Back

Setelah turun ke 0,870, EUR/GBP berpotensi melemah sedikit lagi karena risiko pada pound sterling berlanjut di tengah penguatan pasar saham

ING mengatakan EUR/GBP memiliki ruang terbatas untuk turun lebih jauh setelah turun ke 0,870, sebuah pergerakan yang dikaitkan dengan sensitivitas sterling (pound Inggris) terhadap reli tajam pasar saham. ING menilai ekspektasi suku bunga (perkiraan arah suku bunga ke depan) di zona euro bisa tetap “kaku” (sulit berubah), sementara suku bunga Inggris berpotensi dinilai ulang lebih dovish (lebih condong ke pelonggaran, yakni suku bunga lebih rendah).

ING mengatakan hal ini bisa terjadi jika harga energi terus turun dan pasar menyesuaikan ekspektasi terhadap Bank of England (BoE, bank sentral Inggris). ING mencatat BoE sudah siap memangkas suku bunga sebelum perang dimulai, dan menyebut efek putaran kedua di Inggris (kenaikan harga lanjutan akibat upah/biaya ikut naik setelah inflasi awal) lebih rendah dibanding 2022.

Divergensi Kebijakan BoE dan ECB

ING mengatakan komentar yang akan datang dari Gubernur BoE Andrew Bailey, Catherine Mann, dan Megan Greene dapat memengaruhi penetapan harga pasar (cara pasar “menghitung” arah suku bunga dalam harga aset). ING mengatakan pasar saat ini memperkirakan 30bp (basis poin; 1bp = 0,01%, jadi 30bp = 0,30%) dan bisa memangkas perkiraan hingga di bawah satu kali kenaikan suku bunga tahun ini.

ING mengatakan hal ini bisa mendukung EUR/GBP bergerak kembali menuju 0,880 pada kuartal ini. Artikel tersebut mengatakan dibuat dengan bantuan alat Kecerdasan Buatan (AI, perangkat lunak yang membantu menyusun teks/analisis) dan ditinjau oleh editor.

Melihat kembali analisis tahun lalu, ekspektasinya euro akan menguat terhadap pound karena kebijakan bank sentral makin berbeda arah. Pandangan ini didasarkan pada gagasan bahwa BoE punya ruang lebih besar untuk melunak dibanding Bank Sentral Eropa (ECB). Hal ini terjadi karena EUR/GBP memang naik dari level 0,870 yang dibahas saat itu.

Perkiraan ini didukung oleh turunnya harga energi dan data inflasi hingga akhir 2025. Inflasi Inggris mendingin lebih cepat dari perkiraan, menutup tahun di 4,0%, sementara angka zona euro lebih kaku di sekitar 4,5%. Ini memberi BoE keyakinan untuk memberi sinyal arah yang lebih dovish, menegaskan penilaian ulang pasar yang sudah diperkirakan.

Prospek Strategi EUR/GBP

Perbedaan arah kebijakan itu masih menjadi pendorong utama saat ini, dengan pasar futures (kontrak berjangka; instrumen untuk memperdagangkan harga di masa depan) kini memperkirakan peluang 75% BoE memangkas suku bunga pada Agustus 2026, sementara ECB bertahan. Trader derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures) dapat mengambil posisi untuk penguatan EUR/GBP lebih lanjut dengan membeli call option (opsi beli; hak untuk membeli pada harga tertentu) dengan strike 0,8850 (harga kesepakatan) yang jatuh tempo pada kuartal ketiga. Strategi ini memberi risiko yang jelas (kerugian maksimum biasanya sebatas premi opsi) sambil menangkap potensi kenaikan jika BoE makin dekat ke pemangkasan suku bunga.

Kita perlu memperkirakan sterling tetap sensitif terhadap data pertumbuhan Inggris dalam beberapa minggu ke depan, karena tanda pelemahan ekonomi akan mempercepat taruhan pemangkasan suku bunga BoE. Dinamika ini mengingatkan pada perbedaan arah pada 2014, yang memicu periode beberapa bulan kinerja sterling yang lebih lemah. Karena itu, strategi yang diuntungkan dari kenaikan bertahap nilai tukar EUR/GBP tampak paling sesuai saat ini.

BEA melaporkan inflasi PCE tahunan AS tetap di 2,8% pada Februari, sesuai ekspektasi pasar

Inflasi AS, yang diukur dengan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE Price Index—indikator inflasi yang mencatat perubahan harga barang dan jasa yang dibeli rumah tangga), tidak berubah di 2,8% secara tahunan (year on year/yoy—dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya) pada Februari, menurut Biro Analisis Ekonomi AS. Angka ini sesuai ekspektasi pasar.

