Back

Selama perdagangan Eropa, NYMEX WTI bertahan di sekitar US$102,25, tertahan setelah reli dua pekan yang sempat memuncak di US$107,35, mendekati level tertinggi tiga tahun

Kontrak berjangka (futures) WTI diperdagangkan di dekat US$102,25 pada sesi Eropa Jumat, setelah reli hampir dua pekan tertahan di US$107,35 pada Kamis. Pergerakan ini membuat harga relatif datar pada hari itu, tetapi masih berada di level tinggi.

Harga ditopang oleh penutupan Selat Hormuz, jalur penting yang terkait hampir 20% pasokan energi global. Penutupan diperkirakan berlanjut setelah AS menolak proposal Iran dan menyatakan akan memperpanjang blokade laut di pelabuhan-pelabuhan Iran.

Bank Sentral dan Risiko Permintaan

Pernyataan “hawkish” (cenderung mendukung kebijakan lebih ketat, seperti kenaikan suku bunga) dari bank sentral utama meningkatkan kekhawatiran terhadap permintaan minyak ke depan. Pembuat kebijakan memperingatkan risiko inflasi yang bisa naik lagi dan memberi sinyal kondisi moneter akan diperketat (misalnya lewat suku bunga lebih tinggi) seiring lonjakan harga minyak.

WTI bergerak mendatar, bertahan di atas EMA 20 hari (Exponential Moving Average, rata-rata bergerak yang memberi bobot lebih besar pada harga terbaru) di US$95,15, dengan RSI (Relative Strength Index, indikator yang mengukur kekuatan tren; di atas 70 sering dianggap jenuh beli, di bawah 30 jenuh jual) di 60,95. Level dukungan (support, area harga yang kerap menahan penurunan) terlihat di US$95,15, lalu US$90,00 bila ada penutupan harian di bawah rata-rata bergerak tersebut.

Jika WTI menembus (break) di atas US$107,35, harga dapat mengarah ke US$113,28. WTI adalah acuan minyak mentah AS yang diperdagangkan melalui hub Cushing (pusat penyimpanan dan distribusi di Oklahoma), dan harganya dapat dipengaruhi pertumbuhan ekonomi, geopolitik, sanksi, keputusan OPEC, Dolar AS, serta data persediaan mingguan dari API (American Petroleum Institute, asosiasi industri yang merilis estimasi stok) dan EIA (Energy Information Administration, lembaga pemerintah AS yang merilis data resmi).

XAG/USD Bertahan di Kisaran Bawah US$73 di Eropa, Setelah Penolakan Support US$75 Sebelumnya Menekan Harga

Perak (XAG/USD) diperdagangkan di kisaran bawah $73,00 pada sesi Eropa hari Jumat setelah gagal mempertahankan kenaikan di dekat $75,00. Perak menuju penurunan mingguan kedua berturut-turut karena Dolar AS mendapat dukungan dari sikap Federal Reserve (The Fed) yang lebih agresif (cenderung menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi).

The Fed menahan suku bunga di kisaran 3,5%–3,75%, dan tiga pembuat kebijakan menolak mempertahankan frasa “easing bias” (kecenderungan untuk melonggarkan kebijakan, biasanya lewat penurunan suku bunga) dalam pernyataan. CME FedWatch (alat yang membaca peluang perubahan suku bunga dari harga kontrak berjangka) menunjukkan pasar berjangka condong pada kenaikan suku bunga pada 2027.

Kepemimpinan The Fed dan Dampaknya ke Pasar

Jerome Powell, yang masa jabatannya berakhir pada 15 Mei, mengatakan ia akan tetap menjadi Gubernur (anggota Dewan Gubernur The Fed). Ini sejalan dengan ekspektasi bahwa Presiden Donald Trump dapat menekan ketua The Fed berikutnya, Kevin Warsh, untuk memangkas suku bunga.

Secara teknikal, perak bergerak mendatar (konsolidasi) sedikit di atas $73,00, sementara tren turun yang lebih besar masih berlangsung. Pada grafik 4 jam, RSI (Relative Strength Index/indikator kekuatan momentum harga) berada di sekitar 50 dan MACD (Moving Average Convergence Divergence/indikator arah dan momentum tren) memberi sinyal positif ringan.

