Back

Commerzbank: RBA Naikkan Suku Bunga ke 4,35%, Prioritaskan Risiko Inflasi, Namun Dolar Australia Tetap Lemah

Bank Sentral Australia (RBA) menaikkan suku bunga acuannya untuk ketiga kalinya tahun ini menjadi 4,35%. Keputusan ini lebih menekankan ekspektasi inflasi (perkiraan pasar dan pelaku usaha soal arah inflasi ke depan) serta risiko putaran kedua (kenaikan harga yang memicu kenaikan upah dan biaya lain, lalu mendorong kenaikan harga lagi) dibandingkan pelemahan Indeks Harga Konsumen (CPI) Maret. CPI adalah ukuran rata-rata perubahan harga barang dan jasa yang dibeli rumah tangga.

RBA memperkirakan inflasi naik ke 4,8% pada pertengahan tahun, dibanding 4,6% pada Maret. RBA juga memperkirakan inflasi tetap di atas target 2–3% sepanjang tahun.

Ekspektasi Inflasi dan Dampaknya ke Mata Uang

RBA menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun ini dan tahun depan. Kenaikan harga bahan bakar fosil (seperti minyak dan gas) terkait tekanan inflasi di tengah pertumbuhan yang melemah, sehingga memunculkan risiko stagflasi (inflasi tinggi saat ekonomi melambat).

Artikel ini menyebut kondisi tersebut negatif bagi Dolar Australia (AUD). Artikel itu juga mencatat naskah dibuat dengan alat Kecerdasan Buatan (AI) dan diperiksa editor.

Melihat kembali analisis dari 2025, RBA menaikkan suku bunga secara agresif hingga 4,35% untuk merespons proyeksi inflasi 4,8%, dengan prioritas menekan kenaikan harga meski pertumbuhan melemah. Pandangan saat itu: risiko stagflasi akan menekan Dolar Australia.

Pandangan tersebut terbukti pada paruh kedua 2025, ketika AUD/USD sulit bertahan dan sempat menguji area terendah sekitar 0,6300. (AUD/USD adalah kurs Dolar Australia terhadap Dolar AS.) Pertumbuhan PDB Australia 2025 tercatat lambat 1,2%, menegaskan kebijakan moneter ketat (kebijakan suku bunga tinggi untuk menekan permintaan) menahan aktivitas ekonomi. Ini menunjukkan bank sentral yang “hawkish” (cenderung menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi) tidak selalu membuat mata uang menguat jika pertumbuhan ekonomi melemah.

Posisi Opsi untuk Akhir 2026

Kini pada Mei 2026, situasi berubah, dengan kebijakan ketat tahun lalu mulai terasa. Data CPI triwulanan terbaru pekan lalu menunjukkan inflasi turun ke 3,4%, lebih dekat ke rentang target RBA. Karena itu, fokus pasar bergeser dari kenaikan suku bunga ke waktu dan kecepatan penurunan suku bunga.

Bagi pelaku pasar derivatif (instrumen turunan nilainya mengikuti aset lain) dalam beberapa pekan ke depan, mengambil posisi untuk AUD yang melemah masih dinilai lebih aman, namun alasannya berbeda dari setahun lalu. RBA diperkirakan harus memberi sinyal perubahan arah kebijakan menuju pelonggaran pada kuartal III untuk mendukung ekonomi yang rapuh. Membeli opsi jual (put option, kontrak yang memberi hak menjual pada harga tertentu sebelum jatuh tempo) AUD/USD dengan jatuh tempo akhir 2026 adalah cara langsung untuk memanfaatkan skenario ini.

Risiko utama bagi pandangan ini adalah perbedaan arah kebijakan Federal Reserve (bank sentral AS). Jika The Fed memberi sinyal penurunan suku bunga lebih cepat daripada RBA, selisih suku bunga (interest rate differential, perbedaan tingkat bunga antarnegara yang memengaruhi arus dana) bisa menyempit dan sementara menopang AUD. Karena itu, dipertimbangkan strategi seperti spread opsi jual (menggabungkan beli dan jual opsi jual pada level harga berbeda untuk menekan biaya awal dan membatasi risiko).

Inflasi IPC Fipe Brasil melambat menjadi 0,4% pada April, turun dari 0,59% pada pembacaan sebelumnya

Tingkat inflasi IPC FIPE Brasil sebesar 0,4% pada April.

Angka ini dibandingkan dengan 0,59% pada periode sebelumnya.

