Back

Menjelang keputusan RBA pada Selasa, AUD/USD bertahan di sekitar 0,7200 dan stabil, seiring pelaku pasar menanti kenaikan suku bunga yang diperkirakan terjadi

AUD/USD diperdagangkan di dekat 0,7200 pada Jumat, hampir tidak berubah dibanding hari sebelumnya, dan tetap dekat dengan level tinggi terbaru. Pasar berhati-hati menjelang keputusan kebijakan Reserve Bank of Australia (RBA) pada Selasa.

Dolar Australia mendapat dukungan tipis terhadap mata uang utama lainnya. Survei Reuters menunjukkan mayoritas besar ekonom memperkirakan kenaikan 25 basis poin (bps, satuan perubahan suku bunga; 25 bps = 0,25%), sehingga suku bunga acuan menjadi 4,35%.

Rba Policy Watch

Indeks Harga Konsumen (CPI, ukuran inflasi) tahunan Australia sebesar 4,6% (year on year/yoy, dibanding periode yang sama tahun lalu) pada Maret, di atas target bank sentral. Pelaku pasar juga memantau pernyataan Gubernur Michele Bullock untuk mencari petunjuk arah kebijakan (apakah suku bunga akan naik, turun, atau tetap).

Risiko energi yang terkait ketegangan Timur Tengah dan ketidakpastian di Selat Hormuz disebut sebagai faktor yang bisa menambah tekanan inflasi. Risiko ini menjadi latar bagi proyeksi kebijakan.

Dolar AS kurang bertenaga meski geopolitik biasanya bisa mendorong permintaan aset safe haven (aset “pelindung nilai” saat risiko meningkat). Pasar memperkirakan Federal Reserve (The Fed, bank sentral AS) menahan suku bunga hingga akhir tahun.

Pejabat The Fed Neel Kashkari menyebut kemungkinan kenaikan suku bunga lagi jika harga energi memicu guncangan inflasi. Laporan bahwa pemerintah AS mempertimbangkan opsi militer terkait Iran memberi dukungan sesekali pada dolar.

Market Volatility Strategies

Kabar diplomatik bahwa Teheran mengajukan proposal baru ke AS pada Kamis menekan dolar. Perhatian kemudian beralih ke rilis US ISM Manufacturing PMI (indeks manajer pembelian sektor manufaktur; indikator aktivitas pabrik—di atas 50 berarti ekspansi, di bawah 50 kontraksi).

Makhlouf memperingatkan ketidakpastian akibat konflik Timur Tengah yang berkepanjangan dapat membuat harga energi tetap tinggi lebih lama, lapor Reuters

Anggota Dewan Gubernur ECB (bank sentral zona euro), Gabriel Makhlouf, mengatakan tidak adanya jadwal yang jelas untuk berakhirnya konflik di Timur Tengah menimbulkan kekhawatiran harga energi akan tetap tinggi lebih lama, menurut Reuters. Ia mengatakan ekspektasi inflasi (perkiraan pasar dan publik soal inflasi ke depan) perlu diawasi ketat untuk tanda-tanda “lepas jangkar” (tidak lagi mengarah ke target 2%).

Makhlouf mengatakan ia akan memantau dampak tidak langsung, seperti tekanan biaya produksi (kenaikan biaya yang mendorong harga), biaya transportasi, dan jasa. Ia menambahkan kemungkinan dampak putaran kedua melalui upah (kenaikan upah yang kemudian ikut mendorong kenaikan harga) bisa muncul lebih lambat karena penetapan upah dilakukan bertahap.

Reaksi Pasar dan Prospek Euro

Di pasar, EUR/USD stabil pada sesi AS dan diperdagangkan di atas 1,1750 di zona positif.

Kekhawatiran sejak akhir 2025 tentang skenario harga energi “tinggi lebih lama” terbukti beralasan. Konflik di Timur Tengah memang mendorong harga minyak Brent (acuan harga minyak global) di atas US$105 pada kuartal pertama tahun ini. Harga yang masih tinggi dan kini stabil di sekitar US$98 itu langsung masuk ke angka inflasi saat ini.

Karena itu, ekspektasi inflasi harus dipantau ketat untuk melihat apakah mulai menjauh dari target 2%. Estimasi kilat (rilis awal) HICP Zona Euro (inflasi konsumen versi UE yang diselaraskan antarnegara) untuk April 2026 menunjukkan inflasi tetap tinggi di 3,1% dan membalik tren penurunan sepanjang tahun lalu. Kondisi ini membuat pasar menyesuaikan ulang perkiraan penurunan suku bunga ECB, sehingga waktunya mundur.

