Back

AUD/USD menguat menuju 0,7190 seiring momentum pasca-kenaikan suku bunga RBA meningkat, sementara Dolar AS melemah

AUD/USD naik mendekati 0,7190 setelah Reserve Bank of Australia (RBA) menaikkan suku bunga. Perhatian kini tertuju pada langkah kebijakan berikutnya.

RBA menaikkan suku bunga acuan (cash rate, yaitu suku bunga kebijakan utama) sebesar 25 basis poin (bps, 1 bps = 0,01%) menjadi 4,35%. Ini kenaikan ketiga berturut-turut tahun ini, didukung voting 8–1.

Rba Guidance And Inflation Risks

Arahan kebijakan (guidance, yaitu sinyal RBA soal arah kebijakan ke depan) lebih seimbang dibanding kenaikan suku bunga. RBA mengatakan inflasi bisa bertahan di atas target karena harga energi yang tinggi dan ketegangan geopolitik, dan keputusan berikutnya akan bergantung pada data (data dependent, artinya setiap langkah ditentukan oleh rilis data ekonomi terbaru).

Di AS, JOLTS job openings (survei lowongan kerja JOLTS, indikator permintaan tenaga kerja) turun ke 6,866 juta dari 6,922 juta. Ini mengarah pada permintaan tenaga kerja yang lebih dingin, meski kondisi pasar kerja masih ketat.

ISM Services PMI (indeks manajer pembelian sektor jasa, ukuran aktivitas bisnis; di atas 50 berarti ekspansi) turun ke 53,6 dari 54,0 dan tetap ekspansi. Business Activity dan New Orders (aktivitas bisnis dan pesanan baru) bertahan, mendukung ekspektasi The Fed bisa mempertahankan kebijakan ketat (restrictive, yaitu suku bunga tinggi untuk menahan inflasi).

Pada grafik empat jam, AUD/USD diperdagangkan di 0,7194 di atas SMA 20-periode (Simple Moving Average, rata-rata bergerak sederhana) di 0,7185 dan SMA 100-periode di 0,7157. RSI (14) (Relative Strength Index, indikator momentum 0–100) berada di sekitar 56, dengan resistance (hambatan kenaikan) di 0,7195.

Key Levels And Near Term Setup

Support (penopang harga) berada di 0,7185, lalu 0,7174 dan 0,7167. Support lanjutan di 0,7157 dan 0,7152.

Pound sterling naik 0,20% terhadap dolar seiring gencatan senjata rapuh AS-Iran mendorong pengambilan risiko, menekan harga minyak dan USD

GBP/USD naik lebih dari 0,20% ke sekitar 1,3560 seiring selera risiko membaik dan Dolar AS melemah. Gencatan senjata AS-Iran bertahan, mendorong harga minyak dan USD turun, sementara saham AS menguat.

Pertempuran dilaporkan pada Senin ketika Angkatan Laut AS memulai “Operation Freedom” dan Iran membalas saat blokade (penutupan akses/penghentian aktivitas) pelabuhan Iran berlanjut. Laporan juga menyebut militer AS menghancurkan enam kapal Iran yang terkait rencana menghambat pelayaran di Selat Hormuz (jalur laut strategis pengiriman minyak).

Market And Data Drivers

Iran dilaporkan kembali menyerang UEA, merusak fasilitas minyak dan memicu lonjakan harga minyak. Dari data AS, ISM Services PMI (indikator survei aktivitas sektor jasa; di atas 50 berarti ekspansi) turun ke 53,6 pada April dari 54 pada Maret; komponen ketenagakerjaan (mengukur arah perekrutan) membaik dari 45,2 ke 48, dan prices paid (indikator tekanan harga/biaya input) bertahan di 70,7.

Defisit perdagangan AS melebar pada Maret, dengan impor naik 3,6% dan ekspor naik 3,1%. Lowongan kerja turun ke 6,866 juta dari 6,922 juta, di bawah perkiraan 6,83 juta.

Di Inggris, pasar beralih dari memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga menjadi memberi harga (pricing) hampir 68 basis poin pengetatan hingga akhir 2026. Imbal hasil (yield, tingkat pengembalian obligasi) Gilt Inggris 30 tahun (obligasi pemerintah Inggris) sempat mencapai 5,787%, tertinggi sejak 1998.

