Back

Di tengah kenaikan harga minyak dan ketegangan AS–Iran, emas stabil di dekat US$4.670, membatasi harapan pemangkasan suku bunga The Fed

Emas (XAU/USD) nyaris tidak berubah setelah dibuka dengan penurunan **gap** (harga pembukaan langsung lebih rendah dari penutupan sebelumnya tanpa transaksi di antaranya), bergerak mendatar di dekat US$4.670 per troy ounce pada perdagangan Asia, Senin. Logam mulia ini tetap tertekan karena harga energi yang lebih tinggi menaikkan risiko inflasi dan memangkas harapan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (bank sentral AS).

Minyak WTI dibuka dengan **bullish gap** (gap naik yang menunjukkan tekanan beli kuat), naik sekitar 8,5% dan diperdagangkan di dekat US$98,00 per barel. Kenaikan ini menyusul kembali memanasnya ketegangan antara AS dan Iran.

Blokade Selat Hormuz

Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington akan mulai memblokade kapal yang masuk atau keluar Selat Hormuz setelah pembicaraan damai AS-Iran di Islamabad gagal. Komando Pusat AS menyatakan pasukan akan memblokade lalu lintas laut yang masuk dan keluar pelabuhan Iran mulai pukul 10.00 ET (14.00 GMT) pada Senin.

Data CPI (Indeks Harga Konsumen, ukuran inflasi di tingkat konsumen) AS pada Jumat memperkuat pandangan suku bunga “lebih tinggi lebih lama” (suku bunga ditahan tinggi lebih lama). CPI tahunan naik ke 3,3% pada Maret dari 2,4% pada Februari, sementara CPI bulanan naik 0,9% setelah 0,3%.

**Core CPI** (inflasi inti, tidak memasukkan harga makanan dan energi yang bergejolak) naik 0,2% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan. Data ini dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS.

Pendorong Emas dan Posisi Pasar

Emas sering bergerak berlawanan arah dengan Dolar AS dan obligasi pemerintah AS (US Treasuries), serta bisa bergerak berlawanan dengan aset berisiko seperti saham. Suku bunga yang lebih rendah biasanya mendukung emas, sementara suku bunga yang lebih tinggi cenderung menekan.

Dengan eskalasi antara AS dan Iran, harga minyak melonjak, yang langsung mendorong inflasi. Ini memperkuat sikap The Fed “lebih tinggi lebih lama”, apalagi setelah laporan CPI yang tinggi menunjukkan inflasi tahunan 3,3%. **Fed funds futures** (kontrak berjangka yang mencerminkan perkiraan pasar atas suku bunga acuan The Fed) kini hanya mematok peluang 15% pemangkasan suku bunga sebelum kuartal IV, turun tajam dari bulan lalu.

Untuk emas, pasar ditarik dua kekuatan yang berlawanan sehingga memicu volatilitas besar (naik-turun harga yang tajam). Konflik di Selat Hormuz meningkatkan daya tarik emas sebagai **safe haven** (aset “tempat berlindung” saat ketidakpastian), tetapi lonjakan inflasi dan ekspektasi suku bunga menguatkan Dolar AS, yang menekan emas. Pada dinamika pasar 2024 dan 2025, dolar kuat dan suku bunga tinggi membatasi reli emas meski ketidakpastian global meningkat.

Ketidakpastian tinggi ini membuat pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan kontrak berjangka) lebih tepat fokus pada volatilitas, bukan arah harga tertentu. Strategi seperti **long straddle** (membeli opsi beli dan opsi jual pada harga dan jatuh tempo yang sama) atau **strangle** (mirip straddle tetapi dengan harga pelaksanaan berbeda) bisa diandalkan karena untung jika harga bergerak besar ke salah satu arah. **Cboe Gold Volatility Index (GVZ)** (indeks yang mengukur perkiraan volatilitas emas dari harga opsi) kemungkinan melonjak di atas 20% pada awal perdagangan, mencerminkan ekspektasi pasar akan pergerakan tajam dalam beberapa pekan.

Wajib memantau perilaku Dolar AS karena ini faktor besar bagi emas. Krisis saat ini memicu **flight to safety** (perpindahan dana ke aset yang dianggap aman) ke dolar, dengan **Dollar Index (DXY)** (indeks kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) sudah menguji area hambatan penting pagi ini. Jika DXY menembus dan bertahan di atas 106,50—level yang belum terlihat sejak November lalu—itu menjadi tekanan kuat yang bisa mengalahkan dukungan safe haven untuk emas.

Meningkatnya minat terhadap aset safe haven Dolar AS mendorong USD/CAD lebih tinggi, memperdalam pelemahan Dolar Kanada

Dolar Kanada turun dari level tertinggi dua pekan di 1,3844 terhadap Dolar AS pada awal perdagangan Senin. USD/CAD naik karena permintaan terhadap Dolar AS meningkat sebagai aset aman (mata uang yang biasanya diburu saat pasar takut risiko).

Pergerakan ini terjadi setelah perang AS-Iran kembali memanas setelah perundingan damai gagal pada akhir pekan. Kesepakatan gencatan senjata (penghentian tembak-menembak) disebut berada dalam risiko.

