Back

Perak turun ke sekitar US$72,30 usai gagal menembus US$74, seiring kehati-hatian The Fed memicu kekhawatiran suku bunga tinggi bertahan lebih lama

Perak (XAG/USD) turun 1,02% pada Rabu ke sekitar US$72,30 setelah gagal bertahan di atas US$74,00. Pemulihan dari level terendah dekat US$72,00 tetap terbatas karena pasar menunggu keputusan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Dolar AS tetap kuat karena ekspektasi kebijakan suku bunga akan tetap ketat (restrictive, artinya suku bunga tinggi dipertahankan untuk menekan inflasi). The Fed secara luas diperkirakan menahan suku bunga acuan (benchmark rate) di kisaran 3,50%–3,75%. Fokus pasar tertuju pada pidato Ketua The Fed Jerome Powell untuk mencari petunjuk soal langkah berikutnya.

Suku Bunga Tinggi Lebih Lama

Ekspektasi “higher for longer” (suku bunga tinggi dipertahankan lebih lama) menekan logam mulia karena menaikkan biaya memegang aset tanpa imbal hasil (non-yielding, artinya tidak memberi bunga/kupon) seperti perak. Kenaikan imbal hasil obligasi (bond yields, yaitu tingkat hasil/return obligasi), yang terkait kekhawatiran inflasi yang belum reda, juga mengurangi minat terhadap perak.

Ketegangan geopolitik menambah tekanan, dengan friksi antara AS dan Iran yang berpusat di Selat Hormuz. The Wall Street Journal melaporkan pemerintah AS mempertimbangkan memperpanjang blokade ekonomi terhadap Iran, yang dapat menjaga harga minyak tetap tinggi dan mempertahankan ekspektasi inflasi.

TD Securities menyebut perak berisiko turun lebih jauh jika inflasi memperlambat pertumbuhan sementara suku bunga tetap tinggi. Mereka juga menyoroti melemahnya permintaan industri serta naiknya biaya carry (carry costs, yaitu biaya menahan posisi/menyimpan aset, termasuk biaya pendanaan/rolling) sebagai beban tambahan, sebelum ada dukungan di akhir tahun dari keterbatasan pasokan.

Data Kunci dan Implikasi Perdagangan

Perlu waspada karena data terbaru memperkuat pandangan ini. Laporan Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI, ukuran inflasi harga barang dan jasa) Maret 2026 menunjukkan inflasi masih “lengket” di 3,6% (sticky, artinya sulit turun cepat), sehingga The Fed tidak punya banyak alasan untuk mengubah arah kebijakan. Imbal hasil US Treasury 10 tahun (obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun) naik ke sekitar 4,75%, yang langsung meningkatkan biaya peluang (opportunity cost, artinya keuntungan yang dikorbankan) memegang “logam putih” dan lebih mendukung pelaku pasar yang bersiap pada pergerakan datar atau melemah.

Dari sisi industri, kondisi juga terlihat melemah. Data terbaru ISM Manufacturing PMI (Purchasing Managers’ Index/PMI, indikator aktivitas manufaktur) turun ke 49,8, yang menandakan kontraksi ringan (di bawah 50 berarti aktivitas menyusut) dan bisa melemahkan permintaan perak fisik. Ini mengindikasikan opsi jual (put options, kontrak derivatif untuk mendapat keuntungan saat harga turun atau sebagai lindung nilai) atau strategi menjual call spread (selling call spreads, menjual selisih dua opsi beli untuk membatasi risiko sambil mengejar premi) pada futures perak (kontrak berjangka) dapat menjadi langkah lindung nilai (hedge) terhadap potensi penurunan menuju level dukungan (support) US$72,00.

Kondisi ini mirip dengan paruh kedua 2025. Saat itu harga perak kesulitan dan sempat menguji level rendah dekat US$68 ketika pasar menerima bahwa The Fed tidak akan memangkas suku bunga secepat harapan. Periode tersebut menunjukkan melawan bank sentral yang hawkish (hawkish, artinya cenderung menahan/menaikkan suku bunga demi melawan inflasi) adalah strategi yang sulit.

Ketegangan di Selat Hormuz menambah ketidakpastian dan dapat menjaga harga energi serta ekspektasi inflasi tetap tinggi. Meski bisa memicu lonjakan jangka pendek, kondisi ini terutama memperkuat alasan The Fed untuk tetap ketat. Untuk pedagang derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures), membeli straddle atau strangle (strategi opsi untuk mencari untung dari lonjakan volatilitas/naik-turun harga tanpa menentukan arah) dapat digunakan untuk memanfaatkan potensi kenaikan volatilitas tanpa memilih arah yang pasti.

Menjelang keputusan suku bunga Bank of Canada, USD/CAD bergerak sedikit lebih rendah, mempertahankan bias bearish moderat

USD/CAD bergerak dengan kecenderungan turun tipis pada Rabu menjelang keputusan suku bunga Bank of Canada (BoC) pukul 13:45 GMT. Pasangan ini berada di sekitar 1,3672, dengan Dolar Kanada didukung kenaikan harga minyak.

