Back

Chris Turner dari ING memperkirakan RBNZ akan mempertahankan suku bunga di 2,25%, dengan nada dovish dan panduan yang minim

ING memperkirakan Reserve Bank of New Zealand (RBNZ/bank sentral Selandia Baru) akan mempertahankan suku bunga kebijakan (policy rate: suku bunga acuan bank sentral yang menjadi patokan biaya pinjaman di ekonomi) di 2,25%. Rapat ini juga diperkirakan tidak membawa proyeksi baru dan hanya memberi arahan terbatas (guidance: petunjuk bank sentral tentang kemungkinan arah kebijakan ke depan).

Harga di pasar (market pricing: perkiraan pelaku pasar yang tercermin pada harga instrumen suku bunga) menunjukkan peluang pengetatan (tightening: kenaikan suku bunga/pengetatan kebijakan) yang kecil pada paruh pertama tahun ini. Menjelang akhir tahun, pasar memperkirakan kenaikan total 65bp (basis poin: 1 bp = 0,01%, jadi 65bp = 0,65%).

Prospek RBNZ dan Implikasi untuk NZD

Dolar Selandia Baru (NZD) tertinggal dari Dolar Australia (AUD) tahun ini, terkait dukungan komoditas (commodities: bahan mentah seperti bijih besi, batu bara, susu) yang lebih lemah dibanding Australia. Laporan tersebut menyebut kinerja yang tertinggal ini bisa berlanjut kecuali RBNZ menyampaikan pesan yang lebih hawkish (hawkish: cenderung mendukung kenaikan suku bunga untuk menahan inflasi).

Dengan rapat RBNZ besok, kami memperkirakan suku bunga tetap 2,25% dengan nada yang jelas dovish (dovish: cenderung menahan/menurunkan suku bunga untuk mendukung pertumbuhan). Mengingat Gubernur Breman sebelumnya sudah beberapa kali menyampaikan sikap dovish, kejutan berupa sikap lebih hawkish tampaknya kecil. Ini membuka peluang NZD melemah dalam beberapa pekan ke depan.

Data mendukung sikap hati-hati bank sentral. Inflasi kuartal pertama tahun ini turun ke 2,8%, mendekati kisaran target RBNZ, sementara PDB (GDP: nilai total barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara) kuartal lalu menunjukkan ekonomi benar-benar berhenti tumbuh. Kondisi ini memberi alasan kuat bagi RBNZ untuk menunggu perkembangan, bukan memberi sinyal kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Pendekatan Trading untuk AUD/NZD

Bagi trader, prospek ini mengarah pada pertimbangan posisi yang diuntungkan jika NZD bergerak datar atau melemah. Membeli opsi put NZD/USD (put option: kontrak derivatif yang memberi hak menjual pada harga tertentu; biasanya untung jika harga turun) dengan jatuh tempo akhir April atau Mei bisa menjadi cara langsung untuk mengambil posisi penurunan setelah rapat. Strategi ini membatasi risiko (defined risk: potensi rugi sudah diketahui sejak awal) sambil menangkap peluang penurunan.

Peluang yang lebih besar ada pada lemahnya NZD terhadap AUD. Tren ini didorong oleh ekspor komoditas industri Australia yang kuat (industrial commodities: misalnya bijih besi), dukungan yang tidak dimiliki ekonomi Selandia Baru yang lebih bergantung pada produk susu. Tanpa kejutan besar dari RBNZ, perbedaan ini berpeluang berlanjut.

Gambaran ekonomi Australia lebih kuat, sehingga perbedaan nilai tukar ini masuk akal. Harga bijih besi bertahan di atas US$120 per ton untuk sebagian besar 2026, dan inflasi Australia lebih sulit turun (stickier: bertahan tinggi/lebih lambat turun), terakhir 3,4%. Perbedaan ini membuat Reserve Bank of Australia (RBA/bank sentral Australia) berada pada posisi lebih hawkish dibanding RBNZ.

Dinamika serupa juga terlihat dalam periode panjang 2025, ketika inflasi jasa Australia yang tetap tinggi membuat bank sentralnya waspada, sementara RBNZ sudah memberi sinyal kekhawatiran atas perlambatan ekonomi. Kesenjangan kebijakan (policy gap: perbedaan arah suku bunga/kebijakan moneter) kedua negara tampak melebar lagi. Karena itu, mengambil posisi untuk kenaikan nilai tukar silang (cross exchange rate: pasangan mata uang tanpa USD, seperti AUD/NZD) AUD/NZD menjadi respons yang logis.

