Back

USD/JPY Mendatar Setelah Intervensi Jepang Menahan Pelemahan Yen, Bertahan di Kisaran 156,67 Usai Sentuh Terendah 155,48

USD/JPY hampir tidak berubah setelah turun ke 155,48 pada Jumat, menyusul dua hari aksi otoritas Jepang di pasar valuta asing (pasar tukar mata uang) yang menopang yen setelah melemah melewati 160,00. Pasangan ini diperdagangkan di sekitar 156,67.

Data Bank of Japan pada Jumat menunjukkan Jepang menghabiskan hingga US$35 miliar, sedikit di bawah US$36,8 miliar yang digunakan dalam intervensi Juli 2024. Fokus kemudian beralih ke rilis data AS berikutnya.

Perkembangan Geopolitik dan Fokus Pasar

Secara terpisah, Iran mengirim proposal ke Washington melalui Pakistan, sementara AS memperpanjang blokade yang berdampak pada ekonomi Iran. Pernyataan ketua parlemen Iran juga dilaporkan.

ISM Manufacturing PMI AS (indeks manajer pembelian sektor manufaktur; ukuran arah aktivitas pabrik) untuk April sebesar 52,7, sama seperti Maret. Tiga anggota yang berbeda pendapat dari rapat FOMC (rapat penentu kebijakan suku bunga bank sentral AS) pada Rabu memaparkan pandangan mereka, termasuk risiko inflasi terkait minyak dan ketidakpastian langkah kebijakan berikutnya.

Kalender data Jepang pekan depan dinilai sepi, sementara agenda AS mencakup Factory Orders (pesanan pabrik), pidato pejabat The Fed, ISM Services PMI (indeks aktivitas sektor jasa), dan Nonfarm Payrolls April (data ketenagakerjaan di luar sektor pertanian). Pasar juga memantau risiko energi dan gangguan pasokan yang lebih luas.

Pada grafik, USD/JPY berada dekat 156,72, di bawah area simple moving average (rata-rata pergerakan sederhana) sekitar 158,59 dan garis menurun dari 159,23. Support (level penahan penurunan) disebut di sekitar 155,21, dengan level lain sekitar 153,39, sementara RSI (14) (Relative Strength Index; indikator momentum untuk mengukur kondisi jenuh beli/jenuh jual) berada di 37.

Pertimbangan Strategi dan Posisi

Kami memantau yen saat menguji level yang sudah dikenal, mengingat intervensi besar yang terlihat pada periode serupa pada 2025. Saat itu, Kementerian Keuangan menghabiskan hampir US$60 miliar selama dua hari setelah dolar menembus 160 yen, menjadi batas yang jelas. Dengan pasangan kini di sekitar 157,50, opsi volatilitas (kontrak opsi yang nilainya dipengaruhi naik-turunnya harga) terlihat makin menarik.

Perbedaan kondisi AS dan Jepang kini lebih lebar dibanding episode 2025. Laporan Nonfarm Payrolls AS terbaru untuk April menunjukkan penambahan 243.000 pekerjaan, dan core CPI (inflasi inti, tanpa komponen yang bergejolak seperti energi dan pangan) tetap tinggi di 3,6%, membuat The Fed tetap waspada. Kesenjangan suku bunga yang bertahan ini membuat posisi menjual dolar berisiko, terlepas dari ancaman intervensi.

Peringatan Neel Kashkari dalam rapat FOMC 2025 tentang risiko lonjakan harga minyak terasa relevan, karena ketegangan geopolitik mendorong WTI crude (harga acuan minyak AS) kembali di atas US$85 per barel. Kondisi ini memperkuat sikap hawkish The Fed (cenderung mendukung suku bunga lebih tinggi untuk menahan inflasi) dan mendukung strategi yang diuntungkan oleh dolar lebih kuat. Posisi long minyak (membeli untuk mendapat potensi untung saat harga naik) dapat dipertimbangkan sebagai lindung nilai terhadap tekanan inflasi tersebut.

Intervensi tahun lalu mendorong pasangan turun ke area 155, yang kini menjadi support psikologis penting. Mengingat data AS yang kuat dan risiko intervensi mendadak, membeli opsi call USD/JPY (hak untuk membeli pada harga tertentu) dengan strike (harga kesepakatan) di atas 159 dinilai lebih aman. Strategi ini memberi peluang untung bila dolar menguat, sekaligus membatasi risiko kerugian bila otoritas Jepang kembali bertindak.

Perkembangan geopolitik dalam perang AS-Iran melemahkan Dolar, mendorong EUR/USD menuju level tertinggi sepekan di dekat 1,1768

EUR/USD naik pada Jumat karena perkembangan perang AS-Iran melemahkan Dolar AS dan mendukung Euro. Pasangan ini diperdagangkan di sekitar 1,1768, dekat level tertinggi dalam lebih dari sepekan.

Laporan menyebut Iran mengirim proposal baru lewat mediator Pakistan setelah AS menolak tawaran sebelumnya yang akan menunda pembicaraan nuklir. Rincian proposal baru tidak dipublikasikan, dan IRNA menyatakan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi memberi pengarahan kepada mitra regional mengenai posisi Iran untuk mengakhiri perang.