Dolar AS mempertahankan kenaikan kecil menjelang keputusan Federal Reserve pukul 18:00 GMT. Indeks Dolar AS berada di sekitar 98,70.

Keputusan Bank Sentral Jadi Sorotan

Kedua bank sentral diperkirakan luas akan menahan suku bunga sambil menilai dampak kenaikan harga energi terhadap ekspektasi inflasi (perkiraan inflasi ke depan). Pasar mencermati *forward guidance* (petunjuk arah kebijakan ke depan). BoC yang lebih *hawkish* (cenderung mendukung suku bunga tetap tinggi untuk menekan inflasi) bisa mendukung Dolar Kanada, sementara pesan The Fed dapat mengarahkan Dolar AS.

Pergerakan jangka dekat juga bisa dipengaruhi perkembangan terkait ketegangan AS-Iran. Dua pengumuman kebijakan ini diperkirakan meningkatkan volatilitas (naik-turunnya harga) USD/CAD.

Pada grafik harian, USD/CAD bertahan di bawah SMA (simple moving average/rata-rata pergerakan sederhana) 100-hari dan 50-hari di 1,3730–1,3733, dengan SMA 200-hari di sekitar 1,3818/1,3820. RSI (Relative Strength Index/indikator kekuatan momentum) berada di kisaran rendah 40-an dan MACD (Moving Average Convergence Divergence/indikator arah tren dan momentum) negatif.

Support (area penahan penurunan) terlihat di sekitar 1,3600, lalu 1,3500. Resistance (area penahan kenaikan) di 1,3730, 1,3733, dan 1,3820.

Philip Wee dari DBS Bank mengatakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap, saat Powell menyampaikan pengarahan terakhirnya sebagai Ketua

Federal Reserve (bank sentral AS) diperkirakan mempertahankan Fed Funds Rate (suku bunga acuan AS) di 3,50–3,75%, dengan Jerome Powell dijadwalkan menggelar konferensi pers terakhirnya sebagai Ketua. Pembahasan berfokus pada pendekatan kebijakan Kevin Warsh, termasuk penekanan pada trimmed-mean inflation (inflasi “rata-rata yang dipangkas”, yakni ukuran inflasi yang membuang komponen harga paling ekstrem agar tren inti lebih jelas) serta potensi kenaikan produktivitas terkait AI (kecerdasan buatan).

Pada 24 April, Department of Justice (Kementerian Kehakiman AS) menghentikan penyelidikan terkait renovasi gedung The Fed. Setelah itu, Senator Republik Thom Tillis beralih dari menghambat menjadi mendukung Warsh pada 26 April. Perkembangan ini memengaruhi keputusan Powell apakah akan tetap menjadi Gubernur (anggota Dewan) hingga Januari 2028.

Pergeseran Kerangka Kebijakan

Warsh mengusulkan mengurangi penekanan pada inflasi core PCE (inflasi PCE inti, ukuran inflasi acuan The Fed yang mengecualikan harga makanan dan energi yang volatil) dan beralih ke trimmed-mean inflation. Ia juga menyoroti produktivitas dari AI serta pendekatan “barbell” (strategi dua sisi: suku bunga lebih rendah sambil mengurangi neraca/balance sheet The Fed). Argumen ini menempatkan risiko harga energi terkait perang sebagai faktor yang kurang dominan dalam arah kebijakan.

Pendekatan tersebut dibandingkan dengan langkah Alan Greenspan pada 1990-an yang mengandalkan Core PCE deflator (ukuran inflasi berbasis PCE) ketika angkanya lebih rendah dari CPI (Consumer Price Index/indeks harga konsumen) dan dipakai untuk mendukung kebijakan yang lebih longgar saat produktivitas meningkat. Disebutkan pula bahwa USD berpotensi kehilangan “haven premium” (tambahan permintaan karena status aset aman) jika data menunjukkan pasokan minyak berlebih yang mendukung pergeseran kebijakan Ketua The Fed berikutnya.

Dengan The Fed menahan suku bunga di 3,50–3,75%, fokus langsung bergeser ke perubahan kepemimpinan. Jerome Powell diperkirakan segera berakhir masa jabatannya, sementara Kevin Warsh dipandang siap mengambil alih, menandai perubahan arah kebijakan yang besar dibanding periode hingga 2025. Transisi ini menjadi faktor kunci untuk penentuan posisi pasar dalam beberapa pekan ke depan.

Kerangka Ketua baru akan berbeda karena ia ingin mengesampingkan core PCE dan lebih mengandalkan trimmed-mean inflation serta kenaikan produktivitas berbasis AI. Data terbaru mendukung pandangan ini: Dallas Fed Trimmed Mean PCE (ukuran inflasi PCE “dipangkas” versi Federal Reserve Dallas) untuk Maret 2026 turun ke 2,4%, jauh di bawah headline PCE (inflasi PCE utama/total, termasuk semua komponen) sebesar 2,9%. Ini memberi Warsh dasar untuk mendorong suku bunga lebih rendah meski ukuran inflasi lain masih tinggi.

