Back

Imbal hasil lelang obligasi pemerintah AS tenor tujuh tahun sebesar 4,175%, turun dari level sebelumnya 4,255%

Amerika Serikat menggelar lelang obligasi pemerintah (Treasury) tenor 7 tahun dengan imbal hasil (yield) 4,175%. Pada lelang 7 tahun sebelumnya, yield tercatat 4,255%.

Ini menunjukkan penurunan 0,080 poin persentase dibanding lelang sebelumnya. Angka-angka ini membandingkan hasil lelang terbaru dengan hasil lelang paling baru sebelumnya.

Implikasi bagi Permintaan dan Suku Bunga

Lelang Treasury 7 tahun yang kuat, dengan yield lebih rendah, menunjukkan permintaan besar terhadap surat utang pemerintah. Ini mengindikasikan pelaku pasar bersiap menghadapi penurunan suku bunga ke depan. Artinya, harga obligasi (yang biasanya bergerak berlawanan dengan yield) berpotensi lanjut naik.

Sentimen ini didukung data ekonomi terbaru. Pertumbuhan PDB (GDP: nilai total barang dan jasa yang dihasilkan) kuartal I 2026 direvisi turun menjadi 1,3%. Selain itu, inflasi Core PCE (ukuran inflasi pilihan The Fed yang mengecualikan harga pangan dan energi agar lebih stabil) tercatat 2,7%, memperkuat ekspektasi ekonomi yang melambat. Lelang yang kuat menegaskan pelaku pasar mulai mengambil posisi searah narasi ini.

Akibatnya, peluang pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (bank sentral AS) untuk rapat musim panas meningkat. CME FedWatch Tool (alat yang membaca peluang keputusan suku bunga dari harga kontrak berjangka) kini menunjukkan peluang 65% pemangkasan pada rapat Juli 2026, naik dari 50% yang tercermin kemarin. Ini berarti posisi beli (long: mendapat untung jika harga naik) pada SOFR futures (kontrak berjangka berbasis suku bunga acuan pasar uang AS, Secured Overnight Financing Rate) untuk paruh kedua tahun bisa menjadi transaksi yang makin “padat” karena terlalu banyak pelaku mengambil arah yang sama.

Dalam beberapa pekan ke depan, strategi yang diuntungkan dari turunnya yield dapat lebih menarik, seperti membeli kontrak berjangka Treasury 10 tahun (10-year note futures, kode ZN). Volatilitas pasar obligasi juga menurun; indeks MOVE (ukur volatilitas tersirat di opsi obligasi Treasury, sering disebut “VIX-nya obligasi”) turun ke 95, level terendah dalam dua bulan. Kondisi yang lebih tenang membuat strategi seperti menjual opsi put (kontrak yang memberi hak menjual; penjual put mendapat premi namun menanggung risiko jika harga turun) pada ETF obligasi (reksa dana berbentuk saham yang diperdagangkan di bursa) menjadi lebih layak.

Menjelang keputusan The Fed, para pedagang mengubah posisi; ketegangan Timur Tengah membatasi penguatan Dolar, mendorong pemulihan EUR/USD

Euro memangkas sebagian kerugian terhadap Dolar AS pada Selasa karena laju penguatan Dolar melemah menjelang keputusan Federal Reserve (The Fed/bank sentral AS) pada Rabu. EUR/USD diperdagangkan di sekitar 1,1707 setelah sempat menyentuh terendah harian (intraday low/terendah dalam satu hari perdagangan) 1,1677.

Indeks Dolar AS (DXY/ukuran kekuatan Dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) bergerak di sekitar 98,66 setelah sempat menyentuh puncak harian 98,88 dan naik hampir 0,18% pada hari itu. Dukungan untuk Dolar tetap ada dari ketegangan AS–Iran serta imbal hasil (yield/tingkat keuntungan obligasi) US Treasury (obligasi pemerintah AS) yang masih tinggi.

Prospek Federal Reserve

The Fed diperkirakan menahan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75%. Pelaku pasar fokus pada arahan kebijakan ke depan (guidance/petunjuk The Fed tentang langkah selanjutnya). Kenaikan harga minyak mendorong ekspektasi inflasi (perkiraan kenaikan harga di masa depan) dan mengubah perkiraan pasar ke arah suku bunga tinggi lebih lama (“higher-for-longer”/suku bunga tetap tinggi lebih lama), bukan dua kali penurunan suku bunga.

Di Zona Euro, pasar memperkirakan setidaknya dua kali kenaikan suku bunga European Central Bank (ECB/bank sentral Zona Euro), sementara ECB diperkirakan menahan suku bunga di 2,00% pada Kamis. Pembuat kebijakan menimbang tekanan inflasi versus risiko perlambatan ekonomi yang terkait ketergantungan pada energi impor.

