Back

Posisi bersih non-komersial emas CFTC AS turun ke 156,3 ribu dari sebelumnya 163,2 ribu

Posisi bersih non-komersial (pelaku spekulatif seperti hedge fund, bukan untuk kebutuhan bisnis fisik) emas di CFTC AS (Commodity Futures Trading Commission/otoritas pengawas perdagangan berjangka komoditas AS) turun menjadi 156,3 ribu kontrak, dari sebelumnya 163,2 ribu kontrak.

Penurunan ini sebesar 6,9 ribu kontrak dibanding laporan sebelumnya.

Pergeseran Posisi Spekulatif

Spekulan besar mulai mengurangi taruhan bahwa harga emas akan terus naik. Posisi bersih bullish (selisih posisi beli/long dikurangi posisi jual/short, yang menunjukkan arah taruhan pasar) turun dari 163,2 ribu menjadi 156,3 ribu kontrak. Ini mengindikasikan keyakinan hedge fund dan trader besar mulai melemah.

Sikap hati-hati ini sejalan dengan respons pasar terhadap data ekonomi terbaru. Laporan Indeks Harga Konsumen (CPI/pengukur inflasi pada tingkat konsumen) Maret tercatat 3,1%, sedikit lebih tinggi dari perkiraan, sehingga ekspektasi penurunan suku bunga The Fed (bank sentral AS) mundur. Dengan sinyal suku bunga akan ditahan tinggi lebih lama, emas yang tidak memberi imbal hasil/bunga (non-yielding asset, artinya tidak ada kupon atau bunga seperti obligasi/deposito) menjadi kurang menarik.

Dampaknya, dolar AS menguat, dengan Dollar Index/DXY (indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) menembus 106 untuk pertama kalinya dalam enam bulan. Dolar yang lebih kuat biasanya menekan harga emas karena emas dihargai dalam dolar, sehingga menjadi lebih mahal bagi pembeli non-dolar. Karena itu, turunnya minat spekulatif ini masuk akal dalam kondisi makro saat ini.

Melihat ke belakang, ini perubahan sentimen yang cukup terasa dibanding reli kuat pada kuartal IV 2025. Saat itu, ekspektasi pemangkasan suku bunga pada 2026 mendorong harga emas melampaui US$2.450 per troy ounce (ons troy, satuan standar logam mulia). Penurunan posisi long saat ini terlihat sebagai aksi ambil untung setelah kenaikan tajam tersebut.

Data CFTC Australia menunjukkan posisi neto AUD non-komersial turun, merosot dari 81,5 ribu menjadi 70,8 ribu

Data CFTC Australia menunjukkan posisi bersih (net) dolar Australia dari pelaku non-komersial (biasanya spekulan seperti hedge fund, bukan perusahaan untuk kebutuhan lindung nilai) turun ke 70,8 ribu dari 81,5 ribu sebelumnya.

Artinya, terjadi penurunan 10,7 ribu pada posisi bersih dibanding laporan sebelumnya.

Perubahan Penempatan Posisi Spekulatif

Terlihat spekulan mulai mengambil untung dari taruhan penguatan dolar Australia. Turunnya posisi bersih beli (net long: total posisi beli dikurangi posisi jual) menandakan keyakinan terhadap penguatan AUD mulai melemah, meski sentimen umum masih positif. Ini berbeda dibanding awal tahun ketika dorongan beli lebih kuat.

Perubahan ini kemungkinan terkait perbedaan arah kebijakan bank sentral. Risalah (minutes: ringkasan rapat) RBA Maret 2026 memberi sinyal kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan di dalam negeri, sehingga pemangkasan suku bunga bisa terjadi pada kuartal III. Sebaliknya, data inflasi AS Maret 2026 sebesar 3,1% membuat peluang The Fed memangkas suku bunga dalam waktu dekat menjadi kecil.

Selain itu, permintaan ekspor utama Australia melemah. Harga bijih besi turun di bawah US$100 per ton, akibat data konstruksi China kuartal I 2026 yang lebih lemah dari perkiraan. Ini menjadi hambatan besar bagi kekuatan AUD di pasar global.

Jika dibandingkan, situasi ini berbeda dari pertengahan 2025. Saat itu, spekulan agresif menambah posisi beli ketika harga komoditas naik karena harapan pemulihan global yang kuat. Koreksi saat ini menunjukkan pelaku pasar menilai siklus tersebut sudah mencapai puncak.

Pertimbangan Lindung Nilai dengan Opsi

Dalam beberapa pekan ke depan, trader dapat mempertimbangkan membeli opsi jual (put option: hak untuk menjual pada harga tertentu) pada AUD/USD untuk melindungi portofolio dari potensi penurunan menuju 0,6400. Perbedaan arah kebijakan—RBA cenderung longgar (dovish: lebih condong menurunkan suku bunga) sementara The Fed tetap ketat—mendukung skenario AUD melemah. Strategi ini memberi perlindungan jika harga turun, dengan risiko dibatasi pada premi (premium: biaya opsi) yang dibayar.

