Back

Data CFTC Inggris menunjukkan posisi neto GBP non-komersial di -56,4 ribu, turun dari -52,7 ribu sebelumnya

Data CFTC (Commodity Futures Trading Commission, lembaga pengawas pasar derivatif AS) untuk Inggris menunjukkan posisi bersih (net positions: selisih antara posisi beli/long dan jual/short) GBP (British Pound/Sterling) non-komersial (non-commercial: spekulan besar seperti hedge fund, bukan pelaku lindung nilai) berada di -56,4 ribu kontrak. Angka sebelumnya -52,7 ribu.

Ini berarti posisi bersih semakin negatif (lebih banyak posisi jual/short). Perubahannya dari periode sebelumnya adalah -3,7 ribu kontrak.

Posisi Spekulan Makin Bearish

Spekulan besar semakin menambah taruhan bahwa Pound Inggris akan melemah, karena posisi jual bersih (net short: total posisi jual lebih besar daripada beli) naik menjadi -56,4 ribu kontrak dari -52,7 ribu. Sentimen bearish (pandangan harga akan turun) ini mengindikasikan tekanan turun pada mata uang masih berlanjut. Trader perlu mewaspadai potensi pelemahan lanjutan dalam beberapa pekan ke depan.

Pandangan negatif ini dipicu data ekonomi terbaru. Inflasi Inggris (kenaikan harga) Maret 2026 tercatat lebih tinggi dari perkiraan di 3,1%, tetapi di saat yang sama, angka awal (preliminary: rilis pertama yang masih bisa direvisi) pertumbuhan PDB (GDP/Produk Domestik Bruto: ukuran total output ekonomi) kuartal I hanya 0,1% sehingga terlihat sangat lemah. Kombinasi ini membuat Bank of England berada dalam posisi sulit, karena ruang untuk menaikkan suku bunga menjadi terbatas dan membebani nilai Pound.

Di sisi lain, selisih suku bunga (interest rate differential: perbedaan tingkat bunga antarnegara) antara Inggris dan Amerika Serikat terus melebar. Laporan tenaga kerja AS terbaru kuat, sehingga pasar menilai The Fed (Federal Reserve, bank sentral AS) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Ini membuat memegang dolar AS lebih menarik dibanding Pound, dan berpotensi menambah momentum tren bearish.

Situasi serupa terjadi pada musim panas 2025, ketika pasar mulai memasukkan risiko resesi Inggris (penurunan ekonomi) ke dalam harga. Periode itu diikuti penurunan tajam nilai Pound terhadap dolar. Posisi saat ini bahkan lebih ekstrem, sehingga risiko pergerakan turun yang lebih tajam juga meningkat.

Cara Potensial Untuk Memanfaatkan Peluang

Dengan kondisi ini, strategi yang diuntungkan dari pelemahan Pound bisa dipertimbangkan. Membeli opsi put GBP (put option: kontrak derivatif yang memberi hak menjual GBP pada harga tertentu sebelum jatuh tempo) adalah cara langsung untuk mengambil posisi penurunan. Menjual call spread GBP out-of-the-money (call spread: strategi menjual opsi beli dan membeli opsi beli lain pada strike berbeda untuk membatasi risiko; out-of-the-money: harga strike kurang menguntungkan dibanding harga pasar saat ini) juga bisa dipakai untuk memperoleh premi (premium: biaya yang diterima penjual opsi), dengan pandangan bahwa ruang kenaikan mata uang terbatas dari level sekarang.

Posisi bersih non-komersial minyak versi CFTC AS turun ke 202,2 ribu, menyusut dari angka sebelumnya 213,5 ribu

Data CFTC AS menunjukkan posisi bersih (net) non-komersial minyak turun ke 202,2 ribu. Level sebelumnya 213,5 ribu.

Ini penurunan 11,3 ribu posisi. Angka ini merujuk pada periode pelaporan terbaru dari CFTC (Commodity Futures Trading Commission/otoritas pengawas perdagangan berjangka komoditas AS).

Posisi Spekulatif Makin Tidak Mendukung

Terlihat penurunan sentimen bullish (optimistis harga naik) di kalangan spekulan besar di pasar minyak. Posisi net long (jumlah posisi beli dikurangi posisi jual) berkurang, menandakan keyakinan di balik reli harga terakhir mulai melemah. Ini sering menjadi sinyal awal tren naik mulai kehilangan tenaga.

