Back

Setelah dibuka melemah usai gap akhir pekan, perak bangkit namun tertahan resistensi SMA 100-hari, turun 0,33%, diperdagangkan di sekitar US$75,58

Perak (XAG/USD) pulih pada Senin, tetapi berpotensi menutup hari turun 0,33% setelah terjadi *gap* akhir pekan (selisih harga saat pembukaan pasar yang langsung melompat dari harga penutupan sebelumnya) akibat kabar negatif terkait konflik AS-Iran. Saat penulisan, perak diperdagangkan di US$75,58 setelah memantul dari level terendah harian US$72,61.

Perak menemui hambatan di Simple Moving Average (SMA) 100 hari (rata-rata harga 100 hari terakhir untuk membaca arah tren) di 76,09 dan mendapat penopang di SMA 20 hari (rata-rata 20 hari terakhir) di 73,28. Titik terendah empat hari di US$72,61 meningkatkan risiko penurunan lanjutan, meski harga bertahan di atas US$75,50.

Momentum Dan Pemicu Utama

Relative Strength Index (RSI) bergerak mendatar dekat level netral (indikator untuk mengukur kuat-lemahnya dorongan naik/turun). Ini menunjukkan dorongan harga masih terbatas. Pelaku pasar menunggu pemicu dari rilis US Producer Price Index (PPI) pada Selasa (indeks harga produsen AS, mengukur perubahan harga di tingkat produsen dan sering memengaruhi ekspektasi inflasi serta suku bunga).

Jika harga naik menembus SMA 100 hari, level yang perlu dipantau adalah US$77,98 (terendah 3 Maret yang kini menjadi hambatan) dan SMA 50 hari di US$79,21. Jika turun di bawah SMA 20 hari, sasaran berikutnya adalah terendah 2 April di US$69,58, lalu US$60,95 (terendah siklus 23 Maret).

Bagi trader derivatif (instrumen turunan seperti opsi yang nilainya mengikuti harga aset), penembusan di bawah penopang US$73,28 akan menjadi sinyal penurunan yang kuat. Pola serupa pernah terjadi ketika data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan mendorong dolar menguat dan menyeret perak turun hampir 10% dalam sebulan berikutnya. Membeli *put option* (hak untuk menjual di harga tertentu, biasanya dipakai saat memperkirakan harga turun) atau membangun *bear put spread* (strategi opsi dengan membeli put dan menjual put di level lebih rendah untuk menekan biaya, tetapi membatasi potensi untung) bisa menjadi langkah untuk memanfaatkan potensi penurunan menuju target US$69,58.

Posisi Opsi Dan Level Tembus

Sebaliknya, pergerakan yang bertahan di atas hambatan US$76,09 dapat dipandang sebagai pemicu kuat untuk membeli *call option* (hak untuk membeli di harga tertentu, biasanya dipakai saat memperkirakan harga naik). Permintaan industri mendukung pandangan ini. Laporan terbaru menunjukkan konsumsi perak di sektor panel surya dan teknologi 5G naik 8% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya pada kuartal I 2026. Kekuatan fundamental (faktor dasar seperti permintaan dan pasokan) ini dapat mendorong harga ke target lebih tinggi di US$77,98.

Pasar saat ini terlihat bimbang, sejalan dengan RSI yang netral. CBOE Silver Volatility Index (VXSLV) berada di sekitar 34 (indeks yang mengukur perkiraan besar-kecilnya ayunan harga perak ke depan), menandakan pelaku pasar memperkirakan akan terjadi pergerakan besar dalam waktu dekat. Fokus pasar tertuju pada data PPI AS pekan ini, yang berpotensi menjadi pemicu yang memecah kebuntuan.

Karena itu, trader yang belum yakin arah pergerakan, tetapi percaya akan terjadi pergerakan besar, bisa mempertimbangkan *long strangle* (strategi opsi dengan membeli call dan put sekaligus di harga berbeda untuk mencari untung dari pergerakan besar ke salah satu arah). Strateginya menunggu penutupan harian yang terkonfirmasi di luar rentang US$73,28–US$76,09 sebelum membangun posisi yang mengikuti arah.

USD/JPY Mundur dari 160 Seiring Sentimen Membaik, Usai Bergerak Volatil dan Tertahan di Sekitar 159,35

USD/JPY bergerak dalam rentang lebar pada Senin, naik hingga sekitar 159,86 sebelum turun ke kisaran 159,35, nyaris tidak berubah. Sejak awal April, pasangan ini bergerak dalam kisaran sekitar 200 pip, antara kurang lebih 158,00 hingga 160,00. (Pip adalah satuan perubahan harga kecil pada pasangan mata uang.)

Fokus tertuju pada Bank of Japan (BoJ/bank sentral Jepang) menjelang rapat 27–28 April, seiring meningkatnya pembicaraan pasar soal kenaikan suku bunga. Jepang mengimpor hampir seluruh minyak mentahnya, dan penutupan efektif Selat Hormuz sejak akhir Februari mendorong biaya energi naik. (Selat Hormuz adalah jalur pelayaran penting untuk pengiriman minyak dunia.)

