Back

Ekonom UOB: AUD/USD melonjak ke 0,7220 lalu berbalik melemah; penurunan terlihat berlebihan, namun belum selesai

AUD/USD naik ke 0,7220 sebelum jatuh tajam dan ditutup nyaris tidak berubah di 0,7167 (+0,08%). Setelah itu, pasangan ini turun lagi saat pasar berikutnya dibuka.

Penurunan terakhir disebut berlebihan, tetapi bisa berlanjut. Pelemahan lanjutan diperkirakan tetap berada dalam kisaran harian (pergerakan harga dalam satu hari) 0,7100–0,7180.

Support Jangka Pendek dan Kisaran

Penembusan tegas di bawah 0,7100 tidak diharapkan. Level support (batas bawah harga tempat biasanya muncul pembelian) di 0,7085 belum ditembus.

Dorongan kenaikan (momentum, yaitu kekuatan arah pergerakan harga) sebagian besar memudar. Pola yang lebih luas disebut bergerak dalam kisaran (range trading, harga bolak-balik di antara batas atas dan bawah) antara 0,7060 dan 0,7210.

Artikel ini menyebut dibuat dengan dukungan alat AI (kecerdasan buatan) dan ditinjau oleh editor.

Latar Belakang Makro dan Volatilitas

Hari ini, dinamika serupa terlihat kembali, meski pada level berbeda di sekitar 0,6550. Reserve Bank of Australia (bank sentral Australia) mempertahankan suku bunga (tingkat bunga acuan) di 4,35% awal bulan ini, sementara data inflasi AS terbaru sedikit di atas perkiraan di 3,5%, sehingga terjadi tarik-menarik kebijakan. Dorong-menarik antara bank sentral ini membuat tren arah yang jelas sulit terbentuk.

Kurangnya keyakinan pasar ini juga terlihat di pasar komoditas, dengan harga bijih besi stabil di sekitar US$110 per ton setelah turun tajam lebih awal tahun ini. Karena data ekonomi China menunjukkan gambaran campuran namun tidak buruk, pemicu besar untuk kenaikan signifikan dolar Australia belum terlihat. Kondisi ini membuat volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan besar-kecilnya gejolak harga di masa depan yang tercermin dari harga opsi) pada opsi (kontrak turunan yang memberi hak beli/jual pada harga tertentu) AUD/USD turun ke level terendah dalam lebih dari dua bulan.

Dengan latar ini, pasangan ini diperkirakan bergerak terbatas dalam kisaran 0,6480–0,6620 dalam waktu dekat. Kenaikan menuju batas atas area ini kemungkinan cepat kehilangan tenaga, sementara penurunan ke batas bawah kemungkinan mendapat pembeli. Pelaku derivatif (instrumen turunan seperti opsi) sebaiknya tidak mengantisipasi penembusan besar (breakout, harga keluar kuat dari kisaran) ke salah satu arah dalam beberapa pekan ke depan.

Lingkungan ini mendukung strategi yang diuntungkan dari volatilitas rendah dan pergerakan dalam kisaran. Menjual premi opsi (option premium, biaya opsi yang diterima penjual) lewat strategi seperti iron condor (menggabungkan beberapa opsi beli/jual untuk membatasi risiko dalam rentang tertentu) atau short strangle (menjual opsi beli dan opsi jual di harga berbeda untuk mendapat premi, dengan risiko jika harga bergerak terlalu jauh) bisa efektif. Posisi ini diuntungkan oleh peluruhan waktu (time decay, nilai opsi menyusut seiring waktu) dan pasangan mata uang bertahan dalam batas yang diperkirakan.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Terlepas dari ketegangan Timur Tengah, dolar Australia bangkit, mengangkat AUD/USD ke 0,7150 terhadap dolar AS

AUD/USD naik ke sekitar 0,7150 pada Senin setelah memantul dari titik terendah awal sesi Asia di 0,7132. Pergerakan ini terjadi saat ketegangan meningkat di Selat Hormuz antara Iran dan AS.

Pasangan ini tetap di bawah area 0,7200 yang terlihat pada akhir pekan lalu. AS dan Iran saling melontarkan ancaman menjelang putaran kedua perundingan damai yang dijadwalkan Selasa di Pakistan.

Risiko Selat Hormuz Meningkat

Ketegangan meningkat pada Minggu setelah militer AS menyita kapal kargo Iran yang disebut mencoba menutup Selat Hormuz. Iran menyatakan akan membalas dan memberi sinyal mungkin tidak mengirim delegasi ke Pakistan, dengan alasan pelanggaran gencatan senjata oleh AS.

Gencatan senjata dijadwalkan berakhir pada Rabu. Dolar AS sempat menguat terhadap mata uang utama lain, tetapi kenaikannya terbatas.

UOB Bank menilai AUD/USD cenderung menguat, dengan support (area penahan penurunan) di 0,7085. Bank ini menyebut pasangan tersebut masih bisa ditutup di atas 0,7190 jika 0,7085 bertahan.