Trader derivatif (derivative: instrumen keuangan yang nilainya mengikuti aset acuan, seperti mata uang) bisa melakukannya dengan membeli kontrak futures AUD/NZD (futures: kontrak untuk membeli/menjual di masa depan pada harga tertentu) atau membeli opsi call pada pasangan tersebut (call option: hak membeli; biasanya untung jika harga naik) untuk beberapa pekan ke depan. Posisi ini memanfaatkan kekuatan relatif ekonomi dan kebijakan moneter (monetary policy: kebijakan pengaturan suku bunga dan likuiditas) Australia dibanding Selandia Baru.

Chris Turner memperkirakan RBNZ akan mempertahankan suku bunga di 2,25%, mengadopsi nada dovish, memberikan panduan minimal, tanpa proyeksi

ING memperkirakan Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) akan menahan suku bunga kebijakan (policy rate, yaitu suku bunga acuan bank sentral) di 2,25% pada rapat mendatang. ING juga memperkirakan tidak ada proyeksi (forecast, yaitu perkiraan resmi bank sentral tentang inflasi, pertumbuhan, dan suku bunga) baru dan hanya arahan (guidance, yaitu sinyal kebijakan ke depan) yang terbatas.

Harga di pasar menunjukkan peluang kenaikan suku bunga yang kecil pada paruh pertama tahun ini, dengan total kenaikan 65 bp (basis poin; 1 bp = 0,01%) yang sudah diperhitungkan hingga akhir tahun. Laporan tersebut menyebut komunikasi Gubernur RBNZ Anna Breman sejauh ini cenderung dovish (condong mendukung kebijakan longgar/menahan suku bunga).

Kinerja Dolar Selandia Baru

Dolar Selandia Baru (NZD) berkinerja lebih lemah dibanding dolar Australia (AUD) tahun ini, karena dukungan dari komoditas industri (misalnya bijih besi dan logam) lebih kecil dibanding Australia. Laporan itu menyebut pola ini bisa berlanjut kecuali RBNZ memberi kejutan hawkish (condong mendukung kebijakan ketat/kenaikan suku bunga) dalam konferensi pers.

Melihat kembali awal 2025, RBNZ mempertahankan sikap hati-hati dengan suku bunga di 2,25%. Nada dovish ini membuat NZD tertinggal dari AUD. Saat itu pasar hanya memperkirakan pengetatan (tightening, yaitu kenaikan suku bunga untuk menekan inflasi) yang bertahap sepanjang tahun.

Dinamika Komoditas dan Implikasi Perdagangan

Sejak itu, tekanan ekonomi berubah. Inflasi Kuartal I 2026 Selandia Baru tercatat lebih tinggi dari perkiraan di 4,8%, melampaui inflasi Australia 4,2%. Inflasi yang terus tinggi ini mendorong bank sentral mengambil sikap lebih agresif.

Akibatnya, RBNZ bergeser dari komunikasi dovish tahun lalu menjadi kebijakan yang jauh lebih hawkish. Official Cash Rate (OCR, yaitu suku bunga acuan utama RBNZ) kini berada di 5,50%, jauh di atas level 2025. Pasar saat ini memperhitungkan setidaknya dua kali kenaikan lagi sebelum akhir tahun ini.

Kita juga melihat perubahan pada dinamika komoditas yang sebelumnya menguntungkan Australia. Harga Global Dairy Trade (GDT, indeks harga lelang produk susu dunia—ekspor utama Selandia Baru) melonjak lebih dari 15% sejak Januari, sementara harga bijih besi melemah. Ini menjadi pendorong fundamental (tailwind, yaitu faktor yang mendukung penguatan) bagi NZD terhadap AUD.

Bagi trader derivatif (instrumen turunan, yaitu kontrak yang nilainya mengikuti aset lain seperti mata uang), ini mengarah pada perubahan strategi dalam beberapa pekan ke depan. Kami menilai posisi untuk penguatan NZD berlanjut terhadap AUD menarik, misalnya melalui call option NZD/AUD (opsi beli, yaitu kontrak yang memberi hak membeli pada harga tertentu). Volatilitas (naik-turunnya harga) dapat meningkat menjelang rapat RBNZ berikutnya, sehingga opsi bisa membantu mengelola risiko sambil tetap membuka peluang keuntungan jika ada kejutan hawkish.

Saldo kas Kementerian Keuangan Turki melebar menjadi -279,58 miliar pada Maret, dari -94,42 miliar sebelumnya

Defisit saldo kas Kementerian Keuangan Turki mencapai 279,58 miliar pada Maret. Angka ini dibandingkan dengan defisit 94,42 miliar pada periode sebelumnya.

Kekurangan kas pada Maret lebih besar 185,16 miliar dibanding angka sebelumnya. Data ini menunjukkan kesenjangan kas Maret melebar dibanding periode sebelumnya.