Secara bulanan (month on month/mom—dibandingkan bulan sebelumnya), Indeks Harga PCE naik 0,4%, sejalan dengan perkiraan. Indeks Harga PCE inti (core—tidak memasukkan harga pangan dan energi yang biasanya lebih bergejolak) melambat ke 3% yoy dari 3,1% pada Januari.

Data Utama Dan Reaksi Pasar

Pendapatan Pribadi (Personal Income—total pendapatan rumah tangga) turun 0,1% mom, sementara Belanja Pribadi (Personal Spending—pengeluaran konsumsi rumah tangga) naik 0,5%. Laporan ini tidak memicu pergerakan pasar yang berarti.

Saat berita ini ditulis, Indeks Dolar AS (US Dollar Index—ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) relatif stabil di 98,96.

Jika melihat data awal 2025, pasar sempat menilai inflasi akan turun secara bertahap. Laporan Februari 2025 yang menunjukkan PCE inti turun ke 3% menguatkan pandangan bahwa kebijakan moneter ketat The Fed (restrictive policy—kenaikan suku bunga dan pengetatan kondisi keuangan untuk menekan inflasi) berjalan sesuai harapan. Banyak pelaku pasar lalu memperkirakan pemangkasan suku bunga (rate cuts—penurunan suku bunga acuan) pada akhir tahun itu.

Namun stabilitas tersebut hanya sementara. Kenaikan kembali biaya energi dan tekanan upah (wage pressures—kenaikan gaji yang mendorong biaya perusahaan dan harga) sepanjang musim panas 2025 mendorong PCE inti naik lagi menjadi 3,4% pada kuartal IV. Perkembangan ini mematahkan tren penurunan inflasi (disinflationary trend—laju inflasi melambat, bukan harga turun) dan memicu penyesuaian besar pada pasar suku bunga (repricing—perubahan cepat pada harga instrumen keuangan karena ekspektasi baru).

Implikasi Bagi Kebijakan Dan Strategi

Akibatnya, The Fed tidak hanya menahan suku bunga, tetapi juga menaikkan suku bunga terakhir sebesar 25 basis poin (bps—1 bps = 0,01%) pada September 2025, mengejutkan pelaku pasar yang sebelumnya bersiap untuk fase pelonggaran (easing cycle—periode penurunan suku bunga). Ini menunjukkan, meski inflasi terlihat melandai, tekanan dasar dapat muncul kembali dengan cepat. The Fed akan tetap bergantung pada data (data-dependent—keputusan ditentukan oleh rilis data terbaru) dan berhati-hati untuk tidak menyatakan kemenangan terlalu dini.

Dalam beberapa pekan ke depan, strategi opsi (options—kontrak derivatif yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli/menjual aset pada harga tertentu) yang bertaruh pada stabilnya suku bunga atau kenaikan perlahan dinilai lebih masuk akal dibanding strategi yang mengantisipasi penurunan besar. Volatilitas tersirat (implied volatility—perkiraan gejolak harga yang tercermin dari harga opsi) pada futures (kontrak berjangka—perjanjian jual beli di masa depan) suku bunga jangka pendek, yang sempat turun di awal 2025, masih bertahan di atas rata-rata lima tahun, saat ini sekitar 95. Trader dapat mempertimbangkan strategi menjual opsi jual (selling puts—menjual opsi yang memberi pembeli hak menjual; penjual menerima premi) pada futures SOFR Juni 2026 untuk memanfaatkan premi (premium—biaya/imbalan yang diterima penjual opsi) yang tinggi dan kecilnya peluang pemangkasan kebijakan dalam waktu dekat.

Perbedaan pada laporan 2025, ketika belanja naik sementara pendapatan turun, menjadi sinyal awal ketergantungan pada tabungan. Tren itu berlanjut, dengan tingkat tabungan pribadi nasional (personal savings rate—porsi pendapatan yang disisihkan menjadi tabungan) turun dari 4,1% pada akhir 2024 ke level terendah baru 2,7% per bulan lalu. Ini menunjukkan daya tahan konsumen mendekati batas, sehingga instrumen derivatif (derivatives—produk turunan nilainya mengikuti aset acuan) yang terkait saham konsumsi siklikal (consumer discretionary—sektor barang/jasa non-esensial yang sensitif terhadap kondisi ekonomi) terlihat makin rentan.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan klaim awal tunjangan pengangguran naik menjadi 219.000, melampaui perkiraan, untuk pekan yang berakhir 4 April

Klaim pengangguran awal (initial jobless claims: jumlah orang yang pertama kali mengajukan tunjangan pengangguran) di AS naik menjadi 219 ribu pada pekan yang berakhir 4 April, dari 203 ribu pada pekan sebelumnya (direvisi dari 202 ribu). Angka ini di atas perkiraan 210 ribu, menurut laporan Departemen Tenaga Kerja AS yang dirilis Kamis.