Implikasi Penentuan Posisi Pasar

Strategi menurunkan suku bunga sambil mengecilkan neraca The Fed mulai diperhitungkan pasar. Fed funds futures (kontrak berjangka yang mencerminkan ekspektasi suku bunga acuan) kini menunjukkan probabilitas lebih dari 75% untuk pemangkasan 25 basis poin (bps; 1 bps = 0,01%) pada rapat Juli. Karena itu, pelaku pasar dapat mempertimbangkan posisi di derivatif suku bunga (instrumen turunan), seperti SOFR futures atau options (kontrak berjangka/opsi berbasis SOFR, yaitu suku bunga acuan pasar uang AS yang menggantikan LIBOR), yang diuntungkan jika suku bunga jangka pendek turun lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

Argumen Warsh mirip era Alan Greenspan di akhir 1990-an, saat ledakan produktivitas memungkinkan kebijakan lebih longgar. Angka produktivitas kuartal I 2026 tercatat kuat, 3,5% annualized (disetahunkan), memperkuat pandangan bahwa AI menciptakan tekanan disinflasi (menurunkan laju inflasi) yang dapat mengimbangi inflasi. Pararel sejarah ini mengarah pada periode suku bunga lebih rendah dengan ekonomi tetap kuat, lingkungan yang biasanya mendukung aset berisiko (risk assets, seperti saham dan kredit).

Selain itu, status dolar AS sebagai safe haven (mata uang aset aman saat gejolak) melemah seiring meredanya guncangan energi tahun lalu. Harga minyak WTI (West Texas Intermediate, patokan minyak AS) baru-baru ini turun di bawah US$80 per barel dari di atas US$90 pada awal tahun, karena perhatian beralih ke potensi pasokan berlebih akibat produksi non-OPEC meningkat. Ini mengurangi salah satu penopang utama kekuatan dolar.

Dengan dinamika ini, terlihat peluang pada currency options (opsi valuta asing) untuk posisi melemah terhadap dolar, terutama terhadap mata uang dengan bank sentral yang kemungkinan tetap hawkish (cenderung ketat/menahan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi). Pada saat yang sama, dapat dipertimbangkan strategi yang diuntungkan dari turunnya volatilitas suku bunga (naik-turunnya harga/suku bunga), karena kepemimpinan The Fed yang baru tampak memberi sinyal jalur pelonggaran yang lebih jelas. Ini membuat strategi menjual straddle (menjual opsi call dan put pada harga strike yang sama untuk mendapat premi, biasanya menguntungkan jika pergerakan harga tidak besar) pada Treasury futures (kontrak berjangka obligasi pemerintah AS) bisa menjadi opsi.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Derek Halpenny dari MUFG: Dolar Kanada Tetap Tangguh terhadap Dolar AS, Bank of Canada Diperkirakan Menahan Suku Bunga dengan Sikap Hawkish

Dolar Kanada relatif stabil terhadap dolar AS sejak konflik Timur Tengah dimulai. Pasar memperkirakan Bank of Canada (BoC/bank sentral Kanada) akan mempertahankan suku bunga, tetapi dengan sikap yang lebih “hawkish” (cenderung ketat/lebih siap menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi).

BoC akan merilis Monetary Policy Report (Laporan Kebijakan Moneter) bersamaan dengan keputusan suku bunga. Laporan ini diperkirakan menurunkan proyeksi pertumbuhan PDB (GDP/Produk Domestik Bruto, ukuran total output ekonomi) tahun ini dan menaikkan proyeksi inflasi.

Harga energi diperkirakan turun jika tensi mereda, tetapi tetap lebih tinggi dibanding sebelum konflik karena pasar masih memasukkan “geopolitical risk premium” (tambahan harga karena risiko geopolitik). Ini membuat inflasi lebih tinggi dari asumsi sebelum konflik dan semakin sulit diabaikan.

Selat Hormuz masih ditutup, sementara aset berisiko (risk assets, misalnya saham dan mata uang berimbal hasil lebih tinggi) tetap bertahan. Dalam konteks ini, BoC diperkirakan lebih ketat dibanding Maret dan memberi bobot lebih besar pada risiko inflasi yang cenderung naik.

Posisi pasar jangka pendek condong ke dolar AS karena risiko konflik kembali memanas dan harga minyak mentah naik. Data IMM terbaru (laporan posisi spekulatif di pasar berjangka dari International Monetary Market/Chicago Mercantile Exchange) menunjukkan penjualan dolar Kanada mingguan terbesar oleh Leveraged Funds (dana berlever/lembaga spekulatif yang memakai utang/derivatif untuk memperbesar posisi) sejak Juli 2024.

Jika eskalasi terjadi lagi, dolar Kanada bisa tertinggal dari dolar AS, tetapi pergerakannya diperkirakan lebih terbatas dibanding mata uang G10 (kelompok 10 mata uang utama negara maju) yang merupakan pengimpor energi. Artikel ini dibuat menggunakan alat AI dan ditinjau oleh editor.

