Back

Analis Deutsche Bank: Kontrak berjangka S&P 500 pulih usai penurunan terkait Iran dan prospek The Fed yang lebih hawkish

Kontrak berjangka S&P 500 naik 0,51% setelah indeks itu turun 0,63% pada sesi sebelumnya. Penurunan tersebut menjadi hari terburuk S&P 500 sejak 27 Maret dan menandai penurunan dua hari beruntun pertama dalam tiga minggu.

Pasar pulih semalam setelah perpanjangan gencatan senjata, menyusul pelemahan obligasi dan saham di AS serta Eropa. Pergerakan sehari sebelumnya membuat S&P 500 kehilangan kenaikan di awal perdagangan dan ditutup lebih rendah.

Pendorong Pasar dan Sentimen

Aksi jual terjadi meski data AS kuat dan ada beberapa laporan kinerja perusahaan yang positif. Perdagangan tertekan oleh risiko geopolitik terkait Iran dan ekspektasi bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan lebih “hawkish”, yaitu cenderung menaikkan suku bunga atau menahannya tinggi demi menekan inflasi.

Pelemahan bersifat luas, dengan dua pertiga saham dalam indeks berakhir turun. Energi menjadi satu-satunya sektor utama yang naik, menguat 1,31%, didukung kenaikan harga minyak.

Saham UnitedHealth Group melonjak 6,96% setelah perusahaan menaikkan proyeksi kinerja (outlook), yaitu perkiraan hasil keuangan ke depan. Artikel ini mencatat kontennya dibuat dengan alat AI dan ditinjau editor.

Opsi dan Manajemen Risiko

Volatilitas (naik-turun harga) ini menjadi faktor penting bagi pelaku pasar saat ini. Indeks VIX, yaitu ukuran volatilitas yang sering disebut “pengukur rasa takut” pasar, bertahan di atas 17, menandakan ketidakpastian masih tinggi meski pasar bergerak naik perlahan.

Kami melihat ini sebagai peluang memakai opsi, yaitu instrumen turunan yang memberi hak (bukan kewajiban) untuk membeli/menjual aset pada harga tertentu, sehingga risiko bisa dibatasi. Salah satu strategi adalah membeli straddle pada SPX (indeks S&P 500), yaitu membeli opsi beli (call) dan opsi jual (put) sekaligus untuk bersiap jika harga bergerak besar ke salah satu arah.

Seperti ketika prospek The Fed yang “hawkish” menekan saham, dinamika serupa terjadi pada April 2026. Dengan data inflasi AS (CPI/Consumer Price Index, indikator kenaikan harga konsumen) Maret yang tinggi di 3,1%, pejabat The Fed memberi sinyal suku bunga akan bertahan tinggi untuk beberapa waktu. Ini membuat opsi put protektif—opsi jual untuk melindungi nilai portofolio—pada indeks teknologi yang sensitif terhadap suku bunga seperti Nasdaq 100, bisa menjadi lindung nilai (hedging) yang masuk akal untuk mengantisipasi penurunan.

Sektor energi menjadi satu-satunya yang menguat saat penurunan 2025, dan potensi serupa dinilai ada sekarang. Ketegangan geopolitik di jalur pelayaran utama dan kuota produksi yang ketat dari OPEC+ (kelompok negara pengekspor minyak dan sekutunya) menjaga harga minyak Brent di atas US$90 per barel. Opsi call pada ETF energi utama bisa menjadi cara langsung untuk mendapatkan eksposur terhadap kekuatan ini. (ETF adalah reksa dana berbentuk saham yang diperdagangkan di bursa.)

Kami juga mencatat bagaimana laporan kinerja perusahaan tertentu yang kuat, seperti UnitedHealth pada 2025, dapat menciptakan peluang meski pasar turun. Karena saat ini memasuki musim laporan kinerja kuartal I 2026, pelaku pasar perlu memantau implied volatility (perkiraan volatilitas yang tercermin dalam harga opsi) di sekitar rilis laporan perusahaan besar. Kondisi ini bisa membuka peluang memperdagangkan “gap” harga, yaitu lonjakan atau penurunan harga yang terjadi setelah pengumuman dari emiten besar.

Ekonom DBS Radhika Rao: RBI Sebagian Membalikkan Pembatasan Valas, Menyeimbangkan Kebutuhan Lindung Nilai dan Pelemahan Rupee

Bank Sentral India (Reserve Bank of India/RBI) sebagian membatalkan pembatasan valuta asing (foreign exchange/FX) terbaru yang dibuat untuk menahan pelemahan satu arah pada rupee India (INR). Penyesuaian ini mengembalikan sebagian kelonggaran untuk transaksi antar pihak berelasi dan lindung nilai melalui Non-Deliverable Forward (NDF), yaitu kontrak forward valuta yang diselesaikan dengan selisih nilai dalam mata uang tertentu (umumnya dolar) tanpa penyerahan fisik mata uang.

Dalam surat edaran resmi pada Senin, RBI mengizinkan kembali transaksi pihak berelasi, termasuk pembatalan dan perpanjangan (rollover) kontrak yang sudah ada. RBI juga mengizinkan lindung nilai back-to-back di pasar NDF untuk menutup risiko dari kontrak FX, yakni membuka posisi yang berlawanan untuk menyeimbangkan eksposur.