Rata-rata bergerak empat pekan (four-week moving average: rata-rata 4 minggu untuk menghaluskan fluktuasi data mingguan) naik 1,5 ribu menjadi 209,5 ribu, dari 208 ribu pada pekan sebelumnya (direvisi). Klaim berlanjut (continuing claims: jumlah orang yang masih menerima tunjangan pengangguran) turun 38 ribu menjadi 1,794 juta pada pekan yang berakhir 28 Maret.

Klaim Pengangguran di Atas Perkiraan

Indeks Dolar AS (DXY: indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) diperdagangkan sedikit di bawah 100,00, dengan dolar melemah tipis di tengah ketidakpastian geopolitik. Data pasar tenaga kerja digunakan untuk mengukur kondisi ekonomi dan dapat memengaruhi nilai mata uang.

Tingkat pekerjaan dapat memengaruhi belanja konsumen dan pertumbuhan, sementara pasar tenaga kerja yang ketat (tenaga kerja sulit didapat sehingga perusahaan berebut pekerja) bisa mendorong upah naik. Kenaikan upah dapat menambah inflasi (kenaikan harga secara umum) dan dipantau bank sentral saat menetapkan kebijakan.

Federal Reserve (bank sentral AS) memiliki mandat ganda: memaksimalkan lapangan kerja dan menjaga stabilitas harga, sementara Bank Sentral Eropa (ECB) lebih fokus pada inflasi. Keduanya memakai kondisi pasar tenaga kerja sebagai masukan untuk menilai tekanan inflasi dan kesehatan ekonomi secara umum.

Kenaikan klaim pengangguran awal ke 219.000 menjadi sinyal penting karena melampaui perkiraan dan angka pekan sebelumnya. Ini mengindikasikan perubahan kecil menuju pasar tenaga kerja yang mulai mendingin, meski perlu dilihat apakah ini awal tren baru atau hanya lonjakan sementara.

Prospek Gejolak Pasar

Kenaikan ini patut diperhatikan, tetapi klaim masih bergerak dalam kisaran yang relatif stabil selama berbulan-bulan, mirip dengan pola sepanjang 2024 dan 2025. Yang lebih penting, data Maret menunjukkan rata-rata upah per jam (average hourly earnings: rata-rata kenaikan upah pekerja per jam) masih tumbuh sekitar 4,1% per tahun, sehingga The Fed tetap fokus pada inflasi. Tekanan upah yang bertahan membuat cerita “ekonomi cepat mendingin” menjadi kurang kuat.

The Fed berada di antara pelemahan pasar kerja dan kenaikan upah yang masih tinggi, sehingga langkah berikutnya menjadi tidak pasti. Kondisi ini cenderung menyingkirkan peluang kenaikan suku bunga agresif (rate hikes: kenaikan suku bunga acuan), tetapi peralihan cepat ke pemangkasan suku bunga (rate cuts: penurunan suku bunga acuan) juga kecil kemungkinannya. Akibatnya, strategi yang bertaruh pada arah suku bunga yang jelas memiliki risiko besar dalam beberapa pekan ke depan.

Dengan ketidakpastian kebijakan ini, kami memperkirakan kenaikan volatilitas tersirat (implied volatility: perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi) di pasar suku bunga dan valuta asing. Trader dapat mempertimbangkan strategi yang diuntungkan dari pergerakan harga, seperti membeli straddle atau strangle (strategi opsi untuk memanfaatkan volatilitas; straddle membeli opsi beli dan jual di harga yang sama, strangle di harga berbeda) pada futures SOFR (kontrak berjangka berbasis SOFR, yaitu suku bunga acuan pasar uang AS yang menggantikan LIBOR). Posisi ini bisa menghasilkan untung baik pasar akhirnya bergerak naik maupun turun setelah rilis data ekonomi besar berikutnya.

Turunnya DXY di bawah level penting 100,00 mencerminkan perubahan sentimen terhadap dolar AS. Setelah penguatan dolar yang besar pada 2022, pelemahan saat ini bisa berlanjut bila data berikutnya menegaskan perlambatan ekonomi AS. Karena itu, kami memantau peluang untuk melakukan posisi jual dolar (short: mengambil posisi yang diuntungkan jika harga turun) terhadap mata uang negara yang bank sentralnya masih cenderung agresif menaikkan suku bunga (hawkish: pro-pengetatan kebijakan untuk melawan inflasi).

