Back

Impor China pada Maret naik 27,8% secara tahunan, jauh melampaui perkiraan 11,1%

Impor China secara tahunan (year-on-year/yoy, yaitu dibanding bulan yang sama tahun lalu) naik 27,8% pada Maret. Kenaikan ini di atas perkiraan 11,1%.

Data ini mengukur perubahan impor dibandingkan bulan yang sama setahun sebelumnya. Tidak ada angka lain dalam rilis tersebut.

Lonjakan Impor Menandakan Selera Risiko Meningkat

Kenaikan besar pada data impor yoy China menjadi sinyal “risk-on” (pelaku pasar lebih berani mengambil risiko, biasanya membeli aset berisiko seperti saham dan komoditas) untuk beberapa pekan ke depan. Angka 27,8% menunjukkan permintaan domestik jauh lebih kuat dari perkiraan. Ini mengindikasikan pemulihan ekonomi punya momentum lebih besar dari proyeksi, sehingga pelaku pasar perlu menilai ulang aset yang sensitif terhadap pertumbuhan global (aset yang biasanya naik saat ekonomi menguat, misalnya komoditas, saham siklikal, dan mata uang komoditas).

Reli komoditas industri diperkirakan berlanjut. Dengan impor bijih besi disebut mencapai rekor bulanan baru dan persediaan tembaga di Shanghai turun 8% pekan lalu, permintaan fisik terlihat jelas (permintaan nyata dari industri, bukan hanya spekulasi). Opsi beli (call option, hak untuk membeli pada harga tertentu) pada kontrak berjangka tembaga (futures, kontrak untuk membeli/menjual di masa depan pada harga yang disepakati) dan kontrak minyak utama seperti Brent (patokan harga minyak global) bisa menjadi cara untuk mengambil posisi atas lonjakan permintaan dari konsumen terbesar dunia.

Data ini sangat positif untuk mata uang yang terkait komoditas, terutama Dolar Australia. Pasangan AUD/USD sudah menembus 0,7150, dan berpotensi menuju 0,7400, level yang terakhir terlihat sebelum perlambatan manufaktur global pada 2025. Trader dapat mempertimbangkan membeli opsi call AUD/USD atau menjual put yang jauh dari harga pasar (out-of-the-money put, opsi jual yang masih “jauh” dari posisi untung) untuk membantu mendanai posisi tersebut.

Saham sektor tambang dan sumber daya global juga diuntungkan langsung. Saham seperti BHP dan Rio Tinto sudah naik lebih dari 5% pekan ini, dan ada peluang proyeksi laba (earnings estimates, perkiraan keuntungan perusahaan) direvisi naik. Strategi bull call spread (membeli call dan menjual call lain di harga lebih tinggi untuk membatasi biaya dan potensi keuntungan) pada MSCI World Metals and Mining Index (indeks acuan saham global sektor logam dan tambang) bisa menjadi cara yang lebih luas untuk menangkap potensi kenaikan dan berpeluang mengungguli indeks umum.

Volatilitas (tingkat naik-turun harga) berpotensi turun lagi karena data pertumbuhan yang kuat meredakan kekhawatiran resesi. VIX (indeks volatilitas pasar saham AS, sering disebut “indeks ketakutan”) sudah turun di bawah 14, terendah sejak kuartal III 2025, yang mengindikasikan pasar kembali lebih tenang. Menjual call spread VIX atau secara hati-hati membeli put VIX (opsi jual) bisa menjadi strategi saat sentimen positif menguat.

Prospek Yuan Menguat

Kekuatan ekonomi China juga dapat menopang mata uangnya, membalikkan tren pelemahan yang terlihat sepanjang 2025. People’s Bank of China (bank sentral China) akan lebih kecil dorongannya untuk mendevaluasi (melemahkan nilai tukar secara terarah), dan pasangan USD/CNH (dolar AS terhadap yuan offshore/CNH, yaitu yuan yang diperdagangkan di luar China daratan) bisa turun menembus area dukungan penting 6,80 dalam beberapa pekan ke depan. Opsi put pada USD/CNH dapat digunakan untuk mengambil posisi atas potensi penguatan Yuan.

Ekspor China Naik 7,1% (YoY) pada Maret, di Bawah Perkiraan 8,3%

Ekspor China tumbuh 7,1% secara tahunan (year on year/yoy: dibandingkan periode yang sama tahun lalu) pada Maret. Angka ini di bawah perkiraan 8,3%.

Data ini menunjukkan pertumbuhan ekspor melambat dibandingkan perkiraan. Rilis ini membandingkan ekspor Maret dengan bulan yang sama tahun lalu.

