Back

Selama sesi Asia, EUR/JPY diperdagangkan di sekitar 186,60, tetap melemah karena gagalnya perundingan AS–Iran menekan minat terhadap euro

EUR/JPY masih tertekan di dekat 186,60 pada perdagangan Asia, Senin, setelah pelemahan sebelumnya membuatnya berada di sekitar 186,50. Euro melemah setelah perundingan AS–Iran di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan usai 21 jam negosiasi, dikonfirmasi oleh Wakil Presiden AS JD Vance.

Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington akan mulai memblokade semua kapal yang masuk atau keluar dari Selat Hormuz. Komando Pusat AS mengonfirmasi operasi yang menyasar lalu lintas pelayaran dari dan menuju pelabuhan Iran mulai pukul 10.00 ET (14.00 GMT) pada Senin.

Prospek Bank Sentral dan Arah Suku Bunga

Nordea sebelumnya memproyeksikan empat kenaikan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) masing-masing 25 basis poin (0,25 poin persentase) mulai Juni. Setelah itu, Nordea menilai ada risiko penurunan terhadap pandangan tersebut, meski tetap melihat tekanan harga masih berlanjut.

Pelemahan EUR/JPY bisa tertahan karena Yen tetap lemah akibat kekhawatiran stagflasi, yakni kondisi pertumbuhan ekonomi melemah namun inflasi tetap tinggi, yang terkait kenaikan harga minyak. Kenaikan biaya energi juga mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) dalam waktu dekat, menjelang keputusan 28 April.

Sakura Report menyebut para anggota dewan menimbang risiko inflasi yang lebih tinggi terhadap risiko pertumbuhan yang melemah setelah rapat manajer cabang pada 6 April. Seluruh sembilan wilayah menyatakan ekonomi mereka “pulih moderat”, “membaik”, atau “membaik moderat”.

Perdagangan dan Lindung Nilai Guncangan Energi

Dampak paling cepat akan terjadi pada harga energi, sehingga peluang paling jelas ada pada turunan minyak. Turunan (derivatif) adalah produk keuangan yang nilainya mengikuti aset acuan, misalnya minyak atau saham. Karena sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, blokade ini memicu kekhawatiran besar dari sisi pasokan. Karena itu, pelaku pasar dapat mempertimbangkan membeli opsi beli (call option), yaitu kontrak yang memberi hak (bukan kewajiban) untuk membeli pada harga tertentu, pada kontrak berjangka (futures) Brent, yakni patokan harga minyak global, untuk bersiap terhadap lonjakan tajam di atas US$100 per barel.

Untuk pasangan EUR/JPY, situasinya rumit karena kedua mata uang sama-sama menghadapi tekanan, sehingga taruhan satu arah berisiko. Euro melemah karena meningkatnya penghindaran risiko (risk aversion), sementara Yen tertekan karena Jepang merupakan pengimpor energi besar. Tekanan yang saling bertolak belakang ini membuat pergerakan sulit diprediksi, sehingga penggunaan opsi untuk memanfaatkan pergerakan dalam rentang lebar, bukan menebak arah tertentu, bisa lebih masuk akal.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

USD/CHF Bertahan di Dekat 0,7925, Terdongkrak Kebuntuan AS-Iran dan Kekhawatiran Inflasi, Memantul dari Level Terendah 0,7855 Baru-baru Ini

USD/CHF membuka pekan dengan menguat, memantul dari posisi terendah hampir tiga pekan di dekat 0,7855 yang dicapai pada Jumat. Pergerakan ini mengakhiri penurunan lima hari dan diperdagangkan di sekitar 0,7925, naik 0,50%, didukung penguatan dolar AS.

Minat terhadap aset berisiko melemah setelah pembicaraan AS-Iran gagal mencapai kesepakatan selama akhir pekan. Setelah hampir 21 jam diskusi, tidak ada terobosan, dan Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS akan memblokade kapal yang masuk atau keluar dari Selat Hormuz.

Reaksi Pasar dan Dampaknya bagi Bank Sentral

Peristiwa ini mendorong harga minyak mentah naik dan memicu kekhawatiran inflasi (kenaikan harga secara umum). Hal ini memperkuat pandangan bahwa bank sentral besar, termasuk Federal Reserve (bank sentral AS), bisa mengambil sikap kebijakan yang lebih agresif terhadap inflasi (hawkish), yaitu cenderung menaikkan suku bunga atau mempertahankannya tinggi.

Data inflasi AS yang tinggi pada Jumat menurunkan harapan pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini dan mengalihkan perhatian ke kemungkinan kenaikan suku bunga. Imbal hasil (yield) US Treasury (obligasi pemerintah AS) yang lebih tinggi juga menopang dolar AS.

The Wall Street Journal melaporkan negara-negara di kawasan menargetkan pembicaraan AS-Iran dimulai lagi dalam beberapa hari. Ini membatasi kenaikan lanjutan dolar AS, sementara USD/CHF bertahan di atas simple moving average 100 hari (rata-rata pergerakan sederhana 100 hari, indikator teknikal untuk melihat arah tren) dan tetap condong menguat.