Survei Penyaluran Kredit Perbankan (Bank Lending Survey/survei ECB tentang standar dan permintaan kredit) ECB untuk Q1 2026 menunjukkan ekspektasi inflasi naik di berbagai periode. Ekspektasi satu tahun naik ke 4,0% pada Maret dari 2,5% pada Februari, ekspektasi tiga tahun naik ke 3,0% dari 2,5%, dan ekspektasi lima tahun naik tipis ke 2,4% dari 2,3%.

Upaya mengakhiri perang AS–Iran dilaporkan mandek, dengan gangguan berlanjut di Selat Hormuz (jalur pelayaran penting minyak) dan pasokan minyak tetap ketat. Iran diperkirakan akan mengajukan usulan damai revisi dalam beberapa hari ke depan, menurut CNN.

USD/JPY Bertahan di Dekat 159,50 seiring Sikap Hawkish Bank of Japan dan Ketegangan Timur Tengah Mendongkrak Permintaan Dolar

USD/JPY diperdagangkan di dekat 159,50 pada Selasa, naik 0,07%, setelah sempat turun di bawah 159,00 usai keputusan Bank of Japan (BoJ). Pasangan ini pulih ketika permintaan terhadap Dolar AS meningkat di tengah risiko geopolitik yang berlanjut (ketidakpastian terkait konflik dan keamanan global yang biasanya mendorong investor mencari aset aman).

BoJ mempertahankan suku bunga acuannya di 0,75% dan hasil pemungutan suara terbelah 6-3, dengan tiga anggota mendukung kenaikan. Bank sentral menaikkan proyeksi inflasi dan menyebut suku bunga riil masih rendah (suku bunga setelah dikurangi inflasi), sambil memperingatkan risiko inflasi ke atas (potensi inflasi lebih tinggi dari perkiraan).

BoJ Decision And Initial Yen Reaction

Yen sempat menguat, terbantu peringatan pejabat soal kemungkinan tindakan saat terjadi pergerakan tajam di pasar mata uang (termasuk intervensi, yaitu aksi pemerintah/otoritas moneter menjual atau membeli mata uang untuk menahan pergerakan nilai tukar). Namun penguatan terbatas karena kekhawatiran pasokan energi, termasuk risiko di Selat Hormuz bagi ekonomi yang bergantung pada impor.

Dolar AS didukung permintaan aset aman (safe haven, yaitu aset yang cenderung dicari saat pasar berisiko) terkait ketegangan AS–Iran dan diplomasi yang tersendat. Sentimen konsumen AS juga bertahan, dengan Conference Board Consumer Confidence Index di 92,8 pada April (indeks keyakinan konsumen, ukuran optimisme rumah tangga terhadap kondisi ekonomi).

Pasar memperkirakan Federal Reserve mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5%–3,75%, menopang imbal hasil (yield, tingkat pengembalian) obligasi AS. Komentar pasar juga menyinggung kembalinya posisi short yen (taruhan yen melemah), meningkatnya risiko stagflasi di Jepang (inflasi tinggi disertai pertumbuhan ekonomi lemah), serta risiko intervensi tambahan saat periode Golden Week yang biasanya likuiditasnya tipis (likuiditas tipis berarti transaksi lebih sepi sehingga harga mudah bergerak tajam).

Rates Spread And Volatility Watch

Selisih suku bunga AS dan Jepang tetap menjadi faktor utama, dan belum menyempit cukup cepat untuk membantu yen. Federal Reserve bertahan di kisaran 3,5%–3,75%, didukung data inflasi Core PCE (Personal Consumption Expenditures inti, ukuran inflasi pilihan The Fed yang mengecualikan makanan dan energi) yang masih “lengket” atau sulit turun, sebesar 2,9% secara tahunan (year-over-year, dibandingkan periode yang sama tahun lalu). Selisih lebar ini membuat memegang Dolar AS lebih menguntungkan daripada memegang yen Jepang.

Di Jepang, situasinya rapuh meski bank sentral bernada lebih ketat (hawkish, yaitu cenderung mendukung suku bunga lebih tinggi untuk menahan inflasi). Core CPI nasional terbaru berada di 2,7%, tetapi banyak dipicu biaya impor energi yang tinggi, bukan pertumbuhan upah domestik yang kuat. Ini meningkatkan risiko stagflasi.

Kewaspadaan terhadap intervensi mata uang oleh otoritas Jepang tetap tinggi, terutama saat pasangan ini menguji level psikologis 160,00. Berdasarkan intervensi tajam pada akhir 2022, pergerakan bisa cepat dan besar, mudah memicu penurunan 300–500 pip dalam hitungan menit (pip adalah satuan perubahan harga kecil pada pasar valas). Libur Golden Week di Jepang yang sering membuat likuiditas pasar menurun dapat memperbesar risiko ini.