PCE Inti AS Kuartal IV Naik 2,7% secara Kuartalan, Sesuai Ekspektasi Analis Tepat dan Presisi

Pengeluaran konsumsi pribadi inti (core personal consumption expenditures/core PCE) AS naik 2,7% secara kuartalan (quarter-on-quarter/qoq: dibanding kuartal sebelumnya) pada kuartal IV. Angka ini sesuai ekspektasi pasar.

Indeks harga PCE inti (core PCE price index: ukuran inflasi dari belanja konsumen) melacak inflasi dengan mengecualikan makanan dan energi (komponen yang harganya sering bergejolak). Indikator ini dipakai untuk memantau perubahan harga “dasar” dalam pengeluaran konsumen.

Dampak Pasar dan Volatilitas

Per 9 April 2026, data Core PCE Kuartal IV 2025 yang keluar sesuai perkiraan di 2,7% mengurangi ketidakpastian utama di pasar. Karena tidak ada kejutan, volatilitas tersirat (implied volatility: perkiraan gejolak harga di masa depan yang tercermin dalam harga opsi) berpotensi menurun, karena pasar tidak perlu menyesuaikan harga akibat guncangan besar. Fokus kini bergeser ke bagaimana Federal Reserve (The Fed: bank sentral AS) menafsirkan inflasi yang stabil, tetapi masih tinggi, ini.

Angka 2,7% masih jauh di atas target The Fed 2%, sehingga peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat makin kecil. Dengan laporan ketenagakerjaan Maret 2026 mencatat penambahan 215.000 pekerjaan (indikasi pasar tenaga kerja tetap kuat), The Fed tidak memiliki dorongan besar untuk segera melonggarkan kebijakan. Pasar derivatif suku bunga (interest rate derivatives: instrumen untuk memperdagangkan/hedging arah suku bunga, seperti futures dan swap) bereaksi; probabilitas pemangkasan suku bunga pada rapat Juni 2026 turun di bawah 30%.

Bagi trader indeks saham, ini mengarah pada strategi menjual call sisi atas (upside calls: opsi beli yang untung jika harga naik) atau memakai call credit spread (strategi opsi: menjual call dan membeli call lain pada strike lebih tinggi untuk membatasi risiko). Skenario suku bunga “lebih tinggi lebih lama” biasanya menahan kenaikan indeks pasar luas seperti S&P 500. Posisi ini diuntungkan bila pasar bergerak dalam kisaran (range-bound: naik-turun di rentang sempit) atau melemah tipis dalam beberapa minggu ke depan.

Dinamika serupa terlihat sepanjang 2024, ketika inflasi yang tetap tinggi memaksa pelaku pasar terus menunda ekspektasi pemangkasan suku bunga. Periode itu lebih sering menguntungkan strategi yang bertaruh pada pergerakan harga yang tidak besar, bukan yang mengincar penembusan arah yang kuat (directional breakout: harga menembus kisaran dan bergerak kencang ke satu arah). Riwayatnya menyarankan kehati-hatian untuk memasang posisi yang mengandalkan reli pasar agresif sampai inflasi benar-benar menunjukkan penurunan yang lebih jelas.

Penempatan Posisi dan Manajemen Risiko

Harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS pada kuartal IV naik 2,9% secara kuartalan, sesuai ekspektasi pasar tanpa deviasi

Harga Personal Consumption Expenditures (PCE) AS naik 2,9% (kuartal ke kuartal) pada kuartal IV. Angka ini sesuai perkiraan pasar 2,9%.

Data ini merangkum perubahan harga barang dan jasa yang dibeli rumah tangga. PCE adalah salah satu ukuran inflasi (kenaikan harga secara umum) yang dipakai dalam laporan ekonomi AS.

Reaksi Pasar dan Volatilitas

Data harga PCE kuartal IV 2025 sesuai ekspektasi di 2,9%, sehingga tidak ada pemicu langsung untuk guncangan pasar. Karena angka ini sudah banyak diperkirakan, volatilitas tersirat (perkiraan volatilitas dari harga opsi) bisa melemah dalam waktu dekat. Pelaku pasar sedang mencerna informasi yang sudah diketahui, bukan bereaksi terhadap kejutan.

