Back

Notification of Server Upgrade – May 07 ,2026

Dear Client,

As part of our commitment to provide the most reliable service to our clients, there will be maintenance this weekend.

Maintenance Details:

Notification of Server Upgrade

Please note that the following aspects might be affected during the maintenance:
1. The price quote and trading management will be temporarily disabled during the maintenance. You will not be able to open new positions, close open positions, or make any adjustments to the trades.
2. There might be a gap between the original price and the price after maintenance. The gaps between Pending Orders, Stop Loss, and Take Profit will be filled at the market price once the maintenance is completed. It is suggested that you manage the account properly.
3. During the maintenance period, VT Markets APP will not be available. It is recommended that you avoid using it during the maintenance.
4. During the maintenance hours, the Client portal will be unavailable, including managing trades, Deposit/Withdrawal and all the other functions will be limited.

The above data is for reference only. Please refer to the MT4/MT5 software for the specific maintenance completion and marketing opening time.

Thank you for your patience and understanding about this important initiative.

If you’d like more information, please don’t hesitate to contact [email protected]

Cadangan devisa Korea Selatan naik menjadi US$427,88 miliar, memperkuat pertahanan won dan meredakan volatilitas

Cadangan devisa Korea Selatan naik menjadi US$427,88 miliar pada April. Pada bulan sebelumnya, cadangan devisa tercatat US$423,66 miliar.

Ini berarti naik US$4,22 miliar dibanding bulan sebelumnya. Angka tersebut dilaporkan dalam dolar AS.

Kenaikan cadangan devisa (cadangan valuta asing bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan membayar kewajiban luar negeri) memberi Bank of Korea ruang lebih besar untuk menstabilkan won. Ini menunjukkan pertahanan yang lebih kuat terhadap pelemahan mata uang seperti yang terjadi pada akhir 2025 ketika dolar AS menguat secara global. Karena itu, bank sentral berpeluang lebih aktif menahan pasangan USD/KRW (nilai tukar dolar AS terhadap won) agar tidak menembus tegas level 1.400.

Bagi pelaku pasar opsi USD/KRW (kontrak yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli/menjual mata uang pada harga tertentu), kondisi ini mengindikasikan potensi kenaikan tajam menjadi lebih terbatas. Strategi menjual opsi beli out-of-the-money (opsi beli dengan harga pelaksanaan di atas kurs saat ini, sehingga baru untung jika kurs naik jauh) bisa dipertimbangkan, karena kemampuan intervensi BOK yang lebih besar membuat lonjakan kurs yang tajam dan bertahan lama menjadi kurang mungkin. Indikasi ini sejalan dengan volatilitas tersirat (perkiraan gejolak harga yang tercermin dalam harga opsi) won yang turun tipis ke sekitar 8,5% bulan ini.

Societe Generale Soroti Prospek Fiskal Indonesia yang Melemah, Tetap Pesimistis terhadap Rupiah di Tengah Tekanan Defisit Eksternal

Analis Societe Generale menilai posisi fiskal Indonesia melemah di awal 2026 karena belanja pemerintah dimajukan (front-loaded, artinya porsi belanja besar dikeluarkan lebih awal). Mereka menyebut saldo primer sudah defisit, sehingga kebutuhan pembiayaan bertambah. *Saldo primer* adalah selisih pendapatan dan belanja negara **di luar** pembayaran bunga utang; jika defisit, artinya negara perlu menambah utang bahkan sebelum menghitung bunga.

Mereka mengatakan data fiskal ini menambah kekhawatiran yang sudah ada, tetapi tidak menimbulkan guncangan baru bagi rupiah. Mereka tetap berpandangan negatif (bearish, artinya memperkirakan rupiah melemah) terhadap mata uang tersebut.

Mereka mengaitkan risiko utama nilai tukar dengan kenaikan impor bersih minyak dan gas serta pelebaran defisit transaksi berjalan. *Defisit transaksi berjalan* adalah kondisi saat arus keluar valuta asing untuk impor barang/jasa dan pembayaran ke luar negeri lebih besar daripada pemasukan dari ekspor dan pendapatan luar negeri. Mereka menilai pembaruan fiskal ini dampaknya lebih kecil terhadap nilai tukar dibanding faktor eksternal tersebut.

Mereka memperkirakan kondisi fiskal akan mendorong kenaikan imbal hasil (yield, artinya tingkat keuntungan yang diminta investor) obligasi tenor panjang melalui kenaikan *premi jangka waktu* (term premium, yaitu tambahan imbal hasil karena investor menanggung risiko memegang obligasi lebih lama). Mereka juga mencatat sikap fiskal dapat memengaruhi cara ekonomi menyerap guncangan inflasi (misalnya apakah lonjakan harga lebih cepat mereda atau justru bertahan).

