Back

Teheran Mengecam Usulan Blokade Laut Washington yang Membatasi Kapal Masuk dan Keluar, Menurut Media Pemerintah Iran

Media pemerintah Iran, IRIB, melaporkan bahwa juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya Iran pada Senin, saat jam perdagangan Eropa, mengatakan Teheran mengecam rencana AS memblokade kapal yang masuk dan keluar pelabuhan Iran.

Sebelumnya pada Senin, Presiden AS Donald Trump menulis di Truth Social bahwa Amerika Serikat akan memblokade kapal yang masuk atau keluar pelabuhan Iran pada 13 April pukul 10.00 ET (14.00 GMT).

Iran Merespons Rencana Blokade AS

Juru bicara itu mengatakan tidak akan ada keamanan bagi pelabuhan di Teluk Persia jika keamanan Iran sendiri terancam. Ia juga menyebut pembatasan pergerakan kapal oleh AS sebagai tindakan ilegal dan “pembajakan” (perampasan atau penguasaan kapal secara paksa di laut).

Ia menambahkan, kapal yang terkait dengan musuh Iran tidak akan diizinkan melintas di Selat Hormuz (jalur laut sempit yang menjadi pintu utama pengiriman minyak dari Teluk Persia ke pasar dunia).

Dengan AS bersiap memblokade pelabuhan Iran dan Teheran mengancam Selat Hormuz, pasar energi berisiko bergejolak tajam. Sekitar seperlima konsumsi minyak harian dunia melewati jalur sempit ini, sehingga gangguan apa pun dapat memicu “guncangan pasokan” (pasokan tiba-tiba berkurang, harga mudah melonjak). Kondisi ini biasanya mendorong pelaku pasar mengambil posisi beli (long, yaitu bertaruh harga naik) pada kontrak berjangka (futures, perjanjian membeli/menjual di harga tertentu untuk waktu mendatang) minyak WTI dan Brent untuk bulan-bulan terdekat (front months, kontrak yang paling dekat jatuh temponya).

Contoh serupa terjadi pada 2019 saat fasilitas minyak Arab Saudi diserang dan memicu lonjakan harga minyak harian terbesar dalam beberapa dekade. Kontrak berjangka Brent melonjak hampir 20% dalam satu sesi, menunjukkan pasar bisa cepat memasukkan risiko pasokan ke harga. Preseden ini mendukung strategi membeli opsi beli (call option, hak untuk membeli aset di harga tertentu sebelum tanggal tertentu) pada ETF minyak utama (ETF, reksa dana yang diperdagangkan di bursa) untuk menangkap potensi kenaikan.

Hedging Volatilitas, Emas, dan Saham

Ancaman konfrontasi langsung AS-Iran berpotensi memicu aksi menghindari risiko (risk-off, investor mengurangi aset berisiko). Indeks Volatilitas CBOE (VIX, sering disebut “indeks ketakutan” yang mengukur perkiraan gejolak pasar saham AS) berpeluang melonjak dari kisaran belasan ke atas 25 bahkan 30. Karena itu, investor biasanya mempertimbangkan membeli opsi beli VIX atau kontrak berjangka VIX untuk lindung nilai (hedge, perlindungan portofolio) dari penurunan pasar yang luas.

Dalam tekanan geopolitik besar, dana sering mengalir ke aset aman (safe haven, aset yang cenderung lebih stabil saat krisis), dan kali ini diperkirakan serupa. Pada awal 2022, harga emas naik lebih dari 10% dalam beberapa pekan setelah konflik di Ukraina dimulai, mendekati rekor. Karena itu, sebagian pelaku pasar menambah eksposur (porsi investasi) lewat kontrak berjangka emas atau opsi beli pada ETF yang didukung emas (ETF yang kepemilikannya ditopang cadangan emas).