Strategi gabungan opsi (option spread: menggabungkan beli dan jual opsi) seperti bear put spread juga dapat dipakai untuk memposisikan penurunan bertahap dengan biaya lebih rendah. Caranya: membeli put pada harga eksekusi (strike) lebih tinggi dan menjual put pada strike lebih rendah untuk mengurangi premi bersih. Kami akan memantau tanda perlambatan ekonomi Australia yang lebih tajam dari perkiraan untuk menambah posisi ini.

Posisi neto euro non-komersial di zona euro turun menjadi -7,5 ribu kontrak, berbalik dari sebelumnya 0,5 ribu

Data CFTC untuk zona euro menunjukkan posisi bersih (net position) **non-komersial** EUR di **€-7,5 ribu**. Pembacaan sebelumnya **€0,5 ribu**.

Ini menandakan pergeseran dari posisi bersih **long kecil** ke posisi bersih **short** pada **kontrak berjangka (futures) EUR** milik pelaku non-komersial. (Long = bertaruh harga naik; short = bertaruh harga turun. Futures = kontrak untuk membeli/menjual di harga tertentu pada waktu tertentu.) Perubahan antara dua pembacaan tersebut sebesar **€-8,0 ribu**.

Terlihat perubahan sentimen yang jelas karena penempatan spekulatif di euro berbalik dari long kecil menjadi posisi short. Ini pertama kalinya dalam beberapa bulan **trader besar** sebagai kelompok bertaruh euro akan turun. Perubahan ini mengindikasikan narasi yang mendukung euro mulai melemah.

Nada negatif ini kemungkinan dipicu data ekonomi terbaru yang menunjukkan perbedaan arah antara zona euro dan Amerika Serikat. Inflasi zona euro untuk Maret 2026 tercatat **1,7%**, di bawah target **Bank Sentral Eropa (ECB)**, sehingga memunculkan pembicaraan tentang kemungkinan **pemangkasan suku bunga** akhir tahun ini. Sementara itu, laporan **Non-Farm Payrolls (NFP)** AS minggu lalu menambah **215.000** pekerjaan—NFP adalah data jumlah pekerjaan baru di luar sektor pertanian—yang menguatkan sikap **Federal Reserve (The Fed)** untuk tetap menunggu data sebelum mengubah kebijakan.

Kesenjangan kebijakan antara ECB dan The Fed kini menjadi fokus utama pasar. Kami menilai pelaku pasar mulai bersiap ECB merespons perlambatan pertumbuhan dan inflasi yang lemah, sementara The Fed cenderung menahan suku bunga. Perbedaan ini biasanya menekan nilai tukar **EUR/USD** (nilai euro terhadap dolar AS).

Bagi trader **derivatif** (instrumen turunan seperti opsi dan futures), kondisi ini mendukung strategi yang diuntungkan saat euro turun atau saat pergerakan harga makin liar. Membeli **opsi put EUR/USD** dapat menjadi cara dengan risiko terukur untuk bersiap pada penurunan—opsi put adalah hak untuk menjual pada harga tertentu—dengan target level psikologis seperti **1,0500**. Trader yang lebih agresif dapat mempertimbangkan membuka posisi short pada kontrak futures euro.

**Volatilitas tersirat (implied volatility)** pada opsi euro—perkiraan pasar atas besarnya fluktuasi harga ke depan yang tercermin dari harga opsi—telah naik ke puncak enam minggu di **8,2%**, menandakan pasar memperkirakan pergerakan harga yang lebih besar. Ini bisa menjadi sinyal fase pergerakan datar (konsolidasi) mendekati akhir.

Posisi neto non-komersial S&P 500 CFTC AS turun ke -45,7 ribu, dari -42,5 ribu sebelumnya

Data CFTC AS menunjukkan posisi bersih *non-commercial* (NC) S&P 500 turun ke -45,7 ribu kontrak. Angka sebelumnya -42,5 ribu kontrak.

Ini berarti perubahan -3,2 ribu kontrak pada posisi bersih. Kedua angka masih di bawah nol.

Artinya, spekulan besar menambah taruhan bahwa S&P 500 akan turun. Posisi bersih *short* (taruhan turun) di kelompok ini—termasuk *hedge fund* (dana lindung nilai, pengelola dana yang sering memakai strategi agresif seperti derivatif dan pinjaman)—menjadi makin negatif. Pergerakan ini mencerminkan sentimen *bearish* (pesimistis/bet pada penurunan) yang menguat di pasar *futures* (kontrak berjangka, perjanjian jual-beli aset di harga tertentu untuk tanggal mendatang).

Kehati-hatian ini kemungkinan terkait rilis data inflasi terbaru. Indeks Harga Konsumen (CPI) Maret 2026 tercatat 3,1%, sedikit lebih tinggi dari perkiraan 2,9%. Ini menurunkan peluang Federal Reserve memangkas suku bunga sebelum kuartal III.

Pasar merespons dengan koreksi dari level tinggi terbaru. S&P 500 kini menguji rata-rata pergerakan 50 hari (*50-day moving average*, patokan tren jangka menengah yang sering dipakai analis teknikal) setelah turun 2,5% dalam dua pekan terakhir. Sejalan dengan itu, indeks VIX—ukuran perkiraan volatilitas (besar-kecilnya gejolak harga yang diproyeksikan pasar)—naik ke sedikit di atas 20, tertinggi sejak kecemasan pasar singkat pada akhir 2025.