Dengan inflasi FIPE April sebesar 0,4%, lebih rendah dari 0,59% sebelumnya, arah makin jelas bagi bank sentral untuk melanjutkan siklus pelonggaran moneter (kebijakan menurunkan suku bunga agar ekonomi lebih bergairah). Perlambatan tekanan harga ini langsung mendukung sikap yang lebih “dovish” (cenderung mendukung penurunan suku bunga) terhadap suku bunga Selic (suku bunga acuan Brasil). Pasar kemungkinan mulai memperhitungkan peluang pemangkasan suku bunga yang lebih besar dalam beberapa bulan ke depan.

Respons paling langsung terlihat di pasar kontrak berjangka suku bunga. Imbal hasil (yield, tingkat keuntungan yang dipersyaratkan pasar) kontrak DI (kontrak berjangka suku bunga antarbank) untuk awal 2027 sudah turun. Kini pasar memperkirakan Selic mendekati 9,25% pada akhir tahun, dari 9,50% pekan lalu. Mengambil posisi beli (long, diuntungkan jika harga kontrak naik/yield turun) pada kontrak ini menjadi cara sederhana untuk memanfaatkan tren perlambatan inflasi (disinflasi, laju kenaikan harga melambat).

Prospek suku bunga domestik yang lebih rendah kemungkinan melemahkan Real Brasil karena keunggulan imbal hasilnya menyempit. Nilai tukar USD/BRL (kurs dolar AS terhadap real) sudah naik lebih dari 2% dalam sebulan terakhir dan diperdagangkan di sekitar 5,10, dan kabar ini bisa menambah dorongan. Perlu dipertimbangkan membeli opsi call (kontrak yang memberi hak membeli pada harga tertentu) pada USD/BRL untuk memanfaatkan peluang pergerakan menuju level 5,20.

Untuk saham, biaya pinjaman yang lebih rendah jelas positif. Indeks Ibovespa kesulitan menembus level resistensi (batas atas yang sulit ditembus) 130.000 poin, dan katalis ini bisa menjadi pendorong. Posisi bullish (bertaruh harga naik) melalui kontrak berjangka (futures) Ibovespa atau call spread (strategi opsi: beli call dan jual call lain untuk menekan biaya, dengan potensi untung terbatas) kini lebih menarik dibanding sepekan lalu.

Namun, semua posisi harus mempertimbangkan kondisi fiskal Brasil. Berita negatif tentang belanja pemerintah atau target utang dapat menutupi dampak positif data inflasi ini. Karena itu, penggunaan opsi untuk membatasi risiko atau menjaga stop-loss (batas rugi otomatis) yang disiplin pada kontrak berjangka sangat penting.

Radhika Rao dari DBS: Arus keluar portofolio dan harga minyak melemahkan INR, mendorong USD/INR menuju level 95,00

Rupee India kembali melemah, dan USD/INR bergerak lagi mendekati 95,00. Ini terjadi setelah arus keluar asing dari pasar keuangan (investor portofolio asing) yang terus berlanjut dan kondisi pasar global yang makin menghindari risiko (risk-off).

Harga minyak Brent tetap di atas US$100 per barel karena belum ada kemajuan jelas dalam negosiasi AS-Iran dan adanya penundaan terkait Selat Hormuz (jalur pelayaran penting pengiriman minyak). Kenaikan harga minyak meningkatkan risiko kenaikan harga BBM ritel di dalam negeri.

Tekanan Rupee dan Pendanaan Eksternal

Arus dana portofolio asing masih negatif, dengan arus keluar dari saham sebesar -US$5 miliar pada tahun fiskal berjalan dan arus keluar dari obligasi sebesar -US$0,7 miliar. Kondisi ini dikaitkan dengan meningkatnya risiko USD/INR naik (artinya Rupee melemah) dalam situasi pasar saat ini.

El Nino disebut sebagai sumber potensi tekanan inflasi (kenaikan harga) karena bisa memengaruhi cuaca dan produksi pangan. Imbal hasil (yield) obligasi acuan diperkirakan tetap tinggi karena pasar memasukkan kemungkinan pengetatan kebijakan (kenaikan suku bunga atau pengurangan likuiditas) dan risiko fiskal akibat subsidi yang lebih besar.

Laporan media menyebut bank sentral membahas peningkatan cadangan devisa (foreign exchange buffers) dan menarik arus masuk modal. Langkah yang disebut antara lain fasilitas untuk arus masuk dari non-residen (investor luar negeri) dan penghapusan pajak pemotongan (withholding tax, yaitu pajak yang dipotong langsung) atas kepemilikan obligasi offshore (obligasi yang dimiliki/diterbitkan di luar negeri).