Implikasi Untuk Mata Uang

Hasil di bawah perkiraan pada pertumbuhan ekspor Maret China memberi sinyal permintaan global terhadap barang manufaktur (barang hasil pabrik) mulai mendingin. Ini menjadi alasan untuk mengantisipasi pelemahan mata uang yang sangat terkait dengan kesehatan ekonomi China, seperti dolar Australia. AUD/USD (nilai tukar dolar Australia terhadap dolar AS) sudah turun ke level terendah tiga bulan di sekitar 0,6550, dan opsi (options: instrumen derivatif/produk turunan untuk membeli atau menjual aset pada harga tertentu) dapat digunakan untuk mengambil posisi bila terjadi penurunan lanjutan menuju 0,64 dalam beberapa pekan ke depan.

Data ini berdampak langsung pada komoditas industri karena China adalah konsumen terbesar dunia. Karena itu, strategi derivatif (derivatives: produk keuangan turunan yang nilainya mengikuti aset acuan) yang bearish (bearish: bertaruh harga turun) pada tembaga mulai dipertimbangkan, setelah harga turun di bawah US$8.400 per ton di LME (London Metal Exchange: bursa logam di London). Menjual (short) kontrak berjangka (futures: kontrak jual-beli pada harga dan waktu tertentu) tembaga atau membeli opsi jual (put options: memberikan hak untuk menjual pada harga tertentu, biasanya dipakai untuk untung saat harga turun) pada perusahaan tambang besar yang bergantung pada permintaan China bisa menjadi pilihan.

Indeks saham global yang punya eksposur tinggi ke China, terutama DAX Jerman, kini rentan. Reaksi serupa terjadi saat data China mengecewakan pada kuartal ketiga 2025, yang memicu penurunan tajam saham produsen mobil Eropa dan barang mewah. Membeli opsi jual pada indeks DAX memberi eksposur luas terhadap potensi penurunan ini.

Ketidakpastian dari data yang meleset ini kemungkinan meningkatkan volatilitas pasar (volatility: tingkat naik-turun harga). Ini membuat pembelian opsi beli (call options: hak untuk membeli pada harga tertentu) pada indeks volatilitas seperti VIX (Volatility Index: indeks yang mencerminkan perkiraan gejolak pasar saham AS) menjadi lindung nilai (hedge: strategi untuk mengurangi risiko) yang masuk akal terhadap gejolak pasar yang lebih luas.

Respons Kebijakan Dan Manajemen Risiko

Angka ekspor yang lemah menambah tekanan pada People’s Bank of China (bank sentral China) untuk memberi stimulus ekonomi. Pasar akan memantau pengumuman terkait injeksi likuiditas (liquidity injections: penambahan uang/pendanaan ke sistem keuangan) atau pemangkasan rasio cadangan wajib bank (reserve requirements: porsi dana yang wajib disimpan bank). Langkah seperti ini bisa memicu pembalikan harga yang tajam namun sementara, sehingga penting memasang stop-loss (batas rugi otomatis untuk membatasi kerugian) pada posisi bearish yang dibuka.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Surplus Neraca Perdagangan China Maret dalam Dolar AS USD51,13 Miliar, Jauh di Bawah Ekspektasi USD112 Miliar (Meleset USD60,87 Miliar)

Neraca perdagangan China pada Maret mencatat surplus US$51,13 miliar. Angka ini di bawah perkiraan US$112 miliar.

Hasilnya lebih rendah US$60,87 miliar dari perkiraan. Data ini dilaporkan dalam dolar AS.

Permintaan Global Melemah

Selisih besar dari perkiraan ini menunjukkan permintaan global terhadap barang China melemah jauh lebih cepat dari yang diperkirakan. Data terbaru menunjukkan ekspor turun 7,5% dibanding periode yang sama tahun lalu (year-over-year/yoy), yang menjadi penyebab utama lemahnya angka tersebut. Ini sinyal perlambatan yang jelas.

Kami menilai ini berdampak negatif pada mata uang yang kinerjanya banyak dipengaruhi pertumbuhan China, terutama dolar Australia (AUD). AUD sudah turun ke level terendah enam bulan di 0,6450 terhadap dolar AS setelah berita ini. Pertimbangkan membeli opsi jual (put options, yaitu kontrak yang memberi hak untuk menjual di harga tertentu sehingga bisa untung saat harga turun) pada pasangan AUD/USD, atau melakukan posisi jual (short, yaitu mengambil keuntungan saat harga turun), dengan ekspektasi pelemahan berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.