Bagi pelaku pasar, situasi ini mengisyaratkan saatnya melakukan lindung nilai (*hedging*, mengurangi risiko penurunan) pada portofolio yang masih dominan posisi beli (*long*, bertaruh harga naik). Membeli opsi *put* (hak menjual di harga tertentu untuk membatasi kerugian saat harga turun) pada indeks seperti SPX atau ETF SPY bisa memberi perlindungan, tetapi VIX yang lebih tinggi membuat premi opsi (biaya opsi) menjadi lebih mahal. Menjual *out-of-the-money call credit spread* (strategi opsi menjual *call* dengan harga strike di atas harga sekarang dan membeli *call* lain lebih tinggi untuk membatasi risiko; tujuannya menerima premi sambil berharap harga tidak naik terlalu jauh) juga bisa dipertimbangkan untuk mengumpulkan premi dengan pandangan tetap negatif.

Namun, sentimen juga perlu dipantau agar tidak terlalu sepihak. Mengacu pada 2023, ada fase ketika aksi spekulatif *short* yang ekstrem justru mendahului reli kuat karena resesi yang dikhawatirkan tidak terjadi. Jika terlalu banyak pelaku pasar sudah berada di posisi *short*, kabar baik kecil dapat memicu aksi beli cepat untuk menutup posisi (*short covering*, membeli kembali untuk menutup taruhan turun), sehingga mendorong harga naik tajam.

Karena itu, pelaku pasar perlu memperhatikan apakah posisi bersih *short* ini terus membesar hingga level ekstrem. Secara historis, pembacaan di bawah -100 ribu kontrak kerap menjadi sinyal bahwa posisi pesimistis sudah terlalu padat, dan kadang menandai titik dasar jangka pendek saham. Ini berarti perlu bersiap untuk potensi penurunan lanjutan, namun tetap siap bertindak bila sentimen negatif mulai “kehabisan tenaga”.

Posisi bersih non-komersial yen Jepang versi CFTC turun ke -93,7 ribu dari sebelumnya -72,9 ribu, memperkuat sikap bearish

Data CFTC Jepang menunjukkan posisi bersih non-komersial pada JPY berubah dari -72,9 ribu menjadi -93,7 ribu.

Perubahan ini menunjukkan posisi jual bersih (net short) yang lebih besar dibanding periode pelaporan sebelumnya.

Pendorong di Balik Makin Dalamnya Posisi Jual Yen

Data terbaru menunjukkan posisi jual bersih terhadap Yen Jepang makin besar, menandakan spekulan semakin yakin. Ini mengisyaratkan pasar memperkirakan yen masih akan melemah dalam beberapa pekan ke depan. Pendorong utama sentimen ini adalah selisih suku bunga yang tetap lebar antara Jepang dan ekonomi besar lain, terutama Amerika Serikat.

Dengan sentimen negatif yang menguat, strategi yang diuntungkan dari kenaikan kurs USD/JPY (dolar AS menguat terhadap yen) perlu dipertimbangkan. Dengan suku bunga acuan AS (Federal Funds rate, yaitu suku bunga kebijakan utama bank sentral AS) bertahan di 4,50% sementara suku bunga Bank of Japan (suku bunga kebijakan utama bank sentral Jepang) hanya 0,10%, kondisi ini mendukung penjualan yen. Strategi derivatif (instrumen turunan yang nilainya mengikuti harga aset acuan) seperti membeli opsi call USD/JPY (hak untuk membeli USD/JPY pada harga tertentu sebelum tanggal tertentu) atau membuat bull call spread (strategi opsi dengan membeli call dan menjual call lain pada harga lebih tinggi untuk menekan biaya, dengan potensi untung terbatas) bisa menjadi cara untuk memanfaatkan potensi kenaikan.

Tetap waspada terhadap risiko intervensi resmi, karena USD/JPY saat ini berada di sekitar 158,75. Dari sudut pandang 2025, kita mengingat penguatan yen yang tajam namun singkat akibat aksi Kementerian Keuangan ketika yen melemah cepat menembus level 152 pada akhir 2024. Karena itu, penting menetapkan target ambil untung (profit target) dan memasang stop-loss (batas rugi otomatis untuk membatasi kerugian) pada posisi jual yen untuk mengelola risiko pembalikan mendadak.

Tren sepanjang 2023 dan 2024 menunjukkan bahwa meski yen bisa melemah lama, pelemahan ini sering disertai lonjakan volatilitas (naik-turun harga yang tajam). Kondisi ini membuat opsi menarik, karena memungkinkan kita membatasi risiko maksimum sambil tetap mendapat peluang dari pelemahan yen. Terlihat kenaikan tipis pada volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi) untuk opsi USD/JPY tenor satu bulan, yang menandakan pasar mulai memperhitungkan pergerakan yang lebih besar.

Risiko Utama dan Pertimbangan Posisi

Lynn Song: Perdagangan Taiwan pada Maret melampaui perkiraan, mendongkrak ekspor dan impor kuartal I/2026; surplus neraca dagang berlipat ganda

Data perdagangan Taiwan Maret melampaui perkiraan. Ekspor dan impor sama-sama naik, sementara neraca perdagangan mencetak level tertinggi dalam lima bulan sebesar USD 21,3 miliar. Surplus perdagangan 1Q26 mencapai USD 53,0 miliar, naik 124,2% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy: dibanding tahun lalu pada periode yang sama).