Harga energi yang lebih tinggi dan risiko konflik meluas dapat menjadi hambatan bagi pasar saham global. Kombinasi tekanan inflasi dari minyak dan sentimen menghindari risiko berpotensi menekan indeks seperti S&P 500 (indeks 500 saham besar AS). Sebagai perlindungan, sebagian investor menggunakan opsi jual (put option, hak menjual aset di harga tertentu) pada SPY (ETF yang melacak S&P 500) atau SPX (indeks S&P 500 yang menjadi acuan derivatif) untuk mengantisipasi koreksi pasar (penurunan harga setelah periode naik) dalam beberapa pekan ke depan.

Strategi Deutsche Bank melaporkan kontrak berjangka S&P 500 melemah seiring ketegangan Iran mendongkrak biaya energi, memburuknya sentimen risiko

Futures S&P 500 turun seiring eskalasi konflik Iran dan naiknya harga energi, menekan sentimen risiko global (minat investor untuk mengambil aset berisiko). Analis strategi Deutsche Bank juga menyinggung pergerakan **risk-off** (investor mengurangi risiko, berpindah ke aset yang dianggap aman) setelah pembicaraan AS–Iran berakhir tanpa kesepakatan, serta rencana blokade AS di Selat Hormuz untuk kapal yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran.

Minyak Brent naik +7,39% menjadi US$102,24 per barel, memicu kekhawatiran **guncangan stagflasi** (kombinasi perlambatan ekonomi dan inflasi tinggi). Futures S&P 500 turun -0,73%, sementara futures DAX turun -1,47%, dengan Eropa dinilai lebih rentan terhadap guncangan energi.

Key Market Focus For The Week Ahead

Konflik Iran diperkirakan tetap menjadi fokus utama pekan depan, bersamaan dimulainya musim laporan kinerja (earnings) kuartal I. Rilis pekan ini mencakup sejumlah perusahaan keuangan AS.

Tim ekuitas AS Deutsche Bank menyebut konsensus analis **bottom-up** (perkiraan yang disusun dari proyeksi masing-masing perusahaan lalu dijumlahkan) memperkirakan pertumbuhan laba S&P 500 di kisaran “belasan persen” sebesar 16%, didukung kondisi makroekonomi. Mereka juga memproyeksikan pertumbuhan lebih kuat yang dipimpin perusahaan teknologi berkapitalisasi sangat besar (megacap) dan sektor keuangan selama musim laporan.

Options Positioning And Risk Management

Di tengah ketidakpastian geopolitik yang berlanjut, **volatilitas tersirat** (perkiraan pasar atas besarnya pergerakan harga ke depan yang tercermin dalam harga opsi) meningkat, dengan **VIX** (indeks volatilitas pasar saham AS) naik ke atas 17 dalam beberapa sesi terakhir. Kondisi ini membuka peluang membeli **proteksi** terhadap penurunan mendadak, seperti skenario yang dikhawatirkan saat blokade Selat Hormuz. Trader dapat mempertimbangkan membeli **put** (opsi jual, yang nilainya naik saat harga aset turun) pada indeks pasar luas seperti **SPX** (indeks S&P 500) atau **SPY** (ETF yang melacak S&P 500) untuk **hedging** (lindung nilai) portofolio jika terjadi eskalasi tak terduga.

Sektor energi tetap jadi fokus, dengan minyak Brent bertahan di sekitar US$90 per barel. Meski belum mencapai level panik US$102 seperti pada 2025, harga tinggi ini menjaga kekhawatiran inflasi dan bisa menekan sektor lain. **Call option** (opsi beli, yang nilainya naik saat harga aset naik) pada ETF energi bisa menjadi cara langsung untuk meraih untung jika ketegangan memburuk dan harga minyak naik lagi.

Namun, prospek laba kini berbeda dibanding optimisme 2025, saat pertumbuhan “belasan persen” diharapkan. Konsensus kuartal I 2026 saat ini mengarah pada pertumbuhan laba S&P 500 yang lebih rendah, sekitar 4–5%. Target yang lebih rendah ini dapat memudahkan perusahaan melampaui perkiraan, sehingga bisa menguntungkan trader yang menjual **cash-secured put** (menjual opsi put dengan menyiapkan dana tunai untuk membeli saham jika terkena eksekusi) pada perusahaan berfundamental baik menjelang rilis laporan.