Pelebaran tajam defisit kas menjadi -279,58 miliar Lira menandakan tekanan besar pada anggaran negara (tekanan fiskal: kondisi ketika pendapatan negara tidak cukup menutup belanja sehingga perlu pembiayaan tambahan). Ini mengindikasikan pemerintah perlu menambah utang (borrowing: menarik dana lewat penerbitan surat utang atau pinjaman), yang kemungkinan besar akan menekan Lira Turki. Kami memperkirakan pasangan USD/TRY (nilai tukar dolar AS terhadap Lira Turki) akan menguji kembali level tertinggi sepanjang masa dalam waktu dekat.

Data anggaran ini memperumit arah inflasi, yang sebelumnya menunjukkan harga konsumen naik menjadi 68,1% pada Maret (inflasi: kenaikan umum harga barang/jasa). Defisit sebesar ini cenderung mendorong inflasi karena menambah kebutuhan pembiayaan dan likuiditas, sehingga peluang bank sentral memangkas suku bunga tahun ini makin kecil. Pelaku pasar derivatif (derivatif: kontrak keuangan yang nilainya mengikuti aset/acuan lain) dapat mencermati swap suku bunga (interest rate swap: kontrak tukar arus pembayaran bunga untuk mengelola atau berspekulasi atas perubahan suku bunga) yang bertaruh suku bunga bertahan di atau di atas suku bunga kebijakan 50% hingga akhir tahun.

Kami memperkirakan volatilitas tersirat (implied volatility: perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi, menggambarkan ekspektasi pasar atas naik-turun harga ke depan) pada opsi USD/TRY akan meningkat tajam dalam beberapa minggu ke depan. Trader dapat mempertimbangkan membeli opsi call (call option: hak membeli pada harga tertentu) USD/TRY berjangka panjang untuk mengambil posisi atas pelemahan Lira, sambil membatasi risiko maksimum pada premi yang dibayar.

Kenaikan risiko juga terlihat di pasar utang negara, ketika credit default swap (CDS: semacam “asuransi” gagal bayar; makin tinggi angkanya, makin besar risiko yang dipersepsikan) Turki tenor 5 tahun melebar hingga di atas 315 basis poin (basis poin: 1 bp = 0,01%). Ini menunjukkan meningkatnya kekhawatiran investor internasional. Strategi lindung nilai (hedging: mengurangi risiko kerugian) terhadap risiko pasar yang lebih luas adalah membeli opsi put (put option: hak menjual pada harga tertentu) pada indeks Borsa Istanbul 100, karena pelemahan tajam mata uang biasanya menekan pasar saham.

Pada Maret, saldo kas Treasury Turki turun menjadi -279,58 miliar, memburuk dibanding sebelumnya -94,42 miliar

Saldo kas Kementerian Keuangan Turki tercatat -279,58 miliar pada Maret. Ini dibandingkan dengan -94,42 miliar pada periode sebelumnya.

Saldo kas makin dalam defisit sebesar 185,16 miliar. Ini menunjukkan kekurangan kas pemerintah (selisih antara pemasukan dan pengeluaran tunai) pada Maret lebih besar dibanding periode sebelumnya.

Penurunan tajam saldo kas Kementerian Keuangan Turki ke -279,58 miliar lira menandakan masalah fiskal (kondisi keuangan pemerintah terkait pendapatan, belanja, dan pembiayaan) yang besar dan berpotensi menekan mata uang. Defisit yang melebar, lebih dari tiga kali lipat dibanding bulan sebelumnya, meningkatkan kebutuhan pemerintah akan pendanaan cepat (mencari dana segera lewat utang atau sumber lain). Kami memperkirakan ini memicu sentimen negatif terhadap Lira Turki (TRY) sepanjang April dan Mei.

Dengan prospek ini, pelaku pasar dapat mempertimbangkan membeli opsi call USD/TRY untuk bersiap jika lira melemah tajam. Opsi call adalah kontrak yang memberi hak (bukan kewajiban) untuk membeli USD terhadap TRY pada harga tertentu hingga tanggal tertentu. Data terbaru menunjukkan CDS (credit default swap, semacam “asuransi” risiko gagal bayar utang) tenor 5 tahun Turki sudah melebar ke 345 basis poin dari 310 bulan lalu. Basis poin adalah 0,01%. Kenaikan CDS menunjukkan pasar menilai risiko Turki meningkat. Kabar fiskal ini kemungkinan menaikkan volatilitas (tingkat naik-turun harga yang cepat), sehingga opsi dapat membantu mengelola risiko sambil tetap membuka peluang untung.