Kita ingat, tahun lalu pada periode yang sama di 2025, lonjakan risiko geopolitik akibat gagalnya pembicaraan AS-Iran memicu perpindahan dana ke dolar AS. Permintaan aset aman (safe-haven, aset yang biasanya dicari saat ketidakpastian) ini, ditambah kekhawatiran The Fed akan menaikkan suku bunga karena inflasi tinggi, membuat USD/CHF memantul tajam dari titik rendahnya. Kondisi itu menguntungkan posisi beli dolar (bullish) dan posisi “long volatility” (bertaruh volatilitas/naik-turunnya harga akan meningkat).

Implikasi Trading untuk Opsi Usdchf

Situasi saat ini, pada April 2026, menunjukkan gambar yang sangat berbeda karena tambahan premi risiko geopolitik (geopolitical risk premium, yaitu “biaya” ekstra pada harga aset akibat risiko konflik) dari Selat Hormuz sebagian besar telah memudar. Data terbaru menunjukkan inflasi AS melambat, dengan CPI (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen, ukuran inflasi) Maret di 2,8%, sehingga melemahkan alasan bagi The Fed untuk bersikap hawkish. Ini sangat berbeda dari kekhawatiran inflasi tahun lalu yang mendorong yield US Treasury dan dolar AS naik.

Selain itu, muncul perbedaan arah kebijakan yang besar (policy divergence, yaitu kebijakan bank sentral bergerak berbeda) yang menguntungkan franc Swiss. Jika The Fed kini terlihat jeda (pausing, menahan perubahan suku bunga), Swiss National Bank (bank sentral Swiss) mengejutkan pasar dengan menaikkan suku bunga ke 1,75% bulan lalu untuk menekan tekanan harga domestik yang masih bertahan. Selisih suku bunga (interest rate differential, perbedaan tingkat bunga antarnegara) yang semakin berpihak pada franc ini mengindikasikan arah yang lebih mudah bagi USD/CHF kini bergeser turun.

Bagi trader derivatif (instrumen turunan seperti opsi), ini berarti implied volatility (perkiraan volatilitas yang “tercermin” dalam harga opsi) pada pasangan ini jauh lebih rendah dibanding saat ketegangan militer 2025, sehingga strategi opsi menjadi lebih murah. Pergeseran faktor fundamental ini menunjukkan pembelian opsi put USD/CHF (opsi untuk menjual, biasanya dipakai saat memperkirakan harga turun) untuk mengantisipasi pelemahan lanjutan merupakan pendekatan yang masuk akal. Ini dipandang sebagai cara memanfaatkan perbedaan kebijakan bank sentral.

Secara spesifik, melihat jatuh tempo (expiration, tanggal akhir opsi) Juni dan Juli memberi waktu agar tema perbedaan kebijakan ini berkembang. Moving average 100 hari, yang menjadi penopang kuat (support, area harga yang sering menahan penurunan) saat rebound 2025, kini tampak menjadi titik hambatan (resistance, area harga yang sering menahan kenaikan). Karena itu, membangun posisi bearish (mengantisipasi turun) melalui put spread (strategi opsi: beli put dan jual put lain untuk membatasi biaya dan potensi keuntungan) di bawah level teknikal kunci tersebut dapat menawarkan profil risiko-imbalan yang menarik dalam beberapa pekan ke depan.

PBOC Tetapkan Kurs Tengah USD/CNY di 6,8657, Naik dari 6,8654 Sebelumnya, di Atas Estimasi Reuters 6,8395

Bank Rakyat Tiongkok (People’s Bank of China/PBoC) menetapkan kurs acuan (central rate) USD/CNY untuk Senin di 6,8657. Angka ini dibandingkan 6,8654 pada Jumat dan perkiraan Reuters 6,8395.

Target utama kebijakan moneter PBoC adalah stabilitas harga, termasuk stabilitas nilai tukar, serta mendukung pertumbuhan ekonomi. PBoC juga menjalankan reformasi keuangan, termasuk membuka dan mengembangkan pasar keuangan Tiongkok.

Tata Kelola Dan Kemandirian PBoC

PBoC dimiliki negara Republik Rakyat Tiongkok dan bukan lembaga yang sepenuhnya mandiri. Sekretaris Komite Partai Komunis Tiongkok, yang dicalonkan Ketua Dewan Negara, punya pengaruh besar terhadap manajemen dan arah kebijakan. Pan Gongsheng memegang posisi itu sekaligus menjabat gubernur.

Bank sentral ini memakai sejumlah instrumen, seperti suku bunga reverse repo 7 hari (operasi bank sentral menyerap/menambah likuiditas dengan transaksi jual-beli surat berharga yang akan dibalik dalam 7 hari), Medium-term Lending Facility/MLF (fasilitas pinjaman jangka menengah dari bank sentral ke bank), intervensi valas (aksi jual/beli mata uang asing untuk mengarahkan nilai tukar), dan reserve requirement ratio/RRR (rasio wajib simpanan minimum bank di bank sentral). Suku bunga acuan Tiongkok adalah Loan Prime Rate/LPR (patokan bunga pinjaman bank) yang memengaruhi bunga kredit, KPR, dan tabungan, serta dapat berdampak pada nilai tukar renminbi/yuan (mata uang Tiongkok).

Tiongkok memiliki 19 bank swasta, namun porsinya kecil dalam sistem. Yang terbesar adalah WeBank dan MYbank. Pada 2014, Tiongkok mengizinkan pemberi pinjaman yang dibiayai penuh oleh modal swasta untuk beroperasi di sektor yang dipimpin negara.

