Back

Yu dari BNY memperingatkan pembalikan perdagangan total return Amerika Latin yang sudah terlalu ramai seiring meningkatnya lindung nilai peso Meksiko

BNY’s Geoff Yu mengatakan valuta asing (foreign exchange/FX—transaksi tukar-menukar mata uang) dan saham Amerika Latin kini diperlakukan sebagai satu posisi “total return” (imbal hasil total—gabungan keuntungan harga dan pendapatan seperti kupon/dividen). Data iFlow menunjukkan setiap mata uang Amerika Latin masih **net overheld** (kepemilikan bersih berlebihan—posisi beli lebih besar dari biasanya).

Hingga baru-baru ini, ia mengatakan semua pasar obligasi pemerintah (sovereign bonds—surat utang negara) di kawasan itu juga **overheld**. Ia menambahkan posisi obligasi ini mulai berbalik (investor mengurangi kepemilikan), tetapi tidak merata di tiap negara.

Dinamika “Crowded Trade” Latam

Di Meksiko, ia menyoroti naiknya permintaan **FX hedging** (lindung nilai mata uang—cara mengurangi risiko kurs) saat pasar memperhitungkan suku bunga yang lebih rendah. Ini terjadi menjelang perkiraan pemangkasan 25 bp (basis point/poin dasar; 100 bp = 1%) oleh Banxico (bank sentral Meksiko), sementara permintaan obligasi pemerintah Meksiko tetap kuat.

Ia menilai Banxico dipandang bergerak ke arah kebijakan yang lebih mendukung stimulus dan pertumbuhan. Ia juga mengatakan **buffer suku bunga riil** (selisih suku bunga setelah dikurangi inflasi yang menjadi “bantalan” daya tarik) sedang dipersempit, dan dibutuhkan 100 bp untuk menjaga suku bunga riil tetap positif (suku bunga di atas inflasi).

Yu mencatat risiko spesifik negara yang lebih tinggi dari AS, terkait dampak yang lebih cepat dari ekspektasi kebijakan yang tidak terlalu “dovish” (tidak terlalu condong longgar/menurunkan suku bunga) serta potensi masalah dalam perundingan dagang mendatang. Ia menambahkan, jika pasar terus fokus pada arah suku bunga ke depan, lindung nilai FX bisa meningkat, sementara pasar pendapatan tetap (fixed income—instrumen berbunga seperti obligasi) bisa tetap tahan karena dorongan fiskal (fiscal impulse—tambahan stimulus dari belanja/defisit pemerintah) terbatas.

Kami menilai mata uang dan saham Amerika Latin telah menjadi satu posisi yang sangat padat (crowded trade—terlalu banyak investor mengambil posisi yang sama), dengan hampir semua mata uang di kawasan ini masih “terlalu banyak dimiliki”. Setelah kinerja kuat hingga 2025, posisi-posisi ini mulai dilepas, meski tidak serentak. Risikonya, investor bisa keluar bersamaan sehingga pergerakan harga menjadi tajam.

Di Meksiko, pasar bersiap bank sentral memangkas suku bunga, dengan penurunan 25 bp ke 10,75% diperkirakan luas pada rapat Banxico pekan ini. Pergeseran kebijakan ini, untuk mendorong pertumbuhan setelah inflasi April turun ke 4,5%, membuat lebih banyak pelaku pasar melindungi diri dari potensi pelemahan peso. Meski begitu, investasi asing di obligasi pemerintah negara tersebut tetap kuat, bertahan di sekitar US$75 miliar.

Strategi Lindung Nilai Peso Meksiko

Ini menciptakan perbedaan: investor menyukai obligasi Meksiko, tetapi khawatir arah peso. Bank sentral sedang menurunkan suku bunga riil tinggi yang membuat mata uang ini sangat menarik tahun lalu. Penyempitan bantalan ini mengisyaratkan toleransi terhadap pelemahan mata uang demi mendukung ekonomi domestik.

Bagi trader derivatif (instrumen turunan—kontrak yang nilainya mengikuti aset acuan), ini berarti saatnya menambah lindung nilai terhadap penurunan peso Meksiko. Pertimbangkan membeli opsi call USD/MXN (hak membeli dolar terhadap peso pada harga tertentu) atau memakai kontrak forward (kontrak kurs di masa depan) untuk melindungi posisi dari depresiasi (penurunan nilai tukar). Tren “super peso” yang dominan pascapandemi tampak melemah.

Urgensinya meningkat karena risiko dari AS. Pasar memangkas ekspektasi menjadi hanya satu kali pemangkasan suku bunga The Fed pada 2026, yang menguatkan dolar dan menekan mata uang pasar berkembang. Ditambah negosiasi dagang yang akan datang, kondisi ini menjadi tantangan bagi peso.

Ketidakpastian ini terlihat di pasar opsi, di mana volatilitas tersirat (implied volatility—perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi) 3 bulan untuk peso naik ke atas 12,5% dari 10% di awal tahun. Volatilitas ini bisa dimanfaatkan dengan menyusun transaksi yang diuntungkan bila terjadi pergerakan tajam pada mata uang. Intinya, pisahkan risiko mata uang dari imbal hasil obligasi yang masih menarik.

