Back

Defisit perdagangan tahunan Selandia Baru melebar menjadi NZD 3,1 miliar pada Maret, dari sebelumnya NZD 3 miliar

Neraca perdagangan Selandia Baru (year-on-year/tahunan) mencatat defisit NZD 3,1 miliar pada Maret.

Angka ini dibandingkan dengan defisit NZD 3,0 miliar pada periode sebelumnya, menunjukkan defisit melebar NZD 0,1 miliar.

Defisit Perdagangan dan Prospek NZD

Pelebaran defisit perdagangan menjadi -NZD 3,1 miliar pada Maret memberi tekanan lebih besar pada dolar Selandia Baru (NZD). Ini menunjukkan biaya impor lebih cepat naik dibanding pendapatan ekspor, sehingga negatif untuk mata uang. Kami menilai ini bisa memicu penurunan baru NZD terhadap mata uang utama mitra dagangnya.

Data ini kemungkinan membuat Reserve Bank of New Zealand (RBNZ/bank sentral Selandia Baru) tetap berhati-hati. Dengan Official Cash Rate (OCR/suku bunga acuan) bertahan di 5,5% sejak pertengahan 2024 untuk menahan inflasi, melemahnya kondisi eksternal membuat kenaikan suku bunga lanjutan kecil kemungkinannya. Kondisi ini mendukung posisi jual NZD (NZD shorts/bertaruh NZD melemah), karena selisih suku bunga (interest rate differentials/perbedaan tingkat suku bunga antarnegara) bisa menjadi kurang menguntungkan dibanding negara lain.

Pandangan ini diperkuat tren global, terutama perlambatan di China, ketika pertumbuhan PDB (GDP/produk domestik bruto) kuartal I 2026 hanya 4,6%, lebih lemah dari perkiraan. Lonjakan ekspor singkat pada akhir 2025 sudah memudar, sementara harga komoditas utama seperti whole milk powder (susu bubuk full cream/komoditas susu utama ekspor) turun lebih dari 5% sejak Februari. Pelemahan eksternal ini langsung menekan terms of trade (rasio harga ekspor terhadap harga impor/kemampuan ekspor membiayai impor) Selandia Baru.

Dengan prospek tersebut, kami menilai pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan kontrak berjangka) dapat mempertimbangkan membeli opsi jual (put option/kontrak yang memberi hak menjual di harga tertentu) NZD/USD dengan jatuh tempo empat hingga enam minggu ke depan. Strategi ini memberi risiko yang jelas/terbatas untuk mengambil peluang jika harga turun menembus level support (batas penopang harga yang sering menahan penurunan). Ketidakpastian yang meningkat juga membuat strategi menjual call spread out-of-the-money (menjual kombinasi opsi beli di harga di atas harga pasar saat ini untuk mendapat premi) menarik untuk memperoleh pendapatan sambil tetap berpandangan bearish (bias turun).

Strategi Volatilitas dan Risiko Peristiwa

Kami juga memperkirakan implied volatility (volatilitas tersirat/perkiraan gejolak harga yang tercermin dari harga opsi) pada pasangan NZD berpotensi naik menjelang rilis data inflasi dan rapat RBNZ berikutnya. Ini membuka peluang strategi long volatility (bertaruh volatilitas naik), seperti membeli straddle (membeli opsi beli dan opsi jual di harga dan jatuh tempo yang sama). Posisi ini diuntungkan jika terjadi pergerakan harga besar ke salah satu arah, sekaligus menjadi lindung nilai (hedging/perlindungan) bila pasar bereaksi tak terduga terhadap arus berita ekonomi.

Neraca Perdagangan Bulanan Selandia Baru Membaik Menjadi NZ$698 Juta, Berbalik dari Defisit NZ$257 Juta Sebelumnya

Neraca perdagangan bulanan Selandia Baru naik menjadi NZD 698 juta pada Maret. Pada bulan sebelumnya, angkanya NZD -257 juta.

Ini menandai perubahan dari defisit perdagangan (nilai impor lebih besar dari ekspor) menjadi surplus perdagangan (nilai ekspor lebih besar dari impor) dalam satu bulan. Perubahan antara kedua bulan tersebut sebesar NZD 955 juta.

Neraca Perdagangan Menunjukkan Pembalikan Tajam

Neraca perdagangan Selandia Baru berbalik kuat, mencatat surplus NZD 698 juta pada Maret. Ini merupakan pembalikan besar dari defisit Februari dan menunjukkan permintaan untuk ekspor negara tersebut meningkat tajam. Dari sisi fundamental (kondisi ekonomi yang mendasari nilai mata uang), ini membuat dolar Selandia Baru terlihat lebih menarik.

Data ini makin positif jika mengingat defisit perdagangan yang terjadi cukup sering sepanjang 2025. Saat itu, permintaan global yang melemah untuk produk pertanian menekan nilai tukar. Surplus terbaru ini menunjukkan tekanan dari luar negeri yang terjadi tahun lalu mulai mereda.