Inflasi yang stabil ini, masih jauh di atas target 2%, menguatkan pandangan bahwa Federal Reserve (bank sentral AS) tidak akan cepat menurunkan suku bunga. Data terbaru Maret 2026 mendukung hal ini: pasar tenaga kerja menambah 215.000 pekerjaan dan tingkat pengangguran bertahan rendah di 3,7%. Bagi pelaku pasar derivatif (produk turunan seperti opsi dan futures), ini berarti taruhan bahwa kebijakan akan segera berbalik menjadi lebih longgar (dovish, yaitu condong menurunkan suku bunga) kemungkinan terlalu dini.

Dalam konteks ini, strategi “lebih tinggi lebih lama” (suku bunga bertahan tinggi lebih lama) tetap masuk akal. Opsi atas futures suku bunga, seperti kontrak SOFR (Secured Overnight Financing Rate, acuan suku bunga pasar uang overnight yang dijamin), bisa dipakai untuk lindung nilai (hedging, mengurangi risiko) atau spekulasi bahwa suku bunga tetap tinggi hingga kuartal II 2026. Ini juga menyiratkan kehati-hatian untuk sektor yang sensitif terhadap suku bunga; put protektif (opsi jual untuk membatasi kerugian) pada ETF terkait dapat dipertimbangkan.

Belanja Pribadi AS Naik 0,5% pada Februari, Sesuai Perkiraan, Menandakan Konsumen Tetap Menjaga Pengeluaran Stabil

Belanja pribadi di AS naik 0,5% pada Februari, sesuai ekspektasi pasar. Angka ini menunjukkan pengeluaran rumah tangga tetap stabil di awal tahun.

Kenaikan belanja pribadi Februari sebesar 0,5% sesuai perkiraan, yang menandakan ekonomi stabil dan tidak terlalu panas (tidak tumbuh terlalu cepat). Ini menguatkan pandangan bahwa Federal Reserve (bank sentral AS) belum punya alasan kuat untuk segera mengubah kebijakan suku bunga acuannya. Ini menjadi sinyal bahwa arah pasar saat ini kemungkinan berlanjut tanpa kejutan besar dari kebijakan.

Data Inflasi Mendukung Sikap The Fed untuk Menunggu

Stabilitas ini juga didukung data inflasi terbaru pada Maret, ketika inflasi utama (headline) Indeks Harga Konsumen/Consumer Price Index (CPI, ukuran perubahan harga barang dan jasa yang dibayar konsumen) turun tipis menjadi 2,9% secara tahunan (year-over-year/yoy, dibanding periode yang sama tahun lalu). Akibatnya, kontrak berjangka suku bunga acuan The Fed (federal funds futures, perkiraan pasar atas arah suku bunga) kini hanya memberi peluang kurang dari 15% untuk perubahan suku bunga pada rapat The Fed berikutnya di Mei. Data ini memberi ruang bagi pejabat untuk menunggu dan melihat perkembangan.

Bagi pedagang derivatif (instrumen turunan nilainya mengikuti aset acuan), kondisi ini mengarah pada volatilitas tersirat yang lebih rendah dalam beberapa pekan ke depan (implied volatility, perkiraan pasar atas besar-kecilnya fluktuasi harga di masa depan yang tercermin dalam harga opsi). Strategi yang diuntungkan oleh berlalunya waktu dan harga yang stabil, seperti menjual covered call (menjual opsi beli sambil memiliki saham/aset acuannya) atau cash-secured put (menjual opsi jual dengan dana tunai disiapkan untuk membeli aset jika dieksekusi), bisa dipertimbangkan. Menjual premi opsi (options premium, harga/biaya opsi yang diterima penjual) saat ini dinilai lebih menarik daripada membelinya.

Melihat CBOE Volatility Index (VIX, indeks yang mengukur ekspektasi volatilitas pasar saham AS berbasis opsi S&P 500), indeks ini bertahan di kisaran rendah dan sempat diperdagangkan di bawah 15. Ini mencerminkan minimnya kekhawatiran dalam waktu dekat. Trader bisa mempertimbangkan posisi jual pada kontrak berjangka VIX (shorting VIX futures, mendapat untung jika VIX turun) atau menjual put spread (strategi opsi menjual satu put dan membeli put lain untuk membatasi risiko) pada indeks utama seperti S&P 500, dengan asumsi ketenangan pasar berlanjut.

Namun, tetap perlu mencermati rilis laporan ketenagakerjaan mendatang sebagai pemicu perubahan. Angka pekerjaan yang jauh lebih kuat atau lebih lemah dari perkiraan dapat mengubah pertimbangan The Fed dengan cepat. Karena itu, strategi yang mengandalkan volatilitas rendah perlu dijalankan dengan manajemen risiko yang jelas (risk management, aturan pembatasan kerugian seperti ukuran posisi dan batas kerugian).

