OCBC menyebut USD/SGD turun hingga penutupan pasar New York pada Jumat, terkait penurunan tajam Brent (minyak acuan Laut Utara) dan pelemahan USD/JPY (kurs dolar AS terhadap yen Jepang). Pergerakan ini meredakan kekhawatiran jangka pendek soal inflasi dan imbal hasil obligasi (yield, tingkat keuntungan obligasi).
Mereka menilai penurunan itu lebih karena “reli” (relief rally berbalik arah karena pasar merasa lebih tenang) ketimbang pembalikan tren (reversal) yang sepenuhnya. Mereka memperkirakan pergerakan harga bisa dua arah dalam waktu dekat, dengan kecenderungan menjual saat harga menguat (sell into rallies).
Risiko Geopolitik dan Penggerak Pasar
Mereka mencatat berita geopolitik masih cepat berubah dan dapat memengaruhi harga minyak, ekspektasi inflasi (perkiraan inflasi ke depan), kekhawatiran pertumbuhan, serta sentimen risiko (minat pasar pada aset berisiko). Pasar juga memantau perkembangan AS-Iran dan apakah USD/JPY masih punya ruang untuk turun.
USD/SGD terakhir di sekitar 1,2730. Mereka menyebut momentum harian dan RSI (Relative Strength Index, indikator teknikal untuk mengukur kuat-lemahnya dorongan kenaikan/penurunan harga) belum memberi arah yang jelas.
Mereka menempatkan support (area penopang, tempat harga sering tertahan turun) di 1,2720 dan 1,2680. Mereka menempatkan resistance (area hambatan, tempat harga sering tertahan naik) di sekitar 1,2760 hingga 1,2770, dengan level lebih tinggi di 1,2850.
Pelemahan USD/SGD baru-baru ini menuju 1,2730 dinilai sebagai jeda sementara, bukan pembalikan tren yang nyata. Pergerakan ini terutama dipicu koreksi harga Brent ke sekitar US$85 per barel dan sedikit pelemahan USD/JPY. Namun, faktor dasar yang mendukung dolar AS tetap kuat masih ada.
Strategi Perdagangan dan Level Kunci
Bias tetap menjual saat harga menguat, terutama ketika mendekati zona resistance 1,2760–1,2770. Dengan inflasi AS terbaru untuk April 2026 sebesar 3,5%, kekhawatiran inflasi yang sulit turun (sticky prices, harga yang tetap tinggi) masih ada, sehingga kecil kemungkinan The Fed mengubah sikap ketatnya (hawkish, cenderung menahan/menaikkan suku bunga demi menekan inflasi). Dinamika ini dapat menopang dolar AS dalam beberapa pekan ke depan.
Bagi pelaku yang memperdagangkan derivatif (instrumen turunan seperti opsi yang nilainya mengikuti aset acuan), hal ini mengarah pada strategi membeli opsi put (hak untuk menjual di harga tertentu) saat USD/SGD naik mendekati resistance 1,2770. Strategi ini memberi posisi untuk potensi penurunan berikutnya sambil menetapkan risiko awal secara jelas (biaya premi opsi). Level resistance yang lebih besar, dan area lain yang berpotensi untuk strategi serupa, berada di dekat 1,2850.
Perlu tetap mencermati berita geopolitik karena dapat cepat menggerakkan harga minyak dan sentimen pasar. Pengalaman gejolak serupa pada akhir 2025 sempat membuat pasangan ini melonjak tajam sebelum turun lagi, mendukung strategi menjual saat menguat. Lingkungan saat ini dinilai mirip, ketika reli yang didorong judul berita (headline-driven) bisa cepat kehilangan tenaga.
Meski strategi utama adalah menjual saat menguat, pembacaan netral pada indikator momentum harian menunjukkan pergerakan dua arah masih mungkin dalam waktu sangat dekat. Bisa ada peluang membeli saat turun (buy dips) dekat support 1,2720 untuk transaksi cepat. Namun, ini sebaiknya dipandang sebagai langkah jangka pendek yang berlawanan dengan pandangan strategi yang lebih besar.