Perubahan posisi ini terjadi setelah laporan EIA (Energy Information Administration/badan statistik energi AS) Rabu lalu yang tak terduga menunjukkan kenaikan stok minyak mentah (crude inventory build) sebesar 2,8 juta barel, mengindikasikan permintaan bisa melemah. Data pasokan ini, ditambah PMI manufaktur China (Purchasing Managers’ Index/indeks aktivitas industri) pekan lalu yang sedikit di bawah perkiraan, memicu kekhawatiran. Pasar kini lebih peka terhadap tanda perlambatan ekonomi global.

Selain itu, pernyataan pejabat Federal Reserve (bank sentral AS) memberi sinyal mereka belum terburu-buru memangkas suku bunga, sehingga dolar AS tetap kuat. Dolar yang kuat membuat minyak lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain, sehingga bisa menekan permintaan. Pelaku pasar menyesuaikan posisi mereka menghadapi kondisi makroekonomi (gambaran ekonomi luas seperti suku bunga, pertumbuhan, dan nilai tukar) yang kurang mendukung.

Kami pernah melihat penurunan serupa pada posisi spekulatif di awal 2025, terjadi tepat sebelum koreksi harga hampir 10% pada bulan berikutnya. Penurunan saat itu juga dipicu kekhawatiran permintaan dan kenaikan stok yang mengejutkan. Riwayat menunjukkan penurunan tajam net long seperti ini perlu diwaspadai.

Manajemen Risiko Untuk Beberapa Pekan Ke Depan

Untuk beberapa minggu ke depan, pertimbangkan melindungi eksposur posisi beli. Membeli perlindungan penurunan (downside protection), seperti opsi put WTI (hak menjual WTI pada harga tertentu) dengan jatuh tempo Mei, bisa menjadi strategi yang masuk akal. Ini memungkinkan tetap memegang pandangan utama sambil melakukan lindung nilai (hedging/mengurangi risiko) terhadap potensi penurunan jangka pendek menuju level dukungan (support) US$80.

Posisi bersih non-komersial emas CFTC AS turun ke 156,3 ribu dari sebelumnya 163,2 ribu

Posisi bersih non-komersial (pelaku spekulatif seperti hedge fund, bukan untuk kebutuhan bisnis fisik) emas di CFTC AS (Commodity Futures Trading Commission/otoritas pengawas perdagangan berjangka komoditas AS) turun menjadi 156,3 ribu kontrak, dari sebelumnya 163,2 ribu kontrak.

Penurunan ini sebesar 6,9 ribu kontrak dibanding laporan sebelumnya.

Pergeseran Posisi Spekulatif

Spekulan besar mulai mengurangi taruhan bahwa harga emas akan terus naik. Posisi bersih bullish (selisih posisi beli/long dikurangi posisi jual/short, yang menunjukkan arah taruhan pasar) turun dari 163,2 ribu menjadi 156,3 ribu kontrak. Ini mengindikasikan keyakinan hedge fund dan trader besar mulai melemah.

Sikap hati-hati ini sejalan dengan respons pasar terhadap data ekonomi terbaru. Laporan Indeks Harga Konsumen (CPI/pengukur inflasi pada tingkat konsumen) Maret tercatat 3,1%, sedikit lebih tinggi dari perkiraan, sehingga ekspektasi penurunan suku bunga The Fed (bank sentral AS) mundur. Dengan sinyal suku bunga akan ditahan tinggi lebih lama, emas yang tidak memberi imbal hasil/bunga (non-yielding asset, artinya tidak ada kupon atau bunga seperti obligasi/deposito) menjadi kurang menarik.

Dampaknya, dolar AS menguat, dengan Dollar Index/DXY (indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) menembus 106 untuk pertama kalinya dalam enam bulan. Dolar yang lebih kuat biasanya menekan harga emas karena emas dihargai dalam dolar, sehingga menjadi lebih mahal bagi pembeli non-dolar. Karena itu, turunnya minat spekulatif ini masuk akal dalam kondisi makro saat ini.

Melihat ke belakang, ini perubahan sentimen yang cukup terasa dibanding reli kuat pada kuartal IV 2025. Saat itu, ekspektasi pemangkasan suku bunga pada 2026 mendorong harga emas melampaui US$2.450 per troy ounce (ons troy, satuan standar logam mulia). Penurunan posisi long saat ini terlihat sebagai aksi ambil untung setelah kenaikan tajam tersebut.

Data CFTC Australia menunjukkan posisi neto AUD non-komersial turun, merosot dari 81,5 ribu menjadi 70,8 ribu

Data CFTC Australia menunjukkan posisi bersih (net) dolar Australia dari pelaku non-komersial (biasanya spekulan seperti hedge fund, bukan perusahaan untuk kebutuhan lindung nilai) turun ke 70,8 ribu dari 81,5 ribu sebelumnya.