PBoC memberi sinyal lebih mengutamakan stabilitas mata uang dengan menetapkan USD/CNY lebih kuat daripada perkiraan pasar. Langkah ini, meski sedikit melemah dari sesi sebelumnya, menunjukkan niat menahan yuan agar tidak terdepresiasi tajam. Bagi pelaku pasar, ini berarti PBoC aktif mengelola nilai tukar dan tidak menginginkan penurunan cepat.

Implikasi Pasar Dan Pendekatan Perdagangan

Sikap yang aktif mengintervensi ini penting di tengah data ekonomi terbaru. Pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) Tiongkok kuartal I 2026 tercatat 4,8%, sedikit di bawah target resmi 5%, sementara ekspor Maret turun tak terduga 2,5% secara tahunan (year-on-year/YoY, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya). Aksi PBoC menunjukkan stabilitas keuangan sedang lebih diprioritaskan dibanding melemahkan mata uang untuk mendorong ekspor.

Untuk posisi derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan kontrak berjangka), ini mengarah pada strategi “menjual volatilitas” (mengambil untung bila harga tidak banyak bergejolak) dalam beberapa pekan ke depan. Komitmen bank sentral menjaga stabilitas nilai tukar biasanya menekan pergerakan besar pasangan USD/CNY. Karena itu, strategi seperti short straddle pada opsi terkait yuan dapat dipertimbangkan. Short straddle adalah menjual opsi beli (call) dan opsi jual (put) pada harga dan jatuh tempo yang sama, yang diuntungkan bila harga bergerak dalam kisaran sempit, namun berisiko besar bila harga bergerak tajam.

Jika melihat depresiasi bertahap sepanjang 2025, kebijakan saat ini terasa lebih tegas. Saat itu, PBoC membiarkan pelemahan perlahan untuk membantu ekonomi, tetapi penetapan kurs hari ini menunjukkan toleransi yang lebih rendah terhadap pelemahan, kemungkinan karena kekhawatiran arus keluar modal (capital outflows, dana keluar dari Tiongkok) saat suku bunga AS tinggi. Ini perubahan dari pendekatan yang lebih longgar tahun lalu.

Pelaku pasar juga perlu memantau instrumen kebijakan lain. Meski ada dorongan pelonggaran moneter untuk mendukung pertumbuhan, pemangkasan besar LPR tampaknya kecil peluangnya dalam waktu dekat karena akan menambah tekanan pelemahan pada yuan. Pemangkasan RRR lebih mungkin, karena dapat menambah likuiditas (ketersediaan dana di sistem perbankan) tanpa langsung mengubah selisih suku bunga dengan dolar AS (interest rate differential, perbedaan tingkat bunga dua negara yang memengaruhi arus dana dan nilai tukar).

Dengan kondisi ini, strategi “range-bound” (mengincar pergerakan harga dalam rentang tertentu) paling relevan untuk jangka dekat. PBoC tampaknya menjaga level psikologis, kemungkinan mempertahankan USD/CNY di kisaran 6,85–6,95. Trader dapat mempertimbangkan struktur opsi seperti iron condor pada ETF mata uang. Iron condor adalah kombinasi menjual dan membeli opsi pada beberapa level harga untuk mengambil untung bila harga bergerak di dalam rentang, dengan risiko yang lebih terukur.

Setelah meredam kenaikan sebelumnya, Indeks Dolar AS tetap menguat, diperdagangkan di sekitar 99,00 pada sesi Asia Senin

Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kinerja dolar AS terhadap enam mata uang utama, tetap menguat meski sempat memangkas sebagian kenaikan. Indeks ini diperdagangkan di sekitar 99,00 pada perdagangan Asia, Senin.

Dolar AS naik karena permintaan aset safe haven (aset lindung nilai yang biasanya diburu saat pasar panik, seperti dolar AS dan emas) meningkat setelah perundingan damai AS–Iran berakhir tanpa kesepakatan. Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan perundingan di Islamabad berakhir tanpa hasil setelah 21 jam negosiasi.

Risiko Geopolitik Mendorong Permintaan Safe Haven

Presiden AS Donald Trump mengatakan AS akan mulai memblokade kapal yang masuk atau keluar dari Selat Hormuz. Komando Pusat AS (US Central Command, komando militer AS untuk kawasan Timur Tengah) menyebut operasi yang menargetkan lalu lintas kapal dari dan menuju pelabuhan Iran akan dimulai pukul 10.00 ET (14.00 GMT) pada Senin.

Dolar juga mendapat dukungan setelah data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI, ukuran inflasi dari biaya barang dan jasa yang dibayar konsumen) AS bulan Maret menguatkan sikap Federal Reserve yang cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (higher-for-longer). Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan CPI tahunan 3,3% pada Maret, naik dari 2,4% pada Februari, sesuai perkiraan.

CPI bulanan naik 0,9% setelah sebelumnya 0,3%. Core CPI (inflasi inti, tidak memasukkan harga makanan dan energi yang volatil) naik 0,2% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan.

Presiden The Fed San Francisco Mary Daly mengatakan The Fed akan mempertahankan suku bunga jika inflasi tetap tinggi. Ia menambahkan pemangkasan suku bunga bisa terjadi bila konflik Iran mereda cepat dan harga minyak turun.

Implikasi Pasar Terhadap Volatilitas Dolar

Dengan DXY bertahan di sekitar 99,00, dolar AS berpeluang tetap kuat. Gagalnya perundingan AS-Iran mendorong mode risk-off (investor mengurangi aset berisiko dan beralih ke aset aman), sehingga permintaan dolar meningkat. Ketegangan geopolitik menjadi fokus utama pasar.