Perhatian juga tertuju pada dampak tidak langsung, terutama inflasi dorongan biaya di produksi dan transportasi. Bagi pelaku derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan swap), ini berarti harga opsi yang memperkirakan pemangkasan suku bunga ECB sebelum kuartal IV-2026 bisa terlalu mahal. Penempatan posisi lewat interest rate swap (kontrak tukar arus bunga untuk mengelola risiko suku bunga) untuk lindung nilai terhadap kemungkinan ECB tetap ketat pada Juni dinilai masuk akal.

Inflasi Upah dan Implikasi Kebijakan

Dampak putaran kedua melalui upah mulai terlihat. Data terbaru pertumbuhan upah hasil perundingan (negotiated wage growth) Zona Euro untuk Q1 2026 tercatat tinggi di 4,7%, sinyal tekanan harga dari dalam negeri menguat. Data ini mendukung pandangan bahwa inflasi inti (tekanan inflasi mendasar) bisa bertahan tinggi beberapa kuartal lagi.

Kondisi ini menjelaskan mengapa EUR/USD bertahan, kini diperdagangkan kokoh di atas 1,1800 per 1 Mei 2026. Perbedaan arah kebijakan—ECB lebih berhati-hati, sementara The Fed masih memberi sinyal potensi pemangkasan—mendukung euro. Trader dapat mempertimbangkan call option (kontrak opsi untuk hak membeli di harga tertentu) pada EUR/USD untuk memanfaatkan peluang kenaikan, dengan target 1,2000 seperti terakhir terlihat pada 2024.

Selama sesi Eropa, Sterling melemah tipis terhadap mata uang utama, diperdagangkan di sekitar 1,3590 terhadap Dolar AS

Pound Sterling melemah tipis terhadap mata uang utama lain, diperdagangkan di dekat 1,3590 terhadap Dolar AS pada sesi Eropa Jumat. Meski begitu, Sterling tetap relatif kuat karena pasar memperkirakan Bank of England (BoE) akan menaikkan suku bunga pada pertemuan-pertemuan mendatang.

Pandangan ini muncul setelah komentar Gubernur BoE Andrew Bailey usai keputusan kebijakan Kamis. Ia menyinggung perlunya menaikkan suku bunga sebelum inflasi dari kenaikan harga energi memicu “dampak putaran kedua” (kenaikan harga yang menyebar, misalnya lewat kenaikan upah dan biaya lain, sehingga inflasi menjadi lebih sulit turun).

Sinyal BoE dan Reaksi Pasar

GBP/USD diperdagangkan di dekat level tertinggi lebih dari dua bulan sekitar 1,3610 pada sesi Eropa Jumat. Pasangan ini bertahan kuat setelah pengumuman kebijakan BoE pada Kamis.

BoE menahan suku bunga acuannya di 3,75% melalui voting 8-1, sesuai perkiraan. BoE juga mengulang pernyataan bahwa suku bunga mungkin perlu dinaikkan jika kenaikan harga energi menular dan memicu dampak inflasi putaran kedua.

Prospek Sterling dan Implikasi Perdagangan

Dengan kondisi ini, strategi sekadar membeli opsi call GBP/USD (kontrak derivatif yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli pada harga tertentu) dinilai kurang bijak. Volatilitas tersirat (perkiraan besar-kecilnya pergerakan harga yang tercermin dari harga opsi) pada pasangan ini turun dibanding puncak periode kenaikan suku bunga 2022-2023, menandakan pelaku pasar memperkirakan pergerakan lebih sempit. Kami menilai strategi menjual premi opsi (mendapatkan pendapatan dari premi), misalnya short strangle (menjual opsi call dan put sekaligus di level harga berbeda untuk mengambil untung saat harga bergerak dalam rentang), bisa efektif, dengan asumsi GBP/USD bertahan dalam kisaran tertentu di sekitar level 1,2850.

Risiko utama terhadap pandangan ini kini lebih banyak datang dari Amerika Serikat dibanding Inggris. Data inflasi AS terbaru cenderung lebih “bandel” dari perkiraan (turunnya lebih lambat), sehingga The Fed (bank sentral AS) bisa mempertahankan sikap lebih ketat (hawkish: cenderung menaikkan/menahan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi) dibanding BoE. Perbedaan arah kebijakan (divergensi kebijakan) antara kedua bank sentral kemungkinan akan menentukan pergerakan besar berikutnya di GBP/USD, sehingga data ekonomi AS menjadi fokus utama dalam beberapa pekan ke depan.

Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack berbeda pendapat, menilai meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan kebijakan membuat kecenderungan pelonggaran tidak tepat

Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack pada Jumat mengeluarkan pernyataan yang menjelaskan alasan ia berbeda pendapat (dissent) terhadap keputusan mempertahankan kecenderungan pelonggaran (easing bias, sinyal bahwa suku bunga cenderung diturunkan) dalam pernyataan kebijakan The Fed. Ia menilai “kecenderungan pelonggaran yang jelas” tidak lagi tepat melihat prospek saat ini.