Mereka mengatakan pelaksanaan anggaran akan terus dipantau, dan otoritas diperkirakan tetap memperhatikan penilaian pasar global. Mereka mempertahankan bias negatif pada valuta asing serta bias *bear-flattening* pada kurva suku bunga—yakni skenario saat yield naik, tetapi kenaikan lebih besar terjadi di tenor panjang sehingga selisih yield tenor panjang vs pendek menyempit.

Indeks Dolar bergerak turun tipis menuju 98 seiring harapan kesepakatan AS-Iran meredakan kekhawatiran terhadap harga minyak, sementara data ketenagakerjaan membatasi pelemahan

Indeks Dolar AS (DXY) melemah mendekati 98,00. Pelemahan terbatas setelah data ADP Employment Change (perkiraan perubahan pekerjaan versi lembaga swasta ADP, sering dipakai sebagai petunjuk awal pasar tenaga kerja) menunjukkan 109 ribu pekerjaan bertambah pada April, di atas perkiraan 99 ribu dan naik dari revisi Maret 61 ribu.

Axios melaporkan AS dan Iran makin dekat ke kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Kabar ini meredakan kekhawatiran gangguan pasokan energi global dan menurunkan kebutuhan aset “safe haven” (aset pelindung saat risiko pasar tinggi) seperti Dolar AS.

Tekanan Dolar dan Selera Risiko

EUR/USD diperdagangkan dekat 1,1750, namun kenaikan tertahan oleh data tenaga kerja AS yang solid. GBP/USD bertahan di sekitar 1,3600 dan sulit melanjutkan penguatan.

USD/JPY bergerak dekat 156,40, memangkas pelemahan sebelumnya karena pasar menimbang turunnya permintaan safe haven versus data AS. Pelaku pasar juga menunggu arah kebijakan Bank of Japan.

AUD/USD naik menuju 0,7240 seiring meningkatnya selera risiko terkait kabar AS-Iran. Minyak WTI turun ke sekitar US$94,90 per barel karena kekhawatiran pasokan mereda.

Emas naik mendekati US$4.700, sementara posisi pasar bergeser ke aset yang lebih peka terhadap risiko. Data yang dijadwalkan Kamis, 7 Mei meliputi Neraca Perdagangan Australia, Pesanan Pabrik Jerman, Penjualan Ritel Zona Euro, serta data AS: Challenger Job Cuts (pengumuman rencana pemutusan hubungan kerja oleh perusahaan), Initial Jobless Claims (klaim awal tunjangan pengangguran), Nonfarm Productivity Q1 Prel (produktivitas di luar sektor pertanian, rilis awal), dan Unit Labor Costs Q1 Prel (biaya tenaga kerja per unit output, rilis awal).

Data Kunci dan Fokus Berikutnya

Pada Jumat, 8 Mei, dijadwalkan data Produksi Industri Jerman, Neraca Perdagangan Zona Euro, serta data ketenagakerjaan Kanada.

Melihat kembali pada periode yang sama tahun lalu, Mei 2025, pasar tertarik oleh dua faktor. Redanya ketegangan geopolitik dari potensi kesepakatan AS-Iran menekan Dolar AS, tetapi data pekerjaan AS yang kuat menahan penurunan lebih dalam. Ini menciptakan keseimbangan yang rapuh, dengan DXY bertahan di sekitar 98,00 saat mata uang berisiko seperti dolar Australia menguat.

Pasar tenaga kerja yang kuat pada 2025 kemudian menjadi cerita utama sepanjang sisa tahun itu, membuat The Federal Reserve (bank sentral AS) mempertahankan kebijakan ketat. Ekonomi AS mencatat rata-rata penambahan lebih dari 150 ribu pekerjaan per bulan pada paruh kedua 2025, mendorong DXY naik lagi dan kini bergerak di sekitar 104,50. Pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan kontrak berjangka, nilainya mengikuti aset acuan) perlu waspada melawan tren penguatan dolar, karena selisih suku bunga antarnegara (perbedaan tingkat bunga yang memengaruhi arus modal) masih menguntungkan dolar AS.

Penurunan harga minyak pada Mei 2025 hingga di bawah US$95 per barel terjadi karena harapan diplomasi tersebut. Walau kesepakatan terbatas sempat terjadi dan menahan kenaikan harga, disiplin produksi OPEC+ (kelompok OPEC dan sekutunya yang mengatur pasokan) menjadi penopang harga. Dengan WTI kini stabil sekitar US$85 per barel dan data EIA April 2026 (badan energi AS) menunjukkan kenaikan persediaan yang tak terduga, menjual opsi call (hak beli) di atas level US$90 bisa menjadi strategi.