Menjelang rapat BoC, kami tidak memperkirakan perubahan suku bunga, tetapi bersiap untuk nada yang lebih ketat. Data CPI (Consumer Price Index/indeks harga konsumen, ukuran inflasi) Kanada untuk Maret 2026 lebih tinggi dari perkiraan di 3,1%, sehingga menambah tekanan bagi bank sentral untuk merespons inflasi. Kondisi ini membuat BoC kecil kemungkinan memberi sinyal pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.

Pendorong utama inflasi tetap harga energi yang tinggi akibat konflik Timur Tengah. Dengan harga minyak mentah WTI (West Texas Intermediate, patokan harga minyak AS) bertahan di atas US$95 per barel, pasar menilai “premi risiko” geopolitik akan bertahan dan tidak bisa lagi diabaikan BoC. Bahkan jika ketegangan mereda, kami memperkirakan harga minyak akan menetap di level dasar yang lebih tinggi dibanding sebelum konflik.

Dalam beberapa pekan ke depan, bias ke dolar AS terlihat lebih aman, terutama jika konflik kembali memanas. Data posisi terbaru menunjukkan leveraged funds menambah posisi “short” pada dolar Kanada (taruhan harga CAD turun), mengingatkan pada aksi jual CAD besar pada Juli 2024. Karena itu, pelaku pasar bisa mempertimbangkan kontrak berjangka (futures, perjanjian jual/beli di harga tertentu untuk tanggal tertentu) atau opsi (options, hak—bukan kewajiban—untuk membeli/menjual di harga tertentu) untuk mengambil posisi pada potensi kenaikan pasangan USD/CAD (dolar AS menguat terhadap dolar Kanada).

Namun, menjual dolar Kanada secara langsung berisiko, karena CAD cenderung lebih kuat dibanding mata uang G10 lain saat harga minyak tinggi. Negara seperti Jepang dan Jerman mengimpor lebih dari 90% kebutuhan energinya, sehingga mata uang mereka lebih rentan terhadap guncangan harga minyak dibanding CAD. Ini membuka peluang memakai derivatif (instrumen turunan seperti futures dan opsi) yang menguntungkan CAD terhadap euro atau yen sebagai strategi “relative value” (mencari keuntungan dari selisih kinerja antar aset, bukan arah pasar secara umum).

Ketidakpastian geopolitik berarti volatilitas (naik-turunnya harga) kemungkinan meningkat. Kita bisa melihat kembali eskalasi awal konflik pada akhir 2025 ketika volatilitas valuta asing melonjak tajam. Ini menunjukkan membeli opsi, seperti straddle pada USD/CAD (strategi membeli opsi beli dan opsi jual sekaligus di harga yang sama untuk mendapat untung dari pergerakan besar ke salah satu arah), bisa menjadi cara yang masuk akal untuk bersiap menghadapi pergerakan harga signifikan tanpa harus menebak arah konflik.

TD Securities memprediksi The Fed akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50–3,75% pada April, dengan alasan kesabaran, pasar tenaga kerja yang seimbang, dan inflasi akibat kenaikan harga minyak

Tim Strategi Global TD Securities memperkirakan Federal Reserve (bank sentral AS) akan mempertahankan suku bunga kebijakan di 3,50–3,75% pada rapat FOMC (Komite Pasar Terbuka Federal) bulan April. Mereka menilai pasar tenaga kerja yang seimbang serta kenaikan inflasi utama (headline inflation, yaitu inflasi total yang mencakup energi dan pangan) terkait guncangan minyak menjadi alasan utamanya.

Tim tersebut memperkirakan Komite akan mengulangi sikap “sabar” karena ketidakpastian masih tinggi. Mereka juga memperkirakan Ketua The Fed Jerome Powell tetap mengambil sikap netral soal arah kebijakan berikutnya.

Expected Market Reaction

TD Securities menyebut pergerakan suku bunga pasar kemungkinan hanya terbatas sebagai respons langsung atas keputusan The Fed. Namun, suku bunga bisa terus bergerak mengikuti berita dari Timur Tengah.

Catatan itu menyebut Komite Perbankan Senat akan melakukan pemungutan suara atas nominasi Kevin Warsh pada pukul 10.00 EST. Mereka menambahkan, pasar akan mencermati konferensi pers The Fed untuk komentar terkait suksesi Powell, karena rapat ini bisa menjadi rapat terakhirnya sebagai ketua.

Artikel tersebut menyebut dibuat dengan bantuan alat AI dan ditinjau editor.

