Dolar Selandia Baru (NZD) naik setelah pernyataan bernada agresif dari Gubernur Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) Breman dan meredanya risiko terkait minyak. Gubernur mengatakan bank sentral akan merespons dengan menaikkan suku bunga jika inflasi inti (inflasi dasar, tidak memasukkan komponen yang sangat bergejolak seperti makanan dan energi) meningkat.
Pasar kini lebih “hawkish” (lebih condong mendukung kebijakan ketat, yakni suku bunga lebih tinggi), dengan hampir tiga kali kenaikan suku bunga sudah “diperkirakan” dalam harga pasar hingga akhir tahun. Namun, ini terjadi saat Selandia Baru masih memiliki output gap negatif yang besar (kesenjangan ketika ekonomi berproduksi di bawah kapasitasnya) dan pertumbuhan lemah dalam beberapa kuartal terakhir.
Market Takes A More Hawkish Turn
NZD diperkirakan tertinggal dari Dolar Australia (AUD). Harga minyak yang lebih rendah dapat mendukung penguatan NZD terhadap USD, tetapi NZD masih diproyeksikan berkinerja lebih buruk dibanding AUD.
RBNZ diperkirakan baru mulai menaikkan suku bunga pada kuartal IV 2026 (4Q26). Kenaikan tunggal 25bp (25 basis poin = 0,25%) akan membawa suku bunga acuan menjadi 2,75% pada akhir 2026.
Dolar Selandia Baru belakangan menguat, terutama karena pernyataan tegas gubernur RBNZ dan meredanya tekanan dari turunnya harga minyak. Ini mendorong NZD menguat terhadap dolar AS. Pasar menangkap peringatan bernada ketat soal inflasi dan memperkirakan respons yang kuat.
Why The Market May Be Overpricing Hikes
Namun, kami menilai pasar terlalu cepat dan terlalu besar memperkirakan pengetatan. Data terbaru Maret 2026 menunjukkan pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto/GDP, ukuran total output ekonomi) hampir datar, hanya 0,1%, dan inflasi tahunan turun menjadi 2,8%. Kondisi ekonomi yang lemah ini membuat kenaikan suku bunga agresif kurang mungkin.
Pasar suku bunga kini memasukkan hampir tiga kali kenaikan penuh hingga akhir tahun. Ini tampak berlebihan mengingat output gap negatif yang besar. Pada 2025, pola pertumbuhan lemah yang serupa juga membatasi langkah bank sentral.
Bagi pelaku perdagangan derivatif (instrumen turunan nilainya mengikuti aset lain), penguatan NZD belakangan bisa menjadi peluang jual. Membeli opsi put NZD/USD (hak untuk menjual NZD terhadap USD pada harga tertentu) dengan jatuh tempo tiga hingga enam bulan dapat menjadi cara untuk bersiap menghadapi koreksi harga. Sentimen pasar saat ini mungkin membuat harga opsi ini berada pada tingkat yang menarik.
Kami juga melihat NZD akan tertinggal dari dolar Australia. Ekonomi Australia tampak lebih tahan, dengan tingkat pengangguran stabil di sekitar 4,0% dan permintaan ekspor komoditas yang tetap solid. Karena itu, posisi long AUD/NZD (membeli AUD dan menjual NZD) melalui kontrak forward (kesepakatan transaksi di masa depan pada kurs yang disepakati) dapat menjadi strategi pasangan (pair trade, mengambil posisi berlawanan pada dua mata uang terkait).
Proyeksi kami menunjukkan RBNZ kemungkinan menunggu hingga kuartal IV 2026 untuk mulai menaikkan suku bunga. Kami hanya memperkirakan satu kali kenaikan 25 basis poin, sehingga suku bunga acuan menjadi 2,75%. Ini sangat berbeda dengan perkiraan yang sudah tercermin di pasar swap (swap suku bunga, kontrak untuk menukar arus pembayaran bunga) saat ini.