Risiko Geopolitik Mengangkat Dolar AS

Presiden AS Donald Trump mengatakan akan memberlakukan blokade di Selat Hormuz (jalur pelayaran penting untuk pengiriman minyak). Ia juga mempertimbangkan melanjutkan serangan militer terbatas di Iran.

Kenaikan USD/CAD dibatasi karena harga minyak melonjak tajam di tengah eskalasi di Timur Tengah. Harga minyak yang lebih tinggi dapat mendukung Dolar Kanada karena Kanada mengekspor energi.

West Texas Intermediate (WTI, patokan harga minyak AS) membuka pekan dengan bullish gap (pembukaan harga lebih tinggi dari penutupan sebelumnya, tanpa transaksi di tengahnya) dan naik hingga 8% pada awal perdagangan. WTI berpeluang menguji kembali level US$100 per barel pada saat penulisan.

Strategi Opsi Saat Volatilitas Meningkat

Per 13 April 2026, terlihat dinamika serupa dengan munculnya kekhawatiran baru pada rantai pasok (jalur produksi dan pengiriman barang). Laporan terbaru menunjukkan inflasi Kanada masih “lengket” di 2,9% (sulit turun cepat), sehingga Bank of Canada (bank sentral Kanada) cenderung menahan diri untuk memangkas suku bunga, sementara WTI sudah naik ke US$92 per barel. Ini terjadi saat US Dollar Index/DXY (indeks kekuatan Dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama) bertahan di sekitar 105,50 karena pasar menghindari risiko.

Kondisi ini menunjukkan implied volatility (perkiraan volatilitas yang tersirat dari harga opsi) pada opsi USD/CAD masih terlalu murah dibanding risiko geopolitik. Mengingat pergerakan cepat yang bisa terjadi, pelaku pasar dapat mempertimbangkan membeli straddle atau strangle (strategi opsi yang mencari untung dari pergerakan harga besar ke arah mana pun) untuk memanfaatkan ayunan harga signifikan, terlepas dari apakah pendorong utama berasal dari harga minyak atau arus aset aman. Strategi ini berfokus pada ketidakpastian.

Sebagai alternatif, bagi yang menilai harga minyak masih berpeluang naik, call option (opsi beli) pada futures minyak (kontrak berjangka) bisa menjadi cara yang lebih langsung daripada mengambil posisi jual pada pasangan USD/CAD. Saat krisis energi 2022, harga minyak dapat naik lebih cepat dan lebih besar dibanding penguatan Dolar Kanada. Karena itu, derivatif minyak (instrumen turunan seperti opsi dan futures) bisa lebih “murni” untuk mencerminkan pandangan terhadap ketegangan geopolitik.

Risiko utama tetap pada de-eskalasi mendadak (ketegangan mereda), yang dapat menekan volatilitas dan merugikan pihak yang memegang opsi beli/opsi jual (posisi “long options”, yaitu membeli opsi). Karena itu, pengaturan ukuran posisi (besar kecilnya jumlah transaksi) dan target ambil untung yang jelas menjadi semakin penting.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Pound Sterling Melemah; GBP/USD Turun dengan Gap ke Sekitar 1,3390 di Sesi Asia di Tengah Sentimen Penghindaran Risiko Usai Kegagalan Perundingan AS-Iran

GBP/USD mengakhiri penguatan lima hari dan dibuka lebih rendah di dekat 1,3390 pada perdagangan Asia, Senin. Pasangan ini tertekan karena minat terhadap aset berisiko melemah setelah pembicaraan damai AS–Iran gagal.

Permintaan terhadap Dolar AS meningkat setelah Wakil Presiden JD Vance mengatakan diskusi AS–Iran di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan setelah 21 jam. Presiden AS Donald Trump mengatakan AS akan mulai memblokade semua kapal yang masuk atau keluar dari Selat Hormuz.

Reaksi Pasar Dan Arus Dana Ke Aset Aman

Komando Pusat AS (US Central Command) mengatakan operasi yang menargetkan lalu lintas kapal dari dan menuju pelabuhan Iran akan dimulai pukul 10.00 ET (14.00 GMT) pada Senin. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan AS tidak berhasil meraih kepercayaan Teheran meski ada “inisiatif yang membangun”.

Garda Revolusi Iran memperingatkan kapal militer yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap melanggar gencatan senjata dan akan menghadapi respons tegas. Sebelumnya, Sterling sempat menguat karena harapan kemajuan menuju kesepakatan damai Rusia–Ukraina.

Kedua pihak kemudian saling menuduh melanggar gencatan senjata Paskah Ortodoks selama 32 jam. Laporan menyebut lebih dari seribu serangan drone (pesawat tanpa awak) dan tembakan artileri tak lama setelah gencatan senjata dimulai.

Implikasi Perdagangan Dari Naiknya Gejolak Harga

Dengan ketegangan saat ini, pola serupa terlihat ketika volatilitas tersirat (perkiraan gejolak harga di masa depan yang tercermin dalam harga opsi) pada opsi GBP/USD naik. Volatilitas tersirat tiga bulan kini 11,2%, naik dari 8,5% dua bulan lalu, menandakan pelaku pasar memperkirakan pergerakan harga yang lebih besar dari biasanya. Ini membuat membeli opsi (kontrak yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli/menjual pada harga tertentu) menjadi lebih mahal, sehingga perlu strategi yang lebih tepat.