Situasi ini mirip dengan akhir 2025 ketika data inflasi yang tidak terduga memicu aksi jual cepat pada lira. Saat itu, USD/TRY naik hampir 8% dalam tiga pekan setelah rilis data. Dengan inflasi Maret 2026 masih tinggi di 69%, reaksi pasar terhadap angka fiskal yang buruk ini bisa sama kerasnya.

Bank Sentral Republik Turki (CBRT) kini berada dalam posisi sulit menjelang rapat berikutnya pada 25 April. Data defisit ini meningkatkan kemungkinan CBRT terdorong menaikkan suku bunga secara agresif untuk menahan pelemahan mata uang. Suku bunga adalah “harga” pinjaman. Kenaikan suku bunga biasanya menarik dana ke aset mata uang domestik, tetapi juga dapat menekan pertumbuhan. Pelaku pasar bisa memakai interest rate swaps (kontrak pertukaran arus bunga untuk bertaruh atau melindungi diri dari perubahan suku bunga jangka pendek) untuk berspekulasi bahwa suku bunga jangka pendek akan naik.

Henry Allen dari Deutsche Bank mengatakan Brent di atas US$100 mencerminkan kekhawatiran konflik yang hanya sementara, dengan harga diperkirakan turun ke depan

Brent crude oil yang diperdagangkan di atas US$100 belum memicu guncangan seperti era 1970-an, berdasarkan harga pasar saat ini. Pasar memperkirakan konflik berlangsung singkat dan harga minyak akan lebih rendah ke depan.

Kurva futures Brent menunjukkan *backwardation* yang tajam (kondisi saat harga kontrak futures untuk pengiriman beberapa bulan ke depan lebih rendah daripada harga saat ini/*spot*). Kontrak 6 dan 12 bulan diperdagangkan jauh di bawah harga spot. Harga seperti ini menandakan pasar memperkirakan harga akan turun dalam beberapa bulan mendatang.

Backwardation Menandakan Kenaikan Sementara

Pada 2022, futures Brent 6 bulan sempat naik di atas US$100 per barel, yang mencerminkan ekspektasi gangguan pasokan minyak yang lebih lama. Pada kenaikan saat ini di atas US$100, kurva futures tidak menunjukkan pola yang sama.

Struktur ini menunjukkan harga Brent menembus US$100 per barel, tetapi pasar futures memberi sinyal kenaikan ini hanya sementara akibat konflik jangka pendek. Saat *backwardation* tajam, kontrak pengiriman di masa depan dihargai jauh lebih rendah daripada harga spot. Misalnya, kontrak Mei 2026 berada di sekitar US$105, sementara kontrak pengiriman Oktober 2026 diperdagangkan lebih dekat ke US$92.

Struktur ini menyiratkan trader bisa mempertimbangkan *calendar spread* bearish (strategi dengan menjual kontrak bulan terdekat yang lebih mahal dan membeli kontrak bulan yang lebih jauh yang lebih murah). Trader dapat untung jika selisih harga (*spread*) mengecil sesuai perkiraan. Ini adalah cara langsung untuk bertaruh bahwa premi risiko geopolitik (tambahan harga karena risiko perang/ketegangan) akan memudar.

Dengan opsi (instrumen yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli/menjual pada harga tertentu), trader bisa mempertimbangkan menjual *call spread out-of-the-money* (menjual kombinasi opsi beli di harga yang lebih tinggi dari harga pasar saat ini, untuk menerima premi/imbalan). Langkah ini bertaruh ruang kenaikan harga terbatas. Alternatif lain adalah membeli opsi *put* (hak untuk menjual) yang jatuh tempo saat bulan-bulan musim panas. Ini cara langsung, tetapi biayanya lebih tinggi, untuk mendapat keuntungan bila harga turun kembali mendekati level yang tersirat dari kurva futures.

Dampaknya terhadap Risiko Stagflasi

Stagflasi adalah kondisi ekonomi saat inflasi tinggi tetapi pertumbuhan lemah. Keyakinan pasar bahwa lonjakan minyak hanya sementara membantu mencegah kepanikan stagflasi yang lebih luas, meski inflasi masih sulit turun. Data CPI (indeks harga konsumen, ukuran inflasi) terbaru untuk Maret 2026 tercatat 3,8% dan masih “lengket” (turunnya lambat). Namun, tidak adanya guncangan energi yang berkepanjangan menahan kekhawatiran. Selama kurva minyak tetap *backwardation*, hal ini kemungkinan membatasi seberapa agresif aset lain memasukkan skenario ekonomi terburuk ke dalam harga.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Henry Allen dari Deutsche Bank: Brent di atas US$100 mencerminkan gangguan singkat, pasar memperkirakan harga lebih rendah ke depan

Harga minyak mentah Brent di atas US$100 belum memicu guncangan seperti era 1970-an di pasar yang lebih luas. Kurva **futures** (kontrak berjangka, yaitu perjanjian membeli/menjual komoditas pada harga tertentu untuk tanggal mendatang) menunjukkan pelaku pasar memperkirakan konflik saat ini akan singkat dan harga akan turun.