Risiko Geopolitik dan Volatilitas EUR/USD

Harga minyak turun tipis dari level tinggi terbaru dan Dolar AS melemah ke level terendah dua pekan. Pelemahan dolar juga dikaitkan dengan dugaan aksi Jepang di pasar valuta asing (FX, pasar pertukaran mata uang) untuk membatasi pelemahan Yen Jepang.

Indeks Dolar AS (DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) diperdagangkan di sekitar 97,88, turun sekitar 0,22% hari itu. Data AS bervariasi: ISM Manufacturing PMI (indeks manajer pembelian sektor manufaktur, indikator arah aktivitas pabrik) tercatat 52,7 pada April dibanding perkiraan 53,0. S&P Global Manufacturing PMI (PMI versi S&P Global yang juga mengukur aktivitas manufaktur) direvisi naik menjadi 54,5 dari 54,0 dan naik dari 52,3 pada Maret.

Keputusan suku bunga Federal Reserve (bank sentral AS) dan ECB (Bank Sentral Eropa) pekan ini mempertahankan kebijakan. Pejabat The Fed menyebut langkah berikutnya bisa pemangkasan atau kenaikan, dan memperingatkan guncangan inflasi dapat memaksa beberapa kali kenaikan untuk menjaga target 2%.

Volatilitas Tersirat dan Posisi Opsi

Pejabat ECB menyatakan kenaikan suku bunga makin mungkin, sambil menyoroti hambatan pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto, ukuran total output ekonomi) dalam jangka dekat dan meningkatnya risiko inflasi dari sisi atas (peluang inflasi lebih tinggi dari perkiraan).

Situasi saat ini sangat tidak pasti, dengan EUR/USD menyentuh 1,1768 karena berita geopolitik. Kondisi ini membuat harapan kebijakan longgar (dovish, cenderung menurunkan suku bunga) dari arah pembicaraan damai AS-Iran berhadapan langsung dengan peringatan kebijakan ketat (hawkish, cenderung menaikkan suku bunga) dari The Fed dan ECB. Bagi pelaku derivatif (produk turunan seperti opsi dan futures), benturan ini mengisyaratkan volatilitas (naik-turunnya harga) menjadi tema utama dalam beberapa pekan ke depan.

Kita melihat inflasi tetap tinggi pada 2024 dan 2025, ketika CPI AS (Consumer Price Index, indeks harga konsumen) sulit turun di bawah 3% dan inflasi Zona Euro masih menjadi perhatian. Riwayat ini menguatkan peringatan pejabat The Fed dan ECB, sehingga ekspektasi suku bunga bisa berubah cepat. Akibatnya, harga opsi berjangka panjang (opsi dengan jatuh tempo lebih lama) sangat peka terhadap rilis data inflasi mendatang.

Pelemahan Dolar AS bukan hanya soal Iran; dugaan intervensi Jepang (aksi otoritas menjual atau membeli mata uang untuk memengaruhi kurs) juga mendorong DXY turun ke 97,88. Perlu diingat intervensi skala besar Jepang pada 2024 yang memicu pergerakan tajam dan mendadak pada pasangan dolar. Risiko ini berarti posisi “short dolar” (bertaruh dolar turun) menghadapi gap risk (risiko loncatan harga saat pasar dibuka atau saat likuiditas tipis).

Ini bukan kondisi ideal untuk taruhan arah sederhana menggunakan futures (kontrak berjangka, kesepakatan membeli/menjual aset pada harga tertentu di masa depan). Sinyal yang saling bertentangan membuat strategi membeli volatilitas lewat opsi, seperti straddle atau strangle (strategi membeli opsi beli dan opsi jual untuk mengejar keuntungan dari pergerakan besar ke salah satu arah), bisa lebih bijak. Posisi ini dapat untung jika terjadi pergerakan harga besar ke atas atau ke bawah, yang terlihat mungkin mengingat kebuntuan antara geopolitik dan kebijakan bank sentral.

Melihat level 1,1768 pada EUR/USD, posisi saat ini jauh di atas kisaran 1,05–1,12 yang mendominasi perdagangan sepanjang 2025. Jika menembus 1,1800 dan bertahan, bisa memicu gelombang beli baru, sehingga opsi call jangka pendek (opsi beli untuk mendapat untung saat harga naik) menjadi menarik. Namun, jika pembicaraan damai memburuk, pasangan ini bisa jatuh kembali menuju 1,1500, menguntungkan pihak yang memiliki perlindungan put (opsi jual untuk melindungi/untung saat harga turun).

Dekat level tertinggi terbaru, NZD/USD naik tipis ke 0,5915 seiring data AS yang beragam membatasi penguatan Dolar

NZD/USD diperdagangkan di sekitar 0,5915 pada Jumat, naik 0,10% pada hari itu dan mendekati level tertinggi terbaru di sekitar 0,5930. Indeks Dolar AS (US Dollar Index/DXY, ukuran kekuatan Dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) berada di sekitar 97,90, turun 0,23%, sehingga menopang pasangan ini.