Situasi diperkuat oleh pasar energi. Kontrak berjangka (futures, yaitu perjanjian jual-beli di masa depan pada harga yang disepakati) minyak Brent untuk pengiriman Juni baru menyentuh US$98 per barel, tertinggi 14 bulan, karena kekhawatiran pasokan di Timur Tengah. Ini menopang mata uang terkait komoditas (mata uang negara pengekspor komoditas) dan Dolar AS sebagai aset aman, sehingga menjadi tekanan bagi Pound.

Pada saat yang sama, data ekonomi terbaru memperumit prospek Sterling. Inflasi Inggris Maret 2026 tercatat lebih tinggi dari perkiraan di 3,1%, meningkatkan tekanan pada Bank of England untuk meninjau ulang sikap dovish (cenderung mendukung suku bunga lebih rendah). Sebaliknya, laporan ketenagakerjaan AS pekan lalu menunjukkan penambahan 245.000 pekerjaan, memperkuat harapan bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga.

Dengan latar ini, pelaku pasar dapat mempertimbangkan strategi yang diuntungkan dari naiknya volatilitas, bukan hanya bertaruh pada satu arah. Struktur opsi seperti long straddle (membeli opsi beli dan opsi jual pada harga dan jatuh tempo yang sama untuk mengincar pergerakan besar ke dua arah) atau strangle (mirip straddle tetapi dengan harga pelaksanaan berbeda) dapat digunakan untuk memanfaatkan pergerakan besar ke salah satu arah. Bagi yang berpandangan GBP/USD akan turun, put spread (membeli opsi jual dan menjual opsi jual lain pada level berbeda untuk menekan biaya awal) dapat membantu menurunkan biaya di kondisi volatilitas tinggi.

WTI Dibuka Menguat, Naik Sekitar 8% Mendekati US$100, Setelah AS Memblokade Selat Hormuz

WTI, patokan harga minyak AS, membuka pekan dengan *gap bullish* (harga pembukaan melonjak di atas penutupan sebelumnya karena sentimen positif) dan naik sekitar 8%, kembali mendekati level US$100. Kenaikan ini terjadi setelah pekan sebelumnya melemah.

Kenaikan terjadi setelah tensi kembali meningkat antara AS dan Iran. Perundingan damai selama 21 jam pada akhir pekan berakhir gagal.

Tensi AS-Iran Dorong Harga Minyak Naik

Presiden AS Donald Trump berjanji melakukan blokade pelabuhan Iran dan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz. Komando Pusat AS menyatakan pasukan akan memulai blokade atas seluruh lalu lintas kapal yang masuk dan keluar pelabuhan Iran pada Senin pukul 10.00 ET (14.00 GMT).

The Wall Street Journal melaporkan Presiden Trump dan para penasihatnya mempertimbangkan kembali serangan militer terbatas di Iran, bersamaan dengan blokade, untuk mengatasi kebuntuan perundingan. Fokus pasar kini pada rincian blokade dan dampaknya terhadap gencatan senjata AS–Iran.

Pasar mengingat reaksi tahun lalu saat WTI melonjak 8% menuju US$100 setelah AS memblokade Selat Hormuz. Peristiwa itu menunjukkan ketegangan geopolitik dapat cepat mengubah harga aset energi. Ini mengingatkan pasokan global rentan terganggu oleh aksi militer di titik sempit jalur pelayaran (*maritime chokepoint*), yaitu jalur laut penting yang menjadi “pintu” utama distribusi.

Guncangan semacam itu memicu volatilitas besar (naik-turun harga yang sangat cepat). Pergerakan cepat pada 2025 mengejutkan banyak pelaku pasar, menunjukkan menahan posisi tanpa lindung nilai (*hedge*: strategi perlindungan risiko) terhadap gangguan pasokan mendadak adalah risiko besar. Kondisi yang mirip dinilai mulai terbentuk lagi, meski tanpa blokade langsung.

Volatilitas Pasar dan Implikasi Perdagangan

Saat ini pasokan pasar ketat. Laporan terbaru EIA (Energy Information Administration/Badan Informasi Energi AS) menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah AS (*inventory draw*: stok berkurang) 3,2 juta barel pekan lalu, lebih besar dari perkiraan. Di saat yang sama, OPEC+ (kelompok negara OPEC dan sekutunya) memberi sinyal akan mempertahankan pemangkasan produksi hingga kuartal II 2026. Faktor dasar ini membuat pasar sangat sensitif terhadap potensi gangguan.

Selain itu, pasar memantau meningkatnya patroli laut di Laut China Selatan. Wilayah ini juga jalur sempit penting bagi pengiriman energi global; konflik bisa memicu lonjakan harga serupa. Pengalaman Hormuz membuat pasar kemungkinan bereaksi lebih cepat jika ada tanda eskalasi di kawasan ini.

