Back

Ahli strategi ING Michiel Tukker mengatakan volatilitas harga minyak membentuk ekspektasi suku bunga ECB, The Fed, dan BoE

Volatilitas harga minyak memengaruhi perkiraan arah suku bunga ECB, The Fed (bank sentral AS) dan Bank of England (bank sentral Inggris). Perubahan minyak US$10 dapat menggeser perkiraan kenaikan suku bunga sekitar 25 bp (basis poin; 1 bp = 0,01%), sehingga mengubah harga instrumen suku bunga jangka pendek, memperlebar selisih bid-ask (beda harga beli–jual), dan menurunkan likuiditas pasar (kemudahan transaksi tanpa menggerakkan harga) saat ada berita geopolitik.

Pasar belum memperhitungkan kenaikan suku bunga ECB pada April, tetapi sudah memperhitungkan kenaikan penuh 25 bp pada Juni dan setidaknya satu kenaikan lagi 25 bp sampai akhir tahun. Harga suku bunga disebut sangat peka terhadap minyak, dengan setiap kenaikan US$10 dikaitkan dengan tambahan sekitar 25 bp perkiraan kenaikan suku bunga.

Volatilitas Minyak dan Harga Kebijakan Bank Sentral

Keterkaitan antara harga minyak dan ekspektasi kebijakan juga kuat untuk The Fed, dan dinilai paling ketat untuk Bank of England. Pergerakan minyak sebesar US$10 bisa terjadi dalam satu hari.

Volatilitas suku bunga jangka pendek (bagian depan kurva imbal hasil; tenor paling dekat) membuat posisi trading lebih sulit dan bisa melemahkan hubungan antara ekspektasi dasar dan harga pasar. Judul berita geopolitik yang tiba-tiba dapat memicu pergerakan tajam yang berlawanan dengan posisi.

Pergerakan harga minyak terlihat langsung memengaruhi ekspektasi suku bunga The Fed dan ECB. Saat WTI (West Texas Intermediate, acuan harga minyak AS) melonjak 12% dalam sebulan terakhir menjadi di atas US$88 per barel karena ketegangan geopolitik baru, hubungan ini menjadi fokus utama pasar. Perubahan US$10 pada minyak dapat cepat menggeser perkiraan perubahan suku bunga sekitar 25 basis poin, sehingga ujung pendek kurva menjadi sulit diprediksi.

Volatilitas ekstrem pada suku bunga jangka pendek ini menyulitkan pengambilan posisi yang tegas terhadap arah kebijakan bank sentral. Meski punya pandangan kuat, satu berita soal gangguan pasokan bisa memicu lonjakan harga yang merugikan posisi. Risiko ini tampak memperlebar bid-ask dan mengurangi likuiditas pasar secara keseluruhan.

Implikasi bagi Trader Suku Bunga

Untuk trader derivatif (produk turunan; nilainya mengikuti aset acuan), ini berarti taruhan langsung dengan keyakinan tinggi pada arah suku bunga jangka pendek sangat berisiko. Sebagai gantinya, strategi yang mengambil untung dari volatilitas, seperti membeli straddle atau strangle (strategi opsi: membeli opsi beli dan opsi jual, biasanya dengan harga kesepakatan yang sama untuk straddle, dan berbeda untuk strangle) pada futures suku bunga (kontrak berjangka suku bunga), lebih masuk akal. Posisi ini bisa diuntungkan oleh pergerakan besar ke salah satu arah, sesuai risiko dari pasar minyak.

ECB menjadi contoh, saat pasar memperhitungkan peluang 70% penurunan suku bunga pada Juli, namun sangat bergantung kondisi. Mengingat CPI (indeks harga konsumen/ukuran inflasi) Zona Euro untuk Maret menunjukkan harga energi sebagai pendorong utama inflasi yang sulit turun, harga minyak yang bertahan di atas US$90 dapat menekan peluang tersebut. Karena itu, opsi pada futures EURIBOR (patokan suku bunga antarbank euro) menjadi instrumen penting untuk menghadapi ketidakpastian ini.

Buka akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Penjualan ritel bulanan Brasil pada Februari naik 0,6%, meleset dari proyeksi 1% dan mengecewakan ekspektasi analis

Penjualan ritel Brasil naik 0,6% secara bulanan (month-on-month) pada Februari. Angka ini lebih rendah dari perkiraan kenaikan 1,0%.

Data tersebut menunjukkan pertumbuhan bulanannya lebih lambat dari perkiraan. Tidak ada rincian tambahan dalam paparan.

