Back

Militer Iran Klaim AS Langgar Gencatan Senjata, Serang Kapal Dagang, dan Berjanji Lakukan Pembalasan Cepat

Militer Iran mengatakan Amerika Serikat melanggar gencatan senjata dengan menembaki salah satu kapal dagang Iran. Iran menyebut insiden itu sebagai perampokan di laut dan perampokan bersenjata oleh militer AS.

Militer Iran mengatakan akan segera merespons dan melakukan pembalasan. Tidak ada rincian lebih lanjut mengenai waktu maupun bentuk aksinya.

Reaksi Pasar Minyak

Saat naskah ini dibuat, West Texas Intermediate (WTI) turun 4,75% pada hari itu ke level US$87,90.

Setiap gangguan di Selat Hormuz—jalur pelayaran sempit yang menjadi rute utama pengapalan minyak—biasanya langsung mendorong harga minyak naik karena pasokan berisiko terganggu.

Situasi ini mengingatkan pada ketegangan pada akhir 2025, ketika harga minyak Brent (patokan internasional) sempat melonjak sekitar 15% dalam dua minggu. Berdasarkan data terbaru Maret 2026 dari EIA (Energy Information Administration/Administrasi Informasi Energi AS), lebih dari 20 juta barel minyak per hari masih melewati selat tersebut, sehingga aksi militer apa pun berpotensi berdampak cepat ke pasar global.

Strategi yang paling langsung adalah membeli opsi beli (call options), yaitu kontrak yang memberi hak (bukan kewajiban) untuk membeli aset pada harga tertentu sebelum tanggal jatuh tempo, pada kontrak berjangka (futures) WTI dan Brent untuk Juni dan Juli 2026. Pendekatan ini memberi peluang keuntungan jika harga melonjak, sementara risiko dibatasi pada premi (biaya) yang dibayar untuk opsi tersebut. Perlu diantisipasi kenaikan cepat volatilitas tersirat (implied volatility), yakni perkiraan volatilitas yang tercermin dalam harga opsi, sehingga posisi biasanya lebih baik dibangun lebih awal.

Lindung Nilai Risiko yang Lebih Luas

Indikator “pengukur ketakutan” pasar, VIX (indeks volatilitas untuk pasar saham AS), saat ini berada di sekitar level 17 yang relatif tenang. Secara historis, guncangan geopolitik di Timur Tengah—seperti serangan 2019 terhadap fasilitas Saudi—dapat mendorong VIX melesat di atas 25 dalam waktu sangat singkat. Membeli opsi beli VIX untuk beberapa minggu ke depan dapat menjadi lindung nilai (hedging), yaitu strategi untuk mengurangi risiko kerugian, terhadap aksi jual pasar yang lebih luas akibat krisis minyak.

Dalam kondisi risk-off (pelaku pasar menghindari aset berisiko), emiten pertahanan biasanya diuntungkan, sementara sektor transportasi dan industri yang sangat bergantung pada bahan bakar cenderung tertekan. Pandangan ini bisa diterapkan dengan membeli opsi beli pada ETF (exchange-traded fund/dana yang diperdagangkan di bursa) sektor pertahanan. Pada saat yang sama, dapat dipertimbangkan membeli opsi jual (put options), yaitu kontrak yang memberi hak untuk menjual aset pada harga tertentu, pada saham maskapai dan perusahaan pelayaran yang rentan terhadap kenaikan biaya bahan bakar.

Ketegangan AS-Iran Kembali Memanas, Dolar Menguat; USD/JPY Bertahan di Kisaran 159,10 Saat Yen Sedikit Melemah

USD/JPY bertahan kuat di dekat 159,10 pada awal perdagangan Asia, Senin, seiring Dolar AS menguat terhadap Yen Jepang di tengah memanasnya kembali ketegangan AS–Iran setelah lebih dari tujuh pekan perang di Timur Tengah.

Iran mengatakan tidak akan ikut dalam pembicaraan damai baru dengan AS, setelah Presiden Donald Trump menyebut perunding Iran akan pergi ke Pakistan pada Senin untuk putaran kedua pembicaraan, menurut Bloomberg.