Rinciannya juga mendukung pandangan ini. Hasil lelang Global Dairy Trade (GDT)—lelang acuan harga produk susu global—terbaru dari Fonterra menunjukkan harga whole milk powder (WMP, bubuk susu full cream yang menjadi komoditas ekspor utama) naik 4,2%, yang langsung meningkatkan penerimaan ekspor. Ini bukan kejadian sesaat, melainkan bagian dari tren penguatan harga komoditas sejak awal tahun.

Implikasi untuk Suku Bunga dan Strategi Pasar

Posisi eksternal yang kuat ini kemungkinan mendorong Reserve Bank of New Zealand (bank sentral Selandia Baru) menjadi lebih hawkish, yaitu cenderung mendukung kenaikan suku bunga untuk menahan inflasi. Perubahan ini sudah terlihat pada harga pasar, dengan data interest rate swaps (swap suku bunga, instrumen derivatif untuk menukar arus bunga tetap dan mengambang sebagai cerminan ekspektasi suku bunga) yang mengindikasikan peluang 65% kenaikan suku bunga pada pertemuan Agustus. Ini perubahan besar dibanding sebulan lalu, ketika pasar hampir tidak memperhitungkan pengetatan kebijakan pada 2026.

Karena itu, strategi yang mengantisipasi penguatan NZD dalam beberapa pekan ke depan menjadi relevan. Salah satunya membeli opsi call NZD/USD (kontrak yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli NZD terhadap USD pada harga tertentu) untuk menangkap potensi kenaikan. Kombinasi neraca perdagangan yang kuat dan ekspektasi suku bunga yang naik dapat menjadi penopang bagi NZD.

Impor Selandia Baru Naik Menjadi US$7,25 Miliar pada Maret dari Sebelumnya US$6,89 Miliar

Impor Selandia Baru mencapai US$7,25 miliar pada Maret, naik dari US$6,89 miliar. Ini berarti kenaikan US$0,36 miliar.

Angka impor Maret sebesar US$7,25 miliar lebih tinggi dari perkiraan, menandakan permintaan dalam negeri Selandia Baru ternyata tetap kuat. Kondisi ekonomi yang “panas” ini menambah tekanan pada Reserve Bank of New Zealand (RBNZ/bank sentral Selandia Baru) untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat (kebijakan suku bunga tinggi untuk menahan inflasi). Reaksi pasar jangka pendek bisa membebani dolar Selandia Baru (NZD), karena importir menjual NZD untuk membeli mata uang asing guna membayar barang impor.

Prospek Kebijakan RBNZ

Data ini memperkuat alasan bagi RBNZ untuk menahan Official Cash Rate (OCR/suku bunga acuan) tetap pada level tinggi saat ini hingga pertengahan tahun. Pelaku pasar yang memakai interest rate swaps (swap suku bunga/kontrak untuk menukar arus pembayaran bunga, sering dipakai untuk lindung nilai atau spekulasi arah suku bunga) perlu berhati-hati memasang proyeksi penurunan suku bunga dalam waktu dekat, karena angka ini mendukung narasi “tinggi lebih lama”. Situasi ini mengingatkan pada pertengahan 2025, ketika data domestik yang kuat berulang kali membuat pasar menunda ekspektasi perubahan arah kebijakan (pivot/beralih dari mengetatkan ke melonggarkan) RBNZ.

Tekanan yang saling bertentangan pada mata uang mengindikasikan volatilitas (naik-turun harga) pada pasangan NZD kemungkinan meningkat dalam beberapa pekan ke depan. Statistik terbaru menunjukkan one-month implied volatility (volatilitas tersirat 1 bulan/ukuran perkiraan gejolak harga yang tercermin dari harga opsi) untuk NZD/USD sudah naik ke 11,2%, tertinggi pada kuartal ini, karena pelaku pasar memperkirakan perbedaan arah kebijakan bank sentral (divergence/perbedaan kebijakan suku bunga antarnegara). Kondisi ini membuat strategi membeli opsi seperti straddle atau strangle (strategi membeli opsi beli dan opsi jual untuk mengejar keuntungan dari pergerakan harga besar, tanpa harus menebak arah) menjadi lebih menarik untuk memanfaatkan potensi lonjakan pergerakan harga.

Kuatnya permintaan Selandia Baru ini berbeda dengan data Australia yang mulai sedikit melemah, sehingga posisi short AUD/NZD (short/posisi jual: bertaruh dolar Australia melemah terhadap NZD) bisa terlihat lebih menarik. Defisit perdagangan Selandia Baru kini berpotensi melebar pada kuartal I 2026, terutama karena kontrak berjangka (futures/kontrak jual-beli untuk pengiriman di masa depan) whole milk powder/susu bubuk full cream turun 3,5% sejak Februari. Perbedaan kondisi ekonomi seperti ini secara historis cenderung mendukung NZD yang lebih kuat dibanding AUD, seperti yang terlihat pada akhir 2024.

Volatilitas Pasangan NZD

Ekspor Selandia Baru Naik ke US$7,94 Miliar dari US$6,63 Miliar, Menandai Pertumbuhan pada Maret Dibandingkan Bulan Sebelumnya

Ekspor Selandia Baru naik pada Maret dari US$6,63 miliar menjadi US$7,94 miliar.