Angka penjualan ritel Februari yang lebih lemah dari perkiraan menunjukkan permintaan konsumen mulai melemah lebih cepat dari dugaan. Data ini menambah tanda-tanda bahwa laju ekonomi melambat memasuki kuartal II. Bagi kami, ini menantang pandangan bahwa pemulihan domestik masih kuat, yang sebelumnya sudah tercermin dalam harga aset Brasil pada paruh kedua 2025.

Perlambatan ini membuat langkah bank sentral berikutnya lebih rumit, terutama karena rilis terbaru inflasi IPCA-15 (indikator inflasi awal/pendahuluan) untuk Maret tercatat 0,45%, sehingga inflasi tahunan naik ke 4,9%. Bank sentral sebelumnya memberi sinyal jeda pada siklus pemangkasan suku bunga (rate-cutting cycle), tetapi pelemahan pertumbuhan ini bisa mendorong mereka meninjau ulang sikap “hawkish” (cenderung ketat/lebih fokus menahan inflasi, biasanya dengan suku bunga lebih tinggi). Kondisi ini menambah ketidakpastian, yang umumnya meningkatkan volatilitas (naik-turun harga) di pasar opsi.

Kami melihat peluang lebih besar Real Brasil melemah lagi terhadap dolar AS dalam beberapa pekan ke depan. Mata uang ini sudah melemah melewati 5,10 per dolar bulan ini, dan kombinasi pertumbuhan yang melambat serta inflasi yang “sticky” (sulit turun/bertahan tinggi) dapat menguji area 5,25 seperti pertengahan 2025. Pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan kontrak berjangka) dapat mempertimbangkan membeli opsi call (hak membeli pada harga tertentu) pada pasangan USD/BRL untuk bersiap jika pergerakan ini terjadi.

Untuk derivatif saham (kontrak turunan berbasis saham/indeks), data ini mendukung sikap hati-hati pada iShares MSCI Brazil ETF (EWZ), yang sudah turun lebih dari 3% bulan ini. Opsi put (hak menjual pada harga tertentu) dengan jatuh tempo (expiration) Mei atau Juni bisa menjadi lindung nilai (hedge) atau posisi langsung untuk mengantisipasi penurunan lanjutan menuju level terendah kuartal IV 2025. Kami juga mempertimbangkan menjual opsi call terhadap kepemilikan jangka panjang (strategi menghasilkan premi), karena volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan volatilitas yang tercermin dalam harga opsi) yang tinggi dapat memberi pemasukan saat pasar mencerna informasi baru ini.

Investor mencermati perkembangan terbaru perang Iran seiring dolar menguat di atas 159 terhadap yen, memulihkan kerugian

USD/JPY naik pada Rabu dan kembali di atas 159,00. Kenaikan ini sebagian membalikkan penurunan 0,5% dalam dua hari sebelumnya.

Dolar AS naik tipis terhadap mata uang utama saat pasar menilai laporan yang beragam terkait negosiasi Iran. Presiden AS Trump mengatakan perang bisa berakhir “sangat segera”, setelah muncul pernyataan bahwa delegasi AS dan Iran bisa kembali berunding dalam beberapa hari ke depan.

Judul Berita Geopolitik Menggerakkan Harga

Associated Press melaporkan para mediator mendekati kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata selama dua minggu yang akan berakhir minggu depan. Sebelumnya, militer AS menyatakan blokade Selat Hormuz telah “sepenuhnya diberlakukan”, yang disebut Iran “ilegal dan sama dengan pembajakan”.

Washington Post melaporkan pemerintah AS mempertimbangkan mengirim ribuan tentara tambahan ke Timur Tengah. Analis United Overseas Bank menyebut USD/JPY turun di bawah 158,70 pada Selasa dan menyentuh 158,59. Mereka menyoroti 158,50 dan 158,00 sebagai level berikutnya, serta resistance di 159,50 (resistance berarti area harga yang sering menahan kenaikan).

Berita yang saling bertentangan dari Washington soal Iran menciptakan kondisi yang mendorong volatilitas (volatilitas berarti pergerakan harga yang cepat dan besar) pada USD/JPY. Ini terlihat di pasar opsi, ketika indeks volatilitas yen Cboe/CME FX Yen Volatility Index (JYVIX)—ukuran perkiraan volatilitas dari harga opsi—naik lebih dari 10% dalam dua minggu terakhir ke level tertinggi enam bulan di 11,8. Trader perlu mengantisipasi lonjakan naik-turun tajam, bukan pergerakan yang rapi dan stabil dalam waktu dekat.