Hammack mengatakan tekanan inflasi terjadi di banyak sektor (broad-based) dan harga energi mendorong harga naik. Ia juga menyebut ekonomi sejauh ini tetap tangguh pada 2026.

Ketidakpastian Kebijakan Meningkat

Ia melaporkan melihat risiko inflasi masih cenderung naik (upside risk), bersamaan dengan risiko penurunan pada pasar tenaga kerja (downside risk). Ia juga mengatakan ketidakpastian mengenai ekonomi dan arah kebijakan (policy path, jalur keputusan suku bunga ke depan) meningkat.

Hammack menyebut pasar tenaga kerja mendekati kondisi penyerapan kerja penuh (full employment, tingkat pengangguran rendah dan lowongan kerja tinggi). Ia menambahkan beragam pandangan merupakan bagian dari proses The Fed.

Dalam pergerakan pasar pada Jumat, Dolar AS tetap lemah pada sesi Amerika. Pada saat publikasi, Indeks Dolar AS (USD Index, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) turun 0,25% ke 97,85.

Ketidakpastian mengenai arah kebijakan The Fed meningkat, sehingga tidak bijak bertaruh pada satu arah pasar yang tegas. Seorang pembuat kebijakan utama kini menolak kecenderungan pelonggaran, yang berarti pasar bisa terlalu tenang soal peluang pemangkasan suku bunga ke depan. Dengan VIX (indikator perkiraan gejolak harga saham/volatilitas pasar) bertahan di sekitar 15, pasar tampak meremehkan risiko ini. Karena itu, strategi mengambil posisi yang diuntungkan saat volatilitas naik melalui opsi (options, kontrak hak beli/jual) terlihat menarik.

Implikasi Trading untuk 2026

Kami melihat peluang suku bunga bertahan tinggi lebih lama daripada perkiraan banyak pihak. Data inflasi inti terbaru (core inflation, inflasi tanpa komponen yang sangat bergejolak seperti energi dan pangan) untuk Maret 2026 tercatat kuat di 2,8%, jauh di atas target 2% dan belum menunjukkan penurunan cepat. Karena itu, pelaku pasar derivatif (derivatives, instrumen turunan nilainya mengikuti aset acuan) dapat mempertimbangkan opsi untuk bertaruh bahwa pemangkasan suku bunga tidak segera terjadi, misalnya membeli opsi jual (put, hak menjual pada harga tertentu) pada ETF obligasi pemerintah AS bertenor panjang (long-duration Treasury bond ETFs, reksa dana diperdagangkan yang sensitif terhadap perubahan suku bunga).

Ketangguhan ekonomi ibarat pedang bermata dua: mendukung laba perusahaan, tetapi juga memberi alasan bank sentral mempertahankan kebijakan ketat (policy tight, suku bunga tinggi/pengetatan likuiditas). Meski pasar tenaga kerja kuat, laporan pekerjaan April 2026 menunjukkan pertumbuhan pekerjaan melambat ke 175.000, sementara tingkat pengangguran naik ke 3,9%, memberi sinyal potensi pelemahan. Ini menunjukkan, bahkan saat ekonomi kuat, melindungi posisi saham jangka panjang (hedging, strategi mengurangi risiko) dengan opsi jual pada indeks saham yang lebih sensitif terhadap siklus ekonomi bisa menjadi langkah hati-hati.

Tekanan inflasi didorong energi, tren yang kecil kemungkinan berbalik cepat. Harga minyak mentah WTI (West Texas Intermediate, patokan harga minyak AS) bertahan di atas US$85 per barel sepanjang 2026, mendorong biaya lebih tinggi di seluruh ekonomi. Kami menilai memegang derivatif terkait komoditas energi, seperti opsi beli (call, hak membeli pada harga tertentu) pada ETF minyak, bisa menjadi pelindung langsung terhadap risiko inflasi yang tetap tinggi.

Kegagalan dolar AS menguat meski ada komentar bernada ketat (hawkish, cenderung mendukung suku bunga lebih tinggi) penting diperhatikan, karena pasar tampaknya lebih khawatir pada naiknya ketidakpastian kebijakan dibanding sekadar inflasi. Setelah perlambatan global pada pertengahan 2025, pertumbuhan di wilayah lain bisa membaik, membuat mata uang mereka lebih menarik. Kondisi ini dapat mendukung strategi yang bertaruh melemahnya dolar, misalnya membeli opsi beli pada pasangan mata uang seperti EUR/USD.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Iran, melalui mediator Pakistan, dilaporkan menyampaikan rencana perdamaian baru dan respons atas amandemen kepada Washington, menurut sumber-sumber

Beberapa media melaporkan pada Jumat, mengutip sumber Iran, bahwa Iran mengirimkan usulan baru untuk mengakhiri perang. Laporan itu menyebut langkah ini juga menjadi respons Iran atas perubahan dari AS, yang disampaikan melalui mediator Pakistan pada Kamis.