Indeks Harga PDB AS kuartal IV di bawah ekspektasi, tercatat 3,7% dari perkiraan 3,8%

Indeks harga PDB (GDP Price Index) Amerika Serikat untuk kuartal IV berada di bawah perkiraan. Perkiraan 3,8%, sementara realisasi 3,7%.

Data Indeks Harga PDB kuartal IV 2025 sedikit lebih rendah dari perkiraan. Ini menegaskan tren yang telah dipantau, terutama setelah laporan Indeks Harga Konsumen (CPI, ukuran inflasi di tingkat konsumen) Maret 2026 terbaru menunjukkan inflasi melambat ke 3,1% secara tahunan (year-on-year, YoY). Pola ini menunjukkan tekanan kenaikan harga (inflasi) terus mereda.

Implikasi Untuk Kebijakan The Fed

Bukti pelemahan inflasi ini memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve/The Fed (bank sentral AS) akan mulai menurunkan suku bunga acuan akhir tahun ini dari level 4,75% saat ini. Karena itu, aktivitas di kontrak berjangka SOFR (SOFR futures, kontrak derivatif yang mengikuti suku bunga acuan jangka pendek SOFR/Secured Overnight Financing Rate) meningkat, dengan pasar memasang peluang lebih besar untuk setidaknya dua kali penurunan suku bunga sebelum akhir tahun. Trader dapat mempertimbangkan posisi yang diuntungkan jika suku bunga jangka pendek turun.

Untuk pasar saham, kondisi ini mendukung sektor growth dan teknologi (saham pertumbuhan yang valuasinya sangat dipengaruhi suku bunga). Salah satu strategi adalah opsi beli (call option, kontrak yang memberi hak membeli aset pada harga tertentu) pada Nasdaq 100 untuk menangkap potensi kenaikan saat biaya pinjaman diperkirakan turun. Volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan volatilitas yang tercermin dalam harga opsi) juga bisa menurun, sehingga strategi seperti menjual put spread (strategi opsi dengan menjual opsi put dan membeli opsi put lain untuk membatasi risiko) bisa lebih menarik jika pasar menilai jalur ke depan lebih mulus.

Di pasar mata uang, ekspektasi suku bunga AS yang lebih rendah bisa melemahkan dolar. Indeks Dolar AS (DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) sudah turun di bawah 103 dalam sebulan terakhir, berbeda jauh dari puncak akhir 2025. Strategi derivatif dapat berupa membeli opsi jual (put, kontrak yang memberi hak menjual aset pada harga tertentu) atas dolar atau membeli opsi beli pada mata uang seperti euro.

Situasi ini mengingatkan pada perubahan arah pasar (pivot, pergeseran kebijakan/ekspektasi) pada akhir 2023, ketika The Fed pertama kali memberi sinyal akan mengakhiri siklus kenaikan suku bunga. Saat itu, terjadi reli kuat beberapa bulan di saham dan turunnya imbal hasil obligasi (bond yield, tingkat pengembalian obligasi). Sejarah menunjukkan, mengambil posisi lebih awal untuk perubahan ini bisa menguntungkan.

Paralel Historis Dan Penempatan Posisi

Pada Maret, klaim pengangguran berkelanjutan AS tercatat 1,794 juta, di bawah perkiraan 1,84 juta

Klaim pengangguran berkelanjutan (continuing jobless claims, yaitu jumlah orang yang masih menerima tunjangan pengangguran) di AS tercatat 1,794 juta untuk pekan yang berakhir 27 Maret. Angka ini di bawah perkiraan 1,84 juta.

Realisasi tersebut 46.000 lebih rendah dari perkiraan. Data ini mengacu pada orang yang tetap berada dalam program tunjangan pengangguran.

Pasar Tenaga Kerja Masih Ketat

Data klaim pengangguran berkelanjutan akhir Maret, yang menunjukkan jumlah penerima tunjangan lebih sedikit dari perkiraan, menandakan pasar tenaga kerja masih ketat (artinya perusahaan sulit mencari pekerja dan pemutusan kerja relatif rendah). Kondisi ini membuat bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) tidak perlu buru-buru menurunkan suku bunga (interest rates, yaitu biaya pinjaman). Pasar kerja yang kuat dapat mendorong kenaikan upah, sehingga tekanan inflasi (kenaikan harga) tetap bertahan.

Menurut kami, gambaran ini memberi ruang bagi pembuat kebijakan untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan pasar. Pada pertengahan 2025, pasar sempat terlalu cepat memperkirakan pemangkasan suku bunga, sementara The Fed menahan diri karena data yang kuat. Laporan inflasi AS terbaru (CPI/Consumer Price Index, ukuran perubahan harga barang dan jasa yang dibayar konsumen) untuk Maret, yang menunjukkan inflasi masih “lengket” di 3,1% (artinya sulit turun), memperkuat sikap hati-hati ini.