Pendekatan Breakout Berbasis Opsi

Dengan risiko pergerakan mendadak, trader bisa memakai opsi untuk mencoba mengambil peluang dari “breakout” (breakout berarti harga menembus batas penting) ke dua arah, bukan menebak satu arah saja. Strategi long straddle—membeli call dan put pada strike price yang sama (call adalah hak membeli, put adalah hak menjual, strike price adalah harga patokan dalam kontrak opsi)—dapat dipakai dalam kondisi ini. Posisi ini bisa untung jika pasangan mata uang bergerak jauh dari area 159,00, baik karena kesepakatan damai maupun eskalasi militer.

Level teknikal 159,50 sebagai resistance dan 158,00 sebagai support (support berarti area harga yang sering menahan penurunan) menjadi pemicu utama yang perlu dipantau. Jika terjadi penembusan yang tegas, ini bisa menjadi sinyal pergerakan besar berikutnya, sehingga level tersebut dapat dipakai sebagai acuan strike price untuk strategi volatilitas. Risiko geopolitik ini terjadi saat data inflasi AS terbaru pekan lalu menunjukkan core CPI tetap di atas 3% (core CPI adalah inflasi inti, tidak memasukkan harga pangan dan energi yang sering bergejolak), yang menegaskan perbedaan kebijakan suku bunga The Fed dan Bank of Japan.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Philip Wee dari DBS mengatakan kenaikan dolar akibat perang memudar, membuat DXY bulan ini mendekati level sebelum konflik

Dolar AS telah menghapus sebagian besar penguatannya yang terkait konflik Iran. Indeks Dolar AS (DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) turun 1,8% bulan ini ke 98,1. Angka ini mendekati 97,6, level sebelum Operasi Epic Fury dimulai.

DXY sudah melepas lebih dari 80% kenaikan yang dipicu konflik Iran. Pergerakan ini terjadi karena pasar saham tetap kuat dan minyak Brent (patokan harga minyak global) bertahan sebagian besar di bawah US$100 per barel dalam sepekan terakhir.

Pasar Memperhitungkan Solusi Diplomatik

Pasar terus memasukkan peluang hasil diplomatik, setelah gencatan senjata sementara 8 April oleh Presiden Donald Trump. Perundingan pertama di Islamabad tidak berhasil.

Setelah AS memblokade Selat Hormuz (jalur utama pengiriman minyak dunia), negara-negara Uni Eropa dan China meningkatkan upaya mendorong diplomasi. Skenario terburuk lonjakan harga minyak dinilai sebagian bisa dibatasi, meski konflik belum berakhir.

Artikel ini mencatat sekutu AS tidak mendukung langkah yang bisa memperluas konflik Timur Tengah menjadi perang total. Disebutkan juga artikel dibuat dengan bantuan alat AI dan ditinjau editor.

Pola ini terlihat jelas tahun lalu, 2025, saat konflik Iran ketika dolar AS sempat melonjak setelah kabar Operasi Epic Fury. Indeks DXY kemudian cepat menghapus lebih dari 80% kenaikan itu karena sekutu AS di Eropa dan Asia menolak mendukung eskalasi. Pelajaran soal penurunan eskalasi ini penting untuk strategi saat ini.

Polanya Berulang di Geopolitik

Pola tersebut berulang di tengah meningkatnya ketegangan AS-China di Laut China Selatan. Indeks Volatilitas CBOE (VIX, ukuran “indeks ketakutan” pasar saham AS) melonjak ke 28 pekan lalu, tetapi kemudian turun lagi di bawah 19 karena mitra kawasan memprioritaskan jalur diplomasi. Ini menunjukkan pasar lebih cepat menyingkirkan skenario terburuk dibanding dekade-dekade sebelumnya.

Perpindahan awal ke aset aman kini cenderung menjadi transaksi jangka pendek yang bisa berbalik arah. Misalnya, pasangan USD/JPY (nilai dolar AS terhadap yen Jepang) turun ke 145 saat manuver armada laut, tetapi sudah memantul ke 151 setelah ASEAN meminta pertemuan darurat G20 untuk memastikan jalur dagang tetap terbuka. Kekuatan dolar kini dibatasi bukan karena konflik hilang, melainkan karena respons bersama internasional untuk menahannya.

Pasar minyak juga mencerminkan kondisi ini. Kontrak berjangka (futures, perjanjian jual-beli dengan harga untuk pengiriman di masa depan) WTI (patokan minyak AS) sempat menyentuh US$95 per barel, lalu turun lagi ke sekitar US$88, karena OPEC+ (kelompok OPEC dan sekutunya) tidak memberi sinyal akan memangkas produksi jika sengketa hanya lokal. Tertahannya harga energi mencegah kepanikan inflasi berkepanjangan yang biasanya memaksa bank sentral menaikkan suku bunga lebih agresif dan mendorong dolar lebih kuat.

