AUD/USD bergerak **konsolidasi** (harga cenderung bergerak di kisaran sempit) di atas 0,7200 pada awal pekan. Pasangan ini bertahan dekat level tertinggi sejak Juni 2022 yang tercapai pada Jumat.
**Perkiraan pasar** bahwa Reserve Bank of Australia (RBA) akan menaikkan suku bunga pada rapat Selasa membantu Dolar Australia. Pada saat yang sama, ketegangan AS-Iran yang meningkat mendorong Dolar AS sebagai **aset safe haven** (aset “pelindung” yang biasanya diburu saat risiko global naik), sehingga kenaikan AUD/USD menjadi terbatas.
Technical Outlook And Momentum
Pada grafik 4 jam, pasangan ini baru-baru ini memantul dari **Exponential Moving Average/EMA 100-periode** (rata-rata pergerakan yang memberi bobot lebih besar pada harga terbaru untuk membaca arah tren) lalu menembus dan ditutup di atas **resisten** 0,7200 (area hambatan kenaikan) pada Jumat. **Relative Strength Index/RSI** (indikator yang mengukur kekuatan tren dan kondisi jenuh beli/jenuh jual) berada di sekitar 62, sementara histogram **MACD** (indikator yang melihat arah dan kekuatan tren lewat perbedaan dua rata-rata pergerakan) sedikit positif.
Sinyal ini menunjukkan **momentum naik** masih berlanjut dari titik terendah akhir Maret. Jika terjadi koreksi, **support** (area penahan penurunan) berpotensi berada dekat EMA 100-periode di sekitar 0,7137. Jika turun tegas di bawah level tersebut, koreksi bisa berlanjut lebih dalam.
RBA menetapkan suku bunga dalam delapan rapat terjadwal setiap tahun. Kenaikan suku bunga biasanya mendukung AUD, sedangkan suku bunga tetap atau pemangkasan biasanya menekan mata uang.
Kami melihat AUD/USD bergerak mendatar di sekitar 0,6650 menjelang rapat RBA pekan depan. Pasar menilai ada peluang kecil kenaikan suku bunga setelah data inflasi kuartalan bulan lalu menunjukkan **CPI** (indeks harga konsumen, ukuran inflasi) sebesar 3,9% dan masih sulit turun. Kondisi ini membuat pasar menunggu arah kebijakan terbaru dari bank sentral.
Options Strategies For Event Risk
Situasi ini mengingatkan pada awal 2025 ketika sentimen positif mendorong pasangan ini menembus 0,7200 karena ekspektasi kenaikan suku bunga. Saat itu, sinyal teknikal seperti RSI dan MACD mendukung kenaikan. Namun reli kemudian melemah ketika faktor global mulai lebih menguntungkan Dolar AS.
Saat ini, Dolar AS tetap kuat karena sikap bank sentral AS (Federal Reserve) yang masih berhati-hati terhadap inflasi serta ketegangan dagang di Laut China Selatan. Tingkat pengangguran Australia juga naik ke 4,1%, memberi alasan bagi RBA untuk menahan suku bunga meski inflasi masih tinggi. Risiko dua arah ini membuat posisi satu arah menjadi lebih sulit.
Bagi yang memperkirakan kejutan **hawkish** dari RBA (kebijakan cenderung lebih ketat, misalnya sinyal naik suku bunga), membeli **opsi call** AUD/USD jangka pendek dengan **strike** (harga patokan dalam kontrak opsi) sekitar 0,6750 bisa menjadi pilihan yang lebih terukur untuk menangkap potensi kenaikan. **Premi** (biaya membeli opsi) adalah batas kerugian maksimum, sehingga membantu membatasi risiko jika harga turun tajam.
Sebaliknya, pelaku pasar yang khawatir RBA bersikap **dovish** (kebijakan cenderung lebih longgar) atau ada perpindahan dana ke aset aman yang menguatkan USD dapat mempertimbangkan membeli **opsi put** (opsi untuk diuntungkan saat harga turun). Jika harga turun di bawah support 0,6600, penurunan bisa semakin cepat, dan put dapat menjadi pelindung atau sarana spekulasi atas skenario tersebut. Ini juga menjadi lindung nilai jika RBA lebih memprioritaskan pasar tenaga kerja yang melemah dibanding inflasi.