Seperti pada 2025, musim laporan dibuka oleh bank-bank besar, yang akan menentukan arah beberapa pekan ke depan. Hasil mereka, terutama **panduan (guidance)** tentang pertumbuhan pinjaman dan kerugian kredit, menjadi indikator penting kesehatan ekonomi. Strategi berisiko terukur seperti **iron condor** (strategi opsi gabungan yang membatasi untung-rugi, umumnya untuk memanfaatkan harga yang bergerak dalam kisaran) pada ETF sektor keuangan dapat digunakan untuk memanfaatkan penurunan volatilitas setelah rilis laporan (volatility compression).

Rabobank Laporkan Euro Melemah dalam Perdagangan Asia setelah Partai Pro-Uni Eropa Tisza di Hungaria Kalahkan Fidesz dengan Telak

Euro turun 0,32% pada awal perdagangan Asia, meski ada kabar pemilu akhir pekan dari Hungaria. Partai Tisza yang pro-Uni Eropa (pro-EU) pimpinan Peter Magyar mengalahkan Fidesz milik Viktor Orban.

Tisza meraih mayoritas dua pertiga di parlemen Hungaria yang beranggotakan 199 kursi. Hasil ini oleh sebagian pihak di Brussel dan ibu kota negara-negara Uni Eropa dibandingkan dengan Pemberontakan Hungaria 1956.

Hasil tersebut bisa mengurangi salah satu hambatan internal bagi Uni Eropa untuk mengambil langkah kebijakan. Namun, Magyar tidak disebut sebagai “Eurocrat”, yakni pejabat/elit birokrasi Uni Eropa yang cenderung selalu mengikuti garis kebijakan Brussel.

Ketegangan antara Uni Eropa dan Budapest masih mungkin terjadi. Ceko dan Slovakia juga disebut memiliki sikap yang mirip Orban.

Euro turun 0,32% di awal perdagangan, dan ini menonjol karena pasar seperti mengabaikan kabar positif kemenangan partai pro-Uni Eropa di Hungaria. Ini mengindikasikan pasar lebih fokus pada masalah yang lebih besar di ekonomi Eropa. Kemenangan partai Peter Magyar belum cukup untuk menutup sentimen negatif yang sudah ada.

Pelaku pasar tidak perlu membaca pergeseran politik ini sebagai alasan untuk optimistis terhadap Euro. Data terbaru menunjukkan ekonomi kawasan Euro (Eurozone, yaitu negara-negara yang memakai mata uang Euro) masih lemah, dengan output industri Jerman (produksi pabrik/industri) turun tak terduga 0,8% pada data terbaru Februari 2026. Kelemahan ekonomi seperti ini biasanya lebih kuat memengaruhi nilai tukar dibanding satu hasil pemilu.

Dengan pasar tetap berhati-hati setelah pembicaraan damai AS–Iran mandek, euro stabil di dekat 0,8700 terhadap sterling

EUR/GBP bergerak sempit dalam rentang 25 pip pada Senin, bertahan di antara 0,8695 dan 0,8725 serta berkisar di sekitar 0,8700. Sentimen pasar melemah setelah pembicaraan damai AS–Iran gagal, meski gencatan senjata dua minggu masih berlaku dan gejolak harga (volatilitas) tetap relatif rendah.

Harga minyak yang lebih tinggi dan pernyataan AS terkait pemblokiran Selat Hormuz membatasi penguatan Euro. Pada Selasa, pidato Gubernur Bank of England Andrew Bailey dan Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde dapat menggerakkan pasangan ini.

Technical Momentum Signals

Pasangan ini masih cenderung naik tipis, tetapi dorongan pergerakan melemah. RSI 4 jam (indikator yang menunjukkan kekuatan naik-turun harga) berada di dekat 50, sedangkan MACD (indikator yang membandingkan dua rata-rata pergerakan untuk membaca arah tren) sedikit di atas nol, menandakan arah belum jelas.