Ketidakpastian tinggi membuat strategi opsi berbasis volatilitas relevan, seperti long straddle (membeli opsi beli/call dan opsi jual/put sekaligus pada harga dan jatuh tempo yang sama, untuk mengambil untung dari pergerakan besar ke salah satu arah). Volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi) untuk opsi USD/JPY satu bulan sudah naik di atas 12%, mencerminkan kecemasan pasar terhadap potensi penembusan besar atau pembalikan tajam. Trader dapat mempertimbangkan posisi yang diuntungkan dari pergerakan harga besar dua arah, bukan hanya bertaruh pada satu arah tren.

Menjelang keputusan The Fed dan BoC, USD/CAD naik 0,33%, mendekati 1,3670 setelah memantul dari 1,3600

USD/CAD naik 0,33% pada Selasa ke dekat 1,3670, dari posisi terendah intraday Senin sekitar 1,3600. Pasangan ini sempat menembus 1,3690 dan masih lebih dari 2% di bawah puncak Maret dekat 1,3950.

Dolar Kanada mendapat dukungan terbatas dari kenaikan harga minyak, dengan WTI naik untuk sesi ketujuh dan diperdagangkan mendekati US$100 per barel. WTI adalah patokan harga minyak AS. Kenaikan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal gencatan senjata terbaru dari Iran, sementara Selat Hormuz praktis tertutup memasuki pekan kesembilan dan arus kapal tanker hampir nol. Selat Hormuz adalah jalur utama pengiriman minyak global.

Fokus Utama Bank Sentral

Data Consumer Confidence AS (indeks kepercayaan konsumen) untuk April pada Selasa tidak mengubah arah pasar menjelang agenda Rabu. Pasar menunggu keputusan Bank of Canada yang diperkirakan mempertahankan suku bunga overnight (suku bunga acuan harian antarbank) di 2,25%, setelah pada Maret menyinggung risiko inflasi akibat harga energi yang lebih tinggi.

Federal Reserve juga diperkirakan menahan suku bunga federal funds (suku bunga acuan AS) di kisaran 3,50% hingga 3,75%. Masa jabatan Ketua The Fed Jerome Powell berakhir pada Mei, dan Kevin Warsh disebut sebagai calon pengganti, meski menghadapi hambatan di Kongres.

Pada grafik 15 menit, USD/CAD diperdagangkan di 1,3672 dan bertahan di atas pembukaan hari itu di 1,3615. Stochastic RSI (indikator momentum yang menggabungkan Stochastic dan RSI untuk menilai jenuh beli/jenuh jual) turun dari area jenuh beli, dengan dukungan di dekat 1,3615 dan belum ada hambatan terdekat yang jelas.

Kami mengingat periode setahun lalu, pada April 2025, ketika USD/CAD bergerak menuju 1,3700 di tengah tensi geopolitik tinggi. Pendorong utamanya saat itu adalah krisis di Selat Hormuz yang membuat harga minyak WTI melonjak mendekati US$100 per barel. The Fed dan Bank of Canada sama-sama menahan suku bunga, sambil mencoba meredam lonjakan inflasi.

Latar Pasar Setahun Kemudian

Setahun kemudian, situasi berubah karena konflik mereda dan arus tanker kembali normal pada akhir 2025. Harga minyak WTI turun dari level krisis dan kini diperdagangkan sekitar US$84 per barel pada akhir April 2026. Harga energi yang lebih rendah namun stabil ini membantu menopang dolar Kanada dan membatasi kenaikan USD/CAD.

Namun, inflasi yang dipicu tahun lalu masih bertahan, membuat bank sentral tetap berhati-hati. Data CPI AS (Consumer Price Index/indeks harga konsumen) terbaru untuk Maret 2026 menunjukkan kenaikan tahunan 2,9%, sementara CPI Kanada 2,7%. Karena keduanya masih di atas target 2%, pasar tidak lagi memperkirakan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat dari The Fed maupun Bank of Canada.

Bagi pedagang derivatif, kondisi ini membuat implied volatility (perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi) berpotensi terlalu murah. Dengan USD/CAD kini bergerak mendatar sekitar 1,3550, membeli options straddle atau strangle bisa menjadi strategi. Straddle adalah membeli opsi beli (call) dan opsi jual (put) pada harga strike yang sama, sedangkan strangle memakai strike berbeda. Keduanya dirancang untuk mendapat untung jika harga bergerak besar ke salah satu arah, misalnya dipicu laporan inflasi yang mengejutkan dalam beberapa pekan ke depan.

Kami juga melihat peluang dari interest rate differential (selisih suku bunga/imbal hasil) yang menjadi penggerak penting. Secara historis, ketika selisih imbal hasil obligasi pemerintah tenor dua tahun AS dan Kanada melebar, USD/CAD cenderung naik. Pedagang bisa memakai forward contract (kontrak forward, kesepakatan membeli/menjual di harga tertentu pada tanggal tertentu) atau opsi pada futures (kontrak berjangka) untuk berspekulasi apakah selisih itu akan melebar atau menyempit berdasarkan data ekonomi mendatang.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Saat negosiasi Iran tersendat, kontrak berjangka DJIA bertahan di kisaran 49.200, didorong lonjakan laba Coca-Cola 5%

Pergerakan saham AS bervariasi pada Selasa. Kontrak berjangka Dow bertahan di dekat 49.200 dan indeks tunai naik sekitar 0,1%, dibantu saham Coca-Cola yang melonjak 5% setelah merilis kinerja keuangan.