Lonjakan Dolar Australia menuju 0,7240 tahun lalu merupakan reaksi “risk-on” (minat pada aset berisiko saat sentimen positif), tetapi tidak bertahan lama. Penguatan Dolar AS dan kekhawatiran pertumbuhan global kembali menekan mata uang ini, yang kini lebih dekat ke 0,6550. Dengan Caixin Manufacturing PMI China April 2026 (indeks aktivitas manufaktur; di atas 50 ekspansi, di bawah 50 kontraksi) tercatat lemah di 50,1, pelaku pasar bisa mempertimbangkan opsi put (hak jual) pada AUD/USD untuk lindung nilai (hedging: mengurangi risiko) jika perlambatan berlanjut.

Lonjakan emas mendekati US$4.700 tahun lalu mencerminkan puncak kekhawatiran inflasi, meski risiko geopolitik dinilai mereda. Saat kebijakan The Fed yang lebih ketat mulai terasa pada akhir 2025, daya tarik emas yang tidak memberi imbal hasil (aset tanpa bunga/kupon) turun tajam, membawa harga ke area US$3.550 seperti saat ini. Pembalikan tajam ini menegaskan emas sangat sensitif terhadap suku bunga riil (suku bunga setelah memperhitungkan inflasi), bukan hanya permintaan safe haven.

Lonjakan inflasi Filipina menghidupkan kembali spekulasi pengetatan BSP saat risiko pasokan Timur Tengah membayangi peso

Filipina menghadapi risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah, yang bisa mendorong inflasi dan melemahkan peso. Indeks Harga Konsumen (IHK/CPI, ukuran inflasi di tingkat konsumen) April naik 7,2% secara tahunan (year-on-year/yoy), di atas perkiraan pasar 5,5%, dan naik dari 4,1% sebelumnya.

Lonjakan inflasi ini menambah tekanan pada Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP, bank sentral Filipina) untuk memperketat kebijakan. MUFG menilai masih ada peluang kenaikan suku bunga tambahan 75–100 basis poin tahun ini (basis poin/bps = 0,01%), termasuk kemungkinan rapat di luar jadwal (off-cycle meeting, rapat darurat) dan kenaikan 50 basis poin.

Kenaikan suku bunga bisa tertahan oleh kondisi pertumbuhan ekonomi yang lemah di Filipina. Latar belakangnya mencakup pengetatan fiskal (pengurangan belanja negara/kenaikan pajak) dan isu terkait skandal proyek pengendalian banjir, serta output gap negatif (kesenjangan ketika ekonomi memproduksi di bawah kapasitas potensialnya).

MUFG menetapkan kisaran skenario untuk USD/PHP (kurs dolar AS terhadap peso Filipina) berdasarkan perkembangan di kawasan. Jika Selat Hormuz tetap ditutup, USD/PHP diproyeksikan 62,00–63,00, sementara de-eskalasi (penurunan ketegangan) mengarah ke 60,50–61,50.

Artikel ini mencatat dibuat dengan alat AI dan ditinjau editor. Artikel ini juga menjelaskan FXStreet Insights memilih pengamatan pasar dari pakar dan analis.

Emas Melonjak Menuju US$4.700 saat Dolar dan Imbal Hasil Obligasi Melemah, The Fed Tetap Hawkish di Tengah Ketegangan

Harga emas naik hampir 3% pada Rabu, diperdagangkan di US$4.681 setelah sempat menyentuh US$4.723. Kenaikan ini terjadi karena Dolar AS dan imbal hasil (yield, yaitu tingkat keuntungan) obligasi pemerintah AS turun.

Axios melaporkan AS dan Iran hampir menyepakati memo satu halaman berisi 14 poin, dengan rencana pembicaraan 30 hari yang mencakup Selat Hormuz (jalur utama pengiriman minyak) serta pembatasan program nuklir Teheran. Harga minyak turun, dengan WTI (West Texas Intermediate, patokan harga minyak AS) anjlok lebih dari 7%.

Pendorong Reli Emas

Indeks Dolar AS (US Dollar Index/DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) turun 0,46% ke 98,03. Data ADP (laporan perkiraan penambahan tenaga kerja sektor swasta) menunjukkan penyerapan tenaga kerja April naik 109.000, kenaikan terbesar dalam 15 bulan, dari revisi Maret 61.000.

Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, mengatakan risiko kebijakan bergeser ke fokus pengendalian inflasi dan suku bunga mungkin perlu ditahan stabil untuk beberapa waktu. Presiden The Fed Chicago, Austan Goolsbee, mengatakan produktivitas yang lebih tinggi bisa mendorong belanja dan inflasi, sehingga bisa berarti suku bunga lebih tinggi.

