Back

Dolar Australia Menguat Terhadap Dolar AS, Uji 0,6950 Setelah Rebound dari SMA 100-Hari seiring Dolar AS Melemah Menjelang Tenggat Waktu

Dolar Australia menguat terhadap Dolar AS pada Selasa seiring Dolar AS melemah menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump bagi Iran untuk mencapai kesepakatan atau membuka kembali Selat Hormuz pada pukul 20.00 Waktu AS Timur (00.00 GMT Rabu). AUD/USD berada di sekitar 0,6955, naik sekitar 0,54% pada hari itu.

Indeks Dolar AS (DXY)—ukuran kekuatan Dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama—diperdagangkan di sekitar 99,80 setelah gagal bertahan di atas 100. Dolar Australia juga mendapat dukungan dari Yuan China yang lebih kuat setelah Bank Sentral China (People’s Bank of China/PBoC) menetapkan nilai acuan harian di 6,8854, level terkuat dalam hampir tiga tahun.

Level Teknikal yang Perlu Diperhatikan

Pada grafik harian, AUD/USD memantul setelah bertahan di atas Simple Moving Average (SMA) 100 hari di 0,6842. SMA adalah rata-rata harga penutupan dalam periode tertentu dan sering dipakai sebagai penanda arah tren. Pasangan ini menguji 0,6950, yang sebelumnya merupakan level penopang (support) dan kini menjadi hambatan (resistance).

Kenaikan di atas 0,6950 dapat membuka peluang menuju 0,7000, dekat dengan SMA 50 hari di 0,7024. Jika harga ditutup di bawah SMA 100 hari, area berikutnya yang diperhatikan adalah 0,6700, yang disebut sebagai zona “breakout” sebelumnya (area saat harga dulu menembus dan bergerak kuat).

RSI (Relative Strength Index/Indeks Kekuatan Relatif)—indikator momentum untuk melihat apakah pasar cenderung jenuh beli atau jenuh jual—bergerak kembali mendekati 50 (area netral). MACD (Moving Average Convergence Divergence)—indikator yang membandingkan dua rata-rata bergerak untuk membaca arah dan kekuatan momentum—masih sedikit di bawah garis sinyalnya namun naik menuju nol, sementara histogram (selisih antara MACD dan garis sinyal) menyempit, menandakan tekanan arah sebelumnya mulai berkurang.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Maurice van Sante dari ING meyakini kenaikan harga minyak dan gas akibat konflik di Timur Tengah akan mendorong naik biaya bahan bangunan di Eropa

Konflik di Timur Tengah telah mendorong naik harga minyak dan gas. Kenaikan biaya energi diperkirakan akan menaikkan biaya bahan bangunan di Eropa seperti semen, beton, dan batu bata.

Ketergantungan produsen pada minyak dan gas disebut mirip dengan level tahun 2022. Jika harga energi tetap tinggi, pabrikan kemungkinan akan meneruskan kenaikan biaya ini kepada perusahaan konstruksi.

Risiko Penerusan Kenaikan Harga Energi

Penerusan biaya ini dapat menekan margin laba (sisa keuntungan setelah biaya) di sektor konstruksi. Biaya pembangunan juga bisa naik dan aktivitas pembangunan melemah.

Pada 2010 hingga 2020, sektor ini mengurangi penggunaan minyak untuk pemanas dalam jumlah besar. Namun, dalam lima tahun terakhir tidak ada penurunan lagi pada penggunaan minyak.

Pada 2020 hingga 2025, perusahaan terutama mengurangi penggunaan batu bara. Penggunaan gas relatif tidak berubah selama 15 tahun terakhir.

Izin mendirikan bangunan (building permits, persetujuan resmi untuk memulai proyek) sempat naik belakangan. Pemulihan yang lebih lama dikaitkan dengan pasar energi yang lebih stabil dan metode produksi yang lebih hemat energi.

Posisi Pasar dan Lindung Nilai

Dengan ketegangan terbaru di Timur Tengah yang mendorong minyak mentah Brent (patokan harga minyak global) kembali mendekati US$95 per barel, dampak langsung terlihat pada sektor yang bergantung pada energi. Kondisi ini mirip dengan tekanan pada 2022, saat harga energi tinggi cepat diteruskan oleh produsen. Sektor bahan bangunan Eropa, yang sangat bergantung pada gas alam dan minyak, sangat rentan terhadap lonjakan harga ini.

Melihat ke belakang, perusahaan bahan bangunan hanya sedikit mengurangi ketergantungan pada minyak dan gas pada 2020–2025. Meski penggunaan batu bara dihentikan bertahap, ketergantungan pada gas tetap tinggi selama lebih dari 15 tahun, sehingga perusahaan mudah terdampak. Kinerja indeks STOXX Europe 600 Construction & Materials (indeks saham sektor konstruksi dan material Eropa) yang tertinggal hampir 5% dari pasar yang lebih luas dalam kuartal terakhir menunjukkan risiko ini sudah mulai diperhitungkan investor.

