Back

Emas Naik di Atas US$4.850, Menguat 1,5% saat Hormuz Kembali Dibuka, Ketegangan Mereda dan Dolar AS Melemah

Emas naik lebih dari 1,50% pada Jumat, menembus di atas US$4.850, setelah Iran membuka kembali Selat Hormuz selama gencatan senjata 10 hari yang disepakati antara Israel dan Lebanon. Minyak mentah AS (WTI) turun lebih dari 9,50% ke US$81,74 per barel, dan Indeks Dolar AS turun 0,17% ke 98,01, level terendah dalam tujuh pekan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Selat Hormuz terbuka untuk semua kapal niaga, menurut Reuters, dan Donald Trump menulis bahwa selat itu sepenuhnya terbuka. Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa perbedaan antara Teheran dan Washington masih ada, dan Selat Hormuz tetap terbuka bergantung pada syarat gencatan senjata Iran-AS.

Ekspektasi The Fed Bergeser

Turunnya harga minyak membuat pasar memperkirakan pelonggaran kebijakan Federal Reserve (The Fed/bank sentral AS) sebesar 14 basis poin hingga akhir tahun, menurut data LSEG Workspace. (Basis poin adalah satuan perubahan suku bunga; 1 basis poin = 0,01%.) Gubernur The Fed Christopher Waller mengatakan ia cenderung menahan suku bunga jika perang mendorong inflasi dan melemahkan pasar tenaga kerja, sementara Presiden The Fed San Francisco Mary Daly menilai suku bunga “mendekati netral” di 3%. (Suku bunga netral adalah tingkat suku bunga yang tidak mendorong maupun menahan ekonomi.)

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 7 basis poin ke 4,246%, terendah sejak pertengahan Maret. (Yield adalah imbal hasil yang diterima investor obligasi.) Emas memantul dari US$4.767 tetapi belum mampu menembus SMA 50 hari di US$4.899. (SMA 50 hari adalah rata-rata bergerak sederhana 50 hari, indikator tren harga yang umum dipakai.) Area resistensi (batas atas yang sulit ditembus harga) berada di US$4.900, lalu US$4.950 dan US$5.000, sedangkan support (batas bawah tempat harga sering tertahan) berada di US$4.750, US$4.699, dan US$4.549.

Dengan kabar meredanya ketegangan, volatilitas tersirat kemungkinan turun tajam di berbagai aset. (Volatilitas tersirat adalah perkiraan besarnya naik-turun harga ke depan yang tercermin dalam harga opsi.) Kondisi tenang ini bisa menjadi peluang, karena konflik mendasar AS-Iran belum selesai dan pejabat menyebut gencatan senjata bersyarat. Reaksi pasar yang tajam terhadap judul berita menunjukkan ketidakpastian masih tinggi dalam beberapa pekan ke depan.

Kejatuhan WTI lebih dari 9% dalam satu hari adalah peristiwa besar, mirip guncangan permintaan pada awal 2020-an. Ini meredakan kekhawatiran inflasi sementara, tetapi situasi di Selat Hormuz tetap rapuh. Kami menilai membeli opsi call “murah” yang out-of-the-money (harga pelaksanaan/strike di atas harga pasar saat ini) pada kontrak futures minyak untuk beberapa bulan ke depan bisa menjadi cara lindung nilai (hedging) berbiaya rendah jika gencatan senjata gagal dan harga memantul tajam. (Opsi call memberi hak membeli; futures adalah kontrak untuk membeli/menjual aset di harga tertentu pada waktu tertentu.)

Ide Penempatan Posisi Opsi

Emas berada dalam posisi sulit, naik karena harapan pemangkasan suku bunga The Fed, bukan murni sebagai aset safe haven (aset “perlindungan” saat pasar bergejolak). Saat ini emas tertahan di bawah resistensi penting US$4.900, sehingga gambaran teknikal (analisis berbasis pergerakan harga) terlihat tegang. Kami menilai strategi long strangle—membeli opsi call dan opsi put yang sama-sama out-of-the-money—lebih bijak untuk meraih keuntungan dari pergerakan harga besar ke dua arah jika situasi geopolitik berubah mendadak. (Opsi put memberi hak menjual.)

Pasar kini agresif memperkirakan pelonggaran The Fed, dengan ekspektasi pemangkasan 14 basis poin hingga akhir tahun hanya dari kabar satu hari. Sepanjang 2024 dan 2025, ekspektasi ini cepat berubah mengikuti data inflasi baru atau peristiwa global. Ini membuat posisi jual dolar AS terlihat menarik, tetapi bila ketegangan memanas, posisi itu dapat berbalik cepat karena investor kembali mencari “aman” di dolar.

Saat pasar menyambut peluang damai, CBOE Volatility Index (VIX) kemungkinan turun ke level menarik. (VIX adalah indeks “ketakutan” pasar saham AS yang mengukur perkiraan volatilitas S&P 500.) VIX pernah melonjak di atas 35 saat awal konflik geopolitik pada awal 2022. Membeli opsi call VIX sekarang dapat menjadi cara langsung dan relatif hemat biaya untuk bersiap jika ketakutan pasar kembali ketika situasi diplomatik memburuk.