Policy Details And Market Impact

Batas posisi terbuka bersih (net open position), yaitu selisih total aset dan kewajiban valuta asing yang ditanggung bank, di pasar lokal yang bisa diserahkan (deliverable) tetap berlaku. Pembatasan bank untuk menjalankan seluruh jenis transaksi derivatif FX dengan pihak berelasi juga tetap ada.

Sejak langkah tersebut diterapkan bulan lalu, rupee menguat hampir 2% terhadap dolar AS. Rupee sempat pulih dari titik terendah sekitar 95 per dolar AS bulan lalu.

Namun, secara tahun berjalan (year-to-date), rupee masih lebih lemah dibanding mata uang kawasan. Opsi kebijakan lain yang pernah dipakai pada 2013 masih tersedia, termasuk pembatasan impor emas, kelonggaran untuk arus masuk utang, fasilitas simpanan khusus bagi non-residen (produk deposito untuk menarik dana dolar), serta pengetatan kebijakan sebagai langkah terakhir.

Implications For Traders And Hedgers

Rupee melemah melewati level 97,50 per dolar AS, dipicu defisit transaksi berjalan (current account deficit), yaitu selisih negatif arus masuk dan keluar devisa dari perdagangan barang/jasa serta pendapatan, yang mencapai 2,8% dari PDB pada kuartal terakhir. Tekanan bertambah akibat arus keluar investor portofolio asing (foreign portfolio outflows), yakni dana asing yang keluar dari saham/obligasi, lebih dari US$4 miliar pada kuartal I 2026. Akibatnya, volatilitas tersirat (implied volatility) pada opsi USD/INR naik, yaitu perkiraan pasar atas besarnya potensi fluktuasi harga ke depan yang tercermin dalam harga opsi.

Bagi pelaku derivatif, kondisi ini berarti risiko perubahan aturan mendadak perlu diperhitungkan, karena RBI masih punya berbagai instrumen dari intervensi 2013 dan 2025. Meski bank sentral mengembalikan sebagian kelonggaran untuk lindung nilai NDF dan transaksi pihak berelasi tahun lalu, batas posisi terbuka bersih tetap menjadi pembatas utama. Ini mengindikasikan strategi perlu menghindari posisi spekulatif besar yang searah, karena RBI terbukti akan bertindak untuk mengganggu posisi seperti itu.

Pelaku pasar juga perlu mewaspadai langkah lain bila pelemahan rupee berlanjut. Ini dapat mencakup pembatasan impor emas atau fasilitas simpanan khusus non-residen untuk menarik arus masuk dolar. Jika diterapkan, kebijakan tersebut akan langsung memengaruhi likuiditas valuta (ketersediaan dolar/rupee di pasar) dan penentuan harga derivatif.

AUD/USD naik mendekati 0,7170 di Eropa, seiring penguatan dolar Australia membidik level tertinggi 0,7220

AUD/USD naik 0,25% ke sekitar 0,7170 pada sesi Eropa Rabu, seiring Dolar Australia menguat saat pasar masuk mode *risk-on* (pelaku pasar berani mengambil risiko, biasanya membeli aset berisiko seperti saham). Pergerakan ini didorong membaiknya sentimen setelah gencatan senjata AS–Iran diperpanjang tanpa batas waktu yang jelas.

Futures S&P 500 naik 0,6% ke sekitar 7.110, sedangkan Indeks Dolar AS turun 0,15% ke sekitar 98,25. Perpanjangan gencatan senjata itu disampaikan Presiden AS Donald Trump di Truth Social, menjelang berakhirnya masa gencatan senjata dua pekan pada 22 April.

Fokus Pasar Beralih Ke Data PMI

Pasar menunggu rilis awal data PMI swasta untuk April dari Australia dan AS, yang dijadwalkan Kamis. PMI (Purchasing Managers’ Index/indeks manajer pembelian) adalah survei untuk membaca kondisi bisnis; angka di atas 50 berarti ekspansi (aktivitas meningkat), di bawah 50 berarti kontraksi (aktivitas menurun). S&P Global Composite PMI AS (gabungan manufaktur dan jasa) diperkirakan tumbuh lebih cepat, ditopang aktivitas manufaktur dan jasa yang lebih kuat.

Secara teknikal, AUD/USD bertahan di atas EMA 20 hari (Exponential Moving Average/rata-rata bergerak yang memberi bobot lebih besar pada harga terbaru) di 0,7081, sehingga arah jangka pendek masih cenderung naik. RSI berada di sekitar 63; RSI (Relative Strength Index/indikator momentum) membantu membaca kuat-lemahnya dorongan beli—mendekati 70 sering dianggap mulai jenuh beli. Hambatan (resistance) berada di dekat puncak multi-tahun 0,7222, sedangkan penopang (support) di 0,7081, dengan level lebih bawah di 0,7000.

Kondisi *risk-on* biasanya ditandai kenaikan saham dan banyak komoditas. Sebaliknya, *risk-off* (pelaku pasar menghindari risiko) cenderung menguntungkan obligasi, emas, serta mata uang seperti USD, JPY, dan CHF. Dalam pasar *risk-on*, mata uang komoditas seperti AUD, CAD, dan NZD sering menguat karena negara-negara ini banyak bergantung pada ekspor bahan mentah.