Ini berarti kenaikan US$1,31 miliar dibandingkan angka sebelumnya.

Implikasi untuk Dolar Selandia Baru

Kami melihat lonjakan ekspor Maret ini sebagai sinyal penguatan dolar Selandia Baru. Kenaikan ekspor berarti lebih banyak mata uang asing ditukar menjadi dolar kiwi untuk membayar barang Selandia Baru. Dalam beberapa pekan ke depan, NZD/USD berpeluang menguji level yang lebih tinggi, bahkan menembus “resistance” (level harga yang sering menahan kenaikan) yang terlihat awal bulan ini.

Data ini membuat Reserve Bank of New Zealand (RBNZ/bank sentral Selandia Baru) punya lebih sedikit alasan untuk mempertimbangkan pemangkasan suku bunga. Dengan inflasi masih di sekitar 3,1% (di atas kisaran target), kekuatan ekonomi ini kemungkinan memperkuat sikap “hawkish” (cenderung mempertahankan atau menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi) pada rapat berikutnya. Karena itu, pelaku pasar bisa menurunkan perkiraan peluang pemangkasan suku bunga tahun ini yang tercermin pada “short-term interest rate futures” (kontrak berjangka suku bunga jangka pendek, yaitu instrumen untuk bertaruh/berlindung nilai atas arah suku bunga acuan).

Bagi desk opsi valas, ini berarti mempertimbangkan pembelian call option NZD/USD (opsi beli, yaitu hak—bukan kewajiban—untuk membeli pada harga tertentu) dengan jatuh tempo Mei dan Juni. Mengacu pada respons mata uang saat harga susu (dairy) melonjak pada 2025, momentum naik yang serupa bisa terbentuk cepat. Strategi sederhana: menargetkan strike price (harga pelaksanaan) di sekitar 0,6450, yang kini terlihat lebih realistis.

Kekuatan ini juga bisa mendukung pasar saham domestik, terutama emiten berorientasi ekspor. NZX 50 (indeks saham utama Selandia Baru) yang bergerak terbatas di sekitar 12.500 berpeluang “breakout” (keluar dari pola pergerakan sempit) dipimpin sektor primer dan manufaktur. Pertimbangkan call option pada indeks NZX 50 atau pada eksportir besar yang diuntungkan tren ini.

Penting juga memantau cross-rate, khususnya NZD/AUD (nilai tukar NZD terhadap dolar Australia). Surplus dagang Australia (selisih ekspor lebih besar dari impor) menyempit akibat pelemahan harga komoditas, sehingga kontras dengan penguatan Selandia Baru. Ini mengisyaratkan posisi long NZD/AUD (bertaruh NZD menguat terhadap AUD), lewat pasar spot (transaksi tunai dengan penyelesaian cepat) atau kontrak futures (kontrak berjangka), dapat menjadi “pair trade” (strategi membeli satu mata uang dan menjual mata uang lain) yang menarik dalam satu bulan ke depan.

Permintaan Lindung Nilai dari Importir

Terakhir, permintaan produk “hedging” (lindung nilai, yaitu cara mengurangi risiko pergerakan kurs) dari importir berpotensi meningkat. Perusahaan yang memasukkan barang ke Selandia Baru akan menghadapi biaya lebih tinggi jika dolar kiwi terus menguat. Karena itu, minat pada NZD put option (opsi jual untuk melindungi dari penguatan NZD/penurunan pasangan kurs) bisa naik saat perusahaan berupaya menjaga margin dari apresiasi mata uang lebih lanjut.

Meningkatnya ketegangan AS-Iran menekan Dolar Australia, AUD/USD di sekitar 0,7140 jelang data penjualan ritel AS

AUD/USD melemah ke sekitar 0,7140 pada awal perdagangan Asia, Senin. Dolar Australia turun terhadap Dolar AS di tengah meningkatnya ketegangan AS–Iran. Perhatian pasar kini tertuju pada laporan Penjualan Ritel AS (Retail Sales, data belanja konsumen di toko dan online) untuk Maret yang dirilis Selasa.

TV pemerintah Iran mengatakan pada Minggu bahwa Teheran menolak pembicaraan damai baru dengan AS setelah unggahan Presiden AS Donald Trump di Truth Social. Unggahan itu menyebut perwakilan AS akan pergi ke Pakistan untuk putaran negosiasi berikutnya pada Senin.

Iran memblokir Selat Hormuz sejak serangan AS dan Israel pada 28 Februari. Iran pada Jumat mengatakan akan membuka kembali jalur tersebut, tetapi membatalkan keputusan itu pada Sabtu setelah Trump menolak mencabut blokade AS atas pelabuhan-pelabuhan Iran.

Permintaan Dolar sebagai Aset Aman

Gagalnya dialog dan risiko geopolitik (risiko dari konflik antarnegara yang bisa mengganggu ekonomi dan pasar) mendorong permintaan Dolar AS sebagai aset aman, yaitu mata uang yang biasanya diburu saat pasar panik. Ini menekan pasangan mata uang (kurs dua mata uang) dalam waktu dekat.