Barang terkait teknologi menyumbang 84,0% dari total ekspor pada 1Q26, dibanding 80,4% pada 2025 dan 73,2% pada 2024. Harga ekspor juga naik, sehingga menambah laju pertumbuhan ekspor.

Kinerja Perdagangan Taiwan Dan Implikasi Terhadap Pertumbuhan

Pada 4Q25, saat surplus perdagangan juga melonjak lebih dari dua kali lipat, ekspor neto (selisih ekspor dikurangi impor) menambah 11,9 poin persentase terhadap pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto/GDP: nilai total produksi barang dan jasa dalam perekonomian). Kinerja perdagangan terbaru diperkirakan mendukung satu kuartal lagi dengan pertumbuhan PDB dua digit ketika data PDB 1Q26 dirilis pada akhir April.

ING menaikkan proyeksi pertumbuhan PDB 1Q26 menjadi 11,5% yoy dari 10,2%. ING juga menaikkan proyeksi pertumbuhan PDB setahun penuh 2026 menjadi 8,2% yoy dari 6,7%.

Proyeksi ini mengasumsikan kenaikan harga energi masih bisa ditanggung jika permintaan teknologi tetap kuat, namun kekurangan pasokan energi dapat mengganggu produksi. Proyeksi tersebut bergantung pada minimnya gangguan pasokan energi, termasuk perkembangan terkait Iran dalam beberapa pekan atau bulan ke depan.

Kekuatan tak terduga pada data perdagangan Taiwan kuartal pertama menunjukkan ruang kenaikan masih terbuka dalam beberapa pekan ke depan. Dengan laporan PDB Q1 akan terbit akhir April, lonjakan surplus perdagangan 124,2% mengindikasikan hasil ekonomi dapat kembali lebih kuat dari perkiraan pasar. Ini mengulang pola pada kuartal IV 2025, ketika lonjakan ekspor mendorong penguatan besar pada aset lokal.

Ide Posisi Menjelang Rilis Pdb

Kita dapat mempertimbangkan membeli opsi call (kontrak derivatif yang memberi hak membeli aset pada harga tertentu sebelum jatuh tempo) pada indeks TAIEX, dengan harapan pasar bereaksi positif terhadap rilis PDB. Indeks ini sudah naik lebih dari 15% sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YTD: sejak awal tahun hingga sekarang), terutama didorong sektor teknologi yang kini mencapai 84% dari ekspor. Karena proyeksi pasar berulang kali meremehkan pertumbuhan ini, opsi dapat menjadi cara untuk memperoleh eksposur dengan modal lebih kecil (leverage: pengganda dampak pergerakan harga) bila terjadi kejutan positif.

Lonjakan surplus perdagangan hingga USD 53,0 miliar pada kuartal pertama menjadi pendorong kuat bagi Dolar Taiwan. Kita bisa mempertimbangkan membeli opsi call TWD atau opsi put USD/TWD (put: hak menjual; USD/TWD adalah pasangan kurs dolar AS terhadap dolar Taiwan) dengan jatuh tempo setelah pengumuman PDB. Data ekonomi yang kuat biasanya menarik arus modal masuk (capital inflows: dana asing masuk), yang dapat memperkuat mata uang terhadap dolar AS.

Namun, risiko utama perlu dilindungi, yaitu yang terkait harga energi dan situasi di Iran. Ketegangan geopolitik telah mendorong harga minyak Brent (patokan harga minyak global) naik dari USD 85 menjadi di atas USD 92 per barel dalam sebulan terakhir. Membeli opsi call minyak berjangka yang out-of-the-money (harga pelaksanaan di atas harga pasar saat ini, biasanya lebih murah) bisa menjadi cara berbiaya lebih rendah untuk melindungi posisi yang optimistis pada Taiwan dari potensi guncangan pasokan (supply shock: gangguan pasokan mendadak yang mengerek harga).

Ketergantungan ekonomi yang besar pada satu sektor juga merupakan risiko yang perlu dipantau. Dengan porsi ekspor teknologi naik dari 73,2% pada 2024 menjadi 84,0% saat ini, penurunan spesifik pada permintaan global untuk AI (kecerdasan buatan) atau semikonduktor (chip) dapat menekan ekonomi secara tidak proporsional. Konsentrasi ini mendukung strategi untuk tetap menyimpan sebagian posisi put protektif (perlindungan penurunan harga) pada saham-saham teknologi utama, meskipun strategi utama tetap optimistis.

Pada Jumat sore, S&P 500 berupaya mempertahankan momentum, menargetkan kenaikan delapan sesi berturut-turut

S&P 500 berupaya mencatat kenaikan harian kedelapan beruntun pada Jumat. Indeks sempat naik 0,2% hingga waktu makan siang, namun berbalik melemah menjadi -0,1% pada sore hari.

Dalam delapan sesi terakhir, indeks naik hampir 8% dari titik terendah 30 Maret. Kenaikan terjadi setelah seruan gencatan senjata awal pada Selasa malam dan harapan adanya pembicaraan antara AS dan Iran pada akhir pekan.