Harga emas di Malaysia turun pada Senin, berdasarkan data FXStreet. Emas berada di MYR 586.00 per gram, turun dari MYR 586.74 pada Jumat.
Emas juga turun ke MYR 6,834.95 per tola dari MYR 6,843.63 per tola pada Jumat. FXStreet mencatat MYR 5,859.96 untuk 10 gram dan MYR 18,226.54 per troy ounce (ons troy, satuan khusus untuk logam mulia).
Cara FXStreet Menghitung Harga Emas Lokal
FXStreet menghitung harga lokal dengan mengonversi harga internasional menggunakan kurs USD/MYR (nilai tukar Dolar AS terhadap Ringgit Malaysia) dan menyesuaikannya dengan satuan lokal. Angka diperbarui setiap hari saat publikasi dan hanya sebagai acuan; harga di pasar lokal bisa sedikit berbeda.
Bank sentral adalah pemegang emas terbesar. Mereka menambah 1.136 ton (ton metrik) senilai sekitar US$70 miliar pada 2022, menurut World Gold Council, menjadi total tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai.
Harga emas sering bergerak berlawanan arah dengan Dolar AS dan US Treasuries (obligasi pemerintah AS). Emas juga bisa bergerak berlawanan dengan aset berisiko seperti saham. Harga dapat bereaksi terhadap geopolitik, kekhawatiran resesi (perlambatan ekonomi), dan perubahan suku bunga, karena emas tidak memberikan imbal hasil (yield/kupon atau bunga).
Dengan koreksi kecil ini, kami menilai pergerakan emas lebih sebagai fase konsolidasi (bergerak stabil dalam kisaran) daripada perubahan tren utama. Penurunan ini terjadi setelah kinerja emas yang kuat saat ketegangan geopolitik kembali meningkat pada akhir 2025. Emas tetap menjadi aset safe haven (aset lindung nilai saat pasar bergejolak) dalam portofolio.
Pendorong Pasar Utama yang Perlu Dipantau
Pendorong utama adalah perubahan sikap The Fed (bank sentral AS). Setelah menahan suku bunga tetap sepanjang sebagian besar 2025 untuk meredam inflasi sektor jasa, pasar futures (kontrak berjangka) kini memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga lebih dari 60% pada kuartal IV 2026. Karena emas tidak memberi bunga, emas biasanya makin menarik ketika ekspektasi suku bunga turun.
Dinamika ini melemahkan Dolar AS, yang turun lebih dari 3% terhadap sekeranjang mata uang sejak Maret. Ini mendukung emas karena emas dihargakan dalam dolar. Pembelian emas oleh bank sentral, yang memecahkan rekor pada 2022 dan tetap kuat hingga 2025, juga membantu membentuk “lantai” harga—menahan penurunan karena ada permintaan yang menyerap koreksi besar.
Bagi pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi), kondisi ini menunjukkan strategi membeli call option (opsi beli yang memberi hak, bukan kewajiban, membeli pada harga tertentu) berjangka panjang bisa dipertimbangkan. Kontrak yang berakhir akhir 2026 atau awal 2027 dapat menangkap potensi kenaikan jika The Fed benar-benar memulai siklus pelonggaran (penurunan suku bunga). Strategi ini memberi peluang keuntungan lebih besar (leverage/pengungkit) dengan risiko maksimum terbatas pada premi (biaya) opsi.
Implied volatility (perkiraan volatilitas yang tercermin pada harga opsi) pada opsi emas belum sepenuhnya memasukkan potensi perubahan kebijakan ini, dengan indeks GVZ (indikator volatilitas opsi emas) masih di bawah rata-rata satu tahun. Ini membuat strategi seperti call spread (membeli dan menjual call pada level harga berbeda untuk menekan biaya) atau beli call langsung relatif lebih murah. Pelaku pasar perlu memantau, karena lonjakan volatilitas bisa membuka peluang menjual premi (mendapatkan pendapatan dari menjual opsi).