Untuk beberapa pekan ke depan, pelaku pasar dapat mempertimbangkan posisi yang mengantisipasi penurunan lanjutan di sektor ini karena margin laba tertekan. Salah satu strategi adalah membeli opsi jual (put option, kontrak yang memberi hak menjual aset pada harga tertentu) pada emiten utama seperti HeidelbergCement atau Saint-Gobain untuk memanfaatkan potensi penurunan laba. Pandangan ini didukung data terbaru Eurostat (badan statistik Uni Eropa) Februari 2026 yang menunjukkan harga produsen industri untuk bahan konstruksi naik 1,2%, menandakan tekanan kenaikan biaya mulai terjadi.

Pada saat yang sama, kondisi ini membuka peluang strategi pasangan (pair trade, membeli satu aset dan menjual aset lain untuk memanfaatkan perbedaan kinerja) dengan mengambil posisi beli pada sektor energi. Harga minyak dan gas yang tinggi yang menekan pabrikan berpotensi meningkatkan pendapatan produsen energi. Pilihannya antara lain opsi beli (call option, kontrak yang memberi hak membeli aset pada harga tertentu) pada perusahaan energi Eropa besar atau kontrak berjangka (futures, perjanjian jual-beli pada harga dan tanggal tertentu) yang terkait gas alam Eropa sebagai lindung nilai (hedging, langkah untuk mengurangi risiko) atau untuk meraih keuntungan dari mahalnya energi yang bertahan.

Sinyal positif dari kenaikan tipis izin bangunan pada akhir 2025 kini terlihat rapuh. Laporan terbaru menunjukkan izin baru melambat di Jerman dan Prancis, mengindikasikan perkiraan biaya pembangunan yang lebih tinggi sudah menekan permintaan konstruksi. Ketidakpastian yang meningkat ini mengarah pada kenaikan volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan pasar atas besarnya naik-turun harga ke depan), sehingga strategi opsi yang diuntungkan dari pergerakan harga besar, seperti straddle (membeli opsi jual dan opsi beli sekaligus pada harga dan jatuh tempo yang sama), bisa menarik.

AUD Menguat terhadap USD, Uji 0,6950, Ketidakpastian Pasar Tekan Dolar AS Menjelang Tenggat Iran

Dolar Australia menguat terhadap Dolar AS pada Selasa, seiring melemahnya Dolar AS menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump agar Iran mencapai kesepakatan atau membuka kembali Selat Hormuz sebelum pukul 20.00 Waktu Timur AS (00.00 GMT, Rabu). AUD/USD diperdagangkan dekat 0,6955, naik sekitar 0,54%, sementara Indeks Dolar AS (DXY)—ukuran kekuatan Dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama—berada di sekitar 99,80 setelah gagal bertahan di atas 100.

AUD juga ditopang oleh Yuan China yang lebih kuat setelah Bank Sentral China (People’s Bank of China/PBoC) menetapkan kurs acuan harian di 6,8854, yang merupakan level terkuat dalam hampir tiga tahun. AUD sering bergerak searah dengan sentimen terkait China karena hubungan dagang Australia yang erat dengan China.

Audusd Tests Key Resistance

Pada grafik harian, AUD/USD memantul setelah bertahan di atas Simple Moving Average (SMA) 100 hari di 0,6842. SMA adalah rata-rata harga penutupan dalam periode tertentu yang sering dipakai untuk membaca arah tren. Pasangan ini menguji 0,6950, yang berubah dari area penopang (support) menjadi hambatan (resistance) jangka pendek.

Kenaikan di atas 0,6950 berpotensi mengarah ke 0,7000 dan SMA 50 hari di 0,7024. Area penopang tetap berada di sekitar SMA 100 hari, dan penutupan harian di bawahnya dapat membuka jalan ke 0,6700.

RSI (Relative Strength Index)—indikator untuk mengukur kuat-lemahnya dorongan beli/jual—bergerak kembali mendekati 50. MACD (Moving Average Convergence Divergence)—indikator yang membandingkan dua rata-rata bergerak untuk membaca momentum—masih di bawah garis sinyalnya namun naik mendekati nol, dan histogram menyempit.

Trade Talks Add Market Fragility

Saat ini, pembahasan ulang tarif dagang AS-Uni Eropa menciptakan kondisi pasar yang lebih rapuh. Indeks Dolar AS turun 1,2% dalam dua pekan terakhir dan kesulitan bertahan di sekitar 101,50. Ini mendorong penguatan mata uang utama lain, termasuk dolar Australia.