Ketegangan Timur Tengah terus memengaruhi pasar setelah seorang pejabat Iran memperingatkan akan ada pembalasan jika AS menyerang lagi. Kabar bahwa Iran mengirim proposal baru ke AS melalui mediator (pihak penengah) meredakan kekhawatiran jangka pendek dan menekan Dolar AS.

Data AS Campuran Dolar Melemah

Data ekonomi AS bergerak campuran. Produk Domestik Bruto (PDB/GDP, nilai total barang dan jasa yang dihasilkan) kuartal I naik 2% secara tahunan (annualised, dihitung seolah-olah laju kuartalan berlangsung setahun penuh), di bawah perkiraan 2,3%. Sementara itu, ISM Manufacturing PMI (indeks aktivitas sektor manufaktur) bertahan di 52,7 pada April, sedikit di bawah estimasi namun masih menunjukkan ekspansi (di atas 50 berarti aktivitas meningkat).

Federal Reserve (bank sentral AS/The Fed) mempertahankan suku bunga acuan di 3,5%–3,75% awal pekan ini. The Fed juga menyebut inflasi masih tinggi, sebagian karena harga energi yang lebih mahal, serta menyoroti adanya perbedaan pandangan di dalam komite. The Fed membuka peluang kenaikan suku bunga (hike, menaikkan suku bunga acuan) bila inflasi kembali naik. Nada “hawkish” (cenderung mendukung kebijakan ketat/suku bunga lebih tinggi untuk menekan inflasi) ini menjadi tekanan yang bisa membatasi kenaikan NZD/USD.

Perdagangan dalam Rentang Lebih Diunggulkan dalam Waktu Dekat

Indeks Harga Konsumen AS (CPI, ukuran inflasi di tingkat konsumen) April tercatat 3,6%, masih jauh di atas target The Fed dan memperkuat sikap hati-hati mereka. Di sisi lain, bank sentral Selandia Baru (RBNZ) juga menghadapi inflasi yang sulit turun. Survei terbaru RBNZ menunjukkan ekspektasi inflasi dua tahun bertahan di 2,8%. Kondisi ini membuat pasangan mata uang berpotensi kesulitan mencari arah yang jelas.

Risiko geopolitik dari Timur Tengah menambah ketidakpastian dan bisa memicu arus ke aset aman (flight to safety, perpindahan dana ke aset yang dianggap lebih aman) seperti Dolar AS. Jika terjadi eskalasi, penguatan Kiwi (dolar Selandia Baru) terhadap Greenback (julukan Dolar AS) bisa cepat terhapus. Karena itu, strategi dengan risiko yang jelas lebih tepat digunakan.

Dengan dorongan yang saling bertentangan ini, strategi range trading (bertransaksi memanfaatkan pergerakan harga di dalam kisaran) dinilai lebih bijak untuk beberapa pekan ke depan. Strategi berisiko terbatas (defined-risk, kerugian maksimum sudah ditentukan) seperti iron condor (strategi opsi yang menggabungkan penjualan dan pembelian opsi call dan put pada beberapa strike untuk meraih keuntungan jika harga bertahan di rentang tertentu) dapat dipertimbangkan. Strategi ini memungkinkan trader meraih potensi keuntungan bila NZD/USD tetap terjebak antara data pertumbuhan AS yang lemah dan kebijakan bank sentral yang ketat.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Poundsterling/dolar naik di atas 1,3600, mendekati level tertinggi 10 pekan, saat dugaan dukungan terhadap yen Jepang melemahkan dolar

GBP/USD naik menembus 1,3600 dan diperdagangkan di sekitar 1,3650, menguat 0,38% hari ini dan sempat naik lebih dari 0,50%, mendekati level tertinggi 10 pekan. Kenaikan ini terjadi setelah sesi kedua pelemahan Dolar, dipicu spekulasi Jepang akan mengambil langkah untuk menopang Yen (yakni intervensi di pasar valuta asing, biasanya lewat jual-beli mata uang oleh otoritas).

Selera risiko tetap kuat setelah laporan bahwa Iran mengirim proposal ke Washington melalui Pakistan. Blokade AS terhadap Iran tetap berlaku, sementara Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menulis di X terkait blokade tersebut.

Kelemahan Dolar dan Sinyal Suku Bunga

Di AS, ISM Manufacturing PMI (indeks manajer pembelian sektor manufaktur, indikator kondisi industri) April tidak berubah di 52,7. Beth Hammack dari Cleveland Fed (bank sentral regional AS) menyoroti tekanan inflasi yang makin meluas dan harga minyak yang naik, serta mengatakan kecenderungan untuk melonggarkan kebijakan (bias pelonggaran: kecenderungan menurunkan suku bunga) “tidak lagi tepat”.

Neel Kashkari dari Minneapolis Fed memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan dan kerusakan fasilitas energi dapat memicu guncangan harga (kenaikan harga mendadak). Lorie Logan dari Dallas Fed mengatakan langkah Fed berikutnya bisa berupa pemangkasan atau kenaikan suku bunga.