Diplomasi Timur Tengah mendongkrak selera risiko, melemahkan dolar AS dan menopang mata uang Asia meski imbal hasil tenor pendek tetap tinggi

Sinyal diplomatik yang membaik di Timur Tengah telah mengangkat selera risiko (risk sentiment, yaitu minat investor mengambil aset berisiko), melemahkan Dolar AS dan mendukung pasar valuta asing (FX, yaitu perdagangan nilai tukar mata uang) Asia. Imbal hasil (yield, yaitu tingkat keuntungan obligasi) tenor pendek AS (front-end, biasanya obligasi 2 tahun) masih tinggi dan terus menopang Dolar, dengan yield US Treasury 2 tahun masih di atas suku bunga acuan efektif Fed funds (effective Fed funds rate, yaitu rata-rata tertimbang suku bunga pinjaman antarbank semalam di AS), meski sudah sedikit turun.

Pasar obligasi tetap menunjukkan sikap hati-hati terhadap narasi de-eskalasi (de-escalation, yaitu meredanya ketegangan). Mata uang Asia sempat memantul karena pasar memperkirakan penyelesaian lebih cepat, tetapi kenaikan terbaru bisa rentan jika diplomasi tersendat.

Risk Sentiment And Dollar Dynamics

Jika ada jalur penyelesaian yang cepat atau kredibel, optimisme bisa bertahan dan menekan Dolar dalam jangka menengah. Jika diplomasi gagal, Dolar bisa tetap kuat lebih lama, sementara penguatan FX Asia dapat tertekan di tengah harga energi yang masih tinggi.

Pertumbuhan output teknologi tinggi (high-tech output, yaitu produksi sektor teknologi seperti chip dan elektronik) China yang kuat sejalan dengan data ekspor Taiwan pada Maret, yang mencatat kenaikan 61,8% secara tahunan (year-on-year/YoY, yaitu dibanding periode sama tahun lalu), terutama didorong semikonduktor (semiconductors, yaitu chip) dan elektronik. Ini mendukung pandangan bahwa siklus naik teknologi regional (technology upcycle, yaitu periode permintaan dan produksi teknologi meningkat) masih berlanjut, membantu mata uang yang terkait sektor teknologi seperti TWD, KRW, SGD, dan MYR.

Nada diplomatik yang membaik di Timur Tengah meredakan pasar, melemahkan Dolar AS dan mendorong mata uang Asia. Namun, suku bunga AS jangka pendek yang tinggi tetap membuat memegang Dolar menarik. Pasar obligasi masih berhati-hati, sehingga suasana optimistis ini bisa rapuh.

Kondisi ini membuka peluang strategi volatilitas (volatility plays, yaitu strategi yang mencari untung dari naik-turunnya harga), karena kenaikan mata uang Asia masih rentan. Jika upaya diplomatik tersendat, Dolar bisa cepat berbalik menguat. Pelaku pasar dapat mempertimbangkan strategi opsi (options, yaitu kontrak yang memberi hak beli/jual pada harga tertentu) yang diuntungkan jika volatilitas nilai tukar meningkat dalam beberapa minggu ke depan.

Volatility And Hedging Considerations

Pekan ini, yield US Treasury 2 tahun bertahan di atas 4,9%, menandakan pasar belum sepenuhnya yakin pada reli risk-on (risk-on rally, yaitu kenaikan aset berisiko karena optimisme) yang berkelanjutan. Kami juga mencatat, meski VIX (indeks volatilitas pasar saham AS) turun ke sekitar 15, volatilitas tersirat (implied volatility, yaitu perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi) pada pasangan mata uang utama seperti USD/JPY tidak turun sebesar itu. Perbedaan ini menunjukkan ketegangan yang masih ada.

Dengan terlepas dari kebisingan geopolitik, kami menilai siklus naik teknologi di Asia tetap kuat dan berkelanjutan. Pertumbuhan manufaktur teknologi tinggi China memperkuat data ekspor positif di kawasan. Ini menjadi alasan fundamental (fundamental, yaitu berdasarkan kondisi ekonomi/permintaan riil) untuk tetap optimistis pada mata uang tertentu.

Karena itu, posisi derivatif (derivatives, yaitu instrumen turunan seperti opsi/futures untuk spekulasi atau lindung nilai) yang mendukung mata uang berorientasi teknologi seperti Dolar Taiwan, Won Korea Selatan, dan Dolar Singapura dapat dipertimbangkan. Mata uang ini berpotensi terus diuntungkan oleh permintaan global yang kuat untuk elektronik. Data awal April 2026 menunjukkan ekspor semikonduktor Korea Selatan pada kuartal I melonjak 48% YoY, didorong permintaan berkelanjutan untuk perangkat keras AI (AI hardware, yaitu chip/server untuk komputasi kecerdasan buatan).

Pasar Tetap Gelisah Akibat Ketidakpastian Hormuz; Dolar Melemah di Dekat 98,00, Tertekan Risiko Geopolitik

Indeks Dolar AS (DXY) bertahan di dekat 98,00 karena permintaan aset aman (instrumen yang biasanya dibeli saat pasar takut, seperti dolar AS dan obligasi pemerintah) mereda setelah kabar pembukaan kembali. Risiko geopolitik terkait Selat Hormuz tetap membatasi penurunan lebih lanjut.

Laporan menyebut Selat Hormuz “sepenuhnya terbuka dan siap untuk dilalui penuh”, sehingga menurunkan kekhawatiran gangguan pasokan dalam waktu dekat. Namun, laporan berikutnya menyebut Iran dapat mempertimbangkan menutupnya lagi jika Amerika Serikat mempertahankan blokade angkatan laut (pencegahan kapal melintas oleh militer), dan Iran akan menganggapnya sebagai pelanggaran gencatan senjata (kesepakatan penghentian serangan sementara).

