Back

Standard Chartered perkirakan pertumbuhan Jepang 2026 sebesar 0,7% dan inflasi 2,0%, didorong kenaikan harga minyak dan pelemahan yen

Standard Chartered merevisi prospek Jepang. Bank ini memangkas proyeksi pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) 2026 menjadi 0,7% dan menaikkan proyeksi inflasi CPI (Indeks Harga Konsumen) menjadi 2,0% akibat harga minyak yang lebih tinggi dan yen Jepang yang melemah, yang memicu “guncangan syarat perdagangan” (terms-of-trade shock: kondisi saat harga impor naik lebih cepat daripada harga ekspor sehingga daya beli negara menurun).

Bank tersebut menyebut risiko pertumbuhan rendah dan inflasi lebih tinggi meningkat. Hal ini dikaitkan dengan asumsi harga minyak USD 100 per barel dan pelemahan mata uang yang menekan konsumsi (belanja rumah tangga).

Prospek Jepang Bergeser ke Stagflasi

Data Februari mengarah pada pemulihan yang lemah, sementara sentimen Maret melemah. Bank menilai konflik Timur Tengah membebani momentum ekonomi domestik.

Standard Chartered memperkirakan Bank of Japan (BoJ/bank sentral Jepang) menunda pengetatan kebijakan lebih lanjut hingga kuartal III-2026. Bank mengatakan inflasi saat ini terutama didorong faktor pasokan dari luar negeri (misalnya energi dan bahan baku impor), bukan karena permintaan domestik yang kuat.

Perkiraan pasar atas kenaikan suku bunga BoJ juga bergerak mendekati pandangan ini. Sekitar 27 bps (basis poin: 1 bps = 0,01%) sudah “diperkirakan” hingga Juli, dengan tambahan 7 bps untuk September, dan ekspektasi kenaikan suku bunga pada April menurun.

Implikasi Trading untuk Yen dan Suku Bunga

Yen melanjutkan pelemahan, dengan USD/JPY menembus level 162 bulan ini, berbanding terbalik dengan penguatan singkat setelah kenaikan suku bunga pertama pada 2025. Data terbaru mendukung sikap hati-hati, karena survei Tankan Maret untuk produsen besar turun ke +8. (Tankan: survei kepercayaan bisnis utama di Jepang; angka lebih rendah berarti pelaku usaha lebih pesimistis.) Ini mencerminkan sentimen memburuk akibat biaya impor tinggi. Kondisi ini menyulitkan bank sentral untuk membenarkan kenaikan suku bunga yang berisiko menekan ekonomi yang rapuh.

Dengan sikap BoJ yang diperkirakan “menunggu dan melihat” (wait-and-see: menahan perubahan kebijakan sambil memantau data), selisih suku bunga antara Jepang dan negara ekonomi besar lain kemungkinan tetap lebar. Ini membuat strategi yang memanfaatkan potensi yen terus melemah menjadi menarik dalam beberapa pekan ke depan. Trader dapat mempertimbangkan membeli opsi call pada USD/JPY (opsi call: hak untuk membeli pada harga tertentu) untuk mengambil peluang jika USD/JPY naik, sambil membatasi risiko jika bergerak berlawanan.

Pertentangan antara yen lemah yang menguntungkan eksportir dan permintaan domestik yang lemah yang merugikan sektor lain menciptakan kondisi sulit bagi Nikkei 225 (indeks saham utama Jepang). Ketidakpastian ini meningkatkan peluang pergerakan harga yang tajam. Untuk beberapa pekan ke depan, membeli volatilitas melalui opsi—misalnya strategi straddle pada indeks Nikkei 225 (straddle: membeli opsi call dan put sekaligus untuk mendapat keuntungan dari pergerakan besar ke salah satu arah)—bisa menjadi langkah yang lebih aman untuk menghadapi pasar yang berguncang.

Pada Maret, Indeks Harga Impor AS (yoy) naik menjadi 2,1% dari 1,3%

Indeks Harga Impor Amerika Serikat naik 2,1% secara tahunan (year on year/yoy) pada Maret. Angka ini meningkat dari 1,3% pada rilis sebelumnya.

Kenaikan indeks harga impor tahunan ke 2,1% menjadi sinyal inflasi (kenaikan harga) yang perlu dipantau. Data ini menunjukkan tekanan harga masih bertahan, sehingga lebih sulit bagi Federal Reserve (bank sentral AS) untuk mempertimbangkan pemangkasan suku bunga. Strategi perlu disesuaikan untuk menghadapi suku bunga “tinggi lebih lama” dalam beberapa pekan ke depan.