Pada Februari, Indeks Harga Rumah DCLG Inggris naik 1,2% year-on-year, melampaui perkiraan 0,9%

Indeks Harga Rumah DCLG Inggris (tahunan/yoy) tercatat 1,2% pada Februari. Angka perkiraan (konsensus) 0,9%.

Artinya, laju tahunan yang tercatat lebih tinggi 0,3 poin persentase dibanding perkiraan. Rilis ini melaporkan perubahan 1,2% secara tahunan (yoy) untuk Februari.

Implikasi untuk Pertumbuhan dan Kebijakan

Data harga rumah Februari yang naik 1,2% secara tahunan (yoy) menunjukkan ekonomi Inggris lebih kuat dari perkiraan. Ini menandakan kepercayaan konsumen masih cukup baik. Bagi kami, ini melemahkan pandangan bahwa Bank of England (bank sentral Inggris) punya jalur yang jelas untuk memangkas suku bunga tahun ini.

Setelah itu muncul data pendukung: penjualan ritel (total belanja di toko dan online) Maret naik 0,6%, dan inflasi (kenaikan harga barang/jasa) Maret bertahan di 2,5%, sedikit di atas perkiraan pasar. Pola data yang lebih kuat ini menunjukkan tekanan inflasi dasar bisa bertahan. Ini menurunkan peluang pemangkasan suku bunga sebelum kuartal IV.

Dengan kondisi ini, kami melihat peluang posisi untuk penguatan sterling (pound Inggris). Pasangan GBP/USD (nilai tukar pound terhadap dolar AS) bergerak mendatar, dan latar ekonomi ini bisa mendorong kenaikan, sehingga posisi beli (long) lewat kontrak berjangka (futures, perjanjian jual-beli di harga tertentu untuk tanggal tertentu) atau opsi beli (call option, hak untuk membeli di harga tertentu) menjadi menarik. Pada periode kekuatan ekonomi yang mengejutkan di pertengahan 2025, pound sempat naik hampir 3% dalam enam minggu berikutnya.

Pasar derivatif suku bunga (instrumen turunan yang nilainya mengikuti suku bunga) juga berpotensi menyesuaikan harga. Kami mempertimbangkan posisi yang diuntungkan jika ekspektasi suku bunga jangka pendek naik, misalnya menjual (short) kontrak futures SONIA Desember. SONIA adalah patokan suku bunga pinjaman semalam di Inggris. Pasar masih memperhitungkan peluang besar pemangkasan suku bunga pada musim panas, yang kini terlihat terlalu “dovish” (terlalu condong ke kebijakan suku bunga lebih rendah).

Pada saham, kondisi ini lebih mendukung sektor yang berfokus pada pasar domestik dibanding sektor yang bergantung pada pasar luar negeri.

Posisi Saham dan Suku Bunga

Kami mempertimbangkan opsi beli (call option) pada saham pengembang perumahan Inggris dan bank, yang diuntungkan langsung oleh pasar perumahan yang kuat dan kurva imbal hasil (yield curve: perbedaan imbal hasil antara tenor pendek dan panjang) yang lebih “curam” atau selisihnya melebar. Sektor-sektor ini jauh mengungguli indeks FTSE 100 (indeks saham utama Inggris) saat pasar perumahan menguat pada 2024.

Strategis Rabobank Peringatkan Penutupan Selat Hormuz Berpotensi Berlarut, Ganggu Pasokan Minyak dan Dongkrak Harga Fisik di Seluruh Asia

Strategis Rabobank, Michael Every, mengubah skenario utama (base case, yaitu skenario yang paling mungkin menurut analis) perusahaan terkait konflik Iran menjadi penutupan Selat Hormuz yang lebih lama. Skenario ini mengasumsikan penutupan selama 2–4 pekan, dengan gangguan berkelanjutan pada arus pengiriman minyak dan kenaikan harga minyak fisik (pengiriman nyata, bukan kontrak) di Asia.

Catatan itu menilai ada risiko besar bahwa upaya meredakan ketegangan justru memicu eskalasi lebih lanjut. Kondisi ini bisa menyebabkan kerusakan pasokan energi yang lebih besar selama periode penutupan.

Eskalasi Dan Guncangan Pasokan

Laporan tersebut menyebut blokade ekonomi AS terhadap Iran dan blokade Iran atas Selat Hormuz. Rabobank menambahkan AS berencana meningkatkan Operasi “Economic Fury” di laut dan lewat sanksi (pembatasan ekonomi resmi), sementara Iran menyatakan akan menggunakan kekuatan untuk mematahkan blokade yang berlanjut.

Rabobank mengatakan harga minyak di layar perdagangan (screen prices, yaitu harga yang tampil di sistem perdagangan berjangka) hanya turun tipis setelah perpanjangan gencatan senjata AS. Namun, Rabobank menilai harga minyak dan produk minyak fisik di Asia akan terus naik kecuali Selat Hormuz kembali dibuka.

Analisis tersebut membandingkan potensi perubahan geopolitik dengan Krisis Suez 1956. Rabobank menilai hasil akhir yang berbeda dapat memengaruhi harga energi dan pasar aset (berbagai instrumen investasi seperti saham dan obligasi) dengan cara yang berbeda.