Level resistensi (batas atas yang sering menahan kenaikan) berada di $74,75, $76,75, dan $78,65. Level support (batas bawah yang sering menahan penurunan) berada di $72,80, lalu dekat $71,00 dan $68,30.

Kami melihat perubahan sikap The Fed yang lebih agresif sebagai faktor utama yang menekan harga perak. Indeks Dolar AS (US Dollar Index/DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) melesat melewati 108 untuk pertama kalinya sejak akhir 2024, mencerminkan ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama. Dengan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 2 tahun kini stabil di 3,9%, memegang aset tanpa imbal hasil seperti perak menjadi lebih mahal (karena ada biaya peluang dibanding instrumen yang memberi bunga).

Strategi dan Manajemen Risiko

Respons yang masuk akal adalah bersiap untuk penurunan lanjutan atau pergerakan mendatar di bawah resistensi $75. Menjual opsi call out-of-the-money (opsi beli dengan harga kesepakatan di atas harga saat ini, sehingga peluang dieksekusi lebih kecil) dengan strike (harga kesepakatan) di sekitar $76,00 atau $77,00 bisa menjadi strategi untuk memperoleh premi (uang yang diterima penjual opsi), memanfaatkan perkiraan adanya “plafon” harga. Cboe Silver Volatility Index (VXSLV, ukuran perkiraan volatilitas/naik-turun harga perak dari pasar opsi) masih tinggi di dekat 35, sehingga premi opsi lebih menarik bagi penjual saat ini.

Buka akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Pasokan uang M4 Inggris tumbuh 4,3% secara tahunan pada Maret, lebih cepat dari 3,6% sebelumnya

Pasokan uang M4 Inggris naik 4,3% secara tahunan (year on year/yoy) pada Maret. Angka ini lebih tinggi dibanding periode sebelumnya 3,6%.

Data pasokan uang M4 Inggris untuk Maret menunjukkan kenaikan tak terduga menjadi 4,3% yoy, meningkat dari bulan sebelumnya. Ini berarti jumlah uang yang beredar di perekonomian lebih besar dari perkiraan. Biasanya, kenaikan uang beredar menjadi sinyal awal (indikator awal) bahwa inflasi bisa meningkat di depan. Ini perlu dicermati karena bertentangan dengan narasi bahwa tekanan harga terus mereda.

Pasokan Uang dan Sinyal Inflasi

Data moneter (data terkait uang beredar) ini penting karena inflasi terbaru April menunjukkan CPI (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen, ukuran rata-rata perubahan harga barang dan jasa) masih 2,8%, tetap di atas target Bank of England 2%. Kombinasi pasokan uang yang naik dan inflasi yang sulit turun membuat peluang bank sentral memangkas suku bunga dalam beberapa bulan ke depan menjadi lebih kecil. Pasar perlu mengantisipasi kebijakan yang lebih ketat (hawkish: lebih fokus menahan inflasi, cenderung mempertahankan/menaikkan suku bunga) sepanjang musim panas.

Bagi pelaku pasar suku bunga, ini berarti posisi yang bertaruh suku bunga akan turun perlu ditinjau ulang. Peluang bisa muncul dari strategi menjual kontrak berjangka suku bunga jangka pendek (short-term interest rate futures: kontrak untuk memprediksi arah suku bunga ke depan), misalnya yang berbasis SONIA (Sterling Overnight Index Average, suku bunga acuan semalam di Inggris). Kontrak berjangka gilt (gilt futures: kontrak berjangka obligasi pemerintah Inggris) berpotensi tertekan, sehingga opsi jual (put options: hak untuk menjual aset pada harga tertentu, biasanya dipakai untuk lindung nilai saat harga turun) bisa menjadi lindung nilai (hedge: strategi untuk mengurangi risiko) yang menarik.

Di pasar valuta asing, perkembangan ini mendukung pound sterling. Suku bunga yang bertahan tinggi lebih lama biasanya menarik arus modal asing, sehingga mata uang menguat. Posisi beli (long positions: strategi untung saat harga naik) pada GBP bisa dipertimbangkan terhadap mata uang yang bank sentralnya lebih dekat ke pemangkasan suku bunga, misalnya melalui opsi beli (call options: hak untuk membeli aset pada harga tertentu, biasanya dipakai untuk mengambil peluang kenaikan) pada pasangan seperti GBP/USD.