Karena itu, pelaku pasar dapat mempertimbangkan menjual penguatan dolar AS yang muncul akibat guncangan geopolitik, terutama terhadap mata uang negara yang mendorong diplomasi. Menjual opsi beli (call option, hak membeli pada harga tertentu) DXY yang “out-of-the-money” (harga kesepakatan lebih tinggi dari harga pasar sehingga belum menguntungkan) atau membeli opsi jual (put option, hak menjual pada harga tertentu) pada volatilitas setelah lonjakan awal dapat menjadi strategi yang layak. Polanya menunjukkan reli dolar yang terjadi secara spontan ini cenderung sementara.

Jika dibandingkan, ini berbeda dari ketidakpastian berkepanjangan dan penguatan dolar yang terlihat saat aksi militer dengan dukungan koalisi, seperti invasi Irak 2003. Dunia yang kini multipolar (kekuatan global tersebar) membuat konflik yang dipimpin AS tanpa dukungan luas sekutu lebih kecil kemungkinannya memicu guncangan pasar yang lama. Perubahan ini membentuk pola berulang: sentimen menghindari risiko (risk-off, investor mengurangi aset berisiko) yang tajam tetapi singkat.

Elias Haddad dari BBH: Brent bertahan di kisaran US$96 setelah koreksi, seiring aset berisiko menghentikan reli sementara waktu

Minyak mentah Brent stabil di dekat level terendah terbaru, bergerak mendatar di sekitar US$96 per barel setelah sebelumnya turun. Aset berisiko secara umum berhenti sejenak, dengan saham dan obligasi menghentikan reli, sementara pelemahan dolar AS mulai datar.

Perhatian pasar tertuju pada diplomasi AS-Iran dan apakah pembicaraan dapat mendukung jalur aman bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz. AS dan Iran dilaporkan ingin menggelar putaran kedua pembicaraan damai dalam beberapa hari ke depan.

Outlook IMF Dan Risiko Penurunan

Laporan World Economic Outlook dari IMF (Dana Moneter Internasional), berjudul *Global Economy in the Shadow of War*, menurunkan proyeksi pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto/ukuran total output ekonomi) global 2026 sebesar 0,2 poin persentase menjadi 3,1%. IMF menyebut risiko lebih condong ke arah penurunan.

IMF memaparkan dua skenario penurunan yang didasarkan pada harga minyak lebih tinggi pada 2026. Pada skenario buruk, dengan harga minyak mentah rata-rata US$100 per barel, pertumbuhan global turun 0,8 poin menjadi 2,5%.

Pada skenario parah, dengan harga minyak mentah rata-rata US$110 per barel, pertumbuhan global turun 1,3 poin menjadi 1,8%. IMF menyatakan pertumbuhan di bawah 2% mengindikasikan resesi global (penurunan aktivitas ekonomi secara luas).

Implikasi Trading Dan Volatilitas

Dampak pada pasar fisik (perdagangan dan pengiriman minyak nyata, bukan kontrak) masih besar, sehingga muncul jarak antara judul berita yang terdengar optimistis dan kondisi di lapangan. Data pelayaran terbaru menunjukkan lintasan kapal tanker melalui Selat Hormuz turun 35% dibanding tahun sebelumnya pada kuartal I 2026. Gangguan yang berlanjut ini berarti kegagalan pembicaraan berpotensi memicu lonjakan harga cepat karena pasar menilai ulang risiko pasokan.

Dengan arah yang cenderung “dua kemungkinan” (hasilnya bisa sangat berbeda: berhasil atau gagal), trader dapat mempertimbangkan strategi opsi (instrumen turunan yang memberi hak beli/jual pada harga tertentu) yang diuntungkan saat volatilitas (tingkat naik-turun harga) melonjak. CBOE Crude Oil Volatility Index (OVX)—indeks yang mengukur perkiraan volatilitas harga minyak dari harga opsi—saat ini masih tinggi di sekitar 48. Ini berarti premi opsi (biaya untuk membeli opsi) mahal, namun potensi pergerakan US$10–US$15 ke salah satu arah tetap besar. Membeli long straddle (membeli opsi beli dan opsi jual pada strike/harga patokan yang sama) atau strangle (membeli opsi beli dan opsi jual dengan strike berbeda) bisa menjadi cara untuk memanfaatkan ketidakpastian seputar upaya diplomasi.