Perak Melonjak di Atas US$77 Berkat Harapan Kesepakatan AS-Iran Seiring Dolar dan Imbal Hasil Obligasi Turun

Perak (XAG/USD) naik pada Rabu setelah muncul laporan adanya kemajuan menuju kemungkinan kesepakatan damai AS-Iran. XAG/USD diperdagangkan di sekitar 77, naik lebih dari 5,50% pada hari itu.

Axios melaporkan Washington dan Teheran makin dekat ke kesepakatan untuk mengakhiri perang dan menyusun kerangka kerja untuk pembicaraan nuklir yang lebih rinci. Kabar ini diikuti pelemahan Dolar AS dan turunnya harga minyak mentah.

Reaksi Pasar dan Pendorong Makro

Turunnya harga minyak meredakan kekhawatiran inflasi (kenaikan harga) jangka pendek dan menekan imbal hasil (yield) US Treasury, sehingga mendukung logam yang tidak memberikan bunga/imbal hasil seperti perak. Pasar juga kembali memperhitungkan peluang penurunan suku bunga The Fed pada akhir tahun.

Ketidakpastian tetap tinggi apakah kedua pihak akan mencapai kesepakatan final, sehingga dapat membatasi kenaikan lanjutan. Pergerakan ini juga meningkatkan peluang fase konsolidasi (bergerak mendatar dalam kisaran tertentu) setelah lonjakan intraday (pergerakan dalam satu hari perdagangan).

Pada grafik harian, perak masih berada di bawah Simple Moving Average/SMA 50 hari dan 100 hari (rata-rata pergerakan sederhana). Relative Strength Index/RSI (indikator momentum yang mengukur kuat-lemahnya dorongan harga) berada di sekitar 53, MACD (indikator momentum berbasis perbedaan dua rata-rata pergerakan) sedikit positif, dan Average Directional Index/ADX (indikator kekuatan tren) sekitar 12.

Resistensi (area hambatan kenaikan) berada di SMA 50 hari dekat $77 dan SMA 100 hari dekat $80. Support (area penahan penurunan) ada di zona $70,00–$71,00, dengan SMA 200 hari di $63.

Opsi dan Strategi Volatilitas

Lonjakan mendadak ke level resistensi $77 yang dipicu berita geopolitik menunjukkan perlunya kehati-hatian. Mengingat masih belum pasti tercapai tidaknya kesepakatan AS-Iran, ini lebih cocok menjadi peluang memperdagangkan volatilitas (besar-kecilnya ayunan harga) daripada bertaruh ke satu arah. Implied volatility (perkiraan volatilitas ke depan yang tercermin dalam harga opsi) pada opsi perak melonjak ke level tertinggi enam bulan, menembus 35% untuk kontrak front-month (jatuh tempo terdekat), sehingga strategi menjual opsi menjadi lebih menarik.

Bagi yang memperkirakan harga masih bisa naik jika kesepakatan ditandatangani, membeli call spread (strategi membeli opsi call dan menjual opsi call lain pada harga strike lebih tinggi untuk membatasi biaya) adalah cara berisiko terukur. Contohnya call spread Juni $77/$80 dapat menangkap kenaikan ke resistensi berikutnya sambil membatasi premi (biaya opsi) yang dibayar di periode volatilitas tinggi.

Indikator tren yang lemah menunjukkan reli ini belum kuat secara teknikal, membuka peluang konsolidasi. Menjual iron condor (strategi opsi dengan menjual spread call dan spread put agar mendapat premi jika harga tetap di kisaran) dengan strike di sekitar support $70 dan resistensi $80 bisa menjadi cara untuk mengumpulkan premi, dengan asumsi harga bergerak dalam rentang sambil menunggu kabar yang lebih jelas. Strategi ini selaras dengan kondisi pasar yang bergerak terlalu jauh, terlalu cepat, karena satu berita.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Pound Menguat saat Harapan Kesepakatan AS-Iran Melemahkan Dolar, Meski Data Tenaga Kerja Kuat

GBP/USD naik lebih dari 0,59% pada Rabu setelah laporan Axios menyebut AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang. Dolar AS melemah setelah laporan tersebut.

Pergerakan ini terjadi meski data tenaga kerja AS lebih baik dari perkiraan. Kondisi ini bisa membuat Federal Reserve (bank sentral AS) tetap fokus menekan inflasi.

Geopolitik Versus Data

GBP/USD diperdagangkan di 1,3614 setelah memantul dari level terendah harian 1,3531.

Pada 2025, GBP/USD sempat melonjak ke area 1,36 ketika pembicaraan kesepakatan AS-Iran sementara “menutupi” data tenaga kerja AS yang sangat kuat. Ini menunjukkan bahwa judul berita geopolitik bisa sesaat mengalahkan dasar ekonomi yang jelas. Kini, pada Mei 2026, terlihat lagi tarik-menarik antara peristiwa global dan arah kebijakan bank sentral.