Penyesuaian Harga Pasar dan Strategi Suku Bunga

Berdasarkan data inflasi ini, pasar dengan cepat menyesuaikan ulang (repricing) ekspektasi kebijakan moneter (kebijakan bank sentral yang mengatur suku bunga dan likuiditas). CME FedWatch Tool kini menunjukkan peluang pemangkasan suku bunga pada Juli hanya 25%, turun dari di atas 70% sebulan lalu. Ini mengarah pada pertimbangan posisi yang diuntungkan saat suku bunga bertahan tinggi, seperti menjual (short) kontrak berjangka suku bunga (interest rate futures, yaitu kontrak untuk membeli/menjual suku bunga acuan di masa depan) atau membeli opsi jual (put options, hak untuk menjual pada harga tertentu) pada ETF obligasi pemerintah AS (Treasury bond ETFs). Imbal hasil (yield, tingkat keuntungan) Surat Utang Negara AS tenor 2 tahun sudah naik melampaui 4,95%, mencerminkan perubahan sentimen ini.

Biaya input yang lebih tinggi dan suku bunga tinggi menjadi tekanan bagi saham, terutama sektor pertumbuhan dan konsumsi non-primer (consumer discretionary, yaitu barang/jasa yang biasanya dibeli saat ekonomi kuat). Volatilitas pasar (naik-turun harga) berpotensi meningkat dari level yang relatif rendah saat ini, dengan VIX (indeks volatilitas pasar saham AS, sering disebut “indeks ketakutan”) di sekitar 15. Seperti saat guncangan inflasi 2022, VIX yang naik sering mendahului koreksi pasar yang lebih luas, sehingga strategi membeli volatilitas—misalnya melalui opsi beli VIX (VIX call options, hak membeli pada harga tertentu) atau membeli put pelindung (protective puts, put untuk membatasi rugi) pada indeks seperti S&P 500—dapat dipertimbangkan.

Sikap The Fed yang lebih hawkish (lebih ketat/lebih condong menaikkan atau menahan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi) biasanya menguatkan dolar AS terhadap mata uang utama lain. Indeks Dolar (DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang) sudah diperdagangkan di atas 106, tertinggi dalam lima bulan, seiring bank sentral lain seperti ECB (Bank Sentral Eropa) memberi sinyal lebih terbuka untuk memangkas suku bunga. Perbedaan arah kebijakan ini dapat dimanfaatkan dengan menggunakan opsi (options, kontrak derivatif yang memberi hak beli/jual) untuk mengambil posisi beli pada dolar terhadap euro atau yen Jepang.

Fokus lain adalah dampak kenaikan biaya terhadap margin perusahaan (selisih laba). Perusahaan yang sangat bergantung pada barang impor dan tidak memiliki kemampuan menaikkan harga ke konsumen paling berisiko, seperti peritel besar (big-box retailers, toko ritel berukuran besar). Pertimbangkan membeli put pada ETF sektoral seperti XRT (ETF sektor ritel) atau menerapkan pair trade (strategi dua posisi: jual saham yang lemah dan beli saham yang lebih kuat) dengan menjual perusahaan rentan sambil membeli perusahaan yang lebih mampu menaikkan harga (pricing power, kemampuan menjaga/menaikkan harga tanpa kehilangan permintaan), misalnya di sektor perangkat lunak perusahaan (enterprise software, software untuk bisnis) atau kesehatan.

Risiko Portofolio dan Penentuan Ukuran Posisi

Pada Maret, indeks harga ekspor tahunan Amerika Serikat naik menjadi 5,6% dari sebelumnya 3,5%

Indeks harga ekspor Amerika Serikat naik 5,6% secara tahunan (year on year/yoy) pada Maret. Angka ini naik dari 3,5% pada periode sebelumnya.

Kenaikan terbaru indeks harga ekspor AS secara yoy ke 5,6% menjadi sinyal kuat bahwa inflasi (kenaikan harga) masih bertahan. Angka ini jauh lebih tinggi dari perkiraan, sehingga menunjukkan tekanan inflasi belum mereda secepat yang diharapkan. Ini membuat Federal Reserve (bank sentral AS/The Fed) lebih mungkin mempertahankan sikap ketat (hawkish: cenderung menaikkan atau menahan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi) dalam beberapa pekan ke depan.

Lonjakan Harga Ekspor dan Sinyal Inflasi

Rilis ini muncul setelah data Indeks Harga Konsumen/Consumer Price Index (CPI: ukuran perubahan harga barang dan jasa yang dibeli konsumen) pekan lalu, yang menunjukkan inflasi inti (core inflation: inflasi di luar harga pangan dan energi yang biasanya lebih bergejolak) bertahan di sekitar 3,7%, masih jauh di atas target The Fed 2%. Akibatnya, ekspektasi pasar yang tercermin pada kontrak berjangka SOFR (SOFR futures: kontrak derivatif yang mencerminkan perkiraan suku bunga acuan berbasis Secured Overnight Financing Rate) kini hampir menutup peluang pemangkasan suku bunga di pertengahan tahun. Ini perubahan besar dibanding beberapa bulan lalu.

