Prospek ekonomi AS dari TD Securities mengarah pada sikap Federal Reserve (The Fed/bank sentral AS) yang mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer), kondisi yang biasanya mendukung Dolar AS. TD memperkirakan pertumbuhan output (hasil produksi ekonomi/pertumbuhan PDB) cenderung datar tahun ini karena konflik Iran menekan aktivitas. Sementara itu, tekanan stagflasi (gabungan inflasi tinggi dan pertumbuhan lemah) akibat harga minyak yang tinggi dan rantai pasok yang terganggu membuat pembuat kebijakan memilih menahan kebijakan sepanjang tahun. Perusahaan juga menyoroti permintaan yang didorong AI (kecerdasan buatan) dan belanja konsumen berpendapatan tinggi sebagai penopang pertumbuhan dasar.
Soal harga, TD Securities menyebut kebuntuan konflik Iran, minyak mahal, dan gangguan pasokan membuat kemajuan penurunan inflasi kecil kemungkinannya terjadi tahun ini. TD memproyeksikan inflasi inti CPI (CPI inti: inflasi tanpa komponen yang bergejolak seperti makanan dan energi) mencapai puncak 3,0% (year on year/tahunan) pada kuartal IV 2026 dan menutup 2026 lebih tinggi dibanding awal tahun. TD menambahkan ukuran inflasi inti PCE (PCE inti: ukuran inflasi versi The Fed berbasis belanja konsumsi) juga tetap tinggi. TD memperkirakan sebagian besar guncangan harga minyak akan masuk ke inflasi utama (headline: inflasi total), dengan penurunan inflasi yang bertahap dan pelonggaran kembali baru terlihat pada 2027, sambil mengakui ketidakpastian terkait Iran serta agenda perdagangan, fiskal (kebijakan pajak dan belanja negara), regulasi, dan imigrasi pemerintahan Trump.
Kebijakan Federal Reserve dan Latar Inflasi
Melihat prospek ini, kami menilai The Fed akan menahan kebijakan (tidak menaikkan atau menurunkan suku bunga) hingga sisa 2026, sehingga Dolar AS tetap kuat. Komentar terbaru dari risalah FOMC (FOMC: komite penentu suku bunga The Fed) menegaskan sikap hati-hati, dengan beberapa anggota menilai disinflasi (perlambatan kenaikan harga) terhenti. Lingkungan suku bunga tinggi lebih lama menjadi tema utama dalam beberapa pekan ke depan.
Tekanan stagflasi dari konflik Iran terlihat nyata dan membuat pasar waspada. West Texas Intermediate/WTI (WTI: patokan harga minyak mentah AS) bulan ini konsisten diperdagangkan di atas US$95 per barel, sehingga menaikkan biaya input (biaya bahan/komponen produksi). Ini, ditambah kenaikan Global Supply Chain Pressure Index (indeks tekanan rantai pasok global), menunjukkan inflasi akan sulit turun (sticky: tetap tinggi dan lambat turun).
Data terbaru menguatkan pandangan tersebut. Laporan Consumer Price Index/CPI (CPI: indeks harga konsumen) April 2026 tercatat 2,8% (year on year/tahunan), lebih tinggi dari harapan analis yang menginginkan penurunan lanjutan. Ini membuat peluang The Fed melonggarkan kebijakan moneter (kebijakan suku bunga dan likuiditas) dalam waktu dekat makin kecil. Bahkan, kami melihat inflasi inti naik menuju 3,0% pada akhir tahun.