Perkembangan Geopolitik dan Reaksi Pasar

Wakil Presiden AS JD Vance diberitakan akan bepergian ke Islamabad bersama negosiator AS lainnya untuk kemungkinan kesepakatan dengan Iran. Pengeboman Israel di Lebanon serta syarat yang dipublikasikan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Ghalibaf, disebut sebagai hambatan.

Laporan yang belum terkonfirmasi menyebut AS melepas penahanan dana Iran senilai US$7 miliar di Qatar. Iran juga dilaporkan menutup sebagian besar Selat Hormuz sampai syarat dalam rencana 10 poin dipenuhi.

Hingga sore, hanya sektor teknologi dan bahan baku (materials) yang menguat, sementara energi, keuangan, dan kesehatan melemah. Nasdaq Composite naik 0,2%, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 0,5%.

CPI (Indeks Harga Konsumen, ukuran inflasi) Maret naik dari 2,4% menjadi 3,3% secara tahunan (year on year/yoy), dengan harga energi naik 10,9%. Core CPI (inflasi inti, tidak memasukkan harga pangan dan energi yang bergejolak) naik ke 2,6%. Sentimen konsumen Michigan (survei kepercayaan konsumen dari University of Michigan) turun dari 53,3 menjadi 47,6, dan ekspektasi inflasi 1 tahun (perkiraan inflasi setahun ke depan) naik dari 3,8% menjadi 4,8%.

Indeks sudah naik sekitar 500 poin dalam tujuh sesi dan diperdagangkan di atas 6.800, dengan RSI (Relative Strength Index, indikator teknikal untuk melihat momentum; umumnya di atas 70 dianggap jenuh beli dan di bawah 30 jenuh jual) di 60. Level yang disebut antara lain 7.000 dan 6.720.

Pertimbangan Strategi Volatilitas

Dengan pasar yang cenderung menahan diri menjelang pembicaraan damai akhir pekan, fokus utama adalah volatilitas (besarnya naik-turun harga). Indeks Volatilitas CBOE (VIX, ukuran perkiraan volatilitas pasar saham AS ke depan) naik ke 22 kemarin sore, mencerminkan ketidakpastian besar soal negosiasi di Islamabad. Ini mengarah pada strategi yang bisa untung saat harga bergerak besar, tanpa harus menebak arah.

Jika kesepakatan damai yang jelas diumumkan dan Selat Hormuz kembali dibuka, S&P 500 berpotensi reli tajam menuju level 7.000. Trader bisa memposisikan diri lewat opsi call (hak untuk membeli pada harga tertentu) pada SPX (opsi berbasis indeks S&P 500) atau ETF yang berat di saham teknologi, karena teknologi relatif lebih kuat. Dalam skenario ini, kami juga memperkirakan kontrak berjangka (futures, perjanjian jual beli pada harga tertentu untuk tanggal mendatang) minyak WTI (West Texas Intermediate, acuan harga minyak AS) yang sempat menyentuh US$115 bulan lalu bisa cepat turun lagi di bawah US$100, sehingga opsi put (hak untuk menjual pada harga tertentu) pada ETF sektor energi menarik sebagai lindung nilai (hedge, langkah untuk mengurangi risiko).

Sebaliknya, jika pembicaraan gagal, kenaikan pasar belakangan berisiko terhapus, dengan kemungkinan uji cepat level support 6.720 (area penopang harga, tempat harga sering tertahan) yang berasal dari aksi jual 17 Desember 2025. Hasil ini lebih mendukung pembelian opsi put pada indeks pasar yang lebih luas. Penurunan Sentimen Konsumen Michigan ke 47,6 menunjukkan kepercayaan konsumen sudah rapuh dan kemungkinan memburuk jika harga energi tetap tinggi, sehingga menekan saham.

Di luar risiko berita utama, terlihat perbedaan kinerja antarsektor yang membuka peluang pair trade (strategi memasangkan posisi beli di aset yang lebih kuat dan posisi jual di aset yang lebih lemah). Lemahnya sektor keuangan dan kesehatan, bahkan saat pasar mencoba reli, mengindikasikan kekhawatiran ekonomi yang sudah ada sebelum konflik Iran. Strategi long NASDAQ 100 (posisi beli untuk mendapat untung saat naik) sambil short sektor keuangan (posisi jual untuk mendapat untung saat turun, termasuk lewat instrumen yang memungkinkan “jual dulu”) dapat berkinerja baik, sekaligus membantu menahan portofolio dari hasil negosiasi geopolitik yang serba dua kemungkinan (binary: hanya dua hasil utama).

Emas Bertahan di Dekat US$4.760, Menuju Kenaikan Mingguan saat Dolar Melemah karena Pembicaraan Iran-AS dan Pakistan, di Tengah Inflasi yang Lebih Panas

Emas (XAU/USD) bertahan di dekat $4.763 pada Jumat, naik 0,01% dan berpotensi mencetak kenaikan mingguan hampir 2%. Dolar AS melemah karena pembicaraan antara AS dan Iran dijadwalkan dimulai pada Sabtu di Pakistan.