Kita perlu ingat, optimisme dari gencatan senjata AS-Iran yang rapuh tahun lalu hanya menjadi pendorong sementara bagi Sterling (Pound Inggris). Saat itu pada 2025, GBP/USD mendekati 1,3600 karena harapan selera risiko membaik. Kini, pasangan ini diperdagangkan jauh lebih rendah, dekat 1,25, menandakan faktor ekonomi dasar (fundamental) lebih dominan.

Tanda perlambatan AS yang terlihat pada 2025, seperti ISM Services turun ke 53,6, makin jelas. Data terbaru April 2026 menunjukkan ISM Services PMI benar-benar turun ke wilayah kontraksi di bawah 50, sinyal perlambatan ekonomi yang lebih tegas. Ini menegaskan arah yang dipantau tahun lalu, tetapi kini lebih membebani sentimen pasar.

BoE Expectations Reversal

Perubahan terbesar ada pada ekspektasi terhadap Bank of England (BoE/bank sentral Inggris), yang berbalik total. Tahun lalu, pasar memberi harga hampir 68 basis poin kenaikan suku bunga hingga akhir 2026, yang mendukung Pound. Saat ini, pasar uang (money markets, pasar instrumen jangka pendek) memberi harga setidaknya 50 basis poin pemangkasan suku bunga BoE tahun ini karena inflasi Inggris mendingin lebih cepat dari perkiraan.

Pembalikan kebijakan ini terlihat jelas di pasar Gilt, sehingga menjadi patokan penting untuk pandangan perdagangan. Imbal hasil Gilt 30 tahun sempat mencapai 5,787% saat aksi jual (sell-off, penurunan harga tajam) pada 2025. Kini yield tersebut turun ke sekitar 4,7%, mencerminkan keyakinan pasar bahwa langkah BoE berikutnya adalah turun, bukan naik.

Meski ketegangan geopolitik di Timur Tengah berlanjut, dampaknya tidak lagi memicu lonjakan harga minyak sebesar saat konfrontasi langsung AS-Iran pada 2025. Pasar tampaknya sudah memasukkan (priced in, sudah tercermin di harga) tingkat risiko yang berkelanjutan, sehingga data ekonomi dan kebijakan bank sentral menjadi fokus utama. Artinya, perhatian sebaiknya lebih pada inflasi dan ketenagakerjaan daripada berita utama Selat Hormuz.

Dengan pergeseran besar dari ekspektasi kenaikan suku bunga BoE menjadi pemangkasan, arah yang paling mungkin (path of least resistance, kecenderungan arah termudah) untuk GBP/USD terlihat turun. Untuk trader derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures), membeli opsi put (hak untuk menjual pada harga tertentu; biasanya diuntungkan saat harga turun) pada GBP/USD bisa menjadi strategi yang lebih hati-hati untuk mengantisipasi penurunan lanjutan, terutama menjelang rapat BoE berikutnya. Volatilitas (besarnya naik-turun harga) kemungkinan meningkat, sehingga opsi bisa lebih efisien dari sisi modal dibanding langsung melakukan posisi short di pasar spot (transaksi nilai tukar saat ini).

Standard Chartered: RBA Tahan Suku Bunga di 4,35%; Bullock Melunak dari Sikap Hawkish, Namun Risiko Kenaikan di Semester II Tetap Ada Jika Pertumbuhan Tetap Kuat

Standard Chartered melaporkan bahwa RBA (Reserve Bank of Australia/bank sentral Australia) menaikkan suku bunga acuan (cash rate, yaitu suku bunga kebijakan utama) menjadi 4,35% pada rapat 5 Mei, diputuskan lewat pemungutan suara 8-1. Pernyataan kebijakan menyebut adanya risiko inflasi (kenaikan harga) menguat.

RBA juga memperingatkan krisis energi yang berkepanjangan dapat melemahkan permintaan (demand, yaitu belanja dan konsumsi) dan mengurangi tekanan inflasi, dengan dampak yang mungkin merembet ke pasar tenaga kerja (labour market, kondisi lapangan kerja). Catatan itu juga menyebut harga energi yang tinggi dan potensi kelangkaan bahan bakar sebagai risiko.