Dengan prospek ini, strategi dapat diarahkan pada suku bunga tinggi yang bertahan. Ini bisa dilakukan lewat opsi (options: kontrak yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli/menjual aset pada harga tertentu) pada ETF obligasi Treasury (Treasury bond ETFs: reksa dana indeks yang diperdagangkan di bursa dan berisi obligasi pemerintah AS), khususnya membeli put (put option: hak untuk menjual, biasanya untung saat harga turun) pada dana yang melacak obligasi tenor panjang (long-duration bonds: obligasi berjangka panjang yang lebih sensitif terhadap kenaikan suku bunga), karena nilainya cenderung turun saat suku bunga naik. Pada siklus kenaikan suku bunga 2022–2023, strategi ini terbukti efektif ketika data inflasi lebih tinggi dari perkiraan.

Ekspektasi suku bunga tinggi juga berpotensi menopang penguatan dolar AS. Indeks Dolar (Dollar Index/DXY: ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) sudah menembus level 107, tertinggi dalam beberapa bulan, dan data harga ekspor ini menambah dukungan. Paparan beli (long exposure: posisi yang diuntungkan saat harga naik) terhadap dolar dapat dilakukan melalui kontrak berjangka (futures: kontrak untuk membeli/menjual aset pada harga dan waktu tertentu) atau opsi call (call option: hak untuk membeli, biasanya untung saat harga naik) terhadap mata uang dari bank sentral yang lebih longgar (dovish: cenderung menahan/menurunkan suku bunga), seperti yen.

Bagi pasar saham, kondisi ini menjadi tekanan (headwind: faktor yang menghambat kenaikan), terutama untuk saham pertumbuhan dan teknologi yang sensitif terhadap biaya pinjaman. Volatilitas (volatility: tingkat naik-turun harga) berpeluang meningkat saat pasar mencerna skenario suku bunga “tinggi lebih lama”.

Penyesuaian Portofolio Menghadapi Suku Bunga Tinggi

Karena itu, bisa dipertimbangkan membeli put pada indeks utama seperti Nasdaq 100 untuk lindung nilai (hedge: mengurangi risiko) portofolio atau untuk memanfaatkan pelemahan jangka pendek.

Pada Februari, penjualan grosir bulanan Kanada naik 2%, di bawah perkiraan 2,3%

Penjualan grosir Kanada naik 2% secara bulanan (month on month/MoM) pada Februari. Angka ini di bawah perkiraan 2,3%.

Data ini menunjukkan laju pertumbuhan lebih lambat dari proyeksi. Kenaikan aktual 2% dibandingkan perkiraan pasar 2,3%.

Penjualan grosir Februari tumbuh 2,0%, tidak memenuhi ekspektasi 2,3%. Selisih ini mengindikasikan permintaan dari pelaku usaha dan ritel berpotensi melemah saat memasuki kuartal II. Pelaku pasar dapat melihatnya sebagai sinyal awal bahwa momentum ekonomi Kanada mungkin melambat.

Data yang lebih lemah ini membuat peluang Bank of Canada (bank sentral Kanada) menaikkan suku bunga dalam waktu dekat semakin kecil. Bank sentral diketahui menahan suku bunga tetap sejak akhir 2025, dan laporan ini mendukung kemungkinan “pause” (menahan suku bunga) berlanjut atau sikap yang lebih dovish (lebih condong mendukung suku bunga rendah). Kondisi ini bisa mendukung strategi yang diuntungkan dari suku bunga stabil atau turun, misalnya membeli futures obligasi Kanada (kontrak berjangka obligasi, yakni kontrak untuk membeli/menjual obligasi pada harga tertentu di masa depan) seperti BAX.

Untuk dolar Kanada, pendinginan ekonomi ini bisa menambah tekanan turun terhadap dolar AS. CAD kesulitan menembus level 0,7450 terhadap USD, dan data ini dapat mendorongnya kembali ke area bawah rentang pergerakan terbaru. Pelaku pasar bisa mempertimbangkan membeli opsi call USD/CAD (kontrak opsi yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli pasangan USD/CAD pada harga tertentu) untuk mengantisipasi pelemahan loonie (sebutan populer untuk dolar Kanada).