Kondisi ini juga bisa membuat pasar saham Inggris lebih bergejolak, terutama sektor yang sensitif terhadap suku bunga. Strategi derivatif (instrumen turunan nilainya mengikuti aset acuan) yang diuntungkan saat volatilitas naik, seperti membeli kontrak berjangka pada Indeks Volatilitas FTSE 100 (ukuran perkiraan naik-turunnya pasar FTSE 100), layak dipertimbangkan. Melindungi portofolio saham dengan opsi jual pada indeks juga menjadi langkah defensif.

Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Berubah

Jika melihat ke belakang, ini menunjukkan perubahan dari sentimen pasar sepanjang sebagian besar 2025, ketika ekspektasi pemangkasan suku bunga besar mulai menguat. Narasi itu kini tertahan. Data M4 Maret mengingatkan bahwa penurunan inflasi kembali ke 2% tidak selalu mulus.

Individu di Inggris meminjam £8 miliar secara bulanan, melampaui proyeksi £5,9 miliar, dalam data Maret

Pinjaman bersih (total pinjaman baru dikurangi pelunasan) bank Inggris kepada individu naik menjadi £8 miliar pada Maret, dibandingkan perkiraan £5,9 miliar.

Angka bulanan ini menunjukkan pinjaman £2,1 miliar lebih tinggi dari perkiraan.

Permintaan Konsumen Lebih Panas dari Perkiraan

Kenaikan pinjaman bersih menjadi £8 miliar pada Maret menunjukkan permintaan konsumen jauh lebih kuat dari perkiraan. Pinjaman yang melonjak ini menandakan ekonomi Inggris masih bergerak kencang dan dapat membuat Bank of England meninjau ulang waktu penurunan suku bunga acuan.

Data ini penting karena inflasi Inggris masih tinggi. CPI (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen, ukuran inflasi) April 2026 tercatat 2,8%, masih di atas target 2% Bank of England. Aktivitas belanja dan pinjaman yang kuat bisa mendorong inflasi, terutama di sektor jasa. MPC (Monetary Policy Committee/komite penentu kebijakan suku bunga) telah menahan Bank Rate (suku bunga acuan Bank of England) di 5,0% selama beberapa bulan, sehingga ada alasan lebih kuat untuk tetap bersikap ketat (hawkish, yaitu cenderung menahan atau menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi).

Dengan kondisi ini, pasar dapat melihat suku bunga Inggris bertahan tinggi lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Salah satu cara mengekspresikan pandangan ini adalah menjual kontrak futures SONIA (kontrak derivatif berbasis SONIA, yaitu suku bunga acuan overnight di Inggris) untuk jatuh tempo akhir 2026 dan awal 2027. Peluang pemangkasan suku bunga di musim panas menurun, sehingga pasar perlu menyesuaikan harga.

Implikasi Transaksi untuk Suku Bunga dan Sterling

Prospek ini juga mendukung pound Inggris karena potensi suku bunga yang lebih tinggi membuat mata uang lebih menarik bagi investor asing. Opsi call GBP/USD (hak membeli GBP terhadap USD pada harga tertentu) atau opsi put EUR/GBP (hak menjual EUR terhadap GBP pada harga tertentu) dengan jatuh tempo dua hingga tiga bulan dapat dipertimbangkan untuk memanfaatkan potensi penguatan sterling terhadap mata uang utama lain.

Kondisi serupa terjadi pada 2025 ketika persetujuan kredit hipotek yang menguat mendahului periode inflasi yang sulit turun, memaksa Bank of England menunda penurunan suku bunga. Pergerakan itu menguntungkan pelaku pasar yang mengambil posisi berlawanan dari ekspektasi pelonggaran (dovish, yaitu cenderung menurunkan suku bunga) yang sempat dominan. Data pinjaman terbaru ini mengarah pada pola yang mirip.

Jumlah uang beredar M4 Inggris naik 0,8% secara bulanan, melampaui perkiraan 0,5%, menurut data yang dirilis

Pasokan uang M4 Inggris naik 0,8% secara bulanan (month on month/mom) pada Maret. Perkiraan 0,5%.

Artinya, angka Maret 0,3 poin persentase di atas perkiraan.