Inflation And Labor Market Crosscurrents

Guncangan minyak yang disebut tahun lalu hanya awal, karena inflasi inti (core inflation, yakni inflasi yang mengabaikan komponen bergejolak seperti energi dan pangan untuk melihat tren dasar) tetap tinggi hingga akhir 2025 dan berlanjut השנה ini. Inflasi inti CPI (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen) sempat bertahan di sekitar 3,8% selama berbulan-bulan, level yang menurut sinyal Ketua The Fed baru “tidak dapat diterima” sebagai dasar untuk mempertimbangkan penurunan suku bunga. Kondisi ini membuat pelaku pasar perlu berhati-hati memasang harga untuk perubahan sikap menjadi lebih longgar (dovish pivot, yaitu pergeseran kebijakan menuju penurunan suku bunga) dalam waktu dekat.

Berbeda dengan pasar tenaga kerja yang seimbang pada awal 2025, kini muncul tanda pelambatan yang jelas. Data non-farm payrolls (NFP, laporan pertambahan pekerjaan di luar sektor pertanian) terbaru berada di bawah perkiraan, dan tingkat pengangguran naik ke 4,1% dari level di bawah 4% yang konsisten terlihat tahun lalu. Dinamika ini menambah ketidakpastian karena The Fed menekan inflasi saat kondisi ketenagakerjaan melemah.

Situasi ini mengarah pada volatilitas (gejolak harga) yang lebih tinggi dalam beberapa pekan ke depan. Dengan The Fed terjepit antara inflasi yang sulit turun dan perlambatan pasar kerja, volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi) pada opsi suku bunga—misalnya opsi atas kontrak berjangka SOFR (Secured Overnight Financing Rate, suku bunga acuan berbasis transaksi pinjaman berjaminan semalam)—berpotensi meningkat. Indeks VIX (ukuran volatilitas tersirat pasar saham AS yang sering disebut “indeks ketakutan”) sudah bergerak stabil di kisaran belasan atas, lebih tinggi dibanding periode yang lebih tenang pada musim semi 2025.

Pergantian kepemimpinan di The Fed memunculkan kecenderungan lebih hawkish (lebih ketat, cenderung menahan/menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi) dibanding rapat-rapat terakhir Powell. Pelaku pasar dapat mempertimbangkan strategi yang diuntungkan dari kurva imbal hasil (yield curve, hubungan imbal hasil obligasi berdasarkan tenor) yang datar atau terbalik, karena tenor pendek tetap “terkunci” oleh ketegasan The Fed. Sinyal pelonggaran dari Ketua baru dapat memicu penyesuaian harga besar, tetapi untuk saat ini arah yang paling mungkin adalah suku bunga tetap tinggi lebih lama (higher-for-longer).

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Pada Maret, pesanan barang tahan lama AS naik 0,8%, melampaui perkiraan 0,5% setelah turun 1,2% pada Februari

Pesanan barang tahan lama (durable goods: barang yang umur pakainya panjang seperti mesin, komputer, kendaraan) di AS naik US$2,6 miliar atau 0,8% pada Maret menjadi US$318,9 miliar, menurut Biro Sensus AS. Ini terjadi setelah turun 1,2% pada Februari dan lebih tinggi dari perkiraan kenaikan 0,5%.

Di luar transportasi, pesanan baru naik 0,9%. Di luar pertahanan (defence: belanja/kontrak militer pemerintah), pesanan baru turun 0,3%.

Rincian Barang Tahan Lama

Komputer dan produk elektronik naik US$1,0 miliar atau 3,7% menjadi US$29,6 miliar. Kategori ini naik dalam 11 dari 12 bulan terakhir.

Indeks Dolar AS (US Dollar Index: ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) hampir tidak bereaksi terhadap data. Saat laporan ini dibuat, indeks naik 0,1% pada hari itu ke 98,70.

Laporan Maret menunjukkan kenaikan utama (headline: angka total yang paling disorot) 0,8%, tetapi terlihat pelemahan di sektor swasta karena pesanan turun 0,3% jika belanja pertahanan dikeluarkan. Respons dolar yang datar menunjukkan pasar fokus pada isu yang lebih besar. Data ini saja belum cukup untuk membangun posisi transaksi baru.

Data ini perlu dilihat bersama data yang lebih penting. Pembacaan terbaru Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI: ukuran inflasi dari perubahan harga barang dan jasa) menunjukkan inflasi masih bertahan di 3,5%, dan laporan ketenagakerjaan terakhir menunjukkan ekonomi menambah 303.000 pekerjaan. Angka-angka ini yang membentuk pandangan pasar, karena mengurangi harapan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat oleh Federal Reserve (The Fed: bank sentral AS).

Dampak ke Pasar Suku Bunga

Kondisi ini mengarah pada The Fed menahan suku bunga, sehingga derivatif suku bunga (interest rate derivatives: produk turunan untuk mengambil posisi/hedging pergerakan suku bunga) menjadi fokus. Pergerakan bergelombang kemungkinan berlanjut di kontrak berjangka Treasury (Treasury futures: kontrak berjangka obligasi pemerintah AS) saat pasar mencerna narasi “lebih tinggi lebih lama” (higher for longer: suku bunga tinggi bertahan lebih lama). Strategi opsi pada kontrak berjangka SOFR (SOFR futures: kontrak berjangka berbasis suku bunga acuan pasar uang AS) yang bertaruh tidak ada pemangkasan suku bunga dalam kuartal berikutnya terlihat masuk akal.