Dolar Melemah Saat Pasar Memantau Iran

Dolar AS melemah saat minat terhadap aset berisiko membaik, dengan perhatian tertuju pada konflik Iran dan harapan penyelesaian. Pada Selasa, PPI (Producer Price Index/indeks harga produsen, mengukur perubahan harga di tingkat produsen) Maret diperkirakan 1,2% secara bulanan (month-on-month) dibanding 0,7% pada Februari, dan 4,6% secara tahunan (year-on-year) dibanding 3,4%, disertai pidato dari Goolsbee, Barr, Barkin, Collins, dan Paulson.

Pada grafik lima menit, harga berada di bawah pembukaan hari itu di 159,73, dengan Stochastic RSI turun dari mendekati 90 ke kisaran 30-an. (Stochastic RSI adalah indikator teknikal untuk menilai momentum dan kondisi jenuh beli/jenuh jual.) Pada grafik empat jam, harga masih di atas EMA 200-periode di 158,51. (EMA adalah rata-rata bergerak eksponensial, indikator tren.)

Yen dipengaruhi kondisi ekonomi Jepang, kebijakan BoJ, selisih imbal hasil (yield gap) dengan AS, serta sentimen risiko. Kebijakan super-longgar pada 2013–2024 melemahkan yen, dan perubahan kebijakan pada 2024 memperkecil selisih imbal hasil dengan AS.

Jika melihat April 2025, USD/JPY sempat sulit menembus level penting 160,00. Spekulasi meningkat bahwa BoJ akan menaikkan suku bunga bulan itu karena kenaikan biaya energi terkait ketegangan Timur Tengah. Ini menjadi “atap” (resistance/area penahan kenaikan) karena pasar memperkirakan yen akan menguat.

Risiko Intervensi Meningkat Dekat Puncak Lama

Level 160,00 akhirnya ditembus pada 2025, memicu intervensi langsung otoritas Jepang untuk membeli yen dan menekan dolar. Namun dampaknya sementara karena pendorong utama tetap selisih suku bunga AS dan Jepang yang masih lebar. Langkah BoJ dipandang hanya memperlambat pelemahan yen, bukan membalikkan tren.

Per 14 April 2026, pasangan ini diperdagangkan dekat 165, menandakan tekanan naik masih ada. The Fed baru memulai siklus penurunan suku bunga secara bertahap, dengan suku bunga kebijakan 4,75%, sementara BoJ bergerak lambat dengan suku bunga 0,25%. Kesenjangan ini membuat memegang dolar AS jauh lebih menguntungkan daripada yen.

Situasi ini menunjukkan tren naik masih kuat, tetapi risiko penurunan tajam mendadak akibat intervensi tetap tinggi saat harga mendekati puncak lama. Pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures, nilainya mengikuti aset acuan) dapat fokus pada volatilitas (besar-kecilnya gejolak harga), misalnya membeli opsi yen call atau opsi USD put untuk memanfaatkan potensi intervensi. (Opsi call memberi hak membeli, opsi put memberi hak menjual; keduanya membatasi risiko pada premi yang dibayar.)

Di saat yang sama, strategi carry trade masih dominan—meminjam yen berbunga rendah untuk membeli dolar berbunga lebih tinggi. (Carry trade adalah mencari untung dari selisih bunga.) Imbal hasil (yield) Treasury AS 10 tahun sekitar 4,1%, sementara obligasi pemerintah Jepang setara sekitar 0,9%, sehingga dolar menarik. Trader dapat memakai futures mata uang (kontrak berjangka valuta, perjanjian beli/jual di harga tertentu untuk tanggal mendatang) untuk posisi long USD/short JPY sambil mengincar swap positif, yaitu selisih bunga (interest rate differential).

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Di tengah kekhawatiran geopolitik, NZD/USD naik menuju 0,5880, terutama didorong oleh pelemahan Dolar AS secara luas

NZD/USD naik pada Senin, 13 April, kembali mendekati 0,5880 karena pelemahan Dolar AS secara luas menjadi arah utama perdagangan. Kenaikan ini lebih dipicu oleh dolar yang melemah daripada faktor dari Selandia Baru.

Laporan menyebut pembicaraan Iran–AS gagal dan Presiden Donald Trump mengirim Angkatan Laut AS untuk menutup Selat Hormuz. Konflik Timur Tengah tetap menjadi sorotan, dengan perhatian pada selat tersebut dan pesan diplomatik Iran yang beragam.

Permintaan Dolar Sebagai Aset Aman Melemah

Meski ketegangan meningkat, Dolar AS kesulitan mempertahankan dukungan sebagai aset aman (instrumen yang biasanya diburu saat pasar takut risiko). Arus transaksi mulai menjauh dari dolar karena pasar menurunkan kembali permintaan sebelumnya yang terkait kekhawatiran risiko.

Jika melihat April tahun lalu, Dolar AS juga melemah meski menghadapi risiko geopolitik besar di Timur Tengah. Pasar mengurangi minat “aset aman”, sehingga NZD/USD bisa naik. Ini menunjukkan pergeseran, di mana data ekonomi yang mendasar mulai lebih diperhatikan dibanding berita besar yang mengejutkan.