Selera risiko mendukung emas batangan, meski Israel menyerang Lebanon dan ada risiko gencatan senjata dua pekan—yang terkait dinamika AS dan Iran—terganggu. Iran belum menutup Selat Hormuz (jalur pelayaran minyak dan barang penting dunia), dan pejabat AS serta Iran sedang bepergian untuk pembicaraan di Pakistan.

Data Inflasi dan Prospek The Fed

Data AS menunjukkan CPI (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen—ukuran inflasi) Maret naik 3,3% secara tahunan, dari 2,4% pada Februari. Core CPI (inflasi inti—mengabaikan harga makanan dan energi yang sering bergejolak) naik dari 2,5% menjadi 2,6% secara tahunan, di bawah perkiraan 2,7%.

Perkiraan pasar menunjukkan suku bunga Fed funds (suku bunga acuan The Fed) akan tetap di kisaran 3,50%–3,75% hingga 2026, menurut Prime Market Terminal. Sentimen Universitas Michigan turun dari 53,3 menjadi 47,6, sementara ekspektasi inflasi 12 bulan naik dari 3,8% menjadi 4,8%.

Indeks Dolar AS (DXY—indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) turun 0,13% ke 98,66, dekat level terendah empat pekan. Emas menemui hambatan di $4.800; penurunan di bawah $4.750 dapat mengarah ke $4.700 dan SMA (Simple Moving Average/rata-rata bergerak sederhana—indikator tren) 20 dan 100 hari di $4.674–$4.662, sementara tembus $4.800 bisa membuka peluang ke $4.857 lalu $4.900.

Fokus terdekat adalah tarik-menarik antara dolar AS yang melemah dan inflasi yang masih tinggi sehingga The Fed cenderung menahan suku bunga. Pelemahan dolar dekat titik terendah empat pekan di 98,66 menjadi pendorong bagi emas, namun CPI 3,3% memperkuat ekspektasi suku bunga tetap tinggi. Ini menambah ketidakpastian, sehingga strategi opsi yang diuntungkan oleh volatilitas (naik-turunnya harga), seperti straddle (strategi membeli opsi call dan put pada harga dan jatuh tempo yang sama untuk memanfaatkan pergerakan besar ke dua arah), dinilai menarik menjelang pembicaraan AS-Iran akhir pekan.

Potensi lonjakan dapat terjadi bila negosiasi di Pakistan gagal atau jika Selat Hormuz ditutup. Sejarah menunjukkan kenaikan tensi Timur Tengah, seperti pada 2020, bisa menambah risk premium (tambahan harga karena risiko) pada emas dengan cepat. Dengan sentimen konsumen AS baru dilaporkan di 47,6, permintaan aset aman (safe haven—aset yang dicari saat pasar bergejolak) tetap kuat, sehingga membeli opsi call (hak membeli pada harga tertentu) atau call spread (strategi opsi yang membatasi biaya dan potensi untung dengan membeli call dan menjual call lain di level lebih tinggi) yang menargetkan tembus di atas $4.800 dapat dipertimbangkan.

Skenario Penurunan dan Dukungan Bank Sentral

Sebaliknya, pelaku pasar perlu mewaspadai risiko penurunan bila pembicaraan berhasil dan gencatan senjata yang lebih bertahan tercapai. Inflasi 3,3% mengingatkan pada tekanan harga yang bertahan pada 2023, yang memaksa The Fed bersikap hawkish (condong mengetatkan kebijakan, misalnya menahan/menaikkan suku bunga) lebih lama dari perkiraan pasar. Mengingat emas belakangan gagal bertahan di atas level psikologis $4.800, membeli opsi put (hak menjual pada harga tertentu) dengan target area $4.700 bisa menjadi cara mengambil posisi untuk skenario reli risk-on (minat pada aset berisiko meningkat sehingga aset aman melemah).

Di luar berita geopolitik, ada permintaan dasar yang konsisten dari sumber resmi. Data terbaru kuartal I-2026 menunjukkan bank sentral melanjutkan pola pembelian agresif beberapa tahun terakhir, menyerap setiap penurunan harga yang berarti. Permintaan institusional ini menjadi penopang kuat dan mengindikasikan aksi jual tajam menuju area $4.660-an bisa tidak berlangsung lama.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Selera risiko mendongkrak pasangan mata uang utama seiring Indeks Dolar melemah mendekati 98,60 setelah inflasi IHK yang tinggi—dipicu kenaikan harga energi—berlanjut

Indeks Dolar AS (DXY) turun ke sekitar 98,60 setelah data CPI AS terbaru menunjukkan inflasi masih tinggi, dipimpin oleh kenaikan harga energi yang terkait perang di Timur Tengah. Perkembangan terkait Iran, Selat Hormuz, dan rapuhnya gencatan senjata membuat harga minyak bergejolak dan mendorong permintaan aset aman.

EUR/USD naik ke kisaran 1,1730 dan mencatat lima hari kenaikan beruntun, karena pasar melewati reaksi awal terhadap CPI dan dolar melemah. GBP/USD naik ke sekitar 1,3470, dengan pergerakan harga terutama dipicu pelemahan USD.