Kalender data Senin relatif sepi, sehingga perkembangan di Timur Tengah menjadi pendorong utama. Pada Selasa, data Penjualan Ritel AS (nilai belanja toko dan online) dan kesaksian Kevin Warsh di Senat (dengar pendapat) dijadwalkan rilis. Sementara itu, PMI awal Australia untuk April (indeks aktivitas bisnis; di atas 50 berarti ekspansi) dijadwalkan terbit Kamis dini hari.

Data Kunci Dan Penggerak Pasar

Menengok periode 2025, pasar sempat gelisah di sekitar level 0,7150 untuk AUD/USD di tengah gesekan AS-Iran. Namun dolar Australia (Aussie) mampu memantul meski ada berita negatif. Ini menunjukkan minat terhadap aset berisiko (risk appetite, selera investor untuk mengambil risiko) bisa mengalahkan dampak geopolitik jangka pendek.

Perundingan damai di Pakistan pada akhirnya berhasil dan memicu penurunan ketegangan pada akhir pekan itu di 2025. Hal tersebut mendorong reli “lega” (relief rally, kenaikan karena kekhawatiran mereda) dan mengingatkan bahwa momen tegang bisa membuka peluang beli pada mata uang yang sensitif terhadap risiko.

Data historis menunjukkan setelah sempat turun, AUD/USD menembus 0,7200 dan terus naik hingga Mei 2025. Kenaikan didukung Penjualan Ritel AS yang kuat, naik 0,9% bulanan, serta PMI Australia yang pulih ke 50,8, meredakan kekhawatiran perlambatan. Pasar cenderung mengabaikan kebisingan politik.

Pada 20 April 2026, pola serupa terlihat ketika Aussie turun ke 0,6550 akibat gesekan perdagangan China-AS. Pelajaran dari 2025 adalah menilai apakah kondisi ekonomi dasarnya masih solid. Data ketenagakerjaan Australia terbaru menunjukkan tambahan 65.000 pekerjaan, jauh di atas perkiraan, mengindikasikan ekonomi domestik tetap kuat.

Dengan kondisi ini, pelaku pasar dapat mempertimbangkan strategi yang memanfaatkan potensi pantulan sambil mengelola risiko. Salah satunya membeli call option AUD/USD berjangka pendek (kontrak hak beli pada harga tertentu dalam periode tertentu) dengan strike (harga acuan) sekitar 0,6600. Biaya utamanya adalah premi opsi (biaya yang dibayar), dan kerugian maksimum terbatas pada premi tersebut.

Kami juga memantau data awal PDB AS pekan ini (ukuran pertumbuhan ekonomi) dan risalah rapat RBA (ringkasan pembahasan bank sentral Australia) untuk arah berikutnya. Jika ekonomi AS melambat sementara RBA tetap hawkish (cenderung mendukung suku bunga lebih tinggi untuk menahan inflasi), itu bisa menjadi pendorong tambahan bagi Aussie. Opsi lain adalah menjual put spread out-of-the-money pada AUD/USD (strategi opsi: menjual put di harga lebih rendah dan membeli put lain lebih rendah lagi untuk membatasi risiko), guna mengekspresikan pandangan bullish secara hati-hati dan memanfaatkan tingginya ketakutan pasar.

Deutsche Bank melaporkan S&P 500 mencetak rekor tertinggi saat ketegangan mereda, harga minyak turun; reli bisa berbalik arah

Analis Deutsche Bank melaporkan reli kuat saham AS. Indeks S&P 500 mencetak rekor tertinggi baru karena harapan meningkat soal penyelesaian masalah Iran–AS dan harga minyak turun. Mereka menilai kenaikan ini terkait turunnya kekhawatiran “stagflasi” (situasi ketika ekonomi melambat tetapi harga-harga tetap naik) serta adanya kelegaan karena biaya energi lebih rendah.

S&P 500 naik 4,54% sepanjang pekan, kenaikan mingguan terbesar sejak Mei 2025, dan ditutup di rekor 7.126 setelah naik 1,20% pada Jumat. Indeks ini juga menembus 7.000 untuk pertama kalinya pada Rabu.

Nasdaq Breakout And Momentum

Nasdaq Composite naik 6,84% sepanjang pekan dan bertambah 1,52% pada Jumat hingga mencetak rekor baru. Indeks ini memperpanjang “winning streak” (rentetan kenaikan) menjadi 13 hari berturut-turut, yang terpanjang sejak 1992.

Para analis mencatat, reli pasar saat konflik bisa berbalik arah jika harapan damai melemah. Mereka menyinggung episode awal perang Ukraina, ketika S&P 500 sempat naik lebih dari 10% pada minggu-minggu awal, tetapi berbalik turun ketika harapan penyelesaian cepat tidak terwujud.

Derivatives Hedging And Volatility

Dalam kondisi ini, mereka menyoroti murahnya biaya “proteksi” (perlindungan) di pasar derivatif. “Derivatif” adalah instrumen turunan seperti opsi yang nilainya mengikuti aset acuan. Indeks VIX—ukuran perkiraan volatilitas (naik-turunnya harga) pasar—turun ke 13,2, terendah dalam lebih dari setahun, sehingga “opsi” (kontrak hak beli/jual pada harga tertentu) menjadi relatif murah. Ini membuka peluang untuk membeli perlindungan sebelum kejutan geopolitik memicu lonjakan volatilitas.