S&P 500 turun 0,7% dan Nasdaq Composite melemah 1,3%, setelah keduanya mencetak rekor tertinggi pada Senin. Laporan Wall Street Journal tentang pertumbuhan OpenAI yang melambat membebani saham chip dan saham yang terkait kecerdasan buatan (AI, teknologi yang membuat komputer bisa “belajar” dari data untuk mengambil keputusan).

Perundingan Gencatan Senjata Kehilangan Momentum

Pembahasan gencatan senjata yang melibatkan Iran terlihat kehilangan momentum. Presiden Donald Trump membatalkan rencana mengirim Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Pakistan, dan menyebut pembicaraan bisa dilakukan lewat telepon.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan tidak ada pertemuan yang direncanakan antara Teheran dan Washington. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan pemerintah telah membahas tawaran Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, yang dikaitkan dengan berakhirnya perang dan pencabutan blokade AS.

Harga minyak naik karena pasar kembali menghitung risiko gangguan pasokan. WTI naik sekitar 3% ke dekat US$100 per barel, sementara Brent menguat 2% ke atas US$110.

Sekitar seperlima arus minyak global melewati Selat Hormuz. UEA mengatakan akan keluar dari OPEC pada 1 Mei. OPEC adalah kelompok negara pengekspor minyak yang berkoordinasi soal kebijakan produksi. UEA adalah produsen ketiga terbesar OPEC pada Februari setelah Arab Saudi dan Irak.

Laba Teknologi dan The Fed Jadi Sorotan

Nvidia turun lebih dari 3%, Broadcom merosot lebih dari 4%, dan AMD, Intel, serta Oracle ditutup melemah sekitar 4%. Keputusan The Fed (bank sentral AS) dijadwalkan pada 18:00 GMT, dengan konferensi pers pada 18:30 GMT. Konsensus memperkirakan suku bunga acuan tetap di 3,75%.

Alphabet, Amazon, Meta, dan Microsoft akan merilis laporan keuangan setelah penutupan perdagangan Rabu, disusul Apple pada Kamis. Kamis juga menghadirkan PDB (GDP) kuartal I versi “advance” (perkiraan awal) dan PCE (Personal Consumption Expenditures, ukuran inflasi pilihan The Fed yang melacak perubahan harga barang/jasa yang dibeli konsumen) bulan Maret.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Emas Sentuh Level Terendah Empat Pekan, Dolar Menguat dan Kekhawatiran Inflasi Minyak Menutupi Kemajuan Pembicaraan AS–Iran

Emas turun ke level terendah hampir satu bulan di sekitar $4.571, melemah sekitar 2,35% pada hari itu. Pergerakan ini terjadi karena Dolar AS menguat, sementara kekhawatiran inflasi yang dipicu kenaikan harga minyak tetap bertahan (inflasi: kenaikan harga barang/jasa secara umum).

Sudah dua bulan sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran, dan gencatan senjata disebut masih bertahan. Putaran kedua perundingan belum menunjukkan kemajuan, dan Iran diperkirakan akan mengajukan proposal revisi dalam beberapa hari ke depan, menurut CNN.

Kekuatan Dolar Menekan Emas

Dolar AS tetap kuat di tengah ketidakpastian, dengan Indeks Dolar AS (DXY) di sekitar 98,67, naik 0,20% pada hari itu (DXY: ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama). Dolar yang lebih kuat bisa menurunkan minat terhadap emas karena harga emas menjadi lebih mahal dalam mata uang lain.

Harga minyak bertahan tinggi karena pasokan melalui Selat Hormuz disebut banyak terganggu akibat blokade ganda (Selat Hormuz: jalur pelayaran penting untuk pengiriman minyak global). Pasar menyoroti keputusan Federal Reserve (bank sentral AS) pada Rabu, dan skenario suku bunga ditahan sudah sepenuhnya diperhitungkan pasar, menurut alat CME FedWatch (CME FedWatch: indikator berbasis data pasar untuk memantau peluang arah suku bunga The Fed).

ADP Employment Change rata-rata 4 pekan turun ke 39,25 ribu dari 40,25 ribu (ADP: perkiraan perubahan pekerjaan sektor swasta AS). Indeks Keyakinan Konsumen Conference Board naik ke 92,8 pada April, di atas perkiraan 89, dari 91,8 sebelumnya (direvisi menjadi 92,2).