Level US$100 dan US$110 per barel kini menjadi batas penting untuk dipantau. Kenaikan bertahan di atas US$100 berpotensi memicu aksi jual lebih luas di saham karena pasar mulai memasukkan skenario buruk pertumbuhan global 2,5%. Jika pembicaraan gagal dan harga melesat menuju US$110, pasar berpotensi beralih ke aset aman (flight to safety: memindahkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman) karena kekhawatiran resesi mendominasi.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Pada perdagangan Eropa, futures WTI NYMEX bangkit kembali di atas US$90 setelah Trump memperingatkan pengerahan baru ke Iran

Kontrak berjangka (futures) WTI di NYMEX pulih dari pelemahan awal dan diperdagangkan di sekitar US$90 pada sesi Eropa, Rabu. Harga menguat setelah The Washington Post melaporkan pemerintah AS berencana mengerahkan ribuan tambahan pasukan ke Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan.

Prospek harga minyak tetap tidak pasti di tengah laporan bahwa AS dan Iran bersiap kembali ke Pakistan untuk putaran pembicaraan berikutnya menuju gencatan senjata permanen. Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada ABC News ia tidak melihat kebutuhan memperpanjang gencatan senjata dua minggu dan memperkirakan kemungkinan pengumuman dalam dua hari ke depan.

Gambaran Teknis

Saat penulisan, WTI diperdagangkan dekat US$90, tetapi masih di bawah Exponential Moving Average (EMA) 20 hari di US$92,36. EMA adalah rata-rata pergerakan harga yang memberi bobot lebih besar pada data terbaru sehingga lebih cepat menangkap perubahan tren. Relative Strength Index (RSI) 14 berada di sekitar 49. RSI adalah indikator momentum yang mengukur kecepatan dan besarnya perubahan harga pada skala 0–100; nilai sekitar 50 berarti dorongan beli dan jual relatif seimbang.

EMA 20 hari di US$92,36 menjadi level hambatan (resistance) pertama. Resistance adalah area harga yang sering menahan kenaikan karena tekanan jual. Jika harga gagal naik melewati level ini, pelaku pasar bisa mengarah ke titik terendah pergerakan sebelumnya (swing low) di sekitar US$84,00. Swing low adalah titik terendah lokal dalam pergerakan harga yang kerap menjadi area dukungan (support).

Analisis teknikal dalam laporan ini dibuat dengan bantuan alat AI.

Pada April, pengajuan kredit pemilikan rumah (KPR) berdasarkan MBA AS naik dari -0,8% menjadi 1,8%, mencerminkan kembalinya permintaan

Aplikasi kredit pemilikan rumah (KPR) **MBA AS** naik menjadi **1,8%** pada pekan yang berakhir **10 April**. Angka sebelumnya **-0,8%**.

Pembaruan ini menunjukkan peningkatan permintaan KPR secara keseluruhan dalam periode tersebut, setelah turun pada pekan sebelumnya.

Sinyal Permintaan KPR

Jika melihat ke belakang, lonjakan aplikasi KPR yang terlihat sekitar 10 April tahun lalu menjadi sinyal awal yang penting bagi pasar perumahan. Kenaikan 1,8% itu terjadi ketika **suku bunga KPR tetap 30 tahun (fixed-rate 30 tahun, yaitu bunga yang tidak berubah selama 30 tahun)** sempat turun di bawah **6,5%** untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan. Ini menjadi tanda awal bahwa pasar perumahan cukup tahan banting.

Data ini juga segera mengubah sentimen terhadap perkiraan arah kebijakan **Federal Reserve (The Fed, bank sentral AS)** untuk sisa 2025. Pasar mulai mengurangi perkiraan **pemangkasan suku bunga (rate cut, yaitu penurunan suku bunga acuan)**, tercermin pada harga **kontrak futures SOFR (kontrak berjangka berbasis suku bunga acuan jangka pendek AS) dan Fed Funds (kontrak berjangka yang mencerminkan ekspektasi suku bunga acuan The Fed)**. Akibatnya, posisi yang bertaruh **imbal hasil (yield, yaitu tingkat keuntungan obligasi) US Treasury** akan turun—misalnya **posisi beli (long, bertaruh harga naik) pada futures obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun (10-year note futures/ZN)**—langsung tertekan.

Pada saat itu, pelaku pasar dapat mencermati **opsi beli (call options, hak untuk membeli aset pada harga tertentu sebelum jatuh tempo)** pada **ETF (reksa dana yang diperdagangkan di bursa) sektor pengembang perumahan** seperti **ITB dan XHB**. Setelah data April 2025 tersebut, sektor homebuilding sempat reli lebih dari 15% hingga musim panas dan gugur tahun lalu. Indikator permintaan awal seperti ini memberi petunjuk arah sebelum tren terlihat jelas.

Kenaikan kecil itu juga menjadi bagian awal narasi **“soft landing” (perlambatan ekonomi tanpa masuk resesi)** yang mendominasi paruh kedua 2025.