Untuk saham, kuatnya pesanan komputer dan elektronik menjadi sinyal positif khususnya bagi sektor teknologi. Ini bisa menopang kontrak berjangka Nasdaq atau opsi beli (call options: hak membeli pada harga tertentu) pada indeks yang didominasi saham teknologi. Namun pasar yang lebih luas, yang diwakili S&P 500, bisa tertekan oleh suku bunga tinggi yang bertahan.

Dolar kemungkinan bergerak datar sampai rilis data inflasi atau tenaga kerja berikutnya. Ini mengindikasikan volatilitas tersirat (implied volatility: perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi) pada pasangan mata uang utama tetap rendah dalam waktu dekat. Trader dapat memanfaatkan periode ini untuk bersiap jika terjadi lonjakan volatilitas menjelang rilis CPI pertengahan Mei.

Izin mendirikan bangunan di AS naik 11% pada Februari, berbalik arah dari penurunan 5,4% pada bulan sebelumnya

Izin mendirikan bangunan (building permits, yaitu persetujuan resmi untuk memulai proyek konstruksi) di AS naik 11% pada Februari, setelah turun 5,4% pada periode sebelumnya.

Perubahan ini menunjukkan pergeseran dari penurunan ke pertumbuhan jumlah izin yang diterbitkan.

Pemulihan Izin Mendirikan Bangunan Mengisyaratkan Momentum Perumahan

Terjadi pembalikan besar pada izin mendirikan bangunan di AS, melonjak 11% pada Februari setelah turun 5,4% pada bulan sebelumnya. Ini termasuk indikator awal (leading indicator, yaitu data yang sering memberi sinyal arah ekonomi ke depan), yang mengindikasikan aktivitas ekonomi bisa menguat pada musim semi dan musim panas. Data yang lebih kuat dari perkiraan ini menunjukkan kepercayaan kembali di sektor perumahan.

Strategi yang paling langsung adalah mengambil posisi pada saham pengembang perumahan dan pemasok material konstruksi. Bisa dipertimbangkan membeli opsi beli (call options, yaitu kontrak yang memberi hak membeli aset pada harga tertentu sebelum tanggal tertentu) untuk Mei dan Juni pada ETF seperti SPDR S&P Homebuilders ETF (XHB). Pola serupa terjadi pada pertengahan 2023, ketika data perumahan yang kuat memicu kenaikan 15% pada XHB dalam kuartal berikutnya.

Kekuatan ini kemungkinan menandakan kondisi ekonomi yang lebih sehat dan dapat mendukung indeks saham yang lebih luas. Opsi beli pada S&P 500 (SPY, yaitu ETF yang mengikuti indeks S&P 500) bisa menjadi pilihan, karena aktivitas konstruksi yang kuat sering diikuti kenaikan lapangan kerja dan belanja konsumen. Melihat pengalaman 2021, lonjakan perumahan menjadi pendorong utama reli pasar yang lebih luas.

Namun, data yang sangat kuat ini dapat memengaruhi keputusan Federal Reserve (bank sentral AS) terkait suku bunga. Kekhawatiran ekonomi terlalu panas (overheating, yaitu pertumbuhan terlalu cepat yang bisa memicu inflasi) dapat meningkat, sehingga peluang pemangkasan suku bunga berkurang. Dapat dipertimbangkan membeli opsi jual (put options, yaitu kontrak yang memberi hak menjual aset pada harga tertentu sebelum tanggal tertentu) pada ETF obligasi pemerintah AS tenor panjang seperti iShares 20+ Year Treasury Bond ETF (TLT). Obligasi tenor panjang berarti obligasi berjangka waktu lama yang biasanya lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga; ketika pasar menilai pemangkasan suku bunga makin kecil, harga obligasi bisa turun.

Besarnya kejutan data ekonomi seperti ini cenderung meningkatkan volatilitas (naik-turun harga yang lebih tajam) dalam beberapa pekan ke depan. Strategi sederhana adalah mengambil posisi pada volatilitas yang naik dengan membeli opsi beli pada CBOE Volatility Index (VIX, yaitu indeks yang sering disebut “pengukur ketakutan” karena mencerminkan ekspektasi volatilitas pasar). Pada 2022, VIX beberapa kali melonjak lebih dari 20% setelah rilis data ekonomi yang mengubah pandangan pasar soal inflasi dan kebijakan The Fed.

Potensi Volatilitas dan Risiko Suku Bunga di Depan

Pembangunan rumah baru di AS turun secara bulanan menjadi 1,356 juta pada Februari, dari 1,487 juta sebelumnya

Perumahan AS yang mulai dibangun (housing starts, yakni jumlah proyek rumah baru yang mulai dikerjakan) turun ke 1,356 juta pada Februari. Angka ini turun dari 1,487 juta pada bulan sebelumnya.