Policy Signals And Market Reaction

Dalam konferensi pers, Gubernur Bullock memakai nada yang kurang hawkish (hawkish, yaitu cenderung mendukung kenaikan suku bunga) dibanding pernyataan tertulis. Pandangan dasar Standard Chartered: suku bunga acuan bertahan di 4,35% untuk waktu yang lama.

Laporan itu menyebut pengetatan lanjutan masih mungkin, tetapi syaratnya akan sangat berat. Disebutkan pula risikonya mengarah pada satu kenaikan lagi pada paruh kedua tahun ini bila pertumbuhan tetap di atas tren (di atas laju pertumbuhan normal jangka panjang) meski sebelumnya sudah ada pengetatan.

Artikel ini dibuat dengan alat AI dan ditinjau editor. Artikel tersebut dikaitkan dengan FXStreet Insights Team, yang menyusun pengamatan pasar dan komentar analis.

Di tengah ketegangan di Teluk Persia, patokan gas TTF Eropa disebut naik ke level tertinggi sejak April, namun masih meremehkan risiko

Patokan gas Eropa TTF naik setelah ketegangan kembali muncul di Teluk Persia dan mencapai level tertinggi sejak awal April. TTF ditutup menguat 5,7% pada hari itu.

Impor LNG (gas alam cair) Uni Eropa pada April turun dari rekor bulan Maret, tetapi penyaluran LNG ke jaringan (send-outs, yaitu volume LNG yang dikeluarkan dari terminal dan dialirkan ke jaringan pipa) tetap tinggi secara musiman. Hal ini membuat penyimpanan gas (gas storage, yaitu cadangan gas dalam fasilitas penyimpanan bawah tanah) Uni Eropa terus naik, mendekati 34% terisi dibandingkan rata-rata 5 tahun yang hampir 46%.

Pasar Terlalu Meremehkan Risiko Teluk Persia

Laporan tersebut menyebut pasar gas Eropa dan LNG Asia memasukkan terlalu sedikit risiko gangguan pasokan yang terkait Teluk Persia. Laporan itu menambahkan, pasar global memiliki opsi terbatas untuk mengganti kehilangan pasokan LNG dari kawasan tersebut.

Laporan menyatakan penyeimbangan ulang kemungkinan memerlukan “penghancuran permintaan” (demand destruction, yaitu permintaan turun karena harga terlalu mahal sehingga industri dan pembangkit mengurangi pemakaian). Artinya, harga yang lebih tinggi mungkin diperlukan agar permintaan turun cukup dalam untuk menyesuaikan dengan pasokan yang tersedia.

Kami melihat harga gas Eropa naik ke level tertinggi sejak awal April, dengan kontrak berjangka TTF bulan terdekat (front-month futures, yaitu kontrak untuk pengiriman paling dekat) menembus €40/MWh. Namun, pasar tampaknya masih meremehkan risiko pasokan serius akibat ketegangan baru di Teluk Persia. Ini menunjukkan harga saat ini belum sepenuhnya mencerminkan potensi gangguan pasokan.

Penyimpanan Rendah Membuat Penyangga Terbatas

Kerentanan terlihat dari level penyimpanan yang kini sekitar 34% terisi, jauh di bawah rata-rata lima tahun hampir 46% untuk periode ini. Kekurangan ini membuat penyangga terhadap guncangan pasokan jauh lebih kecil daripada biasanya.

Pasar global sedang ketat, dan ketergantungan Eropa yang meningkat pada LNG sejak perubahan pasokan pada 2025 membuat ancaman terhadap produsen seperti Qatar—pemasok utama dunia—menjadi sangat penting. Saat lonjakan harga 2025, gangguan kecil saja dapat memicu gejolak besar (volatilitas, yaitu naik-turun harga yang tajam) ketika persediaan rendah. Kondisi pasar yang tenang saat ini terasa tidak sejalan dengan pengalaman tersebut.

Hampir tidak ada kapasitas cadangan (spare capacity, yaitu kemampuan produksi/penyaluran tambahan yang bisa segera dinaikkan) dalam sistem gas global untuk menggantikan volume yang hilang dari Teluk Persia. Mekanisme utama untuk menyeimbangkan pasar adalah “penghancuran permintaan”. Agar itu terjadi, harga perlu naik jauh lebih tinggi untuk memaksa pengurangan pemakaian di sektor industri dan pembangkit listrik.