Strategi langsungnya adalah membeli “put option” (opsi jual, biasanya untung saat harga turun) pada indeks utama seperti SPX dan QQQ untuk “hedging” (lindung nilai) terhadap potensi penurunan. Dengan Nasdaq baru menyelesaikan kenaikan 13 hari beruntun untuk pertama kalinya sejak 1992, pasar secara historis dianggap “overextended” (naik terlalu jauh/terlalu cepat). Data pekan lalu menunjukkan volume pembelian “call option” (opsi beli, biasanya dipakai saat optimistis harga naik) mencapai level tertinggi 24 bulan, tanda klasik “bullish” berlebihan yang sering mendahului “koreksi” (penurunan setelah kenaikan kuat).

Derivatif juga bisa dipakai untuk menargetkan sektor yang paling sensitif jika pembicaraan gagal. Opsi pada ETF energi akan bereaksi cepat jika ketegangan di Selat Hormuz meningkat lagi. Membeli put atau “put spread” (strategi opsi jual bertingkat untuk menekan biaya sekaligus membatasi potensi untung/rugi) pada instrumen ini bisa menjadi lindung nilai yang efisien jika pendorong utama reli pasar terbaru ini hilang mendadak.

Tatha Ghose dari Commerzbank mengatakan inflasi di Eropa Tengah dan Timur (CEE) naik karena harga energi, sementara kenaikan inflasi inti tetap moderat dan bergejolak

Tatha Ghose dari Commerzbank menelaah data inflasi Maret untuk Polandia, Republik Ceko, dan Hungaria setelah kenaikan terbaru harga energi. Ia melaporkan inflasi utama (headline, yaitu inflasi total yang mencakup semua komponen termasuk energi dan pangan) naik pada Maret, sesuai perkiraan, setelah lonjakan biaya energi global.

Ia mengatakan dampak rambatan ke harga yang lebih luas (spill-over, yaitu kenaikan energi mendorong kenaikan harga barang/jasa lain) belum terlihat pada Maret karena kenaikan energi terjadi baru-baru ini. Ia mencatat biaya impor yang lebih tinggi dapat muncul bertahap seiring kontrak berjangka (forward contracts, yaitu perjanjian pembelian/penjualan pada harga yang ditetapkan untuk pengiriman di masa depan) berakhir.

Sinyal Inflasi Inti Masih Ringan

Data HICP Eurostat (HICP, indeks harga konsumen yang diselaraskan di Uni Eropa) yang dirilis pekan lalu menunjukkan HICP inti (core, inflasi yang biasanya mengecualikan energi dan pangan yang volatil) naik tipis pada Maret. Kenaikan tersebut dinilai ringan dan masih dalam variasi statistik normal dari bulan ke bulan.

Bank sentral di kawasan diperkirakan menahan diri untuk tidak melanjutkan pemangkasan suku bunga sampai harga minyak turun jauh di bawah level saat ini. Jeda ini memberi waktu untuk melihat apakah muncul efek putaran kedua (second-round effects, yaitu kenaikan awal memicu kenaikan upah dan harga lain sehingga inflasi jadi lebih menetap), sementara data saat ini menunjukkan tekanan lanjutan yang sangat kecil.

Posisi Pasar dan Implikasi Transaksi

Ini membuka peluang di pasar suku bunga, ketika pelaku pasar mungkin memasang harga seolah bank sentral akan merespons terlalu agresif. Data terbaru dari badan statistik Polandia menunjukkan inflasi inti Maret 2026 naik moderat 0,3% dibanding bulan sebelumnya (month-on-month, perbandingan terhadap bulan sebelumnya), angka yang belum menandakan tekanan lanjutan yang luas. Meski begitu, forward rate agreements (FRA, kontrak derivatif untuk mengunci suku bunga acuan pinjaman/deposito di periode mendatang) sudah mematok hampir tidak ada lagi pemangkasan suku bunga untuk zloty hingga akhir tahun.

Dengan kondisi ini, ada nilai untuk mengambil posisi dengan skenario yang kurang “hawkish” (hawkish, cenderung mendukung suku bunga lebih tinggi/ketat) dibanding ekspektasi pasar saat ini. Pelaku derivatif dapat mempertimbangkan masuk ke receiver interest rate swaps (swap suku bunga posisi “receiver”, yaitu menerima suku bunga tetap dan membayar mengambang; untung jika ekspektasi suku bunga turun). Selain itu, menjual opsi call out-of-the-money (opsi call yang harga strike-nya di atas harga pasar saat ini) pada pasangan mata uang seperti EUR/PLN dapat menjadi strategi untuk memanfaatkan memudarnya sentimen hawkish.

Risiko utama adalah pasar tenaga kerja kini lebih ketat dibanding 2025, dengan data pertumbuhan upah Republik Ceko kuartal IV 2025 menunjukkan kenaikan kuat 6,5%. Ini dapat membuat pembuat kebijakan lebih waspada terhadap potensi efek putaran kedua kali ini. Namun, sampai ada bukti jelas dari angka inflasi inti, panduan tetap mengacu pada pola sebelumnya.