Pola ini makin terlihat dalam setahun terakhir. Data terbaru Maret 2026 menunjukkan inflasi inti AS (inflasi tanpa komponen yang bergejolak seperti energi dan pangan) melambat tipis ke 2,8%, sehingga peluang pemangkasan suku bunga The Fed (bank sentral AS) meningkat akhir tahun ini. Ini menekan Indeks Dolar AS (DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama), yang sulit bertahan di atas 103,00 yang sempat tersentuh singkat pada akhir 2025.

Sementara itu, Reserve Bank of New Zealand memberi sinyal akan menahan suku bunga acuannya (official cash rate/OCR, suku bunga utama yang memengaruhi biaya pinjaman) tetap di 5,5% hingga paruh kedua 2026 untuk menahan tekanan harga domestik yang masih kuat. Perbedaan arah kebijakan kedua bank sentral ini menjadi alasan fundamental penguatan NZD. Kenaikan 3,5% harga susu global sejak Januari 2026 juga mendukung ekonomi Selandia Baru secara langsung.

Posisi Opsi Mengarah Ke Kenaikan Lanjutan

Bagi pelaku pasar derivatif (instrumen turunan nilai dari aset dasar), kondisi ini membuka peluang untuk bersiap pada kenaikan NZD/USD berikutnya. Opsi beli (call option, hak untuk membeli pada harga tertentu) dengan harga pelaksanaan (strike price, harga yang ditetapkan dalam kontrak) di atas harga saat ini bisa dipertimbangkan, misalnya menargetkan 0,6200 dengan jatuh tempo (expiration, batas waktu berlakunya kontrak) Juni atau Juli. Strategi ini membatasi risiko pada premi yang dibayar, sambil memberi peluang jika pasangan mata uang terus naik.

Volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan fluktuasi harga ke depan yang tercermin dari harga opsi) NZD/USD saat ini berada dekat level terendah 12 bulan, sekitar 8,9. Ini membuat strategi beli opsi, seperti membeli call atau bull call spread (strategi opsi naik: membeli call dan menjual call lain pada strike lebih tinggi untuk menekan biaya), relatif murah. Volatilitas rendah menunjukkan pasar belum memasang harga untuk kejutan besar, sehingga lebih menarik untuk mengambil posisi sesuai arah.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Seiring membaiknya sentimen, EUR/USD naik ke 1,1757 sementara Indeks Dolar AS turun ke 98,36

EUR/USD naik pada Senin seiring Dolar AS turun ke level terendah enam pekan. Indeks Dolar AS (DXY)—ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama—berada di 98,36, turun 0,29%. Pasangan ini diperdagangkan di 1,1757–1,1758, naik 0,32%.

Sentimen risiko yang membaik (minat investor ke aset berisiko meningkat) mendukung euro, dengan pasangan mendekati level 1,1800. Gencatan senjata dua pekan disebut rapuh, dengan AS dan Iran berpeluang kembali berunding setelah pertemuan Sabtu lalu.

Ketegangan Selat Hormuz

Perundingan di Pakistan berlangsung 21 jam. Iran tidak bersedia menghentikan program nuklirnya dan mempertahankan kendali atas Selat Hormuz (jalur pelayaran penting pengiriman minyak dunia), lalu Gedung Putih memberlakukan blokade di Selat Hormuz.

Donald Trump mengatakan Teheran ingin kesepakatan. The New York Post melaporkan Iran sedang mengkaji penghentian pengayaan uranium (proses meningkatkan kadar uranium untuk kebutuhan energi atau militer), yang menjadi syarat AS untuk mengakhiri perang. EUR/USD naik setelah laporan tersebut.

Penjualan rumah yang sudah ada di AS (Existing Home Sales, indikator transaksi rumah yang telah dibangun) turun ke level terendah sembilan bulan sebesar 3,98 juta pada Maret, turun 3,6% dibanding bulan sebelumnya. Di Hungaria, Peter Magyar menang telak atas Viktor Orban, yang berkuasa selama 16 tahun.

Wakil Presiden ECB Luis de Guindos mengatakan dampak konflik bergantung pada lamanya, dan Vujcic dari ECB menyebut harga energi masih sesuai skenario dasar (baseline, perkiraan utama bank sentral). Pasar memantau PPI Maret (Producer Price Index, indeks harga di tingkat produsen), rata-rata 4 pekan ADP Employment Change (perkiraan perubahan pekerjaan sektor swasta), komentar pejabat The Fed, serta pernyataan ECB dari Philip Lane (dua kali) dan Mario Cipollone.

Buka akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

HSBC Asset Management: Saham teknologi China tetap jadi fokus utama, Chinext ditopang manufaktur, energi hijau, dan semikonduktor

HSBC Asset Management menyebut sektor teknologi China masih menjadi tema utama di pasar saham, meski perhatian global bergeser ke ketegangan di Timur Tengah. Ini dikaitkan dengan penguatan indeks Shenzhen ChiNext, yang ditopang manufaktur berteknologi tinggi, energi hijau, dan semikonduktor (chip—komponen utama perangkat elektronik).

Dalam dua tahun terakhir, indeks Shenzhen ChiNext—sering disebut “Nasdaq-nya China” karena banyak berisi saham perusahaan teknologi dan bertumbuh cepat—mencatat imbal hasil dua digit. Rencana lima tahun terbaru China menempatkan kemampuan teknologi sebagai prioritas, bersama peningkatan produktivitas dan kemandirian ekonomi (mengurangi ketergantungan pada luar negeri).