Blokade Selat Hormuz hampir pasti memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan volatilitas pasar (pergerakan harga yang naik-turun tajam). Situasi serupa terjadi pada 2019 saat serangan di Teluk Oman membuat harga minyak Brent melonjak lebih dari 4% dalam sehari. Pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures/kontrak berjangka) dapat mempertimbangkan posisi yang diuntungkan dari kenaikan harga energi dan naiknya VIX (indeks ketakutan/ukuran volatilitas pasar saham AS). Secara historis, VIX sering melonjak di atas 30 saat konflik geopolitik besar.

Data inflasi AS yang tinggi juga memperkuat dolar karena membuat The Fed cenderung menahan suku bunga. Angka CPI 3,3% membuat peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat kecil. Ini sejalan dengan periode 2022–2023 ketika The Fed menaikkan suku bunga hingga di atas 5%. Kondisi ini memperkuat narasi higher-for-longer, sehingga pelaku pasar perlu mempertimbangkan risiko jika bertaruh pada kebijakan The Fed yang lebih dovish (lebih longgar/condong menurunkan suku bunga) di pasar futures suku bunga (kontrak berjangka yang mencerminkan ekspektasi suku bunga).

Dengan dua pendorong ini—risiko geopolitik dan kebijakan The Fed yang hawkish (lebih ketat/condong mempertahankan atau menaikkan suku bunga)—DXY berpotensi naik. Meski 99,00 level penting, angka ini masih jauh di bawah puncak di atas 114 pada akhir 2022 saat pengetatan The Fed mencapai titik tertinggi. Ini menunjukkan dolar masih punya ruang menguat terhadap mata uang seperti euro dan yen.

Lingkungan ini cenderung negatif bagi pasar negara berkembang, karena dolar yang kuat dan meningkatnya aversi risiko (kecenderungan menghindari aset berisiko) menekan arus dana. Potensi capital flight (keluarnya dana asing) dapat menekan mata uang dan indeks saham mereka. Opsi jual/put option (kontrak yang memberi hak menjual aset pada harga tertentu, biasanya dipakai untuk lindung nilai atau spekulasi saat harga turun) pada ETF pasar negara berkembang (Exchange-Traded Fund, reksa dana yang diperdagangkan seperti saham) dapat digunakan untuk lindung nilai atau spekulasi terhadap potensi penurunan.

AUD/USD Dibuka Melemah, Lalu Rebound 40 Pip dari Level Terendah Sesi Asia, Bertahan di Atas Support Kunci di Bawah 0,7000

AUD/USD dibuka dengan gap turun (harga pembukaan langsung lebih rendah dari penutupan sebelumnya), tetapi pelemahannya tidak berlanjut. Pasangan ini pulih sekitar 40 pip (satuan pergerakan kecil pada forex) dari titik terendah sesi Asia di bawah 0,7000. Harga sempat diperdagangkan dekat 0,7030, turun 0,50% hari ini, di tengah sentimen menghindari risiko (risk-off: investor cenderung menjual aset berisiko dan memilih aset aman).

Pembicaraan AS–Iran berakhir tanpa kesepakatan setelah hampir 21 jam, sehingga gencatan senjata dua pekan terancam. AS mengatakan Angkatan Laut akan mulai memblokade Selat Hormuz, yang biasanya mendukung Dolar AS (mata uang “aset aman”) dan menekan AUD/USD.

Latar Risiko dan Dukungan Dolar

Harga minyak melonjak, meningkatkan kekhawatiran inflasi (kenaikan harga umum), memperkuat ekspektasi The Fed akan lebih agresif menahan inflasi (hawkish: cenderung menaikkan suku bunga atau menahannya tinggi), dan mendorong imbal hasil (yield: tingkat “bunga” yang diminta investor) obligasi pemerintah AS (US Treasury) naik. Laporan bahwa negara-negara di kawasan ingin menghidupkan lagi pembicaraan AS–Iran dalam beberapa hari membatasi penguatan Dolar, sementara nada RBA yang lebih ketat (hawkish) menopang dolar Australia (Aussie).

Pasangan ini memantul dari dukungan di EMA 200 jam (Exponential Moving Average: rata-rata bergerak yang lebih menekankan harga terbaru) dan level Fibonacci retracement 38,2% (ukuran koreksi harga yang sering dipakai untuk memetakan area dukungan/resistensi) dari kenaikan sejak titik rendah akhir Maret. RSI naik dari area jenuh jual (oversold: tekanan jual berlebih) ke kisaran akhir 30-an, sementara MACD tetap negatif namun mendatar (indikator momentum: mengukur kekuatan arah pergerakan).

Kenaikan di atas retracement 23,6% di 0,7032 membuka peluang ke 0,7093. Dukungan ada di 0,6996 dan 0,6995, lalu 0,6964, 0,6934, 0,6891, dan 0,6835.

Paralel Saat Ini dan Harga yang Sudah Diperhitungkan Pasar

Per 13 April 2026, ketegangan baru di Laut Merah mendorong minyak Brent kembali di atas US$92 per barel dan memicu kekhawatiran inflasi. AUD/USD kini diperdagangkan jauh lebih rendah, dekat 0,6650, menunjukkan pasar sudah “memasukkan” risiko besar (pricing in: sudah tercermin dalam harga). Ini membuat eskalasi lanjutan makin berbahaya bagi dolar Australia.