Laporan ini juga menjadi sinyal turun (bearish, yaitu mengarah pada penurunan harga) yang kuat untuk komoditas industri. Pertimbangkan menambah posisi yang diuntungkan jika harga turun terhadap logam dasar (base metals seperti tembaga, aluminium, nikel), karena China adalah konsumen terbesar dunia. Contohnya, kontrak berjangka tembaga (copper futures, yaitu kontrak jual-beli untuk pengiriman di masa depan) sudah turun 2,5% ke US$8.300 per ton, dan tekanan turun ini diperkirakan berlanjut.

Di pasar saham, data ini meningkatkan risiko koreksi (correction, yaitu penurunan harga sementara setelah kenaikan) pada indeks yang sensitif terhadap China seperti Hang Seng. Indeks Volatilitas Hang Seng CBOE (VHSI, ukuran perkiraan naik-turun harga yang sering dipakai sebagai “indeks ketakutan”) melonjak 15% hari ini, menandakan naiknya kekhawatiran. Gunakan opsi (options, instrumen turunan/derivatif yang nilainya mengikuti aset acuan) untuk bersiap menghadapi penurunan lebih lanjut; membeli opsi jual dapat menjadi strategi lindung nilai (hedge, mengurangi risiko portofolio) yang lebih aman.

Kondisi ini mirip dengan “kekhawatiran pertumbuhan” pada pertengahan 2025. Saat itu, pelemahan data ekspor yang serupa diikuti penurunan Hang Seng 12% dalam dua bulan berikutnya. Kami menilai pola masa lalu bisa menjadi acuan untuk perkiraan pergerakan hingga Mei dan Juni tahun ini.

Pedoman Historis

Selera risiko terus menekan Dolar AS, membuat USD/CAD melemah dan bertahan di dekat 1,3790 untuk hari kedua selama perdagangan Asia

USD/CAD tetap lemah untuk hari kedua dan diperdagangkan di dekat 1,3790 pada perdagangan Asia hari Selasa. Pergerakan ini terjadi karena Dolar AS melemah setelah laporan bahwa AS dan Iran mungkin menggelar pembicaraan lanjutan sebelum gencatan senjata dua minggu berakhir.

Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran telah menghubungi dan ingin melanjutkan negosiasi. Wakil Presiden JD Vance mengatakan upaya diplomatik terus berjalan dan menyebut pembicaraan akhir pekan sebagai konstruktif.

Tekanan Dolar Dari The Fed Dan Geopolitik

Dolar AS juga melemah karena pasar menurunkan ekspektasi pengetatan lanjutan oleh Federal Reserve (The Fed, bank sentral AS) — yaitu kebijakan menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi.

Ini mengikuti meredanya kekhawatiran inflasi seiring peluang gencatan senjata yang lebih lama dan kemungkinan dibukanya kembali Selat Hormuz (jalur pelayaran utama pengiriman minyak), yang menekan harga minyak.

Gubernur The Fed Stephen Miran mengatakan guncangan energi terkait Iran belum mengubah ekspektasi inflasi jangka panjang. Ia memperkirakan tekanan harga kembali ke target bank sentral dalam satu tahun.

Pelemahan USD/CAD bisa terbatas karena turunnya harga minyak dapat menekan Dolar Kanada. Kanada adalah pengekspor minyak mentah terbesar ke AS, dan harga minyak turun karena kekhawatiran pasokan mereda setelah adanya laporan pembicaraan.

Di Kanada, CBC News melaporkan Perdana Menteri Mark Carney meraih mayoritas parlemen pada Senin. Partai Liberal mengamankan 172 kursi dari total 343 kursi di House of Commons (majelis rendah parlemen Kanada).

Fokus Strategi Pada Volatilitas

Mengingat tekanan yang saling berlawanan pada dolar AS dan dolar Kanada, stabilitas USD/CAD di sekitar 1,3790 menunjukkan pasar ragu menentukan arah. Bertaruh arah saat ini berisiko, sehingga fokus beberapa pekan ke depan sebaiknya pada volatilitas (besarnya naik-turun harga). Meredanya ketegangan AS-Iran menarik pasangan ini ke dua arah sekaligus.

Penurunan harga minyak menjadi hambatan besar bagi dolar Kanada. Sebagai gambaran, kontrak berjangka (futures, perjanjian jual-beli untuk tanggal mendatang) minyak mentah WTI (West Texas Intermediate, patokan harga minyak AS) turun dari di atas US$90 pada akhir 2025 ke sekitar US$82 sekarang karena prospek pasokan Timur Tengah lebih stabil. Karena ekonomi Kanada sensitif terhadap ekspor energi, penurunan harga ini membatasi penguatan loonie (sebutan untuk dolar Kanada).