Skenario dasar baru kami adalah penutupan Selat Hormuz selama dua hingga empat minggu, yang akan mengganggu aliran sebagian besar minyak dunia. Dengan lebih dari 20 juta barel per hari melewati titik sempit (choke point, jalur sempit yang menjadi “bottleneck” perdagangan) ini, atau sekitar 20% pasokan harian global, pemblokiran berkepanjangan akan langsung mendorong harga minyak mentah naik. Kami perlu menyiapkan posisi untuk periode gangguan pasokan yang tidak singkat.

Perdagangan Dan Penempatan Risiko

Ini mengarah pada penyesuaian besar atas penilaian risiko, sehingga premi opsi (biaya membeli kontrak opsi) kemungkinan masih terlalu murah. Rabobank menyarankan mempertimbangkan membeli opsi call (hak membeli di harga tertentu) atau call spread (strategi opsi: membeli call dan menjual call lain untuk membatasi biaya dan potensi untung) pada Brent, karena Brent lebih terdampak jalur pasokan Timur Tengah dibanding WTI. Indeks Volatilitas Minyak Mentah CBOE (OVX, ukuran perkiraan gejolak harga minyak dari pasar opsi) sudah melonjak di atas 50 dan diperkirakan naik lagi karena risiko eskalasi militer tetap tinggi.

Perlu dicermati, harga di layar untuk kontrak berjangka minyak (futures, kontrak membeli/menjual di harga tertentu untuk tanggal mendatang) bisa tidak mencerminkan kondisi pasar fisik, terutama di Asia. Premi untuk barel fisik melebar, menandakan pasokan segera jauh lebih ketat dibanding yang tersirat di kontrak berjangka. Perbedaan ini membuka peluang bagi pelaku yang memperdagangkan selisih harga fisik versus berjangka (physical-to-futures spreads, strategi mengambil untung dari jarak harga pasar fisik dan futures).

Risiko eskalasi militer untuk mematahkan blokade dinilai sangat tinggi, sehingga menciptakan lingkungan perdagangan yang tidak stabil. Judul berita yang mengarah ke konflik laut langsung dapat memicu pergerakan ekstrem dan mendadak pada harga minyak dan aset lain. Memegang posisi short volatilitas (bertaruh volatilitas turun, misalnya dengan menjual opsi) sangat berisiko hingga ada arah yang jelas menuju penurunan ketegangan.

Jika melihat gangguan pengiriman minor pada akhir 2025, gangguan tersebut memicu lonjakan harga sementara 5–7% dalam beberapa hari. Skenario saat ini jauh lebih berat dan lebih lama, sehingga memerlukan reaksi pasar yang lebih besar dan lebih bertahan. Ini bukan peristiwa jangka pendek yang bisa diabaikan.

AUD/JPY Bertahan di Atas 114,00, Naik Tipis ke Sekitar 114,10 di Asia Usai Kabar Pelonggaran Blokade

AUD/JPY naik tipis ke sekitar 114,10 pada perdagangan Asia Rabu, bertahan di atas 114,00 setelah laporan bahwa Iran menerima “sejumlah sinyal” AS mungkin bersedia melonggarkan blokade lautnya. Bloomberg juga melaporkan Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata sampai ada kemajuan nyata dalam perundingan.

Blokade diberlakukan setelah putaran kedua negosiasi gagal, dan militer Iran memperingatkan kemungkinan serangan ke target yang sudah dipilih menyusul ancaman dari Trump. Menkeu AS Scott Bessent mengatakan Angkatan Laut akan tetap menegakkan blokade di pelabuhan-pelabuhan Iran untuk membatasi perdagangan lewat laut.

Strait Of Hormuz Planning Meeting

Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan perencana dari lebih 30 negara akan bertemu di London selama dua hari mulai Rabu untuk memajukan rencana pembukaan kembali Selat Hormuz dan menyepakati rincian operasional. Kenaikan AUD/JPY terbatas karena yen tetap kuat seiring turunnya harga minyak.

West Texas Intermediate (WTI, patokan harga minyak mentah AS) turun hampir 1,5% ke sekitar US$88,30 per barel. Ekspor Jepang naik 11,7% dibanding perkiraan 11% untuk bulan ketujuh berturut-turut, sementara surplus perdagangan tercatat JPY 667 miliar, di bawah perkiraan JPY 1.106 miliar.

Pelonggaran blokade laut AS terhadap Iran memicu suasana “risk-on” (pelaku pasar lebih berani mengambil risiko dan cenderung membeli aset berisiko seperti mata uang komoditas), yang mendukung dolar Australia. Namun, pernyataan berbeda dari Kementerian Keuangan AS menunjukkan situasi ini belum selesai. Karena itu, penguatan AUD/JPY di atas 114,00 bisa rapuh dan mudah berbalik jika muncul berita negatif.

Kita perlu mengingat sikap agresif Reserve Bank of Australia (RBA, bank sentral Australia) sepanjang 2025, saat mempertahankan suku bunga tinggi untuk melawan inflasi yang sulit turun dan rata-rata sekitar 3,5% pada paruh kedua tahun tersebut. Kebijakan yang cenderung “hawkish” (lebih condong menaikkan/menahan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi) ini menjadi penopang AUD. Akibatnya, jika ketegangan global benar-benar mereda, AUD berpeluang menguat lebih besar.