Ketegangan AS–Iran Dongkrak Permintaan Dolar

Trump mengatakan Angkatan Laut AS menembaki dan menyita kapal kargo berbendera Iran, sementara Teheran memperingatkan kapal-kapal yang mendekati selat akan dianggap melanggar gencatan senjata (kesepakatan penghentian tembak-menembak). Sejumlah kapal menghentikan penyeberangan beberapa jam setelah Teheran menyatakan jalur perairan itu terbuka.

Di Jepang, pernyataan pejabat disebut dapat membatasi pelemahan Yen lebih lanjut. Menteri Keuangan Satsuki Katayama mengatakan pekan lalu ia membahas urusan nilai tukar dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent, dan menegaskan otoritas siap mengambil tindakan “tegas” bila diperlukan.

Pergerakan Yen Jepang dipengaruhi kinerja ekonomi Jepang, kebijakan Bank of Japan (bank sentral Jepang), selisih imbal hasil (yield, yaitu tingkat keuntungan obligasi) antara obligasi Jepang dan AS, serta sentimen risiko (selera pasar terhadap aset berisiko atau aman). Bank of Japan menjalankan kebijakan moneter sangat longgar (suku bunga rendah dan dukungan likuiditas) dari 2013 hingga 2024, lalu mulai menguranginya pada 2024, sementara selisih imbal hasil obligasi 10 tahun AS–Jepang mulai menyempit.

Risiko di Dekat Level 160

Namun, perlu sangat waspada saat mendekati level 160, yang menjadi hambatan psikologis (angka bulat yang sering memicu reaksi pasar). Pada musim semi 2024, otoritas Jepang melakukan intervensi langsung (aksi pemerintah/bank sentral membeli atau menjual mata uang untuk memengaruhi kurs), sehingga pasangan ini turun beberapa yen dalam hitungan jam. Ancaman tindakan “tegas” ini meningkatkan risiko, sehingga opsi put pelindung (protective put: membeli opsi jual untuk membatasi potensi rugi) menjadi lindung nilai (hedge: strategi mengurangi risiko) yang masuk akal bagi posisi beli.

Gambaran dasar (fundamental) masih mengarah pada Yen yang lebih kuat dalam jangka menengah. Normalisasi kebijakan Bank of Japan (kembali ke kebijakan yang lebih ketat/normal) yang dimulai pada 2024 berlanjut, dengan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang 10 tahun kini di 1,3%, tertinggi dalam lebih dari satu dekade. Kondisi ini perlahan menyempitkan selisih suku bunga dengan AS, yang pada akhirnya dapat menekan USD/JPY lebih rendah.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Pada awal perdagangan Asia, emas turun mendekati US$4.775 saat pelaku pasar mencermati kembali memanasnya ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz

Emas (XAU/USD) turun ke sekitar $4.775 pada awal perdagangan Asia Senin, saat pasar menilai kembali naiknya ketegangan antara AS dan Iran terkait Selat Hormuz. Bloomberg melaporkan Iran membantah akan bergabung dalam pembicaraan damai baru dengan AS, setelah Presiden Donald Trump mengatakan para negosiator akan pergi ke Pakistan pada Senin untuk putaran kedua.

Militer Iran mengatakan Selat Hormuz ditutup untuk semua kapal komersial (kapal dagang). Iran juga menyatakan akan menargetkan kapal apa pun yang mendekati selat itu sampai AS mencabut blokade laut (pencegahan lewat kekuatan angkatan laut) terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Ekspektasi Suku Bunga dan Dinamika Aset Aman

Ekspektasi pemangkasan suku bunga AS tahun ini bergeser ke pendekatan “lebih tinggi lebih lama” (suku bunga dipertahankan tinggi lebih lama), dipicu inflasi yang tetap tinggi dan instabilitas di Timur Tengah. Emas sering diburu saat ketidakpastian geopolitik, tetapi emas tidak memberi bunga (imbal hasil), sehingga minat bisa turun ketika suku bunga tinggi.

Pelaku pasar memantau laporan Penjualan Ritel (Retail Sales, ukuran belanja konsumen di toko dan layanan tertentu) AS yang rilis Selasa untuk mencari arah berikutnya. Penjualan Ritel diperkirakan naik 1,3% dibanding bulan sebelumnya (month on month/bulan ke bulan) pada Maret, dari 0,6% pada Februari.