Prospek Sektor Teknologi China

Rencana ini bagian dari upaya menata ulang struktur ekonomi dan membangun sumber pertumbuhan dari dalam negeri. Artikel ini menyebut teknologi, AI (kecerdasan buatan—sistem yang meniru kemampuan berpikir manusia), dan industri berbasis inovasi tetap menjadi pusat prospek pasar saham China.

Strategi Opsi untuk ChiNext

Data ekonomi terbaru menguatkan pandangan positif ini, dengan PDB (Produk Domestik Bruto—ukuran total nilai produksi ekonomi) China kuartal I 2026 tumbuh 4,9% dan produksi industri Maret menunjukkan kekuatan khusus pada manufaktur berteknologi tinggi. Dukungan fundamental ini dapat membuat strategi menjual cash-secured put menarik bagi trader yang bersedia membeli saham jika harga turun. Cash-secured put adalah menjual opsi jual sambil menyiapkan dana tunai penuh untuk membeli aset jika opsi dieksekusi; tujuannya memperoleh premi (uang opsi) dan berpotensi membeli di harga lebih rendah.

Kami melihat volatilitas tersirat (implied volatility—perkiraan pasar atas besar-kecilnya pergerakan harga di masa depan yang memengaruhi harga opsi) pada indeks ini sudah turun dari puncaknya di akhir 2025. Kondisi ini membuat biaya membeli opsi lebih murah daripada sebelumnya. Karena itu, membuka posisi long call bisa lebih efisien untuk bertaruh harga akan naik dalam beberapa minggu ke depan. Long call berarti membeli opsi beli untuk mendapat keuntungan jika harga aset naik.

Komitmen pemerintah, yang ditegaskan kembali pada pertemuan kebijakan Maret 2026, untuk membangun “kekuatan produktif berkualitas baru” menjadi pendorong besar. Dukungan ini untuk AI dan semikonduktor mengurangi risiko kebijakan (kemungkinan perubahan aturan yang merugikan pasar) dan memperkuat alasan untuk melanjutkan investasi, karena prioritas pemerintah dinilai tidak berubah.

Mengingat pertumbuhan tahun ini stabil namun tidak meledak, strategi bull call spread juga bisa dipertimbangkan. Ini adalah strategi opsi dengan membeli call dan menjual call lain pada strike price (harga kesepakatan eksekusi opsi) yang lebih tinggi untuk menekan biaya awal, sambil tetap mendapat keuntungan dari kenaikan moderat indeks ChiNext.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Harga minyak mentah yang naik dan dolar AS yang melemah mendorong USD/CAD turun di bawah 1,3800 seiring penguatan dolar Kanada

USD/CAD turun sekitar 0,40% pada Senin ke dekat 1,3790, seiring Dolar Kanada menguat didukung kenaikan harga minyak dan melemahnya Dolar AS. Pasangan ini menembus di bawah 1,3840, mencetak titik terendah mingguan baru, dan membalikkan sebagian besar kenaikan awal April menuju 1,3950, sehingga berpeluang mencatat penurunan mingguan dua pekan beruntun.

WTI melonjak hingga 9% ke atas US$105 per barel setelah Presiden Donald Trump mengumumkan blokade AS di Selat Hormuz. Jalur ini pada praktiknya telah tertutup sejak akhir Februari, setelah perundingan AS dan Iran di Pakistan gagal.

Harga Energi Mengangkat Dolar Kanada

Kenaikan harga energi menopang Dolar Kanada, sementara Bank of Canada (BoC/bank sentral Kanada) mempertahankan suku bunga overnight (suku bunga acuan jangka sangat pendek) di 2,25% pada Maret. Keputusan BoC berikutnya dijadwalkan pada 29 April, bersamaan dengan Monetary Policy Report (laporan kebijakan moneter).

PPI AS (Producer Price Index/Indeks Harga Produsen, ukuran inflasi di tingkat produsen) untuk Maret diperkirakan 1,2% dibanding bulan sebelumnya (month-on-month/m/m; sebelumnya 0,7%) dan 4,6% dibanding tahun sebelumnya (year-on-year/y/y; sebelumnya 3,4%). Data ini rilis menjelang rapat FOMC (Federal Open Market Committee/komite penentu kebijakan suku bunga The Fed) pada 28–29 April.

Secara teknikal, USD/CAD diperdagangkan dekat 1,3792, di bawah 200-EMA 5 menit (Exponential Moving Average/rata-rata bergerak eksponensial 200 periode; indikator tren) di 1,3819 dengan Stochastic RSI (indikator momentum berbasis RSI) dekat 84. Pada grafik 4 jam, harga berada dekat 200-EMA di 1,3791, dengan support (area harga penahan penurunan) di 1,3790 dan 1,3680, sementara grafik harian menunjukkan support di 50-day EMA (EMA 50 hari) 1,3773 dan resistance (area hambatan kenaikan) di 200-day EMA (EMA 200 hari) 1,3815.