Emas Naik di Atas US$4.550 Setelah Rebound dari Level Terendah Sebulan, Namun Ekspektasi Kebijakan Hawkish dan Dolar AS yang Kuat Membatasi Kenaikan

Harga emas bangkit dari posisi terendah satu bulan dan diperdagangkan di atas $4.550 pada awal perdagangan Eropa, Selasa. Kenaikan ini tidak dipicu faktor yang jelas, sementara ada hal-hal yang bisa membatasi penguatan, seperti Dolar AS yang tetap kuat dan ekspektasi suku bunga lebih tinggi.

Gencatan senjata antara AS dan Iran disebut rapuh setelah terjadi kekerasan di Teluk Persia pada Senin. UEA dan Korea Selatan melaporkan serangan terhadap kapal, dan UEA mengatakan terjadi kebakaran di Fujairah setelah serangan rudal dan drone Iran.

Ketegangan Timur Tengah dan Emas

Naiknya ketegangan turut mengangkat harga minyak mentah pada Senin, sehingga memicu lagi kekhawatiran inflasi dan kebijakan moneter yang lebih ketat. CME FedWatch Tool (alat yang memperkirakan peluang perubahan suku bunga The Fed berdasarkan harga kontrak futures suku bunga) menunjukkan peluang kenaikan suku bunga AS hingga akhir tahun sekitar 35%, naik dari di bawah 10% Jumat lalu.

Secara teknikal, emas masih tertekan selama berada di bawah SMA 200-periode di $4.655,02. (SMA 200-periode adalah rata-rata pergerakan sederhana 200 periode, indikator tren yang sering dipakai untuk melihat arah tren utama.) Harga menghadapi resistensi di sekitar $4.595,23, dengan level berikutnya di $4.711,12. (Resistensi adalah area harga yang sering menahan kenaikan karena banyak pelaku pasar cenderung menjual di sana.)

Level support disebut berada di $4.501,57 dan $4.407,90. (Support adalah area harga yang sering menahan penurunan karena banyak pelaku pasar cenderung membeli di sana.) Level penurunan berikutnya ada di $4.274,55 dan $4.104,68.

Bank sentral umumnya menargetkan inflasi sekitar 2%. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya mendukung mata uang (membuatnya lebih menarik) dan dapat menekan emas karena emas tidak memberi imbal hasil bunga (aset tanpa imbal hasil), sehingga biaya peluang memegang emas menjadi lebih mahal.

Strategi Opsi untuk Trader Emas

Emas terlihat pulih tipis, tetapi kenaikan ini belum cukup kuat. Pendorong utama—kekhawatiran inflasi dan Dolar AS yang kuat—masih berisiko menekan harga emas. Artinya, kenaikan bisa menjadi peluang jual, bukan awal tren naik baru.

Ketegangan di Timur Tengah mendorong harga minyak naik, sehingga pasar kembali cemas soal inflasi. Pada periode inflasi tinggi tahun 2022, The Federal Reserve menaikkan suku bunga secara agresif, yang akhirnya menguatkan dolar dan membatasi kenaikan emas. Pola serupa bisa muncul lagi, karena pasar menilai peluang kenaikan suku bunga tahun ini sekitar 35%.

Konflik AS–Iran menambah ketidakpastian, sehingga pergerakan harga bisa lebih tajam. Ini berarti volatilitas (tingkat naik-turun harga) berpotensi meningkat dalam waktu dekat. Bagi trader opsi, kondisi seperti ini bisa menguntungkan karena harga opsi kemungkinan naik saat implied volatility meningkat. (Implied volatility adalah perkiraan volatilitas ke depan yang tercermin dalam harga opsi; biasanya makin tinggi, makin mahal premi opsi.) Secara historis, guncangan geopolitik membuat indeks volatilitas melonjak, dan dampak serupa bisa terjadi pada emas.

Bagi yang memperkirakan emas turun, membeli put option (opsi jual, memberi hak menjual pada harga tertentu) dengan strike price (harga patokan eksekusi opsi) di bawah support $4.500 bisa menjadi cara langsung. Strategi yang lebih konservatif adalah bear put spread (membeli put dan menjual put lain pada strike lebih rendah) untuk membatasi potensi untung dan risiko. Ini bisa menargetkan support berikutnya di sekitar $4.407 jika tekanan turun berlanjut.