Dolar AS cukup bertahan tahun ini, tetapi data terbaru memberi sinyal perubahan. Laporan Non-Farm Payrolls (NFP, data jumlah pekerjaan baru di luar sektor pertanian—indikator utama kondisi pasar tenaga kerja AS) untuk April 2026 menambah 175.000 pekerjaan, di bawah konsensus 240.000. Ini menurunkan ekspektasi The Fed akan makin “hawkish” (lebih agresif menaikkan suku bunga). Sementara itu, inflasi Inggris masih “lengket” (sulit turun), dengan CPI (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen, ukuran inflasi) terakhir tetap di atas 3%, sehingga menekan Bank of England (bank sentral Inggris).

Perbedaan arah ini mengindikasikan volatilitas (besarnya naik-turun harga) GBP/USD berpotensi meningkat dari level rendah saat ini. Volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi) untuk opsi 1 bulan berada di sekitar 7,8%, lebih rendah dibanding puncak di atas 10% pada akhir 2025. Ini berarti membeli opsi, seperti straddle (strategi membeli opsi beli/call dan opsi jual/put pada strike yang sama untuk memanfaatkan pergerakan besar ke dua arah), relatif lebih murah untuk bersiap menghadapi potensi pergerakan besar dalam beberapa pekan ke depan.

Trading dengan Risiko Terukur

Bagi trader yang punya pandangan arah (directional bias, keyakinan harga akan cenderung naik atau turun), melemahnya data tenaga kerja AS bisa memberi keunggulan bagi pound. Membeli opsi call GBP/USD (opsi beli, hak membeli pada harga tertentu) dengan strike price (harga patokan opsi) sekitar 1,3800 memberi cara bertaruh pada penguatan sterling dengan risiko yang sudah dibatasi. Secara historis, periode ketika ekspektasi pasar terhadap The Fed melunak sementara ekspektasi terhadap Bank of England menguat sering diikuti reli pound yang lebih bertahan, seperti pada paruh kedua 2023.

Namun, pelajaran dari 2025 adalah reli karena berita bisa cepat hilang jika cerita utamanya tidak benar-benar terjadi. Kesepakatan AS-Iran saat itu tidak pernah terbentuk penuh, dan dolar akhirnya pulih karena didukung kondisi ekonomi yang kuat. Karena itu, menggunakan strategi derivatif (instrumen turunan seperti opsi/futures yang nilainya mengikuti aset acuan) yang menetapkan batas kerugian maksimum adalah langkah yang masuk akal dalam situasi seperti ini.

Pound Menguat saat Harapan Kesepakatan AS-Iran Melemahkan Dolar; Trader Menimbang Opsi di Tengah Perubahan Prospek Makro

GBP/USD naik lebih dari 0,59% pada Rabu setelah Axios melaporkan AS dan Iran makin dekat dengan kesepakatan untuk mengakhiri perang. Pasangan ini diperdagangkan di 1,3614 setelah sempat menyentuh 1,3643, sementara Dolar AS melemah.

Axios menyebut kedua pihak membahas nota kesepahaman (MoU, dokumen ringkas berisi poin kesepakatan awal) satu halaman dengan 14 poin. Rencana itu mencakup masa negosiasi 30 hari, pembukaan Selat Hormuz, pembatasan program nuklir Iran, serta AS mencairkan dana Teheran yang sebelumnya dibekukan.

Reaksi Pasar Dan Katalis Utama

US ADP National Employment Change (perkiraan perubahan jumlah tenaga kerja sektor swasta AS) naik 109.000 pada April, kenaikan terbesar dalam 15 bulan. Angka ini melampaui proyeksi 99.000 dan revisi Maret 61.000.

WTI (minyak mentah acuan AS) turun lebih dari 7% setelah laporan soal Iran. Indeks Dolar AS (DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) turun 0,49% ke 98,00.

Presiden The Fed St. Louis Alberto Musalem mengatakan risiko bergeser ke arah inflasi yang lebih tinggi. Ia menilai suku bunga mungkin perlu ditahan untuk beberapa waktu.

Di Inggris, tekanan terhadap Perdana Menteri Keir Starmer meningkat menjelang hasil pemilu lokal. S&P Global Services PMI (indeks manajer pembelian sektor jasa, indikator aktivitas bisnis) sesuai ekspektasi, sementara prices paid (komponen harga yang dibayar perusahaan) naik paling tinggi dalam tiga setengah tahun pada April.

Di Inggris, tekanan terhadap Perdana Menteri Keir Starmer meningkat menjelang hasil pemilu lokal. S&P Global Services PMI (indeks manajer pembelian sektor jasa, indikator aktivitas bisnis) sesuai ekspektasi, sementara prices paid (komponen harga yang dibayar perusahaan) naik paling tinggi dalam tiga setengah tahun pada April.

Level Teknikal Dan Implikasi Strategis

Level teknikal yang disebut mencakup pivot 1,3598, resistance (area hambatan kenaikan) dari 1,3869, dukungan SMA (Simple Moving Average/rata-rata bergerak sederhana) di 1,3415, dan garis dukungan naik dari 1,3035.