Strategis Scotiabank: EUR Stabil terhadap USD, EUR/USD Bergerak dalam Kisaran di Tengah Kekhawatiran Inflasi dan Sikap Hawkish ECB

Euro bergerak datar terhadap dolar AS pada Selasa, dengan EUR/USD tetap bergerak dalam rentang sempit saat pergerakan pasar secara umum campur aduk. Ini menyusul dua bulan ketika pergerakan “risk-on” dan “risk-off” (perubahan minat risiko: saat investor berani mengambil risiko vs menghindari risiko) sering menggerakkan harga.

Tidak ada rilis data ekonomi baru, sementara komunikasi ECB tetap “hawkish” (cenderung mendukung kenaikan suku bunga untuk menekan inflasi) dan mengaitkan lamanya konflik dengan seberapa besar pengetatan yang dibutuhkan untuk meredam inflasi. Harga pasar menunjukkan perkiraan kenaikan suku bunga kurang dari satu kali 25 bp (basis poin, 0,25%) hingga Juni dan lebih dari 75 bps (0,75%) hingga Desember.

Perdagangan Euro Dolar Dalam Rentang

Selisih imbal hasil (yield spreads, perbedaan tingkat imbal hasil obligasi) bergerak kembali ke tengah rentang terbaru, dan indikator sentimen menunjukkan dukungan terhadap euro sedikit berkurang. Pasar opsi juga memperlihatkan kenaikan kecil pada “premi” (biaya) untuk perlindungan terhadap pelemahan euro.

Dari sisi teknikal, pasangan ini kembali netral setelah pekan lalu sempat naik singkat di atas 1.1750. RSI (Relative Strength Index, indikator momentum untuk melihat kuat-lemahnya dorongan naik/turun) kembali ke 50, dan moving average 200-hari (rata-rata pergerakan harga 200 hari, acuan tren jangka menengah-panjang) di 1.1677 tetap menjadi level dukungan penting untuk penutupan harga.

Kondisi pasar saat ini mirip dengan yang terjadi pada 2025, ketika EUR/USD terjebak dalam rentang sempit. Bank Sentral Eropa kembali bersikap tegas terhadap inflasi, yang masih “lengket” (sulit turun cepat) di 2,7% menurut estimasi kilat Eurostat (perkiraan awal sebelum data final). Ini membuat pasangan mata uang cenderung tertahan, tanpa sentimen bullish (bias naik) maupun bearish (bias turun) yang mampu memegang kendali lebih dari beberapa sesi.

Bagi trader derivatif (instrumen turunan seperti opsi), kondisi ini biasanya membuat strategi “jual volatilitas” (mendapatkan keuntungan saat gejolak harga tetap rendah) menarik dalam beberapa pekan ke depan. Strategi seperti short strangle (menjual opsi call dan put di luar harga saat ini) atau iron condor (strategi opsi yang membatasi risiko dengan kombinasi posisi beli/jual) bisa efektif, memanfaatkan minimnya arah tren dan “peluruhan premi” (premium decay, nilai waktu opsi yang menyusut). Volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan volatilitas dari harga opsi) opsi EUR/USD tenor satu bulan turun ke 5,8%, mendekati level terendah sejak akhir 2024. Ini membuat keuntungan jual volatilitas lebih terbatas, namun mencerminkan ekspektasi pasar bahwa kondisi tetap tenang.

Mengelola Risiko Di Pasar Tenang

Meski masih sideways, terlihat sedikit kecenderungan permintaan perlindungan terhadap pelemahan euro, mirip sentimen 2025. Ini kemungkinan dipicu keunggulan imbal hasil dolar AS yang bertahan, dengan Fed funds rate (suku bunga acuan The Fed) berada 50 basis poin di atas main refinancing rate ECB (suku bunga pinjaman utama ECB). Permintaan “EUR puts” (opsi jual euro, biasanya digunakan sebagai proteksi jika euro turun) menunjukkan bahwa meski pelaku pasar tidak mengantisipasi pergerakan besar, risiko dinilai lebih condong ke arah penurunan.

Secara teknikal, situasi ini menegaskan keraguan arah, dengan EUR/USD diperdagangkan rapat di sekitar moving average 200-hari, kini di 1.0890. Level ini menjadi “magnet” harga selama lebih dari sebulan, memberi gambaran titik keseimbangan pasar. Trader perlu memantau penutupan mingguan yang jelas jauh di atas atau di bawah moving average ini sebagai sinyal bahwa pola perdagangan saat ini mulai berakhir.