Dengan kondisi tersebut, trader dapat mempertimbangkan membeli opsi call berjangka panjang (*long-dated call options*: hak membeli pada harga tertentu dengan jatuh tempo lebih lama) pada kontrak berjangka (*futures*: kontrak jual-beli untuk tanggal mendatang) WTI atau Brent untuk lindung nilai atau berspekulasi jika harga melonjak mendadak. Indeks Volatilitas Minyak Mentah CBOE (OVX)—pengukur ekspektasi volatilitas dari harga opsi minyak—saat ini di sekitar 38, jauh di bawah puncak saat krisis 2025. Ini mengindikasikan premi opsi masih relatif terjangkau dibanding risikonya. Strategi ini memberi peluang profit jika harga naik dengan risiko yang sudah dibatasi.

Di luar minyak, dampaknya bisa merambat ke aset yang peka terhadap inflasi. Lonjakan minyak dapat menyulitkan langkah Federal Reserve, dan berpotensi memengaruhi derivatif (instrumen turunan nilainya mengikuti aset acuan) yang terkait suku bunga dan indeks saham. Lonjakan tahun lalu ikut memperpanjang tekanan inflasi pada akhir 2025.

Setelah perundingan AS–Iran gagal, Dolar AS menguat, mendorong USD/JPY mendekati 159,80 selama tiga sesi berturut-turut

USD/JPY naik untuk hari ketiga, diperdagangkan di dekat 159,80 pada jam perdagangan Asia, Senin. Kenaikan ini didorong permintaan Dolar AS sebagai aset aman (safe haven, yaitu instrumen yang biasanya diburu saat pasar panik) setelah perundingan AS–Iran berakhir tanpa kesepakatan usai 21 jam negosiasi di Islamabad.

Wakil Presiden AS JD Vance mengonfirmasi pembicaraan berakhir tanpa kesepakatan. Presiden AS Donald Trump mengatakan AS akan mulai “memblokade” kapal yang masuk atau keluar Selat Hormuz.

Risiko Geopolitik Dorong Permintaan Dolar

Komando Pusat AS menyatakan pasukan akan mulai memblokade lalu lintas laut yang masuk dan keluar pelabuhan Iran pukul 10.00 ET (14.00 GMT) pada Senin. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan AS tidak mendapatkan kepercayaan delegasi Iran, dan keputusan kini berada di tangan Washington.

Korps Garda Revolusi Iran memperingatkan kapal militer yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap melanggar gencatan senjata dan akan menghadapi respons tegas. Pasar juga menyoroti rapat Bank of Japan pada 27–28 April, ketika pembuat kebijakan akan menilai apakah kenaikan harga energi dan komoditas global mendukung kenaikan suku bunga (rate rise, yaitu kenaikan suku bunga acuan bank sentral).

Laporan Sakura menyebut anggota dewan menimbang risiko inflasi (kenaikan harga umum) terhadap risiko pertumbuhan setelah rapat para manajer cabang pada 6 April. Laporan itu menambahkan, semua sembilan wilayah menggambarkan ekonomi mereka sebagai “pulih secara moderat”, “menguat”, atau “menguat secara moderat”.

Penempatan Posisi untuk Volatilitas Minyak

Blokade ini langsung mengancam pasokan energi global, karena hampir seperlima konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz. Ini menjadi sinyal untuk mengambil posisi beli (long, yaitu bertaruh harga naik) pada instrumen turunan (derivatives, yaitu kontrak yang nilainya mengikuti aset acuan) minyak mentah, seperti kontrak berjangka (futures, yaitu perjanjian jual-beli di harga tertentu untuk waktu mendatang) WTI atau Brent, dengan harapan lonjakan harga tajam seperti 2022 yang sempat mendorong harga di atas US$120 per barel. Opsi beli (call options, yaitu hak untuk membeli di harga tertentu) pada ETF terkait minyak (ETF adalah reksa dana yang diperdagangkan di bursa) juga memberi cara berisiko terukur (defined-risk, rugi maksimum biasanya terbatas pada premi) untuk memanfaatkan potensi guncangan pasokan.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Setelah perundingan gagal, para penasihat mempertimbangkan serangan terbatas terhadap Iran dan blokade AS di Selat Hormuz yang dibatasi, lapor WSJ

The Wall Street Journal pada Senin melaporkan bahwa para penasihat Gedung Putih sedang mempertimbangkan serangan AS berskala terbatas di Iran setelah perundingan damai menemui jalan buntu. Laporan itu mengutip pejabat dan orang-orang yang mengetahui situasi tersebut.

WSJ menyebut opsi yang dibahas termasuk serangan terbatas bersamaan dengan blokade AS di Selat Hormuz. Tujuan yang disebut dalam laporan itu adalah memecah kebuntuan negosiasi.

Laporan itu juga mengatakan Presiden Donald Trump bisa memulai lagi kampanye pengeboman penuh, tetapi pejabat menilai opsi ini lebih kecil kemungkinannya. Mereka mengutip kekhawatiran soal ketidakstabilan kawasan dan sikap presiden yang tidak menyukai konflik berkepanjangan.