Kita mengingat periode ini tahun lalu, pada Mei 2025, ketika harapan kesepakatan AS-Iran memicu pergeseran risk-on besar (minat investor mengambil risiko meningkat), yang menekan Dolar AS. GBP/USD melonjak melewati 1,36 meski data pekerjaan AS yang kuat mengisyaratkan The Fed bisa hawkish (cenderung menaikkan/menahan suku bunga tinggi untuk melawan inflasi). Ini contoh ketika berita geopolitik sementara mengalahkan faktor ekonomi.

“Bonus damai” sementara dari MoU 2025 itu tidak bertahan lama, dan faktor dasar kembali dominan. Indeks Dolar AS yang turun ke 98,00 saat pembicaraan tersebut kemudian naik ke sekitar 105,15 karena The Fed menahan suku bunga lebih tinggi lebih lama untuk menekan inflasi yang ternyata sulit turun. Harga minyak yang sempat melemah kembali ke kisaran pertengahan US$80 untuk WTI di tengah kekhawatiran pasokan.

Melihat grafik GBP/USD saat ini, pasangan ini gagal bertahan di atas level 1,38 yang disebut tahun lalu dan kemudian bergerak turun, kini diperdagangkan di sekitar 1,2520. Dukungan teknikal di 1,3415 pada 2025 ditembus kuat pada akhir tahun itu dan berubah menjadi resistance baru. Dinamika pasar bergeser dari penguatan pound ke dominasi dolar dalam 12 bulan terakhir.

Bagi trader derivatif (instrumen turunan seperti opsi), kondisi ini bisa mendorong penjualan call option (opsi beli, memberi hak membeli pada harga tertentu) pada GBP/USD untuk mendapat premium (biaya yang diterima penjual opsi), dengan asumsi harga akan tertahan di bawah resistance seperti 1,2650. Dengan inflasi Inggris dilaporkan 3,9% pada April 2026, Bank of England punya ruang terbatas untuk memangkas suku bunga, yang bisa menekan pertumbuhan dan pound. Strategi bearish call spread (menggabungkan jual call dan beli call di level lebih tinggi untuk membatasi risiko) memungkinkan keuntungan dari tren mendatar hingga turun dengan risiko terukur.

Implied volatility (perkiraan volatilitas yang tersirat dari harga opsi) pada opsi “cable” (sebutan pasar untuk GBP/USD) kini jauh lebih rendah dibanding periode gejolak politik dan geopolitik 2025. Ini membuat membeli opsi relatif lebih murah, menarik bagi pihak yang menunggu pergerakan besar. Trader yang memperkirakan Fed pivot (perubahan arah kebijakan, misalnya dari ketat ke lebih longgar) bisa membeli call berjangka lebih panjang, misalnya call September 1,2700, dengan biaya yang masih masuk akal.

Namun fokus terdekat adalah perbedaan data ekonomi AS dan Inggris. Ekonomi AS tetap tangguh, dengan non-farm payrolls (NFP, penambahan pekerjaan di luar sektor pertanian) terbaru bertambah 240.000, sementara penjualan ritel Inggris lesu. Perbedaan ini mendukung strategi yang diuntungkan oleh dolar yang lebih kuat, sehingga put option (opsi jual, memberi hak menjual pada harga tertentu) pada GBP/USD atau put spread menjadi cara menarik untuk memposisikan diri menuju potensi uji level 1,2400 dalam beberapa pekan ke depan.

EUR/USD Naik Berkat Harapan Kesepakatan AS-Iran, Harga Minyak Turun dan Taruhan Pemangkasan Suku Bunga The Fed Kembali Menguat

EUR/USD naik pada Rabu di tengah laporan adanya kemajuan menuju kemungkinan kesepakatan AS-Iran. Kabar ini menekan Dolar AS dan mendukung euro. Pasangan ini diperdagangkan dekat 1,1750, naik hampir 0,50%, setelah sempat menyentuh 1,1796, level tertinggi sejak 17 April.

Axios melaporkan Washington dan Teheran makin dekat ke kesepakatan untuk mengakhiri perang dan menetapkan kerangka kerja pembicaraan nuklir yang lebih rinci. Laporan itu menyebut Iran dapat menghentikan sementara pengayaan nuklir (proses meningkatkan kadar uranium), sementara AS akan mencabut sanksi (pembatasan ekonomi) dan melepas miliaran dolar dana Iran yang dibekukan, dengan kedua pihak diperkirakan mengakhiri blokade di sekitar Selat Hormuz (jalur pelayaran minyak penting).

Reaksi Pasar dan Posisi Pelaku

Setelah laporan tersebut, harga minyak turun dan imbal hasil (yield) US Treasury—tingkat keuntungan obligasi pemerintah AS—melemah. Ini meredakan kekhawatiran inflasi yang dipicu energi dan mengurangi tekanan pada Federal Reserve (bank sentral AS) untuk mengetatkan kebijakan. Pelaku pasar kembali memasang kemungkinan pemangkasan suku bunga The Fed sebelum akhir tahun.

Kenaikan EUR/USD terbatas oleh ketidakpastian setelah Donald Trump memperingatkan aksi militer bisa berlanjut jika Iran tidak menerima kesepakatan. ISNA milik Iran menyebut sebagian laporan itu “spekulasi” dan menggambarkan tuntutan AS “ambisius dan tidak realistis”.