Karena itu, kami memposisikan diri agar suku bunga tetap tinggi hingga musim panas. Salah satu caranya adalah membeli opsi jual (put options, kontrak yang nilainya naik jika harga aset turun) pada kontrak berjangka SOFR (SOFR futures; SOFR adalah suku bunga acuan pasar uang AS untuk pinjaman jangka sangat pendek, dan futures adalah kontrak untuk transaksi di masa depan). Strategi ini berpotensi untung jika pasar mulai mengurangi peluang pemangkasan suku bunga pada Juli. Imbal hasil (yield, tingkat keuntungan) obligasi pemerintah AS tenor 2 tahun yang naik lagi di atas 4,75% setelah rilis data menunjukkan pandangan ini mulai terbentuk.

Kondisi ini juga bisa menekan saham, sehingga kami mempertimbangkan perlindungan penurunan (downside protection, strategi membatasi kerugian saat harga turun). Kami melihat peluang pada pembelian opsi jual di indeks Nasdaq-100 (indeks saham teknologi dan pertumbuhan). Saham teknologi cenderung sensitif terhadap biaya pinjaman yang lebih tinggi. Dengan indeks volatilitas VIX (mengukur perkiraan gejolak pasar saham AS) yang baru naik di atas 16, lindung nilai (hedging, mengurangi risiko) menjadi lebih menarik.

Dolar AS berpotensi tetap kuat jika The Fed menahan suku bunga sementara bank sentral lain mulai melonggarkan kebijakan. Indeks Dolar (DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) sudah menembus 105,50, mencerminkan perbedaan arah kebijakan ini. Kami mempertimbangkan opsi beli (call options, kontrak yang nilainya naik jika harga aset naik) pada dolar AS terhadap yen Jepang, dengan asumsi perbedaan kebijakan ini masih menguntungkan dolar.

Perbedaan Arah Kekuatan Dolar

PDB AS (tahunan/annualised) kuartal IV tumbuh 0,5%, di bawah prakiraan 0,7% dan ekspektasi umum

Produk domestik bruto (PDB)—nilai total barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara—AS tumbuh pada laju tahunan (annualised, yaitu laju yang “disetarakan” menjadi angka setahun) 0,5% pada kuartal keempat. Angka ini dibandingkan dengan perkiraan 0,7%.

Hasil ini menunjukkan pertumbuhan kuartalan lebih lemah dari perkiraan. Sumber tidak memberikan rincian tambahan tentang pendorong (faktor penyebab) pertumbuhan.

Implikasi Kebijakan Federal Reserve

Laporan pertumbuhan PDB tahunan 0,5% pada kuartal keempat 2025 menegaskan perlambatan momentum ekonomi. Angka ini, yang berada di bawah perkiraan 0,7%, meningkatkan peluang Federal Reserve (The Fed/bank sentral AS) mempertimbangkan pemangkasan suku bunga lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Fokus pasar dalam beberapa pekan ke depan akan beralih ke pernyataan The Fed serta data inflasi (kenaikan harga barang/jasa) berikutnya.

Volatilitas pasar (naik-turun harga) berpotensi meningkat saat pelaku pasar mengubah posisi untuk mengantisipasi kebijakan yang lebih “dovish” (lebih longgar: cenderung menurunkan suku bunga/menambah stimulus). CBOE Volatility Index (VIX), yaitu indeks yang mengukur perkiraan volatilitas pasar saham AS, yang berada di sekitar 14, berpotensi terdorong naik. Pelaku pasar derivatif (instrumen turunan dari aset acuan) dapat mempertimbangkan membeli futures (kontrak berjangka) VIX atau call option (opsi beli: hak membeli di harga tertentu) untuk lindung nilai (mengurangi risiko) atau mencari peluang dari kenaikan volatilitas.

Di pasar saham, sinyalnya campuran. Sektor yang sensitif terhadap suku bunga perlu dicermati. Pertumbuhan yang lebih lambat biasanya buruk untuk laba perusahaan, tetapi peluang suku bunga lebih rendah dapat mengangkat valuasi (penilaian harga relatif terhadap kinerja), terutama saham teknologi dan saham bertumbuh. Opsi pada indeks seperti Nasdaq 100 (NDX) dapat digunakan untuk menyusun strategi, misalnya membeli put spread (strategi opsi jual: membeli put dan menjual put lain untuk membatasi biaya) guna melindungi risiko penurunan akibat kekhawatiran resesi (kontraksi ekonomi).