Dalam beberapa pekan ke depan, perhatian tertuju pada data inflasi dan ketenagakerjaan AS. Tanda perlambatan ekonomi kemungkinan memperkuat spekulasi pemangkasan suku bunga The Fed dan mendorong emas naik. Kami akan mencermati laporan CPI (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen, ukuran inflasi) berikutnya untuk konfirmasi tren disinflasi (perlambatan laju inflasi).
Ekspor Indonesia turun 3,1% pada Maret. Ini menyusul capaian 1,01% pada periode sebelumnya.
Angka Maret menunjukkan ekspor berbalik dari naik menjadi turun. Rilis tersebut tidak memberikan rincian lebih lanjut maupun penyebabnya.
Implikasi bagi Rupiah dan Permintaan Luar Negeri
Data ekspor Maret menunjukkan penurunan tajam menjadi -3,1% setelah kenaikan kecil pada bulan sebelumnya. Pembalikan ini menandakan melemahnya permintaan luar negeri dan memberi tekanan pelemahan dalam waktu dekat pada Rupiah (IDR), yaitu mata uang Indonesia. Kondisi ini makin mengkhawatirkan karena data terbaru menunjukkan PMI manufaktur China—indeks survei aktivitas pabrik; angka di bawah 50 berarti aktivitas menyusut—turun sedikit di bawah 50. Ini mengisyaratkan permintaan dari mitra dagang terbesar Indonesia sedang melemah.
Dalam beberapa pekan ke depan, pasangan mata uang USD/IDR—kurs dolar AS terhadap rupiah—berpotensi naik karena rupiah melemah. Untuk menyikapi ini, strategi yang bisa dipertimbangkan antara lain mengambil posisi beli (long) pada forward USD/IDR—kontrak untuk menukar mata uang pada kurs tertentu di masa depan—atau membeli call option pada pasangan tersebut—hak (bukan kewajiban) untuk membeli pada harga tertentu, sehingga risiko bisa dibatasi. Situasi ini mengingatkan pada volatilitas—pergerakan harga yang cepat dan tajam—di pertengahan 2025, ketika perlambatan permintaan komoditas global memicu depresiasi—pelemahan nilai tukar—IDR sekitar 2% dalam beberapa pekan.
Pelemahan ekspor juga berpotensi menekan laba perusahaan besar di Jakarta Composite Index (JCI), yaitu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Karena itu, strategi perlindungan dapat dipertimbangkan, seperti membeli put option pada JCI atau ETF terkait—reksa dana yang diperdagangkan seperti saham—untuk lindung nilai (hedging), yakni mengurangi risiko jika pasar turun. Dengan inflasi—kenaikan harga barang/jasa—yang masih bertahan di sekitar 2,9% pada akhir tahun lalu, Bank Indonesia memiliki ruang terbatas untuk menurunkan suku bunga acuan 6,0% guna mendukung pertumbuhan, sehingga menambah risiko bagi saham.
Inflasi inti Indonesia melambat menjadi 2,44% secara tahunan (year on year/yoy) pada April. Pada periode sebelumnya sebesar 2,52%.
Penurunan inflasi inti ke 2,44% penting karena berada nyaman dalam kisaran target Bank Indonesia (BI) 1,5%-3,5%. Ini memberi BI ruang gerak dan mengurangi kebutuhan mendesak untuk kembali menaikkan suku bunga acuan (key rate, yaitu suku bunga patokan BI). Pelaku pasar bisa memperkirakan sikap kebijakan yang lebih “dovish” (lebih cenderung menahan atau menurunkan suku bunga, bukan menaikkan).
Data ini berpotensi menjadi tekanan bagi Rupiah. Jika menengok akhir 2025, BI sempat menaikkan suku bunga acuannya ke 6,25% terutama untuk menjaga nilai tukar. Dengan inflasi yang kini lebih rendah, alasan utama kebijakan “hawkish” (lebih ketat, cenderung menaikkan suku bunga) melemah. Karena itu, opsi yang bisa dipertimbangkan adalah membeli opsi beli (call option, kontrak yang memberi hak membeli pada harga tertentu) USD/IDR untuk mengantisipasi pelemahan Rupiah terhadap dolar AS.