Kelemahan Dolar dan Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga

USD/JPY tetap tinggi di dekat 159,30, didukung imbal hasil (yield) obligasi AS yang lebih tinggi, sementara yen hanya sedikit terbantu oleh risiko geopolitik. AUD/USD relatif datar di sekitar 0,7080, masih membidik kenaikan hari kelima namun sensitif terhadap perubahan selera risiko pasar.

WTI bertahan di bawah US$100, sekitar US$96,40 per barel, dengan kekhawatiran pasokan terkait Selat Hormuz dan ketidakpastian yang lebih luas di Timur Tengah. Emas diperdagangkan dekat US$4.770, terbantu dolar yang lebih lemah dan risiko geopolitik, seiring yield yang menurun.

Agenda mencatat pidato dari RBNZ, ECB, The Fed, dan Bank of England pada 11–17 April. Juga ada data dan agenda seperti Business NZ PSI (indeks aktivitas sektor jasa Selandia Baru), pertemuan IMF, penjualan rumah yang sudah ada di AS, penjualan ritel BRC di Inggris, data perdagangan China dan rilis PDB (Produk Domestik Bruto) kuartal I, data tenaga kerja ADP AS (perkiraan penambahan pekerjaan sektor swasta), PPI AS (indeks harga produsen), sejumlah rilis inflasi di Eropa, PDB Inggris dan data produksi, risalah rapat ECB, klaim pengangguran AS, survei The Philadelphia Fed (survei kondisi manufaktur), serta produksi industri AS.

Indeks Dolar AS melemah, dan ini dinilai menjadi tren penting beberapa pekan ke depan. Setelah CPI AS menunjukkan inflasi “keras kepala” di 3,8%, pasar bertaruh The Fed mulai memasuki siklus pelonggaran (penurunan suku bunga) pada akhir musim panas. Hingga hari ini, Dollar Index berada di sekitar 100,50, turun jauh dari puncaknya di awal tahun ketika sempat diperdagangkan di atas 104 pada akhir 2025.

Ekspektasi suku bunga AS yang lebih rendah menekan dolar dan membuka peluang pada pasangan mata uang utama. Dot plot The Fed (ringkasan proyeksi suku bunga para pejabat The Fed) bulan lalu mengisyaratkan tiga pemangkasan suku bunga tahun ini, dan pasar derivatif (instrumen keuangan turunan seperti opsi dan futures) sudah sepenuhnya memasukkan skenario itu ke harga. Karena itu, strategi opsi (kontrak yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli/menjual aset pada harga tertentu) yang berpotensi untung dari penurunan dolar yang bertahap, seperti membeli call option (opsi untuk membeli) pada EUR/USD, dipertimbangkan.

Euro Dolar dan Tema Posisi

Euro diuntungkan oleh dinamika ini, dengan EUR/USD mengarah ke 1,1730. Ini dinilai sebagai dampak menyempitnya selisih suku bunga (rate differential) karena ECB terlihat lebih berhati-hati untuk memangkas suku bunga sedalam The Fed. Perbedaan arah kebijakan ini membuat posisi beli (long) di EUR/USD, dengan lindung nilai (hedging) memakai put jangka pendek (opsi untuk menjual) di sekitar rilis data penting, bisa menarik.

Meski dolar melemah luas, USD/JPY tetap tinggi di dekat 159,30, level yang membuat otoritas Jepang siaga. Kesenjangan besar antara yield AS dan suku bunga Jepang yang nyaris nol terus mendorong carry trade (strategi meminjam mata uang berbunga rendah untuk membeli aset/mata uang berbunga lebih tinggi), menutupi peran yen sebagai aset aman. Volatilitas (naik-turun harga yang tajam) perlu diantisipasi, karena risiko intervensi (langkah resmi menahan pergerakan kurs) dari Bank of Japan meningkat saat USD/JPY naik.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah membuat harga minyak mentah WTI bergejolak, kini sekitar US$96 per barel. Jika terjadi eskalasi di sekitar Selat Hormuz, minyak bisa cepat kembali di atas US$100. Pelaku pasar bisa mempertimbangkan opsi untuk memanfaatkan volatilitas ini, karena berita dapat memicu pergerakan tajam dan sulit diprediksi di pasar energi.

Emas diuntungkan oleh dolar yang lebih lemah dan kini diperdagangkan dekat US$2.570 per ons. Saat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed menekan real yield (imbal hasil setelah memperhitungkan inflasi), aset yang tidak memberi imbal hasil seperti emas menjadi lebih menarik. Ini dinilai sebagai tren yang berpotensi berlanjut, sehingga posisi beli emas atau call option dapat menjadi strategi lindung nilai terhadap inflasi dan risiko geopolitik.

Menjelang pekan depan, kalender padat agenda yang berpotensi menggerakkan pasar, termasuk data PPI AS pada Selasa dan pidato Ketua The Fed Powell pada Jumat. Agenda ini diperkirakan memicu volatilitas, terutama jika data inflasi lebih tinggi dari perkiraan. Kondisi seperti ini cocok untuk strategi opsi straddle atau strangle (strategi membeli opsi call dan put untuk memanfaatkan pergerakan besar, tanpa harus menebak arah).