Dolar AS kemudian stabil, dengan indeks DXY (indeks kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) sekitar 97,98 setelah sempat turun ke 97,62. Data ADP menunjukkan penambahan tenaga kerja sektor swasta naik 109 ribu pada April dibanding 61 ribu pada Maret, lebih tinggi dari perkiraan 99 ribu.

Presiden The Fed St. Louis Alberto Musalem mengatakan inflasi “jauh di atas target” dan bahwa “inflasi yang mendasar” (tekanan harga inti yang lebih persisten) perlu dicermati. Fokus kini tertuju pada data Klaim Pengangguran mingguan AS pada Kamis dan Nonfarm Payrolls/NFP pada Jumat (laporan bulanan pertambahan pekerjaan di luar sektor pertanian).

Buka akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

AUD/USD Naik karena Harapan Kesepakatan AS-Iran, tetapi Data Ketenagakerjaan AS yang Kuat Membatasi Kenaikan

AUD/USD naik mendekati 0,7240 setelah laporan menyebut AS dan Iran makin dekat ke kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Pasangan ini berada di 0,7239 setelah sempat menyentuh 0,7277, level tertinggi sejak Juni 2022.

Meredanya kekhawatiran gangguan berkepanjangan pada arus energi global meningkatkan minat pada mata uang berisiko, termasuk Dolar Australia. Permintaan aset aman (safe haven)—yakni aset yang biasanya diburu saat pasar takut, seperti Dolar AS—juga berkurang, sehingga mendorong penguatan AUD/USD.

Optimisme Kesepakatan AS-Iran

Kenaikan tertahan setelah data ketenagakerjaan sektor swasta AS lebih kuat. ADP (laporan perkiraan penambahan tenaga kerja dari perusahaan penggajian swasta) mencatat 109.000 pekerjaan baru pada April, di atas perkiraan 99.000 dan naik dari revisi 61.000 pada Maret.

Pada grafik 4 jam, AUD/USD bertahan di atas SMA (simple moving average/rata-rata pergerakan sederhana) 20-periode di 0,7197 dan SMA 100-periode di 0,7166. RSI (relative strength index/indikator momentum untuk mengukur kuat-lemahnya pergerakan harga) berada di sekitar 63.

Level resistance (hambatan kenaikan) berada di 0,7242 dan 0,7251. Support (penopang penurunan) di 0,7232 dan 0,7229, dengan level lanjutan di 0,7197 dan 0,7166.

Dolar AS Tertekan seiring Harapan Kesepakatan Iran Menekan Minyak; Intervensi Yen dan Data China Angkat Mata Uang Berisiko

Ekspektasi baru atas kesepakatan damai AS–Iran dan turunnya harga minyak mentah Brent menekan Dolar AS. Rencana AS untuk mengawal pelayaran melalui Selat Hormuz, yang dikenal sebagai Project Freedom, dibatalkan sebelum diluncurkan setelah Presiden Trump menyebut ada “Kemajuan Besar” menuju kesepakatan dengan Iran.

Minyak mentah Brent dibuka melemah (gap down) dan turun 6% dari puncak hari sebelumnya. Pelemahan harga minyak ini terjadi bersamaan dengan lanjutan aksi jual dolar AS, sementara pasar saham global tetap kuat berkat kenaikan saham terkait kecerdasan buatan (AI).

Tekanan Dolar Dari Minyak Dan Diplomasi

USD/JPY turun tajam di tengah dugaan intervensi mata uang Jepang (aksi bank sentral/pemerintah di pasar valas untuk memengaruhi nilai tukar). Perkembangan di Timur Tengah disebut menjadi penentu apakah kenaikan USD/JPY yang terjadi belakangan benar-benar mereda, karena situasi bisa berubah cepat.

Data China yang menunjukkan ketahanan ekonomi juga menambah tekanan pada dolar. Dolar Australia dan Dolar Selandia Baru menjadi mata uang G10 (kelompok 10 mata uang utama negara maju) dengan kinerja terbaik pada hari itu, setelah data PMI China melampaui perkiraan, dipimpin penguatan sektor jasa. PMI (Purchasing Managers’ Index/Indeks Manajer Pembelian) adalah survei aktivitas bisnis; angka di atas 50 umumnya berarti ekspansi.

Kami melihat pola serupa pada 2025, ketika harapan damai di Timur Tengah dan turunnya harga minyak menekan dolar AS. Saat ini, Indeks Dolar berada di sekitar level 105, mencerminkan tarik-menarik yang sama ketika pelaku pasar menimbang risiko geopolitik dibanding data ekonomi. Ketidakpastian ini membuka peluang bagi pihak yang mampu mengelola volatilitas (besarnya naik-turun harga).

Penurunan tajam Brent pada 2025 berbeda dengan kondisi kini, ketika harga relatif stabil di sekitar US$83 per barel. Kami melihat ini sebagai peluang untuk menjual opsi put (kontrak yang nilainya naik ketika harga aset turun; penjual put menerima premi/uang premi) pada ETF minyak seperti USO. Strategi ini mengambil premi dengan keyakinan harga tidak akan turun jauh lagi. Namun, jika memperkirakan tensi Timur Tengah kembali naik, strategi call spread (membeli opsi call dan menjual opsi call lain pada harga target berbeda untuk menekan biaya) memberi cara berbiaya lebih rendah untuk bertaruh pada lonjakan harga.