Dengan resistensi kuat di sekitar $4.600, menjual call spread (menjual call dan membeli call lain pada strike lebih tinggi untuk membatasi risiko) di atas level ini dapat menjadi cara mengumpulkan premium (premi, yaitu biaya yang diterima/dibayar untuk opsi). Ini adalah taruhan bahwa emas tidak mampu menembus “batas atas” itu dalam beberapa pekan ke depan. Bagi trader yang belum yakin arah, tetapi memperkirakan pergerakan besar, long straddle (membeli call dan put pada strike yang sama) bisa menangkap lonjakan harga akibat berita dari Teluk Persia.

TD Securities memperkirakan USD/JPY akan terkonsolidasi di sekitar 157,00 pada kuartal II 2026 setelah intervensi Kemenkeu Jepang memicu penurunan 3%

USD/JPY turun 3% Kamis lalu setelah intervensi (aksi pemerintah di pasar valuta asing untuk memengaruhi nilai tukar) oleh Kementerian Keuangan Jepang. TD Securities memperkirakan pasangan ini akan bergerak mendatar (konsolidasi: harga cenderung bergerak dalam kisaran sempit) di sekitar 157,00 pada kuartal II 2026.

Level 160,00 kini dipandang pasar sebagai batas tidak resmi (threshold: ambang psikologis). Ini diperkirakan membatasi kenaikan dan mengurangi pembukaan posisi beli baru (long positioning: posisi yang untung jika harga naik).

Intervensi Menetapkan Batas Atas Pasar

TD Securities memperkirakan kembalinya USD/JPY ke level sebelum intervensi akan lebih lambat dibanding episode sebelumnya. Selama ini, aksi Kementerian Keuangan cenderung menahan pergerakan cepat yang bersifat spekulatif (spekulatif: didorong taruhan jangka pendek), bukan mempertahankan satu kurs tertentu.

Dengan intervensi terbaru, level 160,00 di USD/JPY diperkirakan menjadi batas atas yang kuat dalam waktu dekat. Ini membuat strategi menjual opsi beli di luar harga pasar (out-of-the-money call options: opsi beli dengan harga kesepakatan di atas harga saat ini, sehingga belum bernilai jika langsung dieksekusi) dengan harga kesepakatan (strike price: harga yang disepakati dalam kontrak opsi) 160 atau lebih menarik dalam beberapa pekan ke depan. Trader bisa memperoleh premi (premium: uang yang diterima penjual opsi) dengan bertaruh pasangan ini tidak menembus level tersebut.

Skala intervensi pekan lalu, diperkirakan lebih dari ¥9 triliun, menunjukkan komitmen kuat yang terakhir terlihat pada operasi besar pada musim semi 2024. Aksi baru ini memperkuat kredibilitas batas 160,00. Kenaikan jangka pendek menuju level itu dapat menjadi peluang untuk membuka posisi yang diuntungkan jika kenaikan tertahan (capped upside: potensi naik terbatas).

TD Securities memperkirakan pasangan ini memasuki fase konsolidasi di sekitar 157,00, sehingga volatilitas (volatility: besarnya naik-turun harga) menurun dari level tinggi pekan lalu. Kondisi ini cocok untuk strategi menjual opsi yang diuntungkan dari penyusutan nilai karena waktu (time decay: nilai opsi turun mendekati jatuh tempo), seperti short strangle (menjual call dan put sekaligus pada strike berbeda untuk mengincar premi saat harga bergerak dalam kisaran) atau iron condor (strategi opsi dengan menggabungkan jual-beli call dan put untuk membatasi risiko dan mengincar premi jika harga bertahan dalam rentang tertentu). Posisi ini diuntungkan selama USD/JPY tetap stabil dalam kisaran.

Perdagangan Dalam Rentang Menguntungkan Premi Opsi

Namun penurunan tajam dinilai kecil karena pendorong utama, selisih suku bunga (interest rate differential: perbedaan tingkat suku bunga) antara AS dan Jepang, masih lebar di atas 3 poin persentase. Dukungan ini diperkirakan menahan pelemahan berkepanjangan jauh di bawah area 152–153. Ini mengindikasikan bahwa meski menjual call menarik, membeli opsi jual (puts: opsi yang untung jika harga turun) secara agresif berpotensi kurang efektif.

Analis Deutsche Bank menyebut S&P 500 mundur dari rekor tertinggi seiring kenaikan harga minyak dan imbal hasil Treasury AS

S&P 500 turun 0,41% dari rekor tertinggi, setelah harga minyak yang lebih tinggi dan kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury (obligasi pemerintah AS) menekan aset berisiko (risk assets, seperti saham). Meski turun, indeks ini masih 13,5% di atas level terendahnya pada 30 Maret.