Di tengah ketegangan AS–Iran yang kembali memanas, Dow futures turun 0,62%, sementara S&P 500 dan Nasdaq 100 ikut melemah

Futures Dow Jones turun 0,62% ke bawah 49.350 pada jam perdagangan Eropa, Senin, menjelang pembukaan bursa AS. Futures S&P 500 melemah 0,49% ke sekitar 7.120, dan futures Nasdaq 100 turun 0,47% ke sekitar 26.700.

Futures saham AS melemah karena pelaku pasar semakin menghindari risiko setelah ketegangan AS–Iran kembali memanas. Kantor berita pemerintah Iran, IRNA, menyebut Teheran menolak melanjutkan pembicaraan dengan pejabat AS, dengan alasan “ekspektasi yang tidak realistis” dan sejumlah kekhawatiran lain.

Market Tensions Drive Risk Off

Iran memblokir Selat Hormuz setelah sempat dibuka kembali sebentar. Langkah ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menolak mencabut blokade pelabuhan.

Trump menulis di Truth Social bahwa perwakilan AS akan berangkat ke Islamabad pada Senin untuk negosiasi dengan Iran. Ia juga mengkritik keputusan Iran yang kembali menutup Selat Hormuz dan mengulang ancaman untuk menyerang infrastruktur Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan.

Harapan pemangkasan suku bunga The Fed mereda karena inflasi masih sulit turun, sementara harga energi tetap tinggi di tengah ketegangan Timur Tengah. Pekan lalu, Dow Jones naik 3,19%, sedangkan S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing menguat 4,54% dan 6,84%, dengan kedua indeks acuan itu mencetak rekor tertinggi baru.

Gubernur The Fed Christopher Waller mengatakan “break-even rate” pasar tenaga kerja—tingkat minimum kondisi pasar kerja agar tetap seimbang, artinya tidak terlalu panas maupun terlalu lemah—kemungkinan mendekati nol. Presiden The Fed San Francisco Mary Daly mengatakan ia menilai apakah kenaikan harga minyak menyebar ke inflasi barang dan jasa yang lebih luas.

Positioning For Near Term Volatility

Dengan futures mengarah ke penurunan tajam, investor dapat mempertimbangkan “hedging” atau lindung nilai atas posisi beli (long) di saham setelah reli pekan lalu. Salah satu cara langsung adalah membeli opsi put pada S&P 500 dan Nasdaq 100—kontrak yang nilainya cenderung naik saat indeks turun—untuk melindungi portofolio dari potensi penurunan lanjutan dalam beberapa hari ke depan. Langkah ini membantu menghadapi ketidakpastian jangka pendek dari Timur Tengah.

Pasar juga terlihat berpotensi mengalami lonjakan “volatilitas” atau besarnya naik-turun harga. Guncangan geopolitik secara historis sering mendorong VIX—indeks yang mengukur perkiraan gejolak pasar saham AS—melonjak dari level yang lebih tenang. Investor dapat mempertimbangkan opsi call VIX (kontrak yang diuntungkan jika VIX naik) atau opsi atas ETF volatilitas (reksa dana indeks yang diperdagangkan dan mengikuti pergerakan volatilitas) untuk memanfaatkan potensi kenaikan ini.

Penutupan kembali Selat Hormuz mengancam sekitar seperlima pasokan minyak harian dunia, sehingga risiko kenaikan harga energi meningkat. Investor dapat mengantisipasi futures minyak mentah naik—kontrak berjangka, yaitu perjanjian membeli/menjual di harga tertentu untuk pengiriman di masa depan—seperti pada awal 2022 ketika harga melonjak lebih dari 30% dalam beberapa bulan. Opsi call pada ETF sektor energi (ETF yang berisi saham-saham perusahaan energi) terlihat menarik dalam kondisi ini.

Inflasi yang masih tinggi, dan berisiko terdorong oleh biaya energi yang naik, memperkuat sikap The Fed “higher-for-longer”, yaitu suku bunga tinggi dipertahankan lebih lama. Situasi ini mirip 2022–2023 ketika inflasi yang bandel membuat pelonggaran kebijakan terus tertunda. Dampaknya, sektor berbasis pertumbuhan seperti teknologi berpotensi menghadapi tekanan lebih besar.

Ketegangan retorika antara Washington dan Teheran kemungkinan mengalirkan dana ke sektor pertahanan. Saham kontraktor pertahanan besar berpeluang mengungguli pasar secara keseluruhan dalam situasi ini. Opsi call pada saham-saham tersebut atau ETF bertema pertahanan dapat memberi eksposur yang lebih terarah terhadap tema ini.

Bagi investor yang memperkirakan pasar turun tetapi ingin menekan biaya awal, strategi “bear put spread” pada indeks seperti SPX dapat dipertimbangkan. Ini adalah strategi opsi dengan membeli put dan menjual put lain pada level yang berbeda untuk menurunkan biaya, sambil membatasi potensi untung dan rugi sejak awal. Strategi ini dinilai lebih terukur setelah pasar baru saja mencetak rekor tertinggi pekan lalu.

GBP/USD Naik di Atas 1,3500 pada Awal Perdagangan Eropa saat Repricing Kebijakan The Fed Melemahkan Dolar di Tengah Ketegangan Timur Tengah

GBP/USD pulih dari level terendah satu pekan setelah dibuka dengan *gap bearish* (celah harga turun saat pembukaan dibanding penutupan sebelumnya) pada Senin, lalu kembali naik ke atas 1,3500 pada awal perdagangan Eropa. Pasangan ini menutup *gap* mingguan tersebut saat Dolar AS melemah.