Resistensi (area hambatan kenaikan) terlihat di 0,8722, dengan level lanjutan di area puncak April dekat 0,8740 dan puncak sejak awal tahun (year-to-date) di 0,8789. Support (area penahan penurunan) berada di sekitar 0,8705, lalu 0,8687, dengan support lebih rendah dekat 0,8635.

Laporan itu menyebut alat AI membantu analisis teknikal (analisis berbasis grafik dan indikator). Koreksi pada 13 April pukul 11:40 GMT menyebut pidato Selasa lebih relevan daripada Rabu.

Melihat kembali periode yang sama pada 2025, EUR/GBP tertahan dalam fase ragu-ragu di sekitar 0,8700. Pasar tegang karena ketegangan geopolitik dan menunggu sinyal dari bank sentral. Kondisi tenang saat itu menjadi tanda awal gejolak yang muncul setelahnya.

Lessons From 2025 Price Action

Candlestick doji pada April 2025 (pola grafik yang menunjukkan pasar ragu-ragu karena harga pembukaan dan penutupan berdekatan) memberi sinyal titik balik, ketika pasangan ini kemudian turun tajam dalam beberapa pekan berikutnya. Bank of England mempertahankan sikap lebih “ketat” terhadap inflasi (lebih condong menahan inflasi lewat suku bunga lebih tinggi) sepanjang musim panas 2025 dibanding ECB, mendorong pasangan ini turun untuk menguji 0,8550 pada Agustus. Dari data historis, perbedaan arah kebijakan bank sentral sering mendahului tren besar, terutama ketika inflasi Inggris lebih sulit turun, di 3,1% pada akhir 2025, dibanding Zona Euro 2,5%.

Saat ini, konsolidasi sempit (pergerakan mendatar dalam rentang kecil) yang mirip kembali terlihat, tetapi terjadi di sekitar 0,8620. Dengan pertumbuhan Zona Euro kuartal I 2026 yang mengecewakan di 0,1% dan ekonomi Inggris yang lebih tahan, tekanan fundamental (faktor ekonomi dasar seperti pertumbuhan dan inflasi) pada Euro berlanjut. Kemiripan historis ini menyarankan pasar tetap waspada meski terlihat tenang.

Mengingat penurunan tajam tahun lalu, trader dapat mempertimbangkan membeli opsi put (kontrak yang memberi hak untuk menjual pada harga tertentu) dengan strike price (harga patokan kontrak) di bawah support saat ini di 0,8600. Ini menjadi lindung nilai (hedging, upaya mengurangi risiko) jika penurunan tajam seperti 2025 terulang. Biaya “asuransi” ini terbatas pada premi opsi (biaya yang dibayar di awal untuk membeli opsi).

Implied volatility untuk opsi EUR/GBP (perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi) saat ini rendah, sekitar 6,2%, di bawah rata-rata lima tahun. Ini membuat strategi seperti bear put spread menarik, karena menurunkan biaya awal sambil tetap berpotensi untung dari penurunan moderat nilai tukar. Bear put spread adalah strategi opsi dengan membeli put pada strike lebih tinggi dan menjual put pada strike lebih rendah untuk menekan biaya, dengan risiko dan potensi keuntungan yang sudah terukur.

Namun, pasar pernah terkejut oleh komentar ECB pada paruh kedua 2025. Karena itu, strategi perlu fleksibel. Opsi membantu trader mengambil posisi arah (naik atau turun) tanpa mudah terpental oleh pergerakan jangka pendek yang “berisik” (noise), yang terbukti berguna tahun lalu.

Di Tengah Bangkitnya Ketegangan Timur Tengah, Dolar Australia Bergerak Beragam, Turun 0,2% di Sekitar 0,7050; Data Ketenagakerjaan Dinanti

Dolar Australia bergerak beragam terhadap mata uang utama pada Senin. Mata uang ini turun 0,2% ke area 0,7050 terhadap Dolar AS pada sesi Eropa, setelah memangkas pelemahan sebelumnya.