Kekuatan dolar Australia juga didukung data ekonomi China yang positif. Laporan terbaru menunjukkan pertumbuhan PDB kuartal I sebesar 5,1%, di atas perkiraan, sehingga memperkuat permintaan komoditas Australia. Harga bijih besi naik lebih dari 8% dalam sebulan terakhir, yang langsung mengangkat nilai ekspor Australia.

Dengan latar ini, pedagang dapat mempertimbangkan peluang kenaikan lanjutan di AUD/USD. Salah satu opsi adalah membeli call option—kontrak yang memberi hak (bukan kewajiban) untuk membeli pada harga tertentu—dengan strike price (harga kesepakatan) sekitar 0,7150 untuk menangkap potensi kenaikan beberapa pekan ke depan. Strategi ini memungkinkan ikut menikmati kenaikan sambil membatasi risiko turun pada premi (biaya) yang dibayar.

Untuk mengelola risiko, perhatikan level penopang utama untuk memasang put option pelindung. Put option adalah kontrak yang memberi hak untuk menjual pada harga tertentu, sehingga berfungsi seperti “asuransi” saat harga turun. SMA 100 hari, kini dekat 0,6920, menjadi lantai teknikal yang kuat. Penembusan di bawah level ini akan menjadi sinyal perubahan momentum dan alasan keluar dari posisi beli.

Indikator teknikal saat ini mendukung prospek positif. RSI naik di atas 60, menandakan dorongan beli menguat. MACD juga menunjukkan bullish crossover—saat garis MACD memotong naik garis sinyal—yang biasanya menandakan tren naik masih berlanjut.

Elias Haddad dari BBH Perkirakan RBI, NBP, BCRP, dan BOK Akan Mempertahankan Suku Bunga Acuan Pekan Ini

Brown Brothers Harriman memperkirakan empat bank sentral akan mempertahankan suku bunga kebijakan pada rapat pekan ini. Bank tersebut adalah Reserve Bank of India (RBI), Bank Sentral Polandia (NBP), bank sentral Peru (BCRP), dan Bank of Korea (BOK).

RBI diperkirakan menahan suku bunga pada 5,25% untuk rapat kedua pada Rabu. Bank ini bisa mengubah sikap kebijakan dari netral menjadi lebih ketat karena prospek inflasi melemah.

Bank Sentral Diperkirakan Menahan

NBP diperkirakan menahan suku bunga pada 3,75% pada Kamis setelah pemangkasan 25 bps (basis poin, 1 bps = 0,01%) pada 4 Maret. Perkiraan pasar di instrumen swap (kontrak untuk menukar arus pembayaran, sering dipakai membaca ekspektasi suku bunga) menunjukkan kenaikan sekitar 60 bps dalam 12 bulan ke depan.

BCRP Peru diperkirakan menahan suku bunga pada 4,25% untuk rapat ketujuh pada Kamis. Inflasi CPI (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen, ukuran kenaikan harga barang dan jasa) utama (headline, angka total) dan inti (core, tanpa komponen yang bergejolak seperti makanan dan energi) naik pada Maret di atas target bank 1% hingga 3%.

BOK diperkirakan menahan suku bunga pada 2,50% untuk rapat ketujuh pada Jumat. Proyeksi suku bunga enam bulan ke depan bisa berubah dan mengarah ke kenaikan, bukan jalur suku bunga tetap.

Reserve Bank of India diperkirakan menahan suku bunga repo (suku bunga acuan untuk pinjaman jangka pendek bank ke bank sentral) di 6,0% pekan ini, namun risikonya tidak seimbang. Setelah data CPI Maret menunjukkan inflasi kembali naik ke 4,9%, ada risiko nada gubernur menjadi lebih “hawkish” (lebih cenderung menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi). Situasi ini mirip 2025, saat dewan mempertimbangkan beralih ke sikap lebih ketat karena prospek inflasi memburuk.

Fokus pada Arah Kebijakan ke Depan

Bank sentral Polandia kemungkinan mempertahankan suku bunga kebijakan di 4,50%, namun fokus pasar pada arah kebijakan ke depan (forward guidance, sinyal bank sentral tentang langkah suku bunga berikutnya) dari Gubernur Glapinski. Pasar swap saat ini memperkirakan kenaikan lebih dari 50 bps dalam setahun ke depan karena pertumbuhan upah masih tinggi. Ini mengulang pola Maret 2025, ketika kurva swap (gambaran ekspektasi suku bunga untuk berbagai tenor) juga menunjukkan kenaikan besar dan dipantau pelaku pasar.