Perubahan bulanan (month-on-month, perbandingan bulan berjalan dengan bulan sebelumnya) menunjukkan penurunan jumlah proyek hunian baru yang mulai dibangun. Data ini membandingkan Februari dengan level bulan sebelumnya.

Housing Starts Menandakan Perlambatan Pertumbuhan

Data housing starts Februari 2026 menunjukkan penurunan tajam. Angka yang turun ke 1,356 juta ini jauh lebih rendah dibanding bulan sebelumnya dan memberi sinyal suku bunga tinggi mulai menekan aktivitas ekonomi. Ini juga menjadi tanda bahwa ketahanan ekonomi yang terlihat sepanjang 2025 bisa mulai melemah.

Dampaknya, ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve (bank sentral AS) bisa berubah. Pelaku pasar kemungkinan mulai memperkirakan penurunan suku bunga lebih cepat. Karena itu, strategi yang diuntungkan saat imbal hasil obligasi turun (yield, yakni tingkat keuntungan obligasi) menjadi lebih menarik, misalnya mengambil posisi beli pada kontrak berjangka (futures, perjanjian jual-beli di harga tertentu untuk masa depan) obligasi pemerintah AS tenor panjang (US Treasury). Hingga akhir April, pasar masih memperkirakan hanya satu kali pemangkasan suku bunga pada kuartal IV, sehingga terbuka peluang jika pelemahan ekonomi berlanjut.

Di pasar saham, posisi defensif perlu dipertimbangkan karena sektor perumahan sering menjadi indikator awal (leading indicator, penanda yang biasanya bergerak lebih dulu sebelum ekonomi berubah) arah ekonomi. Strateginya bisa berupa membeli opsi jual (put option, hak untuk menjual aset di harga tertentu) pada indeks pasar luas seperti SPX (indeks S&P 500) atau pada ETF sektor yang terkait langsung dengan konstruksi, seperti XHB (ETF saham perusahaan pembangunan/perumahan). Aplikasi kredit pemilikan rumah (mortgage applications, pengajuan pinjaman KPR) tercatat turun tiga minggu berturut-turut pada April 2026, memperkuat pandangan negatif untuk saham-saham terkait properti.

Lindung Nilai Volatilitas di Tengah Ketidakpastian Kebijakan

Tarik-menarik antara pertumbuhan yang melambat dan komentar terbaru The Fed soal inflasi yang masih sulit turun (sticky inflation, inflasi yang bertahan tinggi/keras kepala) berpotensi meningkatkan ketidakpastian pasar. Kenaikan perkiraan volatilitas (volatility, besarnya naik-turun harga) membuat pembelian opsi beli (call option, hak untuk membeli aset di harga tertentu) pada indeks VIX (indikator volatilitas pasar saham AS) menjadi strategi lindung nilai (hedge, langkah untuk mengurangi risiko) yang masuk akal dalam beberapa pekan ke depan. Secara historis, penurunan tajam pada indikator awal seperti perumahan sering diikuti periode volatilitas pasar yang lebih tinggi, seperti yang terlihat saat perlambatan 2006 dan 2018.

Pada Maret, izin mendirikan bangunan AS tercatat 1,372 juta, di bawah perkiraan 1,39 juta

Izin pembangunan (building permits, yaitu izin resmi untuk memulai pembangunan rumah/gedung—biasanya menjadi indikator awal aktivitas sektor properti) di AS turun menjadi 1,372 juta pada Maret dibanding bulan sebelumnya. Angka ini di bawah perkiraan 1,39 juta.

Selisih antara angka aktual dan perkiraan sebesar 0,018 juta izin. Rilis ini menunjukkan izin pembangunan lebih rendah dari perkiraan pasar untuk bulan tersebut.

Momentum Perumahan Mulai Melemah

Kekurangan dari perkiraan pada Maret di level 1,372 juta mengindikasikan pendinginan yang jelas di sektor perumahan. Data ini merupakan indikator awal (forward-looking, yaitu petunjuk arah aktivitas ekonomi ke depan), sehingga memunculkan pertanyaan tentang kekuatan ekonomi memasuki kuartal II. Ini bisa menjadi sinyal awal perlambatan yang sudah diantisipasi pasar.

Kelemahan ini juga menjadi tantangan bagi sikap tegas Federal Reserve (bank sentral AS) ketika inflasi inti CPI (core CPI, yaitu inflasi tanpa komponen yang bergejolak seperti makanan dan energi) masih bertahan sekitar 3,1%. Pelaku pasar kini mengurangi ekspektasi narasi “lebih tinggi lebih lama” (higher for longer, yaitu suku bunga tinggi dipertahankan lebih lama) setelah periode stabilnya suku bunga pada 2025. Kontrak berjangka suku bunga (interest rate futures, yaitu instrumen untuk membaca/menypekulasikan arah suku bunga kebijakan) kini menunjukkan peluang lebih besar penurunan suku bunga sebelum akhir tahun.