Pergerakan Mata Uang dan Sentimen Risiko

EUR/USD naik menuju 1,1790 dan GBP/USD menguat ke dekat 1,3550 seiring dolar AS melemah. USD/JPY turun ke sekitar 158,20, sementara AUD/USD sempat mencapai 0,7200 sebelum melemah ke sekitar 0,7180.

Minyak WTI turun ke sekitar US$83,00 per barel setelah pembukaan kembali menurunkan premi risiko (tambahan harga karena risiko gangguan). Emas naik menuju US$4.865 meski permintaan aset aman melemah.

Agenda terjadwal mencakup pidato bank sentral pada 21–24 April, termasuk pejabat ECB, anggota The Fed Waller, serta Ketua SNB Schlegel. Data yang dinanti meliputi keputusan suku bunga PBoC China, PPI Jerman (indeks harga produsen), CPI Kanada (inflasi konsumen), data tenaga kerja dan inflasi Inggris, kepercayaan zona euro, survei PMI global (indeks aktivitas bisnis), penjualan ritel AS dan klaim pengangguran, neraca dagang dan inflasi Jepang, serta survei Michigan AS dan ekspektasi inflasi.

Lingkungan ini menunjukkan pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures/kontrak berjangka) sebaiknya fokus pada volatilitas (tingkat naik-turun harga) ketimbang menebak arah harga minyak. Indeks Volatilitas Minyak Mentah CBOE (OVX)—indikator ekspektasi volatilitas dari harga opsi—yang sempat melonjak di atas 55 sudah turun, tetapi masih jauh di atas rata-rata historis. Artinya, pasar opsi masih memperkirakan pergerakan harga besar. Ini membuat strategi seperti membeli long straddle atau long strangle pada futures WTI menjadi relevan; straddle/strangle adalah strategi membeli opsi beli (call) dan opsi jual (put) agar bisa untung bila harga bergerak besar ke salah satu arah, tanpa harus menebak arahnya.

Risiko Utama dan Fokus Perdagangan

Pelemahan dolar AS membuka peluang di pasar valuta asing, tetapi arah ini bisa berbalik cepat. Dolar Australia menjadi mata uang kunci untuk dipantau karena penguatannya ke area 0,7200 menunjukkan sensitivitas terhadap sentimen risiko dan harga komoditas. Menggunakan opsi pada AUD/USD dapat menjadi cara untuk memanfaatkan dinamika ini, karena memberi peluang ikut di sisi kenaikan sekaligus melakukan lindung nilai (hedging: perlindungan risiko) terhadap kemungkinan “flight to safety” (perpindahan dana ke aset aman) yang akan menguatkan dolar AS.

Kekuatan emas yang mendorongnya menuju US$4.865 per ons menjadi sinyal bahwa pelaku pasar tidak sepenuhnya percaya pada ketenangan sementara. Ini bukan sekadar lindung nilai jangka pendek; dukungannya berasal dari tren pembelian bank sentral selama beberapa tahun. Karena itu, memegang posisi panjang (long: diuntungkan jika harga naik) pada opsi call emas dapat menjadi strategi untuk melindungi portofolio dari eskalasi konflik geopolitik yang lebih luas.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

USD/JPY Melemah saat Yen Menguat, Harga Minyak Turun Usai Selat Hormuz Dibuka Kembali, dan Dolar Melunak

USD/JPY turun pada Jumat karena yen menguat dan dolar AS melemah, dengan harga minyak yang lebih rendah ikut mendukung Jepang. Pasangan ini diperdagangkan di dekat 158,18, turun 0,61% hari itu.

Pergerakan tersebut masih berada dalam kisaran satu bulan 157,50–160,50, dan berpeluang mencatat penurunan mingguan ketiga. Ini sejalan dengan Indeks Dolar AS (US Dollar Index/DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) yang tetap tertekan di tengah sentimen yang membaik terkait pembicaraan damai AS–Iran.

Harga Minyak Mendorong Penguatan Yen

Minyak mentah turun lebih dari 10% setelah Iran membuka kembali Selat Hormuz. Iran menyatakan jalur pelayaran komersial tetap dibuka selama sisa masa gencatan senjata, dengan rute transit ditetapkan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Iran.

Harga minyak yang lebih rendah mengurangi tekanan inflasi (kenaikan harga) dalam waktu dekat dan meningkatkan ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (bank sentral AS). Ini juga mendukung normalisasi kebijakan Bank of Japan (BOJ, bank sentral Jepang) secara bertahap. Pasar akan memantau perkembangan AS–Iran sepanjang akhir pekan, sementara isu nuklir masih belum terselesaikan.

Pada grafik harian, harga berada di bawah SMA (simple moving average/rata-rata bergerak sederhana) 20 hari pada Bollinger Band (indikator volatilitas yang membentuk pita atas-bawah di sekitar rata-rata) di 159,20 dan dekat dukungan pita bawah di 158,15. RSI (Relative Strength Index/indikator momentum) berada di 46 dan MACD (Moving Average Convergence Divergence/indikator arah tren dan momentum) sekitar -0,20, dengan resistensi (area hambatan kenaikan) di 159,20 dan 160,25, serta support (area penahan penurunan) di 158,15.