Di tengah eskalasi di Timur Tengah, emas naik tipis, namun ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan menahan kenaikan lebih lanjut dan kekhawatiran inflasi

Emas (XAU/USD) naik pada Selasa ke sekitar $4.580 setelah menyentuh level terendah lima pekan di dekat $4.500 pada Senin. Kenaikan tetap terbatas karena ekspektasi suku bunga lebih tinggi masih bertahan, dipicu ketegangan Timur Tengah serta kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga energi.

Laporan pada Senin menyebut serangan baru di kawasan Teluk, dengan gencatan senjata AS-Iran kembali tertekan di sekitar Selat Hormuz. Iran dilaporkan menargetkan infrastruktur minyak di UEA, dan Presiden AS Donald Trump mengatakan pasukan AS menembak jatuh tujuh perahu kecil Iran di dekat selat tersebut.

Prospek Suku Bunga dan Inflasi

Risiko kenaikan harga energi menambah kekhawatiran inflasi, sementara inflasi masih berada di atas target Federal Reserve (The Fed) sebesar 2%. Suku bunga yang lebih tinggi mengurangi daya tarik emas karena emas tidak memberikan imbal hasil bunga.

Pasar bergeser ke ekspektasi pemangkasan suku bunga yang lebih lambat dan peluang kenaikan suku bunga yang meningkat. CME FedWatch Tool (alat yang memperkirakan peluang keputusan suku bunga The Fed dari harga kontrak berjangka Fed Funds) menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember naik ke sekitar 27%, dari hampir nol sepekan sebelumnya.

Lowongan kerja AS versi JOLTS (Job Openings and Labor Turnover Survey, survei data lowongan kerja) turun ke 6,866 juta pada Maret dari 6,922 juta pada Februari, dibanding perkiraan 6,83 juta. ISM Services PMI (indeks manajer pembelian sektor jasa, indikator aktivitas bisnis; di atas 50 berarti ekspansi) melemah ke 53,6 pada April dari 54,0, sedikit di bawah perkiraan 53,7.

Secara teknikal, XAU/USD bertahan di bawah SMA (simple moving average/rata-rata pergerakan sederhana) 100 hari dan 50 hari, tetapi masih di atas SMA 200 hari. Area support berada di dekat $4.500 dan SMA 200 hari di sekitar $4.293, sementara resistance di $4.766, $4.808, dan $5.000.

Rencana Transaksi dan Level Kunci

Dengan The Fed memberi sinyal sikap hawkish (cenderung mendukung suku bunga lebih tinggi untuk menekan inflasi), tekanan jangka dekat pada emas dinilai mengarah turun. Respons paling sederhana adalah mempertimbangkan membeli opsi put (hak untuk menjual pada harga tertentu) dengan strike price (harga kesepakatan) di bawah area support $4.500. Strategi ini memposisikan peluang penurunan lanjutan karena ekspektasi suku bunga naik, sekaligus membatasi risiko maksimum.

Namun, konflik yang kembali memanas di Selat Hormuz membuat potensi lonjakan harga mendadak cukup besar, sehingga posisi short langsung (bertaruh harga turun) menjadi berisiko. Indeks volatilitas emas GVZ (Gold Volatility Index, ukuran perkiraan gejolak harga emas) dilaporkan melonjak lebih dari 15% dalam sepekan terakhir, mencerminkan ketidakpastian yang meningkat. Kondisi ini cocok untuk strategi long strangle (membeli opsi call dan put sekaligus, keduanya di luar harga pasar/out-of-the-money, untuk mengambil untung dari pergerakan besar ke salah satu arah).

Situasinya mirip dengan 2023, saat inflasi yang sulit turun membuat The Fed tetap hawkish dan membatasi daya tarik emas. Data inflasi Core PCE (Personal Consumption Expenditures inti, ukuran inflasi pilihan The Fed yang tidak memasukkan harga pangan dan energi yang bergejolak) terbaru menunjukkan kenaikan tahunan 3,1%, jauh di atas target 2%, sehingga kekhawatiran pasar terhadap The Fed yang tetap ketat dinilai beralasan. Data ini mendukung pandangan bahwa setiap reli emas berpotensi dimanfaatkan untuk aksi jual.