Kurva Brent saat ini sangat **backwardation** (kondisi ketika harga kontrak berjangka untuk bulan-bulan mendatang lebih rendah daripada harga spot/saat ini), dengan kontrak 6 dan 12 bulan diperdagangkan jauh di bawah harga spot. Pola ini berarti pasar memperkirakan harga minyak lebih rendah dalam beberapa bulan ke depan.

Pasar Belum Memasukkan Skenario Guncangan Minyak Jangka Panjang

Pasar belum mematok **oil shock** (lonjakan harga minyak akibat gangguan pasokan besar) yang bertahan lama seperti 2022, ketika futures Brent 6 bulan sempat naik di atas US$100 per barel. Karena itu, harga berbagai aset lain belum sepenuhnya mencerminkan skenario **stagflasi** (ekonomi melambat tetapi inflasi tetap tinggi) yang berkepanjangan.

Backwardation yang tajam pada kurva futures Brent mengisyaratkan lonjakan di atas US$100 kemungkinan hanya sementara. Harga spot tinggi karena ketegangan geopolitik jangka pendek, tetapi kontrak 6 dan 12 bulan diperdagangkan dengan **diskon** (lebih murah) yang besar. Struktur ini menunjukkan pasar tidak bersiap menghadapi gangguan pasokan jangka panjang.

Bukti pendukung terlihat pada level **inventori** (persediaan) global. Persediaan minyak mentah AS baru-baru ini meningkat; data terbaru menunjukkan surplus lebih dari 3 juta barel, sehingga mengurangi kekhawatiran pasokan. Selain itu, proyeksi pertumbuhan permintaan dari konsumen besar seperti China direvisi turun ke sekitar 1,5%, sehingga faktor dasar penawaran-permintaan tidak mendukung harga tinggi yang bertahan lama.

Implikasi untuk Trader dan Aset Berisiko

Bagi trader **derivatif** (instrumen keuangan turunan yang nilainya mengikuti aset acuan seperti minyak), kondisi ini membuka peluang untuk mengambil posisi ketika kurva diperkirakan makin mendatar atau **volatilitas** (tingkat naik-turun harga) menurun. Strategi seperti menjual **call option** jangka dekat (opsi beli, memberi hak membeli pada harga tertentu) pada **strike** (harga patokan opsi) di atas US$110 bisa menarik, karena untung jika lonjakan harga mereda. Ini pada dasarnya adalah taruhan bahwa kepanikan saat ini akan mereda dalam beberapa minggu.

Pada 2022, pasar juga sempat mengalami backwardation serupa namun lebih ekstrem setelah invasi Rusia ke Ukraina. Saat itu pun, pasar memperkirakan harga ekstrem tidak akan bertahan, dan kurva mulai mendatar dalam beberapa bulan. Struktur pasar saat ini bergerak dengan pola yang mirip, hanya lebih ringan.

Bentuk kurva futures ini juga menahan kekhawatiran stagflasi di kelas aset lain. Selama pasar percaya biaya energi akan turun, pelaku pasar cenderung tidak menjual besar-besaran saham atau obligasi untuk mengantisipasi krisis ekonomi ala 1970-an. Ini membantu menjelaskan mengapa reaksi di pasar lain sejauh ini relatif terbatas.

Savage: Data Zona Euro dan Pernyataan ECB Menunjukkan Konflik Iran dan Guncangan Energi Membebani Prospek Pertumbuhan Ekonomi Euro

Data Zona Euro dan komentar Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) menunjukkan risiko penurunan untuk euro meningkat, terkait perang Iran dan lonjakan harga energi yang menekan pertumbuhan serta sentimen pelaku usaha dan konsumen. Euro menjadi yang paling lemah di antara mata uang utama, seiring arus dana keluar dari mata uang berbunga rendah (mata uang dengan suku bunga rendah) seperti JPY, SEK, dan NZD.

Anggota Dewan Gubernur ECB Dimitar Radev mengatakan prospek Zona Euro berpotensi memburuk lebih cepat dari perkiraan, dengan ketidakpastian yang lebih tinggi dan dampak guncangan yang lebih kuat terhadap ekspektasi inflasi (perkiraan inflasi ke depan). Ia menyebut peluang skenario yang lebih buruk kini meningkat.

Risiko Naik Untuk Euro

Radev mengatakan bahwa jika guncangan ini merembet ke upah, margin laba perusahaan, dan ekspektasi inflasi, biaya menunda kebijakan akan meningkat, sehingga mendukung respons kebijakan yang lebih cepat. Ia juga menyebut masih terlalu dini untuk memastikan apakah data yang tersedia akan cukup untuk keputusan yang jelas pada rapat ECB bulan April.