Artinya, terjadi penurunan 10,7 ribu pada posisi bersih dibanding laporan sebelumnya.

Perubahan Penempatan Posisi Spekulatif

Terlihat spekulan mulai mengambil untung dari taruhan penguatan dolar Australia. Turunnya posisi bersih beli (net long: total posisi beli dikurangi posisi jual) menandakan keyakinan terhadap penguatan AUD mulai melemah, meski sentimen umum masih positif. Ini berbeda dibanding awal tahun ketika dorongan beli lebih kuat.

Perubahan ini kemungkinan terkait perbedaan arah kebijakan bank sentral. Risalah (minutes: ringkasan rapat) RBA Maret 2026 memberi sinyal kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan di dalam negeri, sehingga pemangkasan suku bunga bisa terjadi pada kuartal III. Sebaliknya, data inflasi AS Maret 2026 sebesar 3,1% membuat peluang The Fed memangkas suku bunga dalam waktu dekat menjadi kecil.

Selain itu, permintaan ekspor utama Australia melemah. Harga bijih besi turun di bawah US$100 per ton, akibat data konstruksi China kuartal I 2026 yang lebih lemah dari perkiraan. Ini menjadi hambatan besar bagi kekuatan AUD di pasar global.

Jika dibandingkan, situasi ini berbeda dari pertengahan 2025. Saat itu, spekulan agresif menambah posisi beli ketika harga komoditas naik karena harapan pemulihan global yang kuat. Koreksi saat ini menunjukkan pelaku pasar menilai siklus tersebut sudah mencapai puncak.

Pertimbangan Lindung Nilai dengan Opsi

Dalam beberapa pekan ke depan, trader dapat mempertimbangkan membeli opsi jual (put option: hak untuk menjual pada harga tertentu) pada AUD/USD untuk melindungi portofolio dari potensi penurunan menuju 0,6400. Perbedaan arah kebijakan—RBA cenderung longgar (dovish: lebih condong menurunkan suku bunga) sementara The Fed tetap ketat—mendukung skenario AUD melemah. Strategi ini memberi perlindungan jika harga turun, dengan risiko dibatasi pada premi (premium: biaya opsi) yang dibayar.

Strategi gabungan opsi (option spread: menggabungkan beli dan jual opsi) seperti bear put spread juga dapat dipakai untuk memposisikan penurunan bertahap dengan biaya lebih rendah. Caranya: membeli put pada harga eksekusi (strike) lebih tinggi dan menjual put pada strike lebih rendah untuk mengurangi premi bersih. Kami akan memantau tanda perlambatan ekonomi Australia yang lebih tajam dari perkiraan untuk menambah posisi ini.

Posisi neto euro non-komersial di zona euro turun menjadi -7,5 ribu kontrak, berbalik dari sebelumnya 0,5 ribu

Data CFTC untuk zona euro menunjukkan posisi bersih (net position) **non-komersial** EUR di **€-7,5 ribu**. Pembacaan sebelumnya **€0,5 ribu**.

Ini menandakan pergeseran dari posisi bersih **long kecil** ke posisi bersih **short** pada **kontrak berjangka (futures) EUR** milik pelaku non-komersial. (Long = bertaruh harga naik; short = bertaruh harga turun. Futures = kontrak untuk membeli/menjual di harga tertentu pada waktu tertentu.) Perubahan antara dua pembacaan tersebut sebesar **€-8,0 ribu**.

Terlihat perubahan sentimen yang jelas karena penempatan spekulatif di euro berbalik dari long kecil menjadi posisi short. Ini pertama kalinya dalam beberapa bulan **trader besar** sebagai kelompok bertaruh euro akan turun. Perubahan ini mengindikasikan narasi yang mendukung euro mulai melemah.

Nada negatif ini kemungkinan dipicu data ekonomi terbaru yang menunjukkan perbedaan arah antara zona euro dan Amerika Serikat. Inflasi zona euro untuk Maret 2026 tercatat **1,7%**, di bawah target **Bank Sentral Eropa (ECB)**, sehingga memunculkan pembicaraan tentang kemungkinan **pemangkasan suku bunga** akhir tahun ini. Sementara itu, laporan **Non-Farm Payrolls (NFP)** AS minggu lalu menambah **215.000** pekerjaan—NFP adalah data jumlah pekerjaan baru di luar sektor pertanian—yang menguatkan sikap **Federal Reserve (The Fed)** untuk tetap menunggu data sebelum mengubah kebijakan.