Memantau Perumahan Menuju 2026

Kini, pada April 2026, dengan **Indeks Harga Rumah Case-Shiller (mengukur perubahan harga rumah di kota-kota besar AS)** naik **5,5% secara tahunan (year-over-year/yoy, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya)**, terlihat bahwa data aplikasi KPR tersebut cukup andal sebagai **indikator awal (forward indicator, petunjuk untuk arah ke depan)**. Data mingguan ini tetap dipantau untuk melihat tanda perlambatan, sementara The Fed mempertahankan sikap **ketat/restriktif (restrictive, yaitu kebijakan suku bunga relatif tinggi untuk menahan inflasi)**.

IRGC Peringatkan Perdagangan di Teluk dan Laut Oman Bisa Terhenti Jika Blokade AS di Hormuz terhadap Iran Berlanjut

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada Rabu, saat jam perdagangan Eropa, mengatakan akan memblokir kegiatan impor dan ekspor di Teluk serta Laut Oman jika blokade AS di Selat Hormuz terhadap kapal-kapal Iran terus berlanjut.

Pernyataan itu muncul setelah laporan Washington Post yang menyebut pemerintahan AS berencana mengerahkan ribuan tentara tambahan ke Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan untuk menambah tekanan terhadap Iran dan mendorong Teheran mencapai kesepakatan dengan Washington.

Harga Minyak dan Prospek Volatilitas

Dengan ancaman penutupan Selat Hormuz, pasar perlu mengantisipasi lonjakan tajam harga minyak dan meningkatnya volatilitas (naik-turun harga yang cepat dan besar). Kontrak berjangka (futures), yaitu perjanjian jual-beli komoditas pada harga tertentu untuk tanggal mendatang, minyak Brent sudah bereaksi, naik 4% menjadi di atas US$98 per barel dalam perdagangan semalam. Pergerakan awal ini menunjukkan pasar menilai risiko gangguan pasokan besar sebagai ancaman serius.

Strategi paling langsung adalah mencari posisi long (bertaruh harga naik) pada minyak mentah melalui derivatif (instrumen turunan yang nilainya mengikuti aset acuan seperti minyak) dalam beberapa pekan ke depan. Fokusnya adalah membeli opsi beli (call option), yaitu hak (bukan kewajiban) untuk membeli pada harga tertentu sebelum jatuh tempo, pada futures WTI dan Brent, khususnya kontrak yang jatuh tempo satu hingga dua bulan. Pendekatan ini memberi potensi keuntungan besar bila situasi memburuk, sementara risiko dibatasi pada premi opsi (biaya pembelian opsi).

Peluang juga terlihat pada perdagangan volatilitas itu sendiri. Indeks Volatilitas Minyak Mentah CBOE (OVX), yaitu indikator yang mengukur ekspektasi volatilitas harga minyak berdasarkan harga opsi, melesat lebih dari 15% pekan ini, menyentuh level tertinggi sejak gangguan pengiriman di Laut Merah meningkat pada akhir 2025. Membeli opsi atau instrumen lain yang terkait volatilitas berpotensi menguntungkan karena ketidakpastian kemungkinan tetap tinggi.

Situasi ini mengingatkan pada episode sebelumnya ketika ancaman terhadap jalur pelayaran penting memicu kepanikan pasar. Pada September 2019, harga minyak melonjak lebih dari 10% dalam sehari setelah serangan ke fasilitas minyak Arab Saudi. Ketegangan yang meningkat pada awal 2024 juga sempat mendorong minyak melewati US$100, menegaskan sensitivitas pasar terhadap kawasan ini.

Mengapa Selat Hormuz Penting

Makna strategis selat ini sangat besar sehingga ancaman tersebut dipandang kredibel. Data kuartal terakhir 2025 menunjukkan hampir 21 juta barel minyak per hari, atau sekitar 20% konsumsi harian global, melewati titik sempit (chokepoint), yaitu jalur yang sangat sempit dan vital sehingga mudah menghambat arus perdagangan. Jika aliran ini berhenti, akan terjadi guncangan pasokan yang berat dan cepat bagi ekonomi global.

Di tengah ketidakpastian, fokus tertuju pada kontrak derivatif berjangka pendek (short-dated), yaitu kontrak dengan jatuh tempo dekat yang paling peka terhadap arus berita dalam waktu dekat. Opsi yang jatuh tempo Mei dan Juni 2026 diperkirakan paling ramai diperdagangkan dan paling besar pergerakan harganya. Perkembangan pengerahan pasukan AS serta pernyataan lanjutan dari pejabat Iran akan dipantau ketat.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Usai libur, rupee India menguat seiring meningkatnya optimisme atas potensi perundingan putaran kedua AS–Iran

Rupee India menguat melawan dolar AS pada Rabu setelah libur pasar. USD/INR turun ke sekitar 93,20 seiring harga minyak melemah dan minat pada aset berisiko meningkat karena harapan gencatan senjata AS–Iran. (Aset berisiko adalah investasi yang harganya mudah naik-turun, seperti saham dan mata uang negara berkembang.)