Di Inggris, aktivitas bisnis naik dari 51,0 menjadi 53,7 pada April, dan harga input (biaya bahan baku/biaya dari pemasok) menyentuh level tertinggi sejak pertengahan 2022. Kepala Ekonom BoE (Bank of England/bank sentral Inggris) Huw Pill mengatakan kondisi keuangan yang lebih ketat (misalnya bunga pinjaman lebih tinggi dan akses kredit lebih ketat) adalah respons yang masuk akal terhadap risiko inflasi dari perang Iran, dan MPC (Monetary Policy Committee/komite penentu suku bunga BoE) siap bertindak bila perlu.

Pasar memperhitungkan kenaikan suku bunga total 60 basis poin (bps; 1 bps = 0,01%) hingga akhir tahun, sementara data Prime Terminal menunjukkan Fed diperkirakan menahan suku bunga tetap sepanjang tahun. Bagian teknikal menyebut support (level penopang harga) di dekat 1,3490, 1,3436, serta klaster SMA (Simple Moving Average/rata-rata bergerak sederhana, indikator tren) utama di 1,3413, dengan level acuan lain di 1,3436 dan 1,3035.

Perbedaan Arah Kebijakan dan Strategi Perdagangan

Perbedaan arah kebijakan antara Bank of England dan Federal Reserve (The Fed/bank sentral AS) menjadi tema utama dalam beberapa pekan ke depan. Dengan GBP/USD kini bertahan jelas di atas 1,3600, ruang kenaikan lanjutan masih terbuka. Dorongan ini didukung BoE yang cenderung “hawkish” (lebih condong menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi) di tengah inflasi yang sulit turun, berlawanan dengan Fed yang lebih berhati-hati.

Keyakinan terhadap penguatan Pound didukung data Inggris terbaru yang menunjukkan CPI (Consumer Price Index/indeks harga konsumen, ukuran inflasi) utama April naik ke 3,1%, jauh di atas target BoE. Angka ini, ditambah harga input bisnis yang kembali setinggi sejak puncak pertengahan 2022, membuat pasar menilai setidaknya ada dua kali kenaikan suku bunga lagi tahun ini. Karena itu, BoE diperkirakan mempertahankan sikap ketat untuk menahan ekspektasi inflasi (perkiraan publik dan pelaku usaha soal inflasi ke depan).

Di AS, inflasi masih “lengket” (turunnya lambat) namun tidak separah kekhawatiran pasar, dengan Core PCE (inflasi inti versi pengeluaran konsumsi pribadi; tidak memasukkan harga pangan dan energi yang volatil) bertahan di 2,8% secara tahunan. Ini mendukung pandangan bahwa Fed akan jeda hingga akhir tahun, meski ada pejabat yang menyuarakan risiko lonjakan harga energi. Intervensi Jepang yang terkonfirmasi pekan lalu, ketika Kementerian Keuangan menjual lebih dari US$50 miliar, terus menekan dolar secara luas.

Ketegangan geopolitik menjadi faktor penting, dengan harga minyak Brent bertahan di atas US$100 per barel sepanjang April di tengah konflik Iran. Kondisi ini mendukung narasi BoE yang lebih ketat, seperti disampaikan kepala ekonomnya. Risiko dari Selat Hormuz kini menjadi pertimbangan utama dalam proyeksi inflasi.

Bagi trader, kondisi ini membuat strategi membeli call option GBP/USD menarik untuk menangkap peluang kenaikan. Call option adalah kontrak yang memberi hak (bukan kewajiban) untuk membeli pada harga tertentu. Fokusnya pada opsi jatuh tempo Juni dan Juli, dengan strike price (harga kesepakatan) 1,3800 atau lebih tinggi, sehingga peluang mengikuti tren naik tetap ada dengan risiko maksimum yang jelas (sebesar premi yang dibayar).

Alternatifnya, menjual put option out-of-the-money (opsi jual dengan strike di bawah harga pasar saat ini) untuk mengantongi premi (biaya yang diterima penjual opsi). Strategi ini memanfaatkan pijakan teknikal yang kuat. Level resistance (batas kenaikan) lama di sekitar 1,3450 kini menjadi lantai yang solid, sehingga strike di bawah area itu dinilai menarik. Strategi ini diuntungkan oleh kenaikan harga spot (harga pasar saat ini) dan berjalannya waktu (time decay: nilai opsi berkurang seiring mendekati jatuh tempo bagi pembeli opsi).

Setelah hasil kuartal I dirilis, saham Twilio melesat 21% seiring pasar menilai pertumbuhan pendapatan terkuat dalam tiga tahun terakhir

Saham Twilio (TWLO) melonjak hingga 21% pada Jumat setelah hasil kuartal I dirilis setelah penutupan perdagangan pada Kamis. Saham sempat menyentuh $179,48 saat pembukaan, level tertinggi dalam empat tahun, setelah pertumbuhan pendapatan (revenue) kuartal I mencapai 20% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy, artinya dibanding kuartal yang sama tahun lalu).

Pasar saham AS secara luas juga terbantu oleh laporan kinerja Apple (AAPL) serta kabar bahwa Iran mengirimkan pembaruan kesepakatan damai kepada perantara di Pakistan. Minyak AS (WTI) turun 4% sehingga mendukung saham. (WTI adalah patokan harga minyak mentah AS.)