Laporan Nonfarm Payrolls (NFP, data penambahan pekerjaan di luar sektor pertanian AS) yang rilis Jumat ini menjadi agenda penting yang dapat membentuk strategi beberapa pekan ke depan. Setelah pertumbuhan pekerjaan konsisten melampaui perkiraan pada kuartal terakhir 2025, laporan yang kembali kuat hampir pasti mendorong yield Treasury (imbal hasil obligasi pemerintah AS) lebih tinggi dan menekan harga emas. Eksposur bearish (posisi yang diuntungkan jika harga turun) bisa ditambah jika data tenaga kerja lebih panas dari perkiraan.

Mengingat volatilitas tinggi, menjual premi opsi (premi = harga opsi) juga menarik. Fokusnya adalah membentuk bear call spread (menjual call pada strike lebih rendah dan membeli call pada strike lebih tinggi untuk membatasi risiko), dengan menjual call di sekitar SMA 50 hari dekat $4.800. Posisi ini menghasilkan pendapatan jika emas bergerak mendatar atau turun, sementara call yang dibeli di strike lebih jauh memberi perlindungan jika terjadi lonjakan akibat eskalasi geopolitik.

Lambrecht dari Commerzbank: kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak dan permintaan China mengarahkan pergerakan emas, kini di bawah US$4.550

Sejak perang Iran dimulai, harga minyak menjadi faktor utama yang memengaruhi emas lewat inflasi (kenaikan harga umum) dan ekspektasi suku bunga. Emas sempat stabil di sekitar USD 4.600 per troy ounce (ons troy, satuan berat logam mulia), lalu turun di bawah USD 4.550 setelah data AS lebih kuat dan minyak naik.

Dalam tujuh hari perdagangan terakhir, emas bergerak berlawanan arah dengan kenaikan harga minyak. Risiko inflasi yang lebih tinggi meningkatkan peluang kebijakan moneter (kebijakan bank sentral untuk mengatur suku bunga dan jumlah uang beredar) yang lebih ketat. Ini menaikkan biaya peluang (keuntungan yang dikorbankan) memegang emas karena emas tidak memberi bunga, sehingga menekan harga.

Respons Emas Terhadap Minyak Dan Suku Bunga

Setelah pesanan AS yang kuat dan kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran soal suku bunga, emas ditutup sedikit di atas USD 4.500 per troy ounce. Ini menjadi level terendah dalam satu bulan.

Data World Gold Council (Dewan Emas Dunia) menunjukkan permintaan emas batangan dan koin China pada kuartal I hampir 67% lebih tinggi dibanding setahun sebelumnya. Angka ini menyumbang sedikit di bawah 45% dari permintaan global untuk batangan dan koin.

China berencana melonggarkan aturan impor emas mulai Juni. Rancangan proposal bank sentral akan memperluas “multi-use permits” (izin impor yang bisa dipakai berulang), memperpanjang masa berlaku menjadi sembilan bulan dari enam, dan menghapus batas berapa kali izin boleh digunakan.

Lebih banyak pelabuhan di China juga akan diizinkan untuk melakukan proses kepabeanan bullion (emas batangan murni dalam jumlah besar).

GBP/JPY Menguat Saat Pelemahan Yen Dipicu Turunnya Harga Minyak, Sementara Divergensi Suku Bunga BoE–BoJ Menopang Momentum Bullish

GBP/JPY menguat pada Selasa ketika Yen melemah di seluruh pasar. Dukungan sebelumnya dari intervensi Tokyo memudar, dan perhatian kembali ke ketegangan di Timur Tengah. Pasangan ini diperdagangkan di sekitar 213,90, naik sekitar 0,53% pada hari itu.

Yen tetap lemah karena kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran biaya impor Jepang. Jepang dan Inggris sama-sama mengimpor energi, namun Jepang lebih rentan karena jalur pasokan melewati Selat Hormuz.

Selisih Suku Bunga Dorong Pergerakan

GBP/JPY juga ditopang oleh selisih suku bunga antara Bank of England (BoE/bank sentral Inggris) dan Bank of Japan (BoJ/bank sentral Jepang). Risiko inflasi akibat kenaikan minyak memperlebar selisih ini, karena kebijakan moneter yang lebih ketat (menaikkan suku bunga atau mengurangi stimulus) biasanya menahan kenaikan harga.