Ketegangan AS-Iran terkait Selat Hormuz sempat meningkatkan permintaan aset *safe haven* (aset lindung nilai yang biasanya diburu saat risiko global naik), tetapi Dolar gagal mempertahankan penguatan. Pergerakan ini terjadi ketika pasar menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (bank sentral AS), sementara prospek Bank of England (bank sentral Inggris) dinilai relatif lebih kuat.

Gambaran Teknikal dan Level Kunci

Pada grafik 4 jam, pasangan ini sebelumnya menembus di atas *simple moving average* (SMA/rata-rata pergerakan sederhana) 200 periode, namun kenaikan tertahan di sekitar *Fibonacci retracement* 61,8% (level koreksi teknikal berbasis deret Fibonacci) dekat 1,3600. Sinyal momentum (indikator untuk mengukur kekuatan arah harga) beragam, dengan RSI (Relative Strength Index/indikator kekuatan beli-jual) di sekitar 48 dan MACD (Moving Average Convergence Divergence/indikator arah dan momentum tren) sedikit negatif.

Potensi *resistance* (area hambatan kenaikan) berada di 1,3600, lalu level Fibonacci 78,6% di 1,3716, dan area *cycle high* (puncak harga dalam satu siklus pergerakan) dekat 1,3868. Level *support* (area penahan penurunan) berada di koreksi 50% di 1,3512, level 38,2% di 1,3428, SMA 200 periode di 1,3364, lalu 1,3324 dan 1,3156.

GBP/USD terlihat bergerak mendatar di dekat 1,2550 saat pasar menimbang arah kebijakan Bank of England dan Federal Reserve. Dengan inflasi Inggris bertahan di 2,9% bulan lalu dan inflasi AS di 3,1%, perdebatan bank sentral mana yang lebih dulu memangkas suku bunga memicu volatilitas besar (naik-turun harga yang tajam). Perbedaan ekspektasi kebijakan ini menjadi penggerak utama pasangan tersebut.

Pada 2025, ada pola serupa ketika pasangan ini turun dengan *gap bearish*, lalu pembeli memanfaatkan penurunan (*dip buyers*, yakni pelaku yang membeli saat harga jatuh) dan mendorong harga kembali di atas level psikologis penting (angka bulat yang sering jadi acuan pasar). Saat itu, memudarnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menjadi pemicu utama yang menekan dolar, meski ada ketegangan geopolitik. Pola historis ini menunjukkan pasangan mata uang sangat sensitif terhadap perubahan narasi bank sentral.

Implikasi untuk Trader

Mengacu pada pergerakan 2025, reli berikutnya tertahan di level Fibonacci 61,8% yang berfungsi sebagai *resistance* utama. Ini mengingatkan bahwa meski faktor fundamental mendukung, penghalang teknikal bisa menghentikan kenaikan dan memicu pembalikan. Sinyal momentum yang campuran saat itu juga menandakan perlunya kehati-hatian sebelum menganggap tren naik baru sudah kuat.

Untuk beberapa pekan ke depan, ini menunjukkan bahwa meski ada alasan fundamental untuk pound menguat, trader derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures) perlu mewaspadai area *resistance* besar. Membeli opsi *call* (kontrak yang memberi hak membeli di harga tertentu) dengan *strike* (harga kesepakatan) sedikit di atas rentang saat ini dapat menjadi cara ikut potensi *breakout* (tembus dari rentang) sambil membatasi risiko. Penembusan tegas di bawah *moving average* 200 hari (rata-rata pergerakan 200 hari), yang kini dekat 1,2480, akan menjadi sinyal kuat bahwa penguatan dolar mulai dominan.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Pada sesi Eropa, GBP/JPY mendekati 214,60 seiring ketidakpastian suku bunga BoJ melemahkan Yen Jepang

GBP/JPY naik ke sekitar 214,60 pada perdagangan Eropa, Senin. Kenaikan ini terjadi karena Yen Jepang melemah di tengah ketidakpastian soal keputusan suku bunga Bank of Japan (BoJ) yang dijadwalkan pada 28 April.

Pasar masih ragu apakah BoJ akan menaikkan suku bunga, karena prospek ekonomi memburuk setelah “guncangan energi” yang berdampak negatif. Guncangan energi berarti kenaikan biaya energi yang menekan aktivitas ekonomi dan mendorong harga naik. Gubernur BoJ Kazuo Ueda mengatakan Jepang mengalami inflasi lebih tinggi akibat “guncangan pasokan negatif”, yaitu gangguan pada sisi pasokan (misalnya energi/bahan baku) yang membuat barang/jasa lebih mahal meski permintaan tidak bertambah.

Fokus Inflasi Jepang

Perhatian di Jepang tertuju pada data Indeks Harga Konsumen (IHK/CPI) nasional untuk Maret yang akan dirilis Jumat. CPI nasional di luar makanan segar diperkirakan 1,8% (year-on-year/tahunan), naik dari 1,6%. Year-on-year berarti perbandingan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Poundsterling bergerak bervariasi di awal pekan data penting Inggris. Data pasar tenaga kerja Inggris untuk tiga bulan hingga Februari akan dirilis Selasa, disusul CPI Maret pada Rabu.