Dengan Selat Hormuz ditutup, dampak paling langsung adalah minyak. Sekitar 20% konsumsi minyak dunia melewati selat ini, sehingga penutupan yang berkepanjangan berpotensi memicu lonjakan harga besar. Mengacu pada “Perang Tanker” (Tanker War) pada 1980-an, gangguan di area yang sama pernah mendorong harga minyak mentah melonjak. Karena itu, membeli opsi call (hak membeli pada harga tertentu) pada kontrak berjangka (futures, perjanjian jual-beli untuk tanggal mendatang) WTI dan Brent menjadi strategi paling cepat dan masuk akal.

Penurunan emas ke $4.775 menunjukkan pasar lebih memprioritaskan kebijakan suku bunga “lebih tinggi lebih lama” dari Federal Reserve (The Fed, bank sentral AS) dibanding ancaman geopolitik baru ini. Tema ini mendominasi pasar sepanjang 2025 saat The Fed melawan inflasi yang membandel. Pelemahan ini membuka peluang membeli opsi call berjangka panjang (long-dated, jatuh tempo lebih lama) pada emas, dengan asumsi saat konflik meningkat, permintaan aset aman pada akhirnya mengalahkan kekhawatiran soal suku bunga.

Kekuatan Dolar dan Strategi Volatilitas

Dolar AS yang kuat, didukung suku bunga tinggi, memberi sudut lain untuk strategi. Negara yang sangat bergantung pada impor minyak, seperti Jepang dan banyak negara Zona Euro (Eurozone, negara pengguna euro), cenderung terdampak lebih besar karena biaya energi naik, sehingga mata uang mereka bisa melemah. Karena itu, strategi yang menguntungkan dolar terhadap yen dan euro dapat dipertimbangkan, memakai opsi untuk membatasi risiko sekaligus memanfaatkan perbedaan dampak ini.

Ketidakpastian pasar kini sangat tinggi, sehingga posisi yang bertaruh pada volatilitas (besarnya naik-turun harga) menarik. Indeks Volatilitas Cboe, atau VIX (indikator perkiraan gejolak pasar saham AS), historisnya melonjak saat peristiwa geopolitik besar, seperti pada awal pandemi 2020. Membeli call pada VIX adalah cara langsung untuk lindung nilai (hedging, mengurangi risiko portofolio) atau spekulasi atas meningkatnya ketakutan pasar dalam beberapa pekan ke depan.

Terakhir, laporan Penjualan Ritel AS pada Selasa perlu dipantau ketat sebagai data besar pertama dalam situasi baru ini. Angka yang kuat akan memperkuat sikap hawkish The Fed (cenderung pro-pengetatan/menahan suku bunga tinggi) dan dolar yang kuat, sehingga berpotensi menekan emas lebih jauh dalam jangka pendek. Namun, bila angkanya jauh lebih lemah dari perkiraan, hal itu bisa menjadi pemicu pergeseran fokus dari suku bunga kembali ke peran emas sebagai aset aman.

Harga rumah tahunan Rightmove Inggris turun 0,9%, memburuk dari penurunan tahunan sebelumnya sebesar 0,2%

Indeks Harga Rumah Inggris dari Rightmove menunjukkan harga penawaran rumah 0,9% lebih rendah secara tahunan (year-on-year/yoy: dibanding bulan yang sama tahun lalu) pada April. Ini dibandingkan dengan penurunan tahunan 0,2% pada rilis sebelumnya.

Data ini menunjukkan penurunan tahunan pada April lebih tajam daripada sebelumnya. Tidak ada angka tambahan dalam rilis tersebut.

Pasar Perumahan Inggris Melambat

Penurunan harga rumah secara tahunan meningkat dari -0,2% menjadi -0,9%, yang menandakan pasar properti Inggris cepat mendingin. Ini menjadi indikator negatif untuk ekonomi domestik dan mengisyaratkan keyakinan konsumen melemah. Ini dapat dibaca sebagai sinyal untuk menambah posisi jual (short: strategi mendapat untung saat harga aset turun) pada aset yang terkait Inggris.

Dampak paling langsung kemungkinan terjadi pada emiten pengembang perumahan dan perusahaan terkait konstruksi. Mengacu pada reaksi pasar saat perlambatan perumahan 2023, saham seperti Barratt Developments dan Taylor Wimpey cukup sensitif terhadap data semacam ini. Pertimbangannya adalah membeli opsi jual (put options: kontrak yang memberi hak menjual aset pada harga tertentu, umumnya dipakai untuk spekulasi penurunan atau lindung nilai) pada saham-saham tersebut atau mengambil posisi jual pada iShares UK Property UCITS ETF (IUKP) untuk memanfaatkan potensi penurunan harga.