Perbedaan utama saat ini adalah arah kebijakan bank sentral yang makin jelas. Dengan data inflasi AS (CPI: Indeks Harga Konsumen) masih bertahan di atas 3%, The Fed mempertahankan sikap “lebih tinggi lebih lama” (higher for longer: suku bunga tinggi dipertahankan lebih lama), menjaga yield US Treasury 10 tahun sekitar 4,5%. Sebaliknya, inflasi Australia melandai ke 2,8%, membuat RBA lebih netral dan mengurangi salah satu penopang Aussie.

Tekanan lain datang dari pelemahan harga bijih besi yang turun mendekati US$105 per ton di tengah kekhawatiran permintaan industri China. Ini membebani dolar Australia yang sensitif komoditas (commodity-linked: cenderung mengikuti siklus harga komoditas).

Dengan latar ini, trader dapat mempertimbangkan membeli opsi put AUD/USD (put option: kontrak yang memberi hak menjual pada harga tertentu) untuk lindung nilai terhadap penurunan lanjutan, terutama saat indeks volatilitas VIX (indikator ketakutan pasar) naik ke 18. Strategi ini membatasi risiko karena kerugian maksimal biasanya sebesar premi opsi, dan bisa untung bila pasangan menembus dukungan sekitar 0,6600. Level teknikal seperti dukungan Fibonacci 0,6964 dan 0,6934 mengisyaratkan jika dukungan saat ini jebol, penurunan bisa lebih cepat.

Bagi yang memperkirakan pergerakan besar tetapi tidak yakin arahnya karena potensi terobosan diplomatik mendadak, strategi long straddle bisa dipakai. Ini berarti membeli opsi call dan put (call option: kontrak yang memberi hak membeli) pada strike price (harga pelaksanaan) dan jatuh tempo yang sama. Posisi ini diuntungkan jika volatilitas melonjak, baik situasi memburuk maupun ada kejutan positif.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

NZD/USD Bertahan di Bawah 0,5800 Setelah Pembukaan Bearish, di Tengah Penguatan Dolar dan Gagalnya Perundingan AS-Iran

NZD/USD memulai pekan dengan pelemahan dan dibuka dengan *bearish gap* (selisih harga turun saat pembukaan pasar dibanding penutupan sebelumnya) setelah perundingan AS–Iran berakhir tanpa kesepakatan. Pasangan ini diperdagangkan di sekitar 0,5800 pada sesi Asia dan tetap di wilayah negatif.

Negosiasi berlangsung hampir 21 jam dan dimediasi Pakistan, namun AS dan Iran tidak mencapai kesepakatan. Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan AS sudah menyampaikan tawaran terakhir, tetapi Iran menolaknya.

Risiko Geopolitik dan Permintaan Dolar

Presiden AS Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS akan memulai blokade Selat Hormuz, sehingga gencatan senjata dua minggu berisiko gagal. Situasi ini mendukung Dolar AS dan menekan Dolar Selandia Baru.

Harga minyak mentah naik, menambah kekhawatiran soal inflasi (kenaikan harga umum) dan pasokan energi. Data AS yang dirilis Jumat menunjukkan inflasi pada Maret naik paling besar dalam hampir empat tahun, sehingga memperkuat perkiraan kebijakan bank sentral AS (Federal Reserve/Fed) akan lebih ketat (suku bunga lebih tinggi atau tetap tinggi untuk menahan inflasi).

The Wall Street Journal melaporkan negara-negara di kawasan berupaya memulai kembali perundingan dalam beberapa hari. Ini membatasi kenaikan lanjutan Dolar AS dan membantu NZD/USD pulih tipis dari level terendah hari itu.

Latar Makro dan Posisi Perdagangan

Dalam beberapa pekan ke depan, pola serupa terlihat muncul, dengan ketegangan baru di Timur Tengah mendorong tekanan pada harga minyak. Kontrak berjangka (*futures*, yaitu perjanjian jual-beli untuk tanggal mendatang) minyak WTI naik lebih dari 6% dalam sebulan terakhir dan diperdagangkan di atas US$91 per barel, memicu kembali kekhawatiran inflasi. Kondisi ini menjadi pendorong kuat bagi Dolar AS yang dianggap aset aman (*safe haven*, mata uang yang biasanya dicari saat pasar takut risiko).

Inflasi yang belum mereda tercermin pada data terbaru, dengan Indeks Harga Konsumen AS (Consumer Price Index/CPI, ukuran inflasi di tingkat konsumen) untuk Maret 2026 naik tahunan 3,4%, sehingga menekan Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Sebaliknya, indeks kepercayaan bisnis Selandia Baru turun tajam, menandakan Bank Sentral Selandia Baru (Reserve Bank of New Zealand/RBNZ) mungkin sulit menandingi sikap Fed yang lebih agresif (*hawkish*, cenderung mendukung suku bunga lebih tinggi). Perbedaan arah kebijakan ini menjadi sinyal negatif kuat untuk NZD/USD.

Bagi trader derivatif (instrumen turunan nilainya mengikuti aset utama), kondisi ini mendukung strategi yang diuntungkan saat NZD/USD turun dan volatilitas (tingkat naik-turun harga) meningkat. Membeli opsi jual (*put option*, hak untuk menjual pada harga tertentu) pada NZD/USD dengan *strike price* (harga pelaksanaan opsi) di sekitar 0,5750 dan 0,5700 dapat menjadi cara lebih aman untuk bersiap menghadapi penurunan lanjutan. Volatilitas tersirat (*implied volatility*, perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi) bisa naik, sehingga posisi yang diuntungkan saat volatilitas naik (*long volatility*) menjadi menarik.