Laporan ketenagakerjaan diperkirakan menunjukkan pertumbuhan upah yang lebih lemah dan tingkat pengangguran ILO tetap di 5,2%. ILO adalah metode standar internasional untuk menghitung pengangguran. Inflasi diperkirakan meningkat lebih cepat.

Gubernur Bank of England (BoE) Andrew Bailey mengatakan tidak ada urgensi mengubah kebijakan pada rapat 30 April, meski ada “guncangan negatif yang sangat besar”. CPI Inggris, yang diterbitkan bulanan oleh Office for National Statistics (ONS/Badan Statistik Inggris), adalah ukuran inflasi acuan pemerintah dan dihitung secara tahunan.

April 2026 Market Setup

Kondisi pada April 2026 menunjukkan pola yang mirip dengan 2025. GBP/JPY diperdagangkan pada level tinggi, sempat menyentuh 218,00, karena selisih suku bunga antara BoE dan BoJ masih sangat lebar. Selisih suku bunga ini menjadi faktor utama yang memengaruhi keputusan transaksi.

Yen tetap lemah karena BoJ, meski telah mengakhiri suku bunga negatif tahun lalu, masih menahan suku bunga kebijakan hanya di 0,1%. Suku bunga kebijakan adalah suku bunga acuan bank sentral yang memengaruhi biaya pinjaman di ekonomi. Dengan inflasi inti Jepang stabil sekitar 2,5%, tekanan untuk menaikkan suku bunga secara agresif relatif kecil. Inflasi inti berarti inflasi yang biasanya tidak memasukkan komponen yang sangat bergejolak seperti makanan dan energi. Situasi ini membuat strategi meminjam Yen untuk berinvestasi di mata uang dengan imbal hasil lebih tinggi seperti Pound menjadi menarik. Ini dikenal sebagai carry trade, yaitu memanfaatkan perbedaan suku bunga.

Di Inggris, BoE menahan suku bunga acuannya di 4,75% untuk menekan inflasi yang masih di atas target 2%, dengan data terbaru menunjukkan laju tahunan 3,1%. Pasar menunggu data inflasi dan ketenagakerjaan baru pekan ini, yang akan menentukan arah langkah BoE berikutnya. Jika inflasi tetap “bandel” (sulit turun), BoE cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Bagi pelaku transaksi derivatif, ini mengarah pada strategi utama: mengantisipasi penguatan GBP/JPY berlanjut. Derivatif adalah instrumen keuangan yang nilainya mengikuti aset acuan, seperti pasangan mata uang. Membeli opsi call pada pasangan ini memberi peluang untung jika harga naik, sambil membatasi risiko maksimum pada premi opsi. Opsi call adalah kontrak yang memberi hak (bukan kewajiban) untuk membeli pada harga tertentu. Strategi ini berguna menjelang pengumuman bank sentral di akhir bulan, yang biasanya meningkatkan volatilitas, yaitu besarnya naik-turun harga.

Namun, perlu mempertimbangkan risiko pembalikan arah yang tiba-tiba, karena pasangan ini dikenal sering mengalami koreksi tajam. Koreksi berarti penurunan cepat setelah kenaikan. Pernyataan BoJ yang lebih “hawkish” (cenderung menaikkan suku bunga/mengetatkan kebijakan) atau perubahan BoE yang lebih “dovish” (cenderung menurunkan suku bunga/melonggarkan kebijakan) dapat dengan cepat menekan pasangan ini. Karena itu, menggunakan opsi put sebagai lindung nilai (hedging) atau untuk berspekulasi pada potensi penurunan dapat membantu mengelola risiko. Opsi put adalah kontrak yang memberi hak untuk menjual pada harga tertentu, dan hedging berarti mengurangi risiko dari posisi utama.

Chris Turner dari INGING mengatakan DXY stabil di kisaran 97,50–98,00 seiring Selat Hormuz kembali dibuka, dengan EUR/USD bertahan di atas 1,18

ING mengatakan Dolar AS sempat melemah singkat setelah otoritas Iran melaporkan Selat Hormuz “sepenuhnya terbuka”. ING menilai berakhirnya krisis bisa menempatkan Indeks Dolar AS (DXY) — ukuran kekuatan dolar terhadap sekumpulan mata uang utama — di sekitar 97,50/98,00 dan EUR/USD sedikit di atas 1,18.

Ekonom ING memperkirakan dolar bertahan dekat level tersebut pada kuartal ini. Mereka menilai DXY lebih mungkin bergerak di kisaran 98,00/98,50 seiring berkurangnya harapan pelonggaran kebijakan Federal Reserve (The Fed) — bank sentral AS yang menentukan suku bunga acuan.

Prospek Dolar Bergeser Karena Inflasi Dan Geopolitik

Laporan itu menyebut ketidakpastian seputar perundingan damai membuat perhatian tertuju pada kapan aliran energi benar-benar kembali normal. Laporan itu juga menilai harga minyak yang tinggi dapat menular ke bagian lain ekonomi, misalnya lewat biaya produksi dan transportasi.