Selera risiko (minat pasar untuk aset berisiko seperti saham dan mata uang berimbal hasil lebih tinggi) tetap lemah setelah putaran pertama negosiasi AS–Iran gagal, yang membantu harga minyak pulih. Kontrak berjangka S&P 500 (perkiraan arah indeks saham AS sebelum pasar dibuka) turun lebih dari 0,6% di sekitar 6.760.

Ketegangan Geopolitik Dan Sentimen Risiko

Pembicaraan di Pakistan mengenai gencatan senjata permanen tidak menghasilkan kesepakatan. Iran membantah akan menghentikan rencana membangun fasilitas nuklir.

Konflik yang kembali memanas mendorong permintaan terhadap Dolar AS sebagai mata uang yang lebih aman (safe haven, aset yang biasanya dicari saat pasar cemas). Indeks Dolar AS (ukuran kekuatan Dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama) naik 0,25% di sekitar 99,00.

Pelaku pasar menunggu laporan pasar tenaga kerja Australia untuk Maret pada Kamis. Pertumbuhan pekerjaan diperkirakan 20 ribu dibanding 48,9 ribu pada Februari, dengan pengangguran diperkirakan tetap di 4,3%.

Di AS, data Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI, ukuran perubahan harga di tingkat produsen yang sering dipakai sebagai petunjuk tekanan inflasi) Maret dijadwalkan rilis pada Selasa. PPI utama (headline, angka keseluruhan sebelum penyaringan) diperkirakan naik 1,2% dibanding bulan sebelumnya (month on month/m/m), dari 0,7% sebelumnya.

Pendekatan Trading Dan Lindung Nilai

Pergerakan “risk-off” (pasar mengurangi risiko) dipicu kegagalan negosiasi AS–Iran, sehingga terjadi flight to safety (alih dana ke aset yang dianggap aman). Lonjakan harga minyak mendorong investor masuk ke Dolar AS sebagai safe haven, yang menekan Dolar Australia. Tekanan ini diperkuat oleh penurunan kontrak berjangka S&P 500, yang menandakan kecemasan pasar lebih luas.

Dengan rilis data pekerjaan Australia pada Kamis, pasar perlu bersiap menghadapi volatilitas (naik-turun harga yang lebih tajam) AUD/USD (pasangan mata uang Dolar Australia terhadap Dolar AS). Jika data meleset dari perkiraan kenaikan 20 ribu pekerjaan pekan ini, AUD/USD bisa terdorong ke level yang lebih rendah.

Data PPI AS juga menjadi agenda penting untuk arah Dolar AS. Angka yang tinggi—terutama jika di atas perkiraan 1,2% bulanan—akan mengindikasikan inflasi masih kuat. Ini berpotensi menguatkan Dolar AS karena mendukung alasan The Federal Reserve (bank sentral AS) mempertahankan kebijakan suku bunga saat ini.

Volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan volatilitas yang tercermin pada harga opsi) berpeluang naik. Pelaku pasar yang memegang posisi long Dolar Australia (bertaruh AUD naik) bisa mempertimbangkan membeli opsi put pada AUD/USD sebagai lindung nilai (hedging, strategi untuk mengurangi risiko) terhadap penurunan lanjutan. Opsi (options, kontrak yang memberi hak—bukan kewajiban—untuk membeli/menjual pada harga tertentu) ini dapat memberi perlindungan sisi turun menjelang rilis data.

Dengan ketidakpastian yang tinggi, membeli straddle berjangka pendek pada AUD/USD bisa menjadi strategi untuk memanfaatkan rilis data pekerjaan. Straddle (strategi opsi membeli put dan call sekaligus pada harga dan jatuh tempo yang sama) diuntungkan bila terjadi pergerakan harga besar ke salah satu arah, baik data jauh lebih baik maupun lebih buruk dari perkiraan. Pasar yang saat ini mematok potensi pergerakan 40 pip (satuan perubahan kecil pada pasangan mata uang) bisa saja meremehkan peluang pergerakan yang lebih besar.