Kami memperkirakan bank sentral Peru akan menghentikan sementara siklus pelonggaran (easing, penurunan suku bunga) dan menahan suku bunga di 5,00% untuk rapat kedua berturut-turut. Risiko inflasi kembali naik, dengan inflasi Maret mencapai 3,2%, sedikit di atas target 1–3%. Pola ini juga terlihat pada 2025, yang membuat BCRP menahan suku bunga selama tujuh rapat beruntun.

Bank of Korea diperkirakan mempertahankan suku bunga kebijakan di 3,50%, level yang dipertahankan lebih dari dua tahun. Risiko utama bagi pelaku pasar adalah kejutan “hawkish” dalam proyeksi ke depan, terutama setelah won Korea melemah menembus level psikologis 1.400 per dolar AS (angka bulat yang sering menjadi perhatian pasar). Ini sejalan dengan potensi perubahan sikap yang dipantau pada 2025, ketika dewan mempertimbangkan memberi sinyal kenaikan suku bunga, bukan mempertahankan proyeksi stabil.

Saat pasar gelisah, harga emas berfluktuasi seiring tenggat ultimatum Presiden Trump soal kesepakatan Iran kian dekat

Emas (XAU/USD) bergerak naik-turun tanpa arah jelas pada Selasa, di sekitar $4.658, saat pasar menunggu perkembangan menjelang tenggat waktu Donald Trump untuk Iran. Tenggat itu ditetapkan pukul 20.00 Waktu Pantai Timur AS (00.00 GMT pada Rabu), dengan peringatan yang terkait Selat Hormuz (jalur laut strategis untuk pengiriman minyak global).

Trump mengatakan Iran harus “membuat kesepakatan atau membuka Selat Hormuz” serta mengancam akan menargetkan infrastruktur energi dan fasilitas sipil Iran jika tidak ada kesepakatan. IRNA melaporkan Teheran menolak proposal gencatan senjata (penghentian tembak-menembak sementara) yang disampaikan melalui Pakistan dan mengeluarkan rencana 10 poin yang menyerukan pengakhiran perang secara permanen, pencabutan sanksi, serta kerangka jalur aman lewat Selat Hormuz.

Reaksi Pasar Dan Peran Aset Aman

Emas sulit mendapat dorongan sebagai aset aman (instrumen yang biasanya diburu saat risiko meningkat), karena Dolar AS tetap kuat dan kebutuhan likuiditas (permintaan memegang uang tunai/aset mudah dicairkan) masih tinggi. Kenaikan harga minyak menambah kekhawatiran inflasi (kenaikan harga barang/jasa) dan menurunkan harapan pemangkasan suku bunga.

Data CPI AS (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen, ukuran inflasi) bulan Maret akan rilis pekan ini, dengan perkiraan 0,9% bulanan (dari 0,3%) dan 3,3% tahunan (dari 2,4%). Pasar sebagian besar sudah menghapus ekspektasi pemangkasan suku bunga tahun ini.

Permintaan bank sentral berlanjut, dengan China menambah sekitar 160.000 troy ounce (sekitar 5 ton; troy ounce adalah satuan untuk logam mulia) pada Maret untuk bulan ke-17 berturut-turut, dan bank sentral global membeli bersih 25 ton dalam dua bulan pertama. Pada grafik 4 jam, level harga mencakup SMA (Simple Moving Average/rata-rata pergerakan sederhana, indikator untuk melihat arah tren) 100-periode dekat $4.654, SMA 200-periode dekat $4.908, SMA 50-periode sekitar $4.585, serta area pelemahan di $4.400 dan $4.100. RSI (Relative Strength Index/indikator momentum untuk menilai kuat-lemahnya dorongan beli/jual) bertahan dekat 50, sementara MACD (Moving Average Convergence Divergence/indikator tren dan momentum) tetap di bawah garis sinyalnya.

Pendekatan Trading Dan Antisipasi Gejolak

Dengan latar ini, pelaku pasar dapat mengantisipasi kenaikan implied volatility (perkiraan gejolak harga ke depan yang tercermin pada harga opsi) dalam beberapa pekan mendatang. Strategi opsi seperti long straddle (membeli call dan put pada strike dan jatuh tempo yang sama agar bisa untung dari pergerakan besar ke atas atau ke bawah) bisa efektif untuk memanfaatkan potensi lonjakan harga dua arah. Ini memungkinkan trader meraih peluang dari pergerakan besar tanpa harus menebak arah dengan tepat.

Secara umum, suku bunga tinggi cenderung menekan emas karena emas tidak memberikan imbal hasil bunga (non-yielding), sehingga daya tariknya berkurang saat instrumen berbunga menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Meski begitu, dukungan jangka panjang dari bank sentral tetap penting. Pembelian yang konsisten dapat menjadi “lantai” harga (penopang) sehingga posisi jual agresif berisiko.