Options Strategies For Volatility

Di sisi lain, yen Jepang diuntungkan oleh turunnya WTI ke sekitar US$88 per barel, kabar baik setelah harga tinggi tahun lalu. Meski Bank of Japan (BoJ, bank sentral Jepang) memberi sinyal normalisasi kebijakan, pasar sudah sering melihat sinyal serupa, dan bank sentral ini dikenal sangat berhati-hati sejak mengakhiri suku bunga negatif pada 2024. Sebelum kenaikan suku bunga benar-benar terjadi, yen akan tetap sangat sensitif terhadap harga energi dan sentimen risiko global.

Dalam ketidakpastian ini, pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi yang nilainya mengikuti aset dasar) dapat mempertimbangkan strategi yang diuntungkan dari lonjakan volatilitas (naik-turunnya harga) alih-alih menebak arah. Membeli straddle (strategi membeli opsi beli dan opsi jual sekaligus pada harga kesepakatan yang sama) membuat trader bisa meraih manfaat dari pergerakan AUD/JPY yang besar, baik naik maupun turun, terlepas apakah kabar blokade menguat atau batal.

Bagi yang lebih punya pandangan arah, membeli opsi call AUD (hak untuk membeli pada harga tertentu) bisa menjadi cara meraih untung dari kabar positif lanjutan dengan risiko turun yang terbatas pada premi opsi (biaya yang dibayar untuk membeli opsi). Data terbaru menunjukkan ekspor Jepang kuat, namun surplus perdagangan sering mengecewakan. Kondisi ini dapat membatasi kekuatan yen, sehingga posisi bullish (bertaruh naik) pada pasangan AUD/JPY menjadi risiko yang terukur jika ketegangan terus mereda.

Akhir April, Indeks US 500 Menguat seiring Meredanya Ketegangan dan Laporan Laba yang Solid, Mengangkat Sentimen Investor

US 500 menguat hingga akhir April karena risiko geopolitik mereda, pertumbuhan ekonomi AS tetap tangguh (resilien), dan kinerja laba emiten bertahan, dipimpin saham berkapitalisasi besar (large-cap) bertipe growth (fokus pertumbuhan) serta perusahaan yang terkait AI (kecerdasan buatan). Inflasi tetap sulit turun, harga minyak bertahan tinggi, dan kebijakan Federal Reserve (bank sentral AS/The Fed) masih ketat (restriktif: suku bunga tinggi menahan aktivitas).

Pasar mengurangi “premi perang” (tambahan harga karena risiko konflik) yang sebelumnya mendorong kenaikan minyak dan volatilitas (naik-turun harga), sehingga minat terhadap aset berisiko membaik. Ekspektasi laba mendukung penguatan, dengan pelaku pasar menyoroti pendapatan (revenue), margin (laba dibanding penjualan), dan panduan/kisaran proyeksi manajemen (guidance) meski imbal hasil obligasi (bond yields) lebih tinggi.

Technical Picture And Market Drivers

Data ekonomi terus menunjukkan pertumbuhan berlanjut, bukan “hard landing” (perlambatan tajam menuju resesi), sehingga mendukung proyeksi laba. Tekanan inflasi terbaru dinilai sebagian terkait energi, dengan fokus pada apakah kenaikan harga menyebar ke sektor lain.

Pada grafik, harga pulih di atas retracement 61,8% (level pantulan teknikal berdasarkan Fibonacci) sekitar 6.744 dan menembus resistance (batas atas/hambatan kenaikan) di 7.011. Indeks diperdagangkan di sekitar 7.107, di atas weighted moving average (rata-rata bergerak berbobot: rata-rata harga dengan bobot tertentu) dan middle Bollinger Band (garis tengah dari Bollinger Bands: indikator kisaran volatilitas), sementara PPO tetap positif (Percentage Price Oscillator: indikator momentum/perubahan tren) dan Bollinger Band Width melebar (jarak antarband melebar, menandakan volatilitas meningkat).

Level kunci: resistance di 7.201 dan 7.443, support (batas bawah/penahan penurunan) di 7.011 dan 6.744. Arah jangka dekat cenderung naik selama 7.011 bertahan, namun risiko mencakup minyak, yield, geopolitik, pesan The Fed, dan rilis data makro.

Dengan reli yang tajam, sikap kami bergeser dari defensif menjadi optimistis secara hati-hati. Penembusan di atas 7.011 pada US 500 menjadi sinyal utama untuk mempertimbangkan posisi bullish (strategi diuntungkan saat harga naik). Fokus terdekat pada peluang pergerakan berlanjut menuju zona resistance 7.201 dalam beberapa pekan.

Optimisme ini didukung data yang menunjukkan ekonomi tetap tangguh dan meredanya ketakutan pasar. Misalnya, penurunan VIX (indeks volatilitas yang sering disebut “indeks ketakutan”) dari di atas 22 pada awal April ke sekitar 15 menunjukkan premi risiko geopolitik menyusut. Dengan pertumbuhan PDB (GDP) kuartal I bertahan di 2,1% (annualized: dihitung setahunan) dan CPI (inflasi konsumen) terbaru 3,4%, narasi “lebih baik dari yang dikhawatirkan” didukung angka yang mengarah pada perlambatan, bukan resesi.