Kontrak berjangka (futures, perjanjian jual-beli untuk harga di masa depan) naik 0,13% semalam. Pasar Asia yang diperdagangkan saat itu mayoritas melemah.

Market Breadth And Sector Performance

Pelemahan terjadi luas (broad-based), dengan 70% konstituen (saham anggota) S&P 500 turun pada hari itu. Semua sektor utama melemah kecuali Energi, yang naik 0,85%.

Industri (Industrials) turun 1,17% dan Material (Materials) turun 1,57%, memimpin penurunan. Teknologi lebih bertahan, dengan Nasdaq turun 0,19% dan “Mag-7” (tujuh saham teknologi berkapitalisasi besar) naik 0,04%.

Imbal hasil Treasury dan harga minyak berjangka (oil futures) untuk tenor lebih panjang (kontrak dengan jatuh tempo lebih lama) mencapai level tertinggi baru sejak perang Iran. Artikel itu menyebut pertumbuhan laba (earnings) kuartal I di AS yang kuat dipimpin saham teknologi.

Options Positioning And Risk Hedges

Kami melihat S&P 500 mulai turun dari puncaknya karena harga minyak dan imbal hasil obligasi menjadi hambatan. Trader dapat mempertimbangkan membeli put protektif (protective puts, opsi jual untuk membatasi kerugian) pada indeks luas seperti SPY (ETF yang mengikuti S&P 500), karena ini berfungsi sebagai lindung nilai (hedge, pelindung) jika koreksi (penurunan pasar) makin dalam dalam beberapa pekan ke depan. Imbal hasil Treasury 10 tahun menyentuh 4,85% untuk pertama kalinya tahun ini, menandakan biaya pinjaman (borrowing costs, bunga kredit) makin mengkhawatirkan valuasi saham (equity valuations, penilaian harga saham).

Sektor energi tetap menjadi pemenang yang jelas, didukung harga minyak mentah WTI (West Texas Intermediate, patokan harga minyak AS) yang kini melampaui US$95 per barel di tengah disiplin OPEC+ (pembatasan produksi oleh OPEC dan sekutunya). Kami memilih posisi bullish (strategi yang diuntungkan saat harga naik), seperti membeli opsi call (hak beli pada harga tertentu) pada ETF XLE (ETF sektor energi) atau menjual cash-secured puts (menjual opsi jual dengan dana tunai disiapkan untuk membeli jika dieksekusi) untuk memanfaatkan premi (premium, harga opsi) yang tinggi. Langkah ini bertaruh pada kekuatan komoditas (commodity strength, harga bahan baku yang tetap kuat), yang belum menunjukkan tanda melemah dalam waktu dekat.

Sebaliknya, sektor industri dan material terlihat lemah, dan kami memperkirakan tren ini bisa berlanjut jika biaya input (input costs, biaya bahan baku/komponen) tetap tinggi. Trader derivatif (produk turunan seperti opsi) dapat menyatakan pandangan bearish (diuntungkan saat harga turun) dengan membeli put pada ETF seperti XLI atau membuat bear call spreads (strategi menjual call dan membeli call lain di harga lebih tinggi untuk membatasi risiko). Strategi ini untung jika sektor-sektor tersebut turun lagi atau gagal naik melewati level resistensi (resistance, area harga yang sulit ditembus) sebelum rilis data ekonomi utama berikutnya.

Sementara saham teknologi masih bertahan untuk saat ini, kecemasan pasar mendorong indeks VIX (Volatility Index, ukuran “ketakutan”/perkiraan gejolak pasar) naik di atas 18, melonjak lebih dari 25% dalam dua pekan terakhir. Ini menyarankan mempertimbangkan posisi long volatilitas (long volatility, diuntungkan saat gejolak naik), seperti membeli call pada produk terkait VIX, sebagai taruhan langsung pada meningkatnya turbulensi pasar menjelang rilis data CPI April (Consumer Price Index, indeks harga konsumen/inflasi). Rotasi sektor (perpindahan minat investor antar sektor) ini mirip dengan yang terlihat pada kuartal IV 2025 ketika lonjakan harga energi memicu aksi jual singkat namun tajam pada saham industri.

Analis ING Warren Patterson dan Ewa Manthey mengatakan ketegangan di Teluk Persia mendongkrak harga ICE Brent karena kekhawatiran pasokan

ICE Brent naik setelah konflik baru di Teluk Persia kembali memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak. ING menyebut harga melonjak 5,8% dan ditutup di atas US$114 per barel.