Di sisi lain, pelemahan dolar AS bisa sementara karena pasar terlalu cepat memperkirakan The Fed akan kurang agresif. Data terbaru Indeks Harga Konsumen AS (Consumer Price Index/CPI, ukuran inflasi) untuk Maret menunjukkan inflasi masih tinggi di 3,5%, sehingga kecil kemungkinan The Fed buru-buru memangkas suku bunga. Selisih suku bunga (interest rate differential, perbedaan tingkat bunga yang memengaruhi aliran dana) — dengan Fed Funds Rate (suku bunga acuan The Fed) 5,5% dan suku bunga Bank of Canada 5,0% — masih mendukung kepemilikan dolar AS.

Kondisi ini mengindikasikan USD/CAD bisa bergerak dalam rentang (range-bound, naik-turun di kisaran tertentu), terjepit oleh kekuatan yang saling berlawanan. Pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi) dapat mempertimbangkan strategi yang untung saat harga tidak punya arah jelas, seperti menjual strangle (strategi opsi menjual call dan put di luar harga saat ini) atau membuat iron condor (strategi opsi gabungan untuk meraih premi saat harga tetap di rentang). Volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan volatilitas yang tercermin dalam harga opsi) pada pasangan mata uang menyempit dalam beberapa hari terakhir, mencerminkan ketidakpastian dan membuat strategi menjual premi menarik.

Mayoritas baru bagi pemerintahan Perdana Menteri Carney menambah stabilitas politik, yang bisa memberi dukungan dasar pada CAD. Ini menguatkan pandangan bahwa pasangan ini kecil kemungkinan menembus kuat ke salah satu arah tanpa pemicu baru. Kami akan memantau laporan inflasi berikutnya dari kedua negara untuk melihat apakah narasi suku bunga berubah.

USD/JPY Mengarah ke 159,00 di Sesi Asia, seiring Yen Menguat namun Pembeli Masih Ragu di Tengah Risiko Hormuz

USD/JPY melanjutkan koreksi ringan dari area 159,85 dan turun di sesi Asia pada Selasa. Pasangan ini sempat melemah mendekati 159,00, tetapi penurunannya terbatas karena pendorongnya beragam.

Perundingan damai AS-Iran gagal pada akhir pekan, tetapi pasar masih menilai jalur diplomasi akan berlanjut. Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan ada kemajuan yang berarti, sehingga menekan dolar AS.

Tekanan Dolar Karena Ketidakpastian Kebijakan

Dolar AS juga menyentuh level terendah sejak awal Maret di tengah ketidakpastian soal inflasi AS dan kebijakan Federal Reserve (The Fed/bank sentral AS yang mengatur suku bunga dan pasokan uang). Data AS yang dirilis Jumat menunjukkan inflasi naik paling besar dalam hampir empat tahun. Ini menggeser perhatian ke kemungkinan kenaikan suku bunga tahun ini, meski sebagian pelaku pasar masih berharap pemangkasan suku bunga.

Yen mendapat dukungan terbatas karena kekhawatiran gangguan pasokan energi akibat ketidakstabilan di sekitar Selat Hormuz (jalur pelayaran penting pengiriman minyak). Presiden AS Donald Trump mengatakan blokade Angkatan Laut AS resmi dimulai dan menyebut kapal perang Iran yang mendekat akan dihancurkan, sementara Iran mengancam pelabuhan di Teluk Persia dan Teluk Oman.

Jepang sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah, sehingga memicu kekhawatiran tekanan ekonomi dalam waktu dekat. Hal ini dapat membatasi penguatan yen dan menahan penurunan USD/JPY lebih dalam, sementara pembicaraan soal langkah pejabat Jepang juga bisa membatasi pelemahan yen lebih lanjut.

Jika melihat kembali situasi pada 2025, dolar sempat melemah karena harapan diplomasi AS-Iran, sementara yen melemah akibat kekhawatiran keamanan energi. Ini membuat ruang gerak USD/JPY cenderung sempit, karena kedua mata uang sama-sama terbebani.