Twilio Earnings Beat And Guidance

Untuk kuartal yang berakhir 31 Maret, Twilio membukukan EPS (earnings per share/laba per saham, yaitu laba perusahaan dibagi jumlah saham) yang disesuaikan (adjusted, artinya sudah menyesuaikan pos sekali waktu agar kinerja inti lebih terlihat) sebesar $1,50, lebih tinggi dari perkiraan konsensus (rata-rata estimasi analis) $1,27. Pendapatan naik menjadi $1,41 miliar, sekitar $70 juta di atas konsensus.

Untuk kuartal II, perusahaan memproyeksikan pendapatan $1,425 miliar, $35 juta di atas konsensus, sementara adjusted EPS sejalan dengan konsensus sebelumnya $1,29. Twilio juga menaikkan titik tengah (midpoint, nilai tengah dari rentang proyeksi) arus kas bebas (free cash flow, uang tunai tersisa setelah belanja modal/capital expenditure) setahun penuh menjadi $1,09 miliar dari $1,05 miliar.

Wells Fargo menaikkan target harga (price target, perkiraan harga wajar versi analis) menjadi $200 dari $147, sementara RBC Capital mempertahankan peringkat Underperform (rekomendasi kinerja di bawah pasar/lebih buruk dari saham sejenis) dan menaikkan targetnya menjadi $120 dari $100. Grafik bulanan menunjukkan support (area harga yang sering menahan penurunan) di sekitar $150, dan RSI bulanan (Relative Strength Index, indikator momentum untuk menilai seberapa kuat naik/turun; di atas 70 sering disebut jenuh beli/overbought) mendekati 65, masih di bawah level 70.

Macro And Options Positioning

Data terbaru kuartal I 2026 menunjukkan pertumbuhan pendapatan melambat menjadi 12%—masih sehat—karena pembanding tahunan makin berat setelah kinerja kuat pada 2025. Selain itu, inflasi AS terbaru sedikit lebih tinggi dari perkiraan di 3,1%, memunculkan kembali kekhawatiran arah kebijakan Federal Reserve (bank sentral AS) dan menekan saham pertumbuhan (growth stocks, saham yang dinilai tumbuh cepat namun biasanya sensitif terhadap suku bunga) seperti Twilio. Faktor-faktor ini membuat pergerakan saham cenderung bergerak dalam rentang (range-bound, naik-turun di area terbatas).

Volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan besarnya gejolak harga yang “tercermin” dari harga opsi) pada opsi (options, kontrak derivatif yang memberi hak beli/jual aset pada harga tertentu) Twilio naik mendekati 45% dari 35% awal tahun, menandakan pasar mengantisipasi pergerakan harga lebih besar menjelang rilis kinerja berikutnya. Ini membuat strategi seperti menjual cash-secured puts (menjual opsi jual dengan dana tunai disiapkan untuk membeli saham jika terkena eksekusi) pada strike price $150 (harga kesepakatan opsi) terlihat menarik, karena area ini pernah menjadi support penting pada 2025 dan kini memberi premi (premium, biaya yang diterima penjual opsi) yang relatif tinggi. Tujuannya mengumpulkan pendapatan atau mendapatkan saham di level yang historisnya kuat.

Bagi yang menilai narasi Voice AI (AI suara, teknologi kecerdasan buatan untuk pengenalan/percakapan suara) masih berpeluang, membeli call spreads bisa lebih hati-hati. Bull call spread (strategi opsi: beli call dan jual call di harga lebih tinggi untuk menekan biaya) seperti membeli call Juli $170 dan menjual call Juli $185 akan membatasi potensi untung, tetapi menurunkan biaya awal di kondisi volatilitas tinggi. Strategi ini memberi risiko terukur (defined-risk, kerugian maksimum sudah diketahui) untuk bertaruh pada pemulihan menuju puncak tahun lalu.

Kami juga memantau harga minyak mentah WTI yang naik lagi ke $85 per barel. Kekuatan harga komoditas saat ini menjadi hambatan (headwind, faktor yang menekan) karena biaya energi lebih tinggi mengurangi daya beli konsumen dan menambah beban biaya bisnis. Tanda-tanda pelemahan harga energi bisa cepat menghidupkan kembali minat pada saham teknologi bertumbuh, sehingga opsi call jangka pendek bisa menjadi langkah taktis yang menarik.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

PMI Manufaktur S&P Global Australia naik dari 51 ke 51,3, mengindikasikan aktivitas pabrik yang lebih kuat

PMI Manufaktur S&P Global Australia naik ke 51,3 pada April, dari 51 pada bulan sebelumnya.

Angka di atas 50 menandakan aktivitas manufaktur (kegiatan pabrik) tumbuh, sedangkan di bawah 50 menandakan menyusut.

Sinyal Pertumbuhan Australia

PMI manufaktur April, yang menunjukkan ekspansi (pertumbuhan) dua bulan berturut-turut, mengindikasikan ekonomi Australia menguat. Ini berlawanan dengan pandangan pasar yang lebih hati-hati pada akhir 2025. Ini menjadi sinyal bahwa permintaan dasar (kebutuhan nyata dari konsumen dan bisnis) tetap kuat.