Dampaknya juga perlu dicermati pada indeks S&P/TSX Composite (indeks saham utama Kanada), terutama emiten sektor industri dan consumer discretionary (barang/jasa non-kebutuhan pokok yang penjualannya sensitif terhadap kondisi ekonomi). Saat indikator awal serupa melemah pada pertengahan 2025, saham-saham siklikal (sensitif terhadap siklus ekonomi) tertinggal dibanding pasar secara keseluruhan. Melindungi posisi beli (hedging, yaitu mengurangi risiko) dengan opsi put indeks (hak untuk menjual pada harga tertentu) pada ETF seperti XIU dapat menjadi langkah yang masuk akal dalam beberapa pekan ke depan.

Pada Maret, Indeks Harga Impor bulanan AS naik 0,8%, di bawah perkiraan 2%

Indeks Harga Impor Amerika Serikat naik 0,8% dibanding bulan sebelumnya (month-on-month) pada Maret. Angka ini lebih rendah dari perkiraan 2%.

Hasil ini menunjukkan harga impor naik lebih lambat dari yang diperkirakan. Data ini membandingkan perubahan bulanan aktual dengan perkiraan pasar.

Implikasi Untuk Kebijakan The Fed

Indeks harga impor Maret yang lebih rendah dari perkiraan mengindikasikan tekanan inflasi dari luar negeri mereda lebih cepat. Ini memberi Federal Reserve (The Fed/bank sentral AS) lebih banyak ruang gerak dan mengurangi dorongan untuk segera memperketat kebijakan. Posisi investasi perlu disesuaikan karena peluang sikap The Fed yang lebih “dovish” (cenderung menahan suku bunga atau tidak agresif menaikkan suku bunga) pada kuartal depan meningkat.

Data ini penting setelah laporan CPI (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen) Maret 2026 terbaru menunjukkan inflasi inti (core inflation, inflasi tanpa komponen yang sangat bergejolak seperti makanan dan energi) melambat ke 2,7%. Angka ini masih di atas target The Fed, tetapi arahnya membaik. Menurut Bureau of Labor Statistics (BLS/Badan Statistik Tenaga Kerja AS), ini bulan ketiga berturut-turut tekanan harga inti melemah. Melemahnya harga impor kemungkinan memperkuat tren disinflasi (laju inflasi yang melambat).

Dengan kondisi ini, ada peluang pada instrumen derivatif (kontrak turunan nilainya mengikuti aset acuan) yang diuntungkan saat suku bunga jangka pendek stabil atau turun. Membeli SOFR futures untuk kuartal ketiga bisa menjadi langkah yang masuk akal. SOFR futures adalah kontrak berjangka yang mengikuti perkiraan suku bunga acuan pasar uang AS (SOFR). Kami juga mempertimbangkan bull call spread pada futures Treasury Note 2 tahun (ZT), yaitu strategi opsi dengan membeli call dan menjual call lain di harga yang lebih tinggi untuk membatasi biaya sekaligus membatasi potensi untung.

Untuk saham, lingkungan ini mendukung, terutama saham pertumbuhan yang sensitif terhadap suku bunga. Pertimbangkan menambah eksposur ke Nasdaq 100 melalui opsi call (hak membeli pada harga tertentu) yang jatuh tempo Mei dan Juni 2026. Menjual put spread out-of-the-money (menjual kombinasi opsi put di bawah harga pasar saat ini) pada SPX (indeks S&P 500) juga dapat digunakan untuk mengekspresikan pandangan ini sambil mengambil manfaat bila volatilitas (besar-kecilnya fluktuasi harga) menurun.

Konteks Historis Dan Sinyal Pasar

Pada pertengahan 2025, serangkaian laporan harga impor yang “panas” (lebih tinggi dari perkiraan) mendahului perubahan sikap The Fed menjadi “hawkish” (lebih agresif menaikkan suku bunga), yang kemudian memicu koreksi 10% pada S&P 500. Data saat ini mengarah ke skenario sebaliknya, sehingga risiko kejutan kebijakan serupa dinilai lebih kecil. Perbandingan historis ini mendukung pandangan positif pada aset berisiko.

Indeks Dolar AS (DXY), ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama, turun di bawah 104 pekan ini, terendah dalam lebih dari sebulan, merespons data disinflasi. Jika The Fed menjadi lebih dovish dibanding European Central Bank (ECB/bank sentral zona euro), membeli opsi call pada pasangan EUR/USD (nilai tukar euro terhadap dolar) bisa memberikan potensi kenaikan. Pandangan ini didukung komentar terbaru ECB yang tetap tegas menurunkan inflasi di Zona Euro.

Pada Maret, harga ekspor AS naik 1,6% secara bulanan, melampaui perkiraan analis sebesar 1,5%

Indeks Harga Ekspor Amerika Serikat naik 1,6% dibanding bulan sebelumnya (month-on-month/mom) pada Maret.

Angka ini di atas perkiraan kenaikan 1,5%.