Positioning And Risk Management

Dengan implied volatility (volatilitas tersirat: perkiraan volatilitas dari harga opsi) kini lebih rendah, membeli opsi call (hak membeli di harga tertentu) lebih menarik dibanding beberapa pekan lalu. Kita dapat mempertimbangkan jatuh tempo dekat (near-term expiries) dengan target menuju 7.201, sambil menjadikan 7.011 sebagai batas tegas (line in the sand). Menjual cash-secured puts (menjual opsi put dengan dana tunai disiapkan untuk membeli jika dieksekusi) di bawah support 7.011 juga dapat dipakai untuk mengekspresikan pandangan positif sambil menerima premi (premium: biaya opsi yang diterima penjual).

Namun reli ini rapuh, sehingga risiko penurunan dari minyak atau yield perlu dikelola. Pertimbangkan membeli opsi put murah out-of-the-money (harga strike jauh dari harga saat ini) sebagai lindung nilai (hedge) terhadap pembalikan mendadak akibat memanasnya geopolitik. Menggunakan bull call spreads (strategi opsi: membeli call dan menjual call di strike lebih tinggi untuk membatasi biaya dan risiko) dibanding membeli call saja juga membantu membatasi risiko pada transaksi bullish baru.

Pelebaran Bollinger Band Width mengindikasikan fase arah baru, namun juga menandakan potensi ayunan harga lebih besar. Artinya, siapkan diri menghadapi volatilitas lebih tinggi di sekitar rilis data penting atau pidato pejabat The Fed. Tanda kembalinya kekhawatiran inflasi dapat memicu pergerakan cepat kembali ke area 7.011 (titik tembus/breakout).

Pada akhirnya, langkah harus mengacu pada level teknikal utama. Selama US 500 bertahan di atas 7.011, bias bullish dipertahankan. Jika turun menembus level itu, itu menjadi sinyal untuk mengurangi eksposur posisi long (posisi beli) dan bersiap untuk potensi uji ulang support lebih dalam di 6.744.

Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga Acuan di 4,75%, Sesuai Proyeksi Ekonom

Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuannya di 4,75%, sesuai perkiraan pasar.

Keputusan ini membuat suku bunga acuan tetap sama seperti sebelumnya, tanpa perubahan.

Perkiraan Penurunan Volatilitas

Dengan Bank Indonesia menahan suku bunga acuan di 4,75% persis seperti prediksi pasar, risiko pergerakan besar karena pengumuman (event risk) sudah berlalu. Karena tidak ada kejutan, volatilitas tersirat (implied volatility, yaitu perkiraan pasar atas besar-kecilnya pergerakan harga yang tercermin pada harga opsi) pada Rupiah (IDR) berpeluang turun dalam beberapa hari ke depan. Trader dapat mempertimbangkan menjual straddle opsi berjangka pendek (strategi menjual opsi beli/call dan opsi jual/put pada strike yang sama untuk mendapat premi, cocok saat pasar diperkirakan tenang).

Fokus bank sentral tetap pada inflasi dan stabilitas nilai tukar. Harga konsumen naik tipis; data terbaru Maret 2026 menunjukkan inflasi 3,1% (year-on-year/tahunan), lebih tinggi dari bulan sebelumnya. Tekanan ini membuat wacana penurunan suku bunga masih terlalu dini, sehingga posisi swap suku bunga yang bertaruh suku bunga turun (interest rate swap/IRS; “receiving fixed” berarti menerima bunga tetap dan membayar bunga mengambang untuk diuntungkan saat suku bunga turun) kurang menarik untuk saat ini.

Rupiah juga perlu dicermati karena bergerak di sekitar 16.100 per dolar AS. Bank Indonesia menggunakan penahanan suku bunga ini untuk menopang rupiah dan menahan inflasi impor (kenaikan harga barang impor akibat pelemahan rupiah atau kenaikan harga global). Ini berarti strategi opsi yang bertaruh rupiah melemah tajam, seperti membeli call USD yang jauh di luar harga pasar (far out-of-the-money; strike jauh dari harga saat ini sehingga murah tetapi peluang untung kecil), berisiko besar kedaluwarsa tanpa nilai.

Dari sisi global, komitmen The Fed mempertahankan suku bunga tinggi membatasi ruang gerak Bank Indonesia. Selisih suku bunga AS–Indonesia (interest rate differential; perbedaan tingkat bunga yang memengaruhi arus modal) akan tetap menjadi faktor utama dan dapat membatasi penguatan rupiah.

Fokus Strategi Pergerakan dalam Rentang

Investor kini mencermati apakah Big Tech mampu mengonversi investasi besar-besaran di AI menjadi percepatan pertumbuhan laba di tengah kenaikan belanja modal (capex)

Lima dari “Magnificent 7” akan merilis laporan kinerja dalam dua hari: Microsoft, Alphabet, Meta, dan Amazon pada 29 April 2026, serta Apple pada 30 April 2026. Fokus pasar bergeser dari kekhawatiran pembangunan pusat data (data center) untuk AI yang berlebihan menjadi pertanyaan apakah belanja tersebut sudah mulai menaikkan pendapatan, margin (tingkat keuntungan), dan monetisasi (kemampuan mengubah pengguna/produk menjadi pendapatan).