Strategi Opsi Untuk Volatilitas Yen

Seperti pada 2025, pasar kembali menghadapi dampak intervensi Jepang, dengan otoritas diduga menghabiskan lebih dari US$35 miliar pekan lalu untuk menahan pelemahan yen. Volatilitas pada pasangan USD/JPY membuat strategi membeli straddle atau strangle menjadi menarik. Straddle adalah membeli opsi call dan put sekaligus pada harga kesepakatan (strike) yang sama; strangle mirip tetapi menggunakan strike berbeda. Keduanya bertujuan meraih keuntungan dari pergerakan harga yang besar, tanpa harus menebak arah.

Dolar Australia dan Selandia Baru masih sangat dipengaruhi kesehatan ekonomi China, tema yang juga dominan pada 2025. Dengan Caixin Manufacturing PMI China (survei aktivitas pabrik versi Caixin) yang kembali ekspansi untuk bulan keenam berturut-turut ke 51,4, peluang penguatan dolar Australia dinilai kuat. Kami menilai membeli opsi call AUD/USD adalah cara langsung untuk mengekspresikan pandangan ini terkait ketahanan kawasan.

USD/SEK Merosot saat Disinflasi Swedia Mengukuhkan Riksbank untuk Menahan Suku Bunga dan Mendukung Imbal Hasil Riil Krona

USD/SEK melemah di tengah pelemahan Dolar AS secara luas. Disinflasi (penurunan laju inflasi) Swedia pada April lebih rendah dari perkiraan, sehingga menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga Riksbank (bank sentral Swedia).

Kurva swap (kurva suku bunga dari instrumen swap, yang mencerminkan ekspektasi pasar atas suku bunga ke depan) telah turun dan kini lebih dekat ke proyeksi jalur suku bunga kebijakan Riksbank. Laporan Kebijakan Moneter Maret menempatkan suku bunga kebijakan di 1,75% hingga Kuartal IV 2026, lalu naik 25 bps (basis poin; 1 bps = 0,01%) menjadi 2,00% pada Kuartal I 2028.

Prospek Kebijakan Riksbank

Riksbank secara luas diperkirakan mempertahankan suku bunga kebijakan di 1,75% pada rapat berikutnya. Jika terjadi, ini menjadi rapat kelima berturut-turut tanpa perubahan suku bunga.

Meski disinflasi lebih dalam, suku bunga riil (suku bunga setelah dikurangi inflasi) di Swedia tetap positif. Suku bunga riil yang positif biasanya menopang krona Swedia.

Penurunan USD/SEK belakangan dipicu pelemahan dolar secara luas, namun penopang krona dari sisi domestik juga kuat. Laporan inflasi Swedia April mengejutkan karena hanya 1,1%, yang memperkuat alasan Riksbank menahan suku bunga di 1,75%. Pasar swap kini telah sepenuhnya memperhitungkan jeda panjang ini (pasar menilai suku bunga akan bertahan lebih lama).

Kondisi ini menjadi keunggulan bagi krona lewat suku bunga riil yang positif. Dengan suku bunga kebijakan 1,75% dan inflasi 1,1%, imbal hasil riil Swedia sekitar +0,65%. Ini lebih menarik dibanding imbal hasil riil di Amerika Serikat yang berada di kisaran +0,30% berdasarkan data terbaru.

Implikasi Strategi Opsi

Bagi pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan swap), jalur kebijakan Riksbank yang jelas dan stabil mengarah pada volatilitas (naik-turun harga) mata uang yang lebih rendah ke depan. Ini membuat strategi menjual opsi (kontrak hak beli/jual) pada pasangan seperti EUR/SEK menarik, karena peluruhan premi (turunnya nilai premi opsi seiring waktu) dapat menguntungkan saat pasar stabil. Bank sentral pada dasarnya membatasi risiko kenaikan suku bunga hingga akhir 2026.

Imbal hasil riil yang menarik juga mendukung posisi yang diuntungkan jika krona menguat bertahap. Kita dapat mempertimbangkan memakai opsi untuk menyampaikan pandangan ini, seperti membeli put EUR/SEK (opsi jual, diuntungkan bila EUR/SEK turun) atau membuat put spread (strategi kombinasi membeli dan menjual put pada level harga berbeda untuk membatasi biaya dan risiko). Ini memungkinkan kita memanfaatkan selisih imbal hasil sambil mengelola risiko penurunan.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Musalem dari Fed St. Louis Soroti Ketidakpastian Tarif dan Perang sebagai Risiko Inflasi, Suku Bunga Tetap Berpeluang Dipertahankan

Alberto Musalem, Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis, berbicara di Mississippi Bankers Association pada Rabu. Ia mengatakan ketidakpastian terkait tarif (bea masuk impor) dan perang menjadi hambatan bagi ekonomi AS.