Guncangan Energi Dan Dampak Lanjutan Pasar

Blokade laut AS di Selat Hormuz tahun lalu memicu guncangan energi besar, dengan harga minyak Brent (patokan harga minyak global) sempat melonjak di atas US$145 per barel. Meski jalur diplomasi kemudian meredakan krisis, harga minyak tetap tinggi, dengan WTI (West Texas Intermediate, patokan harga minyak AS) kini diperdagangkan sekitar US$95. Ini menjaga tekanan pada negara pengimpor energi seperti Jepang. Biaya energi yang tinggi berkepanjangan terus menjadi beban besar bagi yen.

Sebagai respons terhadap lonjakan inflasi pada 2025, saat CPI (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen—ukuran kenaikan harga barang dan jasa) sempat menembus 7%, The Fed mengambil sikap jauh lebih agresif dari perkiraan pelaku pasar. The Fed kemudian menaikkan suku bunga acuan federal funds rate (suku bunga kebijakan utama AS) menjadi 6,00% untuk menekan tekanan harga yang masih bertahan, yang terakhir tercatat 4,1% untuk Maret 2026. Lingkungan suku bunga tinggi ini menjadi penopang kuat bagi dolar AS.

Akibatnya, USD/JPY kini diperdagangkan di sekitar 162,50, jauh di atas level yang dibahas tahun lalu. Meski Bank of Japan (BoJ/bank sentral Jepang) akhirnya keluar dari kebijakan suku bunga negatif, suku bunganya saat ini di 0,10% menciptakan selisih suku bunga yang sangat lebar. Ini membuat menyimpan dolar lebih menarik dibanding yen. Strategi carry trade (meminjam mata uang bersuku bunga rendah untuk membeli mata uang bersuku bunga tinggi) tetap menjadi faktor utama penguat pasangan ini.

Dalam beberapa pekan ke depan, pelaku pasar perlu memperhatikan strategi yang memanfaatkan selisih suku bunga tinggi ini, sambil mewaspadai intervensi (upaya menstabilkan nilai tukar, lewat pernyataan atau aksi di pasar) dari otoritas Jepang. Menjual opsi JPY call/USD put yang out-of-the-money (opsi beli yen/jual dolar dengan harga kesepakatan yang masih jauh dari harga saat ini) bisa menjadi strategi untuk mengantongi premi (pendapatan dari menjual opsi), dengan asumsi pasangan ini tidak berbalik turun tajam di bawah area dukungan penting. Alternatifnya, bull call spread pada USD/JPY (strategi opsi untuk meraih kenaikan dengan risiko terbatas, dengan membeli call dan menjual call lain di harga kesepakatan lebih tinggi) dapat menjadi cara berisiko terukur untuk memanfaatkan potensi kenaikan menuju level 165,00.

Selama perdagangan Asia, WTI bergerak mendatar di sekitar US$91,50 di tengah laporan berlanjutnya pembicaraan AS-Iran untuk hari ketiga

WTI diperdagangkan di dekat $91,50 pada jam perdagangan Asia hari Selasa, masih tertahan untuk hari ketiga setelah laporan bahwa AS dan Iran mungkin menggelar pembicaraan lanjutan. Pembicaraan ini bertujuan mengamankan gencatan senjata (penghentian tembak-menembak) jangka lebih panjang sebelum jeda konflik dua minggu saat ini berakhir.

Presiden AS Donald Trump mengatakan Teheran memulai kontak dengan Washington, sementara Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bersedia melanjutkan dialog sesuai hukum internasional. Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan kepada Fox News bahwa diplomasi masih berjalan dan sudah ada kemajuan, meski belum ada terobosan.

Gangguan Pasokan Menahan Penurunan Harga

Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan harga energi bisa tetap tinggi dan berpotensi naik sampai lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz kembali normal. Menurutnya, gangguan berkelanjutan pada jalur pengapalan (rute pengiriman barang lewat laut) tersebut menopang tekanan kenaikan harga.

Trump juga mengatakan harga minyak dan bensin yang tinggi dapat bertahan hingga periode pemilu paruh waktu AS (midterm elections, pemilihan anggota Kongres di tengah masa jabatan presiden). Laporan OPEC+ (kelompok OPEC dan sekutu, termasuk Rusia, yang mengoordinasikan produksi minyak) menyebutkan produksi grup turun 7,9 juta barel per hari pada Maret, terutama akibat penutupan Selat Hormuz.

Perhatian pasar juga tertuju pada laporan bulanan International Energy Agency/IEA (Badan Energi Internasional, lembaga yang memantau pasar energi) untuk sinyal tambahan soal pasokan dan permintaan.