Selama sesi Asia, perak mengakhiri reli lima hari, turun 2,5% ke sekitar US$73,80 seiring meredupnya harapan pemangkasan suku bunga

Perak (XAG/USD) mengakhiri kenaikan lima hari, turun lebih dari 2,5% ke sekitar US$73,80 per ons troy (satuan berat logam mulia) pada perdagangan Asia, Senin. Permintaan melemah karena biaya energi yang naik memicu kekhawatiran inflasi (kenaikan harga secara umum) dan meningkatkan kemungkinan penurunan suku bunga tertunda atau kebijakan moneter (pengaturan suku bunga dan likuiditas) lebih ketat oleh Federal Reserve (bank sentral AS) dan bank sentral lain.

West Texas Intermediate (WTI, patokan harga minyak AS) mengawali pekan dengan bullish gap (harga pembukaan melompat naik dibanding penutupan sebelumnya), naik sekitar 7,5% ke dekat US$97,10 per barel. Harga minyak naik di tengah meningkatnya kembali ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terkait Selat Hormuz (jalur pelayaran utama pengiriman minyak).

Guncangan Minyak Dan Kekhawatiran Inflasi

Presiden AS Donald Trump mengatakan AS akan mulai memblokade kapal yang masuk atau keluar Selat Hormuz setelah perundingan damai di Islamabad gagal. Komando Pusat AS menyatakan blokade lalu lintas laut (pergerakan kapal) dari dan menuju pelabuhan Iran akan dimulai pukul 10.00 ET (14.00 GMT) pada Senin.

Data inflasi AS juga memperkuat perkiraan suku bunga tinggi bertahan lebih lama. Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan CPI (Consumer Price Index/indeks harga konsumen, ukuran inflasi) tahunan sebesar 3,3% pada Maret, naik dari 2,4% pada Februari, dengan CPI bulanan 0,9% dibanding 0,3% sebelumnya.

Core CPI (inflasi inti, tidak memasukkan harga makanan dan energi yang bergejolak) naik 0,2% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan. Data dirilis pada Jumat.

Dengan Selat Hormuz praktis tertutup, volatilitas pasar (naik-turun harga) diperkirakan melonjak tajam di semua kelas aset (kelompok instrumen seperti saham, obligasi, komoditas, valuta asing). Pelaku pasar opsi (kontrak hak beli/jual pada harga tertentu) perlu bersiap menghadapi premi (biaya opsi) yang jauh lebih tinggi. Strategi menjual opsi bisa terlihat menarik, tetapi risiko arah pergerakan harga sangat besar. Pada Februari 2022, CBOE Volatility Index (VIX, indeks “pengukur ketakutan” pasar saham AS) lebih dari dua kali lipat hingga di atas 36 dalam dua pekan setelah guncangan geopolitik, dan pergerakan serupa bisa terulang.

Reaksi cepat pelaku pasar derivatif energi (produk turunan seperti kontrak berjangka dan opsi) biasanya memosisikan diri untuk harga lebih tinggi, karena blokade sebesar ini memicu krisis pasokan. Salah satu pendekatan adalah membeli call option (opsi beli) pada futures WTI (kontrak berjangka WTI) untuk menangkap potensi kenaikan sambil membatasi risiko. Pada 2022, harga WTI melonjak dari sekitar US$92 ke di atas US$123 per barel hanya dalam dua pekan, dan situasi ini bisa lebih parah.

Saham Logam Mulia Dan Transaksi Dolar

Kombinasi guncangan energi dan Federal Reserve yang hawkish (cenderung menaikkan suku bunga/lebih ketat) berdampak negatif bagi pasar saham, sehingga posisi bearish (bertaruh harga turun) menjadi relevan. Membeli put option (opsi jual) pada indeks S&P 500 atau Nasdaq 100 memberi cara langsung untuk mengambil keuntungan jika saham turun. Saat lonjakan minyak awal Maret 2022, S&P 500 turun lebih dari 5% ketika pasar menyesuaikan proyeksi ekonomi.

Turunnya perak menunjukkan pasar saat ini lebih fokus pada suku bunga tinggi dibanding risiko geopolitik, meski kondisi bisa cepat berubah. Permintaan safe haven (aset lindung nilai saat krisis) pada logam mulia sementara tertahan, sehingga put option jangka pendek pada perak terlihat masuk akal. Namun, perlu tetap fleksibel karena kepanikan yang lebih luas dapat membalikkan arah dan mendorong emas serta perak melonjak.

Data CPI yang kuat ditambah kenaikan harga minyak menekan The Fed, sehingga kenaikan suku bunga lanjutan menjadi kemungkinan nyata dan memperkuat narasi higher for longer (suku bunga tinggi bertahan lebih lama). Ini mendukung penguatan Dolar AS, yang kerap menjadi safe haven saat krisis global. Posisi long (bertaruh naik) pada U.S. Dollar Index (DXY, indeks kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) dapat dipertimbangkan, mengingat DXY pernah naik hampir 15% sepanjang siklus kenaikan suku bunga The Fed pada 2022.