Respons paling langsung terlihat pada derivatif suku bunga, karena peluang pemangkasan suku bunga pada pertengahan tahun kemungkinan meningkat. Dengan melihat reaksi pasar pada akhir 2024 saat The Fed pertama kali memberi sinyal jeda, obligasi sempat menguat tajam. Diperkirakan pembelian kontrak berjangka Treasury note (/ZN)—obligasi pemerintah AS tenor menengah—meningkat, mendorong harga obligasi naik dan imbal hasil (yield, tingkat pengembalian) turun; yield 10 tahun sudah turun ke 3,9% pada perdagangan awal pagi ini setelah kabar tersebut.

Dampaknya juga jelas untuk pasar valuta asing. Ekspektasi suku bunga yang lebih rendah biasanya melemahkan mata uang, sehingga dolar AS berpotensi tertekan. Pelaku pasar dapat mempertimbangkan posisi jual (short: diuntungkan jika harga turun) dolar terhadap mata uang seperti euro atau yen, menggunakan kontrak berjangka atau opsi pada ETF (reksa dana yang diperdagangkan di bursa) yang melacak mata uang.

Implikasi Pasar Valuta Asing

Februari mencatat pendapatan pribadi AS turun 0,1% (mtm), di bawah ekspektasi kenaikan 0,3%

Pendapatan pribadi AS turun 0,1% secara bulanan (month on month/mom) pada Februari. Perkiraan sebelumnya adalah naik 0,3%.

Hasil ini 0,4 poin persentase di bawah perkiraan. Ini menunjukkan pendapatan turun dibandingkan Januari.

Implikasi bagi Kekuatan Konsumen

Penurunan pendapatan pribadi 0,1% pada Februari yang tidak terduga, berlawanan dengan perkiraan kenaikan 0,3%, menandakan potensi retak pada kondisi konsumen. Kelemahan ini menunjukkan daya beli rumah tangga menyusut, yang dapat menekan laba perusahaan pada kuartal-kuartal mendatang. Kami menyesuaikan pandangan karena data ini tidak sejalan dengan narasi ekonomi yang lebih optimistis sepanjang tahun ini.

Laporan pendapatan ini sejalan dengan data penjualan ritel (retail sales) Maret pekan lalu yang juga lebih buruk dari perkiraan, dengan penurunan 0,4%. Sementara itu, inflasi inti (core CPI, yaitu indeks harga konsumen yang tidak memasukkan harga pangan dan energi yang bergejolak) juga melambat ke laju tahunan 2,9% pada rilis terbaru. Pasar kini mengalihkan fokus ke kebijakan Federal Reserve (bank sentral AS). CME FedWatch Tool (alat berbasis harga kontrak futures yang memperkirakan peluang perubahan suku bunga The Fed) kini menunjukkan peluang 60% pemangkasan suku bunga pada rapat Juli, naik dari 35% sebulan lalu.

Dengan kondisi ini, kami melihat peluang untuk menambah perlindungan jika pasar turun melalui opsi (options, instrumen derivatif yang memberi hak—bukan kewajiban—untuk membeli/menjual aset pada harga tertentu) pada indeks utama seperti SPX (indeks S&P 500). Membeli put spread (strategi membeli opsi jual/put dan menjual put lain pada level berbeda untuk menekan biaya) dapat menjadi lindung nilai (hedge, perlindungan portofolio dari risiko penurunan) yang lebih hemat biaya terhadap potensi turunnya pasar akibat konsumsi yang melambat. Kami juga dapat mempertimbangkan menambah posisi pada opsi beli VIX (VIX call options; VIX adalah indeks volatilitas yang sering disebut “indeks ketakutan” karena naik saat pasar bergejolak), karena kejutan data ekonomi seperti ini sering mendahului kenaikan volatilitas pasar.

Pertimbangan Penempatan Posisi Taktis

Situasi ini mengingatkan pada pola serupa pada kuartal II 2025, ketika perlambatan pertumbuhan pendapatan mendahului koreksi pasar 5% dalam beberapa minggu berikutnya. Pada periode tersebut, posisi beli pada futures Treasury (kontrak berjangka obligasi pemerintah AS) berkinerja sangat baik karena imbal hasil (yield, tingkat pengembalian obligasi) turun saat investor mencari aset aman (flight to safety, perpindahan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman). Kami memperkirakan dinamika serupa dapat terjadi sekarang, sehingga posisi beli pada futures US Treasury tenor 10 tahun (10-year Treasury note futures/Zn) menjadi strategi taktis.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code