Strategi Opsi Untuk Volatilitas Dua Arah

Situasi ini menyerupai ketidakpastian yang terlihat pada akhir 2025 ketika kekhawatiran atas Selat Hormuz pertama kali muncul. Volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan besarnya naik-turun harga ke depan yang tercermin dalam harga opsi) pada opsi WTI kemungkinan melonjak, mirip saat OVX (oil volatility index, indeks yang mengukur gejolak harga opsi minyak) sempat menembus 60 pada fase awal konflik Ukraina 2022. Kondisi ini membuat taruhan arah harga secara langsung menjadi mahal dan berisiko bagi trader.

Dengan kondisi tersebut, strategi yang diuntungkan oleh pergerakan harga besar—tanpa peduli arahnya—layak dipertimbangkan. Long straddle atau strangle (strategi opsi dengan membeli opsi call dan opsi put sekaligus; call memberi hak membeli, put memberi hak menjual) bisa efektif. Strategi ini untung jika harga bergerak tajam naik ketika pembicaraan gagal, atau turun ketika ada kesepakatan besar.

Gangguan pasokan fisik di Selat Hormuz sangat penting karena secara historis wilayah ini menangani lebih dari 20% konsumsi minyak global. Penurunan produksi 7,9 juta barel per hari adalah angka yang sangat besar, jauh melampaui pemangkasan saat permintaan anjlok pada pandemi 2020. Dasar pasokan ini menjadi alasan kuat bahwa harga sulit jatuh dalam tanpa adanya kesepakatan yang benar-benar final dan disahkan.

Kalender politik, khususnya pemilu paruh waktu AS, menambah kompleksitas bagi pemerintah. Tekanan agar harga bensin turun akan besar, yang dapat mendorong penyelesaian lebih cepat dengan Iran. Trader perlu mencermati perubahan pernyataan pejabat AS sebagai indikator awal kemungkinan tercapainya kesepakatan.

Selama perdagangan Asia, EUR/USD melanjutkan kenaikan lebih dari 100 pip, menyentuh 1,1765–1,1770 di tengah harapan diplomasi Iran

EUR/USD melanjutkan kenaikan pada Senin lebih dari 100 pip (satuan perubahan harga kecil pada pasangan mata uang), dan menambah penguatan pada sesi Asia Selasa. Pasangan ini naik delapan hari berturut-turut, mencapai sekitar 1,1765–1,1770, level tertinggi sejak awal Maret.

Setelah perundingan damai gagal pada akhir pekan, pasar tetap bergerak ke aset berisiko (instrumen yang biasanya naik saat investor berani mengambil risiko, seperti saham) karena harapan ada diplomasi lanjutan dengan Iran. Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pembicaraan menunjukkan kemajuan berarti meski belum ada terobosan, sehingga menekan Dolar AS.

Kelemahan Dolar Dan Selera Risiko

Ketidakpastian soal arah suku bunga Federal Reserve (bank sentral AS) juga menahan Dolar dekat level terendah sejak awal Maret. Namun, risiko gangguan pengiriman barang terkait Selat Hormuz (jalur pelayaran penting untuk minyak) membatasi selera risiko.

Presiden AS Donald Trump mengatakan blokade Angkatan Laut AS di jalur tersebut telah dimulai, dan mengancam akan bertindak terhadap kapal perang Iran di dekatnya. Iran memperingatkan bisa menargetkan semua pelabuhan di Teluk Persia dan Teluk Oman, sehingga ketegangan tetap tinggi.

Kekhawatiran gencatan senjata saat ini bisa gagal dan konflik kembali pecah mendukung Dolar dan menekan permintaan EUR/USD. Meski begitu, pergerakan harga terbaru masih sejalan dengan tren naik yang berlanjut sejak titik terendah akhir Maret.

Strategi Opsi Dan Pemantauan

Saat ini, Euro menguat karena alasan berbeda, terutama didorong oleh European Central Bank/ECB (bank sentral zona euro) yang lebih “hawkish” (lebih condong menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi). Data terbaru menunjukkan inflasi inti (inflasi tanpa komponen yang sangat bergejolak seperti energi dan pangan) zona euro untuk Maret 2026 tetap tinggi di 2,9%, sehingga pasar memperkirakan setidaknya dua kali kenaikan suku bunga ECB tahun ini. Ini berbeda dengan Federal Reserve, yang memberi sinyal jeda dalam siklus pengetatan (periode kenaikan suku bunga).