Riset DBS Group memperkirakan MAS akan sedikit mempercuram kemiringan kebijakan SGD NEER, dengan menekankan pengendalian inflasi

DBS Group Research memperkirakan Otoritas Moneter Singapura (MAS) akan sedikit menaikkan kemiringan (slope) pita kebijakan *Singapore dollar nominal effective exchange rate* (SGD NEER)—yakni kisaran pergerakan nilai tukar SGD terhadap sekeranjang mata uang mitra dagang—pada rapat 14 April. Langkah ini akan membalikkan penurunan kemiringan yang dilakukan tahun lalu.

Perkiraan ini didasarkan pada harga minyak Brent yang bertahan dekat USD100 per barel serta ekspor yang tetap solid, sehingga perhatian terhadap inflasi impor (kenaikan harga barang/jasa yang datang dari luar negeri karena harga global atau pelemahan kurs) meningkat. MAS juga diperkirakan memperbarui proyeksi inflasinya.

Expected Inflation Forecast Revisions

Prakiraan inflasi inti (*core inflation*—inflasi tanpa komponen yang bergejolak seperti akomodasi dan transportasi pribadi, sehingga lebih mencerminkan tren) diperkirakan dinaikkan menjadi 1,5–2,5% dari 1–2%. Prakiraan CPI-All Items (inflasi IHK seluruh komponen) juga diperkirakan dinaikkan untuk mencerminkan harga energi yang lebih tinggi.

MAS dijadwalkan merilis estimasi awal PDB 1Q26 (angka PDB sementara/lebih cepat sebelum rilis final) pada waktu yang sama dengan keputusan kebijakan. PDB diperkirakan 5,4% secara tahunan (*year-on-year*, YoY—dibanding periode sama tahun sebelumnya) dan -1,1% secara kuartalan (*quarter-on-quarter*, QoQ—dibanding kuartal sebelumnya, sudah disesuaikan musiman/*seasonally adjusted* agar pola musiman tidak mengganggu), dibanding 6,3% YoY dan 2,1% QoQ (disesuaikan musiman) pada 4Q25.

Kami memperkirakan MAS akan memperketat kebijakan pada 14 April dengan sedikit menaikkan kemiringan pita kebijakan SGD NEER. Langkah ini akan membalikkan pelonggaran kebijakan yang terlihat pada 2025. Tujuannya agar dolar Singapura menguat lebih cepat, namun tetap terbatas, untuk menahan kenaikan harga.

Prioritas kebijakan bergeser ke penanganan inflasi impor, terutama karena harga minyak Brent bertahan di sekitar USD100 per barel sepanjang kuartal. Data terbaru mendukung langkah ini: ekspor domestik nonmigas Singapura (*non-oil domestic exports*—ekspor barang produksi dalam negeri di luar minyak) pada Maret 2026 tumbuh 4,5%, menunjukkan ekonomi cukup tahan terhadap mata uang yang lebih kuat. Ini memberi ruang bagi bank sentral untuk fokus mengendalikan inflasi.

Trading Implications For Sgd

Bagi pelaku pasar derivatif, prospek ini mengarah pada strategi untuk mengantisipasi penguatan dolar Singapura terhadap mata uang seperti dolar AS. Salah satu opsi adalah membeli *SGD call options* (opsi beli SGD—hak untuk membeli SGD pada harga tertentu), karena pernyataan yang lebih ketat/*hawkish* (condong menaikkan kebijakan untuk menekan inflasi) dapat mendorong penguatan mata uang. Secara historis, setelah MAS memperketat kebijakan secara mengejutkan pada 2022, SGD menguat tajam terhadap USD dalam tiga bulan berikutnya.

Estimasi awal PDB 1Q26, yang kami perkirakan kuat di 5,4% YoY, turut memperkuat alasan pengetatan. Meski lebih lambat dari akhir 2025, angka ini menegaskan ekonomi tetap solid. Karena itu, penggunaan kontrak *forward* (kontrak nilai tukar berjangka—kesepakatan membeli/menjual mata uang pada kurs tertentu untuk tanggal mendatang) untuk membangun posisi *long* SGD (bertaruh SGD menguat) menjelang rapat dapat dipertimbangkan.

Perubahan kebijakan ini juga kemungkinan menekan suku bunga domestik ke arah naik. Pelaku pasar perlu mengantisipasi kenaikan Singapore Overnight Rate Average (SORA)—rata-rata suku bunga pinjaman antarbank semalam di Singapura yang sering menjadi acuan. Strategi melalui *interest rate swaps* (swap suku bunga—kontrak menukar arus bunga, misalnya tetap vs mengambang) bisa menarik, terutama karena inflasi inti Maret sebesar 2,1% sudah mendukung suku bunga yang lebih tinggi.

Volatilitas tersirat (*implied volatility*—perkiraan gejolak harga yang tercermin dari harga opsi) pada opsi SGD kemungkinan tetap tinggi menjelang pengumuman. Kuncinya adalah apakah MAS menaikkan proyeksi inflasi resminya seperti yang kami perkirakan. Kenaikan proyeksi inflasi inti ke 1,5–2,5% akan menegaskan pergeseran kebijakan yang lebih ketat dan berpotensi menjaga penguatan dolar Singapura dalam beberapa pekan ke depan.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code