Kami juga melihat ini sebagai pemicu penguatan (rally) obligasi pemerintah domestik. Imbal hasil (yield, tingkat keuntungan obligasi) SUN tenor 10 tahun yang kini sekitar 6,8% berpeluang turun seiring pasar menilai peluang kenaikan suku bunga makin kecil. Strategi yang bisa digunakan adalah transaksi swap suku bunga (interest rate swap, pertukaran pembayaran bunga) dengan posisi menerima suku bunga tetap (receive fixed), dengan asumsi suku bunga jangka pendek sudah mencapai puncak pada siklus ini.
Emas melemah pada sesi Asia, Senin, tetapi masih bertahan di atas US$4.600. Sinyal kebijakan yang cenderung ketat (hawkish, artinya bank sentral condong menahan atau menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi) dari bank sentral utama, termasuk Federal Reserve (The Fed), muncul setelah kekhawatiran bahwa guncangan energi di Timur Tengah dapat mendorong inflasi dan menekan minat terhadap emas yang tidak memberi imbal hasil (non-yielding, artinya tidak memberikan bunga/kupon).
Presiden AS Donald Trump mengusulkan “Project Freedom” untuk memandu kapal melalui Selat Hormuz dan memperingatkan akan menggunakan kekuatan jika jalur itu terganggu. Anggota parlemen Iran Ebrahim Azizi mengatakan campur tangan AS akan melanggar gencatan senjata, sementara IRGC (Korps Garda Revolusi Islam Iran) menuduh AS tidak menghormati kesepakatan dan memperingatkan potensi konflik kembali.
Kebijakan The Fed dan Prospek Inflasi
Data AS Kamis lalu menunjukkan inflasi meningkat pada Maret, memperkuat perkiraan bahwa The Fed dapat mempertahankan suku bunga hingga jauh ke tahun depan. The Fed menahan suku bunga di 3,50%–3,75%, dengan tiga suara berbeda (dissent, artinya tiga pejabat tidak setuju dengan keputusan mayoritas), yang menjadi jumlah terbanyak sejak 1992. Neel Kashkari menyebut konflik Iran yang berkepanjangan dapat meningkatkan risiko inflasi dan bisa menuntut suku bunga lebih tinggi.
Dolar AS yang menguat menambah tekanan pada emas, sementara pelaku pasar menunggu data AS termasuk laporan Nonfarm Payrolls (NFP, data jumlah pekerjaan baru di luar sektor pertanian) pada Jumat. Secara teknikal, MACD 1 jam berada di bawah nol (MACD, indikator untuk melihat arah dan kekuatan tren), RSI 49,60 (RSI, indikator untuk mengukur kuat-lemahnya dorongan beli/jual). Jika harga turun menembus US$4.600, target berikutnya US$4.512,28; sementara resistensi (batas atas yang sering menahan kenaikan) berada di US$4.650,47, US$4.655,61, US$4.699,88, US$4.744,15, US$4.807,19, dan US$4.887,48.
Dengan The Fed mempertahankan suku bunga 3,50%–3,75%, biaya peluang memegang emas tetap tinggi (opportunity cost, artinya imbal hasil yang hilang karena tidak menaruh dana di aset berbunga). Data CPI (Consumer Price Index/IHK, indeks harga konsumen sebagai ukuran inflasi) terbaru untuk April 2026 menunjukkan inflasi naik tak terduga menjadi 4,1%, menguatkan sikap The Fed yang ketat. Ini menjadi pendorong utama pelemahan emas dalam waktu dekat.
Risiko geopolitik di Selat Hormuz menahan penurunan emas agar tidak lebih dalam. Ketidakpastian ini terlihat di pasar opsi (options, kontrak yang memberi hak—bukan kewajiban—untuk membeli/menjual aset pada harga tertentu), ketika CBOE Gold Volatility Index (GVZ, indeks yang mengukur perkiraan volatilitas/harga bergejolak emas berdasarkan harga opsi) naik lebih dari 15% dalam dua minggu terakhir menjadi 22,5. Pelaku pasar dapat menggunakan opsi untuk membatasi risiko, karena peristiwa militer mendadak bisa memicu lonjakan harga yang tajam dan sulit diprediksi.