Kesenjangan kebijakan antara ECB dan The Fed kini menjadi fokus utama pasar. Kami menilai pelaku pasar mulai bersiap ECB merespons perlambatan pertumbuhan dan inflasi yang lemah, sementara The Fed cenderung menahan suku bunga. Perbedaan ini biasanya menekan nilai tukar **EUR/USD** (nilai euro terhadap dolar AS).

Bagi trader **derivatif** (instrumen turunan seperti opsi dan futures), kondisi ini mendukung strategi yang diuntungkan saat euro turun atau saat pergerakan harga makin liar. Membeli **opsi put EUR/USD** dapat menjadi cara dengan risiko terukur untuk bersiap pada penurunan—opsi put adalah hak untuk menjual pada harga tertentu—dengan target level psikologis seperti **1,0500**. Trader yang lebih agresif dapat mempertimbangkan membuka posisi short pada kontrak futures euro.

**Volatilitas tersirat (implied volatility)** pada opsi euro—perkiraan pasar atas besarnya fluktuasi harga ke depan yang tercermin dari harga opsi—telah naik ke puncak enam minggu di **8,2%**, menandakan pasar memperkirakan pergerakan harga yang lebih besar. Ini bisa menjadi sinyal fase pergerakan datar (konsolidasi) mendekati akhir.

Posisi neto non-komersial S&P 500 CFTC AS turun ke -45,7 ribu, dari -42,5 ribu sebelumnya

Data CFTC AS menunjukkan posisi bersih *non-commercial* (NC) S&P 500 turun ke -45,7 ribu kontrak. Angka sebelumnya -42,5 ribu kontrak.

Ini berarti perubahan -3,2 ribu kontrak pada posisi bersih. Kedua angka masih di bawah nol.

Artinya, spekulan besar menambah taruhan bahwa S&P 500 akan turun. Posisi bersih *short* (taruhan turun) di kelompok ini—termasuk *hedge fund* (dana lindung nilai, pengelola dana yang sering memakai strategi agresif seperti derivatif dan pinjaman)—menjadi makin negatif. Pergerakan ini mencerminkan sentimen *bearish* (pesimistis/bet pada penurunan) yang menguat di pasar *futures* (kontrak berjangka, perjanjian jual-beli aset di harga tertentu untuk tanggal mendatang).

Kehati-hatian ini kemungkinan terkait rilis data inflasi terbaru. Indeks Harga Konsumen (CPI) Maret 2026 tercatat 3,1%, sedikit lebih tinggi dari perkiraan 2,9%. Ini menurunkan peluang Federal Reserve memangkas suku bunga sebelum kuartal III.

Pasar merespons dengan koreksi dari level tinggi terbaru. S&P 500 kini menguji rata-rata pergerakan 50 hari (*50-day moving average*, patokan tren jangka menengah yang sering dipakai analis teknikal) setelah turun 2,5% dalam dua pekan terakhir. Sejalan dengan itu, indeks VIX—ukuran perkiraan volatilitas (besar-kecilnya gejolak harga yang diproyeksikan pasar)—naik ke sedikit di atas 20, tertinggi sejak kecemasan pasar singkat pada akhir 2025.

Bagi pelaku pasar, situasi ini mengisyaratkan saatnya melakukan lindung nilai (*hedging*, mengurangi risiko penurunan) pada portofolio yang masih dominan posisi beli (*long*, bertaruh harga naik). Membeli opsi *put* (hak menjual di harga tertentu untuk membatasi kerugian saat harga turun) pada indeks seperti SPX atau ETF SPY bisa memberi perlindungan, tetapi VIX yang lebih tinggi membuat premi opsi (biaya opsi) menjadi lebih mahal. Menjual *out-of-the-money call credit spread* (strategi opsi menjual *call* dengan harga strike di atas harga sekarang dan membeli *call* lain lebih tinggi untuk membatasi risiko; tujuannya menerima premi sambil berharap harga tidak naik terlalu jauh) juga bisa dipertimbangkan untuk mengumpulkan premi dengan pandangan tetap negatif.

Namun, sentimen juga perlu dipantau agar tidak terlalu sepihak. Mengacu pada 2023, ada fase ketika aksi spekulatif *short* yang ekstrem justru mendahului reli kuat karena resesi yang dikhawatirkan tidak terjadi. Jika terlalu banyak pelaku pasar sudah berada di posisi *short*, kabar baik kecil dapat memicu aksi beli cepat untuk menutup posisi (*short covering*, membeli kembali untuk menutup taruhan turun), sehingga mendorong harga naik tajam.