Pasar mematok peluang hampir 93% tidak ada perubahan suku bunga pada rapat 17 Juni, menurut data Prime Terminal, dan memperkirakan tidak ada perubahan hingga sisa tahun ini. Pelaku pasar memantau Initial Jobless Claims (klaim awal tunjangan pengangguran, indikator cepat kondisi pasar kerja) dan pidato pejabat The Fed.

Emas menghadapi resistance (area hambatan kenaikan harga) di US$4.700–US$4.715, lalu US$4.760, dengan US$4.800 dan US$4.799 di dekatnya. Support (area penahan penurunan harga) berada di US$4.600, US$4.500, US$4.351, serta SMA 200 hari (rata-rata pergerakan 200 hari, indikator tren jangka panjang) di US$4.276.

Ke Depan

Kita mengingat momen pada Mei 2025 ketika harapan kesepakatan AS-Iran mendorong emas melesat menuju US$4.700 per ounce (ons). Reli tersebut didorong dolar yang melemah dan harga minyak yang jatuh saat risiko geopolitik terlihat mereda. Namun, dalam beberapa pekan berikutnya, diperlukan pendekatan lebih hati-hati karena kondisi pasar sudah banyak berubah.

Komentar The Fed yang hawkish (cenderung mendukung suku bunga lebih tinggi untuk menekan inflasi) pada 2025 dari pejabat seperti Musalem dan Goolsbee menjadi sinyal arah kebijakan. Dengan data CPI (Consumer Price Index/indeks harga konsumen, ukuran inflasi) April 2026 masih “lengket” di 3,1% dan 195.000 pekerjaan bertambah bulan lalu, The Fed punya sedikit alasan untuk menurunkan suku bunga. Lingkungan suku bunga “lebih tinggi lebih lama” membatasi aset tanpa imbal hasil seperti emas (emas tidak memberi bunga atau kupon).

Berbeda dari tahun lalu saat DXY turun ke area 98,00, sikap The Fed yang tegas kemudian menopang dolar. DXY kini diperdagangkan di sekitar 105,50, ditopang selisih suku bunga (interest rate differentials, perbedaan tingkat suku bunga) dengan bank sentral utama lain. Dolar kuat membuat emas lebih mahal dalam mata uang lain, sehingga bisa menahan minat beli dalam waktu dekat.

Dengan tarikan berlawanan antara suku bunga tinggi dan ketegangan geopolitik yang belum reda, volatilitas (besarnya naik-turun harga) diperkirakan meningkat. Trader dapat mempertimbangkan opsi (options/kontrak opsi, instrumen derivatif yang memberi hak beli atau jual pada harga tertentu) untuk membatasi risiko, misalnya membeli put (opsi jual, melindungi posisi beli/long) atau memakai straddle (strategi membeli opsi beli dan opsi jual sekaligus untuk memanfaatkan pergerakan besar ke dua arah). Implied volatility (perkiraan volatilitas yang tersirat dari harga opsi) pada opsi emas naik ke 18% dari 15% pada kuartal lalu, mencerminkan ketidakpastian yang meningkat.

Indikator BNY iFlow Carry melemah seiring investor mengurangi kepemilikan mata uang EM berimbal hasil tinggi di tengah sinyal pemangkasan suku bunga

BNY melaporkan bahwa indeks iFlow Carry sempat masuk ke zona signifikansi statistik negatif (artinya pergerakannya cukup kuat secara data, bukan sekadar kebetulan) selama satu sesi pada pekan lalu. Pergerakan ini mencerminkan hubungan yang berlawanan arah antara aksi jual mata uang dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun, pada negara yang datanya tersedia.

Sepanjang sepekan terakhir, sembilan dari 15 mata uang berimbal hasil tinggi (high-yield, yakni mata uang negara dengan suku bunga relatif tinggi sehingga menarik untuk strategi “carry”) tercatat dijual bersih. Aksi jual terjadi di semua kawasan dan tidak bergantung pada kondisi kebijakan moneter maupun kebijakan fiskal.

Carry Trade Kehilangan Momentum

BNY hanya mencatat satu mata uang yang dijual kuat: peso Kolombia (COP), dengan besaran arus transaksi (flow magnitude, ukuran intensitas arus beli/jual) di atas 1,0 untuk pekan tersebut. Arus ini disebut sebagai pengurangan posisi atau ambil untung ringan (profit-taking, menjual untuk mengunci keuntungan) setelah periode ketahanan carry di tengah volatilitas tajam dan kondisi neraca pembayaran yang sulit (balance of payments, catatan arus masuk-keluar devisa suatu negara).

