Back

Strategis TD Securities memperkirakan CPI AS akan menjadi sorotan, dengan inflasi inti naik 0,27% dan inflasi utama 0,90% secara bulanan

Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS adalah data terjadwal utama. CPI inti (core CPI, tidak memasukkan harga makanan dan energi yang biasanya lebih bergejolak) diperkirakan 0,27% secara bulanan (month-on-month/m/m, dibanding bulan sebelumnya), sementara CPI utama (headline CPI, angka total) diperkirakan 0,90% m/m karena kenaikan harga minyak.

Pasar bisa menganggap data yang lebih rendah sebagai sementara, sementara hasil yang lebih tinggi dapat meningkatkan kekhawatiran inflasi dan memengaruhi ekspektasi terhadap dolar AS.

Prospek Inflasi Maret

Perkiraan inti 0,27% m/m dikaitkan dengan penguatan harga barang, seiring dampak tarif yang diteruskan ke konsumen (tariff pass-through, yaitu biaya tarif impor yang masuk ke harga jual) masih berlanjut. Inflasi jasa diperkirakan stabil dibanding Februari, dengan harga tempat tinggal (shelter, komponen seperti sewa dan biaya hunian) kembali naik.

Perhatian tertuju pada apakah biaya energi yang lebih tinggi mulai merembes ke inflasi inti pada Maret. CPI utama 0,90% m/m diperkirakan terutama didorong oleh energi.

Inflasi makanan diperkirakan melandai menjadi 0,17% m/m. Risiko terhadap perkiraan CPI disebut lebih condong ke atas dibanding proyeksi CPI inti yang di bawah perkiraan konsensus (below-consensus, lebih rendah dari perkiraan rata-rata pelaku pasar).

Harga Personal Consumption Expenditures (PCE, indeks inflasi pilihan The Fed yang berbasis belanja konsumsi) untuk Februari sesuai ekspektasi pasar, yakni 0,37% m/m untuk PCE inti dan 0,38% untuk PCE utama. Angka Februari disebut mencerminkan kondisi sebelum Iran, dengan barang inti (core goods, barang non-makanan dan non-energi) sebesar 0,8% m/m.

Implikasi Positioning Pasar

Kini kita melihat laporan CPI Maret 2026, yang menunjukkan inflasi utama naik 0,6% sementara angka inti lebih moderat 0,3%. Ini mencerminkan situasi awal 2025, ketika harga energi tinggi menjadi perhatian utama pasar. Saat itu, pasar mengantisipasi potensi lonjakan 0,9% secara bulanan pada angka utama, yang membuat Federal Reserve (bank sentral AS) bersikap sangat hati-hati.

Perbedaan antara inflasi utama yang tinggi dan angka inti yang lebih lembut menciptakan ketidakpastian, yang mengarah pada volatilitas pasar (volatility, besarnya naik-turun harga) yang lebih tinggi. Indeks Volatilitas Cboe (VIX, ukuran “ketakutan” pasar saham AS berbasis harga opsi) sudah naik ke 15,8, namun masih bisa ada nilai untuk menggunakan opsi (options, kontrak yang memberi hak—bukan kewajiban—untuk membeli/menjual aset pada harga tertentu) guna bersiap menghadapi pergerakan besar di pasar valuta asing dan saham. Kami menilai trader perlu mempertimbangkan strategi yang diuntungkan dari pergerakan tajam, tanpa bergantung pada arah.

Inflasi utama yang sulit turun ini membuat peluang The Fed memangkas suku bunga dalam waktu dekat sangat kecil. Pasar kontrak berjangka Fed funds (Fed funds futures, instrumen untuk memperkirakan arah suku bunga kebijakan) kini hanya memperhitungkan probabilitas 35% pemangkasan suku bunga sebelum kuartal III. Karena itu, menggunakan derivatif (derivatives, kontrak turunan dari aset/acuan lain) pada kontrak berjangka suku bunga, seperti SOFR (Secured Overnight Financing Rate, acuan suku bunga harian yang banyak dipakai di AS), untuk bertaruh suku bunga tetap tinggi bisa menjadi langkah yang lebih hati-hati.

Dengan minyak mentah WTI (West Texas Intermediate, patokan harga minyak AS) baru-baru ini kembali mendekati US$87 per barel, komponen energi pada inflasi tetap menjadi fokus utama. Dampak lanjutan (pass-through) dari biaya energi yang lebih tinggi terhadap inflasi inti akan dicermati pada laporan April. Kami menilai trader perlu melihat call option (opsi beli, hak membeli pada harga tertentu) pada ETF energi utama (exchange-traded fund, reksa dana yang diperdagangkan seperti saham) sebagai lindung nilai (hedge, perlindungan risiko) terhadap kenaikan harga lanjutan yang tak terduga akibat tensi geopolitik.

Cadangan devisa India naik menjadi US$697,12 miliar dari US$688,06 miliar, menurut data Maret yang dirilis

Cadangan devisa India naik menjadi US$697,12 miliar per 30 Maret. Angka ini meningkat dari US$688,06 miliar pada periode pelaporan sebelumnya.

Kenaikannya sebesar US$9,06 miliar. Angka-angka ini dinyatakan dalam dolar AS.