BoJ mengetatkan kebijakan secara bertahap, tetapi risiko perlambatan ekonomi karena biaya energi dapat memengaruhi arah kebijakannya. Pasar memperkirakan setidaknya dua kali kenaikan suku bunga BoE hingga akhir tahun.

Pada grafik harian, pasangan ini masih berada di atas simple moving average (SMA/rata-rata pergerakan sederhana) 100 hari dan 200 hari, yaitu indikator tren yang menghitung rata-rata harga penutupan dalam periode tertentu. RSI (Relative Strength Index/indikator momentum untuk melihat kondisi jenuh beli-jenuh jual) berada di sekitar 50, sementara MACD (Moving Average Convergence Divergence/indikator momentum berbasis perbedaan dua rata-rata pergerakan) masih negatif.

Area resistance (hambatan kenaikan) berada di sekitar 214, dengan support (penopang) di SMA 100 hari sekitar 212, lalu 209. SMA 200 hari berada di dekat 206.

Inflasi dan Ekspektasi Kebijakan

Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa. Umumnya diukur MoM (month-on-month/perubahan dibanding bulan sebelumnya) dan YoY (year-on-year/perubahan dibanding periode sama tahun lalu), dengan target bank sentral sering sekitar 2%. CPI (Consumer Price Index/indeks harga konsumen) mengukur perubahan harga, sedangkan core CPI (inflasi inti) mengecualikan makanan dan energi yang volatil; core CPI yang tinggi di atas 2% bisa mendorong kenaikan suku bunga dan dapat menopang mata uang, sementara suku bunga tinggi dapat menekan harga emas.

Jane Foley dari Rabobank mengatakan DXY bergerak mendatar di sekitar rerata bergerak kunci, seiring pelaku pasar enggan menambah posisi long dolar AS di tengah meningkatnya ketegangan

Rabobank, Jane Foley, mengatakan Indeks Dolar AS (DXY) diperdagangkan dekat simple moving average (SMA)—rata-rata pergerakan sederhana—100 hari dan 200 hari di 98,479 dan 98,568. Menurutnya, level ini menjadi resistance (level penahan kenaikan harga), dan pasar berhati-hati menambah posisi long (posisi beli yang untung jika harga naik) pada dolar AS, meski ketegangan Timur Tengah kembali meningkat.

Foley menyebut masih ada risiko dolar AS menguat dalam beberapa pekan ke depan, namun kenaikan terbaru juga bisa cepat berbalik. Ia mengaitkan peran dolar sebagai safe haven (aset lindung saat kondisi pasar tidak pasti) dengan likuiditasnya (kemudahan untuk ditransaksikan tanpa banyak menggerakkan harga) serta penggunaannya yang luas dalam transaksi global.

Prospek Dolar dan Posisi Pasar

Rabobank memperkirakan Federal Reserve (bank sentral AS/The Fed) akan memangkas suku bunga lagi tahun ini. Hal ini bisa melemahkan dolar AS secara moderat terhadap euro dalam horizon 3 hingga 6 bulan.

Rabobank mengatakan tidak memperkirakan posisi long euro kembali ke level tahun lalu. Rabobank juga menilai kenaikan EUR/USD (pasangan mata uang euro vs dolar AS) pada paruh kedua tahun ini bisa tidak didukung keyakinan kuat.

Dampak untuk Derivatif dan Hedging

Bagi trader derivatif (instrumen turunan seperti opsi, futures, dan forward yang nilainya mengikuti aset acuan), kondisi ini berarti membeli call option (opsi beli; untung jika dolar naik) pada dolar, atau put option (opsi jual; untung jika pasangan mata uang turun) pada pasangan seperti EUR/USD, masih bisa menjadi strategi. Dengan The Fed memberi sinyal “higher for longer” (suku bunga tinggi lebih lama), implied volatility (perkiraan volatilitas yang tercermin pada harga opsi) pada opsi валютa naik ke sekitar 7,5% untuk kontrak 3 bulan. Kondisi ini mendukung strategi yang diuntungkan dari dolar yang tetap kuat atau euro yang melemah.