Tren ini juga berdampak negatif pada bank-bank Inggris, terutama yang memiliki portofolio kredit pemilikan rumah (mortgage: pinjaman untuk membeli rumah) besar seperti Lloyds dan NatWest. Pasar perumahan yang melemah mengarah pada turunnya permintaan KPR dan potensi kenaikan gagal bayar pinjaman (loan defaults: debitur tidak mampu membayar). Risiko ini sebelumnya juga muncul ketika tunggakan KPR (mortgage arrears: cicilan yang terlambat dibayar) naik tipis pada kuartal terakhir 2025. Ini memperkuat alasan untuk mengambil posisi negatif pada sektor perbankan Inggris.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Pada April, Indeks Harga Rumah bulanan Rightmove Inggris tetap stabil, bertahan di 0,8% secara bulanan (month-on-month).

Indeks Harga Rumah Inggris Rightmove menunjukkan harga rumah secara bulanan (month-on-month) tidak berubah, tetap naik 0,8% pada April.

Angka ini sama dengan bulan sebelumnya, sehingga laju kenaikan bulanan tidak berubah.

Momentum Pasar Perumahan Terhenti

Data terbaru Rightmove menunjukkan harga penawaran (asking prices, yaitu harga yang dipasang penjual sebelum negosiasi) di Inggris tertahan di kenaikan 0,8% pada April, sama seperti Maret. Meski masih naik, tidak adanya percepatan mengindikasikan pemulihan musiman pada musim semi mulai kehilangan tenaga. Ini menandakan kepercayaan penjual bisa mendekati puncak pada siklus ini.

Kami menilai ini sebagai sinyal “dovish” bagi Bank of England (artinya cenderung mendukung kebijakan suku bunga lebih rendah atau tidak menaikkan suku bunga), sehingga tekanan untuk kenaikan suku bunga lanjutan berkurang. Pandangan ini didukung data terbaru ONS (Office for National Statistics, badan statistik resmi Inggris) yang menunjukkan inflasi Maret mereda ke 2,9% serta rilis Bank of England yang memperlihatkan persetujuan KPR (mortgage approvals, jumlah kredit pemilikan rumah yang disetujui bank) turun ke 58.000 pada Februari, terendah dalam enam bulan. Pelaku pasar dapat mempertimbangkan strategi yang mencerminkan peluang lebih besar pemangkasan suku bunga sebelum akhir tahun, misalnya lewat futures SONIA (kontrak berjangka yang mengikuti suku bunga acuan pasar uang Sterling semalam).

Untuk derivatif saham (equity derivatives, yaitu instrumen turunan berbasis saham seperti opsi), fokusnya mengarah ke emiten pengembang perumahan Inggris. Dibanding kenaikan harga bulanan yang kuat 1,2% pada musim semi 2025, kondisi datar saat ini menjadi hambatan bagi perusahaan seperti Barratt dan Taylor Wimpey. Kami mempertimbangkan membeli opsi jual (put options, kontrak yang memberi hak untuk menjual saham pada harga tertentu) untuk berspekulasi pada penurunan valuasi dalam waktu dekat jika permintaan pembeli melemah.

Data perumahan yang mendingin ini juga menekan Pound Inggris. Saat pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga dan mulai memasukkan kemungkinan pemangkasan, keunggulan imbal hasil (yield advantage, selisih tingkat imbal hasil aset) untuk Sterling dapat menyusut. Karena itu, kami melihat potensi pelemahan GBP, sehingga strategi opsi yang diuntungkan dari penurunan GBP/USD (nilai Pound terhadap Dolar AS) tampak lebih menarik dalam beberapa pekan ke depan.

Sterling And Rates Outlook

Defisit perdagangan tahunan Selandia Baru melebar menjadi NZD 3,1 miliar pada Maret, dari sebelumnya NZD 3 miliar

Neraca perdagangan Selandia Baru (year-on-year/tahunan) mencatat defisit NZD 3,1 miliar pada Maret.

Angka ini dibandingkan dengan defisit NZD 3,0 miliar pada periode sebelumnya, menunjukkan defisit melebar NZD 0,1 miliar.