Bank-bank sentral yang sedang menggelar rapat saat ini disebut memberi sinyal melemahnya permintaan dan peluang penurunan suku bunga ketika kondisi memungkinkan. Catatan tersebut juga menyoroti risiko bahwa pasar dapat mengalihkan fokus ke dukungan pertumbuhan ekonomi dan suku bunga nominal yang lebih rendah.

BNY menyebut negara berkembang (emerging markets) menanggung porsi terbesar posisi carry dan memperingatkan bahwa ambil untung pada posisi beli (long positions, posisi yang diuntungkan jika harga naik) dapat makin cepat jika ekspektasi perubahan kebijakan pada paruh kedua tahun menguat. BNY menambahkan, indikator iFlow Carry belum menunjukkan periode panjang signifikansi statistik negatif sepanjang tahun ini.

BNY mencatat dua episode serupa tahun lalu, yang dikaitkan dengan tarif “liberation day” pada kuartal II dan valuasi terkait AI (kecerdasan buatan) pada kuartal IV. BNY menyebut itu sebagai fase serupa yang terjadi sejak 2022–2023.

Manajemen Risiko untuk Posisi Carry

Ada tanda jelas bahwa carry trade—strategi meminjam dalam mata uang bersuku bunga rendah lalu membeli aset/mata uang bersuku bunga tinggi untuk mengantongi selisih bunga—mulai kehilangan tenaga. Indeks iFlow Carry baru-baru ini menunjukkan hubungan terbalik yang kuat, artinya investor aktif menjual mata uang berimbal hasil tinggi untuk mengunci keuntungan. Ini perubahan besar setelah periode yang cukup tahan banting, dengan sembilan dari 15 mata uang utama tertekan jual sepanjang sepekan terakhir.

Ambil untung ringan ini tampaknya melebar dan perlu dicermati. Indeks Mata Uang Negara Berkembang JPMorgan (JPMorgan Emerging Markets Currency Index) yang sempat menguat di awal tahun, cenderung mendatar selama sebulan terakhir, menandakan kehati-hatian investor yang meningkat. Peso Kolombia menjadi sasaran jual yang menonjol, yang bisa menjadi sinyal awal bagi mata uang berimbal hasil tinggi lainnya.

Pendorong utama perubahan ini adalah pergeseran bahasa bank sentral global. Mereka mulai terbuka menyampaikan kekhawatiran atas melemahnya permintaan ekonomi, dengan data PMI manufaktur (Purchasing Managers’ Index, survei aktivitas bisnis; di bawah 50 berarti aktivitas menyusut) dari negara seperti Brasil dan Afrika Selatan turun di bawah ambang 50 poin. Ini berarti peluang penurunan suku bunga mulai terlihat pada paruh kedua tahun ini.

Untuk posisi derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures yang nilainya mengikuti aset dasar), kondisi ini menuntut manajemen risiko segera. Perlu mempertimbangkan pembelian opsi jual (put options, hak untuk menjual pada harga tertentu sebagai pelindung saat harga turun) pada mata uang berimbal hasil tinggi yang paling rentan atau pada ETF pasar negara berkembang (Exchange Traded Fund, reksa dana yang diperdagangkan di bursa) untuk melindungi eksposur beli yang ada. Kenaikan volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi) akan membuat premi opsi lebih mahal, tetapi itu biaya perlindungan agar tidak terpukul saat terjadi pembalikan cepat.

Risiko utamanya, pasar tidak menunggu bank sentral benar-benar bertindak, sehingga ambil untung bisa meningkat sangat cepat. Meski pasar futures (kontrak berjangka) menunjukkan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed mundur, tekanan jual di pasar negara berkembang bisa terjadi terpisah ketika investor serempak keluar. Karena itu, perlu menurunkan leverage (penggunaan utang untuk memperbesar posisi) pada posisi carry trade.

Dolar Menguat Kembali terhadap Yen saat Kekhawatiran Intervensi Berlanjut, dengan Risiko Minyak dan Selisih Suku Bunga Jadi Sorotan

USD/JPY memantul pada Rabu setelah sebelumnya tertekan terkait dugaan intervensi Jepang lagi. Pasangan ini diperdagangkan di sekitar 156,42 setelah sempat turun singkat ke kisaran 155,00, dan melemah hampir 0,90% pada hari itu.

Dolar AS melemah karena harapan tercapainya kesepakatan AS-Iran, setelah laporan Axios menyebut kedua pihak makin dekat ke perjanjian untuk mengakhiri perang dan menyusun kerangka pembicaraan nuklir. Namun ketidakpastian soal kesepakatan final membatasi pelemahan dolar lebih lanjut.