Ia mengatakan faktor pendorong, termasuk kondisi keuangan yang longgar (mudahnya pendanaan dan biaya pinjaman yang relatif rendah), saat ini lebih besar dibanding faktor penghambat. Ia menilai pasar tenaga kerja terlihat stabil setelah melambat bertahap tahun lalu, dan pertumbuhan payroll (penambahan jumlah pekerja dalam data ketenagakerjaan) belakangan berada di sekitar level impas (tingkat yang cukup untuk menjaga pengangguran tidak naik).

Risiko Inflasi Dan Ketidakpastian Kebijakan

Ia mengatakan inflasi masih jelas di atas target The Fed, dan selain guncangan tarif serta guncangan minyak (kenaikan harga minyak yang mendadak), ada inflasi dasar yang perlu dipantau. Inflasi dasar berarti kenaikan harga yang lebih “melekat” dan tidak hanya dipicu gejolak sementara. Ia mengatakan ada risiko pada dua mandat The Fed (stabilitas harga dan lapangan kerja), namun keseimbangan risiko bergeser ke arah inflasi.

Ia mengatakan ada skenario yang masuk akal di mana suku bunga perlu ditahan untuk beberapa waktu, dan kebijakan saat ini bersifat netral atau sedikit longgar dalam “nilai riil”. Nilai riil berarti sudah dikurangi dampak inflasi, sehingga mencerminkan beban biaya pinjaman yang sebenarnya. Ia juga mengatakan ada skenario yang bisa mengarah pada pemangkasan maupun kenaikan suku bunga.

Ia menegaskan Federal Open Market Committee (FOMC, komite penentu kebijakan suku bunga The Fed) berkomitmen pada inflasi 2% dan pencapaian target tersebut mendukung pertumbuhan serta lapangan kerja. Ia mengatakan konsumen dan perusahaan mengaku kesulitan menghadapi harga yang tinggi dan terus naik, serta biaya input (biaya bahan baku/komponen produksi) yang lebih mahal seperti aluminium, helium, dan lainnya dapat mengganggu kegiatan usaha.

Ia mengatakan sebagian perusahaan menahan perekrutan karena ketidakpastian. Ia menambahkan independensi kebijakan moneter (kebebasan bank sentral dari tekanan politik) itu penting, dan The Fed perlu akuntabel serta berkomunikasi secara terbuka.

Posisi Pasar Dan Manajemen Risiko

Dengan meningkatnya risiko inflasi dasar, jalur suku bunga kini sangat tidak pasti untuk beberapa bulan ke depan. Skenario yang dapat berujung pada pemangkasan, bahkan kenaikan suku bunga, kini sama-sama mungkin, sebuah perubahan nada yang penting. Data terbaru Core PCE (inflasi inti Personal Consumption Expenditures, ukuran inflasi pilihan The Fed yang mengecualikan komponen paling bergejolak seperti makanan dan energi) untuk Maret 2026 tercatat 2,9%, menegaskan tekanan harga masih bertahan.

Ini mengindikasikan pasar perlu mengurangi taruhan pemangkasan suku bunga yang agresif pada musim panas, karena peluang suku bunga bertahan lebih lama meningkat. Memperhitungkan skenario “tinggi lebih lama” lewat options (opsi, kontrak yang memberi hak—bukan kewajiban—untuk membeli/menjual aset pada harga tertentu) pada SOFR futures (kontrak berjangka berbasis SOFR, suku bunga acuan jangka pendek AS yang menggantikan LIBOR) bisa menjadi strategi yang lebih hati-hati. Sebelumnya pasar memperkirakan dua kali pemangkasan hingga akhir tahun, yang kini terlihat terlalu optimistis.

Karena kondisi keuangan yang longgar dinilai sebagai pendorong, perubahan sikap The Fed menjadi lebih hawkish (lebih ketat/condong menaikkan suku bunga demi menekan inflasi) dapat langsung mengganggu stabilitas pasar saham. VIX (indeks volatilitas, sering disebut “indeks ketakutan” yang mengukur perkiraan gejolak S&P 500) bertahan dekat level terendah multi-tahun di sekitar 13, mengindikasikan ketenangan pasar yang bisa jadi berlebihan. Perlu mempertimbangkan membeli proteksi, seperti put (opsi jual, biasanya dipakai untuk lindung nilai saat harga turun) pada indeks utama, terutama ketika S&P 500 diperdagangkan dekat puncak terbaru di atas 6.200.

Pasar tenaga kerja tidak lagi memberi alasan kuat untuk melonggarkan kebijakan, seperti saat fase perlambatan bertahap pada 2025. Laporan pekerjaan Jumat lalu menunjukkan nonfarm payrolls (jumlah pekerjaan di luar sektor pertanian) berada di level impas 110.000, belum cukup lemah untuk memaksa The Fed memangkas suku bunga. Stabilitas ini mengurangi dasar utama argumen dovish (lebih longgar/condong menurunkan suku bunga) yang sempat menguat awal tahun.