Defisit Perdagangan dan Prospek NZD

Pelebaran defisit perdagangan menjadi -NZD 3,1 miliar pada Maret memberi tekanan lebih besar pada dolar Selandia Baru (NZD). Ini menunjukkan biaya impor lebih cepat naik dibanding pendapatan ekspor, sehingga negatif untuk mata uang. Kami menilai ini bisa memicu penurunan baru NZD terhadap mata uang utama mitra dagangnya.

Data ini kemungkinan membuat Reserve Bank of New Zealand (RBNZ/bank sentral Selandia Baru) tetap berhati-hati. Dengan Official Cash Rate (OCR/suku bunga acuan) bertahan di 5,5% sejak pertengahan 2024 untuk menahan inflasi, melemahnya kondisi eksternal membuat kenaikan suku bunga lanjutan kecil kemungkinannya. Kondisi ini mendukung posisi jual NZD (NZD shorts/bertaruh NZD melemah), karena selisih suku bunga (interest rate differentials/perbedaan tingkat suku bunga antarnegara) bisa menjadi kurang menguntungkan dibanding negara lain.

Pandangan ini diperkuat tren global, terutama perlambatan di China, ketika pertumbuhan PDB (GDP/produk domestik bruto) kuartal I 2026 hanya 4,6%, lebih lemah dari perkiraan. Lonjakan ekspor singkat pada akhir 2025 sudah memudar, sementara harga komoditas utama seperti whole milk powder (susu bubuk full cream/komoditas susu utama ekspor) turun lebih dari 5% sejak Februari. Pelemahan eksternal ini langsung menekan terms of trade (rasio harga ekspor terhadap harga impor/kemampuan ekspor membiayai impor) Selandia Baru.

Dengan prospek tersebut, kami menilai pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan kontrak berjangka) dapat mempertimbangkan membeli opsi jual (put option/kontrak yang memberi hak menjual di harga tertentu) NZD/USD dengan jatuh tempo empat hingga enam minggu ke depan. Strategi ini memberi risiko yang jelas/terbatas untuk mengambil peluang jika harga turun menembus level support (batas penopang harga yang sering menahan penurunan). Ketidakpastian yang meningkat juga membuat strategi menjual call spread out-of-the-money (menjual kombinasi opsi beli di harga di atas harga pasar saat ini untuk mendapat premi) menarik untuk memperoleh pendapatan sambil tetap berpandangan bearish (bias turun).

Strategi Volatilitas dan Risiko Peristiwa

Kami juga memperkirakan implied volatility (volatilitas tersirat/perkiraan gejolak harga yang tercermin dari harga opsi) pada pasangan NZD berpotensi naik menjelang rilis data inflasi dan rapat RBNZ berikutnya. Ini membuka peluang strategi long volatility (bertaruh volatilitas naik), seperti membeli straddle (membeli opsi beli dan opsi jual di harga dan jatuh tempo yang sama). Posisi ini diuntungkan jika terjadi pergerakan harga besar ke salah satu arah, sekaligus menjadi lindung nilai (hedging/perlindungan) bila pasar bereaksi tak terduga terhadap arus berita ekonomi.

Neraca Perdagangan Bulanan Selandia Baru Membaik Menjadi NZ$698 Juta, Berbalik dari Defisit NZ$257 Juta Sebelumnya

Neraca perdagangan bulanan Selandia Baru naik menjadi NZD 698 juta pada Maret. Pada bulan sebelumnya, angkanya NZD -257 juta.

Ini menandai perubahan dari defisit perdagangan (nilai impor lebih besar dari ekspor) menjadi surplus perdagangan (nilai ekspor lebih besar dari impor) dalam satu bulan. Perubahan antara kedua bulan tersebut sebesar NZD 955 juta.

Neraca Perdagangan Menunjukkan Pembalikan Tajam

Neraca perdagangan Selandia Baru berbalik kuat, mencatat surplus NZD 698 juta pada Maret. Ini merupakan pembalikan besar dari defisit Februari dan menunjukkan permintaan untuk ekspor negara tersebut meningkat tajam. Dari sisi fundamental (kondisi ekonomi yang mendasari nilai mata uang), ini membuat dolar Selandia Baru terlihat lebih menarik.