Implikasi untuk Inflasi dan Permintaan

Kenaikan pasokan uang M4 yang lebih kuat dari perkiraan pada Maret menunjukkan lebih banyak uang beredar di perekonomian Inggris. Ini sinyal inflasi yang jelas: ketika jumlah uang bertambah sementara barang dan jasa terbatas, harga cenderung naik. Perlu dipantau apakah tambahan uang ini benar-benar berubah menjadi belanja dalam beberapa bulan ke depan.

Data ini sejalan dengan statistik lain yang menunjukkan ekonomi masih cukup kuat. Contohnya, UK Services PMI (indeks manajer pembelian sektor jasa, indikator cepat arah aktivitas bisnis) terakhir berada di 54,2, menandakan ekspansi aktivitas di sektor utama ekonomi. Kombinasi uang beredar yang bertambah dan permintaan jasa yang kuat memperbesar risiko inflasi bertahan lebih lama.

Dengan kondisi ini, Bank of England (bank sentral Inggris) kemungkinan berpihak lebih “hawkish” (lebih condong mengetatkan kebijakan, misalnya menahan atau menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi). Pembicaraan pasar soal kemungkinan pemangkasan suku bunga pada musim panas 2026 kini terlihat terlalu dini. Komunikasi bank sentral ke depan kemungkinan menekankan pendekatan “higher-for-longer” (suku bunga tinggi dipertahankan lebih lama).

Untuk posisi pasar, ini bisa mendukung penguatan pound sterling. Bank of England yang lebih ketat dibanding Federal Reserve AS yang mungkin mulai melambat dapat membuka peluang. Strategi seperti membeli opsi call GBP/USD (kontrak derivatif yang memberi hak membeli pada harga tertentu; digunakan untuk mengambil untung dari kenaikan kurs) dapat dipertimbangkan untuk memanfaatkan potensi penguatan nilai tukar.

Di pasar suku bunga, ekspektasi pelonggaran kebijakan akan bergeser lebih jauh. Ini berpotensi memicu aksi jual pada obligasi pemerintah Inggris bertenor pendek (gilts), sehingga imbal hasilnya (yield, tingkat keuntungan tahunan yang tercermin dari harga obligasi) naik. Perdagangan kontrak berjangka SONIA (futures berbasis SONIA, suku bunga acuan pasar uang overnight Inggris) untuk bertaruh pada naiknya suku bunga jangka pendek bisa menjadi langkah yang masuk akal dalam beberapa pekan ke depan.

Paralel Historis dan Sensitivitas Kebijakan

Pelajaran dari periode inflasi tinggi yang mulai terlihat sejak 2022 perlu diingat. Saat itu, bank sentral dikritik karena meremehkan tekanan inflasi dan terlambat bertindak. Bank of England akan berupaya menghindari kesalahan serupa, sehingga sangat peka terhadap data seperti laporan M4 ini.

Situasi ini juga mengingatkan pada akhir 2025. Lonjakan pasokan uang yang tak terduga sempat diikuti inflasi yang tetap tinggi beberapa bulan kemudian, sehingga Bank of England membatalkan rencana pemangkasan suku bunga. Pasar akan mengingat pola ini dan kemungkinan lebih cepat memasukkan (pricing in) reaksi kebijakan yang lebih ketat kali ini.

Pada Maret, persetujuan KPR di Inggris mencapai 63,53 ribu, melampaui proyeksi analis sebesar 60 ribu dan ekspektasi pasar

Persetujuan hipotek (KPR) di Inggris berjumlah 63,53 ribu pada Maret. Angka ini di atas perkiraan 60 ribu.

Data terbaru ini menunjukkan aktivitas penyaluran KPR lebih tinggi dari perkiraan selama bulan tersebut. Angka ini membandingkan realisasi dengan ekspektasi pasar.

Sinyal Pasar Hipotek

Data KPR yang lebih kuat dari perkiraan ini mengindikasikan pasar perumahan Inggris kembali memanas, salah satu tanda penting kepercayaan konsumen. Ini berarti masyarakat merasa cukup aman untuk mengambil utang jangka panjang bernilai besar (KPR). Kami melihatnya sebagai sinyal ketahanan ekonomi yang lebih baik dari perkiraan.