Data ini mendukung penguatan dolar Australia. Strategi yang bisa dipertimbangkan adalah membeli opsi call AUD/USD (kontrak yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli AUD/USD di harga tertentu hingga waktu tertentu). Alasannya, ekspektasi pemangkasan suku bunga RBA (Reserve Bank of Australia/bank sentral Australia) dalam waktu dekat kemungkinan makin mundur. Setelah pergerakan mata uang yang bergejolak tahun lalu, ini memberi alasan fundamental (berdasarkan data ekonomi, bukan sekadar sentimen) untuk tren naik yang lebih bertahan.

Untuk saham, ini menjadi sinyal positif bagi ASX 200 (indeks saham utama Australia), terutama saham sektor industri dan material. Dengan laporan terbaru yang menunjukkan harga bijih besi mendapat penopang di atas US$120 per ton, kekuatan manufaktur ini menandakan permintaan masih terjaga. Strategi yang bisa dipertimbangkan adalah menambah posisi long (posisi beli yang diuntungkan saat harga naik) pada futures indeks (kontrak berjangka untuk membeli/menjual indeks pada harga tertentu di masa depan).

Laporan PMI ini, bersama data inflasi kuartalan terbaru yang masih tinggi di 3,1% (sticky: sulit turun), membuat RBA hampir pasti menahan suku bunga. Bank sentral sudah menegaskan kekhawatiran inflasi sejak kenaikan suku bunga pada 2025, dan data ini tidak memberi alasan untuk melonggarkan sikap. Ini mengarah pada strategi menjual futures obligasi (kontrak berjangka obligasi; harganya biasanya turun saat imbal hasil/yield naik), dengan perkiraan yield akan terus naik.

Dalam kondisi ini, strategi yang bisa dipertimbangkan adalah mengurangi posisi defensif (fokus pada aset yang relatif aman saat ekonomi melemah) yang efektif pada akhir 2025. Volatilitas tersirat (implied volatility: perkiraan pasar atas besar-kecilnya pergerakan harga di masa depan yang tercermin dalam harga opsi) di pasar valas bisa menurun, sehingga menjual sebagian opsi put AUD yang out-of-the-money (harga kesepakatan opsi berada di bawah harga pasar saat ini; put memberi hak menjual) dapat memberi imbal hasil dibanding risiko yang menarik. Strategi utamanya adalah bersiap pada periode kinerja ekonomi Australia yang lebih baik dari perkiraan pasar.

Update perang Timur Tengah angkat emas dari posisi terendah bulanan, namun suku bunga tinggi yang bertahan lama membatasi kenaikan lebih lanjut

Emas menguat pada Jumat setelah sempat turun, diperdagangkan di dekat US$4.655 setelah menyentuh level terendah satu bulan di US$4.510 pekan ini. Pergerakan ini mengikuti kabar terbaru soal perang di Timur Tengah.

Iran dilaporkan mengirim proposal baru melalui mediator Pakistan setelah adanya revisi dari AS. IRNA menyebut Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi telah memberi pengarahan kepada mitra regional tentang posisi Iran untuk mengakhiri perang.

Bank Sentral Tahan Suku Bunga

Biaya energi meningkat sejak perang AS–Iran dimulai, menambah tekanan inflasi dan memengaruhi perkiraan arah suku bunga. The Fed, ECB, BoE, BoJ, dan BoC sama-sama menahan suku bunga, sambil menegaskan keputusan akan bergantung pada data ekonomi terbaru (data-dependent).

Pasar kini memperkirakan The Fed menunda pemangkasan suku bunga. CME FedWatch—alat yang membaca peluang suku bunga dari harga kontrak futures Fed Funds—menunjukkan pelaku pasar mematok skenario suku bunga tetap hingga tahun ini, serta peluang kenaikan suku bunga pada April 2027 sebesar 24,2%, naik dari 1,9% sepekan lalu.

Emas tertekan karena ekspektasi suku bunga “lebih tinggi lebih lama” (higher-for-longer) dan mencatat dua penurunan bulanan beruntun sejak perang dimulai. Risiko gangguan pasokan minyak lewat Selat Hormuz menjaga harga minyak tetap tinggi dan membuat inflasi kembali jadi fokus.

Data World Gold Council untuk kuartal I 2026 menunjukkan total permintaan naik 2% secara tahunan menjadi 1.231 ton, dengan pembelian bank sentral sekitar 244 ton, naik 3%. ETF berbasis emas (reksa dana yang diperdagangkan di bursa dan didukung emas fisik) menambah 62 ton, sementara permintaan batangan dan koin melonjak 42% menjadi 474 ton.