Kenaikan besar cadangan devisa India hingga mendekati rekor—US$697,12 miliar—memberi bank sentral amunisi kuat untuk meredam gejolak nilai tukar. Kita bisa memperkirakan Reserve Bank of India (RBI) memanfaatkan penyangga ini untuk menahan pergerakan yang terlalu liar pada pasangan USD/INR (kurs dolar AS terhadap rupee India). Ini mengarah pada fase stabilitas yang lebih “terkelola” bagi rupee dalam waktu dekat.

Penumpukan cadangan ini didorong arus masuk modal asing yang kuat. Data terbaru menunjukkan Foreign Portfolio Investors (FPI)—investor asing yang menempatkan dana di saham dan obligasi—mencatat aliran dana masuk lebih dari US$5 miliar ke pasar India sepanjang kuartal I-2026. RBI aktif menyerap arus masuk dolar ini (membeli dolar dan menambah cadangan) agar rupee tidak menguat terlalu cepat, karena dapat menekan kinerja eksportir. Kebijakan ini pada dasarnya membatasi penguatan rupee.

Bagi pelaku pasar derivatif—instrumen turunan seperti opsi dan futures—kondisi ini mengarah pada penurunan volatilitas tersirat (implied volatility), yaitu perkiraan tingkat gejolak harga yang tercermin dalam premi opsi. Kehadiran bank sentral yang dominan membuat pergerakan tajam yang tidak terduga lebih kecil kemungkinannya, sehingga strategi yang diuntungkan dari pergerakan kurs yang cenderung datar atau bergerak dalam kisaran (range-bound) menjadi lebih menarik. Menjual opsi call dan put yang out-of-the-money (harga strike jauh dari harga saat ini) dapat menjadi salah satu strategi, meski tetap berisiko bila terjadi kejutan besar.

Mengingat pergerakan kurs yang sempat tajam pada pertengahan 2025, strategi RBI saat ini tampaknya untuk mencegah kejadian serupa. Dengan inflasi CPI (Indeks Harga Konsumen) India pada Maret bertahan di 4,9%—level yang masih terkendali—bank sentral tidak berada di bawah tekanan besar untuk membiarkan rupee menguat demi menekan inflasi. Ini memperkuat pandangan bahwa kurs cenderung stabil, kemungkinan menjaga USD/INR bergerak dalam kanal tertentu menjelang tinjauan kebijakan moneter berikutnya.

Gencatan senjata Iran yang rapuh mendorong investor mengurangi posisi short dolar, membuat USD/JPY stabil di sekitar 160 terhadap yen

Dolar AS bertahan di dekat 160,00 terhadap Yen Jepang pada Jumat setelah berkurangnya posisi jual dolar AS (short positions: taruhan bahwa dolar akan turun) akibat ketidakpastian seputar gencatan senjata Iran. USD/JPY pulih dari 157,88 pada Rabu ke sekitar 159,20.

Sentimen risiko melemah setelah Iran mempertanyakan partisipasi dalam pembicaraan damai yang dijadwalkan mulai Sabtu di Islamabad, Pakistan. AS juga menyampaikan kekhawatiran soal pengelolaan lalu lintas kapal oleh Iran di Selat Hormuz (jalur pelayaran penting untuk pengiriman minyak), dan belum ada tanda perbaikan.

Pelemahan Yen Dipicu Energi dan Inflasi

Yen turun hampir 2% pada Maret saat kenaikan harga minyak terkait perang Iran meningkatkan kekhawatiran stagflasi (kondisi ketika ekonomi melambat tetapi inflasi tetap tinggi), terutama bagi Jepang sebagai importir minyak utama. Risiko inflasi yang naik juga membuat perhatian tertuju pada rencana stimulus Perdana Menteri Sanae Takaichi (stimulus: kebijakan untuk mendorong ekonomi lewat belanja/pemotongan pajak) dan meningkatkan tekanan pada Bank of Japan untuk menaikkan suku bunga.

Data harga produsen Jepang menambah kekhawatiran inflasi. Indeks Harga Produsen (Producer Prices Index/PPI: ukuran perubahan harga di tingkat produsen/pabrik, sering dianggap indikator awal inflasi konsumen) naik 2,6% secara tahunan, dari 2,1% pada Februari, sementara PPI bulanan naik menjadi 0,8% dari 0,1%.

Pada Jumat, perhatian beralih ke Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI: ukuran inflasi di tingkat konsumen) AS untuk Maret. Inflasi diperkirakan 3,3% dalam 12 bulan terakhir, tertinggi dalam hampir dua tahun, yang dapat memengaruhi panduan kebijakan The Fed (Federal Reserve: bank sentral AS).

Mengacu pada gencatan senjata AS–Iran yang rapuh tahun lalu, daya tarik dolar sebagai aset lindung nilai (safe haven: aset yang dicari saat pasar gelisah) tetap kuat. Kondisi ini membuka peluang pelemahan yen berlanjut, terutama saat pasangan ini menguji level 160,00. Trader dapat mempertimbangkan membeli opsi call (call option: hak, bukan kewajiban, untuk membeli pada harga tertentu) USD/JPY berjangka sangat pendek dengan harga kesepakatan (strike price: harga yang disepakati dalam kontrak opsi) di atas 160,00 untuk memanfaatkan potensi penembusan (breakout: pergerakan menembus level penting).