Opsi lain dalam laporan itu adalah blokade jangka pendek sambil AS menekan sekutu agar mengambil misi pengawalan jangka panjang melalui selat tersebut. WSJ tidak menyebutkan jadwal pengambilan keputusan.

Dengan meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz, risiko langsung terhadap pasar energi meningkat. Sekitar 25% minyak dunia yang diangkut lewat laut melewati “titik sempit” ini, sehingga setiap blokade atau aksi militer cenderung mendorong strategi membeli opsi beli (call option), yaitu kontrak yang memberi hak (bukan kewajiban) untuk membeli aset pada harga tertentu, atas kontrak berjangka (futures), yaitu perjanjian membeli/menjual komoditas pada harga dan waktu yang disepakati, minyak WTI dan Brent. Peluang gangguan pasokan disebut belum sepenuhnya tercermin dalam harga pasar saat ini.

Situasi ini mengingatkan pada guncangan sebelumnya. Pada 2019, serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi membuat kontrak berjangka Brent melonjak hampir 20% dalam satu hari. Blokade selat akan berdampak lebih besar dan lebih lama terhadap pasokan global, sehingga instrumen turunan (derivatif), yaitu produk keuangan yang nilainya mengikuti harga aset lain, yang diuntungkan dari lonjakan harga menjadi pertimbangan utama.

Karena itu, posisi pasar mengarah pada lonjakan volatilitas, yaitu besarnya naik-turun harga, yang diukur oleh VIX, indeks yang mencerminkan ekspektasi gejolak pasar saham AS. Saat gejolak geopolitik awal 2022, VIX sempat di atas 30, dan pergerakan serupa bisa terjadi. Pelaku pasar dapat mempertimbangkan membeli opsi beli VIX atau memakai opsi jual (put option), yaitu kontrak yang memberi hak untuk menjual pada harga tertentu, pada indeks luas seperti S&P 500 untuk lindung nilai (hedging), yaitu mengurangi risiko kerugian portofolio saat pasar turun.

Dalam ketidakpastian, dana biasanya mengalir ke aset “safe haven”, yaitu aset yang dianggap lebih tahan gejolak. Emas bertahan di sekitar US$2.450 per ons, dan berpeluang menuju rekor baru jika serangan dimulai. Posisi beli (bullish), yaitu bertaruh harga naik, melalui kontrak berjangka emas atau opsi atas ETF berbasis emas, yaitu reksa dana yang diperdagangkan di bursa dan mengikuti harga emas, bisa diuntungkan dari peralihan dana ke aset aman.

EUR/USD Mendekati 1,1670 di Asia saat Sentimen Risk-off Kian Dalam Usai Pembicaraan Damai AS–Iran Gagal

EUR/USD turun seiring meningkatnya penghindaran risiko setelah pembicaraan AS–Iran berakhir tanpa kesepakatan usai 21 jam. Pasangan ini diperdagangkan di sekitar 1,1670 pada jam Asia setelah dibuka lebih rendah (gap down) pada pembukaan Senin.

Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pembicaraan di Islamabad tidak menghasilkan kesepakatan yang bisa diterima kedua pihak. Ia menambahkan AS menginginkan jaminan tegas bahwa Iran tidak akan mengejar senjata nuklir.

Presiden AS Donald Trump mengatakan AS akan mulai memblokade kapal yang masuk atau keluar Selat Hormuz. CENTCOM (Komando Pusat Militer AS, yang mengoordinasikan operasi di kawasan) menyatakan pasukan akan mulai memblokade seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar pelabuhan Iran pada pukul 10.00 ET (14.00 GMT) pada Senin.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan AS tidak mendapatkan kepercayaan delegasi Iran, dan menyebut keputusan kini ada di tangan Washington. Garda Revolusi Iran memperingatkan kapal militer yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap melanggar gencatan senjata dan akan dibalas secara tegas.

Dengan gagalnya pembicaraan dan rencana blokade AS, pasar biasanya masuk ke pola “flight to safety” (perpindahan dana ke aset yang dianggap lebih aman) ke Dolar AS. Penurunan EUR/USD ke 1,1670 mencerminkan hal ini, dan tren bisa berlanjut karena Eropa lebih bergantung pada impor energi sehingga Euro lebih rentan. Trader opsi (kontrak yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli/menjual aset pada harga tertentu) dapat mempertimbangkan membeli put EUR/USD (opsi untuk menjual, biasanya untung saat harga turun) atau menjual call yang “out-of-the-money” (opsi beli dengan harga pelaksanaan di atas harga pasar saat ini, peluang dieksekusi kecil) untuk memanfaatkan potensi penurunan lanjutan.

Dampak paling langsung ada pada harga minyak mentah, sehingga sikap “bullish” (memperkirakan harga naik) layak dipertimbangkan. Selat Hormuz adalah “chokepoint” (titik sempit jalur pelayaran yang jika terganggu bisa menghambat pasokan) yang sangat krusial; data historis menunjukkan jalur ini menangani lebih dari 20% konsumsi cairan minyak bumi global. Blokade, bahkan sebagian, berpotensi memicu “supply shock” (guncangan pasokan: pasokan turun mendadak sehingga harga naik tajam). Karena itu, posisi beli (long) pada kontrak berjangka (futures: perjanjian jual-beli di masa depan) minyak WTI dan Brent atau opsi call (opsi untuk membeli, biasanya untung saat harga naik) menjadi strategi utama.