Anggota Dewan Gubernur Pierre Wunsch mengatakan ECB mungkin perlu mulai menaikkan suku bunga paling cepat pada April dan terus mengetatkan kebijakan jika guncangan energi berlanjut. Inflasi naik ke 2,5% pada Maret, dan ia memperingatkan inflasi bisa naik lagi jika terjadi efek putaran kedua (second-round effects: ketika kenaikan biaya energi mendorong kenaikan upah dan harga barang lain sehingga inflasi makin menyebar).

Euro tetap menjadi yang paling tertinggal karena dana mengalir keluar dari kawasan ini menuju mata uang dengan imbal hasil lebih tinggi (suku bunga lebih tinggi). Perang Iran dan guncangan energi terkait menciptakan risiko besar bagi pertumbuhan dan sentimen di Eropa. Kondisi ini menempatkan ECB pada pilihan sulit: pertumbuhan melambat, tetapi inflasi naik.

Dampak biaya energi tinggi terlihat langsung, dengan minyak mentah Brent melonjak lebih dari 40% sejak konflik dimulai akhir tahun lalu, kini diperdagangkan di atas US$125 per barel. Ini memukul sektor manufaktur, terutama di Jerman, di mana pesanan pabrik turun selama tiga bulan berturut-turut. Pembacaan terbaru PMI Manufaktur Zona Euro (Purchasing Managers’ Index/indeks aktivitas manajer pembelian) di 45,8 menunjukkan kontraksi yang makin dalam (angka di bawah 50 berarti aktivitas menyusut).

Volatilitas Pasar Dan Dilema Kebijakan

Pejabat ECB jelas khawatir terhadap efek putaran kedua inflasi, ketika biaya energi tinggi merembes ke upah dan inflasi inti (core inflation: inflasi yang lebih stabil setelah mengeluarkan komponen bergejolak seperti energi dan pangan). Mereka menyinggung kesalahan kebijakan pada 2022, ketika dianggap terlambat merespons lonjakan inflasi awal. Pengalaman itu mendorong sikap lebih agresif sekarang, meski ekonomi melemah.

Benturan antara bank sentral yang cenderung “hawkish” (hawkish: condong mengetatkan kebijakan dengan menaikkan suku bunga) dan ekonomi yang memburuk meningkatkan ketidakpastian pasar. Volatilitas saham Eropa naik, dengan indeks VSTOXX (indikator volatilitas pasar saham Eropa) meningkat lebih dari 30% sejak konflik meningkat pada kuartal IV 2025. Bagi pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi), ini berarti premi opsi (biaya membeli opsi) menjadi lebih mahal, mencerminkan risiko pergerakan harga yang tajam.

Dengan tekanan pada ekonomi, arah yang paling mungkin untuk euro adalah melemah, terutama terhadap dolar AS. Nilai tukar EUR/USD sudah turun dari di atas 1,10 pada musim gugur lalu menjadi di bawah 1,05 baru-baru ini, dan penurunan lanjutan masih mungkin. Strategi yang bisa dipertimbangkan adalah membeli opsi jual (put: hak untuk menjual pada harga tertentu) atas euro atau membuat bear put spread (strategi opsi: membeli put dan menjual put lain pada strike berbeda untuk menekan biaya, dengan bias penurunan).

Dalam beberapa pekan ke depan, pasar perlu mencermati data kilat inflasi CPI Zona Euro (flash CPI: rilis awal/perkiraan cepat inflasi) dan laporan negosiasi upah. ECB memberi sinyal keputusan suku bunga April bergantung pada data, terutama apakah inflasi mulai “mengakar” (embedded: bertahan dan sulit turun). Tanda percepatan kenaikan upah dapat memaksa ECB menaikkan suku bunga saat ekonomi melambat, yang bisa makin menekan euro.

Buka akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Optimisme Ekonomi AS RealClearMarkets/TIPP turun menjadi 42,8 secara bulanan, meleset dari ekspektasi 48,1 pada April

Indeks Optimisme Ekonomi RealClearMarkets/TIPP di Amerika Serikat tercatat 42,8 pada April. Angka ini di bawah perkiraan 48,1.

Indeks ini mengukur sikap konsumen terhadap kondisi ekonomi dan keuangan pribadi. Angka di bawah 50 umumnya berarti lebih banyak pesimisme daripada optimisme.