Dengan latar risiko pembalikan arah, pendekatan hati-hati dengan opsi (instrumen derivatif/hak untuk membeli atau menjual pada harga tertentu) dapat dipertimbangkan untuk menangkap potensi kenaikan lanjutan. Investor bisa mempertimbangkan membeli opsi call EUR/USD (hak membeli) dengan jatuh tempo dekat agar mendapat manfaat dari momentum ECB. Namun, membeli opsi put (hak menjual) sebagai perlindungan atau memakai call spread (strategi membeli call dan menjual call lain di level berbeda untuk membatasi biaya sekaligus membatasi keuntungan) menjadi langkah lindung nilai (hedging: mengurangi risiko) yang lebih bijak, terutama karena volatilitas tersirat/implied volatility (perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi) masih tinggi di sekitar 8%.

Ke depan, perlu memantau pidato pejabat ECB untuk memastikan sikap “hawkish” mereka. Pada saat yang sama, perkembangan di jalur pelayaran global atau munculnya ketegangan diplomatik baru bisa cepat membalikkan sentimen melawan Euro. Ini membuat pemantauan kebijakan bank sentral dan berita geopolitik menjadi penting untuk menghadapi beberapa pekan ke depan.

Data Maret Menunjukkan Kepercayaan Bisnis NAB di Australia Turun ke -29 dari -1 Sebelumnya

National Australia Bank melaporkan indeks kepercayaan bisnis (pengukur optimisme atau pesimisme pelaku usaha) di level -29 pada Maret. Angka sebelumnya -1.

Penurunan tajam kepercayaan bisnis dari -1 ke -29 merupakan guncangan besar, menandakan ekspektasi ekonomi memburuk. Tekanan turun pada ASX 200 (indeks saham utama Australia) berpotensi meningkat, sehingga strategi seperti membeli *put option* (hak untuk menjual di harga tertentu, biasanya dipakai untuk lindung nilai atau taruhan harga turun) pada indeks atau melakukan *short* kontrak *futures* (menjual kontrak berjangka untuk mendapat untung saat harga turun) bisa dipertimbangkan untuk beberapa pekan ke depan. Data ini menunjukkan perusahaan cenderung menahan belanja modal dan rencana perekrutan, yang bisa menekan laba ke depan.

Peluang Pemangkasan Suku Bunga Naik

Kemerosotan sentimen ini meningkatkan peluang Reserve Bank of Australia (bank sentral Australia) memangkas suku bunga untuk menopang ekonomi. Dampaknya, dolar Australia berpotensi melemah terhadap mata uang utama seperti USD. Proyeksi ini didukung data CPI kuartalan (inflasi harga konsumen) terbaru sebesar 2,8%, yang turun di bawah kisaran target RBA, sehingga ruang kebijakan bank sentral lebih longgar.

Kejutan data sebesar ini hampir pasti mendorong kenaikan volatilitas pasar (tingkat naik-turun harga) dari level yang sebelumnya tenang. Strategi seperti membeli *call option* (hak untuk membeli di harga tertentu) pada A-VIX (indeks perkiraan volatilitas pasar Australia) atau menerapkan *straddle* (membeli *call* dan *put* sekaligus pada harga dan jatuh tempo yang sama untuk memanfaatkan pergerakan besar ke atas atau ke bawah) pada saham-saham utama dapat dipertimbangkan. Pasar tidak bersiap untuk angka seburuk ini, sehingga penyesuaian harga risiko bisa terjadi cepat dan tajam.

Rilis ini sejalan dengan data tenaga kerja terbaru, ketika tingkat pengangguran naik ke 4,5%, menandakan pelemahan terjadi luas. Perlu waspada pada sektor siklikal (sektor yang kinerjanya sangat mengikuti naik-turun ekonomi) seperti barang konsumsi non-primer (*consumer discretionary*) dan keuangan, yang sensitif terhadap perlambatan. Posisi defensif (saham yang relatif lebih tahan saat ekonomi melemah) di sektor kesehatan dan utilitas dapat memberi perlindungan relatif.

Positioning And Sector Rotation

Pertumbuhan PDB Singapura secara tahunan mencapai 4,6%, lebih rendah dari proyeksi ekonom 5,4% untuk kuartal I

Produk domestik bruto (PDB) Singapura naik 4,6% secara tahunan pada kuartal pertama. Angka ini di bawah perkiraan 5,4%.

Rilis ini membandingkan pertumbuhan aktual (4,6%) dengan perkiraan (5,4%). Hasilnya, pertumbuhan 0,8 poin persentase lebih rendah dari proyeksi.

PDB yang berada di bawah perkiraan mengindikasikan ekonomi mulai mendingin. Kejutan ini menunjukkan pertumbuhan yang sebelumnya diperkirakan pada awal 2026 belum terjadi, sehingga menambah ketidakpastian. Karena itu, dalam jangka dekat bisa muncul tekanan turun pada aset berdenominasi Dolar Singapura.