Situasi yang mirip, meski pemicunya berbeda, terlihat pada awal 2022 ketika konflik geopolitik mendorong WTI melonjak dari sekitar US$90 ke di atas US$130 per barel hanya dalam beberapa minggu. Dengan acuan itu, minyak bisa cepat menguji level tertingginya pada 2025. Pergerakan ini membuat saham sektor energi menjadi salah satu tempat bertahan (defensif) yang relatif kuat di pasar saham.

Penghindaran risiko yang meningkat kemungkinan menekan saham global dan membuka peluang posisi “short” (posisi yang diuntungkan saat harga turun). Kombinasi ketidakpastian geopolitik dan lonjakan harga energi bekerja seperti “pajak” bagi ekonomi global, sehingga menekan perkiraan laba perusahaan. Strategi yang dipantau adalah membeli opsi put pada indeks pasar luas seperti S&P 500 dan Euro Stoxx 50.

Terakhir, lonjakan tajam volatilitas pasar (ukuran cepat-lambatnya perubahan harga) hampir pasti terjadi dalam beberapa hari ke depan. CBOE Volatility Index (VIX) adalah indikator utama untuk dipantau; membeli opsi call VIX dapat menjadi “hedging” (lindung nilai: mengurangi risiko portofolio) sekaligus mendapat untung dari meningkatnya ketakutan pasar. Kita bisa mengacu pada guncangan pasar awal 2022, ketika VIX melonjak lebih dari 50% dalam beberapa hari.

Komando Pusat AS menyatakan pasukannya akan mulai memblokir lalu lintas maritim yang masuk dan keluar pelabuhan Iran pada pukul 10.00 ET

Komando Pusat AS (US Central Command/CENTCOM) mengatakan pasukan akan mulai melakukan blokade (pemblokiran) terhadap semua lalu lintas kapal (maritim) yang masuk dan keluar pelabuhan Iran pada Senin pukul 10:00 ET (14:00 GMT). Blokade akan mencakup pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman.

CENTCOM mengatakan penegakan akan berlaku sama untuk semua kapal yang masuk atau keluar pelabuhan Iran. CENTCOM menyebut kapal yang melintas Selat Hormuz menuju atau dari pelabuhan non-Iran tidak akan dibatasi kebebasan bernavigasi (kebebasan pelayaran).

Rincian Blokade dan Konteks Langsung

Pelaut komersial akan menerima rincian lebih lanjut melalui pemberitahuan resmi sebelum blokade dimulai. Pembaruan ini menyusul laporan gagalnya pembicaraan gencatan (kesepakatan penghentian ketegangan) AS-Iran pada akhir pekan.

Harga minyak diperkirakan naik di awal pekan sebagai respons atas gagalnya pembicaraan dan pengumuman blokade. WTI (West Texas Intermediate) adalah minyak mentah acuan AS yang diperdagangkan sebagai patokan harga, dengan distribusi utama melalui hub Cushing (pusat penyimpanan dan pengiriman minyak) di Oklahoma.

Harga WTI terutama dipengaruhi oleh pasokan dan permintaan, pertumbuhan ekonomi global, peristiwa geopolitik (situasi politik dan konflik antarnegara), sanksi (pembatasan ekonomi), keputusan OPEC (kelompok negara pengekspor minyak), dan Dolar AS. Laporan persediaan minyak AS dari API (American Petroleum Institute/lembaga industri minyak, Selasa) dan EIA (Energy Information Administration/lembaga statistik energi pemerintah AS, Rabu) juga memengaruhi harga; hasil keduanya selisihnya berada dalam 1% sekitar 75% dari waktu.

Dengan dimulainya blokade AS terhadap pelabuhan Iran hari ini, kami memperkirakan lonjakan segera dan besar pada harga minyak WTI dan Brent saat pasar dibuka. Langkah ini langsung menekan pasokan, sehingga meningkatkan ketidakpastian di pasar energi global. Trader derivatif (pelaku yang memperdagangkan instrumen turunan seperti opsi dan futures) perlu mengantisipasi lonjakan volatilitas (naik-turunnya harga) sejak awal sesi perdagangan pekan ini.

Blokade ini berpotensi mengurangi pasokan minyak yang besar dari pasar, karena Iran mengekspor sekitar 1,7 juta barel per hari hingga awal 2026. Mengingat persediaan minyak mentah global berada sedikit di bawah rata-rata lima tahun, guncangan pasokan mendadak ini akan berdampak lebih besar. Pasar hampir tidak punya cadangan untuk meredam gangguan seperti ini, sehingga mendorong harga naik.