Data Mendatang dan Level Taktis
Laporan NFP AS pada Jumat menjadi penggerak utama berikutnya bagi pasar. Setelah bulan lalu kuat di 280.000 pekerjaan, angka yang kembali solid di atas perkiraan konsensus 210.000 (konsensus, rata-rata perkiraan analis) berpotensi menguatkan dolar AS dan mendorong emas turun tegas menembus area penopang (support, level yang sering menahan pelemahan). Sebaliknya, data yang lemah bisa memicu pantulan jangka pendek pada emas.
Secara taktis, level US$4.600 menjadi pemicu penting. Penembusan yang bertahan di bawah level ini dapat membuka peluang turun menuju US$4.512 sebagai level rendah struktural (structural low, titik rendah penting dalam struktur tren). Strategi yang disebut adalah membeli put option (opsi jual, memberi hak menjual pada harga tertentu) dengan strike (harga kesepakatan) dekat US$4.550 untuk memposisikan diri jika penurunan terjadi sambil membatasi potensi kerugian.
Inflasi bulanan (month-on-month/mom) Indonesia melambat pada April. Angkanya turun menjadi 0,13% dari 0,41% pada periode sebelumnya.
Data terbaru ini menunjukkan kenaikan harga konsumen (consumer prices) yang lebih kecil dibanding bulan sebelumnya. Tidak ada rincian lebih lanjut.
Angka inflasi April yang jauh lebih rendah dari perkiraan mengubah arah pasar aset Indonesia. Penurunan tajam ke 0,13% dari 0,41% mengejutkan pasar karena perkiraan rata-rata (consensus estimates) lebih dekat ke 0,30%. Intinya, tekanan terhadap Bank Indonesia (BI) untuk melanjutkan “siklus pengetatan” (tightening cycle, yaitu rangkaian kenaikan suku bunga untuk menahan inflasi) hampir hilang.
Dengan inflasi tahunan (year-on-year/yoy) kini turun menjadi 2,9%, Indonesia kembali berada dalam kisaran target BI 1,5-3,5%. Ini mengubah pandangan suku bunga dari “hawkish” (cenderung mendukung kenaikan suku bunga untuk melawan inflasi) menjadi netral, dan membuka peluang “pelonggaran” (easing, yaitu penurunan suku bunga) di paruh akhir tahun. Karena itu, pelaku pasar bisa mempertimbangkan posisi untuk suku bunga yang lebih rendah lewat interest rate swaps (swap suku bunga, yaitu kontrak untuk menukar pembayaran bunga), dengan strategi menerima bunga tetap (receive fixed, artinya menerima suku bunga tetap dan membayar suku bunga mengambang—posisi yang diuntungkan jika suku bunga turun).
Bagi trader valuta asing, situasi ini membuat arah Rupiah lebih rumit. Inflasi yang stabil positif dalam jangka pendek, tetapi peluang pemangkasan suku bunga saat The Fed AS bertahan di 4,75% dapat menekan rupiah (IDR). Strategi membeli opsi put USD/IDR berjangka pendek (put option, hak untuk menjual USD pada kurs tertentu; short-dated artinya jatuh tempo dekat) untuk memanfaatkan penguatan rupiah awal, sambil tetap hati-hati untuk arah jangka panjang, dinilai masuk akal.
Kenaikan suku bunga agresif BI sepanjang 2025 untuk menekan inflasi sebelumnya mendorong imbal hasil obligasi (bond yields, tingkat keuntungan/imbal hasil obligasi) lebih tinggi. Data ini mengindikasikan siklus itu berakhir, sehingga harga obligasi pemerintah berpotensi naik. Ada peluang mengambil posisi beli (long) pada kontrak berjangka (futures, kontrak jual-beli untuk tanggal/masa depan) obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun.
Kondisi ini juga mendukung pasar saham karena risiko kenaikan biaya pinjaman mereda. Laba perusahaan Indonesia dapat terbantu oleh kebijakan moneter (monetary policy, kebijakan suku bunga dan likuiditas) yang stabil. Karena itu, ada peluang kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IDX Composite) dalam beberapa pekan ke depan.
Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kinerja dolar AS terhadap enam mata uang utama, diperdagangkan di dekat 98,20 pada sesi Asia, Senin. Level ini relatif stabil saat pasar menilai ketegangan di Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump mengatakan AS akan mulai mengawal beberapa kapal dari negara netral yang terjebak di Teluk Persia melintasi Selat Hormuz mulai Senin. Bloomberg melaporkan kapal Angkatan Laut AS akan tetap berada di sekitar area jika diperlukan untuk membantu mencegah serangan terhadap kapal komersial di selat tersebut.
Risiko Selat Hormuz
Seorang pejabat Iran mengatakan langkah AS di Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata (kesepakatan penghentian tembak-menembak). Pejabat itu menambahkan Selat Hormuz dan Teluk Persia bukan tempat untuk retorika.
Pasar juga mencermati laporan ketenagakerjaan AS untuk April yang akan dirilis Jumat. Perkiraan menunjukkan penambahan 73 ribu pekerjaan baru dan tingkat pengangguran 4,3%.
Indeks Dolar AS (DXY) saat ini diperdagangkan di sekitar 104,50, tetap stabil saat pelaku pasar menilai risiko geopolitik yang berlanjut dan data ekonomi yang akan datang. Peran dolar sebagai aset safe haven (aset “pelindung” yang biasanya diburu saat pasar bergejolak) sedang diuji oleh munculnya titik-titik konflik global baru. Kondisi ini membuat pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan kontrak berjangka) perlu siap menghadapi lonjakan volatilitas (naik-turunnya harga yang lebih tajam).
Dinamika yang mirip dengan ketegangan Selat Hormuz sebelumnya juga terlihat melalui gangguan pengiriman di Laut Merah. Data terbaru menunjukkan volume kargo melalui Terusan Suez masih turun lebih dari 60% dibanding tahun lalu, sehingga rute perdagangan menjadi lebih panjang dan mahal. Jika eskalasi terjadi, hal ini bisa memicu “flight to safety” (perpindahan dana ke aset yang dianggap aman), yang biasanya menguntungkan dolar.
Strategi Trading yang Perlu Dicermati
Bagi trader derivatif, ini dapat berarti mempertimbangkan call option (opsi beli, memberi hak membeli pada harga tertentu) pada DXY atau ETF terkait (reksa dana berbentuk saham yang diperdagangkan di bursa) untuk mencari keuntungan dari lonjakan geopolitik. Perlindungan (hedging) dengan call option pada VIX (indeks volatilitas yang sering disebut “indeks ketakutan” pasar) juga bisa dipertimbangkan, karena VIX umumnya naik saat pasar panik.
Semua perhatian tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS Jumat ini untuk April, yang berpotensi kuat memengaruhi ekspektasi kebijakan Federal Reserve (bank sentral AS). Pasar memperkirakan ekonomi menambah sekitar 175.000 pekerjaan, dengan tingkat pengangguran diproyeksikan bertahan di sekitar 3,8%. Jika hasilnya jauh lebih lemah dari perkiraan, dolar bisa tertekan karena dapat mengisyaratkan pelonggaran kebijakan (misalnya penurunan suku bunga) lebih cepat dari perkiraan.
Jika angka pekerjaan berada di bawah 150.000, ini bisa membuka peluang strategi bearish jangka pendek (posisi yang diuntungkan jika dolar melemah) pada dolar. Trader dapat mempertimbangkan membeli put option (opsi jual, memberi hak menjual pada harga tertentu) pada DXY yang jatuh tempo dalam beberapa minggu untuk memanfaatkan pergerakan ini. Sebaliknya, laporan yang kuat di atas 200.000 akan memperkuat dolar.
USD/JPY didagangkan pada 156.748, susut 0.304 mata, atau 0.19%, selepas jatuh serendah 155.703 pada carta.
Yen meningkat sehingga 0.75% kepada 155.69, dengan sebahagian besar pergerakan berlaku dalam tempoh sembilan minit sekitar tengah hari waktu Singapura.
Indeks dolar AS turun 0.1% kepada 98.041 ketika pedagang memerhati Jepun, Hormuz, RBA dan selera risiko yang lebih luas.