Data ini makin positif jika mengingat defisit perdagangan yang terjadi cukup sering sepanjang 2025. Saat itu, permintaan global yang melemah untuk produk pertanian menekan nilai tukar. Surplus terbaru ini menunjukkan tekanan dari luar negeri yang terjadi tahun lalu mulai mereda.

Rinciannya juga mendukung pandangan ini. Hasil lelang Global Dairy Trade (GDT)—lelang acuan harga produk susu global—terbaru dari Fonterra menunjukkan harga whole milk powder (WMP, bubuk susu full cream yang menjadi komoditas ekspor utama) naik 4,2%, yang langsung meningkatkan penerimaan ekspor. Ini bukan kejadian sesaat, melainkan bagian dari tren penguatan harga komoditas sejak awal tahun.

Implikasi untuk Suku Bunga dan Strategi Pasar

Posisi eksternal yang kuat ini kemungkinan mendorong Reserve Bank of New Zealand (bank sentral Selandia Baru) menjadi lebih hawkish, yaitu cenderung mendukung kenaikan suku bunga untuk menahan inflasi. Perubahan ini sudah terlihat pada harga pasar, dengan data interest rate swaps (swap suku bunga, instrumen derivatif untuk menukar arus bunga tetap dan mengambang sebagai cerminan ekspektasi suku bunga) yang mengindikasikan peluang 65% kenaikan suku bunga pada pertemuan Agustus. Ini perubahan besar dibanding sebulan lalu, ketika pasar hampir tidak memperhitungkan pengetatan kebijakan pada 2026.

Karena itu, strategi yang mengantisipasi penguatan NZD dalam beberapa pekan ke depan menjadi relevan. Salah satunya membeli opsi call NZD/USD (kontrak yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli NZD terhadap USD pada harga tertentu) untuk menangkap potensi kenaikan. Kombinasi neraca perdagangan yang kuat dan ekspektasi suku bunga yang naik dapat menjadi penopang bagi NZD.

Impor Selandia Baru Naik Menjadi US$7,25 Miliar pada Maret dari Sebelumnya US$6,89 Miliar

Impor Selandia Baru mencapai US$7,25 miliar pada Maret, naik dari US$6,89 miliar. Ini berarti kenaikan US$0,36 miliar.

Angka impor Maret sebesar US$7,25 miliar lebih tinggi dari perkiraan, menandakan permintaan dalam negeri Selandia Baru ternyata tetap kuat. Kondisi ekonomi yang “panas” ini menambah tekanan pada Reserve Bank of New Zealand (RBNZ/bank sentral Selandia Baru) untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat (kebijakan suku bunga tinggi untuk menahan inflasi). Reaksi pasar jangka pendek bisa membebani dolar Selandia Baru (NZD), karena importir menjual NZD untuk membeli mata uang asing guna membayar barang impor.

Prospek Kebijakan RBNZ

Data ini memperkuat alasan bagi RBNZ untuk menahan Official Cash Rate (OCR/suku bunga acuan) tetap pada level tinggi saat ini hingga pertengahan tahun. Pelaku pasar yang memakai interest rate swaps (swap suku bunga/kontrak untuk menukar arus pembayaran bunga, sering dipakai untuk lindung nilai atau spekulasi arah suku bunga) perlu berhati-hati memasang proyeksi penurunan suku bunga dalam waktu dekat, karena angka ini mendukung narasi “tinggi lebih lama”. Situasi ini mengingatkan pada pertengahan 2025, ketika data domestik yang kuat berulang kali membuat pasar menunda ekspektasi perubahan arah kebijakan (pivot/beralih dari mengetatkan ke melonggarkan) RBNZ.

Tekanan yang saling bertentangan pada mata uang mengindikasikan volatilitas (naik-turun harga) pada pasangan NZD kemungkinan meningkat dalam beberapa pekan ke depan. Statistik terbaru menunjukkan one-month implied volatility (volatilitas tersirat 1 bulan/ukuran perkiraan gejolak harga yang tercermin dari harga opsi) untuk NZD/USD sudah naik ke 11,2%, tertinggi pada kuartal ini, karena pelaku pasar memperkirakan perbedaan arah kebijakan bank sentral (divergence/perbedaan kebijakan suku bunga antarnegara). Kondisi ini membuat strategi membeli opsi seperti straddle atau strangle (strategi membeli opsi beli dan opsi jual untuk mengejar keuntungan dari pergerakan harga besar, tanpa harus menebak arah) menjadi lebih menarik untuk memanfaatkan potensi lonjakan pergerakan harga.