Secara teknikal, harga berada di bawah SMA 100 hari di US$4.762—SMA adalah rata-rata pergerakan sederhana untuk melihat arah tren. RSI berada di sekitar 41—RSI adalah indikator momentum; di bawah 50 menandakan dorongan naik melemah. Level yang dicatat mencakup US$4.603, US$4.759–US$4.761, US$4.914, US$5.108, serta area support (batas bawah yang sering menahan penurunan) di US$4.381, US$4.281, dan US$4.099.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Presiden Fed Dallas Lorie Logan mengatakan panduan kebijakan tidak boleh mengisyaratkan pelonggaran; langkah berikutnya bisa pemangkasan atau kenaikan suku bunga

Lorie Logan, Presiden Federal Reserve Bank of Dallas, mengatakan The Fed sebaiknya tidak memberi arahan yang mengisyaratkan pelonggaran kebijakan sekarang. Ia menyebut langkah suku bunga berikutnya bisa berupa penurunan atau kenaikan.

Ia mengatakan prospek ekonomi sangat tidak pasti. Ia menyebut pasar tenaga kerja tetap stabil.

Risiko Inflasi Masih Tinggi

Ia mengatakan semakin khawatir untuk mengembalikan inflasi ke 2%. Ia menyebut jalur inflasi tidak pasti.

Ia berbeda pendapat (dissent) terhadap kecenderungan untuk melonggarkan kebijakan (easing bias) pada rapat FOMC. FOMC adalah komite The Fed yang menetapkan kebijakan moneter, termasuk suku bunga acuan. Ia juga mengulang bahwa kondisi tetap stabil.

Anggapan bahwa langkah The Fed berikutnya pasti pemangkasan suku bunga kini tidak lagi berlaku. Pasar menghadapi periode ketidakpastian tinggi, sehingga kenaikan maupun penurunan suku bunga sama-sama mungkin terjadi dalam beberapa bulan ke depan. Ini berarti volatilitas pasar (naik-turun harga yang lebih tajam) berpotensi meningkat.

Perubahan ini terjadi karena inflasi masih sulit turun. Laporan terbaru Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI, ukuran inflasi dari perubahan harga barang dan jasa yang dibayar rumah tangga) untuk April 2026 menunjukkan kenaikan ke 3,6%, lebih tinggi dari perkiraan dan membalikkan tren penurunan yang sempat terjadi sebelumnya. The Fed makin khawatir terhadap kemampuannya membawa inflasi kembali ke target 2%.

Volatilitas Pasar Bisa Naik

Trader dapat mempertimbangkan strategi yang diuntungkan dari kenaikan volatilitas, karena biaya opsi (options, kontrak yang memberi hak—bukan kewajiban—untuk membeli atau menjual aset pada harga tertentu) kemungkinan meningkat. Indeks VIX, ukuran volatilitas pasar saham AS yang sering disebut “indeks ketakutan”, sudah naik dari bawah 14 menjadi di atas 17 dalam sepekan terakhir. Ini menandakan biaya perlindungan (hedging, cara mengurangi risiko dengan instrumen keuangan) menjadi lebih mahal.

Pasar futures suku bunga (kontrak berjangka yang mencerminkan perkiraan suku bunga ke depan) sebelumnya memperhitungkan setidaknya dua kali pemangkasan hingga akhir 2026, yang kini terlihat terlalu optimistis. Ini membuka peluang mengambil posisi berlawanan melalui instrumen yang relevan, misalnya kontrak futures SOFR. SOFR (Secured Overnight Financing Rate) adalah suku bunga acuan jangka sangat pendek di AS yang berbasis transaksi pinjaman dengan jaminan; futures SOFR banyak dipakai untuk berspekulasi atau lindung nilai terhadap perubahan suku bunga. Penyesuaian harga (repricing, perubahan harga karena ekspektasi baru) dapat menjadi sumber peluang.

Situasi serupa terjadi sepanjang 2025, ketika pasar berulang kali memperkirakan pemangkasan suku bunga agresif yang tidak terwujud karena inflasi bertahan tinggi. Karena itu, pelaku pasar perlu waspada terhadap arahan yang hanya mengarah ke pelonggaran. Jalur inflasi tetap sangat tidak pasti.

Pasar tenaga kerja yang stabil memberi The Fed ruang untuk tetap hawkish (sikap yang cenderung mengetatkan kebijakan demi menekan inflasi). Dengan laporan ketenagakerjaan April menunjukkan kenaikan 250.000 pekerjaan dan pengangguran bertahan di 3,8%, The Fed tidak punya alasan mendesak untuk memangkas suku bunga demi menopang ekonomi. Kondisi ini membuat mereka bisa fokus menekan inflasi.

Dalam situasi seperti ini, taruhan arah yang tegas (hanya bertaruh pasar naik atau turun) lebih berisiko. Menggunakan opsi untuk membentuk strategi straddle atau strangle pada indeks utama bisa lebih hati-hati. Straddle adalah membeli opsi beli (call) dan opsi jual (put) pada harga kesepakatan (strike) yang sama, sedangkan strangle membeli call dan put dengan strike berbeda. Keduanya menargetkan potensi pergerakan besar ke salah satu arah, tanpa harus menebak arahnya.

Pada April, ISM melaporkan PMI manufaktur AS tetap di 52,7, sedikit di bawah perkiraan 53,0

Data ISM menunjukkan PMI Manufaktur bertahan di 52,7 pada April, di bawah perkiraan 53,0. Indeks Harga Dibayar (Prices Paid Index)—ukuran tekanan biaya input yang dibayar pabrik—naik ke 84,6 dari 78,3.