Volatilitas dan Risiko Intervensi

Tekanan stagflasi pada Jepang dari guncangan minyak tahun lalu, ketika Brent (patokan harga minyak global) sempat melampaui US$98 per barel, tidak bisa diremehkan. Ini membuat aksi menjual yen terlihat mudah, tetapi tetap perlu waspada. Perlu diingat intervensi besar Kementerian Keuangan Jepang pada Mei 2025 (intervensi: pemerintah/bank sentral masuk pasar untuk menggerakkan nilai tukar), yang memicu penurunan cepat sekitar 5 yen hanya dalam beberapa jam dan menghapus banyak posisi berleverase (leverage: penggunaan utang/margin untuk memperbesar ukuran transaksi).

Dua kekuatan yang berlawanan—dolar yang menguat versus ancaman intervensi Jepang—menciptakan kondisi volatilitas tinggi (volatility: besarnya naik-turun harga). Ini berarti sekadar bertaruh pada satu arah berisiko, dan strategi yang diuntungkan dari pergerakan besar ke dua arah bisa lebih bijak. Volatilitas tersirat (implied volatility: perkiraan volatilitas yang tercermin dalam harga opsi) pada opsi USD/JPY untuk satu bulan ke depan berada di sekitar 12,5%, jauh di atas rata-rata 8% pada akhir 2024.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Euro Menguat Didukung Ekspektasi Pasar soal Minimnya Pengetatan ECB hingga Akhir April, Namun Masih Berpotensi Naik Lebih Lanjut hingga Akhir Tahun

Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) sebesar 6bp (basis poin, yaitu 0,06%) pada 30 April, dengan total kenaikan sekitar 55bp (0,55%) yang masih dihitung pasar hingga akhir tahun. Juni dan September menjadi tanggal utama yang diperkirakan untuk kenaikan, dan peluang kenaikan pada Juli setelah kenaikan Juni sudah dihitung sekitar 50%.

Perkiraan pengetatan kebijakan (kenaikan suku bunga untuk menahan inflasi) diperkirakan tetap di atas 50bp kecuali ECB memberi sinyal jelas akan lebih longgar (dovish, artinya cenderung menahan/menurunkan suku bunga), meski harga minyak turun lagi. Ketidakpastian harga energi menjadi salah satu alasan pasar melihat bukti untuk tindakan pada akhir April masih terbatas.

Posisi Euro Dibanding Mata Uang Lain Berimbal Hasil Rendah

Berdasarkan perhitungan ini, euro berada pada posisi yang lebih baik dibanding mata uang berimbal hasil rendah lain seperti yen Jepang (JPY) dan franc Swiss (CHF). EUR/USD diperkirakan stabil di sekitar, atau sedikit di bawah, 1,1700.

Pasar kini hanya memperkirakan kenaikan 8 basis poin untuk kenaikan suku bunga ECB pada rapat 27 April, menunjukkan keyakinan yang sangat kecil untuk tindakan segera. Ini kemungkinan mencerminkan pandangan bahwa ECB ingin bukti yang lebih kuat sebelum bergerak. Ketidakpastian pasokan energi global memberi alasan tambahan untuk menahan diri.

Namun, Juni dan Juli kini terlihat sebagai waktu yang paling mungkin bagi ECB untuk mulai mengetatkan kebijakan. Pasar derivatif (instrumen turunan seperti kontrak berjangka dan swap suku bunga, yang mencerminkan ekspektasi suku bunga ke depan) masih menunjukkan pengetatan lebih dari 60 basis poin yang sudah dihitung hingga akhir tahun ini. Ini berarti pelaku pasar menilai kenaikan suku bunga hanya tertunda, bukan dibatalkan.

Yang penting adalah seberapa “melekat” ekspektasi kenaikan suku bunga ini (sticky, artinya sulit turun walau ada berita baru), dan data terbaru mengindikasikan ekspektasi tersebut bertahan. Inflasi Zona Euro pada Maret tercatat 2,8%, yang akan menjaga tekanan pada bank sentral. Kami melihat dinamika serupa pada 2025 ketika taruhan pasar bahwa kebijakan akan lebih longgar (dovish bets, yaitu posisi yang mengantisipasi suku bunga tidak naik/akan turun) berulang kali terbukti keliru karena inflasi yang tetap tinggi (stubborn inflation, artinya inflasi sulit turun).

Implikasi untuk EUR/USD

Latar belakang ini membuat euro berpeluang mengungguli mata uang berimbal hasil rendah lain seperti yen Jepang dan franc Swiss. Bank of Japan tetap berkomitmen pada kebijakan yang sangat longgar (ultra-loose, artinya suku bunga sangat rendah dan dukungan likuiditas besar), dan Bank Nasional Swiss telah memberi sinyal bahwa siklus kenaikan suku bunganya telah mencapai puncak. Perbedaan arah kebijakan ini (policy divergence) membuat memegang euro lebih menarik daripada memegang yen atau franc.

Ekonom UBS Paul Donovan: Inflasi AS Maret menunjukkan biaya perang menekan konsumen dan membebani keterjangkauan

Inflasi harga konsumen AS pada Maret digunakan untuk menilai beban yang terkait perang dan tekanan daya beli, dengan catatan bahwa sebagian data bisa tidak akurat. Daya beli terkait dengan cara masyarakat memandang inflasi (kenaikan harga secara umum).