Kuatnya permintaan Selandia Baru ini berbeda dengan data Australia yang mulai sedikit melemah, sehingga posisi short AUD/NZD (short/posisi jual: bertaruh dolar Australia melemah terhadap NZD) bisa terlihat lebih menarik. Defisit perdagangan Selandia Baru kini berpotensi melebar pada kuartal I 2026, terutama karena kontrak berjangka (futures/kontrak jual-beli untuk pengiriman di masa depan) whole milk powder/susu bubuk full cream turun 3,5% sejak Februari. Perbedaan kondisi ekonomi seperti ini secara historis cenderung mendukung NZD yang lebih kuat dibanding AUD, seperti yang terlihat pada akhir 2024.

Volatilitas Pasangan NZD

Ekspor Selandia Baru Naik ke US$7,94 Miliar dari US$6,63 Miliar, Menandai Pertumbuhan pada Maret Dibandingkan Bulan Sebelumnya

Ekspor Selandia Baru naik pada Maret dari US$6,63 miliar menjadi US$7,94 miliar.

Ini berarti kenaikan US$1,31 miliar dibandingkan angka sebelumnya.

Implikasi untuk Dolar Selandia Baru

Kami melihat lonjakan ekspor Maret ini sebagai sinyal penguatan dolar Selandia Baru. Kenaikan ekspor berarti lebih banyak mata uang asing ditukar menjadi dolar kiwi untuk membayar barang Selandia Baru. Dalam beberapa pekan ke depan, NZD/USD berpeluang menguji level yang lebih tinggi, bahkan menembus “resistance” (level harga yang sering menahan kenaikan) yang terlihat awal bulan ini.

Data ini membuat Reserve Bank of New Zealand (RBNZ/bank sentral Selandia Baru) punya lebih sedikit alasan untuk mempertimbangkan pemangkasan suku bunga. Dengan inflasi masih di sekitar 3,1% (di atas kisaran target), kekuatan ekonomi ini kemungkinan memperkuat sikap “hawkish” (cenderung mempertahankan atau menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi) pada rapat berikutnya. Karena itu, pelaku pasar bisa menurunkan perkiraan peluang pemangkasan suku bunga tahun ini yang tercermin pada “short-term interest rate futures” (kontrak berjangka suku bunga jangka pendek, yaitu instrumen untuk bertaruh/berlindung nilai atas arah suku bunga acuan).

Bagi desk opsi valas, ini berarti mempertimbangkan pembelian call option NZD/USD (opsi beli, yaitu hak—bukan kewajiban—untuk membeli pada harga tertentu) dengan jatuh tempo Mei dan Juni. Mengacu pada respons mata uang saat harga susu (dairy) melonjak pada 2025, momentum naik yang serupa bisa terbentuk cepat. Strategi sederhana: menargetkan strike price (harga pelaksanaan) di sekitar 0,6450, yang kini terlihat lebih realistis.

Kekuatan ini juga bisa mendukung pasar saham domestik, terutama emiten berorientasi ekspor. NZX 50 (indeks saham utama Selandia Baru) yang bergerak terbatas di sekitar 12.500 berpeluang “breakout” (keluar dari pola pergerakan sempit) dipimpin sektor primer dan manufaktur. Pertimbangkan call option pada indeks NZX 50 atau pada eksportir besar yang diuntungkan tren ini.

Penting juga memantau cross-rate, khususnya NZD/AUD (nilai tukar NZD terhadap dolar Australia). Surplus dagang Australia (selisih ekspor lebih besar dari impor) menyempit akibat pelemahan harga komoditas, sehingga kontras dengan penguatan Selandia Baru. Ini mengisyaratkan posisi long NZD/AUD (bertaruh NZD menguat terhadap AUD), lewat pasar spot (transaksi tunai dengan penyelesaian cepat) atau kontrak futures (kontrak berjangka), dapat menjadi “pair trade” (strategi membeli satu mata uang dan menjual mata uang lain) yang menarik dalam satu bulan ke depan.