Artikel itu menyebut gencatan senjata antara AS dan Iran menunjukkan tanda-tanda melemah, setelah AS menyerang sejumlah kapal Iran. Artikel itu juga melaporkan Iran kembali menyerang infrastruktur di negara tetangga.

Risiko Pasokan Dorong Brent Naik

UEA mencegat beberapa rudal Iran, dan pelabuhan Fujairah terkena serangan drone (pesawat tanpa awak). Fujairah berada di luar Selat Hormuz, sehingga ekspor minyak UEA tetap berjalan dan bahkan meningkat meski perang dan pemblokiran Selat tersebut.

AS mulai mengawal kapal dagang melewati Selat Hormuz lewat “Project Freedom” (program pengawalan/pendampingan kapal). Dua kapal dagang berbendera AS telah melintasi selat itu dalam skema tersebut, menurut AS.

Artikel itu mencatat pernyataan Presiden Trump yang mengisyaratkan konflik bisa berlanjut dua hingga tiga minggu lagi. Disebut juga artikel dibuat dengan alat AI (kecerdasan buatan) dan ditinjau editor.

Kenaikan ini mencerminkan pola lama: pasar memasukkan “risiko pasokan” ke harga Brent, seperti saat ketegangan 2025. Ketegangan geopolitik saat ini mendorong kontrak berjangka Brent bulan terdekat (front-month futures, yaitu kontrak yang paling dekat jatuh tempo) naik di atas US$95 per barel, karena pasar sangat peka terhadap potensi gangguan. Situasi ini mirip lonjakan ke US$114 per barel ketika insiden angkatan laut AS-Iran terjadi sebelumnya.

Pendekatan Trading Saat Volatilitas Lebih Tinggi

Kondisi dasar pasar sudah ketat, sehingga lebih reaktif terhadap berita. Data EIA (lembaga energi AS) menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah yang tak terduga sebesar 3,1 juta barel (inventory drawdown, artinya stok turun), sehingga bantalan pasokan makin tipis jika ada gangguan. Serangan ke infrastruktur UEA pada 2025, khususnya pelabuhan Fujairah, menegaskan jalur ekspor tetap rentan meski berada di luar Selat Hormuz.

Bagi trader, lonjakan ketidakpastian ini mengarah pada pembelian perlindungan terhadap kenaikan harga lanjutan. Indeks Volatilitas Minyak Mentah CBOE (OVX, ukuran perkiraan naik-turun harga yang tersirat dari harga opsi) naik ke level tertinggi enam bulan di 42, menandakan premi opsi (biaya membeli opsi) naik cepat. Karena itu, posisi long langsung pada opsi call jangka dekat atas kontrak berjangka Brent (call option memberi hak membeli di harga tertentu) bisa efektif untuk menangkap kelanjutan kenaikan.

Strategi dengan risiko lebih terukur adalah bull call spread, yaitu membeli opsi call di satu strike price (harga patokan) dan menjual opsi call lain di strike yang lebih tinggi untuk menekan biaya awal, dengan imbal hasil maksimum dibatasi. Ini lebih hati-hati karena pernyataan diplomatik bisa cepat membalikkan sentimen. Hal seperti ini terlihat pada 2025 ketika komentar resmi soal konflik yang singkat memicu keraguan pasar dan membuat harga berayun tajam (whipsaw, artinya naik-turun cepat dan berlawanan arah).

Ke depan, pergerakan kapal melalui Selat Hormuz dan perubahan asuransi pengapalan perlu dipantau. Premi risiko perang untuk tanker di wilayah itu dilaporkan sudah dua kali lipat dalam sepekan terakhir. Ini indikator langsung dari persepsi risiko dan akan menjadi faktor penting penggerak harga minyak dalam beberapa minggu ke depan.

Strategis OCBC mengatakan ketegangan di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak memperburuk sentimen, meningkatkan risiko penurunan harga perak

Perak kembali melemah setelah dua sesi menguat, setelah eskalasi baru di Timur Tengah menekan sentimen risiko pasar secara luas. Kenaikan harga minyak juga menambah tekanan, karena pasar khawatir risiko inflasi dapat membuat Federal Reserve AS tetap berhati-hati.