Implikasi Perdagangan dan Pemantauan Risiko

Bagi trader, membeli opsi call (hak membeli pada harga tertentu) pada kontrak futures (kontrak berjangka) WTI dan Brent adalah respons paling langsung terhadap sentimen bullish (pandangan harga akan naik) ini. Kami juga melihat peluang pada perdagangan volatilitas itu sendiri, dengan CBOE Crude Oil Volatility Index (OVX/indeks volatilitas minyak mentah) yang kemungkinan melonjak di atas 50 dalam beberapa hari ke depan. Membeli call pada OVX atau membangun posisi long volatilitas (bertaruh volatilitas naik) bisa menghasilkan keuntungan besar.

Kita mengingat reaksi pasar terhadap guncangan geopolitik, seperti serangan drone ke fasilitas Saudi pada 2019 yang memicu lonjakan harga hampir 15% dalam satu hari. Awal konflik Ukraina pada 2022 juga mendorong minyak mentah jauh di atas US$100 per barel dalam periode yang cukup lama. Riwayat ini menunjukkan kenaikan harga tajam dua digit persen bukan hanya mungkin, tetapi berpeluang terjadi pekan ini.

Trader juga perlu memantau spread (selisih harga) Brent dan WTI, karena kami memperkirakan Brent mengungguli akibat lebih dekat dengan gangguan. Ini membuat posisi spread long Brent/short WTI (beli Brent, jual WTI) menarik. Pada saat yang sama, kami memperkirakan pelemahan pada sektor yang sensitif terhadap biaya bahan bakar, sehingga opsi put (hak menjual pada harga tertentu) pada saham maskapai dan perusahaan pelayaran dapat menjadi lindung nilai (hedging/pelindung risiko) atau strategi spekulatif.

Pemberitahuan blokade secara khusus menyatakan bahwa pelayaran melalui Selat Hormuz tidak akan dibatasi, tetapi ini tetap risiko utama yang harus dipantau. Tanda pembalasan Iran yang mengancam sekitar 21 juta barel minyak yang melintas selat itu setiap hari akan memicu lonjakan harga kedua yang jauh lebih besar. Risiko ekor (tail risk/risiko kecil tetapi dampaknya besar) ini menjadi alasan untuk mempertahankan posisi long bahkan setelah lonjakan awal.

Ke depan, laporan persediaan pekan ini dari API pada Selasa dan EIA pada Rabu akan krusial. Pasar akan sangat sensitif terhadap penurunan persediaan (draw/penurunan stok), karena itu akan menegaskan pasokan makin ketat. Penurunan yang lebih besar dari perkiraan akan memperkuat kenaikan harga yang sedang berlangsung.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Setelah perundingan damai AS-Iran gagal, Dolar Australia dibuka gap turun; AUD/USD menguat tipis, mendekati 0,7010 di Asia

AUD/USD naik tipis setelah pembukaan turun karena *gap down* (harga pembukaan langsung lebih rendah dari penutupan sebelumnya, sehingga ada “celah” di grafik), tetapi tetap melemah, diperdagangkan dekat 0,7010 pada sesi Asia Senin. Pelemahan terjadi saat penghindaran risiko (*risk aversion*: pelaku pasar mengurangi aset berisiko) meningkat setelah 21 jam pembicaraan di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan damai antara Washington dan Teheran.

Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan negosiasi tidak menghasilkan kesepakatan yang bisa diterima kedua pihak dan meminta jaminan tegas bahwa Iran tidak akan mengejar senjata nuklir. Presiden AS Donald Trump mengatakan AS akan mulai melakukan “blokade” (menghentikan atau membatasi pergerakan) semua kapal yang masuk atau keluar Selat Hormuz.

Risiko Geopolitik Mendorong Ketidakpastian Pasar

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan AS tidak berhasil mendapatkan kepercayaan delegasi Iran, meski ada “inisiatif konstruktif”, dan menyebut langkah berikutnya ada di tangan Washington. Pernyataan ini menambah ketidakpastian pasar.

Kenaikan biaya energi meningkatkan kekhawatiran inflasi di Australia, dengan ukuran inflasi bulanan (indikator perubahan harga dari bulan ke bulan) mencetak rekor 1,3% pada Maret. Ini menandakan tekanan harga kembali menguat sejak akhir 2025.

Reserve Bank of Australia (RBA/bank sentral Australia) telah menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin (bps; 1 bps = 0,01%) menjadi 4,10%, dan pasar memperkirakan kenaikan lagi pada Mei. Pada 10 April, kontrak ASX 30 Day Interbank Cash Rate Futures Mei 2026 berada di 95,765, yang mengindikasikan probabilitas 64% kenaikan ke 4,35% pada rapat RBA berikutnya.

Dengan gagalnya pembicaraan AS–Iran, terjadi perpindahan dana ke aset aman (*flight to safety*: investor memilih aset yang dianggap lebih aman), yang menguatkan dolar AS. Indeks VIX (indikator volatilitas pasar saham AS yang sering disebut “pengukur ketakutan”) sudah melonjak di atas 25, menandakan ketidakpastian tinggi dalam beberapa pekan ke depan. Kondisi ini membuat mata uang yang sensitif terhadap risiko seperti dolar Australia rentan tertekan.