Permintaan Lindung Nilai dari Importir

Terakhir, permintaan produk “hedging” (lindung nilai, yaitu cara mengurangi risiko pergerakan kurs) dari importir berpotensi meningkat. Perusahaan yang memasukkan barang ke Selandia Baru akan menghadapi biaya lebih tinggi jika dolar kiwi terus menguat. Karena itu, minat pada NZD put option (opsi jual untuk melindungi dari penguatan NZD/penurunan pasangan kurs) bisa naik saat perusahaan berupaya menjaga margin dari apresiasi mata uang lebih lanjut.

Meningkatnya ketegangan AS-Iran menekan Dolar Australia, AUD/USD di sekitar 0,7140 jelang data penjualan ritel AS

AUD/USD melemah ke sekitar 0,7140 pada awal perdagangan Asia, Senin. Dolar Australia turun terhadap Dolar AS di tengah meningkatnya ketegangan AS–Iran. Perhatian pasar kini tertuju pada laporan Penjualan Ritel AS (Retail Sales, data belanja konsumen di toko dan online) untuk Maret yang dirilis Selasa.

TV pemerintah Iran mengatakan pada Minggu bahwa Teheran menolak pembicaraan damai baru dengan AS setelah unggahan Presiden AS Donald Trump di Truth Social. Unggahan itu menyebut perwakilan AS akan pergi ke Pakistan untuk putaran negosiasi berikutnya pada Senin.

Iran memblokir Selat Hormuz sejak serangan AS dan Israel pada 28 Februari. Iran pada Jumat mengatakan akan membuka kembali jalur tersebut, tetapi membatalkan keputusan itu pada Sabtu setelah Trump menolak mencabut blokade AS atas pelabuhan-pelabuhan Iran.

Permintaan Dolar sebagai Aset Aman

Gagalnya dialog dan risiko geopolitik (risiko dari konflik antarnegara yang bisa mengganggu ekonomi dan pasar) mendorong permintaan Dolar AS sebagai aset aman, yaitu mata uang yang biasanya diburu saat pasar panik. Ini menekan pasangan mata uang (kurs dua mata uang) dalam waktu dekat.

Dukungan bagi Dolar Australia datang dari ekspektasi terhadap Reserve Bank of Australia (RBA/bank sentral Australia). Pasar menilai peluang kenaikan suku bunga ketiga berturut-turut ke 4,35% pada rapat 5 Mei sekitar 70–72%. Perkiraan ini terkait inflasi yang sulit turun (sticky inflation, inflasi yang bertahan tinggi) dan pasar tenaga kerja yang kuat (resilient labour market, pekerjaan dan upah masih solid).

Pergeseran Latar Belakang April 2026

Kondisi pada April 2026 berbeda, karena tekanan geopolitik utama mereda setelah kesepakatan penurunan ketegangan Hormuz (de-escalation accord, perjanjian untuk mengurangi konflik) yang ditandatangani akhir tahun lalu. Data pelayaran terbaru menunjukkan premi asuransi (biaya tambahan untuk menanggung risiko) untuk melintasi selat itu turun hampir 35% dibanding puncak 2025. Ini mengurangi salah satu faktor yang sebelumnya menguatkan Dolar AS dan menekan Dolar Australia.

Namun, kondisi domestik Australia juga berubah. Berbeda dari sikap ketat tahun lalu (hawkish, cenderung menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi), RBA kini menahan suku bunga lebih lama (prolonged pause, jeda pengetatan). Ini terjadi setelah laporan CPI (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen, ukuran inflasi) kuartal I 2026 menunjukkan inflasi turun ke 3,1%, jauh di bawah 4,5% pada awal 2025. Ini membatasi potensi penguatan AUD, karena ekspektasi kenaikan suku bunga sudah “dipricing in” (sudah sepenuhnya tercermin di harga pasar) menjadi nol untuk sisa tahun ini.

Dengan ekonomi AS masih kuat, terlihat dari tambahan 215.000 pekerjaan pada Maret 2026, Dolar AS tetap memiliki dukungan. Ini membuat AUD/USD cenderung bergerak dalam rentang (range, naik-turun di kisaran tertentu). Trader dapat mempertimbangkan strategi opsi seperti menjual strangle (menjual opsi beli/call dan opsi jual/put pada harga kesepakatan berbeda) untuk mengantongi premi (premium, uang yang diterima penjual opsi), dengan asumsi pasangan ini tidak menembus kisaran besar dalam beberapa minggu ke depan.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code