Saat ini, emas masih kesulitan menembus area resistance (batas atas yang sering menahan kenaikan) di $4.850. Jika support (batas bawah yang sering menahan penurunan) kunci di $4.720 jebol, opsi put (hak untuk menjual pada harga tertentu) bisa digunakan sebagai lindung nilai (hedging) terhadap koreksi yang lebih dalam.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Elias Haddad dari BBH memperkirakan RBI, NBP, BCRP, dan BOK akan mempertahankan suku bunga acuan pekan ini

BBH memperkirakan Reserve Bank of India (RBI), National Bank of Poland (NBP), bank sentral Peru (BCRP), dan Bank of Korea (BOK) akan menahan suku bunga acuan (policy rate, suku bunga utama yang menjadi patokan biaya pinjaman di ekonomi) pada rapat pekan ini. Namun, arah risikonya berbeda di tiap bank.

RBI diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan di 5,25% untuk rapat kedua beruntun pada Rabu. Perubahan yang mungkin terjadi adalah pergeseran sikap kebijakan dari netral ke restriktif (pengetatan, artinya kebijakan lebih ketat untuk menahan inflasi) karena perkiraan inflasi melemah.

Bank Sentral Diperkirakan Menahan Suku Bunga

NBP diperkirakan menahan suku bunga acuan di 3,75% pada Kamis, setelah pemangkasan 25 bps pada 4 Maret. (bps/basis poin = 0,01%; jadi 25 bps = 0,25%). Interest-rate swaps (swap suku bunga, kontrak untuk menukar pembayaran bunga tetap dan mengambang) mencerminkan perkiraan kenaikan total 60 bps dalam 12 bulan ke depan.

BCRP diperkirakan menahan suku bunga di 4,25% untuk rapat ketujuh beruntun pada Kamis. Inflasi CPI headline (inflasi utama/total berdasarkan Indeks Harga Konsumen) dan core CPI (inflasi inti, tidak memasukkan harga yang sangat bergejolak seperti pangan dan energi) naik pada Maret dan bergerak di atas target bank 1%–3%, sehingga peluang kenaikan suku bunga tetap terbuka.

BOK diperkirakan menahan suku bunga acuan di 2,50% untuk rapat ketujuh beruntun pada Jumat. Perubahan yang mungkin adalah jalur suku bunga yang lebih hawkish (cenderung mendukung kenaikan suku bunga untuk menekan inflasi), yaitu kenaikan menggantikan pandangan suku bunga tetap dalam enam bulan ke depan.

Pasar Tetap Bergejolak saat Emas Diperdagangkan Tak Menentu, Menjelang Tenggat Ultimatum Trump soal Kesepakatan Iran yang Kian Dekat

Emas (XAU/USD) bergerak naik-turun tanpa arah jelas pada Selasa, di kisaran $4.658, seiring pasar menunggu perkembangan menjelang tenggat AS terkait Iran. Pelaku pasar memantau berita gencatan senjata atau kesepakatan.

Donald Trump menetapkan tenggat pukul 8:00 malam Waktu Timur AS (00:00 GMT Rabu) bagi Iran untuk “mencapai kesepakatan atau membuka Selat Hormuz”. Ia juga mengancam serangan ke infrastruktur energi dan fasilitas sipil Iran jika tidak ada kesepakatan.

Tenggat Iran dan Fokus Selat Hormuz

IRNA melaporkan Teheran menolak proposal gencatan senjata melalui Pakistan dan menawarkan rencana 10 poin. Rencana itu mencakup penghentian perang secara permanen, pencabutan sanksi, serta kerangka jalur aman di Selat Hormuz (jalur pelayaran sempit yang krusial bagi pengiriman minyak global).

Emas belum mendapat permintaan kuat sebagai aset aman (instrumen yang biasanya diburu saat risiko geopolitik naik), sementara Dolar AS bertahan kuat. Kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran inflasi (kenaikan harga barang/jasa secara umum) dan mendorong ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama.

Data CPI AS (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen, ukuran inflasi) Maret akan rilis pekan ini, dengan perkiraan 0,9% MoM (month-on-month/bulanan) versus 0,3% pada Februari, dan 3,3% YoY (year-on-year/tahunan) versus 2,4%. Pasar sebagian besar sudah menghapus ekspektasi pemangkasan suku bunga tahun ini.

Bloomberg melaporkan China menambah sekitar 160.000 troy ounce (sekitar 5 ton; troy ounce adalah satuan berat logam mulia) pada Maret, menjadi bulan ke-17 berturut-turut melakukan pembelian. WGC (World Gold Council/Dewan Emas Dunia) memperkirakan bank sentral global membeli bersih 25 ton dalam dua bulan pertama.

