Tim komoditas TD Securities menyebut gangguan berkepanjangan di Teluk Persia, dengan arus pengiriman yang terhenti melalui Selat Hormuz, dapat mendorong harga minyak lebih tinggi. Mereka menambahkan bahwa pasokan minyak mentah, produk minyak (seperti bensin dan solar), serta LNG (gas alam cair, yaitu gas yang didinginkan hingga menjadi cair agar mudah diangkut) bisa makin ketat selama jalur tersebut masih “membeku” atau tidak bisa dilalui.
Tim itu memperkirakan produksi melemah dan persediaan turun jika pemblokiran berlanjut. Mereka menilai faktor-faktor ini dapat membuat harga energi terus naik bila konflik lebih lama dari perkiraan.
Skenario Lonjakan Harga
Mereka memperkirakan harga bisa melonjak US$50 atau lebih jika konflik tidak selesai dalam beberapa minggu ke depan. Mereka juga memproyeksikan bahwa, bahkan jika pertempuran segera berakhir, harga tetap bisa tinggi karena defisit pasokan dan persediaan yang rendah.
Tim tersebut memperkirakan harga minyak mentah di kisaran US$90–100 dapat bertahan hingga 2027. Mereka mencatat negara seperti China dan Jepang kemungkinan berupaya mengisi ulang persediaan dengan cepat.
Artikel ini menyebut dibuat menggunakan alat Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI, yaitu sistem komputer yang membantu membuat teks secara otomatis) dan ditinjau oleh editor.
Dengan konflik berkepanjangan di Teluk Persia, kami menilai arah yang paling mudah bagi harga minyak adalah naik tajam. Dengan arus melalui Selat Hormuz turun hampir 80% sejak pemblokiran dimulai pada akhir 2025, pasar kekurangan jutaan barel per hari. Guncangan pasokan yang berlanjut ini menunjukkan kenaikan harga energi belakangan masih bisa berlanjut lebih jauh.
Manajemen Risiko dan Prospek Volatilitas
Trader (pelaku transaksi jangka pendek) perlu mempertimbangkan posisi untuk kenaikan besar lain dalam beberapa minggu ke depan. Kami melihat alasan kuat untuk membeli kontrak berjangka (futures, yaitu perjanjian jual-beli di harga tertentu untuk tanggal mendatang) minyak mentah dan call option (opsi beli, yaitu hak—bukan kewajiban—untuk membeli di harga tertentu). Lonjakan US$50 atau lebih masih mungkin terjadi bila situasi tidak mereda. Skenario ini mirip reaksi pasar pada 2022 saat pasokan Rusia terganggu, yang sempat mendorong Brent (patokan harga minyak global) di atas US$130 per barel.
Krisis pasokan makin berat karena persediaan global sangat rendah, sehingga tidak ada “bantalan” jika pasokan terganggu. Laporan Maret 2026 dari Energy Information Administration (EIA, lembaga pemerintah AS penyedia data energi) menunjukkan cadangan strategis AS berada di level terendah dalam 50 tahun, dan kondisi serupa terjadi di banyak negara OECD (kelompok negara maju). Karena itu, bahkan bila ada penyelesaian, kemungkinan akan terjadi pengisian ulang persediaan besar-besaran oleh negara seperti Jepang dan China sehingga harga tetap ditopang.
Bahkan jika gencatan senjata diumumkan besok, kami menyarankan tidak mengambil posisi short (bertaruh harga turun) besar. Kerusakan pada infrastruktur produksi dan waktu yang diperlukan untuk memulihkan rantai pasok membuat defisit pasokan diperkirakan bertahan hingga 2027. Kami melihat “lantai” harga baru (level bawah yang cenderung menahan penurunan) untuk minyak mentah terbentuk di kisaran US$90–100 per barel untuk beberapa waktu ke depan.
Ketidakpastian ekstrem akan membuat volatilitas (tingkat naik-turun harga) tetap tinggi, sehingga opsi menjadi alat yang berguna untuk mengelola risiko dan menangkap peluang kenaikan. Cboe Crude Oil Volatility Index (OVX, indeks yang mengukur perkiraan volatilitas harga minyak berbasis harga opsi) secara konsisten berada di atas 45, level yang tidak bertahan sejak guncangan awal konflik tahun lalu. Kondisi ini mendukung strategi yang diuntungkan dari pergerakan harga besar, namun risiko utama tetap condong ke lonjakan harga yang mendadak dan tajam.