Persepsi inflasi paling banyak dibentuk oleh pembelian yang sering dilakukan seperti makanan dan bahan bakar. Daya beli juga dapat memengaruhi politik, karena pemerintah cenderung merespons ketika masalah makin parah.

Keterkaitan Persepsi Inflasi dan Daya Beli

Kemampuan belanja konsumen juga dibahas, dengan fokus pada apakah rumah tangga mengubah perilaku menabung untuk menutup kenaikan harga. Ini menggambarkan penyesuaian cara konsumen mengatur arus kas (keluar-masuk uang).

Laporan deflator pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) Februari disebut menunjukkan tekanan inflasi terkonsentrasi di area tertentu, yang dapat mengurangi tekanan yang lebih luas pada daya beli. Deflator PCE adalah ukuran inflasi yang membandingkan perubahan harga barang dan jasa yang dibeli konsumen, dan sering dipakai bank sentral. Harga furnitur dijadikan contoh, dengan kenaikan lebih cepat terutama berdampak pada orang yang sedang membeli furnitur saat ini.

Artikel ini menyebut dibuat dengan bantuan alat AI lalu diperiksa editor.

Data CPI (Indeks Harga Konsumen) Maret menegaskan bahwa daya beli konsumen AS menjadi kekhawatiran utama pasar saat ini. CPI adalah ukuran perubahan harga barang dan jasa yang umum dibeli rumah tangga. Persepsi didorong oleh pembelian berfrekuensi tinggi, dengan harga bensin nasional kini rata-rata US$3,75 per galon, naik hampir 5% bulan lalu. Tekanan pada anggaran rumah tangga ini berarti kita perlu berhati-hati menggunakan opsi (kontrak derivatif untuk hak beli/jual) pada indeks konsumen yang luas.

Risiko Politik dan Volatilitas Pasar

Masalah daya beli ini sangat politis, dan kami memperkirakan pemerintah akan merespons, sehingga berpotensi memicu volatilitas pasar (naik-turun harga yang tajam). Dengan CBOE Volatility Index (VIX)—indeks “rasa takut” pasar yang mengukur perkiraan volatilitas—sudah naik ke 17, trader dapat mempertimbangkan strategi seperti straddle pada ETF konsumen untuk memanfaatkan pergerakan mendadak. Straddle adalah strategi opsi dengan membeli opsi beli dan opsi jual pada harga dan jatuh tempo yang sama, untuk mengejar keuntungan dari pergerakan besar ke arah mana pun. ETF adalah reksa dana yang diperdagangkan di bursa seperti saham.

Kemampuan konsumen untuk terus belanja dipertanyakan, karena tingkat tabungan pribadi baru-baru ini turun ke 3,8%. Ini menunjukkan rumah tangga menguras cadangan kas untuk membayar kebutuhan pokok, sehingga dana untuk barang non-esensial berkurang. Kami melihat ini sebagai sinyal untuk melirik opsi jual (put option), yaitu kontrak yang nilainya naik saat harga saham turun, pada peritel yang sangat bergantung pada belanja non-kebutuhan.

Melihat lebih dalam angka inflasi, tekanan harga terkonsentrasi pada jasa dan perumahan, sementara harga barang tahan lama (durable goods), seperti peralatan rumah tangga dan elektronik, cenderung datar. Seperti yang terlihat pada harga furnitur di awal 2025, inflasi yang tidak merata ini membuka peluang transaksi yang lebih terarah. Ini mengisyaratkan posisi bearish (bertaruh harga turun) pada pengembang perumahan atau REIT mungkin lebih efektif daripada melakukan short pada seluruh sektor konsumen. REIT adalah perusahaan/instrumen yang memiliki atau mengelola aset properti dan umumnya membagikan sebagian besar laba sebagai dividen.

Pola ini pernah terlihat sebelumnya; menengok reaksi pasar sepanjang 2025, laporan inflasi di atas perkiraan berulang kali memicu koreksi lebih dulu pada saham consumer discretionary (barang/jasa non-kebutuhan). Rilis data pekerjaan dan inflasi April 2025, misalnya, memicu aksi jual tajam selama dua hari di sektor tersebut. Kami memperkirakan rilis inflasi yang kembali tinggi akan memicu reaksi serupa yang cepat, dan pergerakan ini bisa dimanfaatkan melalui opsi.

Ekonom UOB: AUD/USD Melampaui Kisaran, Berpotensi Capai 0,7135; 0,7000 Jadi Support Kuat

AUD/USD bergerak naik dari kisaran sebelumnya dan mendekati 0,7100. Kenaikan lanjutan ke arah 0,7135 masih mungkin, sementara 0,7000 kini menjadi level dukungan kuat (support) utama.

Pada 09 Apr, saat harga spot di 0,7030, pasangan ini disebut bergerak cepat dan terlihat “terlalu jauh” (kenaikan terlalu cepat dalam waktu singkat), tetapi masih berpeluang menguji 0,7135. Untuk menjaga momentum naik, nilai tukar disebut perlu bertahan di atas 0,6970.

Level Kunci dan Prospek Jangka Pendek

Level hambatan (resistance, area yang sering menahan kenaikan) jangka pendek berada di 0,7100 dan 0,7135. Level dukungan awal (support, area yang sering menahan penurunan) berada di 0,7060 dan 0,7040.