Guncangan Minyak Memperkuat Tekanan Risk-Off

Ancaman blokade Selat Hormuz—jalur yang dilalui lebih dari 20% minyak global—menjadi pemicu utama. Minyak Brent sudah melesat melewati US$120 per barel, memperbesar kekhawatiran inflasi. Lonjakan energi ini menyulitkan langkah RBA, karena harus menahan inflasi saat pertumbuhan global terancam.

Walau pasar memperhitungkan kenaikan suku bunga RBA lagi, sentimen global yang menghindari risiko kini lebih dominan. Data pekan lalu menunjukkan PMI manufaktur China (Purchasing Managers’ Index/PMI: survei aktivitas pabrik; di bawah 50 berarti kontraksi) turun tak terduga, mengindikasikan permintaan untuk ekspor Australia melemah. Ini menambah tekanan pada AUD.

Bagi pedagang derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures), lonjakan volatilitas membuat pembelian opsi *put* AUD/USD menarik untuk bersiap jika harga turun (opsi put: hak untuk menjual pada harga tertentu). Premi opsi (biaya opsi) naik karena risiko meningkat, namun strategi ini membatasi risiko. Pasangan ini berpotensi menguji level 0,6900 dalam waktu dekat.

Strategi lain adalah memakai pasangan silang (*cross*: pasangan mata uang tanpa USD) yang memperbesar efek risk-off, misalnya *short* AUD/JPY (posisi jual: untung jika harga turun). Yen Jepang biasanya menguat lebih besar saat krisis geopolitik. Strategi ini mengurangi pengaruh langsung ekspektasi kebijakan RBA dan fokus pada perburuan aset aman.

Pelaku pasar juga perlu memantau pasar energi sebagai sumber utama ketidakstabilan. Membeli opsi *call* pada futures minyak atau ETF sektor energi (ETF: reksa dana yang diperdagangkan seperti saham) memberi eksposur langsung pada potensi kenaikan harga minyak (opsi call: hak untuk membeli pada harga tertentu). Posisi ini diuntungkan jika situasi di Selat Hormuz memburuk.

Pada Maret, BusinessNZ PSI Selandia Baru turun dari 48 ke 46, mengindikasikan pelemahan aktivitas sektor jasa

Indeks Kinerja Sektor Jasa (Performance of Services Index/PSI) BusinessNZ Selandia Baru turun ke 46 pada Maret, dari 48 pada bulan sebelumnya.

Angka di bawah 50 menunjukkan aktivitas sektor jasa menyusut (kontraksi).

Kontraksi Sektor Jasa Makin Dalam

Turunnya indeks jasa Selandia Baru ke 46 menandakan penyusutan makin dalam pada sektor penting ekonomi. Angka di bawah 50 berarti sektor sedang mengecil, dan penurunan ini menunjukkan laju ekonomi melemah cepat. Kondisi ini berpotensi menekan dolar Selandia Baru (NZD) dalam beberapa pekan ke depan.

Perlu mempertimbangkan posisi yang diuntungkan saat dolar Kiwi melemah, seperti mengambil posisi jual (short) pada kontrak berjangka (futures) NZD/USD atau membeli opsi jual (put option). Kontrak berjangka adalah perjanjian untuk membeli/menjual aset pada harga dan tanggal tertentu. Opsi jual adalah hak (bukan kewajiban) untuk menjual pada harga tertentu, biasanya dipakai untuk melindungi nilai atau mencari untung saat harga turun. Sektor jasa yang menyusut membuat mata uang ini kurang menarik dibanding mata uang negara dengan kondisi ekonomi lebih kuat. Perlambatan ini kemungkinan menekan minat investor global terhadap aset Selandia Baru.

Data lemah ini juga meningkatkan peluang Bank Sentral Selandia Baru (Reserve Bank of New Zealand/RBNZ) menurunkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan pasar. Inflasi kuartal pertama 2026 memang melandai, tetapi masih sekitar 3,2%, sehingga tugas RBNZ tidak mudah. Namun, angka PSI ini mengarah pada perlambatan tajam yang bisa mendorong RBNZ bertindak untuk menopang pertumbuhan.

Jika melihat reaksi ekonomi global pada 2025, bank sentral yang mempertahankan suku bunga tinggi terlalu lama pada akhirnya harus berbalik arah dengan cepat ketika data resesi (ekonomi menyusut) makin jelas. Riwayat ini menunjukkan pasar bisa meremehkan seberapa cepat RBNZ mengubah kebijakan. Pelaku pasar dapat memantau kontrak berjangka suku bunga (interest rate futures)—instrumen yang mencerminkan perkiraan suku bunga ke depan—untuk mengambil posisi terkait potensi pemangkasan suku bunga pada tahun ini.

Ini juga berdampak negatif bagi pasar saham lokal. Ekonomi jasa yang menyusut menekan laba perusahaan dan proyeksi pendapatan emiten di NZX 50 (indeks 50 saham utama di Bursa Selandia Baru). Strategi bearish (bertaruh harga turun) pada indeks, seperti posisi short pada futures atau membeli put, dapat dipakai untuk lindung nilai (hedging) atau spekulasi menghadapi potensi penurunan pasar.

Dampak Lanjutan ke Pasar dan Kebijakan

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code