Dukungan bagi Dolar Australia datang dari ekspektasi terhadap Reserve Bank of Australia (RBA/bank sentral Australia). Pasar menilai peluang kenaikan suku bunga ketiga berturut-turut ke 4,35% pada rapat 5 Mei sekitar 70–72%. Perkiraan ini terkait inflasi yang sulit turun (sticky inflation, inflasi yang bertahan tinggi) dan pasar tenaga kerja yang kuat (resilient labour market, pekerjaan dan upah masih solid).

Pergeseran Latar Belakang April 2026

Kondisi pada April 2026 berbeda, karena tekanan geopolitik utama mereda setelah kesepakatan penurunan ketegangan Hormuz (de-escalation accord, perjanjian untuk mengurangi konflik) yang ditandatangani akhir tahun lalu. Data pelayaran terbaru menunjukkan premi asuransi (biaya tambahan untuk menanggung risiko) untuk melintasi selat itu turun hampir 35% dibanding puncak 2025. Ini mengurangi salah satu faktor yang sebelumnya menguatkan Dolar AS dan menekan Dolar Australia.

Namun, kondisi domestik Australia juga berubah. Berbeda dari sikap ketat tahun lalu (hawkish, cenderung menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi), RBA kini menahan suku bunga lebih lama (prolonged pause, jeda pengetatan). Ini terjadi setelah laporan CPI (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen, ukuran inflasi) kuartal I 2026 menunjukkan inflasi turun ke 3,1%, jauh di bawah 4,5% pada awal 2025. Ini membatasi potensi penguatan AUD, karena ekspektasi kenaikan suku bunga sudah “dipricing in” (sudah sepenuhnya tercermin di harga pasar) menjadi nol untuk sisa tahun ini.

Dengan ekonomi AS masih kuat, terlihat dari tambahan 215.000 pekerjaan pada Maret 2026, Dolar AS tetap memiliki dukungan. Ini membuat AUD/USD cenderung bergerak dalam rentang (range, naik-turun di kisaran tertentu). Trader dapat mempertimbangkan strategi opsi seperti menjual strangle (menjual opsi beli/call dan opsi jual/put pada harga kesepakatan berbeda) untuk mengantongi premi (premium, uang yang diterima penjual opsi), dengan asumsi pasangan ini tidak menembus kisaran besar dalam beberapa minggu ke depan.

Optimisme atas Hormuz mendongkrak S&P 500; klaim uranium Iran kemudian mereda, memicu “jawboning” bullish jelang akhir pekan

Saham AS naik setelah muncul laporan bahwa Selat Hormuz akan tetap terbuka dan klaim bahwa Iran akan menyerahkan uranium yang sudah diperkaya (uranium dengan kadar U-235 lebih tinggi dari normal, dipakai untuk energi nuklir dan berpotensi untuk senjata). Namun, laporan tersebut kemudian “dilunakkan” setelah penutupan perdagangan, sehingga kepastian soal apa yang benar-benar disepakati atau diumumkan menjadi berkurang.

Teks ini mempertanyakan siapa yang sebenarnya mengendalikan pelayaran di Hormuz dan apakah para pemimpin politik memakai pernyataan yang bisa menggerakkan pasar untuk membentuk narasi. Teks juga menyinggung kemungkinan tuduhan “tidak patuh” dilontarkan walau belum ada komitmen yang jelas.

Weekend Messaging And Market Fragility

Teks mempertanyakan apakah pesan-pesan itu terkait upaya gencatan senjata di Lebanon (kesepakatan penghentian tembak-menembak), sambil menekankan ketidakpastian kondisi di lapangan. Ini membuat akhir pekan rentan terhadap kejutan negatif yang terkait geopolitik dan perubahan pesan komunikasi.

Teks menambahkan bahwa selama perang, dolar AS tidak naik sekuat periode “aset aman” (safe haven: aset yang biasanya diburu saat krisis) pada masa lalu. Dolar juga melemah ketika saham memantul, mengisyaratkan pola perilaku risiko yang berbeda.

Teks berargumen tidak ada “crash” (kejatuhan pasar besar dan cepat), tetapi saham sudah bergerak terlalu jauh dan terlalu cepat. Teks memperkirakan periode pelemahan bertahap karena kenaikan harga “dicerna” pasar, dengan laba perusahaan (earnings) sebagai penggerak jangka menengah.

Kita melihat judul-judul optimistis soal Selat Hormuz dan Iran yang terasa kurang kuat, terutama setelah reli pasar yang kencang tahun ini. Dengan S&P 500 (indeks 500 saham besar AS) naik lebih dari 8% sejak Januari hingga mendekati level 6.100, pasar terasa sudah melaju terlalu jauh, terlalu cepat. Ini membuat pasar rentan koreksi (pullback: penurunan sementara) ketika narasi tersebut diuji dalam beberapa hari ke depan.