Secara teknikal, emas tetap di bawah SMA 100 hari ($4.749) dan SMA 50 hari ($4.854), dengan RSI di sekitar 39 dan MACD negatif (SMA: rata-rata pergerakan sederhana untuk melihat tren; RSI: indikator momentum, di bawah 50 menandakan dorongan melemah; MACD: indikator tren/momentum, negatif menandakan tekanan turun). Support (area penahan penurunan) berada di dekat $4.550, lalu SMA 200 hari sekitar $4.263.

Melihat Kembali ke 2025

Jika melihat periode yang sama pada 2025, emas juga tertekan oleh dolar yang kuat ketika pembicaraan AS–Iran masih buntu. Konflik membuat sentimen risiko rapuh dan menopang dolar (sentimen risiko: selera pelaku pasar terhadap aset berisiko). Kondisi ini menyulitkan pihak yang bertaruh harga emas naik, sehingga harga tertahan di bawah rata-rata pergerakan penting (bulls: pelaku pasar yang berharap harga naik).

Dinamika itu berubah pada paruh akhir 2025 ketika tercapai solusi diplomatik yang rapuh, yang sementara meredakan kekhawatiran pasokan minyak melalui Selat Hormuz. Hal ini membuat dolar melemah dari puncaknya dan membuka ruang pemulihan besar pada emas hingga akhir tahun. Banyak trader menilai sikap The Fed “lebih tinggi lebih lama” (higher-for-longer: suku bunga tinggi dipertahankan lebih lama) mulai mencapai puncaknya.

Namun, situasi kini berubah dan pelaku pasar perlu menyesuaikan posisi. Data Core CPI (inflasi inti: inflasi tanpa komponen yang bergejolak seperti pangan dan energi) untuk Maret 2026 lebih panas dari perkiraan di 3,1%, membalik tren penurunan dan memicu lagi kekhawatiran inflasi. Kejutan data ini bisa membuat strategi membeli opsi put pada kontrak berjangka emas XAU relevan untuk lindung nilai atau mendapat untung bila harga turun lagi (opsi put: hak untuk menjual pada harga tertentu; kontrak berjangka/futures: perjanjian membeli/menjual di harga tertentu pada tanggal tertentu; lindung nilai/hedging: mengurangi risiko kerugian).

Kekhawatiran inflasi diperkuat oleh keputusan terbaru OPEC+ memperpanjang pemangkasan produksi, mendorong harga minyak WTI kembali di atas $95 per barel (OPEC+: kelompok produsen minyak dan mitranya; WTI: patokan harga minyak AS). Selain itu, laporan Non-Farm Payrolls (NFP: data penambahan pekerjaan di luar sektor pertanian AS) terakhir menunjukkan kenaikan kuat 250.000 pekerjaan, sehingga The Fed punya sedikit alasan untuk melonggarkan kebijakan. Pasar kini hanya memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga 40% tahun ini, berbalik tajam dari 85% yang terlihat dua bulan lalu.

Dengan sinyal yang saling bertentangan—data ekonomi tetap kuat dan inflasi kembali naik—implied volatility (perkiraan volatilitas yang “tercermin” dari harga opsi) pada opsi emas meningkat. Kondisi ini cocok untuk strategi yang diuntungkan dari pergerakan tajam, tanpa peduli arah. Trader dapat mempertimbangkan long straddle, yaitu membeli opsi call dan opsi put dengan strike price (harga kesepakatan) dan jatuh tempo yang sama, untuk memanfaatkan potensi pergerakan besar jelang pertemuan The Fed berikutnya (opsi call: hak untuk membeli).

Gambaran teknikal emas kembali memburuk, mirip dengan pola pada 2025. Setelah gagal bertahan di atas level psikologis $5.000 (level psikologis: angka bulat yang sering jadi acuan pasar) awal bulan ini, harga kini menembus ke bawah rata-rata pergerakan 50 hari, yang saat ini dekat $4.820. Jika penembusan berlanjut di bawah support terdekat $4.750, harga berpotensi menguji kembali rata-rata 100 hari di sekitar $4.600, yang menjadi sasaran jelas bagi strategi bearish (bearish: pandangan harga cenderung turun).

Lee Hardman di MUFG memperkirakan rebound yen baru-baru ini terhadap dolar akan memudar di tengah tren bearish yang masih berlanjut

MUFG mengatakan pemulihan yen baru-baru ini terhadap dolar AS mungkin tidak bertahan lama, dan USD/JPY masih berada dalam tren pelemahan yen yang lebih besar sejak konflik Timur Tengah dimulai pada akhir Februari. MUFG mengaitkan pergerakan ini dengan “hawkish hold” Bank of Japan (BoJ)—yakni BoJ menahan suku bunga tetap, tetapi memberi sinyal lebih “ketat” (cenderung siap menaikkan suku bunga/mengetatkan kebijakan) —namun tidak memperkirakan hal itu memicu perubahan arah yang bertahan lama.