Harga Ekspor Mengisyaratkan Inflasi Masih Sulit Turun

Kenaikan harga ekspor yang lebih tinggi dari perkiraan menunjukkan tekanan inflasi belum mereda secepat yang diharapkan. Data ini mengindikasikan permintaan global terhadap barang AS masih kuat, sehingga produsen dapat meneruskan kenaikan biaya ke harga jual. Ini menjadi bagian dari tren inflasi yang “lengket”, yakni inflasi yang sulit turun dengan cepat.

Laporan ini menambah sinyal dari data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) Maret, yang menunjukkan inflasi utama (headline, yaitu angka total termasuk energi dan pangan) bertahan di 3,6% dibanding setahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Pola tekanan harga yang bertahan ini membuat langkah Federal Reserve (The Fed, bank sentral AS) menjadi lebih rumit. Kondisi ini membuat peluang pemangkasan suku bunga pada kuartal II 2026 menjadi jauh lebih kecil.

Bagi pelaku pasar yang memperdagangkan suku bunga, ini berarti The Fed berpotensi lebih “hawkish”, yaitu cenderung memprioritaskan pengetatan atau mempertahankan suku bunga tinggi untuk menahan inflasi. Strategi yang dipertimbangkan antara lain menggunakan opsi (kontrak yang memberi hak beli/jual pada harga tertentu) untuk bertaruh suku bunga tetap tinggi hingga musim panas. Menjual kontrak futures SOFR (kontrak berjangka berbasis suku bunga acuan SOFR, patokan biaya pinjaman jangka pendek di AS) atau membeli opsi jual (put option, hak untuk menjual) pada futures Treasury Note (ZN, kontrak berjangka obligasi pemerintah AS tenor menengah) dapat menjadi pilihan.

Pandangan ini mendukung penguatan dolar AS, yang sudah diperdagangkan kuat di atas level 106 pada indeks DXY (indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama). The Fed yang lebih hawkish dapat menarik arus modal asing, sehingga nilai dolar naik. Peluang bisa muncul lewat pembelian opsi beli (call option, hak untuk membeli) dolar terhadap mata uang dengan bank sentral yang lebih “dovish”, yakni cenderung longgar atau lebih cepat menurunkan suku bunga, seperti yen.

Di pasar saham, prospek suku bunga tinggi lebih lama menjadi hambatan, terutama bagi saham pertumbuhan dan teknologi. Pengalaman gejolak pasar pada 2022 menunjukkan ketika The Fed harus melawan inflasi yang bertahan, volatilitas (naik-turunnya harga yang tajam) cenderung meningkat. Karena itu, opsi jual protektif (protective put, opsi jual untuk membatasi potensi kerugian) pada indeks Nasdaq 100 dipertimbangkan.

Pertimbangan Lindung Nilai Volatilitas

Ketidakpastian yang meningkat berpotensi mendorong volatilitas pasar lebih tinggi dalam beberapa pekan ke depan. Dengan VIX (indeks volatilitas pasar saham AS, sering disebut “indeks ketakutan”) saat ini bertahan di sekitar 15 yang relatif rendah, membeli opsi beli VIX dapat menjadi cara lindung nilai (hedge, perlindungan risiko) yang lebih murah terhadap kemungkinan penurunan pasar. Ini memberi perlindungan langsung terhadap meningkatnya ketidakpastian ekonomi yang dipicu data inflasi.

Indeks Manufaktur Empire State New York pada April mencapai 11, jauh melampaui perkiraan minus 0,5

Indeks Manufaktur Empire State New York tercatat 11 pada April. Angka ini di atas perkiraan -0,5.

Hasil ini menunjukkan kondisi manufaktur di Negara Bagian New York lebih kuat daripada perkiraan. Indeks tersebut melampaui ekspektasi 11,5 poin.

Kejutan Indeks Empire State

Indeks Manufaktur Empire State New York untuk April tercatat kuat di level 11, jauh di atas perkiraan yang negatif. Ini mengindikasikan ekonomi—setidaknya di wilayah tersebut—bertumbuh lebih cepat dari perkiraan. Pembacaan yang kuat seperti ini membuat pasar perlu menilai ulang pandangan bahwa perlambatan ekonomi akan menjadi alasan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) memangkas suku bunga tahun ini.