Bank of England (bank sentral Inggris) akan memantau ketat data ini saat mempertimbangkan langkah suku bunga berikutnya. Setelah inflasi Inggris pada kuartal I 2026 ternyata sulit turun dan berada di 3,1%, kekuatan sektor perumahan ini mengurangi peluang pemangkasan suku bunga (penurunan tingkat bunga acuan) pada musim panas. Karena itu, pelaku pasar perlu mempertimbangkan skenario suku bunga bertahan lebih tinggi lebih lama dibanding perkiraan pasar sebelumnya.

Bagi trader mata uang, prospek ini mendukung pound sterling (mata uang Inggris). Bank sentral yang lebih hawkish (lebih condong menaikkan/menahan suku bunga agar inflasi terkendali) dibanding Federal Reserve AS atau ECB (Bank Sentral Eropa) berpotensi menarik arus modal masuk. Peluangnya bisa lewat call option (opsi beli, hak—bukan kewajiban—untuk membeli di harga tertentu) pada GBP/USD, karena pasangan ini bisa menguji level resistance (batas atas yang sering menahan kenaikan harga) 1,2850 yang gagal ditembus pada Februari 2026.

Ini berbanding terbalik dengan perlambatan pasar perumahan sepanjang 2025, ketika persetujuan sulit menembus 50.000 di tengah ketidakpastian ekonomi. Aktivitas yang kembali meningkat ini dapat mendukung saham Inggris yang fokus ke pasar domestik, terutama pengembang perumahan dan bank. Potensinya terlihat pada call option pada indeks FTSE 250, yang lebih sensitif terhadap ekonomi Inggris dibanding FTSE 100 yang lebih berorientasi global.

Strategi Dan Risiko

Meski datanya bersifat bullish (mengarah pada kenaikan), implied volatility (perkiraan volatilitas harga yang tersirat dari harga opsi, mencerminkan ketidakpastian pasar) pada opsi SONIA jangka pendek naik. SONIA adalah suku bunga referensi Overnight Index Average dalam pound sterling (patokan bunga transaksi pinjaman harian), sehingga opsi SONIA adalah derivatif (instrumen turunan) untuk mengambil posisi atas ekspektasi suku bunga. Pendekatan yang lebih hati-hati dapat memakai bull call spread (strategi opsi dengan membeli call dan menjual call lain di strike lebih tinggi untuk membatasi biaya) pada ETF perbankan Inggris. Strategi ini membantu menangkap potensi kenaikan dari ekonomi yang lebih kuat sambil membatasi biaya awal dan risiko.

Di tengah kekhawatiran inflasi, emas turun di bawah US$4.600 pada awal perdagangan Eropa seiring meningkatnya spekulasi kebijakan moneter yang lebih hawkish

Harga emas melemah pada awal perdagangan Eropa pada Jumat, turun di bawah US$4.600 setelah menghapus sebagian kenaikan pada Kamis. Emas menuju penurunan mingguan kedua berturut-turut dan bertahan dekat level terendah satu bulan di sekitar US$4.510.

Kekhawatiran inflasi meningkat di tengah ketegangan Timur Tengah, ketika pembicaraan AS-Iran mandek dan harga minyak mentah tetap tinggi. Kondisi ini memicu perkiraan bahwa bank sentral utama bisa mengambil sikap lebih ketat terhadap inflasi (hawkish: cenderung menaikkan suku bunga atau mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama). Situasi tersebut menekan emas yang tidak memberi imbal hasil (non-yielding: tidak memberikan bunga atau kupon).

Risiko Timur Tengah dan Penguatan Dolar

Sejumlah laporan menyebut sikap AS terhadap Iran makin keras, dengan ketegangan berlanjut di sekitar Selat Hormuz serta risiko aksi militer AS lanjutan. Arus ke aset aman (safe haven: aset yang dicari saat pasar takut, seperti dolar AS atau emas) mendukung dolar AS, sehingga menjadi hambatan tambahan bagi emas.

Federal Reserve mempertahankan suku bunga, tetapi keputusan kali ini diwarnai jumlah penolakan (dissent: anggota yang tidak setuju dengan keputusan) yang tidak biasa. Inflasi PCE AS lebih panas (PCE: indeks inflasi belanja konsumsi pribadi, ukuran inflasi yang banyak dipantau The Fed), dan pertumbuhan PDB membaik (GDP/PDB: nilai total produksi ekonomi), menguatkan pandangan bahwa kebijakan bisa tetap ketat lebih lama (restrictive: menahan aktivitas ekonomi melalui suku bunga tinggi).