Pertumbuhan jumlah uang beredar M2+CD Jepang meningkat, naik 2% secara tahunan dari 1,7% pada Maret

Pasokan uang Jepang M2+CD naik 2% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Maret. Angka ini meningkat dari 1,7% pada bulan sebelumnya.

Kenaikan pertumbuhan pasokan uang Maret ke 2% menjadi sinyal jelas likuiditas (ketersediaan uang di sistem keuangan untuk pinjaman dan transaksi) di ekonomi Jepang bertambah, lebih cepat dibanding 1,7% pada Februari. Ini menunjukkan kebijakan Bank of Japan (bank sentral Jepang) masih longgar, yang biasanya menekan nilai Yen Jepang. Karena itu, pelaku pasar bisa mempertimbangkan posisi yang diuntungkan jika yen melemah dalam beberapa pekan ke depan.

Likuiditas Naik dan Dampaknya ke Yen

Ini sejalan dengan data lain, karena Core CPI nasional (inflasi inti, yaitu indeks harga konsumen yang menghapus komponen yang bergejolak seperti makanan dan energi) Maret, yang dirilis pekan lalu, bertahan di 1,9%, masih di bawah target bank sentral yang dinilai berkelanjutan. Pernyataan Gubernur Ueda menegaskan sikap dovish (cenderung mendukung suku bunga rendah dan stimulus), menekankan perlunya bersabar sebelum perubahan kebijakan besar berikutnya. Dengan kondisi ini, kecil kemungkinan Bank of Japan akan segera memperketat kebijakan untuk menopang yen.

Untuk trader saham, tambahan likuiditas ini bisa menjadi pendorong bagi saham Jepang. Indeks Nikkei 225 sempat bereaksi gelisah terhadap spekulasi pengetatan sepanjang 2025, sehingga data ini dapat meredakan kekhawatiran pasar. Opsi call (kontrak yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli aset pada harga tertentu sebelum tanggal tertentu) pada indeks Nikkei 225 bisa menjadi strategi untuk memanfaatkan kondisi ini.

Perbedaan kebijakan ini makin terlihat dibanding Amerika Serikat, di mana data pertumbuhan pekerjaan pekan lalu masih menunjukkan ekonomi kuat. Ini memperkuat alasan mengambil posisi beli (long) pada pasangan mata uang seperti USD/JPY, karena selisih suku bunga (perbedaan tingkat bunga antara dua negara yang memengaruhi arus modal dan nilai tukar) kemungkinan melebar. Reli kuat pasangan ini pada periode 2022–2023 menjadi pengingat bagaimana strategi ini bisa berdampak besar.

Perbedaan Kebijakan dan Penempatan Posisi Transaksi

Di tengah kenaikan harga minyak dan ketegangan AS–Iran, emas stabil di dekat US$4.670, membatasi harapan pemangkasan suku bunga The Fed

Emas (XAU/USD) nyaris tidak berubah setelah dibuka dengan penurunan **gap** (harga pembukaan langsung lebih rendah dari penutupan sebelumnya tanpa transaksi di antaranya), bergerak mendatar di dekat US$4.670 per troy ounce pada perdagangan Asia, Senin. Logam mulia ini tetap tertekan karena harga energi yang lebih tinggi menaikkan risiko inflasi dan memangkas harapan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (bank sentral AS).

Minyak WTI dibuka dengan **bullish gap** (gap naik yang menunjukkan tekanan beli kuat), naik sekitar 8,5% dan diperdagangkan di dekat US$98,00 per barel. Kenaikan ini menyusul kembali memanasnya ketegangan antara AS dan Iran.

Blokade Selat Hormuz

Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington akan mulai memblokade kapal yang masuk atau keluar Selat Hormuz setelah pembicaraan damai AS-Iran di Islamabad gagal. Komando Pusat AS menyatakan pasukan akan memblokade lalu lintas laut yang masuk dan keluar pelabuhan Iran mulai pukul 10.00 ET (14.00 GMT) pada Senin.

Data CPI (Indeks Harga Konsumen, ukuran inflasi di tingkat konsumen) AS pada Jumat memperkuat pandangan suku bunga “lebih tinggi lebih lama” (suku bunga ditahan tinggi lebih lama). CPI tahunan naik ke 3,3% pada Maret dari 2,4% pada Februari, sementara CPI bulanan naik 0,9% setelah 0,3%.

**Core CPI** (inflasi inti, tidak memasukkan harga makanan dan energi yang bergejolak) naik 0,2% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan. Data ini dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS.

Pendorong Emas dan Posisi Pasar

Emas sering bergerak berlawanan arah dengan Dolar AS dan obligasi pemerintah AS (US Treasuries), serta bisa bergerak berlawanan dengan aset berisiko seperti saham. Suku bunga yang lebih rendah biasanya mendukung emas, sementara suku bunga yang lebih tinggi cenderung menekan.

Dengan eskalasi antara AS dan Iran, harga minyak melonjak, yang langsung mendorong inflasi. Ini memperkuat sikap The Fed “lebih tinggi lebih lama”, apalagi setelah laporan CPI yang tinggi menunjukkan inflasi tahunan 3,3%. **Fed funds futures** (kontrak berjangka yang mencerminkan perkiraan pasar atas suku bunga acuan The Fed) kini hanya mematok peluang 15% pemangkasan suku bunga sebelum kuartal IV, turun tajam dari bulan lalu.