Setup Teknikal dan Strategi Opsi

Pada grafik 4 jam, XAU/USD membentuk bearish flag (pola lanjutan yang sering mengarah ke pelemahan setelah penurunan awal), dengan SMA 100-periode (Simple Moving Average/rata-rata bergerak sederhana) di dekat $4.654 dan SMA 200-periode di dekat $4.908. Level support (area harga yang kerap menahan penurunan) berada di SMA 50-periode sekitar $4.585, lalu $4.400 dan $4.100, sementara RSI (Relative Strength Index/indikator momentum) di sekitar 50 dan MACD (Moving Average Convergence Divergence/indikator tren dan momentum) sedikit negatif.

Melihat pergerakan yang tidak stabil, fokus pasar tertuju pada volatilitas (besar-kecilnya ayunan harga). Emas terjepit antara premi risiko geopolitik (tambahan harga karena ketidakpastian) dan sikap The Fed yang hawkish (cenderung ketat/menahan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi). Trader derivatif (instrumen turunan seperti opsi) bisa mempertimbangkan strategi yang diuntungkan saat harga bergerak besar, karena pasar belum menentukan arah.

Dengan implied volatility (perkiraan volatilitas dari harga opsi) pada opsi XAU/USD mulai naik, membeli straddle atau strangle bisa efektif. Straddle adalah membeli opsi call dan put pada strike (harga kesepakatan) yang sama, sedangkan strangle membeli call dan put pada strike berbeda—keduanya bertujuan mendapat untung jika harga bergerak besar ke salah satu arah tanpa menebak arahnya. Data CFTC (Commodity Futures Trading Commission/regulator AS) menunjukkan open interest (total posisi kontrak yang masih terbuka) meningkat untuk call dan put out-of-the-money (strike jauh dari harga saat ini), menandakan pemain besar bersiap pada pergerakan tegas.

Jika ketegangan mereda, pola bearish flag serupa bisa muncul. Tekanan dari Dolar AS yang kuat dan suku bunga tinggi masih ada. Penembusan di bawah support $4.585 dapat membuka peluang membeli opsi put (hak menjual di harga tertentu) dengan target $4.400, yang sebelumnya menjadi area psikologis penting.

Pound Menguat terhadap Dolar saat Optimisme Gencatan Senjata Memudar, Memicu Kekhawatiran Serangan AS Menjelang Tenggat Trump

Sterling naik lebih dari 0,20% terhadap Dolar AS pada Selasa, dengan GBP/USD (nilai tukar pound Inggris terhadap dolar AS) di dekat 1,3241 dan masih di atas level pembukaan. Sentimen risiko (selera investor terhadap aset berisiko) melemah karena pembicaraan gencatan senjata meredup dan peluang serangan AS meningkat saat tenggat waktu Donald Trump mendekat.

Indeks Dolar AS (DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) turun 0,14% ke 99,84 seiring harga minyak naik. AS menyerang Pulau Kharg, dan Iran merespons dengan menyerang kepentingan AS di Uni Emirat Arab, Irak, dan Arab Saudi.

Reaksi Pasar Terhadap Kenaikan Risiko Geopolitik

Laporan menyebut pembicaraan AS–Iran ditutup, sementara Tehran Times mengatakan belum ditutup. Dari data AS, Pesanan Barang Tahan Lama (Durable Goods Orders, pesanan untuk barang seperti mesin/kendaraan yang umur pakainya panjang) turun 1,4% pada Februari untuk bulan kedua, lebih buruk dari perkiraan penurunan 0,5%. Sementara itu, pesanan inti (core goods, tidak termasuk sektor yang paling bergejolak) naik 0,8% dibanding bulan sebelumnya (month on month/bulan ke bulan), di atas perkiraan 0,5%.

Presiden The Fed New York John Williams mengatakan guncangan energi (energy shock, lonjakan harga energi seperti minyak) dapat mendorong inflasi. Ia memperkirakan inflasi utama (headline inflation, inflasi total) naik 2,75% tahun ini. Survei The Fed New York menunjukkan ekspektasi inflasi satu tahun di 3,4% (dari 3%), tiga tahun 3,1% (dari 3%), dan lima tahun tetap 3%.

Di Inggris, PMI Jasa S&P Global (Purchasing Managers’ Index/indeks manajer pembelian, indikator aktivitas bisnis) turun ke 50,5 pada Maret dari 53,9, terendah dalam 11 bulan, sementara harga input (biaya bahan/operasional) naik. GBP/USD kemudian memangkas kenaikan saat dolar pulih.