Pembacaan optimisme ekonomi TIPP April sebesar 42,8 jauh di bawah perkiraan 48,1, sehingga berada kuat di zona pesimistis. Ini menjadi angka terendah dalam enam bulan terakhir dan menunjukkan kepercayaan konsumen melemah lebih besar dari perkiraan. Ini mengarah pada sikap pasar “risk-off” (investor mengurangi aset berisiko seperti saham dan beralih ke aset yang lebih aman) dalam beberapa pekan ke depan, mengingat konsumsi rumah tangga adalah penopang utama ekonomi.

Bagi trader indeks saham, ini mengarah pada pembukaan posisi “bearish” (bertaruh harga turun) di kontrak berjangka (futures) S&P 500 dan Nasdaq. Membeli opsi jual (put option, hak untuk menjual pada harga tertentu) pada ETF consumer discretionary (ETF sektor barang/jasa non-kebutuhan, seperti ritel dan hiburan) juga dapat menjadi langkah perlindungan (hedging), karena sektor ini paling rentan ketika kepercayaan melemah. Pesimisme ini masuk akal, terutama setelah data penjualan ritel Maret 2026 nyaris tidak tumbuh dibanding bulan sebelumnya.

Selisih besar antara ekspektasi dan realisasi biasanya meningkatkan ketidakpastian pasar, sehingga strategi “long volatilitas” (bertaruh volatilitas/naik-turunnya harga meningkat) menjadi menarik. Strateginya antara lain membeli opsi beli (call option, hak untuk membeli pada harga tertentu) pada VIX atau kontrak berjangka VIX. VIX adalah indeks volatilitas yang sering disebut “indeks ketakutan” karena mengukur perkiraan gejolak pasar saham AS. Strategi ini mengantisipasi kenaikan dari level rendah saat ini di sekitar 15, dan berfungsi sebagai lindung nilai langsung terhadap kecemasan pasar yang dapat dipicu data konsumen ini.

Penurunan tajam sentimen konsumen menekan langkah berikutnya dari Federal Reserve (bank sentral AS), sehingga kenaikan suku bunga lanjutan menjadi lebih kecil kemungkinannya. Karena itu, ada peluang mengambil posisi “long” (bertaruh harga naik) pada futures US Treasury (kontrak berjangka obligasi pemerintah AS), karena harga obligasi cenderung naik ketika pandangan kebijakan moneter lebih “dovish” (lebih longgar, condong menahan/menurunkan suku bunga). Pasar obligasi sebelumnya memperhitungkan peluang 50% kenaikan suku bunga lagi pada Juli, peluang yang kini berpotensi turun tajam.

Optimisme Ekonomi AS RealClearMarkets/TIPP pada April Turun ke 42,8 secara Bulanan, di Bawah Perkiraan 48,1

Indeks Optimisme Ekonomi RealClearMarkets/TIPP di Amerika Serikat tercatat 42,8 pada April. Angka ini di bawah perkiraan 48,1.

Secara bulanan (month-on-month, perbandingan dengan bulan sebelumnya), indeks tetap berada di bawah level 50. Data ini menunjukkan optimisme ekonomi lebih rendah dari perkiraan.

Pesimisme Konsumen Meningkat

Dengan Indeks Optimisme Ekonomi TIPP April di 42,8, jauh di bawah ekspektasi 48,1, ini menjadi sinyal jelas bahwa pesimisme konsumen meningkat. Selisih yang besar ini mengindikasikan potensi perlambatan belanja, yang sering mendahului pelemahan pasar yang lebih luas. Pelaku pasar perlu mengantisipasi kenaikan volatilitas (gejolak naik-turun harga) dalam beberapa pekan ke depan.

Sentimen negatif ini memperkuat alasan volatilitas bisa meningkat karena ketidakpastian naik. Kita sudah melihat VIX—indeks volatilitas yang sering disebut “indeks ketakutan” pasar—naik ke atas 18 pekan lalu, keluar dari kisaran pergerakan sebelumnya. Membeli opsi call (kontrak yang memberi hak untuk membeli pada harga tertentu sebelum jatuh tempo) pada produk yang terkait volatilitas dapat menjadi cara langsung untuk mengambil posisi atas potensi gejolak ini.

Berdasarkan data tersebut, pelaku pasar perlu bersiap untuk kemungkinan koreksi (penurunan sementara) pada indeks utama. Membeli opsi put (kontrak yang memberi hak untuk menjual pada harga tertentu sebelum jatuh tempo) pada S&P 500 dan Nasdaq 100 dapat menjadi lindung nilai (hedging, strategi mengurangi risiko) atau taruhan penurunan secara langsung atas pelemahan yang dipicu konsumsi. Rilis CPI Maret terakhir sebesar 3,4% memperkuat pandangan ini, karena inflasi yang masih tinggi jelas menekan anggaran rumah tangga dan kepercayaan.