Perak dinilai lebih rapuh dan lebih mudah bergejolak dibanding emas, karena pergerakannya terkait dengan pertumbuhan ekonomi dan permintaan industri (kebutuhan perak untuk sektor manufaktur seperti elektronik dan panel surya) selain permintaan logam mulia (permintaan untuk aset “penyimpan nilai”). Setelah gagal menembus kenaikan, momentum jangka pendek tetap lemah dan reli (kenaikan singkat) diperkirakan akan dijual kembali kecuali dolar AS, imbal hasil (yield) US Treasury, dan sentimen risiko membaik.

Momentum harian cenderung bearish ringan (bias turun), sementara kenaikan terbaru pada relative strength index/RSI (indikator teknikal untuk mengukur kekuatan beli-jual; umumnya di atas 70 dianggap jenuh beli dan di bawah 30 jenuh jual) mulai mereda. Risiko dinilai lebih condong ke arah penurunan.

Level support terdekat ditetapkan di 70 dan 63,50, dengan 63,50 disebut sebagai rata-rata pergerakan 200 hari (200-day moving average/DMA, garis rata-rata harga 200 hari yang sering dianggap penopang tren jangka menengah). Penembusan di bawah level ini dikaitkan dengan potensi koreksi menuju 50.

Resistance berada di 75, yang diidentifikasi sebagai rata-rata pergerakan 21 hari (21-day DMA, indikator tren jangka pendek). Resistance berikutnya berada di 78 dan 80, masing-masing sesuai dengan rata-rata pergerakan 50 hari dan 100 hari (50-day dan 100-day DMA, acuan tren jangka menengah).

Kami melihat perak kembali melemah karena ketegangan baru di Timur Tengah dan harga minyak yang melonjak lagi di atas US$95 per barel membuat pelaku pasar waspada. Kondisi ini membuat prospek perak lebih rapuh daripada emas karena perak juga bergantung pada permintaan industri, yang biasanya melambat saat ketidakpastian meningkat. Momentum kenaikan harga terhenti setelah gagal menembus level lebih tinggi.

Dengan keterkaitan perak pada pertumbuhan industri, kinerjanya menjadi sinyal yang kurang baik. Data global manufacturing PMI (Purchasing Managers’ Index/Indeks Manajer Pembelian, survei yang mengukur aktivitas pabrik; di bawah 50 berarti kontraksi/penyusutan) April 2026 menunjukkan kontraksi untuk bulan ketiga berturut-turut, menandakan pelemahan permintaan industri yang menjadi sandaran perak. Ini menegaskan posisi perak yang lebih lemah dibanding emas, yang lebih diuntungkan oleh perpindahan dana ke aset aman (flight to safety, arus dana keluar dari aset berisiko menuju aset yang dianggap lebih aman).

Lingkungan makroekonomi juga menekan perak. Dengan yield US Treasury 10 tahun bertahan di atas 4,5% (imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun, acuan suku bunga pasar), daya tarik aset tanpa imbal hasil seperti perak berkurang. Tekanan ini diperkirakan belum mereda dalam waktu dekat, terutama karena dolar AS tetap kuat.

Untuk beberapa pekan ke depan, strategi yang memanfaatkan penurunan harga atau kenaikan yang terbatas patut dipertimbangkan. Membeli opsi jual (put options, kontrak derivatif yang memberi hak menjual pada harga tertentu; nilai biasanya naik saat harga aset turun) dengan harga kesepakatan (strike price, harga patokan dalam kontrak opsi) di bawah support 70 bisa menjadi cara langsung untuk mengambil posisi atas potensi penurunan menuju DMA 200 hari di 63,50. Penembusan yang jelas di bawah support itu dapat membuka ruang koreksi yang lebih dalam menuju level 50.

Jika reli diperkirakan tidak bertahan lama, menjual opsi beli (call options, kontrak derivatif yang memberi hak membeli pada harga tertentu; penjual diuntungkan jika harga tidak naik melewati level tertentu) atau menerapkan bear call spread (strategi opsi: menjual call di strike lebih rendah dan membeli call di strike lebih tinggi untuk membatasi risiko; untung jika harga bergerak turun/sideways) dengan strike di sekitar resistance 75 dan 78 dapat menjadi strategi yang masuk akal. Pendekatan ini diuntungkan jika harga perak tetap di bawah level tersebut, sejalan dengan pandangan bahwa setiap kenaikan kemungkinan akan kembali tertekan.

Pengangguran Spanyol pada April turun 62,668 ribu, jauh melampaui perkiraan penurunan 18,6 ribu

Pengangguran terdaftar di Spanyol turun 62.668 orang pada April. Perkiraan sebelumnya mengarah pada penurunan 18,6 ribu.