Donald Trump mengatakan perang dengan Iran “hampir berakhir”. Ia juga menyebut tim AS dan Iran bisa melanjutkan perundingan di Pakistan dalam dua hari ke depan.

Rupee Menguat karena Harapan Gencatan Senjata

Indeks Dolar AS (DXY)—ukuran kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama—naik tipis ke sekitar 98,15, dekat level terendah hampir tujuh pekan di 98,00. Minyak WTI (patokan harga minyak AS) turun di bawah US$90,00 per barel karena harapan gencatan senjata dapat mengurangi gangguan pasokan.

Pada April, investor institusi asing (Foreign Institutional Investors/FII), yaitu lembaga global yang berinvestasi di pasar India, tercatat sebagai penjual bersih pada tujuh dari delapan hari perdagangan. Mereka memangkas kepemilikan sebesar Rp 40.955,81 crore (crore = 10 juta; satuan umum di India), termasuk Rp 5.834,25 crore sejak tengah malam 7 April—sekitar seperlima dari jumlah pada pekan pertama.

Inflasi WPI (Wholesale Price Index/indeks harga grosir, mengukur perubahan harga di tingkat produsen dan perdagangan besar) India pada Maret tercatat 3,88% (year-on-year/yoy = dibanding periode yang sama tahun sebelumnya), di atas perkiraan 3% dan sebelumnya 2,13%. USD/INR bergerak di sekitar 93,25, dengan area dukungan di EMA 20 hari (Exponential Moving Average/rata-rata bergerak eksponensial, indikator tren yang memberi bobot lebih besar pada harga terbaru) sekitar 93,09 dan potensi turun ke 92,29 bila ditutup di bawah level tersebut.

Melihat kembali pada April 2025, rupee menguat tajam karena harapan gencatan senjata AS–Iran dan turunnya harga minyak. USD/INR berada di sekitar 93,20, jauh dari level saat ini sekitar 83,35. Ini menunjukkan berita geopolitik dapat cepat mengubah nilai tukar, penting untuk strategi posisi (positioning = cara pelaku pasar menempatkan transaksi beli/jual) dalam beberapa pekan ke depan.

Bagaimana Kondisinya Berubah

Tahun lalu, minyak mentah turun di bawah US$90 per barel menjadi dorongan besar bagi rupee. Saat ini, Brent (patokan harga minyak global) berada di sekitar US$87, sehingga tekanan turun pada minyak tidak sebesar sebelumnya. Trader perlu memantau keputusan produksi OPEC+ (kelompok negara penghasil minyak dan sekutunya) karena pemangkasan produksi yang mengejutkan bisa cepat menghapus manfaat stabilnya harga minyak bagi rupee.

Kekuatan dolar AS secara global kini berbeda dibanding April 2025. Saat itu DXY mendekati level rendah tujuh pekan sekitar 98,00, tetapi sekarang jauh lebih kuat, stabil di atas 106. Kuatnya dolar secara luas menjadi hambatan besar bagi rupee, sehingga ruang penguatan kemungkinan terbatas.

Sentimen investor juga berubah dari tekanan jual besar oleh FII pada awal April 2025. Data terbaru menunjukkan investor portofolio asing (Foreign Portfolio Investors/FPI), yaitu investor luar negeri yang membeli instrumen pasar seperti saham dan obligasi, menjadi pembeli bersih saham India, dengan arus masuk lebih dari US$3,5 miliar pada kuartal I 2026. Arus masuk yang konsisten ini menopang rupee, menjadi bantalan terhadap tekanan eksternal.

Inflasi WPI 3,88% tahun lalu lebih rendah dibanding inflasi konsumen saat ini yang bertahan sedikit di bawah 5% dan membuat RBI (Reserve Bank of India/bank sentral India) tetap berhati-hati. Inflasi yang masih tinggi membuat RBI kecil kemungkinan memangkas suku bunga dalam waktu dekat, sehingga rupee menarik untuk strategi carry trade (strategi meminjam di mata uang bersuku bunga rendah lalu menempatkan dana di mata uang bersuku bunga lebih tinggi untuk meraih selisih bunga). Pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan kontrak berjangka, nilainya mengikuti aset acuan) perlu memasukkan faktor selisih suku bunga ini, yang tidak terlalu dominan pada 2025.