Laporan tersebut menyebut sentimen risiko global yang kuat (minat investor terhadap aset berisiko saat pasar optimistis) dan memburuknya terms of trade Jepang (rasio harga ekspor terhadap harga impor; memburuk berarti biaya impor relatif lebih mahal sehingga menekan nilai tukar) sebagai faktor yang mendukung yen melemah. Laporan itu juga merujuk IMM report terbaru (laporan posisi spekulatif dari pasar berjangka, sering dipakai untuk membaca posisi pelaku besar), yang menyebut leveraged funds (dana spekulatif yang memakai pinjaman/utang untuk memperbesar posisi) kembali menambah posisi short yen dalam beberapa pekan terakhir (bertaruh yen turun).

Pressure On The Yen Remains

Artikel itu menyebut kondisi-kondisi ini menjaga tekanan pada Jepang untuk mendukung peringatan lisan dengan tindakan jika yen makin melemah dalam waktu dekat. Disebutkan juga ada tekanan naik kembali pada USD/JPY, kecuali otoritas turun tangan.

Disebutkan Menteri Keuangan Katayama kembali mengeluarkan peringatan menjelang rapat kebijakan BoJ, “Saya secara konsisten menyebut akan mengambil tindakan tegas bila diperlukan.” Saat ditanya soal periode libur Golden Week, ia berkata, “kami siap merespons 24 jam sehari”.

Tulisan itu menambahkan Katayama mengatakan volatilitas pada crude oil futures (kontrak berjangka minyak mentah; volatilitas berarti harga naik-turun tajam) tetap tinggi, dan dinilai memicu pergerakan spekulatif pada yen. Artikel itu menyatakan dibuat dengan AI dan ditinjau editor.

Kami melihat penguatan yen belakangan ini lebih sebagai pergerakan sementara, bukan tren baru. Faktor besar yang mendorong dolar AS menguat terhadap yen masih kuat. Ini menunjukkan setiap penurunan USD/JPY kemungkinan menjadi peluang beli dalam beberapa pekan ke depan.

Rate Differentials Drive The Trade

Pendorong utama tetap selisih suku bunga yang besar antara Amerika Serikat dan Jepang. Dengan suku bunga acuan The Fed (Federal Funds Rate, patokan biaya pinjaman dolar) bertahan di sekitar 3,75% dan suku bunga BoJ sulit bertahan di atas 0,25%, insentif untuk meminjam yen dan menempatkan dana ke dolar sangat besar. Perbedaan ini terus menekan yen.

Bagi trader, ini mengarah pada strategi membeli call options pada USD/JPY dengan jatuh tempo satu hingga dua bulan. Call option (opsi beli) memberi hak—bukan kewajiban—untuk membeli pada harga tertentu; strategi ini memungkinkan mendapat untung jika USD/JPY naik sambil membatasi risiko. Risiko utama adalah intervensi mendadak dan agresif dari otoritas Jepang; opsi membatasi kerugian pada premi yang dibayar (biaya opsi).

Kita perlu mencermati peringatan pejabat, terutama saat periode libur Golden Week dimulai. Dari data, cadangan devisa Jepang turun ke sekitar US$1,2 triliun dari puncak 2023, yang menunjukkan kemampuan intervensi terbatas namun masih besar. Dorongan cepat yang bersifat spekulatif di atas level 162 bisa menjadi pemicu mereka bertindak.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

USD/CHF Naik karena Perundingan AS-Iran yang Belum Tuntas Mengerek Dolar, sementara Franc Tertinggal; The Fed Jadi Sorotan

USD/CHF naik pada Selasa karena ketidakpastian soal upaya mengakhiri perang AS-Iran membuat sentimen pasar tetap lemah dan mendukung permintaan terhadap Dolar AS. Franc Swiss tidak banyak menguat meski dikenal sebagai *safe haven* (aset yang biasanya dicari saat situasi tidak pasti), sementara Bank Nasional Swiss (SNB) mengatakan siap bertindak bila pergerakan mata uang dinilai berlebihan.

USD/CHF diperdagangkan di sekitar 0,7895, naik 0,50%. Indeks Dolar AS (DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) berada di kisaran 98,68, naik 0,20%.

Sentimen Risiko Dan Selat Hormuz

Perundingan AS-Iran dilaporkan minim kemajuan, dan Donald Trump mengatakan Iran memberi tahu Amerika Serikat bahwa mereka “dalam kondisi runtuh” dan ingin Selat Hormuz dibuka kembali. Iran mengusulkan pembukaan kembali selat dan mengakhiri perang terlebih dahulu, sementara pembicaraan nuklir dilakukan belakangan, tetapi pejabat AS dikabarkan tetap ragu.

Jika terjadi gangguan di Selat Hormuz (jalur penting pengiriman minyak dunia), harga minyak bertahan tinggi dan menambah risiko inflasi (kenaikan harga barang/jasa secara umum). Pasar memperkirakan Federal Reserve (bank sentral AS) akan menunda pemangkasan suku bunga, sehingga imbal hasil US Treasury (yield obligasi pemerintah AS) dan dolar mendapat dukungan.