Karena itu, pelaku pasar perlu memperhatikan apakah posisi bersih *short* ini terus membesar hingga level ekstrem. Secara historis, pembacaan di bawah -100 ribu kontrak kerap menjadi sinyal bahwa posisi pesimistis sudah terlalu padat, dan kadang menandai titik dasar jangka pendek saham. Ini berarti perlu bersiap untuk potensi penurunan lanjutan, namun tetap siap bertindak bila sentimen negatif mulai “kehabisan tenaga”.

Posisi bersih non-komersial yen Jepang versi CFTC turun ke -93,7 ribu dari sebelumnya -72,9 ribu, memperkuat sikap bearish

Data CFTC Jepang menunjukkan posisi bersih non-komersial pada JPY berubah dari -72,9 ribu menjadi -93,7 ribu.

Perubahan ini menunjukkan posisi jual bersih (net short) yang lebih besar dibanding periode pelaporan sebelumnya.

Pendorong di Balik Makin Dalamnya Posisi Jual Yen

Data terbaru menunjukkan posisi jual bersih terhadap Yen Jepang makin besar, menandakan spekulan semakin yakin. Ini mengisyaratkan pasar memperkirakan yen masih akan melemah dalam beberapa pekan ke depan. Pendorong utama sentimen ini adalah selisih suku bunga yang tetap lebar antara Jepang dan ekonomi besar lain, terutama Amerika Serikat.

Dengan sentimen negatif yang menguat, strategi yang diuntungkan dari kenaikan kurs USD/JPY (dolar AS menguat terhadap yen) perlu dipertimbangkan. Dengan suku bunga acuan AS (Federal Funds rate, yaitu suku bunga kebijakan utama bank sentral AS) bertahan di 4,50% sementara suku bunga Bank of Japan (suku bunga kebijakan utama bank sentral Jepang) hanya 0,10%, kondisi ini mendukung penjualan yen. Strategi derivatif (instrumen turunan yang nilainya mengikuti harga aset acuan) seperti membeli opsi call USD/JPY (hak untuk membeli USD/JPY pada harga tertentu sebelum tanggal tertentu) atau membuat bull call spread (strategi opsi dengan membeli call dan menjual call lain pada harga lebih tinggi untuk menekan biaya, dengan potensi untung terbatas) bisa menjadi cara untuk memanfaatkan potensi kenaikan.

Tetap waspada terhadap risiko intervensi resmi, karena USD/JPY saat ini berada di sekitar 158,75. Dari sudut pandang 2025, kita mengingat penguatan yen yang tajam namun singkat akibat aksi Kementerian Keuangan ketika yen melemah cepat menembus level 152 pada akhir 2024. Karena itu, penting menetapkan target ambil untung (profit target) dan memasang stop-loss (batas rugi otomatis untuk membatasi kerugian) pada posisi jual yen untuk mengelola risiko pembalikan mendadak.

Tren sepanjang 2023 dan 2024 menunjukkan bahwa meski yen bisa melemah lama, pelemahan ini sering disertai lonjakan volatilitas (naik-turun harga yang tajam). Kondisi ini membuat opsi menarik, karena memungkinkan kita membatasi risiko maksimum sambil tetap mendapat peluang dari pelemahan yen. Terlihat kenaikan tipis pada volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi) untuk opsi USD/JPY tenor satu bulan, yang menandakan pasar mulai memperhitungkan pergerakan yang lebih besar.

Risiko Utama dan Pertimbangan Posisi

Lynn Song: Perdagangan Taiwan pada Maret melampaui perkiraan, mendongkrak ekspor dan impor kuartal I/2026; surplus neraca dagang berlipat ganda

Data perdagangan Taiwan Maret melampaui perkiraan. Ekspor dan impor sama-sama naik, sementara neraca perdagangan mencetak level tertinggi dalam lima bulan sebesar USD 21,3 miliar. Surplus perdagangan 1Q26 mencapai USD 53,0 miliar, naik 124,2% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy: dibanding tahun lalu pada periode yang sama).

Barang terkait teknologi menyumbang 84,0% dari total ekspor pada 1Q26, dibanding 80,4% pada 2025 dan 73,2% pada 2024. Harga ekspor juga naik, sehingga menambah laju pertumbuhan ekspor.

Kinerja Perdagangan Taiwan Dan Implikasi Terhadap Pertumbuhan

Pada 4Q25, saat surplus perdagangan juga melonjak lebih dari dua kali lipat, ekspor neto (selisih ekspor dikurangi impor) menambah 11,9 poin persentase terhadap pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto/GDP: nilai total produksi barang dan jasa dalam perekonomian). Kinerja perdagangan terbaru diperkirakan mendukung satu kuartal lagi dengan pertumbuhan PDB dua digit ketika data PDB 1Q26 dirilis pada akhir April.