Penurunan tajam harga minyak menjadi faktor terpenting saat ini karena langsung memperkuat yen dan mengurangi tekanan pada Federal Reserve. Kontrak berjangka (futures/kontrak untuk membeli atau menjual di masa depan) minyak WTI (West Texas Intermediate, patokan minyak AS) turun ke sekitar US$81 per barel setelah pengumuman Iran, level yang sudah lama tidak terlihat, sehingga meredakan kekhawatiran inflasi global. Kondisi ini memberi ruang bagi BOJ untuk melanjutkan normalisasi kebijakan secara perlahan tanpa membebani ekonomi.

Perubahan pasar energi ini langsung tercermin pada ekspektasi penurunan suku bunga, yang berdampak langsung pada dolar AS. CME FedWatch Tool (alat yang memperkirakan peluang perubahan suku bunga The Fed berdasarkan harga kontrak berjangka) kini menunjukkan peluang hampir 75% untuk penurunan suku bunga 25 basis poin (bps; 1 bps = 0,01%) pada rapat Juli, naik tajam dibanding beberapa pekan lalu. Dengan inflasi inti (core inflation, inflasi tanpa komponen yang bergejolak seperti energi dan pangan) Jepang yang melambat ke 2,1% bulan lalu, perbedaan arah kebijakan (policy divergence) yang sebelumnya mendorong USD/JPY naik tampak menyempit.

Prospek Perdagangan dan Risiko Utama

Dari sisi perdagangan, arah yang paling masuk akal untuk USD/JPY dalam beberapa pekan ke depan tampak cenderung turun. Gambaran teknikalnya bearish (cenderung melemah), dengan indikator momentum mengarah turun dan pasangan ini diperdagangkan di bawah rata-rata bergerak 20 hari. Pasar juga mengingat intervensi (aksi pemerintah/otoritas pasar valas untuk memengaruhi nilai tukar) berulang oleh Kementerian Keuangan Jepang pada akhir 2024 dan 2025 untuk menahan pelemahan yen, dan perubahan fundamental ini bisa menjadi kondisi yang mereka tunggu.

Risiko utama terhadap pandangan ini adalah gagalnya pembicaraan AS–Iran pada akhir pekan, yang bisa mendorong harga minyak melonjak lagi dan mengembalikan daya tarik dolar sebagai aset safe haven (aset “pelindung” saat pasar bergejolak). Karena itu, strategi opsi seperti put spread (strategi opsi gabungan untuk membatasi biaya dengan membatasi potensi keuntungan) dapat membantu mengendalikan biaya dan melindungi dari pembalikan tiba-tiba. Perhatikan penutupan harian di bawah 158,15, karena ini kemungkinan menjadi sinyal konfirmasi untuk penurunan lanjutan.

DBS memperkirakan PBoC akan mempertahankan LPR tenor 1 tahun di 3,00%, sementara pertumbuhan domestik yang tidak merata berkontras dengan dukungan dari ekspor

DBS Group Research memperkirakan People’s Bank of China (PBoC/bank sentral China) akan mempertahankan Loan Prime Rate (LPR/suku bunga acuan pinjaman untuk perbankan) tenor 1 tahun di 3,00%. Alasannya, pertumbuhan ekonomi lebih kuat dan kondisi harga membaik.

Laporan itu menyebut pertumbuhan meningkat dari 4,5% (year on year/yoy, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya) pada kuartal IV 2025 menjadi 5,0% pada kuartal I 2026. Permintaan eksternal (permintaan dari luar negeri, terutama ekspor) dinilai masih menopang aktivitas industri.

Implications For China Rates And Policy

Laporan tersebut menilai permintaan domestik belum merata, dengan konsumsi, investasi, dan permintaan kredit masih lemah. Kondisi ini dikaitkan dengan tekanan di sektor properti serta kebijakan anti-involution (upaya menekan persaingan berlebihan yang tidak produktif di dunia usaha).

Menurut laporan itu, kebutuhan pelonggaran kebijakan dalam waktu dekat berkurang. Namun, kenaikan biaya energi dan gangguan rantai pasok (supply chain, alur produksi dan pengiriman bahan/produk) tetap menjadi risiko. DBS memperkirakan pembuat kebijakan akan lebih mengandalkan langkah yang terarah (targeted measures, misalnya dukungan untuk sektor tertentu) daripada pemangkasan suku bunga secara luas.

Secara terpisah, DBS memperkirakan Indonesia dan Filipina juga menahan suku bunga kebijakan masing-masing di 4,75% dan 4,25%. Pertimbangannya mencakup tren inflasi, perubahan arus modal (capital flows, aliran dana masuk/keluar), serta tekanan nilai tukar.

Regional Rates And Currency Strategy

Stabilnya kebijakan PBoC dinilai melanjutkan pendekatan kebijakan terarah yang terlihat sepanjang 2025, ketika PBoC juga menahan diri dari pelonggaran besar-besaran. Preseden ini memperkuat pandangan bahwa pemangkasan suku bunga mendadak dalam waktu dekat kecil kemungkinannya. Artinya, posisi investasi yang bergantung pada perubahan sikap yang sangat longgar (dovish pivot, pergeseran kebijakan ke arah penurunan suku bunga/dukungan moneter lebih besar) berisiko tinggi.