Volatility Hedging And Dollar Signals

Akhir pekan membawa risiko geopolitik yang besar dan tampaknya belum dihargai memadai oleh pasar. CBOE Volatility Index (VIX) (indeks volatilitas: ukuran “tingkat ketakutan” pasar berdasarkan harga opsi) bertahan dekat level rendah 14, yang terasa terlalu percaya diri, mengingat kontrak berjangka (futures: kontrak jual-beli untuk tanggal mendatang) minyak Brent naik 5% dalam sepekan terakhir akibat kekhawatiran jalur pelayaran. Kesenjangan ini menunjukkan membeli volatilitas yang relatif murah lewat opsi (options: kontrak hak beli/jual, bukan kewajiban) bisa menjadi langkah yang masuk akal.

Kita juga perlu mencermati bahwa dolar AS tidak bergerak seperti biasanya sebagai aset aman dalam gejolak terbaru. Dollar Index (DXY) (indeks nilai dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) justru melemah sekitar 2% dalam sebulan terakhir, tidak menguat meski ketegangan meningkat. Perilaku yang tidak biasa ini berarti kita tidak bisa mengandalkan dolar yang kuat sebagai sinyal bahwa penurunan pasar besar segera terjadi.

Dengan kondisi ini, ada baiknya mempertimbangkan perlindungan terhadap penurunan (downside protection: strategi untuk membatasi kerugian saat harga turun) untuk beberapa minggu ke depan. Membeli opsi jual (put: opsi yang nilainya naik saat harga aset turun) S&P 500 (SPY) dengan jatuh tempo Mei atau membangun put debit spread bearish (strategi opsi: beli put dan jual put lain untuk menekan biaya, dengan risiko terbatas) memberi cara berisiko terukur untuk mendapat untung jika pasar turun bertahap (“stair-step”). Ini untuk melindungi keuntungan terbaru atau mengambil posisi taktis jangka pendek melawan optimisme yang berlebihan.

Trump: Delegasi AS Akan ke Islamabad untuk Negosiasi Iran, Sebut Bisa Menghancurkan Iran

Presiden AS Donald Trump mengatakan di Truth Social bahwa perwakilan AS akan pergi ke Islamabad, Pakistan, untuk negosiasi dengan Iran pada Senin. Ia mengaitkan pembicaraan itu dengan ketegangan di Selat Hormuz.

Ia menulis bahwa Iran “menembak” di Selat Hormuz dan menyebutnya sebagai pelanggaran perjanjian gencatan senjata (kesepakatan menghentikan tembakan sementara). Ia mengatakan tembakan itu diarahkan ke kapal Prancis dan kapal kargo dari Inggris.

Klaim Selat Hormuz dan Taruhannya bagi Ekonomi

Trump mengatakan Iran mengumumkan penutupan Selat tersebut, sambil menyatakan bahwa “blokade” (pencegahan lewat jalur laut) oleh AS sudah menutupnya. Ia mengatakan penutupan jalur itu akan membuat Iran rugi “US$500 juta per hari”.

Ia mengatakan Amerika Serikat “tidak kehilangan apa pun” dan mengklaim banyak kapal menuju AS, termasuk Texas, Louisiana, dan Alaska, untuk memuat kargo. Ia menyebut IRGC (Korps Garda Revolusi Islam, pasukan elite Iran) dalam konteks ini.

Ia mengatakan AS menawarkan kesepakatan yang “sangat adil dan masuk akal”. Ia mengancam jika tidak ada kesepakatan, AS akan “melumpuhkan setiap pembangkit listrik dan setiap jembatan di Iran”.

Ia juga mengatakan pendekatan ini seharusnya dilakukan presiden-presiden AS lain selama “47 tahun terakhir”. Ia menutup dengan seruan untuk mengakhiri apa yang ia sebut sebagai “mesin pembunuh Iran”.

Prospek Gejolak Pasar dan Transaksi Kunci

Kami bersiap menghadapi lonjakan besar gejolak pasar, dengan indeks VIX kemungkinan melonjak jauh di atas 20 dalam beberapa hari ke depan. VIX (sering disebut “pengukur ketakutan” pasar, mengukur perkiraan naik-turunnya harga saham) mudah terdorong naik ketika ada sinyal negosiasi tingkat tinggi namun disertai ancaman militer, sehingga ketidakpastian meningkat. Situasi serupa, meski lebih ringan, terjadi pada April 2024 ketika ketegangan kawasan mendorong VIX melewati 19, dan kali ini dampaknya bisa lebih besar.

Langkah paling langsung adalah bertaruh harga minyak naik, khususnya lewat kontrak berjangka (futures: perjanjian jual-beli di harga tertentu untuk waktu mendatang) minyak Brent. Dengan Selat Hormuz—jalur lewat sekitar 21% konsumsi cairan minyak global—menjadi zona tembak-menembak, tambahan biaya risiko harus segera masuk ke harga. Kami menilai harga bisa cepat menguji level US$100 per barel yang sempat tersentuh singkat tahun lalu.