Empat hyperscaler (perusahaan komputasi awan skala sangat besar) diperkirakan membelanjakan sekitar US$645 miliar pada 2026, naik sekitar 56% dibanding tahun sebelumnya. Pasar kini menuntut bukti hasil (return/imbal hasil), bukan sekadar rencana besar.

Ekspektasi Dan Belanja Perusahaan

Microsoft memperkirakan EPS (laba per saham) sekitar US$4,04 (naik sekitar 17%) dan pendapatan sekitar US$81,4 miliar (naik sekitar 16%). Capex (belanja modal, misalnya untuk pusat data dan server) mendekati US$146 miliar pada tahun fiskal 2026, sementara ekspektasi tahun fiskal 2027 lebih dekat ke US$170 miliar; Intelligent Cloud diproyeksikan sekitar US$34,2 miliar (naik 28%), pertumbuhan Azure sekitar 38%, kontribusi AI sekitar 21,4%, dan margin kotor cloud (laba kotor sebagai persentase dari pendapatan cloud) di 66,23%.

Alphabet memperkirakan adjusted EPS (EPS yang sudah disesuaikan, biasanya mengecualikan item sekali jalan) sekitar US$2,83 dan pendapatan sekitar US$107 miliar (naik sekitar 11%). Capex diproyeksikan US$175–US$185 miliar untuk FY2026, dengan perkiraan mendekati US$200 miliar pada FY2027; Search diperkirakan sekitar US$59 miliar (naik 16%), YouTube sekitar US$10 miliar (naik 12%), dan pertumbuhan Cloud berpotensi di kisaran 50%.

Meta memperkirakan adjusted EPS sekitar US$7,51 dan pendapatan sekitar US$55,5 miliar (naik sekitar 31%). Panduan capex (proyeksi belanja manajemen) adalah US$115–US$135 miliar untuk 2026, dengan konsensus 2027 (rata-rata perkiraan analis) sekitar US$142 miliar; pendapatan iklan sekitar US$54 miliar (naik 30%), impressions (jumlah tayangan iklan) naik 16%, dan harga rata-rata per iklan naik 12%.

Amazon memperkirakan adjusted EPS sekitar US$2,11 dan pendapatan sekitar US$177,2 miliar (naik sekitar 14%). Capex dipandu di US$200 miliar untuk 2026, dengan konsensus US$195,9 miliar dan konsensus Bloomberg 2027 sekitar US$209 miliar; AWS diperkirakan sekitar US$36,6 miliar (naik 25%), Advertising Services sekitar US$16,9 miliar (naik 20,8%), serta menambah investasi US$5 miliar ke Anthropic dengan potensi tambahan hingga US$20 miliar.

Ekspektasi Dan Belanja Apple

Apple memperkirakan EPS sekitar US$1,96 (naik sekitar 18%) dan pendapatan sekitar US$109,3 miliar (naik sekitar 15%). Capex diperkirakan sekitar US$13,5 miliar pada tahun fiskal 2026 dan US$15,4 miliar pada tahun fiskal 2027, dengan Services sekitar US$30,4 miliar (naik 14%).

Dengan lima perusahaan Magnificent 7 melapor pekan depan, kami melihat implied volatility (perkiraan volatilitas yang tersirat dari harga opsi, mencerminkan ekspektasi pasar atas besar-kecilnya pergerakan harga) naik tajam. Pasar opsi (instrumen derivatif untuk lindung nilai atau spekulasi) mematok potensi pergerakan saham yang besar setelah laporan kinerja, dengan CBOE Nasdaq-100 Volatility Index (VXN) naik lebih dari 18% sepanjang April. Ini berarti pelaku pasar bersiap menghadapi ayunan harga besar, sehingga periode ini penting untuk penempatan posisi.

Untuk Microsoft, fokusnya jelas: apakah belanja modal yang sangat besar mulai menghasilkan. Kami memantau harga opsi yang mengindikasikan expected move (perkiraan pergerakan harga) sekitar 6% ke atas atau ke bawah setelah laporan 29 April. Karena sahamnya tertinggal dari pesaing tahun ini, angka pertumbuhan Azure di atas 38% bisa memicu reli kuat, sehingga call spread (strategi opsi beli bertingkat untuk membatasi biaya sekaligus membatasi potensi keuntungan) menarik bagi pihak yang optimistis.

Alphabet menghadapi tantangan serupa namun berbeda: membuktikan bisa mengembangkan platform AI tanpa mengganggu bisnis Search. Mengacu pada laporan 2025, saham sangat sensitif terhadap komentar soal disiplin belanja. Trader opsi bersiap untuk pergerakan lebih dari 7,5%, mencerminkan peluang saham menjadi “catch-up trade” (saham yang berpotensi mengejar ketertinggalan dari kelompoknya) jika pertumbuhan Google Cloud mengesankan, atau risiko turun jika panduan capex lebih tinggi dari perkiraan.