Sebagai respons, strategi opsi (options, yaitu kontrak yang memberi hak membeli/menjual aset pada harga tertentu) bernuansa turun (bearish, yaitu bertaruh harga turun) pada ETF saham pengembang perumahan (homebuilder ETFs, ETF adalah reksa dana yang diperdagangkan di bursa) dan saham ritel terkait bisa dipertimbangkan. Emiten di sektor ini, yang sempat pulih kuat pada akhir 2025, kini menghadapi tekanan dari permintaan yang melambat. Membeli opsi jual (put options, yaitu opsi yang untung jika harga turun) pada saham pengembang perumahan besar atau toko perlengkapan renovasi rumah bisa menjadi cara langsung untuk memposisikan diri menghadapi potensi pelemahan dalam beberapa pekan ke depan.

Data yang tidak sesuai perkiraan ini juga menambah ketidakpastian pasar yang bisa memicu volatilitas (naik-turunnya harga). Ada potensi kenaikan Indeks Volatilitas CBOE (VIX, sering disebut “indeks ketakutan” yang mencerminkan ekspektasi volatilitas pasar saham AS) dari level saat ini. Karena itu, membeli opsi beli VIX (VIX call options, yaitu opsi yang untung jika VIX naik) atau kontrak berjangka VIX (VIX futures, kontrak untuk memperdagangkan level VIX di masa depan) dapat menjadi lindung nilai (hedge, yaitu perlindungan portofolio) terhadap koreksi pasar yang lebih luas akibat kekhawatiran ekonomi yang kembali muncul.

Pada Februari, izin mendirikan bangunan bulanan AS naik menjadi 1,538 juta, dari sebelumnya 1,376 juta

Izin pembangunan di AS naik secara bulanan pada Februari. Angkanya naik dari 1,376 juta menjadi 1,538 juta.

Ini berarti jumlah izin yang diterbitkan lebih banyak dibanding bulan sebelumnya. Kenaikannya 0,162 juta izin.

Kekuatan Pasar Perumahan Mulai Terlihat

Lonjakan izin pembangunan pada Februari menjadi 1,538 juta menunjukkan pasar perumahan lebih kuat dari perkiraan. Ini adalah indikator awal (leading indicator), yaitu data yang biasanya memberi petunjuk lebih dulu soal arah ekonomi ke depan, sehingga mengisyaratkan aktivitas konstruksi bisa tetap tinggi hingga musim semi dan musim panas. Ini menjadi sinyal positif bagi ekonomi secara umum.

Kuatnya sektor perumahan ikut mendorong perusahaan pemasok bahan bangunan dan tenaga kerja, sehingga berpotensi meningkatkan laba perusahaan di sektor terkait. Data ini menunjukkan permintaan ekonomi lebih tahan banting dari perkiraan banyak pihak, dan meragukan cerita bahwa ekonomi akan melambat tajam.

Dengan aktivitas ekonomi yang tetap solid, Federal Reserve (bank sentral AS) tidak akan cepat memangkas suku bunga. Data inflasi terbaru pada Maret menunjukkan Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI, ukuran rata-rata kenaikan harga barang dan jasa) masih sekitar 3,1%, di atas target The Fed. Data perumahan ini menambah alasan The Fed untuk tetap hati-hati, sehingga suku bunga bisa bertahan lebih tinggi lebih lama.

Bagi trader, ini membuka peluang pada opsi call (kontrak yang memberi hak membeli aset pada harga tertentu sebelum tanggal tertentu) untuk ETF (exchange-traded fund, reksa dana yang diperdagangkan seperti saham) sektor pengembang rumah seperti XHB, yang sudah naik lebih dari 8% tahun ini. Sebelumnya, pola serupa terlihat pada awal 2025 dan diikuti kinerja kuat pada kuartal kedua. Pola ini mendukung peluang tren naik berlanjut di sektor perumahan.

Prospek Suku Bunga dan Obligasi

Peluang suku bunga tinggi lebih lama membuat instrumen pendapatan tetap (fixed income, seperti obligasi yang memberi kupon/bunga) kurang menarik. Imbal hasil (yield, tingkat keuntungan tahunan dari obligasi) Treasury AS tenor 10 tahun baru menyentuh 4,5% untuk pertama kalinya sejak musim gugur lalu, mencerminkan sentimen tersebut. Trader bisa mempertimbangkan opsi put (kontrak yang memberi hak menjual aset pada harga tertentu sebelum tanggal tertentu) pada ETF obligasi seperti TLT untuk memanfaatkan potensi yield naik lebih jauh.

Laporan ini juga berdampak pada komoditas, terutama kayu (lumber). Peningkatan aktivitas pembangunan berarti permintaan bahan baku naik. Kontrak berjangka kayu (lumber futures, perjanjian untuk membeli/menjual kayu pada harga tertentu di masa depan) pernah melonjak pada 2024 saat pembangunan rumah (housing starts, jumlah proyek rumah yang mulai dibangun) naik tak terduga, dan kondisi serupa bisa muncul lagi untuk posisi beli (long, strategi mendapat untung saat harga naik) pada kontrak berjangka kayu.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code