Posisi Opsi Dalam Kondisi Volatilitas Lebih Rendah

Pada 2025, The Fed New York memperkirakan inflasi mencapai 2,75%, namun kenyataannya lebih sulit turun, dengan CPI AS terbaru (Consumer Price Index/indeks harga konsumen, ukuran inflasi) di 3,5%. Kondisi ini membuat Federal Reserve tetap ketat (restrictive stance, kebijakan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi), sehingga penurunan dolar terbatas. Perbedaan kondisi ekonomi (economic divergence) antara Inggris yang melemah dan ekonomi AS yang lebih kuat terus mendukung dolar terhadap pound.

Volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan volatilitas yang “terbaca” dari harga opsi) yang sempat tinggi saat eskalasi AS-Iran pada 2025 kini turun tajam. Indeks VIX (indikator volatilitas pasar saham AS, sering disebut “indeks ketakutan”) kini berada di kisaran belasan, jauh di bawah lonjakan saat itu. Volatilitas yang lebih rendah membuat opsi lebih murah, sehingga membeli put pada GBP/USD (opsi jual, bertaruh harga turun) bisa menjadi cara yang lebih hemat untuk berspekulasi penurunan lanjutan. Dukungan garis tren naik (rising trendline support, area dukungan berdasarkan garis tren) di dekat 1,3100 yang sempat bertahan pada 2025 sudah ditembus tegas beberapa bulan lalu, menandakan tren turun jangka panjang yang kuat.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Dow jatuh 380 poin, mengakhiri empat sesi kenaikan beruntun, seiring pelaku pasar cemas atas ultimatum terhadap Iran dan harga minyak menembus US$116

Saham AS turun setelah Dow Jones Industrial Average merosot sekitar 380 poin (0,8%) ke kisaran 46.300, setelah sempat dibuka di atas 46.800. S&P 500 melemah 0,9% dan Nasdaq Composite turun 1,3% menyusul laporan bahwa Iran menghentikan negosiasi gencatan senjata dengan AS.

Pasar bereaksi terhadap tenggat Rabu pukul 00.00 GMT yang ditetapkan Presiden Trump bagi Iran untuk menyetujui pembukaan kembali Selat Hormuz. Ia mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan jika tidak ada kesepakatan, sementara laporan menyebut pasukan AS melancarkan serangan semalam ke Pulau Kharg.

Pergerakan Minyak Dan Aset Aman

Harga minyak naik, dengan kontrak berjangka (futures, yaitu perjanjian membeli/menjual di harga tertentu untuk pengiriman di masa depan) WTI naik 3% ke atas US$116 per barel dan Brent di atas US$110. Selat Hormuz menjadi jalur sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sementara emas diperdagangkan dekat US$4.660.

Saham Broadcom naik 3% setelah memaparkan kerja sama kecerdasan buatan (AI, teknologi yang membuat komputer bisa “belajar” dari data) dengan Google dan Anthropic. Perjanjian dengan Google berlaku hingga 2031, Anthropic akan mendapatkan akses sekitar 3,5 gigawatt mulai 2027, dan perusahaan itu melaporkan “revenue run rate” (perkiraan laju pendapatan tahunan jika kinerja saat ini bertahan) sebesar US$30 miliar, naik dari US$9 miliar pada akhir 2025, dengan lebih dari 1.000 pelanggan yang membelanjakan di atas US$1 juta per tahun.

Pesanan barang tahan lama (durable goods, barang yang umur pakainya panjang seperti mesin dan kendaraan) AS turun 1,4% dibanding bulan sebelumnya, dengan peralatan transportasi turun 5,4%. Namun, pesanan di luar transportasi naik 0,8% dan pesanan barang modal inti (core capital goods, indikator belanja investasi bisnis untuk peralatan selain pertahanan dan pesawat) naik 0,6%. VIX ditutup dekat 24. VIX (Cboe Volatility Index, ukuran “tingkat ketakutan” pasar berdasarkan perkiraan naik-turunnya S&P 500) di level itu menunjukkan volatilitas tinggi. Risalah FOMC (notulen rapat bank sentral AS/Federal Reserve) dijadwalkan Rabu, lalu revisi PDB kuartal IV dan PCE Februari pada Kamis. PCE (Personal Consumption Expenditures, pengukur inflasi pilihan The Fed) menjadi acuan penting kebijakan suku bunga, sementara CPI (Consumer Price Index, inflasi versi indeks harga konsumen) Maret akan rilis Jumat.

Data Inflasi Dan Volatilitas

Di luar risiko geopolitik, data inflasi pekan ini—terutama CPI Maret pada Jumat—akan menjadi kunci. Jika konflik mereda, pasar akan kembali fokus pada Federal Reserve dan dampak biaya energi yang lebih tinggi bagi konsumen. Pada periode inflasi 2022, rilis CPI sering memicu pergerakan harian pasar di atas 2%, sehingga volatilitas di sekitar pengumuman berpotensi meningkat.