Situasi Meta adalah pembenaran investasi AI yang agresif ketika bisnis iklan intinya sudah kuat. Pada 17 kali forward earnings (rasio valuasi berdasarkan proyeksi laba ke depan), saham ini lebih murah dibanding pesaing, sehingga bisa menjadi bantalan. Namun lonjakan belanja yang kembali mengejutkan dapat memunculkan lagi kekhawatiran seperti akhir 2025. Ini menciptakan skenario klasik “earnings trade”, dengan straddle atau strangle (strategi opsi untuk bertaruh pada pergerakan besar, tanpa harus menebak arah; straddle biasanya memakai strike yang sama, strangle memakai strike berbeda) dipertimbangkan oleh pihak yang memperkirakan pergerakan besar namun belum yakin arahnya.

Amazon memasuki periode ini sebagai pemimpin momentum, dengan kinerja saham terbaik di kelompoknya tahun ini. Artinya ekspektasi untuk AWS sangat tinggi, dan apa pun yang kurang dari hasil jauh di atas perkiraan pertumbuhan 25% dapat mengecewakan. Kami melihat kenaikan permintaan put out-of-the-money (opsi jual dengan harga pelaksanaan yang masih jauh dari harga saham saat ini, sering dipakai sebagai lindung nilai risiko turun), menandakan sebagian pelaku pasar melakukan hedging (lindung nilai) bila laporan tidak cukup kuat untuk membenarkan kenaikan saham belakangan ini.

Apple berbeda, karena narasinya lebih pada ketahanan dibanding pertumbuhan infrastruktur AI murni. Valuasi premiumnya di 28 kali forward earnings menyisakan sedikit ruang untuk kesalahan, terutama jika pertumbuhan Services melambat atau prospek terkait China lebih hati-hati. Implied volatility di sini lebih rendah, dengan expected move sekitar 4,5%, sehingga trader lebih fokus melindungi risiko kejutan negatif daripada bertaruh pada lonjakan berbasis AI.

Pada akhirnya, pasar tidak lagi menghargai ambisi belanja AI saja; pasar menuntut bukti hasil. Tingkat capex yang sangat besar yang direncanakan perusahaan-perusahaan ini menjadi risiko sekaligus peluang utama. Kami melihat hal ini tercermin bukan hanya pada opsi saham masing-masing, tetapi juga pada volatilitas indeks yang lebih luas, karena hasil laporan ini kemungkinan menentukan arah sektor teknologi dalam beberapa pekan ke depan.

Pada perdagangan Eropa, GBP/JPY mendekati 215,10 seiring pound sterling melemah setelah inflasi inti Inggris Maret di bawah perkiraan

GBP/JPY turun ke sekitar 215,10 pada perdagangan Eropa Rabu, setelah inflasi inti Inggris (core CPI—indeks harga konsumen tanpa komponen yang sangat bergejolak seperti energi dan pangan) untuk Maret lebih rendah dari perkiraan. Core CPI naik 3,1% secara tahunan (year-on-year/yoy), di bawah ekspektasi 3,2%.

Inflasi jasa Inggris melambat menjadi 4,3% yoy dari 4,4% pada Februari. CPI utama (headline CPI—angka total tanpa pengecualian komponen) naik 3,3% yoy, sesuai perkiraan dan naik dari 3% sebelumnya.

Data Inggris dan Perkiraan Kebijakan BoE

Perkiraan pasar (market pricing—ekspektasi suku bunga yang tercermin pada harga instrumen pasar seperti swap) atas langkah suku bunga Bank of England (BoE) menjelang rapat 30 April menurun setelah data inflasi inti yang lebih sejuk. Fokus berikutnya beralih ke data awal (flash—rilis cepat/pendahuluan) S&P Global PMI April pada Kamis dan Penjualan Ritel (Retail Sales) Maret pada Jumat.

Yen Jepang menguat terhadap sebagian besar mata uang utama, kecuali mata uang antipodean (dolar Australia dan dolar Selandia Baru). Penguatan ini terjadi karena Bank of Japan (BoJ) diperkirakan menahan suku bunga kebijakan pada 0,75% pada 28 April.

Opsi GBP/JPY dan Carry

Setahun lalu, BoJ cenderung bertahan, tetapi sejak itu terjadi dua kenaikan suku bunga kecil yang membawa suku bunga kebijakan menjadi 0,25%. Meski begitu, selisih suku bunga yang besar antara Inggris 4,5% dan Jepang 0,25% tetap mendukung carry trade (strategi meminjam dalam mata uang berbunga rendah lalu menempatkan dana di mata uang berbunga lebih tinggi untuk mengejar selisih imbal hasil). Ini berarti penguatan Yen berpotensi tidak bertahan lama kecuali BoJ memberi sinyal pengetatan (tightening—kenaikan suku bunga/pengetatan likuiditas) yang jauh lebih cepat.

Untuk pasangan GBP/JPY, kondisi ini menjadi penopang, berbeda dengan penurunan singkat yang terjadi pada April 2025. Dengan inflasi Inggris yang masih “lengket” (sticky—sulit turun) dan normalisasi kebijakan Jepang yang lambat, pedagang derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures) dapat mempertimbangkan strategi yang diuntungkan jika pasangan ini bertahan tinggi atau naik perlahan. Menjual opsi call JPY/put GBP yang out-of-the-money (harga kesepakatan/strike jauh dari harga pasar saat ini) bisa menjadi cara untuk mengantongi premi (premium—biaya yang dibayar pembeli opsi), sambil bertaruh bahwa pembalikan tajam tidak terjadi.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code