Pergeseran Kebijakan dan Volatilitas Mengubah Strategi Transaksi

Untuk pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi), kondisi yang lebih tenang biasanya mengurangi daya tarik strategi yang bergantung pada volatilitas tinggi (volatilitas = besarnya naik-turun harga). Tahun lalu, membeli opsi seperti straddle (strategi membeli opsi call dan put sekaligus pada harga strike yang sama) pada USD/CAD bisa menguntungkan karena pergerakan harga besar, namun kini menjual volatilitas lebih menarik. Strategi yang bisa dipertimbangkan antara lain menulis covered call (menjual opsi call sambil memiliki aset dasarnya/posisi long) terhadap posisi long USD/CAD yang sudah ada, atau menjual cash-secured put (menjual opsi put dengan dana disiapkan untuk membeli jika dieksekusi) di level yang dinilai menarik untuk masuk posisi long, misalnya dekat 1,3500.

Dengan kemungkinan BoC memangkas suku bunga lebih dulu daripada Federal Reserve, potensi penguatan Dolar Kanada terlihat terbatas. Ini membuat strategi bearish (antisipasi melemah) atau netral-cenderung-bearish terhadap CAD lebih menarik. Trader dapat mempertimbangkan membeli USD/CAD call spread (membeli opsi call dan menjual opsi call lain pada strike lebih tinggi untuk membatasi risiko dan biaya) untuk mencari keuntungan dari kenaikan bertahap pada pasangan mata uang, sekaligus membatasi risiko sambil menangkap potensi kenaikan yang didorong perbedaan arah kebijakan moneter.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

OCBC melihat mata uang Asia dan beta negara pengimpor minyak melemah seiring gejolak geopolitik mengangkat harga minyak mentah dan dolar; arus di Selat Hormuz meredakan risiko

Strategis OCBC Sim Moh Siong dan Christopher Wong memperkirakan nilai tukar mata uang Asia (foreign exchange/valas) akan membuka awal pekan lebih lemah. Mereka mengaitkannya dengan ketidakpastian geopolitik yang muncul lagi, harga minyak mentah yang lebih kuat, minat terhadap aset berisiko (risk appetite) yang menurun, serta meningkatnya permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman.

Mereka menilai mata uang yang lebih sensitif terhadap pergerakan pasar (high-beta) dan negara pengimpor minyak bersih (net oil importer) lebih rentan, termasuk KRW, THB, PHP, dan INR. Mereka memperkirakan mata uang yang pergerakannya cenderung lebih stabil (lower-beta) seperti CNH dan SGD akan lebih tahan.

Transit Hormuz Kembali Berjalan Terbatas

Mereka mencatat bahwa arus pelayaran terbatas melalui Selat Hormuz sudah kembali berjalan. Ini dapat menurunkan peluang pasar memasang harga untuk skenario gangguan paling parah, sehingga pembukaan pasar kemungkinan melemah tetapi tidak sampai terjadi aksi jual panik yang kacau (disorderly sell-off).

Jika konflik berlanjut dan harga minyak bertahan tinggi (elevated) alih-alih melonjak tajam, mereka memperkirakan pasar akan lebih fokus pada perbedaan “terms of trade” (rasio harga ekspor terhadap impor; semakin baik, biasanya mendukung mata uang). Mereka memilih AUD dibanding EUR dan tetap defensif pada mata uang Asia pengimpor minyak, termasuk KRW, INR, THB, dan PHP.

Dengan kenaikan terbaru minyak Brent di atas US$95 per barel dan Indeks Dolar AS (US Dollar Index/DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) menembus 106,5, kami memperkirakan awal pekan lebih lemah untuk banyak mata uang Asia. Ketidakpastian geopolitik ini mendorong permintaan defensif terhadap dolar. Kami melihat ini mirip dengan pola saat ketegangan Timur Tengah pada 2025.

Tahun lalu, kami melihat bagaimana mata uang yang sensitif terhadap risiko (high-beta) dan pengimpor minyak bersih seperti won Korea dan baht Thailand berkinerja lebih buruk saat harga minyak sulit turun (sticky: bertahan tinggi). Ketergantungan Korea Selatan pada impor energi, misalnya, membuat won melemah hingga melewati 1.380 per dolar pada periode tersebut. Pelaku pasar dapat mempertimbangkan membeli opsi jual (put, instrumen derivatif yang nilainya naik saat mata uang melemah) pada KRW, THB, dan INR untuk lindung nilai (hedge: mengurangi risiko kerugian) terhadap potensi penurunan lanjutan dalam beberapa pekan ke depan.

Favor Aud Over Eur

Sebaliknya, kami lebih menyukai mata uang negara pengekspor energi seperti dolar Australia, yang biasanya diuntungkan oleh naiknya harga komoditas, terutama dibanding kawasan pengimpor energi seperti Zona Euro. Surplus perdagangan Australia bulan lalu melampaui perkiraan, melebar menjadi A$12 miliar didorong ekspor LNG (gas alam cair) dan batu bara yang kuat. Ini mendukung pandangan kami untuk strategi seperti call spread pada AUD/EUR (kombinasi beli dan jual opsi beli/call untuk membatasi biaya sekaligus membatasi potensi keuntungan), dengan proyeksi perbedaan kinerja yang makin lebar.

Yuan China dan dolar Singapura diperkirakan lebih tahan dalam kondisi ini, seperti pada 2025. Kerangka kebijakan moneter Singapura yang kuat dan rezim nilai tukar China yang dikelola (managed currency: pergerakan mata uang dipandu otoritas) menjadi penyangga terhadap guncangan eksternal. Ini bukan mata uang yang kami incar untuk dijual (short: posisi yang untung jika harga turun) saat ini.