Kenaikan biaya input seperti aluminium dan potensi gangguan dari guncangan minyak menandakan inflasi dari sisi pasokan (kenaikan harga karena biaya produksi dan pasokan, bukan karena permintaan). Inflasi jenis ini lebih sulit dikendalikan oleh kebijakan moneter. Pelaku pasar dapat mempertimbangkan posisi long (posisi beli untuk mendapat untung jika harga naik) pada commodity futures (kontrak berjangka komoditas) sebagai lindung nilai terhadap risiko inflasi spesifik ini.

Perusahaan secara terbuka menyatakan ketidakpastian membuat mereka menunda perekrutan, yang bisa menjadi sinyal awal perlambatan ekonomi jika kondisi memburuk. Risiko dua arah—inflasi yang sulit turun versus potensi perlambatan—membuat strategi opsi seperti straddle (membeli opsi beli dan opsi jual pada aset dan jatuh tempo yang sama untuk mendapat keuntungan jika harga bergerak besar ke salah satu arah) lebih menarik. Strategi ini memungkinkan keuntungan dari pergerakan besar tanpa harus menebak arah secara tepat.

EUR/JPY Tergelincir saat Kekhawatiran Intervensi Mendongkrak Yen, Sementara Inflasi Zona Euro Tetap Tinggi di Tengah Pertumbuhan yang Lemah

EUR/JPY diperdagangkan di dekat 183,50 pada Rabu, turun 0,61%, seiring naiknya permintaan Yen karena kekhawatiran adanya aksi pemerintah Jepang di pasar mata uang. Kewaspadaan meningkat setelah data Bank of Japan mengindikasikan Kementerian Keuangan mungkin telah memakai sekitar ¥5,48 triliun (hampir US$35 miliar) untuk menopang Yen setelah USD/JPY menembus 160,00.

Sejumlah analis juga mengaitkan penurunan terbaru USD/JPY dengan kemungkinan intervensi lain yang tidak diumumkan. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan Tokyo siap mengambil “langkah tegas” terhadap pergerakan valas yang bersifat spekulatif, sesuai kesepakatan dengan AS yang ditandatangani tahun lalu.

Risiko Intervensi Yen Kembali Muncul

Mantan pejabat Jepang mengatakan aksi lanjutan bisa terjadi selama libur Golden Week. Namun pasar masih belum mendapat konfirmasi resmi atas dugaan intervensi terbaru, sehingga dorongan penguatan Yen menjadi terbatas.

Di Zona Euro, Eurostat melaporkan inflasi Indeks Harga Produsen (PPI, ukuran perubahan harga di tingkat pabrik/gerbang produsen) sebesar 2,1% (year-on-year/tahunan) pada Maret, berbalik dari penurunan 3% sebelumnya dan lebih tinggi dari perkiraan. Secara bulanan (month-on-month), PPI naik 3,4%, kenaikan terbesar dalam hampir empat tahun.

Angka final HCOB Services PMI (indeks manajer pembelian sektor jasa, indikator aktivitas bisnis; di bawah 50 berarti kontraksi) direvisi menjadi 47,6 pada April dari 47,4, sementara Composite PMI (gabungan manufaktur dan jasa) berada di 48,8—keduanya di bawah 50. Presiden Bundesbank Joachim Nagel mengatakan kenaikan suku bunga pada Juni masih mungkin terjadi jika prospek inflasi tidak membaik dengan cepat.

Posisi Opsi untuk Risiko Dua Arah

Kondisi ini menunjukkan pelaku pasar perlu mempertimbangkan perlindungan terhadap penurunan cepat EUR/JPY. Volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan gejolak harga yang “tercermin” dalam harga opsi) tenor satu bulan pada pasangan ini naik ke 11,8%, mencerminkan kegelisahan pasar atas potensi aksi resmi Tokyo. Membeli opsi call JPY (kontrak yang memberi hak membeli JPY di harga tertentu, sehingga diuntungkan bila JPY menguat) atau opsi put EUR/JPY (hak menjual EUR/JPY di harga tertentu, sehingga diuntungkan bila EUR/JPY turun) dapat menjadi langkah yang lebih berhati-hati untuk mengantisipasi pergerakan tajam seperti tahun lalu.

Di sisi euro, dilema yang terlihat pada 2025 masih berlanjut. Data inflasi terbaru Zona Euro untuk April 2026 tercatat 2,4%, masih di atas target ECB dan membuat pembahasan kenaikan suku bunga tetap terbuka. Namun, ini terjadi saat Composite PMI terbaru kawasan berada di level lemah 49,2, menandakan perlambatan ekonomi yang berlanjut.

Bentrokan antara inflasi yang sulit turun dan pertumbuhan yang lemah membatasi ruang kenaikan euro. Bank Sentral Eropa (ECB) cenderung enggan mengetatkan kebijakan secara agresif saat ekonomi melemah. Karena itu, menjual opsi call EUR/JPY out-of-the-money (opsi call dengan harga pelaksanaan di atas harga pasar saat ini; biasanya bertujuan menerima premi) bisa menjadi strategi untuk mengantongi premi (fee yang diterima penjual opsi), sambil bertaruh potensi kenaikan pasangan ini terbatas oleh risiko ekonomi Zona Euro dan ancaman intervensi Jepang.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code