Level 0,7135 disebut sebagai hambatan besar dan tidak diperkirakan segera tercapai. Artikel ini dicatat dibuat dengan bantuan alat Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI, program komputer yang membantu menyusun analisis) dan ditinjau editor.

Jika menengok periode yang sama tahun lalu, ada pandangan bahwa lonjakan dolar Australia sudah berlebihan namun masih berpeluang menguji level lebih tinggi di sekitar 0,7135. Dukungan kuat diidentifikasi di sekitar 0,7000. Saat itu momentum jelas mengarah naik, meski ada tanda pergerakan sudah terlalu “penuh”.

Namun, setelah mencapai puncak tidak lama setelah analisis tersebut pada April 2025, AUD/USD masuk fase turun selama beberapa bulan dan akhirnya jatuh di bawah 0,6400 pada kuartal IV. Pembalikan arah ini terutama dipicu oleh Reserve Bank of Australia (RBA, bank sentral Australia) yang menghentikan sementara siklus kenaikan suku bunga, sementara US Federal Reserve (The Fed, bank sentral AS) tetap bersikap hawkish (cenderung mendukung suku bunga tinggi untuk menekan inflasi). Hal ini memperlebar selisih suku bunga (interest rate differential, perbedaan tingkat suku bunga antarnegara) dan menekan AUD. Pergerakan historis ini mengingatkan bahwa faktor fundamental (data ekonomi dan kebijakan bank sentral) bisa cepat mengalahkan sinyal teknikal (analisis berbasis grafik harga).

Cara Berbasis Opsi untuk Mengelola Gejolak

Per 10 April 2026, pasangan ini bergerak dalam kisaran lebih sempit di sekitar 0,6650. Data CPI Australia (Consumer Price Index/IHK, ukuran inflasi harga konsumen) kuartal I 2026 sedikit di atas perkiraan di 3,8%, sehingga meningkatkan tekanan agar RBA menahan suku bunga lebih lama dari perkiraan pasar. Kekhawatiran inflasi ini membuat pasar tarik-menarik dua arah.

Dengan mengingat pembalikan tajam tahun lalu dan ketidakpastian inflasi saat ini, trader dapat mempertimbangkan opsi (options, kontrak yang memberi hak—bukan kewajiban—untuk membeli/menjual pada harga tertentu) untuk mengelola risiko dan menyatakan pandangan soal volatilitas (gejolak harga). Membeli straddle (strategi membeli call dan put sekaligus pada strike yang sama) di strike sekitar 0,6650 bisa untung jika harga bergerak besar ke salah satu arah dalam beberapa minggu ke depan. Strategi ini cocok saat pasar terlihat “siap meledak” (potensi keluar dari kisaran), tetapi arah belum jelas.

Bagi yang menilai inflasi Australia yang sulit turun akan memaksa RBA dan mendorong AUD naik, membeli call option (opsi beli, hak membeli) adalah cara dengan risiko terukur. Trader bisa membeli call jatuh tempo Mei (May-expiry, berakhir pada Mei) dengan strike 0,6700 (harga pelaksanaan). Ini memberi paparan ke potensi kenaikan menuju hambatan 0,6800, sambil membatasi kerugian maksimum pada premi (premium, biaya opsi) yang dibayar.

Sebaliknya, jika pandangannya kekuatan ekonomi AS yang bertahan dan dolar yang kuat akan lebih dominan, membeli put option (opsi jual, hak menjual) memberi perlindungan sisi bawah. Mengambil posisi put di sekitar strike 0,6600 dapat menjadi lindung nilai (hedge, perlindungan portofolio) jika harga menembus dukungan saat ini. Ini melindungi portofolio dari potensi penurunan kembali ke 0,6500 yang terlihat lebih awal tahun ini.

Emas Bertahan di Bawah US$4.750 Seiring Penguatan Dolar, Negosiasi AS–Iran dan CPI AS Jadi Sorotan

Emas (XAU/USD) diperdagangkan di bawah $4.750 pada awal sesi Eropa hari Jumat, masih dalam kisaran harga yang sudah dikenal. Pergerakan harga menunjukkan tekanan turun yang tidak berlanjut kuat menjelang rilis terbaru CPI AS (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen AS, ukuran inflasi yang memantau perubahan harga barang dan jasa).

Laporan CPI AS diperkirakan menunjukkan inflasi kembali naik pada Maret, terkait kenaikan harga minyak mentah. Risalah FOMC (Federal Open Market Committee/komite kebijakan suku bunga bank sentral AS) 17–18 Maret menyebut para pejabat tidak terburu-buru memangkas suku bunga, dengan alasan risiko inflasi yang masih bisa naik akibat lonjakan harga energi dari Timur Tengah.

Risiko Geopolitik Dan Tekanan Inflasi

Iran menghentikan pengiriman lewat Selat Hormuz setelah serangan Israel ke Lebanon, dan risiko eskalasi juga disinggung Presiden AS Donald Trump. Harga minyak yang lebih tinggi bisa mendorong inflasi, sehingga menopang dolar AS (USD) yang lebih kuat dan menekan emas yang tidak memberikan imbal hasil (aset “tanpa bunga” seperti emas, berbeda dari obligasi yang memberi kupon).