Keputusan The Fed dijadwalkan Rabu, dengan suku bunga diperkirakan tetap di kisaran 3,50%–3,75%. Pasar akan mencermati pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell untuk petunjuk arah kebijakan.

Rata-rata 4 minggu ADP Employment Change (perkiraan perubahan jumlah pekerja sektor swasta) turun ke 39,25 ribu dari 40,25 ribu. Indeks Keyakinan Konsumen Conference Board naik ke 92,8 dibanding perkiraan 89, dari 91,8 (direvisi menjadi 92,2).

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Meski selisih yield Inggris–AS mendukung, ketidakpastian politik dan fiskal di bawah Starmer membebani sentimen sterling, memicu kinerja di bawah pasar

GBP turun 0,4% terhadap USD dan berkinerja lebih buruk di beberapa pasangan mata uang. Pergerakan ini dikaitkan dengan faktor domestik dan eksternal.

Pasar menimbang ketidakpastian politik terkait PM Starmer dan dampaknya terhadap kebijakan fiskal (arah dan aturan pengelolaan anggaran negara: belanja, pajak, dan defisit). Kepercayaan baru-baru ini dikaitkan dengan Menkeu Reeves dan aturan fiskal yang ia tetapkan sendiri (batasan disiplin anggaran yang ia janji patuhi).

Prospek Suku Bunga Bank of England

Untuk rapat Bank of England (BoE) pada Kamis, pasar menilai peluang kenaikan suku bunga kecil. Pasar memperkirakan 16 basis poin untuk Juni dan total 60 basis poin hingga Desember. (Basis poin/bps adalah 0,01%; 60 bps = 0,60%.)

Selisih imbal hasil (yield spread: perbedaan tingkat imbal hasil obligasi) UK–AS makin melebar dan mendekati level tertinggi baru, yang secara fundamental (berdasarkan faktor ekonomi seperti suku bunga/imbal hasil) mendukung GBP. Namun sentimen pasar lebih dominan, dan penetapan harga opsi (options pricing: harga kontrak derivatif yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk jual/beli) menunjukkan kenaikan tipis biaya perlindungan dari pelemahan GBP.

GBP/USD bertahan di kisaran 1,3450 hingga 1,35-an, sementara tren naik yang lebih luas sejak awal 2025 masih utuh.

Pound saat ini terjebak di antara dua kekuatan yang berlawanan. Di satu sisi, faktor fundamental mendukung karena ekspektasi suku bunga Inggris naik lebih cepat daripada di Amerika Serikat, yang semestinya membuat sterling lebih menarik. Ini menciptakan situasi tegang untuk pasangan GBP/USD.

Selisih Imbal Hasil dan Sentimen Pasar

Ini terlihat di pasar obligasi, ketika selisih antara imbal hasil gilt (obligasi pemerintah Inggris) tenor 2 tahun di 4,75% dan US Treasury (obligasi pemerintah AS) tenor 2 tahun di 4,25% menjadi penopang bagi pound. Kesenjangan ini melebar karena inflasi Inggris terbaru tetap tinggi di 3,5%, menekan BoE untuk mempertimbangkan pengetatan (tightening: kebijakan lebih ketat, biasanya lewat kenaikan suku bunga atau pengurangan dukungan likuiditas) lebih lanjut pada akhir tahun. Kondisi seperti ini biasanya mengarah pada mata uang yang lebih kuat.

Namun ketidakpastian politik yang berlanjut seputar Perdana Menteri dan komitmen Menkeu pada aturan fiskal yang ketat membuat pelaku pasar gelisah. Sentimen negatif ini menjadi alasan utama pound berkinerja lebih buruk meski sinyal ekonomi positif. Ini contoh ketika psikologi pasar mengalahkan data untuk sementara.

Dengan risiko penurunan mendadak, strategi utama adalah membeli perlindungan dari pelemahan. Ini bisa dilakukan dengan membeli opsi put GBP/USD (opsi put: kontrak yang nilainya naik jika harga turun, memberi hak untuk menjual pada harga tertentu). Ini membantu memasang batas bawah (floor: batas minimum nilai) untuk posisi beli (long positions: posisi yang untung jika harga naik), sehingga membatasi kerugian jika berita politik memicu penurunan tajam.

Di sisi lain, jeda di kisaran 1,3450–1,35-an menandakan keraguan arah. Karena tarik-menarik antara fundamental yang kuat dan sentimen yang buruk biasanya tidak bertahan lama, strategi alternatif adalah menggunakan opsi untuk bersiap terhadap pergerakan besar (breakout: harga keluar dari kisaran dan bergerak kuat) ke salah satu arah. Ketidakpastian yang tinggi berarti volatilitas (besarnya naik-turun harga) berpotensi meningkat.