Setelah judul berita itu muncul, Dolar AS melemah terhadap mata uang lain. Saat publikasi, Indeks USD turun 0,23% ke 97,88. (Indeks USD adalah ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama.)

Market Reaction Overview

Kontrak berjangka (futures) indeks saham AS bergerak beragam. (Futures adalah kontrak untuk membeli/menjual aset pada harga tertentu di waktu mendatang, sering dipakai untuk membaca arah pasar sebelum bursa buka.) S&P 500 Futures naik 0,15%, sedangkan Nasdaq Futures turun sekitar 0,2%.

Dengan usulan baru dari Iran, pasar menunjukkan sinyal “risk-on” (investor lebih berani mengambil risiko, memilih aset berisiko seperti saham dibanding aset aman). Pelemahan awal dolar AS menjadi tanda pelaku pasar mengurangi posisi di aset lindung nilai (safe haven), seperti dolar. Ini mengarah pada potensi turunnya volatilitas tersirat (implied volatility, yaitu perkiraan gejolak harga yang tercermin dari harga opsi) di berbagai kelas aset.

Strategi yang paling langsung adalah memperkirakan turunnya CBOE Volatility Index (VIX). (VIX adalah indeks yang mengukur ekspektasi volatilitas pasar saham AS, sering disebut “indeks ketakutan”.) Jika VIX sebelumnya berada di sekitar 17 pada akhir April, keberhasilan diplomasi bisa mendorongnya menuju level terendah tahun berjalan di 14. Pelaku pasar bisa mempertimbangkan menjual opsi beli (call option, hak untuk membeli) yang berada di luar uang (out-of-the-money, harga kesepakatan/strike belum menguntungkan) pada VIX, atau membeli strategi spread opsi jual (put spread, gabungan beli-jual opsi jual untuk memanfaatkan penurunan dengan biaya lebih rendah).

Untuk pasar saham, berkurangnya risiko geopolitik menjadi pendorong positif, terutama untuk S&P 500. Kenaikan pada futures S&P menunjukkan reli berkelanjutan bisa terjadi jika peluang kesepakatan makin besar. Strateginya: membeli opsi beli jangka dekat pada ETF SPY. (ETF adalah produk seperti reksa dana yang diperdagangkan di bursa; SPY melacak indeks S&P 500. Opsi memberi eksposur “berpengungkit”, yaitu potensi untung/rugi lebih besar dibanding membeli saham/ETF langsung.)

Energy Market Implications

Dampak terbesar kemungkinan ada di sektor energi. Kesepakatan resmi dapat membuat tambahan sekitar 1,5 juta barel minyak Iran per hari kembali ke pasar global, menurut perkiraan terbaru International Energy Agency/IEA (lembaga energi internasional). Kenaikan pasokan ini berpotensi menekan harga minyak, sehingga opsi jual berjangka (futures) minyak WTI (West Texas Intermediate, acuan harga minyak AS) berjangka panjang atau pada dana minyak USO bisa menjadi lindung nilai (hedge, strategi untuk mengurangi risiko kerugian).

Di pasar valuta asing, dolar AS berpotensi tetap melemah karena daya tariknya sebagai aset aman berkurang. Pola serupa pernah terlihat pada paruh kedua 2025 saat pembicaraan awal kedua negara mulai maju. Karena itu, membeli opsi jual pada Invesco DB USD Bullish Fund (UUP) bisa menguntungkan jika dana mengalir keluar dari dolar. (UUP adalah ETF yang bertujuan mengikuti penguatan dolar; opsi jual akan diuntungkan saat harga UUP turun.)

Kondisi ini juga cenderung negatif bagi logam mulia seperti emas, yang biasanya diuntungkan saat ketidakpastian tinggi. Emas sudah kesulitan bertahan di atas US$2.400 per ons, dan penyelesaian damai bisa mempercepat penurunan. Peluangnya: menjual spread opsi beli pada ETF emas GLD (strategi menjual-call dan membeli-call di strike lebih tinggi untuk membatasi risiko), dengan asumsi ketenangan geopolitik membatasi kenaikan emas.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Kashkari Menyampaikan Perbedaan Pendapat soal Ketidakpastian Terkait Hormuz, Mendesak Pernyataan The Fed Menyoroti Potensi Kenaikan Suku Bunga Beruntun

Presiden Federal Reserve Minneapolis, Neel Kashkari, mengatakan ia berbeda pendapat (dissent) pada rapat kebijakan April. Ia menyoroti ketidakpastian di Selat Hormuz dan menilai pernyataan The Fed harus menyebutkan risiko kenaikan suku bunga.