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengarahkan dimulainya pembicaraan langsung dengan Lebanon, dan seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS mengatakan pembicaraan akan berlangsung pekan depan di Washington, DC. Pembicaraan AS–Iran dijadwalkan bertahap dari Jumat malam hingga Sabtu, yang bisa membatasi penguatan USD dan menahan penurunan emas.

Secara teknikal, emas masih berada di bawah SMA (simple moving average/rata-rata bergerak sederhana) 200-periode pada grafik 4 jam di sekitar $4.883, dekat level retracement 61,8% (level pantulan berdasarkan perhitungan Fibonacci yang sering dipakai untuk mengukur potensi dukungan/hambatan). RSI (Relative Strength Index/indikator kekuatan tren) berada di sekitar 56 dan MACD (Moving Average Convergence Divergence/indikator momentum berbasis rata-rata bergerak) sedikit negatif; resistance (area hambatan kenaikan) juga berada di $4.908,40, lalu $5.131,50 dan $5.415,69, sedangkan support (area penahan penurunan) berada di $4.751,70, lalu $4.595,00, $4.401,11, dan $4.087,71.

Ini mengisyaratkan emas masih bergerak dalam kisaran sempit. Pemicu arah berikutnya kemungkinan datang dari kejutan data ekonomi atau perubahan besar pada situasi geopolitik. Penembusan di bawah $4.700, yang menjadi support kuat selama tiga pekan, dapat memberi sinyal penurunan menuju level yang terlihat pada musim gugur lalu. Sebaliknya, dorongan tegas di atas resistance $4.850 mengindikasikan permintaan aset aman (safe haven/aset yang biasanya diburu saat risiko meningkat) mengalahkan kekhawatiran soal suku bunga.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Analis Commerzbank memperkirakan inflasi Maret naik setelah kenaikan pada Februari, menopang real Brasil yang bersikap hawkish

Inflasi Brasil naik dari 3,8% menjadi 4% pada Februari, sebelum guncangan (kenaikan mendadak) harga energi, sementara **inflasi inti** (inflasi yang mengecualikan komponen yang harganya mudah bergejolak seperti energi dan pangan) juga naik tipis. Data inflasi Maret diperkirakan menunjukkan kenaikan harga yang cukup tajam lagi, sebagian terkait biaya energi.

Angka Maret bisa berdampak lebih kecil pada laju tahunan (year-on-year/yoy) karena **efek basis** (perbandingan tahunan dipengaruhi angka tahun lalu yang menjadi dasar) ikut memengaruhi. Ini terjadi ketika ekspektasi inflasi terus naik.

Banco Central do Brasil berada di awal siklus penurunan suku bunga, tetapi risalah rapat terbaru menunjukkan sikap yang lebih ketat untuk sementara. Sejumlah penurunan suku bunga masih diperkirakan terjadi dalam beberapa bulan ke depan, meski laju yang direncanakan bisa mundur.

Real Brasil menguat dalam beberapa pekan terakhir seiring perubahan nada kebijakan ini. Mata uang tersebut diperkirakan bertahan dekat level saat ini sampai langkah bank sentral berikutnya lebih jelas.

Inflasi terbukti lebih sulit turun dari perkiraan. Data terbaru Maret mengonfirmasi kenaikan menjadi 4,65%, setelah lonjakan Februari ke 4,50% secara yoy. Kondisi ini membuat Banco Central do Brasil (BCB) meninjau ulang kecepatan pemangkasan suku bunga. Hal itu tercermin pada **Focus Survey** (survei rutin BCB yang merangkum proyeksi ekonom dan pelaku pasar), ketika ekonom menaikkan perkiraan inflasi akhir tahun selama empat pekan berturut-turut.

Sikap bank sentral yang lebih hati-hati ini mendukung Real. Suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama membuat memegang mata uang tersebut lebih menarik, sehingga membantu menguatkan Real terhadap dolar. Pasangan USD/BRL (nilai dolar AS terhadap Real) baru-baru ini diperdagangkan di sekitar 4,95. Untuk saat ini, mata uang kemungkinan tetap didukung di area itu sambil menunggu sinyal yang lebih jelas dari rapat BCB berikutnya pada Mei.

Bagi pelaku transaksi derivatif, ini mengindikasikan stabilitas terbaru pada kurs USD/BRL dapat berlanjut beberapa pekan lagi. Menjual volatilitas lewat strategi opsi (kontrak yang memberi hak membeli/menjual pada harga tertentu) bisa menjadi cara untuk memanfaatkan pergerakan kurs yang tetap dalam rentang. Namun, perubahan nada bank sentral yang di luar perkiraan dapat cepat mengganggu ketenangan ini.

Di pasar suku bunga, bulan lalu pasar memperkirakan pemangkasan agresif dari suku bunga acuan Selic 11,25%. Ketika ekspektasi itu mundur, kontrak berjangka suku bunga jangka pendek (instrumen yang mencerminkan perkiraan arah suku bunga ke depan) bisa jadi tidak turun secepat perkiraan sebelumnya. Ini membuka peluang posisi untuk skenario pelonggaran yang lebih lambat daripada yang sebelumnya sudah “dipatok” pasar.