Laporan tersebut merujuk pidato Gubernur The Fed Christopher Waller yang dirilis Jumat sebelum periode “blackout” The Fed — masa ketika pejabat bank sentral dilarang memberi komentar publik menjelang rapat kebijakan — berjudul “One Transitory Shock After Another”. Disebutkan Waller sempat memilih mendukung pemangkasan suku bunga pada Januari.

Laporan itu menyebut Waller memperingatkan harga energi yang tinggi dalam waktu lama dapat menambah dampak tarif (pajak impor) dan memengaruhi ekspektasi inflasi (perkiraan pasar tentang inflasi ke depan). Ia menyoroti ekspektasi inflasi AS horizon 5–10 tahun yang tercermin dari “5Y5Y inflation swap” — indikator berbasis transaksi derivatif yang menggambarkan perkiraan inflasi rata-rata lima tahun, mulai lima tahun dari sekarang.

Disebutkan, jika indikator itu naik ke 2,70/2,80% seperti awal 2022, harapan pelonggaran The Fed tahun ini bisa pupus. Artikel itu menyatakan dibuat dengan alat AI dan ditinjau editor.

Implikasi Perdagangan Dan Lindung Nilai Untuk Dxy Dan Eurusd

Kekhawatiran ekspektasi inflasi “lepas kendali” — tidak lagi sejalan dengan target bank sentral — terbukti, dan ini tetap menjadi fokus utama. Data Indeks Harga Konsumen (CPI) Maret — ukuran inflasi di tingkat konsumen — menunjukkan kenaikan tahunan 3,6%, dan indikator ekspektasi inflasi 5Y5Y kini 2,65%. Ini mendekati level 2,70% yang sebelumnya dianggap batas penting bagi peluang pelonggaran The Fed.

Risiko utama terhadap pandangan “dolar kuat” tetap penurunan tensi geopolitik yang tiba-tiba dan tidak terduga, khususnya kesepakatan damai yang benar-benar bertahan dan berdampak pada Selat Hormuz. Peristiwa seperti itu bisa memicu pelepasan cepat posisi dolar sebagai aset aman (safe haven), sehingga DXY berpotensi turun tajam kembali menuju 100,00.

Untuk EUR/USD, pasangan ini kesulitan di sekitar 1,0750, jauh dari level 1,18 yang sempat dibayangkan saat optimisme singkat tahun lalu. Pelemahan ini diperparah oleh sinyal Bank Sentral Eropa (ECB) bisa mempertimbangkan pemangkasan suku bunga lebih cepat daripada The Fed, menciptakan perbedaan arah kebijakan yang cenderung menguntungkan dolar dan menjadi beban bagi euro dalam beberapa pekan ke depan.

HSBC Asset Management: Indeks Global Tetap Tangguh di Tengah Guncangan Harga Minyak, Seiring Valuasi dan Premi Risiko Membaik Bersama Kinerja Laba

Indeks saham global tetap tangguh saat terjadi guncangan harga minyak, sementara valuasi dan premi risiko bergerak lebih besar dibanding pergerakan harga di judul berita. Di AS, harga yang melemah dan kenaikan perkiraan laba menurunkan kelipatan valuasi S&P 500.

Kelipatan pasar AS turun ke sekitar 20x, ditopang harapan musim laporan laba perusahaan kuartal I yang kuat serta revisi naik prospek laba 2026. Imbal hasil laba (earnings yield, yaitu kebalikan dari rasio harga terhadap laba/PER) naik lebih cepat dibanding imbal hasil obligasi.

Premi Risiko Saham Meningkat

Suku bunga riil AS (real rates, suku bunga setelah memperhitungkan inflasi), berdasarkan obligasi pemerintah AS yang dilindungi inflasi/TIPS (Treasury Inflation-Protected Securities, obligasi yang nilai pokoknya menyesuaikan inflasi), stabil sejak awal tahun di sekitar 1,9%. Akibatnya, premi risiko saham (equity risk premium, selisih antara imbal hasil yang diharapkan dari saham dan imbal hasil aset aman seperti obligasi pemerintah) meningkat, termasuk di beberapa pasar berkembang.

Artikel menyebutkan bahwa ekspektasi imbal hasil saham telah naik, meski hal ini tidak selalu terlihat dari grafik harga saja. Artikel itu juga mencatat tulisan dibuat menggunakan alat AI dan diperiksa editor.

Tim FXStreet Insights menyusun pilihan pengamatan pasar dari pakar eksternal dan menambahkan materi dari analis internal dan eksternal, termasuk catatan komersial.

Strategi Opsi untuk Potensi Kenaikan

Kelipatan PER ke depan (forward price-to-earnings, PER berbasis perkiraan laba 12 bulan ke depan) S&P 500 menyusut ke sekitar 20x dari di atas 22x pada akhir 2025. Ini terjadi saat musim laporan laba kuartal I 2026 terlihat kuat, dengan laporan awal menunjukkan sekitar 78% perusahaan melampaui estimasi laba.