Ia mengatakan guncangan harga yang cukup besar dapat memengaruhi ekspektasi inflasi (perkiraan pelaku ekonomi soal inflasi ke depan). Menurutnya, hal itu bisa memicu rangkaian kenaikan suku bunga untuk menjaga target inflasi The Fed di 2%.

Perbedaan Pendapat Kebijakan dan Risiko Inflasi

Ia mengatakan penutupan selat yang berkepanjangan dapat memicu guncangan harga (kenaikan harga mendadak). Ia menilai hal itu dapat mengubah ekspektasi inflasi dan mendorong respons kebijakan yang tegas.

Ia mengatakan bahkan jika Selat Hormuz segera dibuka kembali, inflasi bisa tetap tinggi. Itu berarti suku bunga dapat ditahan (tidak dinaikkan atau diturunkan) lebih lama.

Ia mengatakan sebelum perang, inflasi diperkirakan turun dan bisa membuka ruang untuk satu kali penurunan suku bunga lagi tahun ini.

Setelah pernyataan itu, dolar AS melemah. Saat berita ini ditulis, Indeks USD turun 0,2% ke 97,90.

Implikasi Pasar dan Strategi Perdagangan

Dengan adanya perbedaan pendapat dari pejabat kunci The Fed yang ingin mengakui risiko kenaikan suku bunga, kepastian arah kebijakan ke depan menurun. Sikap hawkish (condong lebih ketat, artinya lebih siap menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi) ini terkait langsung dengan ketegangan geopolitik di Selat Hormuz, jalur sempit penting bagi pasokan energi global. Pasar kini harus memasukkan peluang kenaikan suku bunga, meski peluangnya kecil.

Dampak tercepat terlihat di sektor energi. Sekitar 21 juta barel minyak melewati selat itu setiap hari, lebih dari 20% konsumsi global. Minyak Brent sudah naik mendekati US$95 per barel, dan CBOE Crude Oil Volatility Index (OVX)—indeks yang mengukur perkiraan gejolak harga minyak berdasarkan harga opsi—melonjak lebih dari 30% dalam sepekan terakhir. Kami melihat membeli opsi beli (call option, hak untuk membeli aset pada harga tertentu sebelum jatuh tempo) pada kontrak futures minyak (kontrak standar untuk membeli/menjual di masa depan) atau ETF terkait sebagai cara untuk bersiap menghadapi risiko gangguan pasokan.

Ketidakpastian ini mengubah prospek suku bunga, karena inflasi masih 2,8% berdasarkan laporan CPI terakhir. CPI (Consumer Price Index) adalah ukuran inflasi dari perubahan harga barang dan jasa yang dibeli konsumen. Sebelumnya, SOFR futures—kontrak yang mencerminkan ekspektasi suku bunga jangka pendek berbasis SOFR (Secured Overnight Financing Rate, acuan suku bunga pasar uang AS yang dijamin dengan aset)—memperhitungkan peluang 40% penurunan suku bunga hingga akhir tahun. Posisi itu kini lebih berisiko. Trader dapat mempertimbangkan menjual (short) futures suku bunga jangka dekat atau membeli opsi jual (put option, hak untuk menjual pada harga tertentu) pada ETF Treasury sebagai lindung nilai terhadap kemungkinan pasar kembali mematok The Fed yang lebih ketat.

Untuk saham, gabungan harga energi yang lebih tinggi dan potensi suku bunga lebih tinggi menjadi tekanan besar. Volatilitas (naik-turun harga) bisa meningkat dan risiko penurunan pada indeks utama membesar. Membeli put pelindung pada S&P 500 bisa menjadi lindung nilai jika sentimen menghindari risiko bertahan.

Pelemahan dolar pada awalnya terlihat tidak sejalan, tetapi kemungkinan mencerminkan kekhawatiran stagflasi (inflasi tinggi bersamaan dengan perlambatan ekonomi) ketimbang perubahan kebijakan. Jika nada The Fed makin ketat seiring data inflasi, dolar bisa berbalik menguat cepat. Kami melihat peluang membeli call option out-of-the-money pada Indeks Dolar AS—opsi beli dengan harga strike lebih tinggi dari harga saat ini, biasanya lebih murah—untuk berspekulasi pada pembalikan tersebut.

Huw Pill Mendesak Tindakan Lebih Cepat terhadap Tekanan Inflasi Baru, Menilai Kondisi Keuangan yang Lebih Ketat sebagai Respons yang Tepat

Kepala Ekonom BoE (Bank of England) Huw Pill mengatakan kondisi keuangan yang lebih ketat tampak sebagai respons yang masuk akal terhadap risiko inflasi terkait perang AS-Iran, menurut Reuters. Ia mengatakan Komite Kebijakan Moneter (Monetary Policy Committee/MPC, yaitu tim penentu suku bunga BoE) tidak ingin mengunci diri pada satu arah kebijakan suku bunga dan harus tetap luwes.