Dengan kekuatan ekonomi yang tidak terduga ini, The Fed kemungkinan mempertahankan sikap “hawkish” (lebih fokus menahan inflasi sehingga cenderung menjaga suku bunga tetap tinggi). Ditambah data inflasi inti CPI (Core Consumer Price Index/indeks harga konsumen inti, yaitu inflasi di luar harga makanan dan energi yang fluktuatif) pada Maret 2026 yang masih bertahan di atas 3%, data manufaktur yang lebih baik ini menambah tekanan agar suku bunga tetap tinggi lebih lama. Pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan kontrak berjangka) dapat mempertimbangkan strategi yang diuntungkan saat suku bunga bertahan tinggi, misalnya membeli opsi jual (put option, hak untuk menjual pada harga tertentu) pada ETF obligasi pemerintah AS (Treasury) berjatuh tempo panjang (long-duration, artinya lebih sensitif terhadap kenaikan suku bunga).

Situasi “kabar baik menjadi kabar buruk” ini dapat menambah ketidakpastian di pasar saham dan menaikkan volatilitas (naik-turunnya harga) dalam beberapa pekan ke depan. Pola serupa pernah terjadi pada akhir 2025 ketika data ekonomi yang kuat memicu koreksi pasar karena harapan pemangkasan suku bunga memudar. Respons yang dapat dipertimbangkan adalah membeli opsi beli (call option, hak untuk membeli pada harga tertentu) pada indeks VIX (ukuran volatilitas yang sering disebut “indeks ketakutan” pasar) untuk lindung nilai (hedging, mengurangi risiko) atau meraih peluang jika gejolak pasar meningkat.

Selain itu, The Fed yang lebih hawkish dibanding bank sentral lain berpotensi menguatkan dolar AS. Secara historis, Dollar Index (indeks yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama) sering bergerak searah dengan naiknya ekspektasi suku bunga AS, dan kerap menguat setelah rilis data ekonomi yang jauh lebih baik dari perkiraan.

Penyesuaian Posisi Setelah Data

Pertimbangkan juga membeli opsi beli pada ETF sektor industri dan bahan baku (materials), karena perusahaan di sektor ini umumnya diuntungkan langsung ketika aktivitas manufaktur menguat.

Jane Foley dari Rabobank memperkirakan kemiringan turun EUR/GBP belakangan ini akan mereda, menyisakan bias kenaikan tipis pada musim gugur

EUR/GBP bergerak dalam kisaran sempit bulan ini, dengan kecenderungan turun tipis. Perkiraannya, tekanan turun ini bisa mereda seiring berjalannya musim semi, sehingga pasangan ini berpeluang naik perlahan.

Penetapan harga pasar untuk bank sentral negara G10 (kelompok 10 negara maju) berubah setelah Maret, dengan ekspektasi pengetatan yang lebih kecil untuk Bank Sentral Eropa (ECB) maupun Bank of England (BoE). Kenaikan suku bunga masih diperhitungkan dalam horizon 1 tahun, tetapi besarannya lebih kecil dibanding perkiraan pada Maret.

Target Musim Gugur dan Tekanan untuk Sterling

EUR/GBP diproyeksikan naik menuju 0,88 pada musim gugur. Kekhawatiran pertumbuhan ekonomi Inggris, risiko politik, dan turunnya ekspektasi kenaikan suku bunga BoE disebut sebagai faktor yang dapat menekan sterling (mata uang pound Inggris).

Pemilu lokal di Inggris (England) serta pemilu parlemen di Wales dan Skotlandia berlangsung pada Mei, bersamaan dengan pembahasan tekanan politik yang terkait prospek ekonomi Inggris yang melemah. Latar politik ini disebut sebagai alasan untuk berhati-hati dalam memegang posisi long GBP (posisi beli/pasang taruhan harga GBP akan naik) menjelang bulan depan.

Optimisme soal berakhirnya perang di Timur Tengah dan dampak inflasi yang lebih terbatas juga disorot. Dalam konteks ini, data PDB Inggris yang lemah dapat semakin menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga BoE dan menekan pound.

Kami melihat tekanan turun EUR/GBP belakangan mulai kehilangan tenaga saat memasuki musim semi. Jika melihat situasi serupa pada 2025, pasangan ini sempat membentuk dasar (harga terendah sementara) sebelum naik perlahan—pola yang bisa terulang. Ini mengindikasikan pasar mulai menilai ulang prospek relatif ekonomi Inggris dan Zona Euro.

Perbedaan Arah Kebijakan dan Strategi Trading

Inti pandangan ini adalah makin lebarnya perbedaan ekspektasi kebijakan bank sentral. Penetapan harga pasar saat ini (pertengahan April 2026) mengindikasikan BoE mungkin hanya menaikkan suku bunga satu kali lagi tahun ini, sementara inflasi inti (core inflation: inflasi yang mengabaikan komponen yang sangat bergejolak seperti energi dan pangan agar tren lebih jelas) di Zona Euro yang tetap tinggi—tercatat 2,7% bulan lalu—membuat ECB terdorong tetap agresif. Perbedaan perkiraan jalur suku bunga ini seharusnya menjadi pendorong (dukungan tren) bagi euro terhadap pound.