Di kawasan, bank sentral Indonesia dan Filipina juga diperkirakan menahan suku bunga kebijakan masing-masing di 4,75% dan 4,25%. Inflasi Indonesia terbaru sebesar 2,9% pada Maret 2026 masih berada dalam kisaran sasaran bank sentral, sehingga mendukung sikap menunggu. Tren stabilitas ini dapat menahan ekspektasi pergerakan besar pada mata uang maupun suku bunga di Asia Tenggara.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Waller mengatakan ia akan memantau data ketenagakerjaan untuk melihat tanda-tanda tekanan, mengisyaratkan titik impas pasar tenaga kerja mendekati nol

Christopher Waller, pejabat Federal Reserve (bank sentral AS), berbicara di Auburn University di Alabama pada Jumat tentang prospek ekonomi dan kebijakan moneter (kebijakan bank sentral untuk mengatur suku bunga dan jumlah uang beredar). Ia mengatakan tingkat impas pasar tenaga kerja (angka pertumbuhan lapangan kerja yang dibutuhkan agar kondisi tidak memburuk) kini kemungkinan sekitar nol.

Ia mengatakan perang di Timur Tengah yang belum selesai dan berlangsung lebih lama meningkatkan risiko terhadap inflasi (kenaikan harga secara umum) dan lapangan kerja. Ia juga mengatakan pasar tampaknya meremehkan risiko konflik berkepanjangan.

Risiko Inflasi Dan Implikasi Kebijakan

Waller mengatakan ia akan memantau ketenagakerjaan untuk melihat tanda tekanan yang meningkat. Ia menambahkan, perubahan terbaru di pasar tenaga kerja membuat kondisi saat ini lebih sulit dianalisis.

Ia mengatakan periode penurunan jumlah pekerjaan belum tentu berarti resesi (kontraksi ekonomi). Ia juga mengatakan bahwa setelah serangkaian guncangan, menjadi lebih sulit untuk “mengabaikan sementara” lonjakan inflasi (menganggapnya hanya sementara dan tidak perlu direspons dengan kebijakan).

Ia mengatakan penyelesaian perang yang cepat akan lebih memudahkan untuk mengabaikan sementara guncangan harga energi. Ia juga mengatakan akan memantau bagaimana ekspektasi inflasi (perkiraan masyarakat dan pelaku pasar tentang inflasi ke depan) merespons konflik.

Ia memperingatkan bahwa lonjakan harga energi berpotensi berdampak lebih lama pada inflasi. Ia mengatakan inflasi PCE utama (ukuran inflasi pilihan The Fed; “utama” berarti termasuk harga energi dan pangan) pada Maret kemungkinan mencapai 3,5% secara tahunan (year on year, dibanding periode yang sama tahun lalu).

Posisi Pasar Dan Manajemen Risiko

Ada tanda bahwa The Fed akan makin sulit mengabaikan sementara kenaikan inflasi baru-baru ini. Dengan inflasi PCE utama Maret diperkirakan 3,5%, pandangan ini didukung data CPI terbaru (Indeks Harga Konsumen, ukuran inflasi yang paling sering dikutip) yang naik 3,7% secara tahunan. Ini membuat pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat terlihat makin kecil kemungkinannya bagi pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti kontrak berjangka dan opsi) yang bertaruh pada arah kebijakan The Fed.

Data ketenagakerjaan perlu dipantau ketat untuk melihat tanda tekanan, terutama karena tingkat impas penciptaan lapangan kerja kini kemungkinan sekitar nol. Laporan payroll terakhir (laporan pekerjaan bulanan AS/nonfarm payrolls) menunjukkan penambahan hanya 85.000 pekerjaan, melambat dibanding pertumbuhan yang lebih kuat sepanjang sebagian besar 2025. Ini membuat reaksi pasar lebih sulit dibaca, karena penurunan pekerjaan tidak otomatis memicu perubahan kebijakan jika inflasi tetap tinggi.

Pasar tampak meremehkan risiko konflik berkepanjangan di Timur Tengah, yang meningkatkan peluang lonjakan harga energi mendadak. Brent (patokan harga minyak global) sudah naik ke US$95 per barel bulan ini, sehingga membeli proteksi atau memakai strategi opsi (kontrak yang memberi hak beli/jual pada harga tertentu) dapat menjadi pilihan. Indeks Volatilitas CBOE atau VIX (sering disebut “indeks ketakutan”, mengukur perkiraan gejolak pasar saham AS) yang naik ke 21 mendukung perlunya bersiap menghadapi pergerakan pasar yang lebih besar dalam beberapa minggu ke depan.

Dengan prospek ini, posisi yang diuntungkan oleh suku bunga tinggi yang bertahan lama layak dipertimbangkan, mirip kondisi pada 2023. Ini bisa dilakukan dengan menggunakan opsi pada kontrak berjangka suku bunga jangka pendek (short-term rate futures, kontrak berjangka yang mencerminkan perkiraan suku bunga) untuk bertaruh bahwa The Fed belum akan memangkas suku bunga. Di sektor energi, risiko kenaikan inflasi berarti opsi beli (call option, hak untuk membeli pada harga tertentu) atas minyak mentah dan saham terkait bisa menjadi cara langsung untuk lindung nilai (hedging, mengurangi risiko) terhadap guncangan geopolitik berikutnya.