Indeks Dolar dan Pemantauan Intervensi

Indeks Dolar AS (DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) berada di sekitar 98,04 setelah sempat menyentuh terendah harian 97,62, turun sekitar 0,45%. Jepang belum mengonfirmasi intervensi (aksi otoritas menjual dolar dan membeli yen untuk menahan pelemahan yen), tetapi peringatan pejabat membuat pelaku pasar tetap waspada.

Yen kesulitan menguat karena risiko gangguan pasokan minyak Timur Tengah membebani sentimen, mengingat Jepang bergantung pada impor energi dan pengiriman lewat Selat Hormuz. Perhatian tetap pada Selat Hormuz dan negosiasi AS-Iran.

Data Jepang seperti Labour Cash Earnings (pendapatan upah tunai; indikator tekanan upah dan daya beli) dan risalah rapat Bank of Japan (BoJ; catatan pembahasan kebijakan bank sentral) dijadwalkan Kamis, dengan US Initial Jobless Claims (klaim awal tunjangan pengangguran; indikator cepat pasar tenaga kerja) pada Kamis dan Nonfarm Payrolls (NFP; laporan pekerjaan bulanan di luar sektor pertanian) pada Jumat. Level teknikal mencakup SMA (Simple Moving Average/rata-rata pergerakan sederhana; penanda arah tren) di 157,36, 158,69, dan 154,24, dengan RSI (Relative Strength Index; ukuran momentum, di bawah 50 cenderung lemah) dekat 38, ADX (Average Directional Index; ukuran kekuatan tren) sekitar 23, dan support (area penopang harga) di sekitar 155,50.

Lindung Nilai dan Prospek Selisih Suku Bunga

Trader derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures) dapat mempertimbangkan membeli opsi call JPY (hak membeli yen pada harga tertentu) atau opsi put USD/JPY (hak menjual USD/JPY pada harga tertentu) untuk lindung nilai terhadap penurunan mendadak. Meski tren dasar masih naik, pengalaman penurunan beberapa yen dalam sehari tahun lalu membuat posisi beli tanpa lindung nilai sangat berisiko. Opsi memberi perlindungan dengan risiko yang sudah dibatasi sejak awal (kerugian maksimum umumnya sebatas premi yang dibayar) dari potensi intervensi mendadak BoJ.

Alasan utama kuatnya dolar tetap selisih suku bunga yang lebar antara AS dan Jepang. Suku bunga The Fed berada di sekitar 4,5% setelah inflasi bertahan lebih tinggi dari perkiraan, sementara BoJ baru menaikkan suku bunga kebijakan secara hati-hati ke 0,1% akhir tahun lalu. Kesenjangan ini membuat carry trade (strategi meminjam mata uang berbunga rendah seperti yen untuk membeli mata uang berbunga lebih tinggi seperti dolar) tetap menarik.

Data ekonomi terbaru AS, termasuk laporan NFP April 2026 yang menunjukkan penambahan lebih dari 240.000 pekerjaan, mendukung kekuatan dolar. Ini berbeda dengan 2025 ketika harapan kesepakatan AS-Iran sempat menekan dolar. Saat ini dorongan dolar terutama berasal dari kinerja ekonomi yang solid dan The Fed yang hawkish (cenderung mempertahankan/menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi).

Dari sisi Jepang, yen masih lemah secara fundamental, sehingga ruang BoJ untuk mengetatkan kebijakan secara agresif terbatas kecuali lewat intervensi langsung. Data terbaru Maret 2026 menunjukkan upah riil pekerja (upah setelah memperhitungkan inflasi) turun untuk bulan ke-25 berturut-turut, menekan permintaan domestik. Kondisi ini membuat pengetatan moneter besar (kenaikan suku bunga yang berarti) kecil kemungkinan dalam waktu dekat.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga terus merugikan yen. Dengan lebih dari 20% pasokan minyak dunia masih melewati Selat Hormuz, gangguan apa pun menjadi risiko besar bagi ekonomi Jepang yang bergantung pada impor energi. Ketidakpastian ini ikut menekan yen dibanding dolar AS yang lebih mandiri energi.

Karena itu, strategi yang dapat dipertimbangkan adalah struktur opsi seperti bull call spread pada USD/JPY (membeli call dan menjual call lain di level lebih tinggi untuk menekan biaya). Strategi ini memungkinkan trader meraih keuntungan dari kenaikan bertahap yang didorong faktor dasar, sekaligus membatasi potensi kerugian—penting mengingat risiko intervensi resmi yang bisa terjadi tiba-tiba dan tajam.