Cermati pelebaran selisih harga (spread: perbedaan harga) antara Brent dan WTI, karena minyak AS lebih terlindungi dari “titik sempit” (chokepoint: jalur sempit strategis yang bila terganggu menghambat arus perdagangan) ini. Komentar soal kapal yang mengalihkan rute ke Texas dan Louisiana menegaskan ekspor AS berpeluang diuntungkan, sehingga WTI tampak lebih menarik dibanding patokan internasional. Secara historis, selisih ini bisa melebar lebih dari US$10 saat krisis besar di Timur Tengah, dan kami melihat potensi terulang.

Kami agresif membeli opsi beli (call: hak untuk membeli aset pada harga tertentu sebelum jatuh tempo) pada emas sebagai lindung nilai utama terhadap eskalasi konflik. Ini langkah “lari ke aset aman” (flight to safety: memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih stabil), terlihat pada musim semi 2024 ketika kekhawatiran serupa mendorong emas mencetak rekor di atas US$2.400 per ons. Ancaman serangan langsung ke infrastruktur negara berdaulat dinilai lebih kuat mendorong emas dibanding pembelian bank sentral yang terlihat pada 2025.

Saham sektor pertahanan juga menjadi fokus, karena ancaman menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan mengisyaratkan penggunaan amunisi canggih. Kami memperkirakan kontraktor besar seperti Raytheon dan Lockheed Martin berpotensi diburu, bersama ETF (exchange-traded fund: reksa dana yang diperdagangkan seperti saham) di bidang kedirgantaraan dan pertahanan. Ini reaksi langsung dari pasar yang menaikkan perkiraan peluang aksi militer.

Namun, perlu siap menghadapi pembalikan tajam jika kesepakatan tercapai di Islamabad. Terobosan diplomatik bisa membuat harga minyak jatuh dan saham menguat, sehingga posisi yang bertaruh penurunan (bearish: ekspektasi harga turun) harus dikelola ketat. Hasil yang “dua kemungkinan” (binary) ini membuat strategi opsi seperti long straddle (membeli opsi beli dan opsi jual sekaligus pada aset yang sama untuk memanfaatkan pergerakan besar ke arah mana pun) pada ETF minyak menjadi menarik, karena bisa untung jika pergerakannya besar, baik naik maupun turun.

USD/CHF Tutup Pekan Melemah, Turun 0,87%, Susut 0,27% Seiring Meningkatnya Optimisme Kesepakatan AS-Iran

USD/CHF menutup pekan lebih rendah, turun 0,87% sepanjang pekan dan 0,27% pada hari ini. Pasangan ini menyentuh level terendah lima pekan di 0,7775.

Pasangan ini turun di bawah semua *simple moving average* (SMA, rata-rata pergerakan sederhana—rata-rata harga penutupan selama periode tertentu) utama, termasuk SMA 20, 50, 100, dan 200 hari. Harga ditutup di bawah SMA 50 hari di 0,7825, yang mengisyaratkan peluang pelemahan lanjutan.

Momentum Teknis Tetap Bearish

RSI (*Relative Strength Index*—indikator untuk mengukur kekuatan momentum beli/jual) berada di area bearish, menandakan tekanan jual berlanjut sejak 9 April. Perubahan itu terjadi saat RSI turun di bawah level netral 50.

Penurunan di bawah 0,7800 membuka jalan ke area *support* (zona penahan penurunan harga) di sekitar 0,7775/80, lalu terendah 10 Maret di 0,7748. Permintaan tambahan terlihat dekat 0,7700.

Jika USD/CHF naik, *resistance* (zona hambatan kenaikan harga) dimulai di SMA 50 hari. Di atasnya, level berikutnya adalah SMA 100 hari di 0,7871, SMA 20 hari di 0,7909, dan SMA 200 hari di 0,7937.

Kami melihat pola yang mirip pada USD/CHF, mengulang pergeseran bearish yang terjadi pada April 2025. Saat itu, pasangan ini menembus di bawah semua SMA kunci, yang menjadi sinyal penurunan besar. Riwayat ini membuat prospek beberapa pekan ke depan perlu dicermati.

Perbedaan Arah Kebijakan Makro Jadi Sorotan

Per 18 April 2026, pasangan ini kembali diperdagangkan sedikit di bawah SMA 50 hari, dengan RSI menunjukkan tekanan jual yang bertahan. Pelemahan teknis ini mirip dengan momentum yang mendorong harga menuju titik terendah pada periode yang sama tahun lalu. Struktur pergerakan menunjukkan penjual masih memegang kendali arah pasar.

Pandangan ini diperkuat oleh nada *hawkish* (lebih cenderung mengetatkan kebijakan, misalnya menaikkan suku bunga) dari Swiss National Bank, yang bertujuan menahan inflasi yang tercatat 2,2% (year-on-year/tahunan) pada Maret 2026. Sementara itu, laporan tenaga kerja AS terbaru pada awal April menunjukkan pertumbuhan upah sedikit melambat, sehingga Federal Reserve punya alasan lebih kecil untuk bersikap agresif. Perbedaan arah kebijakan bank sentral ini mendukung franc yang lebih kuat.

