketat, sehingga harga mudah bergerak tajam bila ada gangguan tambahan.
Perlu juga diperhatikan SPR, yang kini berada di level terendah dalam beberapa dekade sekitar 345 juta barel setelah pelepasan terbaru. Artinya, kemampuan pemerintah untuk kembali mengintervensi pasar terbatas. “Jaring pengaman” ini makin menipis, mengurangi alat yang sebelumnya kerap dipakai untuk meredakan pasar.
Dengan prospek tersebut, volatilitas harga (naik-turun harga yang tajam) berpotensi meningkat dalam beberapa pekan ke depan, dengan risiko lebih besar mengarah ke kenaikan. Strategi mengambil posisi beli bisa dilakukan melalui opsi call WTI (kontrak derivatif yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli pada harga tertentu) atau call spread (strategi gabungan beli dan jual opsi call di level harga berbeda) untuk Juli atau Agustus 2026, guna memanfaatkan potensi lonjakan harga. Penurunan stok yang tajam menunjukkan pasokan pasar kurang, dan pemicu tak terduga bisa mendorong harga melonjak.
Ke depan, laporan persediaan mingguan EIA akan menjadi data paling penting. Penurunan besar berikutnya akan menegaskan kondisi ketat dan berpotensi mendorong harga menembus level resistance (batas atas harga yang sering sulit ditembus). Pelaku pasar juga perlu memantau spread Brent–WTI, karena pelebaran lebih lanjut akan mempercepat penurunan stok domestik.