Inflasi Korea Selatan Capai Level Tertinggi dalam 21 Bulan, Batas Harga BBM Redam Tekanan saat Bank Sentral Korea Kian Hawkish

Inflasi harga konsumen Korea Selatan naik menjadi 2,6% (year-on-year/yoy: dibandingkan periode yang sama tahun lalu) pada April, dari 2,2% pada Maret. Angka ini sesuai konsensus pasar, namun di bawah perkiraan 2,8%, terutama karena penurunan harga pangan yang lebih besar dari perkiraan.

Inflasi April menjadi yang tertinggi dalam 21 bulan, dengan langkah dukungan pemerintah menahan kenaikan harga. Kebijakan ini mencakup kupon belanja pangan, batas harga bensin (price cap: pembatasan harga maksimum), dan tarif utilitas (listrik/gas/air) yang dibekukan.

Inflasi Inti Dan Tekanan Energi

Inflasi yang tidak memasukkan pangan dan energi (core inflation/inflasi inti: ukuran inflasi dasar yang lebih stabil karena mengabaikan komponen yang paling bergejolak) bertahan di 2,2% untuk bulan kedua. Harga energi mencatat kenaikan terbesar, didorong minyak dan produk minyak.

Harga minyak dan produk minyak naik 21,9% yoy, menambah 0,84 poin persentase terhadap inflasi keseluruhan. Batas harga bahan bakar membantu menahan kenaikan harga energi agar tidak setinggi di banyak ekonomi besar lain.

Di sektor jasa, biaya sewa rumah naik 1,0% dan meningkat bertahap sejak Januari 2024, saat masih turun 0,2%. Perubahan sewa cenderung lambat, terkait sistem sewa Jeonse (Jeonse: sistem sewa khas Korea dengan setoran besar di awal, lalu pembayaran sewa bulanan rendah atau nol).

Inflasi utama (headline inflation: inflasi keseluruhan termasuk semua komponen) diperkirakan naik meski ada kebijakan pemerintah, mendekati 3% paling cepat Juni. Fokus kebijakan tetap pada ekspektasi inflasi (inflation expectations: perkiraan masyarakat/pelaku usaha terhadap inflasi ke depan yang dapat memengaruhi harga dan upah). Kenaikan suku bunga diproyeksikan berlangsung bertahap, termasuk total 50 basis poin (basis point/bps: 1 bps = 0,01%) pada paruh kedua 2026, dengan kenaikan Juli dinilai lebih mungkin dibanding Mei.

Implikasi Bagi Suku Bunga Dan Won Korea

Dengan inflasi Korea Selatan mencapai 2,6% pada April, kami melihat Bank of Korea (BoK/bank sentral Korea) mulai mengarahkan perhatian ke potensi kenaikan suku bunga. Ini terjadi meski batas harga bahan bakar dan kupon pangan menahan laju kenaikan, terutama saat harga minyak mentah WTI (West Texas Intermediate: patokan harga minyak AS) baru-baru ini menembus US$95 per barel. Inflasi inti yang tetap 2,2% menunjukkan tekanan dasar masih relatif terkendali.

Pasar kini memperkirakan bank sentral akan lebih ketat (hawkish: cenderung menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi), berbeda dari kebijakan yang stabil sepanjang sebagian besar 2025. Kami menilai kenaikan suku bunga dapat terjadi pada paruh kedua tahun ini, kemungkinan mulai Juli. Ini membuka peluang posisi untuk penguatan won Korea terhadap mata uang dari bank sentral yang lebih longgar (dovish: cenderung menahan/menurunkan suku bunga), seperti yen Jepang, di mana BoJ (Bank of Japan/bank sentral Jepang) mempertahankan suku bunga kebijakan dekat 0,10%.

Kami memperkirakan total kenaikan 50 bps sebelum akhir tahun, yang berpotensi meningkatkan permintaan terhadap won. Pelaku pasar dapat mempertimbangkan interest rate swap pay-fixed (swap suku bunga bayar tetap: kontrak derivatif untuk membayar bunga tetap dan menerima bunga mengambang, biasanya diuntungkan saat suku bunga naik) untuk memanfaatkan perkiraan kenaikan suku bunga acuan BoK dari 3,50% saat ini. Pandangan ini didukung oleh kenaikan bertahap biaya sewa rumah sejak Januari.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Goolsbee Soroti Perdebatan The Fed soal Dampak Produktivitas terhadap Inflasi saat Pasar Bersiap Hadapi Lonjakan Volatilitas

Austan Goolsbee, Presiden Federal Reserve Bank of Chicago, berbicara di Milken Institute Global Conference 2026 di California pada Rabu. Ia mengatakan The Fed (bank sentral AS) masih memperdebatkan bagaimana kenaikan produktivitas—kemampuan ekonomi menghasilkan lebih banyak barang/jasa dari jumlah pekerja dan jam kerja yang sama—mempengaruhi inflasi (kenaikan harga barang dan jasa secara umum).