Meski begitu, ekspektasi setidaknya satu kali penurunan suku bunga The Fed pada 2026 naik dibanding hari sebelumnya. Ini membatasi penguatan dolar dan memberi sedikit penopang bagi emas. Fokus beralih ke data AS termasuk ISM Manufacturing PMI (PMI manufaktur: survei aktivitas pabrik; di atas 50 berarti ekspansi, di bawah 50 kontraksi), serta berita terbaru dari Timur Tengah.

Secara teknikal, kenaikan di atas US$4.600 memicu penutupan posisi jual (short-covering: pelaku pasar yang sebelumnya bertaruh harga turun membeli kembali untuk menutup posisi), tetapi kenaikan tertahan dekat US$4.650 dan level Fibonacci 38,2% (Fibonacci: patokan rasio yang sering dipakai untuk memperkirakan area pantulan/penahanan harga). Area hambatan (resistance: titik yang sering menahan kenaikan) berada di sekitar US$4.651 dan US$4.696, sedangkan area penopang (support: titik yang sering menahan penurunan) berada di sekitar SMA 100 jam dekat US$4.624 (SMA: rata-rata pergerakan sederhana), lalu US$4.595 dan US$4.505–US$4.500.

Semalam, Wall Street ditutup di rekor tertinggi; kontrak berjangka Dow, S&P, dan Nasdaq naik tipis dalam perdagangan Eropa

Futures Dow Jones naik 0,14% ke dekat 49.900 pada perdagangan Eropa Jumat. Futures S&P 500 menguat 0,12% ke sekitar 7.250, sementara futures Nasdaq 100 bertambah 0,04% ke sekitar 27.600.

Futures saham AS menguat setelah Wall Street menutup perdagangan Kamis pada rekor tertinggi. S&P 500 dan Nasdaq 100 mencetak rekor baru serta membukukan kenaikan bulanan terkuat sejak 2020.

Futures Perpanjang Reli Rekor

Pada sesi Kamis, Dow Jones naik 1,62%, S&P 500 menguat 1,02%, dan Nasdaq 100 bertambah 0,89%. Pergerakan terkait laporan kinerja keuangan perusahaan (earnings), serta turunnya harga minyak.

Setelah penutupan pasar (after the bell, yaitu setelah jam perdagangan reguler), Apple melaporkan hasil kuartalan di atas perkiraan. Perhatian kemudian beralih ke laporan kinerja Jumat dari Chevron, Exxon Mobil, Colgate-Palmolive, Estée Lauder, dan CBOE.

Pasar juga memantau ketegangan AS–Iran. Donald Trump mengatakan AS akan melanjutkan blokade laut di pelabuhan-pelabuhan Iran dan meragukan Selat Hormuz akan segera dibuka kembali.

Trump juga mengkritik upaya di Kongres untuk membatasi kewenangannya dalam perang (war powers, yaitu wewenang presiden memakai kekuatan militer), termasuk usulan Senat yang ditolak lebih awal pada Kamis, menurut Bloomberg. Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei mengatakan Iran tidak akan melepaskan kemampuan nuklir atau rudal dan akan tetap menguasai selat tersebut.

Strategi Opsi dan Lindung Nilai Risiko

Dengan S&P 500 menembus rekor di sekitar 7.250, dorongan kenaikan pasar (bullish momentum, artinya tren naik yang kuat) terlihat jelas. Indeks Volatilitas CBOE (VIX, ukuran perkiraan gejolak pasar dari harga opsi) kini diperdagangkan dekat level rendah 14, mencerminkan pasar yang terlalu tenang (complacency, artinya merasa aman berlebihan) karena didukung kinerja perusahaan yang kuat. Kondisi ini menunjukkan opsi beli (call option, hak membeli aset pada harga tertentu) jangka pendek pada indeks seperti Nasdaq 100 masih berpeluang bagus.

Namun, perlu diperhatikan risiko geopolitik besar dari ketegangan AS–Iran. Potensi penutupan Selat Hormuz—jalur yang dilalui hampir 30% minyak dunia yang diangkut lewat laut—menjadi ancaman serius bagi stabilitas. Risiko ekstrem yang jarang terjadi namun berdampak besar (tail risk) ini belum sepenuhnya tercermin pada harga saham saat ini.