Minyak mentah WTI naik mendekati US$93 per barel seiring pembatasan di Selat Hormuz diperketat dan gencatan senjata rapuh Iran makin tertekan

Harga minyak naik untuk hari kedua pada Jumat, dengan minyak mentah acuan AS West Texas Intermediate (WTI) mendekati US$93,00 per barel. Pergerakan kapal melalui Selat Hormuz masih dibatasi, sehingga secara факto menjadi blokade (penutupan jalur tanpa deklarasi resmi) dan menambah tekanan pada gencatan senjata Iran yang rapuh (kesepakatan berhenti tembak yang mudah runtuh).

Data Hormuz Strait Monitor menunjukkan 12 kapal melintasi jalur perairan itu dalam 24 jam terakhir, dibandingkan hingga 140 kapal per hari sebelum perang. Presiden AS menyebut pengelolaan Selat oleh otoritas Iran buruk dan menulis di Truth Social (platform media sosial), “Itu bukan kesepakatan yang kita miliki”.

Pembicaraan Damai Masih Tidak Pasti

Pembicaraan damai AS–Iran, yang diperkirakan dimulai pada Sabtu, masih belum pasti. Teheran mengatakan tidak akan ikut negosiasi sampai Israel menghentikan serangan ke Lebanon.

Israel mengatakan telah mengizinkan pembicaraan langsung dengan otoritas Lebanon, namun menegaskan operasi melawan Hizbullah akan berlanjut. Iran memperingatkan akan ada respons keras jika serangan berlanjut, dan Hizbullah dilaporkan menembakkan rudal ke Israel.

Perhatian pasar juga tertuju pada Indeks Harga Konsumen AS (CPI, ukuran inflasi/kenaikan harga barang dan jasa) yang dirilis pada Jumat. Tekanan harga diperkirakan naik di atas target 2% Federal Reserve (bank sentral AS), sehingga meningkatkan ekspektasi setidaknya satu kenaikan suku bunga tahun ini.

Koreksi yang diterbitkan pada 10 April pukul 10:15 GMT menyebut pembicaraan diperkirakan dimulai pada Sabtu, bukan Selasa.

Fokus Pasar Beralih ke Volatilitas

Menengok periode yang sama tahun lalu, harga WTI sempat bergerak mendekati US$93 per barel akibat pembatasan berat di Selat Hormuz. Gagalnya pembicaraan damai AS–Iran serta meningkatnya konflik Israel–Hizbullah memunculkan premi risiko pasokan (tambahan harga karena kekhawatiran pasokan terganggu). Ini memicu periode volatil (gejolak harga yang naik-turun tajam) yang masih terasa hingga kini.

Situasi memang memburuk sepanjang musim panas 2025, ketika blokade selat makin ketat dan mendorong harga minyak melampaui US$115 pada kuartal ketiga. Meski lalu lintas Selat Hormuz sudah pulih sebagian, data awal April 2026 menunjukkan trafik masih sekitar 65% dari level sebelum perang, rata-rata 90 kapal per hari. Sumbatan yang bertahan ini membuat rantai pasok rapuh (alur pasokan mudah terganggu) dan harga sensitif terhadap kabar kawasan.

Saat ini, dengan WTI bertahan di sekitar US$105 per barel, volatilitas tersirat pada opsi minyak (perkiraan gejolak harga yang dihitung dari harga opsi) tetap tinggi. CBOE Crude Oil Volatility Index/OVX (indeks yang mengukur perkiraan volatilitas harga minyak dari pasar opsi) berada di sekitar 42, mencerminkan ketidakpastian besar terkait risiko gangguan pasokan. Volatilitas tinggi membuat premi opsi mahal (biaya membeli opsi), sekaligus mengindikasikan potensi pergerakan harga besar dalam beberapa pekan ke depan.

Dalam kondisi ini, pelaku pasar terlihat mengambil posisi untuk risiko kenaikan lebih lanjut dengan membeli opsi call jatuh tempo panjang (hak membeli pada harga tertentu di masa depan) atau menggunakan call spread (strategi gabungan: membeli call dan menjual call lain untuk menekan biaya) pada kontrak berjangka WTI dan Brent (futures/kontrak berjangka: perjanjian membeli/menjual di harga tertentu untuk tanggal mendatang). Eskalasi baru di Timur Tengah dapat memicu lonjakan harga lagi mendekati puncak 2025. Posisi ini memberi eksposur pada potensi itu sambil membatasi risiko maksimum.

Di sisi lain, permintaan juga perlu diperhitungkan dan telah berubah sejak tahun lalu. Angka CPI AS yang tinggi pada April 2025 memang mendorong The Fed melakukan satu kenaikan suku bunga terakhir pada Juli 2025. Kini, data ekonomi kuartal I-2026 menunjukkan perlambatan pertumbuhan global, memicu kekhawatiran “demand destruction” (permintaan melemah karena harga tinggi atau ekonomi melambat).

Ini menciptakan tarik-menarik antara risiko pasokan yang mendorong harga naik dan kekhawatiran permintaan yang menekan harga. Karena itu, strategi yang lebih hati-hati adalah melakukan lindung nilai (hedging: mengurangi risiko) atas posisi beli dengan opsi put (hak menjual pada harga tertentu) untuk melindungi dari penurunan mendadak akibat ketakutan resesi. Pasar saat ini memperkirakan peluang 40% The Fed memangkas suku bunga sebelum akhir tahun, berbanding terbalik dengan kecenderungan pengetatan (kebijakan menaikkan suku bunga) pada periode yang sama tahun lalu.