Ekonom DBS Philip Wee memperkirakan MAS akan membalikkan pelonggaran sebelumnya, mengembalikan pita kebijakan SGD NEER menuju normalisasi

Ekonom DBS Group Research Philip Wee memperkirakan Otoritas Moneter Singapura (MAS) akan membalikkan pelonggaran sebelumnya dengan menormalkan pita kebijakan **SGD Nominal Effective Exchange Rate (NEER)**—yakni nilai tukar dolar Singapura berdasarkan **keranjang mata uang mitra dagang**. Ia menilai proyeksi inflasi MAS akan naik akibat **guncangan energi** (kenaikan harga energi yang dipicu gangguan pasokan, bukan permintaan), serta mencatat posisi dolar Singapura berbobot perdagangan berada di atas titik tengah pita kebijakan.

Volatilitas pasar diperkirakan kembali setelah KTT Islamabad pada Minggu gagal mempertemukan Wakil Presiden AS J.D. Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. Laporan tersebut mengaitkannya dengan memudarnya harapan meredakan konflik AS–Iran.

Guncangan Pasokan Hormuz Mendorong Perubahan Kebijakan

Laporan menyebut Wakil Perdana Menteri Gan Kim Yong menggambarkan titik sempit (chokepoint) Hormuz sebagai yang terburuk sejak embargo minyak 1973. Situasi ini diperlakukan sebagai **guncangan pasokan**—gangguan aliran pasokan energi yang mendorong inflasi impor—bukan sekadar pergerakan harga biasa.

Laporan memproyeksikan MAS akan membalikkan dua penurunan “kemiringan” (slope) yang dilakukan pada Januari dan April 2025. Dalam kerangka MAS, **slope** adalah laju penguatan atau pelemahan yang diizinkan untuk SGD dalam pita NEER. Laporan memperkirakan MAS akan menaikkan proyeksi **inflasi inti (core inflation)**—inflasi yang biasanya tidak memasukkan komponen yang sangat bergejolak seperti makanan dan energi—menjadi 1,5–2,5% dari 1–2%, serta menaikkan proyeksi CPI-All Items (inflasi headline/umum).

Disebutkan pula SGD NEER sekitar 1,8% di atas titik tengah. Selain itu, USD/SGD masih mengikuti arah dolar AS global.

Kami menilai MAS akan memperketat kebijakan dengan menguatkan dolar Singapura. Ini terjadi setelah gagalnya KTT Islamabad yang mendorong harga energi global naik. Kondisi ini dilihat sebagai guncangan pasokan yang serius, sehingga bank sentral kemungkinan bertindak untuk menahan inflasi impor.

Ide Transaksi: Dolar Singapura Berpotensi Menguat

Langkah ini akan menjadi pembalikan langsung dari pelonggaran pada Januari dan April 2025. Data Maret 2026 menunjukkan inflasi inti Singapura mencapai 2,1% (year-on-year/tahunan), sudah menyentuh batas atas kisaran proyeksi lama MAS. Dengan Brent diperdagangkan di atas US$115 per barel sejak keputusan blokade Presiden Trump, kami memperkirakan MAS akan resmi menaikkan proyeksi inflasinya pada pertemuan berikutnya.

Pola serupa terlihat pada 2022 saat MAS memperketat kebijakan beberapa kali untuk meredam inflasi dari guncangan energi konflik Ukraina. Pernyataan Wakil PM yang menempatkan situasi Hormuz sebagai yang terburuk sejak 1973 mengisyaratkan respons yang kuat. Pelaku pasar perlu bersiap terhadap pita kebijakan SGD NEER yang **di-recenter** (titik tengah pita dipindahkan) atau **slope** dibuat lebih curam agar SGD bisa menguat lebih cepat.

Bagi pelaku pasar **derivatif** (instrumen turunan seperti opsi), ini membuka peluang untuk mengambil posisi penguatan SGD dalam beberapa pekan ke depan. SGD berbobot perdagangan sudah berada kuat di paruh atas pita kebijakan, sekitar 1,8% di atas titik tengah, menunjukkan kekuatan bahkan sebelum perubahan kebijakan resmi.

Namun dolar AS juga menguat sebagai **aset lindung nilai (safe haven)**, dengan indeks DXY menembus 108. Artinya, meski SGD berpotensi menguat, penguatannya terhadap USD bisa terbatas. Pelemahan pasangan USD/SGD bisa terjadi bertahap, bukan turun tajam.

Karena itu, pelaku pasar dapat mempertimbangkan membeli **opsi call SGD** (hak untuk membeli SGD pada harga tertentu) terhadap keranjang mata uang lain seperti euro atau yen yang tidak memiliki permintaan safe haven sebesar USD. Untuk pasangan utama, menjual opsi call USD/SGD **out-of-the-money** (harga kesepakatan di atas harga pasar saat ini) dengan **premi rendah** (biaya opsi) dapat menjadi cara mengekspresikan pandangan bahwa kenaikan USD/SGD terbatas. Strategi ini memanfaatkan potensi penguatan SGD sambil mengakui dorongan kuat dari penguatan dolar AS global.