Societe Generale: Permintaan domestik yang kuat berpotensi mendorong yuan menuju 6,80, meski fixing PBoC lebih lunak

Yuan diperkirakan bergerak menuju 6,80 per dolar AS untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, sementara People’s Bank of China (PBoC/bank sentral China) memperlambat laju penguatan lewat penetapan nilai tengah harian (daily fixing, acuan kurs harian) yang lebih lemah. Mata uang ini sempat ditopang pertumbuhan kuartal I dan ekspor, meski data aktivitas terbaru melunak dan inflasi CPI (Consumer Price Index/indeks harga konsumen) mereda.

Obligasi pemerintah China ditopang oleh “kolam” tabungan domestik US$51 triliun dan permintaan terhadap surat utang lokal. Imbal hasil (yield, tingkat “bunga” yang mencerminkan keuntungan jika memegang obligasi hingga jatuh tempo) obligasi pemerintah China tenor 10 tahun turun di bawah 1,79% (200dma, rata-rata pergerakan 200 hari/indikator tren), dan sekeranjang obligasi CNY (yuan) berperingkat tinggi (high-grade, kualitas kredit bagus/risiko gagal bayar rendah) memimpin indeks agregat pendapatan tetap global Bloomberg (global fixed income aggregate, indeks gabungan pasar obligasi dunia) sejak awal tahun sekitar +1,1%.

Prospek Yuan dan Sinyal Kebijakan

Pertumbuhan kuartal I China naik menjadi 5,0% secara tahunan (year on year, dibanding periode yang sama tahun lalu), dari 4,5% pada kuartal IV. Ekspor kuartal I meningkat 14,7%.

Saat kami menilai data pada awal 2025, kondisinya terlihat kuat, dengan pertumbuhan dan ekspor kuartal I memberi sinyal yuan berpeluang terus menguat. Saat itu, arah ke 6,80 per dolar tampak jelas, didukung pasar obligasi yang performanya lebih baik. Namun, faktor dasar (fundamental, pendorong utama dari ekonomi dan pasar) penopang yuan kemudian berubah besar.

Momentum ekonomi yang terlihat tahun lalu memudar. Pertumbuhan PDB (GDP, produk domestik bruto/ukuran total output ekonomi) kuartal I 2026 tercatat 4,6%, di bawah perkiraan, menandakan perlambatan dari pertumbuhan 5,2% sepanjang 2025. Selain itu, data perdagangan Maret 2026 menunjukkan ekspor turun 7,5% secara tahunan, berbanding terbalik dengan pertumbuhan dua digit pada awal 2025.

Latar ekonomi yang lebih lemah ini membalik arah yuan, dengan USD/CNY (nilai dolar AS terhadap yuan) kini diperdagangkan sekitar 7,24, jauh dari level 6,80 yang dibahas tahun lalu. PBoC juga mengubah sikap dengan memangkas suku bunga kebijakan utama tenor satu tahun pada Februari 2026 untuk menopang pertumbuhan. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik ke 2,31%, mencerminkan perubahan ekspektasi suku bunga dan berakhirnya kinerja unggul seperti tahun lalu.

Pendekatan Perdagangan Derivatif

Bagi pelaku pasar derivatif (instrumen turunan, kontrak yang nilainya mengikuti aset acuan), kondisi ini mengarah pada posisi untuk pelemahan yuan yang bertahap. Membeli opsi call USD/CNY (hak membeli, bukan kewajiban, pada harga tertentu) dengan strike (harga kesepakatan) sekitar 7,28–7,30 bisa memberi peluang untung bila data ekonomi terus mengecewakan. Strategi ini memungkinkan trader diuntungkan saat yuan melemah, sambil membatasi risiko pada premi (biaya) opsi yang dibayar.

Strategi yang bertaruh pada volatilitas (gejolak harga) yang lebih rendah juga dapat dipertimbangkan, karena PBoC aktif mengelola pelemahan agar tidak terjadi pergerakan tajam. Menjual strangle USD/CNY berjangka pendek (kombinasi menjual opsi call dan put/hak beli dan hak jual pada strike berbeda) bisa efektif bila mata uang diperkirakan bergerak dalam kisaran stabil, meski cenderung melemah. Pendekatan ini diuntungkan dari time decay (penyusutan nilai opsi karena waktu berjalan) selama kurs tidak bergerak besar dan tak terduga ke salah satu arah.

USD/CHF Merosot Seiring Penguatan Franc Swiss, Iran Tetap Membuka Selat Hormuz dan Harapan Kesepakatan Mengangkat Sentimen

USD/CHF turun pada Jumat karena Franc Swiss menguat dan Dolar AS melemah. Pasangan ini diperdagangkan di dekat 0,7800, turun 0,46% pada hari itu, dan bersiap mencatat penurunan mingguan kedua.

Sentimen membaik setelah Iran menyatakan Selat Hormuz terbuka selama masa gencatan senjata. Pernyataan itu menyebut jalur bagi kapal komersial “sepenuhnya terbuka” melalui rute yang dikoordinasikan.

Gencatan Senjata dan Reaksi Pasar

Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon pada Kamis. Trump juga mengatakan blokade laut AS akan tetap berlaku “sepenuhnya” terhadap Iran sampai ada kesepakatan final. (Blokade laut adalah pembatasan oleh angkatan laut untuk mengontrol atau menghentikan akses kapal.)