Jika menengok reaksi pasar terhadap invasi Ukraina pada awal 2022, terlihat bagaimana peristiwa seperti itu dapat cepat memicu lonjakan harga energi dan mendorong aksi jual luas. Kondisi tersebut menunjukkan gejolak (volatility, artinya naik-turun harga yang tajam) bisa kembali dalam waktu singkat. Pola serupa bisa terjadi dalam beberapa minggu ke depan.

Karena itu, penting membeli perlindungan terhadap potensi penurunan. Membeli opsi jual (put option, hak menjual aset pada harga tertentu) pada ETF pasar luas seperti SPY (ETF, reksa dana yang diperdagangkan seperti saham; SPY melacak indeks S&P 500) adalah langkah lindung nilai (hedge, strategi untuk mengurangi risiko kerugian) yang masuk akal. Kami juga mempertimbangkan opsi call pada VIX sebagai cara langsung untuk mendapat manfaat jika “ketakutan pasar” melonjak.

Pada saat yang sama, situasi ini membuka peluang spekulatif di sektor energi. Meski harga minyak belakangan melemah, blokade berkepanjangan hampir pasti akan mendorong harga minyak mentah naik tajam. Kami melihat potensi kenaikan besar pada opsi call untuk raksasa energi seperti Chevron dan Exxon Mobil, yang merilis earnings hari ini.

Yen Jepang Menguat Berkat Laporan Intervensi, Ketegangan AS-Iran Tetap Tinggi; Trader Pantau Perkembangan Terbaru

Pasar tetap bergejolak pada awal Jumat, meski banyak bursa Eropa tutup karena libur Hari Buruh. Nanti, ISM akan merilis PMI Manufaktur AS untuk April (PMI = indeks survei pelaku usaha yang menggambarkan ekspansi atau kontraksi aktivitas pabrik).

USD/JPY naik di atas 160,70, level tertinggi sejak Juli, sebelum anjlok tajam pada jam perdagangan Eropa. Reuters mengutip dua sumber yang mengatakan Jepang melakukan intervensi (aksi bank sentral/otoritas menjual atau membeli valuta asing untuk memengaruhi nilai tukar) untuk pertama kalinya dalam hampir dua tahun, dan USD/JPY turun lebih dari 2% pada Kamis.

Klaim Intervensi Yen Muncul Lagi

Pada Jumat, USD/JPY sempat naik lagi di atas 157,00 di Asia, lalu turun kembali di Eropa hingga di bawah 156,50. Ini memicu pembicaraan soal intervensi kedua.

Negosiator Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan “tidak mungkin” bagi Iran untuk membuka Selat Hormuz, dengan alasan pelanggaran gencatan senjata oleh AS dan Israel. Presiden Masoud Pezeshkian menyebut pengepungan angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran sebagai “perpanjangan operasi militer”.

Associated Press menyebut Presiden AS Donald Trump sedang menimbang cara mengakhiri penutupan Selat Hormuz sambil tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran (blokade = pembatasan akses/logistik lewat kekuatan militer). Laporan itu juga menyebut koordinasi dengan sekutu untuk menaikkan biaya bagi Iran jika mengganggu arus energi.

ECB mempertahankan suku bunga, sementara Reuters mengutip sumber yang menyebut kenaikan pada Juni diperkirakan terjadi dan satu kali lagi setelah itu jika Brent bertahan di atas US$100 dan gangguan di Hormuz berlanjut. EUR/USD diperdagangkan dekat 1,1750 setelah naik sekitar 0,5% pada Kamis.

Bank Sentral dan Penyesuaian Ulang Harga Pasar

BoE menahan suku bunga acuannya di 3,75%, dengan satu suara MPC mendukung kenaikan 25 basis poin (basis poin/bps = 0,01%; jadi 25 bps = 0,25%). GBP/USD mendekati 1,3600 setelah menguat hampir 1% pada Kamis. Indeks USD turun 0,9% pada Kamis dan bertahan dekat 98,00 pada Jumat, sementara emas naik lebih dari 1,5% pada Kamis tetapi turun ke bawah US$4.600 pada awal Jumat.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Presiden Bundesbank Joachim Nagel: Prospek dasar ECB sudah mengindikasikan kebijakan moneter yang lebih ketat pada sesi perdagangan Eropa

Joachim Nagel, anggota Dewan Gubernur ECB (bank sentral kawasan euro) dan Presiden Deutsche Bundesbank, mengatakan skenario dasar sudah memasukkan kebijakan moneter yang lebih ketat (kebijakan untuk menahan inflasi, biasanya lewat suku bunga lebih tinggi dan likuiditas lebih terbatas). Ia menilai respons pada Juni akan lebih tepat jika prospek tidak membaik secara nyata.