Ia mengatakan MPC juga sudah menyatakan siap bertindak bila diperlukan. Pill mengatakan pandangannya berbeda dari sebagian besar anggota MPC karena ia lebih khawatir penurunan inflasi (disinflasi, yaitu inflasi yang melambat tetapi belum berubah menjadi deflasi/penurunan harga) bisa macet bahkan sebelum perang Iran.

Bank Of England Signals Flexibility

Ia mengatakan hal itu membuatnya cenderung mendukung respons yang lebih cepat terhadap tekanan inflasi baru. GBP/USD (kurs pound terhadap dolar AS) tidak menunjukkan reaksi langsung dan terakhir naik 0,1% pada hari itu ke 1,3617.

Kami mengingat tahun lalu ketika sebagian pejabat Bank of England mulai khawatir inflasi bisa macet bahkan sebelum perang AS-Iran. Konflik tersebut memperkuat kesiapan untuk bertindak, meski komite masih berbeda pendapat soal waktunya. Saat itu, pound diperdagangkan kuat di sekitar 1,36 terhadap dolar.

Situasinya kini berbeda karena risiko geopolitik langsung mereda dan ekonomi sudah menyerap guncangan. Dengan data inflasi Inggris terbaru untuk April 2026 sebesar 2,5%, inflasi masih bertahan di atas target 2%. Ketahanan ini menjelaskan mengapa Bank menahan suku bunga acuannya di 5,75% selama enam bulan terakhir.

Ketidakpastian ini membuat opsi (kontrak derivatif, yaitu produk turunan yang nilainya mengikuti aset seperti mata uang) yang diuntungkan dari pergerakan harga, ke atas atau ke bawah, tampak menarik. Volatilitas tersirat (implied volatility, yaitu perkiraan pasar atas besar-kecilnya pergerakan harga ke depan yang tercermin dalam harga opsi) pada sterling terus naik, menandakan pasar memperkirakan harga akan keluar dari rentang sempit. Trader bisa mempertimbangkan strategi seperti straddle pada GBP/USD (membeli opsi beli/call dan opsi jual/put sekaligus pada level harga yang sama, untuk berspekulasi pada pergerakan besar tanpa menebak arah), jika Bank memberi kejutan pada pernyataan berikutnya.

Positioning For Sterling Volatility

Di pasar suku bunga, kontrak futures (kontrak berjangka, yaitu perjanjian membeli/menjual aset di harga tertentu pada tanggal tertentu) saat ini hanya mencerminkan sekitar peluang 50% untuk satu kali pemangkasan suku bunga seperempat poin sebelum akhir 2026. Ini menunjukkan ketidakpastian besar apakah inflasi akan cukup turun sehingga Bank bisa melonggarkan kebijakan. Kami melihat peluang jika BoE menahan suku bunga lebih tinggi lebih lama dari perkiraan pasar.

Karena pound turun dari puncak 2025 dan kini diperdagangkan sekitar 1,2850, mata uang ini sensitif terhadap kejutan bernada ketat (hawkish, yaitu sinyal kebijakan yang cenderung menahan/menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi). Salah satu pendekatan adalah memakai derivatif valuta untuk melindungi dari risiko saat sterling kembali menguat. Membeli opsi call GBP out-of-the-money (opsi beli dengan harga kesepakatan di atas harga pasar saat ini; biasanya lebih murah tetapi butuh kenaikan yang lebih besar agar menguntungkan) bisa menjadi cara berbiaya rendah untuk bersiap menghadapi potensi reli jika ekspektasi pemangkasan suku bunga mundur ke 2027.

PMI Manufaktur ISM AS April dirilis pukul 14.00 GMT, berpotensi memengaruhi volatilitas dan arah EUR/USD

PMI Manufaktur ISM AS untuk April dijadwalkan rilis pada 14:00 GMT. Perkiraan menempatkan indeks di 53,0, naik dari 52,7 pada Maret.

Data yang lebih kuat dapat menaikkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (bank sentral AS) dalam waktu dekat, sedangkan data yang lebih lemah dapat menurunkan ekspektasi tersebut. Komentar terbaru Ketua Fed Jerome Powell menunjukkan fokus pada tekanan inflasi yang meningkat.

Komponen Kunci ISM yang Perlu Dipantau

Pasar juga akan memantau Indeks Ketenagakerjaan, Prices Paid, dan New Orders. Prices Paid (komponen yang mengukur tekanan kenaikan biaya input yang dibayar pabrik) diperkirakan 80,0, naik dari 78,3, dan dikaitkan dengan kenaikan harga energi setelah penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan.