Kekhawatiran intervensi membatasi USD/JPY di bawah 160,00, meski Dolar mengungguli Yen yang melemah

USD/JPY membuka pekan dengan gap naik (bullish gap: harga pembukaan langsung lebih tinggi dari penutupan sebelumnya), tetapi kenaikannya terbatas dan tetap di bawah 160,00 hingga sesi Eropa. Kondisi pasar yang mendukung menjaga bias naik untuk hari ketiga berturut-turut.

Yen melemah di tengah kekhawatiran ekonomi yang terkait meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Kekhawatiran mencakup potensi gangguan di Selat Hormuz (jalur laut penting pengiriman minyak), setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS akan mulai memblokade jalur tersebut menyusul gagalnya pembicaraan damai AS‑Iran.

Risiko Timur Tengah dan Pelemahan Yen

Perundingan AS‑Iran berakhir tanpa hasil setelah hampir 21 jam. Serangan Israel yang berlanjut di Lebanon menambah sentimen waspada, mendorong harga minyak mentah dan meningkatkan kekhawatiran inflasi (kenaikan harga barang secara umum).

Kenaikan harga energi mengangkat imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (yield: tingkat imbal hasil), sekaligus menekan yen yang sensitif terhadap biaya impor energi. Dolar AS juga didukung permintaan karena perannya sebagai mata uang cadangan (reserve currency: mata uang yang paling banyak digunakan untuk simpanan dan transaksi global).

Ekspektasi Federal Reserve yang lebih hawkish (hawkish: cenderung menaikkan suku bunga atau menahannya tinggi demi menekan inflasi) ikut menopang dolar. Namun, pembicaraan soal kemungkinan langkah Jepang untuk membatasi pelemahan yen menahan kenaikan USD/JPY lebih lanjut.

Selisih Suku Bunga dan Risiko Intervensi

Penggerak utama tetap selisih suku bunga yang lebar antara AS dan Jepang, yang semakin jelas pada April 2026. Suku bunga kebijakan Federal Reserve berada di 5,25%, sementara Bank of Japan baru menaikkan suku bunga ke 0,1%. Selisih lebih dari 500 basis poin (basis points/bps: 1 bps = 0,01%) membuat strategi memegang posisi long USD/JPY menarik dari sisi imbal hasil (carry: keuntungan dari selisih suku bunga).

Per 13 April 2026, pasangan ini kembali menguji area 159,50, terutama karena data inflasi AS lebih tinggi dari perkiraan di 3,4%, sehingga harapan pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat memudar. Ini membuat pasar kembali menguji ketegasan Kementerian Keuangan Jepang.

Dengan latar ini, bisa dipertimbangkan membeli opsi call USD/JPY (call option: hak, bukan kewajiban, untuk membeli pada harga tertentu) dengan strike (harga pelaksanaan) sekitar 161,00 dan 162,00. Strategi ini berpotensi untung jika tekanan naik berlanjut dan menembus puncak lama. Keunggulannya, kerugian maksimum terbatas pada premi (premium: biaya pembelian opsi) yang dibayar, sehingga lebih aman bila otoritas Jepang melakukan intervensi dan memicu penurunan mendadak.

Untuk pendekatan lebih konservatif, dapat menggunakan bull call spread (strategi opsi: beli call di strike lebih rendah dan jual call di strike lebih tinggi). Dengan membeli call di 160,00 dan sekaligus menjual call di 162,50, biaya awal dapat ditekan. Ini memberi peluang untung dari kenaikan yang terukur, dengan risiko yang sudah ditentukan di situasi yang sensitif ini.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Tatha Ghose dari Commerzbank: Pemilu Hungaria Beri Peter Magyar Supermayoritas, Prospek Forint Menguat, Reformasi Berpeluang Digenjot

Pemilu Hungaria menghasilkan supermayoritas parlemen untuk partai oposisi Tisza pimpinan Peter Magyar, dengan sekitar 69% kursi versus 28% untuk Fidesz pimpinan Viktor Orbán. Hasil ini dinilai menurunkan risiko masa transisi politik (ketidakpastian saat pergantian kekuasaan) dan membuka ruang bagi reformasi struktural (perubahan mendasar pada aturan dan kebijakan ekonomi agar lebih efisien dan berkelanjutan).