Euro tidak langsung bergerak setelah komentar tersebut. EUR/USD sedikit lebih tinggi di dekat 1,1740, seiring Dolar AS melemah.

Peran Bank Sentral Eropa (ECB)

Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) adalah bank sentral kawasan euro (Eurozone), berbasis di Frankfurt, dengan tujuan menjaga inflasi di sekitar 2%. Cara utama yang digunakan adalah mengubah suku bunga acuan (bunga patokan yang memengaruhi biaya pinjaman di perbankan dan pasar). Dewan Gubernur (Governing Council, pengambil keputusan tertinggi di ECB) menetapkan kebijakan dalam delapan rapat setiap tahun.

Pelonggaran kuantitatif (quantitative easing/QE) adalah kebijakan saat bank sentral “menciptakan” uang dan memakainya untuk membeli aset seperti obligasi pemerintah atau obligasi perusahaan (surat utang). Langkah ini biasanya menambah uang beredar sehingga mata uang bisa melemah. ECB memakai QE saat krisis keuangan besar 2009–2011, pada 2015, dan selama pandemi Covid.

Pengetatan kuantitatif (quantitative tightening/QT) adalah kebalikan QE, digunakan saat pemulihan berjalan dan inflasi naik. Langkah ini mencakup menghentikan pembelian obligasi bersih dan menghentikan reinvestasi pokok obligasi yang jatuh tempo (tidak membeli lagi ketika obligasi lama dilunasi), yang dapat mengurangi likuiditas dan mendukung penguatan Euro.

Berdasarkan sinyal menuju kebijakan moneter yang lebih ketat, pasar perlu mengantisipasi ECB bertindak pada rapat Juni. Pandangan ini diperkuat data Eurostat terbaru yang menunjukkan inflasi inti (core inflation, inflasi yang biasanya tidak memasukkan harga energi dan makanan yang bergejolak) kawasan euro bertahan di 2,9% pada April, masih jauh di atas target 2% ECB. Pernyataan tersebut memberi waktu yang jelas, dan mengisyaratkan hanya perbaikan ekonomi yang besar yang dapat mencegah langkah pengetatan.

Ekspektasi kenaikan suku bunga ini berpotensi menaikkan volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan besarnya naik-turun harga yang “tercermin” dari harga opsi) pada Euro dalam beberapa pekan ke depan. Ini mulai terlihat di pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan kontrak berjangka), ketika biaya opsi EUR/USD yang jatuh tempo setelah rapat Juni naik lebih dari 8% dalam sepekan terakhir. Pelaku pasar perlu bersiap menghadapi pergerakan harga yang lebih besar.

Implikasi Pasar untuk EUR/USD

Secara historis, ECB tetap berhati-hati sepanjang sebagian besar 2025, berharap tekanan inflasi reda tanpa langkah tambahan. Masa menunggu itu kini tampak berakhir, sehingga tekanan untuk bergerak tegas meningkat demi menjaga kredibilitas. Riwayat ini mengindikasikan langkah Juni bisa lebih agresif dibanding tahun lalu.

Peluang Euro menguat makin besar karena Dolar AS sedang lemah. Laporan Non-Farm Payrolls (NFP, data penambahan tenaga kerja di luar sektor pertanian di AS) April 2026 lebih rendah dari perkiraan, yaitu 155.000, memicu spekulasi bahwa The Fed (bank sentral AS) mendekati jeda dalam siklus kenaikan suku bunganya. Perbedaan arah kebijakan ini—ECB makin ketat (hawkish, cenderung menaikkan suku bunga) sementara The Fed lebih longgar (dovish, cenderung menahan atau menurunkan suku bunga)—mendukung potensi penguatan pasangan EUR/USD.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code