Kekurangan data ekonomi ini kemungkinan melemahkan Dolar Singapura terhadap Dolar AS. Ekspor domestik nonmigas turun 2,8% pada Februari 2026, sehingga angka PDB ini menegaskan tren perlambatan permintaan luar negeri. Pelaku pasar derivatif (instrumen keuangan turunan yang nilainya mengikuti aset acuan) dapat mempertimbangkan membeli opsi call USD/SGD (hak, bukan kewajiban, untuk membeli USD terhadap SGD pada harga tertentu) untuk mengantisipasi pelemahan mata uang lokal, seiring Otoritas Moneter Singapura/MAS (bank sentral Singapura) cenderung kurang agresif mengetatkan kebijakan.

Untuk saham, Straits Times Index (STI) berpotensi menghadapi tekanan karena proyeksi laba perusahaan direvisi turun. Ini mengingatkan pada perlambatan akhir 2025 saat data perdagangan global mulai melemah. Pelaku pasar dapat memanfaatkan situasi ini untuk membeli opsi put pada STI (hak, bukan kewajiban, untuk menjual pada harga tertentu) atau membuka posisi short pada kontrak berjangka indeks (futures, perjanjian jual/beli di masa depan pada harga yang disepakati) sebagai lindung nilai (hedging, strategi untuk mengurangi risiko) terhadap penurunan pasar.

Ekspektasi suku bunga juga bisa berubah, dengan pasar kini menilai peluang kenaikan suku bunga lanjutan tahun ini lebih rendah. Kontrak futures SORA (Singapore Overnight Rate Average, rata-rata suku bunga pinjaman antarbank semalam) sudah mencerminkan sentimen ini, terlihat dari penurunan tipis pagi ini. Ini bisa menjadi peluang untuk mengambil posisi yang mengarah pada kurva imbal hasil lebih datar (yield curve, hubungan imbal hasil dan tenor; “lebih datar” berarti selisih imbal hasil jangka pendek dan panjang mengecil) melalui swap suku bunga (kontrak pertukaran pembayaran bunga, misalnya bunga tetap dengan bunga mengambang).

Seiring melemahnya Dolar AS, GBP/USD pulih dari 1,3380 dan ditutup mendekati 1,3510, menguat 0,35%

GBP/USD sempat turun ke sekitar 1,3380, lalu pulih ke kisaran 1,3510, naik 0,35% hari ini. Pasangan ini sudah menguat lebih dari 350 pip (satuan perubahan harga pada forex; 1 pip biasanya 0,0001) dari dekat 1,3160 pada awal April, dan sudah memangkas sekitar setengah dari penurunan dari area 1,3870.

Blokade AS di Selat Hormuz setelah perundingan damai di Pakistan gagal menekan minat risiko (risk appetite: kesediaan investor mengambil aset berisiko) pada awal Senin. Setelah itu, Dolar AS melemah karena pasar memperkirakan ada peluang penyelesaian, sehingga GBP/USD kembali menembus 1,3500.

Selasa akan dirilis Indeks Harga Produsen (PPI) AS untuk Maret, diperkirakan 1,2% bulan-ke-bulan (month-on-month/m/m: dibanding bulan sebelumnya) dari 0,7% pada Februari. PPI tahun-ke-tahun (year-on-year/y/y: dibanding bulan yang sama tahun lalu) diproyeksikan 4,6% dari 3,4%, bersamaan dengan lima pidato pejabat Federal Reserve (bank sentral AS) yaitu Goolsbee, Barr, Barkin, Collins, dan Paulson.

Inflasi Inggris (CPI: Indeks Harga Konsumen) diperkirakan naik ke 3%–3,5% pada beberapa kuartal mendatang karena biaya bahan bakar dan utilitas (listrik, gas, air) yang lebih tinggi. Ini terjadi setelah sebelumnya inflasi bergerak mendekati target 2% sebelum konflik.

GBP/USD diperdagangkan di dekat 1,3513, di atas EMA 50 hari (Exponential Moving Average: rata-rata bergerak berbobot pada data terbaru) di 1,3395 dan EMA 200 hari di 1,3367. Stochastic RSI (indikator momentum yang mengukur kondisi jenuh beli/jenuh jual) berada dekat 71, dengan area dukungan (support: zona harga yang biasanya menahan penurunan) di sekitar 1,3395 dan 1,3367.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code