Commerzbank menyebut EUR/HUF sudah diperdagangkan mendekati 365 setelah pemungutan suara. Bank itu juga mengatakan akan merevisi turun proyeksi akhir Juni dari 380, yang berarti forint diperkirakan lebih kuat dibanding perkiraan sebelumnya.

Bank tersebut menambahkan, gejolak yang lebih luas terkait perang dapat membatasi besarnya penguatan mata uang dalam jangka dekat. Dalam pandangan sebelum pemilu, Commerzbank menyebut EUR/HUF bisa mencapai 365 jika situasi perang Iran memungkinkan (tidak memicu gejolak global).

Artikel ini mencatat dibuat dengan bantuan alat Kecerdasan Buatan (AI, perangkat lunak yang membantu menyusun teks) dan ditinjau oleh editor.

Minat terhadap aset safe haven kembali muncul setelah perundingan AS-Iran gagal, membuat pasar valas berhati-hati dan cenderung menghindari risiko

Pasar global kembali menghindari risiko setelah pembicaraan akhir pekan antara Iran dan AS tidak menghasilkan kemajuan. Satu-satunya agenda data AS hari ini adalah Penjualan Rumah Lama (Existing Home Sales) Maret, yaitu jumlah rumah bekas yang terjual dan menjadi indikator kondisi pasar perumahan.

Presiden Donald Trump mengatakan pembicaraan berlangsung “sangat bersahabat” dan Iran menyetujui “hampir semua poin” yang diinginkan AS, tetapi Iran tidak berkomitmen menghentikan ambisi nuklirnya. Trump menyebut gencatan senjata dua pekan masih bertahan, sementara militer AS akan memberlakukan blokade atas seluruh lalu lintas kapal yang masuk dan keluar pelabuhan Iran di Selat Hormuz mulai Senin pukul 10.00 EST (waktu New York).

Pasar Bereaksi Terhadap Kembalinya Risiko Geopolitik

The Wall Street Journal melaporkan Trump dan para penasihatnya mempertimbangkan kembali serangan militer bersama blokade tersebut. Harga minyak dibuka dengan *bullish gap* (lonjakan harga saat pembukaan yang lebih tinggi dari penutupan sebelumnya, biasanya karena berita besar), dengan WTI (West Texas Intermediate, patokan harga minyak AS) di dekat US$96, naik sekitar 6% hari ini.

Kontrak berjangka indeks saham AS (perkiraan pembukaan pasar saham berdasarkan transaksi sebelum jam bursa) turun 0,6%–0,7%, sementara Indeks Dolar AS (DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) naik lebih dari 0,3% ke sekitar 99,00. Inflasi CPI AS (Consumer Price Index, ukuran kenaikan harga barang dan jasa yang dibayar konsumen) naik menjadi 3,3% *year-on-year* (dibanding bulan yang sama tahun lalu) pada Maret dari 2,4% pada Februari; CPI bulanan naik 0,9% setelah 0,3%.

Emas turun ke level terendah enam hari di bawah US$4.650, lalu pulih ke atas US$4.700. EUR/USD mendekati 1,1700, turun sekitar 0,3%, dan GBP/USD sedikit di atas 1,3400, turun 0,35%.

USD/JPY diperdagangkan di atas 159,50 setelah dua hari menguat. Gubernur BoJ Kazuo Ueda mengatakan pemulihan ekonomi masih moderat dan inflasi bergerak menuju target.