Harga minyak turun setelah pengumuman, dengan WTI (West Texas Intermediate, patokan harga minyak mentah AS) jatuh hampir 10% tak lama kemudian. Indeks Dolar AS (ukuran kekuatan Dolar AS terhadap beberapa mata uang utama) turun ke level terendah sejak 27 Februari, lalu memantul dan diperdagangkan di dekat 98,00 setelah sempat menyentuh sekitar 97,63.

Turunnya minyak meredakan kekhawatiran inflasi dan menekan imbal hasil US Treasury (yield obligasi pemerintah AS; yield bergerak berlawanan arah dengan harga obligasi). CME FedWatch menunjukkan pasar cenderung memperkirakan The Fed (bank sentral AS) akan menurunkan suku bunga pada Desember, dibandingkan peluang “tahan suku bunga” sekitar 70% pada hari sebelumnya. (Pemangkasan suku bunga berarti penurunan suku bunga acuan; “tahan” berarti tidak berubah.)

Presiden The Fed San Francisco Mary Daly mengatakan suku bunga bisa tetap tidak berubah, tetapi bisa naik jika inflasi kembali. Putaran pembicaraan AS–Iran berikutnya diperkirakan berlangsung akhir pekan ini.

Kepala Ekonom UBS Paul Donovan mengatakan bank sentral memantau dampak di kawasan Teluk, memprioritaskan efek putaran kedua ketimbang perubahan kebijakan yang cepat

Bank sentral memantau kemungkinan dampak lanjutan (second-round effects) terkait perkembangan terbaru di kawasan Teluk, bukan langsung mengubah kebijakan. Perhatian pasar tertuju pada bagaimana pembuat kebijakan menilai dampak ekonomi yang lebih luas dari peristiwa di kawasan Teluk.

Gubernur Bank of England, Andrew Bailey, melunakkan nada yang sebelumnya lebih “hawkish” (cenderung mendukung kenaikan suku bunga untuk menekan inflasi) pada rapat kebijakan terakhir. Kepala Ekonom Bank, Huw Pill, diperkirakan kembali menegaskan fokus utama ada pada dampak lanjutan.

Bank Sentral Mengamati Dampak Lanjutan

Di Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB), Kepala Ekonom Philip Lane mengatakan dampak yang jelas dari perang belum terlihat. Karena itu, perubahan pesan kebijakan kemungkinan akan ditunda.

Laporan menyebut masih terlalu dini bagi dampak lanjutan untuk muncul, sehingga juga terlalu dini bagi bank sentral memberi sinyal perubahan sikap. Laporan menambahkan komentar bank sentral, bersama berita dari kawasan Teluk, membentuk pembahasan pasar saat ini.

Artikel ini menyebut dibuat dengan bantuan alat kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI, teknologi yang membantu mengolah dan merangkum informasi) dan ditinjau редакtur.

Bank sentral di Eropa memberi sinyal akan “melewati” guncangan awal harga energi dari perkembangan di kawasan Teluk. Mereka menunggu apakah biaya energi yang lebih tinggi menyebar menjadi inflasi yang lebih luas—ini yang disebut dampak lanjutan (kenaikan harga awal memicu kenaikan harga lain dan tuntutan kenaikan upah). Ini mengarah pada periode menahan kebijakan, sehingga peluang kenaikan suku bunga mendadak dalam waktu dekat menurun.

Dampak Pasar untuk Suku Bunga dan Valas

Bagi pelaku pasar yang fokus pada Inggris, ini perubahan yang penting. Setelah lonjakan harga minyak Brent (patokan harga minyak global) ke atas US$100 per barel, pasar sempat menaikkan peluang kenaikan suku bunga Bank of England pada Juni. Namun, peluang itu turun lagi di bawah 30% setelah komentar terbaru. Bank sentral tampak lebih khawatir pada rapuhnya pertumbuhan PDB (GDP, ukuran total nilai barang dan jasa yang diproduksi) Inggris, yang hanya 0,2% pada kuartal terakhir.

Arahan resmi yang condong ke stabilitas ini menunjukkan volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan gejolak harga yang tercermin dari harga opsi) pada derivatif suku bunga jangka pendek, seperti kontrak berjangka SONIA (SONIA futures, produk derivatif yang mengikuti suku bunga acuan harian Inggris), kemungkinan terlalu mahal. Volatilitas pasar obligasi mereda, dengan indeks MOVE (ukuran volatilitas obligasi AS) turun ke 98 dari puncak terbaru 115. Karena itu, strategi menjual opsi—yang bisa diuntungkan saat harga bergerak di kisaran sempit—dapat menarik dalam sebulan ke depan.

ECB mengikuti pola serupa, yang juga terlihat pada 2025 ketika mereka lambat merespons masalah rantai pasok (supply chain, aliran pasokan dan distribusi barang). Dengan inflasi inti (core inflation, inflasi tanpa komponen harga yang sangat bergejolak seperti energi dan pangan) Zona Euro turun ke 2,7% pada Maret 2026, pembuat kebijakan punya ruang menunggu data tambahan sebelum berkomitmen mengubah kebijakan. Ini memperkuat pandangan bahwa mereka akan menoleransi lonjakan sementara inflasi utama (headline inflation, inflasi total) tanpa langsung memperketat kebijakan.