Dengan prospek imbal hasil yang membaik, dapat dipertimbangkan membeli opsi call (kontrak yang memberi hak membeli aset pada harga tertentu sebelum jatuh tempo) pada indeks pasar luas untuk menangkap potensi kenaikan dalam beberapa pekan ke depan. Secara historis, setelah guncangan awal harga minyak, pasar cenderung stabil dan kembali fokus pada fundamental laba. Ini membuka peluang bagi posisi bullish (strategi yang diuntungkan saat harga naik).

Selisih antara potensi hasil saham dan imbal hasil obligasi melebar. Meski imbal hasil Treasury 10 tahun berada di sekitar 4,6%, imbal hasil laba saham memberi premi yang lebih baik, sehingga menjadi bantalan valuasi.

Ini membuat strategi menjual cash-secured puts (menjual opsi put dengan dana tunai disiapkan untuk membeli saham jika terkena eksekusi) atau put credit spreads (strategi menerima premi dengan menjual put dan membeli put lain pada strike lebih rendah untuk membatasi risiko) pada saham berkualitas menarik untuk menghasilkan pendapatan, karena diuntungkan dari peluruhan waktu (time decay, penurunan nilai opsi seiring mendekati jatuh tempo) dan stabilitas pasar.

Volatilitas (naik-turunnya harga) juga memberi peluang. VIX (indeks volatilitas pasar saham AS yang sering disebut “indeks ketakutan”) yang sempat melonjak di atas 25 pada Februari 2026 karena kekhawatiran gangguan pasokan, kemudian turun kembali ke kisaran lebih stabil sekitar 17. Pelaku pasar bisa memanfaatkan ini dengan strategi menjual volatilitas (misalnya menjual opsi untuk mengantongi premi), dengan asumsi kepanikan terburuk sudah lewat dan kondisi lebih tenang akan bertahan.

Tim Danske sebut Brent mendekati US$95 per barel, seiring meningkatnya ketegangan AS–Iran di Selat Hormuz menopang penguatan harga

Harga minyak Brent naik ke sekitar USD 95/barel seiring meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran di sekitar Selat Hormuz. Pada Jumat, Brent ditutup di USD 90/barel setelah Iran menyatakan selat tersebut akan tetap terbuka selama sisa gencatan senjata 10 hari yang dimediasi AS antara Israel dan Lebanon.

Iran kemudian menyatakan selat kembali ditutup setelah AS mengonfirmasi blokade pengiriman akan tetap berlanjut. Iran juga dituduh menembaki kapal di dekat selat tersebut.

Risiko Selat Hormuz

Pada awal Senin, AS mencegat kapal kargo Iran yang berupaya menerobos blokade laut (pembatasan pergerakan kapal di jalur pelayaran). Iran menyatakan akan membalas, sementara rencana putaran kedua perundingan masih belum pasti menjelang berakhirnya gencatan senjata pada Selasa.

Iran menyatakan tidak akan ikut perundingan kecuali blokade dicabut. Secara terpisah, Departemen Keuangan AS memperpanjang pengecualian (izin khusus) terhadap sanksi (pembatasan ekonomi) minyak Rusia selama satu bulan.

Pergerakan harga minyak terkait risiko gangguan pasokan di sekitar Selat Hormuz. Jika aliran minyak melalui selat itu tidak segera pulih, Brent bisa kembali naik di atas USD 100/barel.

Dengan Brent melonjak ke USD 95/barel pagi ini, kami menyarankan kehati-hatian karena volatilitas (naik-turun harga yang sangat cepat) sangat tinggi. Fokus terdekat adalah negosiasi AS-Iran menjelang berakhirnya gencatan senjata besok. Pergerakan harga yang tajam meningkatkan risiko dan peluang di pasar derivatif (instrumen turunan yang nilainya mengikuti harga minyak, seperti opsi dan kontrak berjangka).

Strategi Pasar Derivatif

Risiko utama adalah lonjakan harga lanjutan jika Selat Hormuz—titik sempit jalur pelayaran (chokepoint) untuk hampir 21 juta barel per hari cairan minyak (petroleum liquids: minyak mentah dan produk turunannya)—tetap tertutup. Kami menilai ada alasan kuat untuk membeli call option jangka pendek (hak membeli di harga tertentu dalam periode tertentu), dengan strike price (harga acuan pelaksanaan) di atas USD 100/barel, untuk memanfaatkan potensi gagalnya perundingan. Perpanjangan pengecualian sanksi minyak Rusia menunjukkan Washington bersiap menghadapi gangguan pasokan yang berlanjut.

Implied volatility (perkiraan volatilitas yang tercermin dalam harga opsi) pada opsi minyak melonjak, mencerminkan ketidakpastian pasar. Ini membuat premi opsi (biaya membeli opsi) lebih mahal, namun juga membuka peluang untuk hedging (lindung nilai) portofolio yang sudah ada terhadap pergerakan mendadak ke dua arah.

Terobosan diplomatik secara tiba-tiba dapat mendorong harga turun kembali mendekati level penutupan Jumat di USD 90/barel atau lebih rendah. Karena itu, pelaku pasar dapat mempertimbangkan protective put options (opsi jual untuk perlindungan, memberi hak menjual di harga tertentu) untuk melindungi dari risiko whipsaw (harga berbalik arah tajam dalam waktu singkat). Perubahan berita yang cepat berarti setiap posisi perlu dikelola dengan ketat.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code