Angka April menunjukkan penurunan lebih besar dari perkiraan. Laporan ini mencakup pengangguran terdaftar di Spanyol (jumlah orang yang tercatat resmi sebagai pencari kerja di kantor layanan ketenagakerjaan, bukan total pengangguran versi survei).

Kejutan Pasar Tenaga Kerja Spanyol

Penurunan pengangguran Spanyol yang jauh lebih besar dari perkiraan mengindikasikan ekonomi lebih kuat dari yang dihitung pasar. Data ini—turun lebih dari 62 ribu dibanding ekspektasi sekitar 18 ribu—mengisyaratkan permintaan konsumen dan aktivitas domestik tetap solid. Karena itu, pandangan jangka pendek bisa lebih positif terhadap saham-saham Spanyol.

Dengan momentum ini, strategi yang bisa dipertimbangkan adalah membeli opsi beli (call option: kontrak yang memberi hak membeli aset pada harga tertentu sebelum tanggal tertentu) pada indeks IBEX 35 atau ETF yang mengikuti saham Spanyol seperti EWP (ETF: reksa dana yang diperdagangkan di bursa). Menargetkan jatuh tempo Juni atau Juli 2026 memberi waktu agar posisi berkembang sekaligus menangkap perubahan sentimen dalam waktu dekat. Ini bertaruh pada gagasan bahwa pasar akan menilai kesehatan ekonomi Spanyol lebih tinggi.

Laporan ini juga memperkuat tren yang mulai terlihat. PDB (Produk Domestik Bruto: total nilai barang dan jasa yang dihasilkan) Spanyol tumbuh 0,7% pada kuartal I 2026, melampaui Zona Euro yang 0,3%. Pembacaan terbaru PMI jasa (Purchasing Managers’ Index: survei aktivitas bisnis; angka di atas 50 berarti ekspansi) untuk April juga kuat di 56,2, menandakan ekspansi yang solid di sektor terbesar ekonomi.

Dinamika serupa terlihat pada paruh kedua 2025. Data ketenagakerjaan Eropa Selatan yang lebih kuat dari perkiraan mendahului reli luas pada saham siklikal (saham yang kinerjanya sensitif terhadap siklus ekonomi) selama beberapa pekan. Sejarah menunjukkan pasar kerap meremehkan ketahanan pemulihan pasar tenaga kerja Spanyol.

Volatilitas dan Posisi Pasar

Dari sisi volatilitas (ukuran besar-kecilnya fluktuasi harga), kepastian positif ini bisa menekan volatilitas tersirat (implied volatility: perkiraan volatilitas yang tercermin dalam harga opsi) pada aset Spanyol. Menjual opsi jual out-of-the-money (put OTM: opsi jual dengan harga pelaksanaan di bawah harga pasar saat ini) pada bank-bank besar Spanyol seperti Santander atau BBVA bisa menjadi cara untuk mengumpulkan premi (premium: uang yang diterima penjual opsi), dengan memanfaatkan sentimen positif dan potensi volatilitas yang lebih rendah. Namun, tetap perlu mencermati kebijakan Bank Sentral Eropa, karena rapat berikutnya bisa memunculkan ketidakpastian lagi.

Michael Wan dari MUFG: Arus Keluar Modal Membuat Rupee Rentan; RBI Bisa Tarik Arus Masuk Dolar lewat Swap dan Penyesuaian Pajak

Rupee India memasuki periode konflik Iran ketika sudah menghadapi arus keluar modal yang besar, sehingga makin rentan. Dong Vietnam juga disebut mengalami arus keluar, namun skalanya lebih kecil.

Reuters melaporkan Bank Sentral India (Reserve Bank of India/RBI) sedang mempertimbangkan langkah untuk menarik lebih banyak arus masuk Dolar AS. Opsi yang disebut antara lain skema swap FCNR seperti 2013 (mekanisme pertukaran yang melibatkan simpanan valas milik warga India di luar negeri untuk menambah pasokan dolar dan menstabilkan nilai tukar) serta penghapusan pajak pemotongan (withholding tax, yaitu pajak yang dipotong langsung saat pembayaran) atas kepemilikan obligasi pemerintah oleh investor luar negeri.

MUFG memproyeksikan USD/INR diperdagangkan di kisaran 95,00–96,00 dalam 12 bulan ke depan. Perkiraan ini mengisyaratkan Rupee tetap berkinerja lebih lemah dibanding Dolar AS (underperformance, artinya nilainya turun atau tertinggal dibanding mata uang pembanding) pada periode tersebut.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code