Trader perlu memantau level 0,7800 karena sebelumnya menjadi *support psikologis* (angka bulat yang sering jadi acuan pelaku pasar) pada penurunan 2025. Penembusan tegas di bawah level ini membuka peluang menguji target seperti 0,7775 dan kemudian 0,7748. Pasar terlihat membangun momentum menuju uji area penopang tersebut.

DBS Perkirakan Inflasi Singapura pada Maret 2026 Naik, Dipicu Kenaikan Biaya Energi Impor Akibat Konflik di Timur Tengah

DBS Group Research memperkirakan inflasi Singapura pada Maret 2026 naik menjadi 1,6% secara tahunan (year-on-year/yoy) untuk inflasi inti (core inflation, yakni inflasi yang tidak memasukkan komponen yang sangat bergejolak seperti transportasi pribadi dan akomodasi) dan 1,8% yoy untuk inflasi utama (headline inflation, yakni inflasi keseluruhan). Ini dibandingkan dengan 1,4% dan 1,2% pada Februari.

Laporan tersebut mengaitkan kenaikan itu dengan biaya energi impor setelah konflik Timur Tengah. Disebutkan adanya lonjakan harga minyak mentah global, produk minyak olahan (refined petroleum, seperti bensin dan diesel), serta gas.

Pendorong Inflasi dan Implikasi Jangka Pendek

Harga diperkirakan naik pada layanan transportasi point-to-point (misalnya taksi dan layanan ride-hailing), layanan perjalanan udara karena kenaikan tarif pesawat, serta transportasi pribadi. Tekanan harga pada listrik dan gas, serta pada pangan, disebut masih terkendali untuk saat ini.

Artikel ini menyebut diproduksi dengan bantuan alat kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI, yakni perangkat lunak yang membantu menyusun teks) dan ditinjau oleh editor.

Kami menilai angka inflasi Maret mengonfirmasi guncangan awal dari kenaikan harga energi yang dipicu konflik Timur Tengah. Dengan rata-rata minyak Brent (patokan harga minyak dunia) di atas US$98 per barel bulan lalu, naik tajam dari level Februari, tren naik ini sudah diperkirakan. Angka ini menjadi dasar (baseline, titik awal pembanding) untuk strategi ke depan saat kami menilai seberapa lama tekanan ini bertahan.

Dalam kondisi inflasi seperti ini, kami memperkirakan Otoritas Moneter Singapura (Monetary Authority of Singapore/MAS, bank sentral Singapura) dapat mengambil sikap lebih “hawkish” (lebih ketat, cenderung menahan inflasi lewat kebijakan yang mendorong suku bunga lebih tinggi) pada peninjauan kebijakan berikutnya. Ini membuat strategi antisipasi suku bunga jangka pendek yang lebih tinggi relevan. Trader dapat mencermati futures SORA (kontrak berjangka atas Singapore Overnight Rate Average, rata-rata suku bunga overnight), karena pasar kemungkinan mulai memasukkan skenario penguatan kemiringan (steeper appreciation) pita kebijakan S$NEER (Singapore Dollar Nominal Effective Exchange Rate, nilai tukar efektif dolar Singapura terhadap sekeranjang mata uang mitra dagang).

Penempatan Derivatif di Suku Bunga dan Valas

Ini membuka peluang pada derivatif mata uang (currency derivatives, instrumen turunan seperti opsi/kontrak yang nilainya mengikuti nilai tukar), karena dolar Singapura adalah alat utama kebijakan moneter. Bias pengetatan biasanya menguatkan SGD terhadap mata uang mitra dagang. Mengacu pada siklus pengetatan MAS pada 2022, SGD menguat signifikan, sehingga membeli opsi call (call option, hak untuk membeli pada harga tertentu) SGD terhadap USD dapat memberi profil imbal hasil-risiko yang menarik.

Sumber utama inflasi ini tetap pasar energi, dengan ketidakpastian yang tinggi. Selama ketegangan geopolitik berlanjut, risiko gangguan pasokan tetap besar, yang berarti harga berpotensi bergejolak (volatility, naik-turun tajam). Kami menilai membeli opsi call pada futures Brent (kontrak berjangka minyak Brent) untuk beberapa bulan ke depan adalah cara terukur untuk mendapat potensi kenaikan harga, sambil membatasi risiko penurunan.

Di pasar saham, kondisi ini dapat membuat kinerja sektor beragam. Biaya bahan bakar yang lebih tinggi dan potensi kenaikan suku bunga dapat menekan saham transportasi seperti Singapore Airlines dan sektor yang sensitif terhadap suku bunga seperti REITs (Real Estate Investment Trusts, dana/Perusahaan investasi properti yang membagikan sebagian besar laba sebagai dividen). Karena itu, kami mempertimbangkan membeli opsi put (put option, hak untuk menjual pada harga tertentu) pada sektor-sektor tersebut, sambil melihat peluang posisi beli (long, mendapat untung jika harga naik) pada perusahaan energi lokal yang bisa diuntungkan.