Terlepas dari sentimen yang memburuk, EUR/USD tetap bertahan di kisaran 1,1600-an atas, setelah mundur dari puncak 1,1740

EUR/USD turun dari puncak pekan lalu di dekat 1,1740 pada Senin, tetapi masih bertahan di kisaran atas 1,1600-an. Pasangan ini diperdagangkan di 1,1685 dan sebelumnya mendapat penopang (support) di 1,1670.

Harga minyak naik setelah perundingan damai AS dan Iran gagal dan AS mengatakan akan memblokir Selat Hormuz, sehingga permintaan terhadap Dolar AS meningkat. Pelemahan Euro sejauh ini masih terbatas.

Guncangan Minyak dan Reaksi Mata Uang

Minyak mentah Brent diperdagangkan sedikit di atas 100 USD per barel, sementara EUR/USD turun di bawah 1,17. Volatilitas tersirat (implied volatility)—perkiraan gejolak harga ke depan yang tercermin dari harga opsi—pada EUR/USD disebut masih relatif rendah karena pasar memperkirakan ketegangan mereda.

Dengan kalender data ekonomi yang sepi, berita terkait Iran diperkirakan tetap menggerakkan pasar. Pada Selasa, perhatian beralih ke Presiden ECB Christine Lagarde menjelang keputusan kebijakan 30 April.

EUR/USD bertahan di atas area 1,1630 dan tren yang lebih luas disebut masih positif. RSI (Relative Strength Index/indikator momentum untuk melihat kuat-lemahnya dorongan naik-turun) berada di kisaran pertengahan 50, dan MACD (Moving Average Convergence Divergence/indikator yang membandingkan dua rata-rata bergerak untuk membaca arah tren) bertahan dekat garis nol.

Area tahanan (resistance) berada di 1,1725–1,1735, lalu 1,1825, dan dekat 1,1930. Level penopang (support) berada di 1,1670, 1,1630–1,1640, dan penopang tren naik (rising trend support/garis penopang yang menanjak seiring waktu) dekat 1,1590.

Philip Wee dari DBS Research mengatakan pertemuan IMF dan Bank Dunia akan berfokus pada stagflasi menyusul blokade Hormuz oleh Trump

DBS Group Research mengatakan risiko stagflasi—kondisi ketika inflasi tinggi sementara pertumbuhan ekonomi lemah—diperkirakan akan mewarnai pembahasan dalam Pertemuan Musim Semi (Spring Meetings) IMF dan Bank Dunia di Washington, D.C., setelah langkah AS yang terkait dengan Selat Hormuz. Lembaga itu menyebut World Economic Outlook (WEO) IMF, yang dijadwalkan terbit pada 14 April, kemungkinan akan memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global.

Laporan tersebut menjelaskan Presiden Donald Trump memerintahkan Angkatan Laut AS memblokade Selat Hormuz dengan menghentikan kapal di perairan internasional yang membayar biaya kepada Iran untuk lewat dengan aman. Laporan itu juga merujuk pidato Trump pada 17 Maret yang menyebut NATO dan mitra keamanan Asia sebagai “penumpang gratis” yang tidak “berbagi beban”.

Risiko Stagflasi dan Fokus Kebijakan Global

Disebutkan, langkah itu menyusul putusan Mahkamah Agung AS yang membatasi kemampuan Trump memakai International Emergency Economic Powers Act (IEEPA)—aturan darurat ekonomi AS—untuk menerapkan tarif impor secara luas. Laporan itu menyatakan pemerintah AS kemudian beralih memakai langkah “keamanan energi”, yakni kebijakan untuk mengamankan pasokan dan harga energi, yang menyasar mitra dagang penyumbang defisit perdagangan AS di Eropa dan Asia.

Disebutkan Asia berpotensi menjadi kawasan paling rentan karena ketergantungan tinggi pada bahan baku industri yang jalurnya terkait Selat Hormuz. Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan harga bisa membutuhkan waktu untuk kembali ke level sebelum Operation Epic Fury dimulai pada 27 Februari.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code