Kami melihat sedikit alasan untuk membangun posisi long euro. Dengan EUR/USD kini sulit bertahan di atas 1,0550, kenaikan cenderung singkat dan tidak kuat. Karena itu, memakai forward contract (kontrak forward; kesepakatan kurs untuk transaksi di masa depan) untuk hedging (lindung nilai) piutang berdenominasi euro, atau mempertahankan posisi short futures (posisi jual pada kontrak berjangka; untung jika harga turun) pada EUR/USD, bisa lebih bijak.

BLS Laporkan Lowongan Kerja di AS Turun ke 6,866 Juta pada Maret dari 6,922 Juta pada Februari

Lowongan kerja di AS tercatat 6,866 juta pada Maret, turun dari revisi 6,922 juta pada Februari, menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS (US Bureau of Labor Statistics/BLS). Angka ini di atas perkiraan pasar 6,83 juta.

Perekrutan naik menjadi 5,6 juta dalam sebulan, sementara total pemutusan hubungan kerja secara keseluruhan relatif stabil di 5,4 juta. Pengunduran diri (quits—pekerja memilih keluar sendiri, sering dipakai sebagai indikator keyakinan pekerja) nyaris tidak berubah di 3,2 juta, dan PHK serta pemecatan (layoffs and discharges) juga nyaris tidak berubah di 1,9 juta.

Reaksi Dolar Setelah Rilis Data

Setelah rilis data, Indeks Dolar AS (US Dollar Index/DXY—ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) melemah tipis ke sekitar 98,46. Pergerakan ini terjadi setelah rilis ISM Services Purchasing Managers Index (PMI Jasa ISM—survei aktivitas bisnis sektor jasa; angka lebih rendah dari perkiraan menandakan perlambatan), yang hasilnya di bawah ekspektasi.

Fokus utama pasar saat ini adalah inflasi yang sulit turun, dengan data CPI terbaru untuk April 2026 (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen—ukuran inflasi) bertahan di 3,1% secara tahunan (year-over-year/yoy—dibandingkan periode yang sama tahun lalu). Kondisi ini membuat Federal Reserve (The Fed—bank sentral AS) cenderung menahan kebijakan, memberi sinyal suku bunga akan tetap tinggi lebih lama. Karena itu, data tenaga kerja kini dilihat dari dampaknya terhadap inflasi ke depan, bukan sebagai pemicu langsung pemangkasan suku bunga.

Bagi pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti futures dan opsi), ini berarti gejolak harga (volatilitas—besar-kecilnya pergerakan harga) di pasar suku bunga tetap menjadi peluang. Pertimbangkan opsi atas kontrak berjangka SOFR (Secured Overnight Financing Rate—acuan suku bunga pasar uang AS berbasis transaksi) untuk mengambil posisi bahwa The Fed akan menahan suku bunga lebih lama dari yang kini diperkirakan pasar. Strategi seperti call spread (membeli opsi beli dan menjual opsi beli lain pada harga pelaksanaan lebih tinggi untuk membatasi biaya dan potensi untung) dapat memanfaatkan pandangan bahwa pemangkasan suku bunga tidak terjadi sampai akhir kuartal IV.

Volatilitas Saham dan Penempatan Posisi

Di pasar saham, CBOE Volatility Index (VIX—indeks “ketakutan” yang mencerminkan ekspektasi volatilitas S&P 500) bertahan di sekitar 17, menunjukkan ketidakpastian kebijakan masih tinggi. Kondisi ini mendukung strategi yang mengumpulkan premi (premium—imbalan yang diterima penjual opsi), seperti menjual out-of-the-money call spreads pada indeks S&P 500 (out-of-the-money—opsi yang saat ini belum menguntungkan jika dieksekusi). Posisi ini diuntungkan ketika pasar bergerak mendatar (range-bound), karena reli yang kuat cenderung sulit saat biaya pinjaman tinggi.

Terkait DXY, pergerakannya kini lebih ditentukan oleh selisih suku bunga global (interest rate differentials—perbedaan tingkat suku bunga antarnegara) ketimbang satu data AS. Dengan Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) memberi sinyal potensi pemangkasan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan, dolar berpeluang tetap tertopang. Pertimbangkan posisi long DXY (long—bertaruh harga naik) melalui futures (kontrak berjangka) atau opsi, dengan asumsi perbedaan arah kebijakan (policy divergence—kebijakan moneter yang tidak sejalan) antara The Fed dan bank sentral utama lain berlanjut.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code