WTI, patokan harga minyak mentah AS, diperdagangkan di dekat US$89,00 pada sesi Asia Jumat. Harga naik tipis setelah militer Lebanon menuduh Israel melanggar gencatan senjata (kesepakatan penghentian tembakan sementara).
Presiden AS Donald Trump pada Kamis mengatakan Israel dan Lebanon sepakat melakukan gencatan senjata selama 10 hari. Militer Lebanon pada Jumat melaporkan mencatat beberapa dugaan pelanggaran oleh Israel setelah gencatan senjata mulai berlaku pada tengah malam waktu setempat Jumat.
Trump juga mengatakan AS dan Iran kemungkinan bertemu pada akhir pekan untuk putaran kedua perundingan (negosiasi lanjutan). Belum ada tanggal resmi untuk pembicaraan tersebut.
Perkembangan Gencatan Senjata Dan Dampaknya Ke Pasar
Trump pada Kamis mengatakan gencatan senjata permanen bisa dicapai sebelum kesepakatan saat ini berakhir pekan depan. Harapan perpanjangan gencatan senjata dua minggu dapat menekan WTI.
Bloomberg melaporkan sejumlah pemimpin Eropa dan negara Arab Teluk menilai negosiasi kesepakatan AS-Iran bisa memakan waktu enam bulan.
Ketegangan Israel-Lebanon tetap menahan harga minyak agar tidak turun jauh. Dengan WTI diperdagangkan di sekitar US$95 per barel, pasar memasukkan premi risiko geopolitik (tambahan harga karena risiko konflik). Tanda konflik baru bisa mendorong harga kembali mendekati US$100 dalam beberapa pekan.
Posisi Opsi Dan Pantauan Permintaan
Negosiasi AS-Iran yang macet menambah ketidakpastian. Premi asuransi risiko perang (biaya asuransi tambahan karena ancaman konflik) untuk kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz naik 12% pada kuartal terakhir, mencerminkan biaya nyata dari ketidakstabilan. Data terbaru CFTC (otoritas pengawas pasar berjangka AS) menunjukkan spekulan besar menambah posisi net-long (jumlah posisi beli bersih), menandakan mereka bertaruh harga naik.
Namun, pelaku pasar derivatif (instrumen turunan nilainya mengikuti aset acuan) perlu mencermati sinyal permintaan. Laporan terbaru EIA (badan energi AS) menunjukkan persediaan minyak mentah turun mengejutkan 2,1 juta barel, tetapi stok bensin justru naik, mengindikasikan harga tinggi mulai menekan permintaan konsumen. Kondisi ini membuat pasar mudah berbalik arah jika muncul data ekonomi yang buruk.
Dengan latar ini, trader dapat mempertimbangkan membeli call option jangka pendek (kontrak yang memberi hak membeli pada harga tertentu) untuk mendapat keuntungan jika harga melonjak akibat eskalasi di Timur Tengah. Untuk strategi dengan risiko lebih terukur, bull call spread (membeli call dan menjual call lain pada harga kesepakatan lebih tinggi) dapat menangkap potensi kenaikan sambil membatasi biaya awal. Ini membantu bersiap pada kenaikan harga tanpa risiko tak terbatas bila kekhawatiran permintaan mendominasi.
Melihat konflik historis di kawasan, seperti lonjakan awal saat Perang Teluk, pasar sering bereaksi berlebihan terhadap berita sebelum stabil. Artinya peluang kenaikan tajam ada, tetapi volatilitas (pergerakan harga yang cepat dan besar) juga tinggi. Karena itu, penggunaan opsi untuk membatasi risiko menjadi langkah yang lebih aman dalam situasi saat ini.