ING menaikkan proyeksi pertumbuhan PDB 1Q26 menjadi 11,5% yoy dari 10,2%. ING juga menaikkan proyeksi pertumbuhan PDB setahun penuh 2026 menjadi 8,2% yoy dari 6,7%.

Proyeksi ini mengasumsikan kenaikan harga energi masih bisa ditanggung jika permintaan teknologi tetap kuat, namun kekurangan pasokan energi dapat mengganggu produksi. Proyeksi tersebut bergantung pada minimnya gangguan pasokan energi, termasuk perkembangan terkait Iran dalam beberapa pekan atau bulan ke depan.

Kekuatan tak terduga pada data perdagangan Taiwan kuartal pertama menunjukkan ruang kenaikan masih terbuka dalam beberapa pekan ke depan. Dengan laporan PDB Q1 akan terbit akhir April, lonjakan surplus perdagangan 124,2% mengindikasikan hasil ekonomi dapat kembali lebih kuat dari perkiraan pasar. Ini mengulang pola pada kuartal IV 2025, ketika lonjakan ekspor mendorong penguatan besar pada aset lokal.

Ide Posisi Menjelang Rilis Pdb

Kita dapat mempertimbangkan membeli opsi call (kontrak derivatif yang memberi hak membeli aset pada harga tertentu sebelum jatuh tempo) pada indeks TAIEX, dengan harapan pasar bereaksi positif terhadap rilis PDB. Indeks ini sudah naik lebih dari 15% sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YTD: sejak awal tahun hingga sekarang), terutama didorong sektor teknologi yang kini mencapai 84% dari ekspor. Karena proyeksi pasar berulang kali meremehkan pertumbuhan ini, opsi dapat menjadi cara untuk memperoleh eksposur dengan modal lebih kecil (leverage: pengganda dampak pergerakan harga) bila terjadi kejutan positif.

Lonjakan surplus perdagangan hingga USD 53,0 miliar pada kuartal pertama menjadi pendorong kuat bagi Dolar Taiwan. Kita bisa mempertimbangkan membeli opsi call TWD atau opsi put USD/TWD (put: hak menjual; USD/TWD adalah pasangan kurs dolar AS terhadap dolar Taiwan) dengan jatuh tempo setelah pengumuman PDB. Data ekonomi yang kuat biasanya menarik arus modal masuk (capital inflows: dana asing masuk), yang dapat memperkuat mata uang terhadap dolar AS.

Namun, risiko utama perlu dilindungi, yaitu yang terkait harga energi dan situasi di Iran. Ketegangan geopolitik telah mendorong harga minyak Brent (patokan harga minyak global) naik dari USD 85 menjadi di atas USD 92 per barel dalam sebulan terakhir. Membeli opsi call minyak berjangka yang out-of-the-money (harga pelaksanaan di atas harga pasar saat ini, biasanya lebih murah) bisa menjadi cara berbiaya lebih rendah untuk melindungi posisi yang optimistis pada Taiwan dari potensi guncangan pasokan (supply shock: gangguan pasokan mendadak yang mengerek harga).

Ketergantungan ekonomi yang besar pada satu sektor juga merupakan risiko yang perlu dipantau. Dengan porsi ekspor teknologi naik dari 73,2% pada 2024 menjadi 84,0% saat ini, penurunan spesifik pada permintaan global untuk AI (kecerdasan buatan) atau semikonduktor (chip) dapat menekan ekonomi secara tidak proporsional. Konsentrasi ini mendukung strategi untuk tetap menyimpan sebagian posisi put protektif (perlindungan penurunan harga) pada saham-saham teknologi utama, meskipun strategi utama tetap optimistis.

Pada Jumat sore, S&P 500 berupaya mempertahankan momentum, menargetkan kenaikan delapan sesi berturut-turut

S&P 500 berupaya mencatat kenaikan harian kedelapan beruntun pada Jumat. Indeks sempat naik 0,2% hingga waktu makan siang, namun berbalik melemah menjadi -0,1% pada sore hari.

Dalam delapan sesi terakhir, indeks naik hampir 8% dari titik terendah 30 Maret. Kenaikan terjadi setelah seruan gencatan senjata awal pada Selasa malam dan harapan adanya pembicaraan antara AS dan Iran pada akhir pekan.