Indeks Ketenagakerjaan ISM (komponen yang mencerminkan tren perekrutan di sektor manufaktur) diperkirakan 49,0, naik dari 48,7. EUR/USD naik 0,17% di sekitar 1,1750, dekat level Fibonacci 50% (level rasio teknikal untuk mengukur potensi area pantulan/hambatan harga) di 1,1745 untuk pergerakan 1,1408 hingga 1,2082.

Pasangan ini berada di atas EMA 20 hari (rata-rata bergerak eksponensial, indikator tren yang memberi bobot lebih besar pada harga terbaru) di sekitar 1,1703, sementara RSI (Relative Strength Index, indikator momentum untuk menilai kuat-lemahnya pergerakan; umumnya 0–100) sekitar 56. Level resistensi (area hambatan kenaikan) berada di 1,1825, 1,1938, dan 1,2082, dengan support (area penahan penurunan) di 1,1703, 1,1666, 1,1567, dan 1,1408.

PMI ISM adalah indikator bulanan berbasis survei yang menggambarkan aktivitas pabrik di AS. Angka di atas 50 menandakan ekspansi, sedangkan di bawah 50 menandakan kontraksi.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Poundsterling Menguat terhadap Yen Jepang, Diperdagangkan Sedikit di Atas 213,00 Setelah Pulih dari Level Terendah 211,78 di Tengah Dugaan Intervensi

GBP/JPY kembali naik di atas 213,00 pada Jumat, setelah sempat turun ke 211,78 pada awal sesi. Saat artikel ini ditulis, pasangan ini berada beberapa pip (satuan perubahan harga yang sangat kecil dalam forex) di atas 213,00.

Pasangan ini turun sekitar 200 pip pada awal perdagangan Eropa, sementara pasangan yen lainnya bergerak searah. Pergerakan ini terjadi tanpa pendorong fundamental (alasan ekonomi/berita utama) yang jelas dan dikaitkan dengan dugaan intervensi (aksi masuk pasar) kedua dari Kementerian Keuangan Jepang dalam dua hari.

Risiko Intervensi Yen Meningkat

Seorang pejabat senior Jepang memperingatkan bahwa Tokyo bisa bertindak lagi saat perdagangan lebih sepi terkait libur 1 Mei (Hari Buruh). Jepang juga memasuki periode libur Golden Week.

Pada Kamis, GBP/JPY sempat jatuh hampir 600 pip pada titik terburuknya dan kemudian memangkas hampir setengah penurunan itu hingga akhir hari. Penguatan yen yang lebih luas terjadi setelah USD/JPY menembus 160,00, level yang dipandang sebagai pemicu kemungkinan aksi otoritas Jepang.

Di Inggris, Bank of England (BoE/bank sentral Inggris) menahan suku bunga acuannya (benchmark rate) di 3,75% melalui voting 8–1. Target BoE adalah inflasi 2%, dan BoE menggunakan suku bunga acuan, quantitative easing (QE/pelunakan kuantitatif: bank sentral menambah uang beredar dengan membeli aset seperti obligasi), serta quantitative tightening (QT/pengetatan kuantitatif: mengurangi uang beredar dengan mengurangi pembelian aset atau melepas aset) untuk memengaruhi kondisi kredit dan nilai tukar pound.

Volatilitas (besarnya naik-turun harga) pada pasangan yen terlihat sangat ekstrem, dengan GBP/JPY bergerak tajam di sekitar 213,00. Ini sangat mungkin karena otoritas Jepang masuk pasar untuk membeli yen, sehingga ayunan besar ini menjadi kondisi yang wajar untuk sementara. Aksi ini terjadi saat libur Golden Week, sehingga volume transaksi yang lebih kecil membuat dampaknya lebih kuat.

Trader Opsi Menghadapi Volatilitas Lebih Tinggi

Pemicu utamanya tampak ketika USD/JPY menembus level 160, garis yang jelas “dipertahankan” Kementerian Keuangan. Mengacu pada situasi serupa pada 2024, otoritas menghabiskan rekor ¥9,79 triliun (US$62,2 miliar) dalam sekitar sebulan untuk menopang mata uangnya. Riwayat ini menunjukkan mereka punya kemampuan dana dan kemauan untuk bertindak lagi, sehingga pasar perlu mengantisipasi intervensi tanpa pengumuman.

Di sisi lain, pound tetap kuat karena BoE masih berupaya menekan inflasi. Data inflasi Inggris terbaru untuk April 2026 menunjukkan angka 3,2% yang masih sulit turun, jauh di atas target 2%. Karena itu, BoE tidak punya banyak alasan untuk memangkas suku bunga 5,25%. Selisih besar antara suku bunga Inggris dan Jepang menciptakan tekanan fundamental yang mendorong GBP/JPY lebih tinggi dalam jangka panjang.