Perlu dicatat adanya perbedaan pergerakan di dalam pasar: Broadcom naik 3% berkat berita AI saat indeks utama justru turun. Lonjakan “revenue run rate” Anthropic dari level akhir 2025 menegaskan kuatnya momentum AI yang bisa tetap bertahan meski tekanan ekonomi meluas.

Laporan barang tahan lama inti yang solid—menunjukkan kenaikan bulanan beruntun dalam investasi bisnis—tidak seharusnya diabaikan. Ketahanan ekonomi ini mengindikasikan bahwa jika ancaman geopolitik segera mereda, pasar berpeluang mencatat reli pemulihan yang tajam.

Pound Menguat terhadap Dolar seiring Rumor Gencatan Senjata Meredakan Kekhawatiran, Meski Pembicaraan Tersendat dan Risiko Serangan AS Meningkat

GBP/USD naik lebih dari 0,20% pada Selasa dan diperdagangkan di sekitar 1,3241 karena harapan gencatan senjata lebih awal mendukung sentimen pasar. Laporan kemudian menyebut kesepakatan masih jauh, memicu kekhawatiran akan kemungkinan aksi AS seiring tenggat waktu Donald Trump yang makin dekat.

Minat terhadap aset berisiko melemah saat konflik Timur Tengah meningkat dan harga minyak naik. Indeks Dolar AS (DXY, ukuran kekuatan Dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) turun 0,14% ke 99,84, meski biasanya Dolar bergerak searah dengan WTI (West Texas Intermediate, patokan harga minyak mentah AS).

Laporan menyebut AS menyerang Pulau Kharg dan Iran membalas dengan menyerang kepentingan AS di Uni Emirat Arab, Irak, dan Arab Saudi. Laporan lain menyebut pembicaraan AS–Iran ditutup, sementara Tehran Times mengatakan jalur komunikasi belum ditutup.

Pesanan Barang Tahan Lama AS (Durable Goods Orders, indikator pesanan untuk barang yang dipakai lebih dari tiga tahun) turun 1,4% pada Februari, lebih buruk dari perkiraan turun 0,5%, sementara pesanan inti (core goods, tidak termasuk komponen yang mudah bergejolak) naik 0,8% dibanding bulan sebelumnya. Presiden New York Fed John Williams mengatakan guncangan energi (kenaikan tajam harga energi) bisa mendorong inflasi, dengan inflasi diperkirakan naik 2,75% tahun ini.

Survei New York Fed menunjukkan ekspektasi inflasi satu tahun di 3,4% (dari 3%), tiga tahun 3,1% (dari 3%), dan lima tahun 3%. Di Inggris, PMI Jasa S&P Global (Purchasing Managers’ Index, survei aktivitas bisnis; di atas 50 berarti ekspansi) turun dari 53,9 ke 50,5, dan harga input (biaya bahan/komponen) naik.

Hari ini, kekhawatiran stagflasi (inflasi tinggi saat ekonomi melemah) menjadi lebih nyata, karena data CPI Inggris (Consumer Price Index, inflasi harga konsumen) Maret 2026 menunjukkan inflasi tetap tinggi di 3,5%, jauh di atas target Bank of England. PMI Jasa Inggris juga turun ke zona kontraksi (di bawah 50), di 49,2, menegaskan perlambatan ekonomi. Kondisi ini menyulitkan Bank of England mempertahankan sikap hawkish (cenderung mendukung suku bunga tinggi untuk menekan inflasi) tanpa memperdalam resesi (kontraksi ekonomi).

Sebaliknya, AS lebih berhasil meredakan tekanan inflasi setelah guncangan energi 2025. Dengan Federal Reserve menahan suku bunga di 5,75%, inflasi inti AS (core inflation, inflasi tanpa komponen yang sangat bergejolak seperti energi dan pangan) turun ke 2,9%, memberi Dolar keunggulan imbal hasil (yield advantage, tingkat bunga/hasil aset berdenominasi Dolar lebih menarik) dibanding Pound. Perbedaan kinerja ekonomi ini semakin melebar, mendukung penguatan USD.

Mencermati sisi teknikal (analisis pergerakan harga dan pola grafik), kegagalan menembus resistance 1,3500 (area hambatan kenaikan) menjadi titik balik penting bagi pound. Penembusan ke bawah garis tren naik dekat 1,3100 (trendline support, area dukungan) mengonfirmasi penjual mengambil kendali pasar. Pergerakan ini membuka jalan bagi tren turun berkelanjutan hingga ke level harga saat ini.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code