Indeks Ketenagakerjaan—mengukur perubahan perekrutan/PHK di sektor manufaktur—turun ke 46,4 dari 48,7. Indeks Pesanan Baru—indikator permintaan ke depan—naik ke 54,1 dari 53,5.

Pada Rabu, dolar AS melanjutkan pelemahan. Indeks Dolar AS (DXY)—nilai dolar terhadap sekeranjang mata uang utama—turun di bawah 98,00 dan menyentuh level terendah baru dalam dua pekan.

Jika melihat periode 2025, laporan manufaktur saat itu campuran dan membingungkan pasar. Pesanan baru yang kuat mengisyaratkan pertumbuhan, tetapi kenaikan harga dan melemahnya ketenagakerjaan menandakan risiko. Ketidakpastian ini menekan dolar AS saat pelaku pasar menimbang sinyal yang saling bertentangan.

Indeks ketenagakerjaan yang melemah tahun lalu di 46,4 menjadi peringatan awal perlambatan yang kini terjadi. Data PMI manufaktur terbaru untuk April 2026 menegaskan tren tersebut, turun ke wilayah kontraksi di 49,2. Artinya, pelemahan sektor industri yang mulai terlihat pada 2025 kini benar-benar terjadi.

April melihat indeks pesanan baru manufaktur ISM AS naik dari 53,5 menjadi 54,1

Indeks Pesanan Baru ISM Manufaktur Amerika Serikat naik ke 54,1 pada April, dari 53,5 pada periode sebelumnya.

Kami menilai data pesanan baru yang lebih kuat dari perkiraan ini sebagai tanda jelas ketahanan ekonomi. Laporan ini menantang penilaian pasar belakangan ini yang memperkirakan Federal Reserve (bank sentral AS) akan memangkas suku bunga pada paruh akhir tahun ini. Posisi di instrumen derivatif (produk turunan seperti opsi dan kontrak berjangka) kini sebaiknya condong ke sikap Fed yang lebih “hawkish” (lebih ketat, cenderung menahan/menaikkan suku bunga) dalam jangka pendek.

Imbal Hasil Obligasi dan Ekspektasi Suku Bunga

Peluang suku bunga “lebih tinggi lebih lama” kemungkinan menekan harga obligasi. Kami memantau imbal hasil (yield) Treasury AS tenor 10 tahun, yang sudah naik ke 4,75% pada awal perdagangan, karena berpotensi menguji level tertinggi yang terlihat pada akhir 2025. Strategi yang menggunakan opsi jual (put option, hak untuk menjual pada harga tertentu) pada ETF obligasi berdurasi panjang (lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga) dapat menjadi cara untuk lindung nilai atau berspekulasi atas pergerakan ini.

Untuk saham, ini menjadi sinyal positif bagi laba perusahaan, khususnya di sektor industri dan bahan baku. Data ini menegaskan pemulihan manufaktur yang dimulai pada awal 2026, sehingga kekhawatiran perlambatan pada 2025 semakin mereda. Kami mempertimbangkan opsi beli (call option, hak untuk membeli pada harga tertentu) pada ETF sektor siklikal (sektor yang kinerjanya mengikuti siklus ekonomi), karena perusahaan berpeluang memberi proyeksi kinerja ke depan yang lebih kuat.

Kekuatan ekonomi ini berpotensi mendorong dolar AS menguat. Dengan Indeks Dolar (DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) sudah mendekati 106,50, kami memperkirakan dolar tetap mendapat dukungan karena selisih suku bunga antarnegara (interest rate differential, perbedaan tingkat suku bunga) menguntungkan AS. Posisi beli dolar terhadap mata uang yang bank sentralnya lebih “dovish” (lebih longgar, cenderung menurunkan suku bunga) terlihat semakin menarik.

Kenaikan pesanan pabrik mengindikasikan konsumsi bahan baku yang lebih besar ke depan. Komoditas industri seperti tembaga sudah bereaksi, dengan harga melonjak melewati US$4,50 per pon, menandakan permintaan yang kuat diperkirakan berlanjut. Posisi bullish (diuntungkan jika harga naik) pada kontrak berjangka komoditas (commodity futures, perjanjian jual-beli pada harga dan waktu tertentu) atau saham terkait komoditas dapat diuntungkan dari ekspansi manufaktur ini.

Volatilitas dan Penempatan Opsi

Pada akhirnya, kabar ekonomi yang positif dan makin menguat seperti ini cenderung menurunkan ketidakpastian pasar. Indeks Volatilitas CBOE (VIX, ukuran perkiraan gejolak pasar saham AS) turun di bawah 14, mencerminkan ekspektasi gejolak yang lebih rendah. Kondisi ini membuat strategi menjual premi opsi (options premium, biaya yang dibayar pembeli opsi kepada penjual), seperti menulis opsi jual dengan jaminan kas (cash-secured puts, menjual put sambil menyiapkan dana untuk membeli saham jika terkena eksekusi) pada saham industri yang kuat, menjadi lebih menarik.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code