Data ekonomi Inggris terbaru memperkuat sikap hati-hati terhadap pound. Angka terbaru menunjukkan ekonomi Inggris hanya tumbuh 0,1% pada kuartal I 2026, di bawah perkiraan dan menegaskan adanya kelemahan. Kinerja yang lambat ini membuat ruang BoE untuk mengetatkan kebijakan semakin terbatas, terutama jika dibandingkan dengan ECB.

Kami dapat menarik kemiripan dengan ketidakpastian politik menjelang pemilu Mei 2025, yang saat itu membebani sterling. Risiko politik pada periode tersebut membuat investor enggan menahan posisi long pound, dan kami melihat sentimen serupa mulai muncul sekarang. Karena itu, trader dapat mempertimbangkan membeli EUR/GBP saat terjadi penurunan jangka pendek.

Bagi trader derivatif (instrumen turunan: produk seperti opsi yang nilainya mengikuti aset utama), pandangan ini mengarah pada strategi membeli opsi call EUR/GBP (hak untuk membeli pada harga tertentu) dengan jatuh tempo akhir musim panas atau awal musim gugur. Strategi ini memberi peluang keuntungan jika harga naik menuju 0,88 sekaligus membatasi risiko. Volatilitas tersirat (implied volatility: perkiraan pasar atas besar-kecilnya pergerakan harga yang tercermin pada harga opsi) yang saat ini rendah membuat biaya membuka posisi long opsi (posisi beli opsi) relatif murah.

Kit Juckes dari Societe Generale mempertanyakan dominasi dolar, menyoroti ketimpangan yang kian melebar, risiko menurut IMF, dan lemahnya mata uang di negara lain

Peran global dolar AS mulai dipertanyakan seiring ketidakseimbangan ekonomi dunia makin melebar dan pertemuan IMF menyoroti risiko sistem keuangan global yang lebih luas. Pandangan yang disampaikan: porsi penggunaan dolar di dunia bisa turun bertahap karena porsi AS dalam PDB global (produk domestik bruto) ikut menurun.

Hal ini bisa mengurangi porsi dolar dalam perdagangan valas (FX/foreign exchange), cadangan devisa (FX reserves: simpanan mata uang asing yang dipegang bank sentral), serta mata uang yang dipakai untuk penerbitan obligasi dan saham. Meski begitu, tidak ada mata uang lain yang dinilai mampu menggantikan posisi dolar sebagai pusat sistem keuangan global.

Keterbatasan Mata Uang Pesaing

Yuan China tidak dianggap sebagai alternatif karena dibatasi kontrol modal (aturan yang membatasi keluar-masuknya dana lintas negara) dan kebijakan untuk menjaga yuan tetap kompetitif (agar ekspor tetap murah). Euro juga belum dianggap pesaing penuh kecuali menjadi mata uang dari blok ekonomi yang jauh lebih menyatu (kebijakan fiskal dan ekonomi lebih kompak antarnegara).

Dolar tetap menjadi mata uang utama, tetapi fondasi jangka panjangnya perlahan bergeser. Data terbaru IMF untuk kuartal I 2026 menunjukkan porsi dolar dalam cadangan devisa global turun tipis menjadi 57,8%, melanjutkan penurunan bertahap sepanjang 2025. Bagi pelaku pasar, ini berarti status dolar sebagai aset aman (safe haven: aset yang biasanya dicari saat pasar bergejolak) masih kuat untuk saat ini, namun arah tren dasarnya tetap perlu dicermati.

Euro belum menjadi penantang yang meyakinkan. Perbedaan inflasi yang bertahan di Zona Euro—dengan angka terbaru Jerman 1,9% sementara Italia 3,4%—menegaskan ekonomi kawasan tersebut masih terpecah. Masalah struktural ini menunjukkan strategi opsi (option: kontrak derivatif yang memberi hak beli/jual aset di harga tertentu) yang bertaruh pada penguatan euro berkelanjutan melawan dolar kemungkinan masih terlalu dini.

Implikasi Trading dan Fokus Jangka Pendek

Yuan juga dibatasi kontrol modal, terlihat ketika Beijing memperketat arus dana lintas negara pada Februari setelah gejolak kecil di pasar. Meski penggunaannya dalam pembayaran global lewat SWIFT (jaringan pesan antarbank untuk transaksi internasional) naik perlahan ke 5,2% bulan lalu, skala ini masih terlalu kecil untuk menantang dominasi dolar. Artinya, yuan masih cerita regional, belum global.