Bagi trader derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures/kontrak berjangka), ini berarti implied volatility (volatilitas tersirat: perkiraan volatilitas yang “tercermin” dalam harga opsi) pada opsi GBP/JPY kemungkinan tetap sangat tinggi dalam beberapa pekan ke depan. Kondisi ini membuat strategi menjual opsi berisiko, karena intervensi mendadak bisa memicu kerugian besar. Sebaliknya, strategi yang diuntungkan dari pergerakan harga besar, seperti membeli straddle (strategi membeli opsi call dan put pada strike dan jatuh tempo yang sama agar untung jika harga bergerak besar ke arah mana pun), bisa lebih sesuai untuk menghadapi ketidakpastian tanpa menebak arah pergerakan 400 pip berikutnya.

Melanjutkan kenaikan sebelumnya di Eropa, yen melemah terhadap dolar; USD/JPY bangkit mendekati 156,55, sedikit lebih rendah

Yen Jepang memangkas kenaikan awal terhadap Dolar AS pada awal perdagangan Amerika Utara, Jumat. USD/JPY memantul ke sekitar 156,55 setelah sempat turun ke kisaran 155,50, sehingga pasangan ini sedikit lebih rendah dibanding penutupan hari sebelumnya.

Pergerakan tajam Yen pada awal sesi Eropa dikaitkan dengan kemungkinan aksi Jepang di pasar valuta asing (pasar pertukaran mata uang). Belum ada pengumuman resmi.

Sinyal Intervensi yang Mungkin Terjadi

Ekspektasi aksi tanpa pengumuman muncul setelah komentar Menteri Keuangan Satsuki Katayama pada Kamis, yang menyebut pemerintah semakin dekat mengambil langkah tegas di pasar mata uang. Kenaikan Yen sebelumnya mereda pada sisa perdagangan hari itu.

Kenaikan USD/JPY tertahan karena Dolar AS melemah di berbagai pasar, meski masih ada ekspektasi Federal Reserve (bank sentral AS) tidak akan memangkas suku bunga tahun ini. CME FedWatch (alat berbasis pasar yang memperkirakan peluang kebijakan suku bunga The Fed dari harga kontrak futures) menempatkan peluang The Fed menahan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75% hingga akhir tahun sebesar 83,6%.

Perhatian pasar pada Jumat beralih ke data US ISM Manufacturing PMI untuk April pukul 14:00 GMT. ISM Manufacturing PMI (indeks survei aktivitas sektor manufaktur; angka di atas 50 berarti ekspansi) diperkirakan 53,0, naik dari 52,7 pada Maret.

Pergerakan tajam USD/JPY belakangan, yang berayun antara 155,50 dan 156,55, menunjukkan periode volatilitas tinggi (pergerakan harga yang cepat dan besar) di depan. Aksi harga seperti ini, yang dipicu dugaan intervensi Jepang, membuat posisi satu arah menjadi sangat berisiko.

Strategi Trading Saat Volatilitas Lebih Tinggi

Kementerian Keuangan Jepang kemudian mengonfirmasi menghabiskan sekitar ¥5,5 triliun untuk menopang yen, aksi satu hari terbesar sejak intervensi akhir 2022. Meski sempat menekan pasangan ini, tekanan utama dari selisih suku bunga (perbedaan tingkat suku bunga antarnegara yang memengaruhi arus modal dan nilai tukar) tetap kuat. Ini menegaskan otoritas siap bertindak, sehingga untuk sementara terbentuk “batas atas” yang fleksibel di sekitar 157–158.

Dolar yang sulit menguat tajam juga menjadi faktor penting, terutama setelah ISM Manufacturing PMI AS pekan lalu lebih lemah dari perkiraan, yakni 51,5, di bawah proyeksi 53,0. Ini memperkuat pandangan bahwa meski The Fed menahan suku bunga, data ekonomi belum tentu cukup mendukung penguatan dolar. Karena itu, kenaikan USD/JPY cenderung bertahap, namun diselingi penurunan tajam.

Dengan latar ini, membeli volatilitas melalui long straddle atau strangle pada USD/JPY bisa menjadi pendekatan yang masuk akal untuk satu bulan ke depan. Long straddle (strategi opsi membeli call dan put pada strike/harga kesepakatan yang sama) dan strangle (membeli call dan put dengan strike berbeda) memungkinkan keuntungan jika terjadi pergerakan besar ke salah satu arah, tanpa harus menebak arah lebih dulu. Opsi (kontrak derivatif yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli/menjual aset pada harga tertentu) cocok untuk kondisi pasar yang mudah berayun tajam.

Bagi yang ingin tetap punya pandangan arah, pertimbangkan debit call spread (strategi opsi membeli call lalu menjual call lain pada strike lebih tinggi; biaya bersih dibayar di awal untuk membatasi risiko). Strategi ini membatasi potensi keuntungan, tetapi membantu melindungi modal jika terjadi penurunan mendadak ketika pejabat Jepang kembali melakukan intervensi lebih agresif.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code