Perkembangan Geopolitik dan Reaksi Pasar

Wakil Presiden AS JD Vance diberitakan akan bepergian ke Islamabad bersama negosiator AS lainnya untuk kemungkinan kesepakatan dengan Iran. Pengeboman Israel di Lebanon serta syarat yang dipublikasikan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Ghalibaf, disebut sebagai hambatan.

Laporan yang belum terkonfirmasi menyebut AS melepas penahanan dana Iran senilai US$7 miliar di Qatar. Iran juga dilaporkan menutup sebagian besar Selat Hormuz sampai syarat dalam rencana 10 poin dipenuhi.

Hingga sore, hanya sektor teknologi dan bahan baku (materials) yang menguat, sementara energi, keuangan, dan kesehatan melemah. Nasdaq Composite naik 0,2%, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 0,5%.

CPI (Indeks Harga Konsumen, ukuran inflasi) Maret naik dari 2,4% menjadi 3,3% secara tahunan (year on year/yoy), dengan harga energi naik 10,9%. Core CPI (inflasi inti, tidak memasukkan harga pangan dan energi yang bergejolak) naik ke 2,6%. Sentimen konsumen Michigan (survei kepercayaan konsumen dari University of Michigan) turun dari 53,3 menjadi 47,6, dan ekspektasi inflasi 1 tahun (perkiraan inflasi setahun ke depan) naik dari 3,8% menjadi 4,8%.

Indeks sudah naik sekitar 500 poin dalam tujuh sesi dan diperdagangkan di atas 6.800, dengan RSI (Relative Strength Index, indikator teknikal untuk melihat momentum; umumnya di atas 70 dianggap jenuh beli dan di bawah 30 jenuh jual) di 60. Level yang disebut antara lain 7.000 dan 6.720.

Pertimbangan Strategi Volatilitas

Dengan pasar yang cenderung menahan diri menjelang pembicaraan damai akhir pekan, fokus utama adalah volatilitas (besarnya naik-turun harga). Indeks Volatilitas CBOE (VIX, ukuran perkiraan volatilitas pasar saham AS ke depan) naik ke 22 kemarin sore, mencerminkan ketidakpastian besar soal negosiasi di Islamabad. Ini mengarah pada strategi yang bisa untung saat harga bergerak besar, tanpa harus menebak arah.

Jika kesepakatan damai yang jelas diumumkan dan Selat Hormuz kembali dibuka, S&P 500 berpotensi reli tajam menuju level 7.000. Trader bisa memposisikan diri lewat opsi call (hak untuk membeli pada harga tertentu) pada SPX (opsi berbasis indeks S&P 500) atau ETF yang berat di saham teknologi, karena teknologi relatif lebih kuat. Dalam skenario ini, kami juga memperkirakan kontrak berjangka (futures, perjanjian jual beli pada harga tertentu untuk tanggal mendatang) minyak WTI (West Texas Intermediate, acuan harga minyak AS) yang sempat menyentuh US$115 bulan lalu bisa cepat turun lagi di bawah US$100, sehingga opsi put (hak untuk menjual pada harga tertentu) pada ETF sektor energi menarik sebagai lindung nilai (hedge, langkah untuk mengurangi risiko).

Sebaliknya, jika pembicaraan gagal, kenaikan pasar belakangan berisiko terhapus, dengan kemungkinan uji cepat level support 6.720 (area penopang harga, tempat harga sering tertahan) yang berasal dari aksi jual 17 Desember 2025. Hasil ini lebih mendukung pembelian opsi put pada indeks pasar yang lebih luas. Penurunan Sentimen Konsumen Michigan ke 47,6 menunjukkan kepercayaan konsumen sudah rapuh dan kemungkinan memburuk jika harga energi tetap tinggi, sehingga menekan saham.

Di luar risiko berita utama, terlihat perbedaan kinerja antarsektor yang membuka peluang pair trade (strategi memasangkan posisi beli di aset yang lebih kuat dan posisi jual di aset yang lebih lemah). Lemahnya sektor keuangan dan kesehatan, bahkan saat pasar mencoba reli, mengindikasikan kekhawatiran ekonomi yang sudah ada sebelum konflik Iran. Strategi long NASDAQ 100 (posisi beli untuk mendapat untung saat naik) sambil short sektor keuangan (posisi jual untuk mendapat untung saat turun, termasuk lewat instrumen yang memungkinkan “jual dulu”) dapat berkinerja baik, sekaligus membantu menahan portofolio dari hasil negosiasi geopolitik yang serba dua kemungkinan (binary: hanya dua hasil utama).