Yen Jepang dan pound sterling Inggris diperkirakan terus menurun perannya secara bertahap. Ketidakmampuan Bank of Japan keluar dari kebijakan moneter longgar (suku bunga rendah dan pembelian aset untuk mendorong ekonomi) kembali menekan yen. Trader derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures) bisa mempertimbangkan menjual call JPY out-of-the-money (opsi beli yang harga strike-nya di atas harga pasar saat ini, sehingga kecil peluang dieksekusi) untuk mengambil posisi bahwa yen berpotensi tetap melemah terhadap dolar.

Dalam beberapa pekan ke depan, strategi utama sebaiknya tetap berfokus pada dominasi dolar meski pertanyaan jangka panjang meningkat. Volatilitas tersirat (implied volatility: perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi) pada pasangan utama seperti EUR/USD relatif rendah, sehingga bisa menjadi peluang membeli opsi yang lebih murah sebagai lindung nilai (hedge: perlindungan dari risiko) terhadap guncangan mendadak. Pasar terlihat terlalu tenang terhadap risiko sistemik (risiko yang bisa mengguncang sistem keuangan secara luas) yang perlahan terbentuk.

Poundsterling Melemah saat Momentum Bullish Mendingin, Usai Reli Tujuh Hari Mendorong GBP/USD Menembus Puncak Awan Ichimoku

GBP/USD melemah tipis pada Kamis setelah reli tujuh hari, termasuk kenaikan kuat dalam dua hari terakhir. Pasangan ini mencapai level tertinggi dua bulan di 1,3589 pada Selasa dan menembus di atas puncak awan Ichimoku harian (indikator tren yang membentuk “zona awan” sebagai area dukungan/resistensi) di 1,3561.

Indikator harian yang menunjukkan kondisi jenuh beli (harga dinilai naik terlalu cepat sehingga rawan koreksi) mendorong aksi ambil untung sebagian. Koreksi diperkirakan terbatas, dengan dukungan di sekitar 1,3500.

Zona Support Utama

Zona 1,3500 mencakup level retracement 50% (tarikan balik setengah dari pergerakan sebelumnya) dari penurunan 1,3869 ke 1,3159 yang sempat ditembus, serta level terendah Selasa. Jika penurunan berlanjut, area berikutnya berada di atas dasar awan Ichimoku harian di 1,3450.

Perlu diingat konsolidasi (pergerakan mendatar/istirahat sementara setelah tren kuat) pada awal 2025 ketika pound terkoreksi ke zona 1,3500 setelah reli tajam. Fase jeda itu menjadi “napas” yang sehat sebelum kenaikan berikutnya dan membentuk dasar dukungan yang kuat. Pola serupa terlihat mulai terbentuk sekarang, sehingga pelemahan jangka pendek dapat dilihat sebagai peluang.

Dari sisi fundamental, data inflasi Inggris terbaru untuk Maret 2026 tercatat 2,8%, sedikit di atas perkiraan konsensus (rata-rata perkiraan analis), sehingga tekanan pada Bank of England tetap tinggi. Sebaliknya, data penjualan ritel AS terbaru menunjukkan perlambatan di luar dugaan, menandakan The Fed punya ruang lebih besar untuk menahan kenaikan suku bunga (menghentikan sementara pengetatan). Perbedaan kondisi ekonomi ini masih menjadi penopang bagi “Cable” (sebutan pasar untuk GBP/USD).

Dengan kondisi tersebut, strategi yang menarik adalah menjual put out-of-the-money (opsi jual dengan harga kesepakatan di bawah harga pasar saat ini, sehingga nilainya biasanya lebih murah) untuk jatuh tempo Mei, khususnya di strike 1,3600 (harga kesepakatan opsi). Strategi ini bertujuan mengantongi premi (uang yang diterima penjual opsi) sambil menyatakan pandangan bahwa pound tidak akan turun menembus level dukungan psikologis dan teknikal penting ini dalam beberapa pekan ke depan. Volatilitas tersirat (perkiraan pasar atas besarnya pergerakan harga di masa depan yang tercermin pada harga opsi) saat ini 8,5% untuk opsi tenor satu bulan, sehingga strategi ini dinilai menarik untuk mendapatkan eksposur bullish (mengambil posisi diuntungkan jika harga naik).

Struktur Kenaikan dengan Risiko Terukur

Bagi yang ingin bersiap untuk kenaikan, bull call spread (strategi opsi dengan membeli call lalu menjual call di strike lebih tinggi untuk menekan biaya, dengan risiko dan potensi keuntungan yang terukur) bisa menjadi pilihan. Contohnya, membeli call Mei 1,3800 dan menjual call 1,3950 menargetkan area resistance (zona hambatan kenaikan) penting berikutnya yang terlihat pada akhir 2025. Struktur ini lebih murah daripada membeli call langsung dan cocok bila mengharapkan kenaikan bertahap, bukan lonjakan tajam.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code