Perbedaan nada ini, terutama jika Federal Reserve AS tetap “hawkish”, bisa menekan mata uang Eropa. Pelemahan EUR/USD dari 1,09 ke di bawah 1,07 berpotensi berlanjut jika selisih suku bunga makin lebar. Strategi derivatif yang bertaruh kenaikan euro dan pound sterling terbatas tampak lebih aman untuk kuartal kedua.

Saham AS Melonjak Usai Gencatan Senjata Israel–Lebanon dan Iran Buka Kembali Selat Hormuz untuk Pelayaran Kapal

Saham AS menguat pada Jumat setelah gencatan senjata Israel–Lebanon selama 10 hari dimulai pukul 21:00 GMT pada Kamis, dan Iran menyatakan Selat Hormuz akan dibuka untuk lalu lintas kapal dagang selama masa gencatan senjata. DJIA naik lebih dari 1.000 poin ke sedikit di bawah 49.800, S&P 500 menguat 1,5% dan menembus 7.100 untuk pertama kalinya, sementara Nasdaq naik 1,7%.

Russell 2000 melonjak 2,2%. Kontrak berjangka (futures) DJIA—kontrak yang mencerminkan perkiraan pergerakan indeks sebelum pasar buka—naik semalam dan terus menguat hingga penutupan, dari sekitar 48.700 pada awal sesi menjadi mendekati 49.700 pada sore hari GMT.

Gencatan Senjata Mendorong Saham Naik

Menteri Luar Negeri Iran menulis di X bahwa jalur pelayaran komersial akan terbuka penuh selama periode gencatan senjata. Presiden Donald Trump mengatakan Iran tidak akan pernah menutup jalur itu lagi, sambil menegaskan blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan Iran akan berlanjut sampai ada perjanjian damai.

Kantor berita Tasnim menyebut kapal yang terkait negara “musuh” tidak akan diizinkan melintas, dan selat itu akan ditutup lagi jika blokade AS tetap berlangsung. WTI—patokan harga minyak AS—turun 14% ke atas US$80 per barel, sementara Brent—patokan global—turun 10% ke atas US$89.

Boeing naik 3% dan Royal Caribbean melonjak 10%, dengan Amazon dan Airbnb juga menguat. Sepanjang pekan, DJIA naik 3%, S&P 500 naik 4%, dan Nasdaq naik 6%. Perhatian pasar beralih ke laporan kinerja emiten (earnings) dan rilis PPI (Producer Price Index/Indeks Harga Produsen), yaitu data inflasi di tingkat produsen yang sering memengaruhi ekspektasi suku bunga.

Lonjakan aset berisiko (risk-on, artinya investor beralih ke saham dan aset berisiko lain) menekan volatilitas tersirat (implied volatility, yaitu perkiraan volatilitas dari harga opsi). Indeks VIX—sering disebut “pengukur ketakutan” pasar karena mengukur volatilitas tersirat S&P 500—berpotensi turun di bawah 14 untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan. Ini membuat lindung nilai (hedging, perlindungan portofolio dari penurunan) menjadi murah. Strategi yang bisa dipertimbangkan: membeli opsi put out-of-the-money (harga strike di bawah harga saat ini, biasanya lebih murah namun butuh penurunan lebih besar untuk untung) pada SPY (ETF yang mengikuti S&P 500), atau membeli opsi call pada VIX (opsi beli yang diuntungkan bila VIX naik) untuk perlindungan jika gencatan senjata gagal.

Pasar cenderung mengabaikan pesan yang saling bertentangan antara blokade Washington dan pembukaan Selat Hormuz yang bersyarat dari Teheran. Risiko rapuh ini belum tercermin dalam harga (not priced in), sehingga membuka peluang lonjakan volatilitas jika kesepakatan terganggu dalam 10 hari ke depan. Posisi kecil pada opsi call VIX untuk Mei bisa memberi hasil besar bila berita berubah negatif.

Penempatan Opsi untuk Minyak dan Sektor Perjalanan

Penurunan WTI 14% termasuk yang terdalam dalam sehari sejak kejatuhan harga minyak pada 2020, sehingga penurunan ini bisa jadi berlebihan. Walau arah berikutnya sangat bergantung pada politik, investor bisa “menjual premi” (sell premium, strategi memperoleh pendapatan dari premi opsi) memakai iron condor pada ETF minyak. Iron condor adalah strategi opsi yang mencari untung jika harga bergerak dalam kisaran tertentu, bukan naik tajam atau turun tajam.

Reli saham perjalanan dan rekreasi sangat kuat, didorong penutupan posisi short defensif (short, bertaruh harga turun; menutup short berarti membeli kembali sehingga mendorong harga naik). Tema ini masih bisa diikuti lewat opsi call pada ETF maskapai dan kapal pesiar untuk mendapat potensi naik dengan risiko terbatas. Alternatif lain adalah menjual cash-secured puts (menjual opsi put dengan dana tunai disiapkan untuk membeli jika dieksekusi), sehingga investor menerima premi sambil menentukan harga lebih rendah yang bersedia dibayar untuk memiliki saham/ETF tersebut.

Dengan berkurangnya premi risiko geopolitik (tambahan harga karena ketidakpastian geopolitik), fokus pasar beralih ke rilis PPI dan laporan kinerja Big Tech. Harga opsi untuk jatuh tempo akhir April dan awal Mei—yang mencakup peristiwa penting ini—masih menunjukkan volatilitas tersirat tinggi. Artinya pasar memprediksi pergerakan harga yang besar, meski situasi Timur Tengah sementara mereda.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code