Emas Bertahan di Dekat US$4.760, Menuju Kenaikan Mingguan saat Dolar Melemah karena Pembicaraan Iran-AS dan Pakistan, di Tengah Inflasi yang Lebih Panas

Emas (XAU/USD) bertahan di dekat $4.763 pada Jumat, naik 0,01% dan berpotensi mencetak kenaikan mingguan hampir 2%. Dolar AS melemah karena pembicaraan antara AS dan Iran dijadwalkan dimulai pada Sabtu di Pakistan.

Selera risiko mendukung emas batangan, meski Israel menyerang Lebanon dan ada risiko gencatan senjata dua pekan—yang terkait dinamika AS dan Iran—terganggu. Iran belum menutup Selat Hormuz (jalur pelayaran minyak dan barang penting dunia), dan pejabat AS serta Iran sedang bepergian untuk pembicaraan di Pakistan.

Data Inflasi dan Prospek The Fed

Data AS menunjukkan CPI (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen—ukuran inflasi) Maret naik 3,3% secara tahunan, dari 2,4% pada Februari. Core CPI (inflasi inti—mengabaikan harga makanan dan energi yang sering bergejolak) naik dari 2,5% menjadi 2,6% secara tahunan, di bawah perkiraan 2,7%.

Perkiraan pasar menunjukkan suku bunga Fed funds (suku bunga acuan The Fed) akan tetap di kisaran 3,50%–3,75% hingga 2026, menurut Prime Market Terminal. Sentimen Universitas Michigan turun dari 53,3 menjadi 47,6, sementara ekspektasi inflasi 12 bulan naik dari 3,8% menjadi 4,8%.

Indeks Dolar AS (DXY—indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) turun 0,13% ke 98,66, dekat level terendah empat pekan. Emas menemui hambatan di $4.800; penurunan di bawah $4.750 dapat mengarah ke $4.700 dan SMA (Simple Moving Average/rata-rata bergerak sederhana—indikator tren) 20 dan 100 hari di $4.674–$4.662, sementara tembus $4.800 bisa membuka peluang ke $4.857 lalu $4.900.

Fokus terdekat adalah tarik-menarik antara dolar AS yang melemah dan inflasi yang masih tinggi sehingga The Fed cenderung menahan suku bunga. Pelemahan dolar dekat titik terendah empat pekan di 98,66 menjadi pendorong bagi emas, namun CPI 3,3% memperkuat ekspektasi suku bunga tetap tinggi. Ini menambah ketidakpastian, sehingga strategi opsi yang diuntungkan oleh volatilitas (naik-turunnya harga), seperti straddle (strategi membeli opsi call dan put pada harga dan jatuh tempo yang sama untuk memanfaatkan pergerakan besar ke dua arah), dinilai menarik menjelang pembicaraan AS-Iran akhir pekan.

Potensi lonjakan dapat terjadi bila negosiasi di Pakistan gagal atau jika Selat Hormuz ditutup. Sejarah menunjukkan kenaikan tensi Timur Tengah, seperti pada 2020, bisa menambah risk premium (tambahan harga karena risiko) pada emas dengan cepat. Dengan sentimen konsumen AS baru dilaporkan di 47,6, permintaan aset aman (safe haven—aset yang dicari saat pasar bergejolak) tetap kuat, sehingga membeli opsi call (hak membeli pada harga tertentu) atau call spread (strategi opsi yang membatasi biaya dan potensi untung dengan membeli call dan menjual call lain di level lebih tinggi) yang menargetkan tembus di atas $4.800 dapat dipertimbangkan.

Skenario Penurunan dan Dukungan Bank Sentral

Sebaliknya, pelaku pasar perlu mewaspadai risiko penurunan bila pembicaraan berhasil dan gencatan senjata yang lebih bertahan tercapai. Inflasi 3,3% mengingatkan pada tekanan harga yang bertahan pada 2023, yang memaksa The Fed bersikap hawkish (condong mengetatkan kebijakan, misalnya menahan/menaikkan suku bunga) lebih lama dari perkiraan pasar. Mengingat emas belakangan gagal bertahan di atas level psikologis $4.800, membeli opsi put (hak menjual pada harga tertentu) dengan target area $4.700 bisa menjadi cara mengambil posisi untuk skenario reli risk-on (minat pada aset berisiko meningkat sehingga aset aman melemah).

Di luar berita geopolitik, ada permintaan dasar yang konsisten dari sumber resmi. Data terbaru kuartal I-2026 menunjukkan bank sentral melanjutkan pola pembelian agresif beberapa tahun terakhir, menyerap setiap penurunan harga yang berarti. Permintaan institusional ini menjadi penopang kuat dan mengindikasikan aksi jual tajam menuju area $4.660-an bisa tidak berlangsung lama.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code