Saat harga minyak naik, emas melemah, memicu kekhawatiran inflasi dan membuat bank sentral tetap berhati-hati memangkas suku bunga

Emas (XAU/USD) turun sekitar 0,20% pada Senin seiring harga minyak naik dan kekhawatiran inflasi meningkat. Emas diperdagangkan di US$4.734 setelah sempat menyentuh US$4.750 lebih awal.

Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran “sangat ingin” membuat kesepakatan dan bahwa Iran “tidak setuju untuk tidak memiliki senjata nuklir”. Ia juga mengatakan AS akan “mengambil kembali material nuklir”.

Risiko Timur Tengah dan Reaksi Dolar

Indeks Dolar AS (DXY)—ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama—berbalik melemah setelah komentar tersebut, turun 0,09% ke 98,61. AS memulai blokade di Selat Hormuz pada Senin pukul 10.00 EDT untuk menghentikan kapal berbendera Iran dan kapal yang berangkat dari pelabuhan Iran.

Penjualan Rumah Eksisting (Existing Home Sales)—data transaksi rumah yang sudah ada—di AS turun ke 3,98 juta pada Maret, turun 3,6% dibanding bulan sebelumnya dan menjadi level terendah dalam sembilan bulan. Namun, pasar lebih fokus pada situasi AS-Iran.

Presiden The Fed San Francisco Mary Daly mengatakan penahanan suku bunga lebih mungkin daripada kenaikan, dan suku bunga bisa tetap jika inflasi bertahan tinggi. CPI AS (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen)—ukuran inflasi di tingkat konsumen—naik 3,3% (year on year/tahun ke tahun) pada Maret, hampir 1% lebih tinggi dari Februari.

Imbal hasil (yield) Treasury AS tenor 10 tahun—tingkat bunga obligasi pemerintah AS—berada di 4,30%, turun 1,5 basis poin (bp; 1 bp = 0,01%). Data berikutnya mencakup ADP Employment Change—perkiraan perubahan pekerjaan sektor swasta—serta PPI (Producer Price Index/Indeks Harga Produsen) Maret, diperkirakan 4,6% (year on year).

Level Teknikal dan Pengaturan Volatilitas

Secara teknikal, emas memantul dari US$4.639, dengan SMA (Simple Moving Average/rata-rata bergerak sederhana) 20 hari dan 100 hari di US$4.658–US$4.668. Resistance (area hambatan) berada di US$4.750, lalu US$4.800, US$4.857, dan SMA 50 hari di US$4.897; support (area penopang) di US$4.700, lalu US$4.668/58 dan US$4.600.

Dengan tanggal saat ini 14 April 2026, emas terjepit antara risiko konflik yang meluas dengan Iran dan The Fed yang enggan memangkas suku bunga karena inflasi. Blokade baru AS di Selat Hormuz menjadi pendorong utama volatilitas (besar-kecilnya ayunan harga), sehingga trader bisa mempertimbangkan strategi yang diuntungkan saat harga bergerak besar. Ini berarti melihat opsi (options; kontrak yang memberi hak membeli/menjual di harga tertentu) seperti straddle atau strangle, yang bisa untung baik saat harga melonjak maupun turun tajam.

Gambaran inflasi menjadi tekanan besar bagi emas karena membuat yield Treasury tetap tinggi dan memperkuat alasan The Fed menahan suku bunga. Dengan CPI Maret melonjak ke 3,3%, pola yang mirip lonjakan inflasi awal 2022, proyeksi PPI 4,6% akan sangat menentukan. Tekanan harga yang bertahan membuat call option (opsi beli; hak membeli) berjangka panjang menjadi mahal, sehingga trader bisa memilih call spread (strategi membeli call dan menjual call lain untuk menekan biaya awal).

Kenaikan harga minyak mentah mendorong ketakutan inflasi, namun pasar juga perlu mencermati peluang meredanya ketegangan. Komentar Trump tentang Iran yang ingin membuat kesepakatan meningkatkan risiko headline (risiko harga bergerak karena berita) bagi siapa pun yang memegang posisi long emas. Karena itu, penting melindungi diri dari penurunan mendadak, misalnya dengan membeli put option (opsi jual; hak menjual) dengan strike price (harga kesepakatan) di bawah level kunci US$4.700.

Dari sisi teknikal, area sekitar US$4.660, tempat SMA 20 hari dan 100 hari bertemu, menjadi lantai support yang kuat. Banyak trader kemungkinan menjual cash-secured put (menjual put dengan dana tunai disiapkan untuk membeli aset jika terkena eksekusi) dengan strike di dekat level ini, untuk mengantongi premi (premium; biaya opsi) sambil menunggu peluang beli saat harga turun. Volatilitas di opsi emas kemungkinan tetap tinggi, seperti ketika GVZ (Gold Volatility Index/indeks volatilitas emas) bertahan di atas 18 selama gejolak geopolitik 2024.

Terlepas dari kekhawatiran risk-off setelah perundingan Iran–AS gagal dan laporan penutupan Selat Hormuz, dolar AS melemah

Indeks Dolar AS (DXY) turun pada Senin setelah laporan bahwa pembicaraan damai Iran–AS gagal dan Angkatan Laut AS dikerahkan untuk menutup Selat Hormuz. Harga pasar juga menunjukkan permintaan aset aman berkurang setelah Iran memberi sinyal mungkin menurunkan pengayaan uranium (proses meningkatkan kadar uranium untuk bahan bakar nuklir; sering memicu kekhawatiran keamanan).