Perhatian tertuju pada keputusan BoE Kamis ini untuk melihat perubahan nada, meski tidak ada tindakan. Selain itu, pernyataan fiskal pemerintah pada pertengahan Mei menjadi pemicu besar berikutnya. Sinyal belanja yang lebih longgar bisa memperbesar kegelisahan pasar secara signifikan.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Alvin Liew dari UOB: BoJ Tahan Suku Bunga di 0,75%, Sinyalkan Kenaikan Seiring Inflasi Naik dan Suku Bunga Riil Masih Rendah

Bank of Japan mempertahankan suku bunga kebijakannya di 0,75%. Bank sentral itu mengatakan langkah berikutnya diperkirakan adalah kenaikan suku bunga, seiring inflasi dasar makin dekat ke target dan suku bunga riil (suku bunga setelah dikurangi inflasi) tetap sangat rendah.

Dalam laporan Outlook terbaru, bank sentral menaikkan proyeksi Indeks Harga Konsumen (IHK/CPI, ukuran inflasi di tingkat konsumen). Bank sentral menyatakan normalisasi kebijakan (kembali dari kebijakan sangat longgar ke kondisi lebih “normal”, misalnya dengan menaikkan suku bunga) akan berlanjut, namun dilakukan hati-hati dan mengikuti data terbaru.

Jalur Inflasi dan Sinyal Kebijakan

Bank sentral memperkirakan inflasi IHK dasar (inflasi yang lebih “murni”, biasanya mengurangi komponen yang sangat bergejolak) naik bertahap. Inflasi diproyeksikan mencapai tingkat yang sejalan dengan target stabilitas harga 2% antara akhir tahun fiskal 2026 hingga tahun fiskal 2027, lalu bertahan di sekitar level itu.

Bank sentral kini menilai risiko pertumbuhan condong ke sisi negatif (peluang perlambatan lebih besar). Sebaliknya, risiko harga condong ke sisi positif, terutama pada tahun fiskal 2026.

Kami menilai Bank of Japan memberi sinyal bahwa langkah berikutnya adalah kenaikan suku bunga, meski kali ini menahan di 0,75%. Mereka khawatir tekanan harga bisa meningkat terlalu cepat, khususnya pada tahun fiskal 2026. Ini membuat waktunya tetap tidak pasti karena bank sentral menegaskan akan berhati-hati dan menunggu data.

Dengan yen masih lemah, belakangan bergerak di sekitar 158 per dolar AS, risiko pergerakan tajam cukup tinggi. Investor dapat mempertimbangkan membeli opsi call yen (kontrak yang memberi hak membeli yen pada harga tertentu) atau opsi put USD (hak menjual dolar AS) untuk melindungi diri bila yen menguat mendadak jika BoJ bertindak lebih cepat dari perkiraan. Kenaikan volatilitas tersirat (perkiraan volatilitas yang “terbaca” dari harga opsi) pada opsi USD/JPY tenor tiga bulan hingga di atas 12% menunjukkan banyak pelaku pasar bersiap menghadapi pergerakan besar.

Penetapan Harga Pasar dan Penempatan Posisi

Pasar kini memberi peluang lebih tinggi untuk kenaikan suku bunga pada rapat Juni atau Juli, sehingga mendorong naik imbal hasil (yield, tingkat pengembalian) obligasi pemerintah Jepang tenor pendek. Investor bisa melihat instrumen derivatif (kontrak keuangan turunan seperti swap atau futures) untuk mengambil posisi pada kurva imbal hasil yang mendatar (flattening, saat yield tenor pendek naik lebih cepat daripada tenor panjang). Pandangan ini didukung hasil final kesepakatan upah “shunto” 2026 (perundingan upah tahunan di Jepang), yang menunjukkan rata-rata kenaikan gaji 4,5%, memberi alasan bagi BoJ untuk bertindak.

Yen yang lebih kuat biasanya menjadi sentimen negatif bagi eksportir besar Jepang, yang dapat menekan indeks Nikkei 225. Investor dapat menggunakan opsi put pada Nikkei (hak menjual indeks pada harga tertentu) sebagai lindung nilai (hedge, perlindungan nilai) atas posisi lain atau untuk mengambil peluang penurunan jangka pendek. Situasi serupa pernah terlihat pada 2025 ketika ekspektasi awal kenaikan suku bunga memicu pelemahan sementara pada indeks yang banyak berisi saham eksportir.

Karena BoJ menegaskan kebijakan bergantung pada data, perhatian pasar akan tertuju pada rilis inflasi IHK nasional berikutnya. Angka IHK inti (core CPI, ukuran inflasi yang menghilangkan komponen yang sangat bergejolak) Maret 2026 sebesar 2,9% sudah menambah tekanan, dan angka kuat berikutnya dapat membuat BoJ lebih cepat bertindak pada rapat selanjutnya. Karena itu, strategi transaksi sebaiknya disusun mengacu pada jadwal rilis data penting dan tanggal rapat, karena momen ini biasanya memicu volatilitas paling besar.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code