Kewaspadaan perlu ditingkatkan pada saham consumer discretionary (sektor barang/jasa non-esensial, seperti ritel dan hiburan), yang paling rentan jika belanja turun. Sebaliknya, sektor defensif seperti consumer staples (barang kebutuhan pokok) dan utilitas (listrik, air, gas) berpotensi menjadi tempat berlindung saat pasar melemah. Pandangan ini dapat diekspresikan lewat opsi dengan membeli put pada ETF discretionary (ETF, reksa dana berbentuk saham yang diperdagangkan di bursa) sambil menjual put pada dana sektor staples (menjual put berarti menerima premi, tetapi memiliki kewajiban membeli jika harga turun ke level tertentu).

Pelemahan konsumen ini menyulitkan Federal Reserve (bank sentral AS), terutama setelah sinyal terbaru bahwa pemangkasan suku bunga bisa tertunda melewati musim panas. Mengingat penurunan sentimen konsumen yang serupa pada kuartal II 2025 pernah memicu koreksi pasar 5% sebelum pemulihan, pola tersebut menunjukkan risiko penurunan dalam jangka dekat tetap perlu diantisipasi.

TD Securities Memperkirakan Emas dan Perak Turun saat Perang di Timur Tengah Dongkrak Inflasi, Menunda Pelonggaran The Fed, dan Menaikkan Biaya

Para ahli strategi komoditas TD Securities memperkirakan emas dan perak masih berpeluang turun dalam jangka pendek. Mereka mengaitkan hal ini dengan perang di Timur Tengah yang menjaga **ekspektasi inflasi** (perkiraan pasar bahwa inflasi akan tetap tinggi) tetap tinggi dan membuat pemangkasan suku bunga oleh Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) tertunda.

Harga yang lebih tinggi untuk energi, pupuk, dan bahan kimia disebut sebagai faktor yang membuat pemangkasan suku bunga lebih awal menjadi kecil kemungkinannya. Dampaknya, **biaya peluang** (keuntungan yang dikorbankan) untuk memegang logam mulia tetap tinggi.

Tekanan Penurunan Jangka Pendek

Para ahli strategi juga menyoroti berkurangnya aliran modal Timur Tengah ke pasar emas sebagai hambatan tambahan. Mereka menilai kondisi akan membaik setelah konflik berakhir dan guncangan harga energi mereda.

Mereka memperkirakan, setelah suku bunga turun dan dolar AS melemah, emas bisa naik lagi pada fase berikutnya. Mereka memproyeksikan emas kembali di atas US$5.000 pada paruh akhir 2026.

Dalam jangka dekat, emas dan perak dinilai masih menghadapi koreksi berlanjut. Konflik Timur Tengah yang belum selesai menjaga ekspektasi inflasi tetap tinggi, sehingga kemungkinan besar menunda rencana The Fed untuk menurunkan suku bunga. Ini membuat aset yang **tidak memberi imbal hasil** (tidak menghasilkan bunga/kupon) seperti logam mulia menjadi kurang menarik untuk sementara.

Data inflasi Maret 2026, yang menunjukkan **Indeks Harga Konsumen (IHK/CPI)** (ukuran perubahan rata-rata harga barang dan jasa yang dibayar rumah tangga) tetap tinggi di 3,9%, mendukung pandangan ini. Dengan minyak mentah Brent konsisten diperdagangkan di atas US$110 per barel karena kekhawatiran gangguan rantai pasok, ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan menjadi terbatas. Lingkungan suku bunga tinggi ini meningkatkan biaya peluang memegang emas dibanding aset yang menghasilkan pendapatan.

Pendekatan Perdagangan Berbasis Opsi

Bagi trader yang memakai **derivatif** (instrumen turunan yang nilainya mengikuti aset acuan), kondisi ini mengarah pada strategi membeli **opsi jual (put option)** pada **ETF** (exchange-traded fund/dana yang diperdagangkan di bursa) emas dan perak untuk beberapa pekan ke depan. Strategi ini memungkinkan ikut memanfaatkan potensi penurunan harga sambil membatasi risiko pada **premi** (biaya yang dibayar untuk membeli opsi). Ini cara langsung untuk mengambil posisi atas perkiraan penurunan harga.

Strategi lain adalah menjual **opsi beli (call option)** yang **out-of-the-money** (harga kesepakatan/strike lebih tinggi dari harga pasar saat ini, sehingga belum menguntungkan jika dieksekusi). Ini bisa menghasilkan pendapatan jika harga bergerak mendatar atau turun perlahan sambil menunggu kepastian geopolitik. Tidak adanya aliran modal yang biasanya muncul dari Timur Tengah ke pasar emas turut mendukung pandangan jangka pendek yang cenderung lemah.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code