TD Securities melaporkan imbal hasil AS melonjak seiring reli saham; PPI yang lebih lemah mendongkrak S&P 500; core PCE diperkirakan 0,26% m/m

Suku bunga (yield) obligasi AS naik tajam pada Selasa seiring saham menguat, membuat S&P 500 berada sedikit di bawah rekor tertingginya. Inflasi harga produsen AS (PPI, ukuran kenaikan harga di tingkat pabrik/penjual sebelum sampai ke konsumen) lebih rendah dari perkiraan untuk angka utama, dan estimasi inflasi inti PCE (Core PCE, ukuran inflasi pilihan The Fed yang tidak memasukkan makanan dan energi) pada Maret berada di 0,26% dibanding bulan sebelumnya (month on month/mom, artinya dibanding bulan sebelumnya).

Dengan minim rilis data besar, fokus pasar tertuju pada pernyataan pejabat dan agenda komunikasi The Fed (bank sentral AS). Pejabat Federal Reserve Barr dan Bowman dijadwalkan berbicara, dan Beige Book The Fed (laporan berkala berisi kondisi ekonomi dari berbagai wilayah di AS) akan dirilis.

Titik Pantau Kebijakan dan Geopolitik Utama

Komite Perbankan Senat menyatakan sidang dengar pendapat untuk nominasi Kevin Warsh akan berlangsung pada 21 April pukul 10:00 EDT. Pasar juga memantau perkembangan di Timur Tengah di tengah gencatan senjata yang masih berjalan.

Pada Rabu, arus Treasury International Capital (TIC, data aliran dana lintas negara yang memberi petunjuk kepemilikan asing atas aset AS termasuk Surat Utang Negara AS/US Treasuries) diperkirakan menarik perhatian untuk melihat petunjuk kepemilikan asing atas US Treasuries pada Februari.

Dengan S&P 500 mendekati rekor sepanjang masa di sekitar 6.200, strategi yang diuntungkan dari momentum naik bisa dipertimbangkan. Pasar bertaruh data inflasi inti PCE berikutnya akan menegaskan tren mereda, dengan perkiraan tetap di sekitar 0,26%. Ini membuat pembelian opsi call jangka pendek (call option, kontrak derivatif yang memberi hak membeli aset pada harga tertentu sebelum jatuh tempo) pada indeks saham utama menjadi cara masuk akal untuk ikut dalam pergerakan risk-on (risk-on, kondisi pelaku pasar lebih berani mengambil risiko).

Namun, kehati-hatian tetap perlu karena pasar menunggu Beige Book dan komentar dari Gubernur Barr dan Bowman. Kejutan bernada hawkish (hawkish, cenderung mendukung suku bunga lebih tinggi untuk menekan inflasi), terutama dari Bowman yang dikenal keras soal inflasi, dapat cepat membalikkan reli terbaru di pasar suku bunga. Karena itu, memiliki sebagian opsi put pelindung (put option, kontrak yang memberi hak menjual aset pada harga tertentu) pada instrumen yang sensitif terhadap suku bunga seperti kontrak berjangka obligasi Treasury (Treasury bond futures, kontrak berjangka atas obligasi pemerintah AS) menjadi lindung nilai (hedge, langkah untuk mengurangi risiko) yang masuk akal terhadap perubahan sikap The Fed.

Pertimbangan Volatilitas dan Lindung Nilai

Fokus pada konflik Timur Tengah menambah risiko peristiwa (event risk, risiko dari kejadian mendadak) yang bisa memicu volatilitas (volatility, besarnya naik-turun harga) tanpa peringatan. Indeks Volatilitas CBOE (VIX, ukuran “rasa takut” pasar yang mencerminkan perkiraan volatilitas S&P 500) turun di bawah 14, sehingga opsi call VIX relatif murah sebagai asuransi portofolio terhadap guncangan pasar. Kontrak berjangka Brent (Brent crude futures, patokan harga minyak global) sempat berayun 4% dalam sepekan hanya karena berita gencatan senjata, menunjukkan pasar sangat peka terhadap berita geopolitik.

Kondisi ini mengingatkan pada gejolak pasar pada kuartal ketiga 2025, saat laporan inflasi yang lebih lunak cepat tertutup oleh arahan kebijakan ke depan (forward guidance, sinyal The Fed tentang arah kebijakan berikutnya) yang hawkish. Peristiwa itu memicu aksi jual tajam dan menegaskan sentimen bisa berubah cepat. Portofolio derivatif yang seimbang (derivatives book, kumpulan posisi instrumen turunan seperti opsi dan futures) yang bisa diuntungkan saat pasar tenang namun tetap terlindungi saat terjadi guncangan layak dipertimbangkan.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code