EUR/USD naik mendekati 1,1765, terutama didorong melemahnya Dolar AS dan tanpa data baru dari Zona Euro. GBP/USD melanjutkan kenaikan sepekan ke area 1,3500, ditopang Dolar yang lebih lemah.

Major Moves In FX And Commodities

USD/JPY turun ke sekitar 159,30 karena Yen menguat tipis dan Dolar kehilangan dukungan. AUD/USD naik mendekati 0,7090 saat sentimen risiko (minat pasar pada aset berisiko seperti saham) membaik dan Dolar melemah.

Minyak mentah WTI turun ke US$98,90 per barel meski sebelumnya ada kekhawatiran gangguan di Selat Hormuz. Emas diperdagangkan di sekitar US$4.730 karena perhatian tetap pada aset berisiko.

Kalender mencakup Pertemuan IMF AS pada 14–17 April, serta data seperti neraca dagang China pada 14 April, inflasi (CPI) Prancis dan produksi industri Zona Euro pada 15 April, PDB China Kuartal I dan PDB Inggris pada 16 April, serta klaim pengangguran AS pada 16 April.

WTI adalah patokan harga minyak mentah AS yang diperdagangkan melalui Cushing (pusat penyimpanan dan pengiriman minyak di Oklahoma) dan dipengaruhi serta memengaruhi pasokan-permintaan, perang, sanksi, keputusan OPEC (kartel negara pengekspor minyak), dan Dolar AS. Laporan stok API dan EIA terbit mingguan; API adalah estimasi dari asosiasi industri, sedangkan EIA adalah data resmi pemerintah AS. OPEC memiliki 12 anggota.

Key Lessons From Last Year

Kita ingat pada periode yang sama tahun lalu, April 2025, pasar bereaksi tidak biasa terhadap berita Iran–AS. Dolar AS justru melemah meski biasanya ada dorongan ke aset aman, karena pelaku pasar menilai ancaman eskalasi tidak benar-benar akan terjadi. Ini menjadi pelajaran bahwa pasar kini lebih fokus pada kondisi ekonomi nyata daripada manuver politik.

Saat ini, Indeks Dolar AS kuat, bertahan di atas 105,5, berlawanan dengan pelemahan setelah insiden 2025. Kekuatan ini ditopang inflasi yang masih tinggi; data Indeks Harga Konsumen (CPI—ukuran perubahan harga barang dan jasa) Maret menunjukkan kenaikan tahunan 3,4%, menguatkan sikap bank sentral AS (Federal Reserve) “lebih tinggi lebih lama” (suku bunga tinggi dipertahankan lebih lama). Pelaku derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures) perlu mempertimbangkan bahwa pelemahan dolar kecil kemungkinan terjadi tanpa penurunan tajam pada data ekonomi.

Akibatnya, EUR/USD kesulitan bertahan di atas 1,0700, tertekan oleh kuatnya dolar dan meningkatnya ekspektasi Bank Sentral Eropa (ECB) memangkas suku bunga pada Juni. GBP/USD juga menghadapi tekanan di sekitar 1,2550, karena narasi dolar kuat menekan sebagian besar mata uang. Strategi opsi yang membatasi potensi kenaikan besar, seperti menjual call spread (menjual opsi beli dan membeli opsi beli lain pada harga lebih tinggi untuk membatasi risiko), bisa menarik.

Situasi Yen Jepang makin krusial karena kuatnya dolar mendorong USD/JPY menuju 157,00. Berbeda dari tahun lalu saat yen menguat, kini yen sangat lemah, sehingga pasar harus mewaspadai intervensi valuta asing oleh otoritas Jepang (aksi pemerintah/bank sentral membeli/menjual mata uang untuk menahan pergerakan). Jika terjadi, pasangan ini bisa turun tajam mendadak, sehingga posisi beli memiliki risiko gejolak (volatilitas—besarnya naik-turun harga) yang tinggi.

Minyak mentah WTI diperdagangkan sekitar US$85 per barel, lebih rendah dari US$98,90 saat kekhawatiran Selat Hormuz pada 2025. Harga saat ini ditopang bukan oleh ketakutan geopolitik sesaat, melainkan faktor dasar, termasuk pemangkasan pasokan OPEC+ (kerja sama OPEC dan negara mitra) yang disiplin dan laporan EIA yang menunjukkan persediaan AS turun 2,1 juta barel. Ini mengindikasikan peluang stabilitas harga lebih besar dibanding periode berita yang sangat bergejolak tahun lalu.

Volatilitas tersirat di pasar opsi (perkiraan gejolak harga ke depan yang tercermin dari harga opsi), yang diukur oleh indeks VIX (indikator “ketakutan” pasar saham AS), berada di level moderat sekitar 15. Ini jauh dari level panik pada gejolak geopolitik sebelumnya, menandakan pasar belum memasang harga untuk guncangan besar. Kondisi ini bisa membuat biaya membeli opsi relatif lebih murah untuk bersiap pada potensi penembusan harga (breakout) menjelang rilis data ekonomi penting pekan ini.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code