Francesco Pesole dari ING: Dolar Bertahan di Bawah 99, Rentan terhadap Risiko Inflasi dan Perdamaian di Timur Tengah

Indeks Dolar AS (DXY) diperdagangkan sedikit di bawah 99,0, dengan peluang turun lebih jauh jika tercapai kesepakatan damai Timur Tengah yang benar-benar bertahan dan pengiriman lewat Selat Hormuz kembali normal.

Perhatian tertuju pada rilis CPI AS bulan Maret, dengan perkiraan CPI utama (headline)—angka inflasi yang memasukkan semua komponen termasuk pangan dan energi—naik 0,9 poin persentase menjadi 3,4% secara tahunan (year-on-year/yoy, dibandingkan periode yang sama tahun lalu). CPI inti (core)—inflasi yang mengecualikan harga pangan dan energi karena biasanya lebih bergejolak—diperkirakan naik tipis dari 0,2% menjadi 0,3% secara bulanan (month-on-month/mom, dibandingkan bulan sebelumnya).

Fokus Federal Reserve Pada Inflasi Inti

Federal Reserve (bank sentral AS) diperkirakan fokus pada potensi “dampak putaran kedua” dari harga energi, yakni kenaikan biaya energi yang kemudian merembet ke harga barang/jasa lain dan akhirnya muncul di inflasi inti setelah beberapa bulan. Laporan CPI diperkirakan tidak mengubah perhitungan pasar soal langkah The Fed, kecuali inflasi jauh lebih tinggi dari perkiraan.

Inflasi yang lebih tinggi juga dapat memengaruhi politik dalam negeri AS, dengan sebagian Partai Republik menentang perang dan kenaikan harga bensin. Ini bisa menambah tekanan kepada Presiden Donald Trump untuk mendorong kesepakatan damai.

Karena isu inflasi kembali dominan, pelemahan dolar dalam waktu dekat mungkin lebih sulit bertahan. Perkembangan di Timur Tengah masih disebut sebagai faktor utama pergerakan USD dalam waktu dekat.

Jika menengok analisis 2025, pendorong utamanya masih sama: ketegangan geopolitik dan inflasi. Saat itu fokusnya pada potensi kesepakatan damai Timur Tengah dan dampaknya terhadap dolar. Kerangka ini masih berguna untuk membaca pasar saat ini.

Pendorong Pasar Hari Ini Dan Rencana Perdagangan

Meski Selat Hormuz lebih tenang, kini terlihat risiko yang menetap dari ketegangan laut di Laut China Selatan. Ketegangan ini menahan dolar karena dianggap aset “safe haven” (aset tempat investor berlindung saat pasar gelisah), mirip dengan risiko Timur Tengah saat itu. Data terbaru dari U.S. Maritime Administration menunjukkan premi asuransi pengiriman untuk kawasan tersebut naik 5% pada kuartal terakhir, mencerminkan kekhawatiran pasar.

Berbeda dengan kenaikan kecil CPI inti yang dipantau pada 2025, tantangan saat ini adalah inflasi yang lebih “membandel” (tetap tinggi dan sulit turun). Laporan terbaru untuk Maret 2026 menunjukkan inflasi inti bertahan di 3,1%, sehingga The Fed belum bisa memberi sinyal jelas akan beralih “dovish” (lebih condong melonggarkan kebijakan, misalnya menurunkan suku bunga). Ini membuat ekspektasi penurunan suku bunga pada paruh kedua tahun ini masih diragukan.

Dinamika ini membantu menjelaskan mengapa Indeks Dolar tidak berada di bawah 99,0 seperti pada periode optimisme 2025. Saat ini, DXY bertahan kuat di sekitar 104,5. Kekuatan ini mencerminkan pasar yang memperkirakan suku bunga AS akan tetap tinggi lebih lama dibanding negara lain.

Bagi trader derivatif (instrumen turunan nilainya mengikuti aset dasar seperti mata uang), kondisi ini menyarankan kesiapan menghadapi volatilitas (naik-turun harga) yang berlanjut, bukan arah tren yang jelas. Strategi yang dinilai menarik adalah “long strangle” pada pasangan utama seperti EUR/USD, yaitu membeli opsi call dan opsi put sekaligus (dua arah) agar untung jika harga bergerak besar ke salah satu arah, dipicu kejutan kebijakan The Fed atau eskalasi geopolitik. Indeks Volatilitas FX Cboe (EUVIX)—ukuran perkiraan volatilitas pasar mata uang—naik ke 7,8, menandakan pasar memperhitungkan pergerakan yang lebih tidak menentu ke depan.

Dengan data inflasi AS yang tetap tinggi, perdagangan taktis dapat berupa membeli opsi call jangka dekat pada Invesco DB U.S. Dollar Index Bullish Fund (UUP)—ETF (reksa dana yang diperdagangkan di bursa) yang bergerak searah penguatan dolar AS. Ini memberi peluang keuntungan jika The Fed menunda pemangkasan suku bunga lebih lama, sambil membatasi risiko penurunan hanya sebesar premi (biaya) opsi yang dibayar. Dengan DXY menguji resistance (area hambatan kenaikan harga) di 104,5, posisi seperti ini diuntungkan jika terjadi breakout (penembusan) menuju 105,50 seperti tertinggi akhir tahun lalu.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code