Ia menambahkan, jika rumah tangga memperkirakan pendapatan dan kekayaan akan naik di masa depan karena produktivitas yang lebih tinggi, mereka bisa meningkatkan belanja. Ini dapat mendorong inflasi.

Productivity Inflation Debate

Ia menambahkan bahwa produktivitas dapat memengaruhi inflasi dan suku bunga ke dua arah. Hasil akhirnya tergantung pada bagaimana faktor-faktor ini berkembang.

Perdebatan aktif The Fed soal apakah produktivitas yang naik akan mendorong atau justru menekan inflasi menciptakan ketidakpastian besar bagi pasar. Produktivitas nonpertanian (pengukuran produktivitas di luar sektor pertanian) pada kuartal I 2026 melonjak 3,5% (annualized, yaitu dihitung seolah-olah laju kuartalan itu berlangsung setahun penuh). Namun laporan CPI April (Consumer Price Index, indikator inflasi berdasarkan perubahan harga keranjang barang/jasa konsumen) tetap tinggi di 3,1%. Kondisi ini membuat langkah The Fed berikutnya sulit diprediksi. Artinya, rilis data ekonomi berikutnya—terutama laporan inflasi dan tenaga kerja—berpotensi memicu reaksi pasar yang lebih besar dari biasanya.

Dengan ketidakpastian ini, volatilitas pasar (besar-kecilnya naik-turun harga) diperkirakan meningkat. Indeks Volatilitas CBOE (VIX, ukuran ekspektasi volatilitas pasar saham AS yang sering disebut “indeks ketakutan”) yang bertahan di sekitar 17 berpotensi naik di atas 20 ketika pelaku pasar menyesuaikan posisi menjelang rapat The Fed berikutnya. Bagi pedagang derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures), ini berarti strategi yang diuntungkan saat volatilitas naik—misalnya membeli opsi call VIX (hak membeli pada harga tertentu) atau instrumen sejenis—dapat dimanfaatkan jika gejolak pasar meningkat.

Pasar derivatif suku bunga juga mencerminkan kebimbangan ini. Fed funds futures (kontrak berjangka yang mencerminkan perkiraan pasar atas suku bunga kebijakan The Fed) menunjukkan peluang yang hampir berimbang antara suku bunga ditahan atau dinaikkan pada akhir musim panas. Pendekatan yang lebih berhati-hati adalah memakai strategi opsi yang bisa untung bila terjadi pergerakan besar ke salah satu arah, seperti straddle atau strangle (strategi membeli opsi call dan put dengan jatuh tempo sama, pada harga kesepakatan yang sama atau berbeda, untuk bertaruh pada pergerakan besar tanpa menebak arahnya) pada futures SOFR. SOFR (Secured Overnight Financing Rate) adalah suku bunga acuan pasar uang AS berbasis transaksi repo semalam dan sering dipakai sebagai patokan derivatif suku bunga. Strategi ini memungkinkan posisi tetap berpotensi untung apakah The Fed terpaksa menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi atau menahan suku bunga karena produktivitas membantu menekan harga.

Market Hedging Strategies

Dari sisi saham, dua skenario tersebut bisa membuat kinerja saham sangat berbeda. Pada periode 2022–2024, pasar sangat sensitif terhadap perubahan arah kebijakan The Fed, dan situasi saat ini terasa mirip. Lindung nilai (hedging, upaya mengurangi risiko) untuk portofolio saham dengan membeli opsi put out-of-the-money (opsi jual dengan harga kesepakatan di bawah harga pasar saat ini, biasanya lebih murah namun protektif saat pasar turun tajam) pada indeks seperti S&P 500 bisa menjadi “asuransi” berbiaya relatif rendah jika The Fed tiba-tiba bersikap hawkish (lebih ketat/pro-kenaikan suku bunga) dalam beberapa pekan ke depan.

Jika melihat sejarah, akhir 1990-an menunjukkan lonjakan produktivitas bisa terjadi tanpa inflasi yang tak terkendali. Namun guncangan rantai pasok 2022 memberi pelajaran berbeda. Data pertumbuhan upah terbaru, yang berada di laju tahunan 4,2%, mendukung pandangan bahwa produktivitas lebih tinggi saat ini mengalir ke permintaan konsumen yang lebih kuat dan tekanan harga. Ini mengindikasikan risiko condong ke arah inflasi yang mungkin belum sepenuhnya diperhitungkan pasar.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code