Ketidakpastian pasar secara keseluruhan meningkat, sehingga volatilitas bisa diperdagangkan sebagai “aset”. Lingkungan saat ini mendukung strategi yang untung dari pergerakan besar, tanpa harus menebak arah. Karena itu, kami mempertimbangkan penggunaan opsi pada Straits Times Index, seperti straddle (strategi membeli call dan put pada harga dan jatuh tempo yang sama untuk memanfaatkan pergerakan besar), untuk menangkap potensi kenaikan pergerakan pasar dalam beberapa pekan ke depan.

Kepala Ekonom UBS Paul Donovan Mengkaji Dampak AI terhadap Produktivitas dan Apakah Uni Eropa Berpotensi Menyalip AS

UBS Chief Economist Paul Donovan mengulas bagaimana AI (kecerdasan buatan, teknologi yang meniru kemampuan berpikir manusia) dapat memengaruhi produktivitas (hasil kerja per jam/tenaga) dan apakah Uni Eropa bisa unggul atas AS. Ia mengatakan kenaikan produktivitas berbasis AI masih lebih banyak berupa potensi, belum benar-benar terjadi secara luas.

Ia menyatakan bahwa adopsi teknologi baru seharusnya, seiring waktu, meningkatkan efisiensi ekonomi (cara ekonomi menghasilkan output dengan sumber daya lebih sedikit). Ia juga mempertanyakan apakah suatu ekonomi bisa memperoleh keunggulan bersaing saat fokus bergeser dari menciptakan teknologi ke memakainya.

Ai Productivity And Competitive Positioning

Ia merujuk riset akademik yang menyebutkan bahwa jika AI meningkatkan produktivitas individu, AI bisa meningkatkan produktivitas pekerja berkeahlian rendah secara proporsional lebih besar. Ia menambahkan, jika manfaatnya tidak merata dan terutama membantu pekerja dengan pendidikan menengah, AS bisa lebih dirugikan dibanding ekonomi besar lain.

Ia berpendapat sistem pendidikan dan sebaran keterampilan (komposisi kemampuan pekerja) di AS, ekonomi utama Eropa, dan Inggris dapat menentukan daya saing masing-masing saat adopsi AI meningkat.

Fokus pasar bergeser dari potensi teoretis kecerdasan buatan ke penerapan di dunia nyata. Kini muncul pertanyaan ekonomi mana yang punya struktur tepat untuk memakai AI guna meningkatkan efisiensi. Ini mengindikasikan peluang transaksi berdasarkan komposisi pendidikan di berbagai negara.

AS bisa tertinggal karena tenaga kerjanya terpolarisasi: banyak pekerja berkeahlian tinggi dan rendah, tetapi kelompok menengah lebih kecil. Sebaliknya, ekonomi utama Eropa, terutama Jerman, memiliki basis besar pekerja berkeahlian menengah yang posisinya paling siap untuk didorong produktivitasnya oleh AI. Laporan OECD akhir 2025 sudah mencatat tanda awal, dengan UKM (usaha kecil dan menengah) manufaktur Jerman menunjukkan tingkat integrasi alat AI untuk optimasi proses (memperbaiki alur kerja agar lebih cepat/hemat biaya) 15% lebih tinggi dibanding rekan mereka di AS.

Trading Implications For Europe Versus Us

Bagi trader mata uang, ini mengarah pada potensi penguatan euro dalam jangka panjang dibanding dolar AS. Data kuartal I 2026 menunjukkan produktivitas tenaga kerja Zona Euro naik 0,4%, sementara pertumbuhan produktivitas AS mendatar setelah lonjakan pascapandemi. Pertimbangkan membeli call option EUR/USD (kontrak yang memberi hak membeli EUR/USD pada harga tertentu) atau membangun posisi long (posisi beli yang untung jika harga naik) untuk memanfaatkan perbedaan ekonomi ini.

Logika yang sama berlaku untuk derivatif indeks saham (instrumen turunan berbasis indeks, seperti futures dan opsi), yang cenderung mendukung pasar Eropa dibanding AS dalam jangka dekat. Sementara S&P 500 naik 2% sejak awal tahun, indeks DAX Jerman naik lebih dari 5%, mencerminkan kekuatan basis industrinya saat AI mulai merapikan operasi. Strategi pair trade (posisi beli pada satu aset dan jual pada aset lain untuk menekan risiko pasar) berupa long futures DAX atau Euro Stoxx 50 melawan short futures Nasdaq 100 dapat membantu menghadapi pergerakan pasar umum sambil menangkap tren ini.

Ketidakpastian soal cepat atau lambatnya adopsi AI kemungkinan memicu volatilitas (gejolak harga), pelajaran dari koreksi tajam 2025 ketika laba yang diharapkan tidak cepat muncul. Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa AI menciptakan pekerjaan baru berkeahlian tinggi, tetapi belum menghasilkan kenaikan produktivitas yang luas di sektor jasa. Ketidakpastian ini menunjukkan bahwa membeli futures VSTOXX (kontrak berjangka atas indeks volatilitas Euro Stoxx 50) atau call option bisa menjadi strategi untuk memanfaatkan potensi gejolak sentimen pasar Eropa.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code