Untuk emas, pasar ditarik dua kekuatan yang berlawanan sehingga memicu volatilitas besar (naik-turun harga yang tajam). Konflik di Selat Hormuz meningkatkan daya tarik emas sebagai **safe haven** (aset “tempat berlindung” saat ketidakpastian), tetapi lonjakan inflasi dan ekspektasi suku bunga menguatkan Dolar AS, yang menekan emas. Pada dinamika pasar 2024 dan 2025, dolar kuat dan suku bunga tinggi membatasi reli emas meski ketidakpastian global meningkat.

Ketidakpastian tinggi ini membuat pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan kontrak berjangka) lebih tepat fokus pada volatilitas, bukan arah harga tertentu. Strategi seperti **long straddle** (membeli opsi beli dan opsi jual pada harga dan jatuh tempo yang sama) atau **strangle** (mirip straddle tetapi dengan harga pelaksanaan berbeda) bisa diandalkan karena untung jika harga bergerak besar ke salah satu arah. **Cboe Gold Volatility Index (GVZ)** (indeks yang mengukur perkiraan volatilitas emas dari harga opsi) kemungkinan melonjak di atas 20% pada awal perdagangan, mencerminkan ekspektasi pasar akan pergerakan tajam dalam beberapa pekan.

Wajib memantau perilaku Dolar AS karena ini faktor besar bagi emas. Krisis saat ini memicu **flight to safety** (perpindahan dana ke aset yang dianggap aman) ke dolar, dengan **Dollar Index (DXY)** (indeks kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) sudah menguji area hambatan penting pagi ini. Jika DXY menembus dan bertahan di atas 106,50—level yang belum terlihat sejak November lalu—itu menjadi tekanan kuat yang bisa mengalahkan dukungan safe haven untuk emas.

Meningkatnya minat terhadap aset safe haven Dolar AS mendorong USD/CAD lebih tinggi, memperdalam pelemahan Dolar Kanada

Dolar Kanada turun dari level tertinggi dua pekan di 1,3844 terhadap Dolar AS pada awal perdagangan Senin. USD/CAD naik karena permintaan terhadap Dolar AS meningkat sebagai aset aman (mata uang yang biasanya diburu saat pasar takut risiko).

Pergerakan ini terjadi setelah perang AS-Iran kembali memanas setelah perundingan damai gagal pada akhir pekan. Kesepakatan gencatan senjata (penghentian tembak-menembak) disebut berada dalam risiko.

Risiko Geopolitik Mengangkat Dolar AS

Presiden AS Donald Trump mengatakan akan memberlakukan blokade di Selat Hormuz (jalur pelayaran penting untuk pengiriman minyak). Ia juga mempertimbangkan melanjutkan serangan militer terbatas di Iran.

Kenaikan USD/CAD dibatasi karena harga minyak melonjak tajam di tengah eskalasi di Timur Tengah. Harga minyak yang lebih tinggi dapat mendukung Dolar Kanada karena Kanada mengekspor energi.

West Texas Intermediate (WTI, patokan harga minyak AS) membuka pekan dengan bullish gap (pembukaan harga lebih tinggi dari penutupan sebelumnya, tanpa transaksi di tengahnya) dan naik hingga 8% pada awal perdagangan. WTI berpeluang menguji kembali level US$100 per barel pada saat penulisan.

Strategi Opsi Saat Volatilitas Meningkat

Per 13 April 2026, terlihat dinamika serupa dengan munculnya kekhawatiran baru pada rantai pasok (jalur produksi dan pengiriman barang). Laporan terbaru menunjukkan inflasi Kanada masih “lengket” di 2,9% (sulit turun cepat), sehingga Bank of Canada (bank sentral Kanada) cenderung menahan diri untuk memangkas suku bunga, sementara WTI sudah naik ke US$92 per barel. Ini terjadi saat US Dollar Index/DXY (indeks kekuatan Dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama) bertahan di sekitar 105,50 karena pasar menghindari risiko.

Kondisi ini menunjukkan implied volatility (perkiraan volatilitas yang tersirat dari harga opsi) pada opsi USD/CAD masih terlalu murah dibanding risiko geopolitik. Mengingat pergerakan cepat yang bisa terjadi, pelaku pasar dapat mempertimbangkan membeli straddle atau strangle (strategi opsi yang mencari untung dari pergerakan harga besar ke arah mana pun) untuk memanfaatkan ayunan harga signifikan, terlepas dari apakah pendorong utama berasal dari harga minyak atau arus aset aman. Strategi ini berfokus pada ketidakpastian.

Sebagai alternatif, bagi yang menilai harga minyak masih berpeluang naik, call option (opsi beli) pada futures minyak (kontrak berjangka) bisa menjadi cara yang lebih langsung daripada mengambil posisi jual pada pasangan USD/CAD. Saat krisis energi 2022, harga minyak dapat naik lebih cepat dan lebih besar dibanding penguatan Dolar Kanada. Karena itu, derivatif minyak (instrumen turunan seperti opsi dan futures) bisa lebih “murni” untuk mencerminkan pandangan terhadap ketegangan geopolitik.

Risiko utama tetap pada de-eskalasi mendadak (ketegangan mereda), yang dapat menekan volatilitas dan merugikan pihak yang memegang opsi beli/opsi jual (posisi “long options”, yaitu membeli opsi). Karena itu, pengaturan ukuran posisi (besar kecilnya jumlah transaksi) dan target ambil untung yang jelas menjadi semakin penting.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code