Yen mengukuh secara tiba-tiba berbanding dolar pada Isnin ketika pedagang kekal berjaga-jaga terhadap kemungkinan tindakan pihak berkuasa Jepun. Pergerakan itu berlaku selepas disyaki campur tangan minggu lalu, apabila sumber memaklumkan Reuters bahawa pihak berkuasa membeli yen buat kali pertama dalam tempoh dua tahun. Yen meningkat sehingga 0.75% kepada 155.69 semasa pergerakan Isnin itu, dengan sebahagian besar pengukuhan berlaku dalam lonjakan pantas selama sembilan minit sekitar tengah hari waktu Singapura.
The yen jumped in Asia on Monday, as traders remained on edge over the potential for Japanese authorities to step back into the market after last week’s intervention to curb declines https://t.co/jNDG7DwKgP
Pasaran tidak menerima pengesahan rasmi. Pegawai Kementerian Kewangan tidak segera memberi respons kepada permintaan komen, manakala pegawai Tokyo enggan mengesahkan sama ada mereka telah campur tangan minggu lalu. Namun, pedagang menganggap tindakan harga itu sebagai tembakan amaran.
Jepun ditutup sempena cuti Golden Week, yang boleh menipiskan kecairan dan membesarkan pergerakan FX. Pasaran akan memberi tumpuan sama ada campur tangan lanjut berlaku, dan yang lebih penting, sama ada AS menyertai usaha Jepun. Beliau menambah bahawa kelemahan yen selanjutnya boleh meningkatkan kebarangkalian campur tangan dua hala.
Campur Tangan Boleh Memperlahankan Pergerakan, Tetapi Kadar Faedah Masih Penting
Cabaran Jepun adalah mudah. Campur tangan boleh mengejutkan USD/JPY lebih rendah, tetapi arah aliran yang lebih luas masih bergantung pada jurang kadar faedah. Yen kekal terdedah apabila hasil bon AS kekal tinggi, dan Bank of Japan bergerak perlahan. Itulah sebabnya penganalisis mempersoal sama ada campur tangan unilateral, yang merupakan usaha ketiga seumpamanya dalam tempoh empat tahun lalu, mampu mewujudkan pengukuhan yen yang berkekalan tanpa sokongan daripada dasar kadar faedah atau AS.
The Japanese yen surged after top officials signaled readiness for further market intervention, however, analysts say the yen remains under pressure from US-Japan interest rate gaps despite intervention https://t.co/OzHKhoGOUfpic.twitter.com/yY82cTQzdR
Indeks dolar susut 0.1% kepada 98.041, yang membantu yen, namun pergerakan itu bukanlah kapitulasi dolar secara meluas. Ia lebih kelihatan seperti sikap berhati-hati yang disasarkan sekitar USD/JPY selepas aktiviti pembelian yen yang disyaki minggu lalu.
Unjuran berhati-hati ialah USD/JPY mungkin kekal tidak menentu ketika ia didagangkan berhampiran zon 155 hingga 160. Jepun boleh mempertahankan mata wang melalui tindakan mengejut, tetapi pedagang mungkin menguji kenaikan semula jika hasil AS kekal kukuh dan jika pegawai mengelak pengesahan secara langsung.
Tajuk Hormuz Kekalkan Pasaran Dalam Mod Defensif
Pasaran juga memulakan minggu dengan berhati-hati selepas Presiden Donald Trump berkata AS akan memulakan usaha pada pagi Isnin untuk membebaskan kapal yang terperangkap di Selat Hormuz sebagai “isyarat kemanusiaan” bagi membantu negara berkecuali dalam perang AS-Israel dengan Iran. Trump memberikan sedikit butiran mengenai operasi itu, termasuk sama ada Tentera Laut AS akan turut terlibat.
Oil prices, conflict in the Middle East, Japan's yen, US jobs data, an Australian rate decision and a UK local election: Here’s what you need to watch in business and finance in the week ahead https://t.co/3S73V5smo2pic.twitter.com/nnfwvQAIze
Risiko Hormuz terus mempengaruhi minyak, inflasi, aliran dagangan, dan permintaan aset selamat. Jika operasi itu membantu perkapalan kembali pulih, tekanan inflasi berkaitan minyak mungkin reda dan selera risiko boleh bertambah baik. Jika ia mencetuskan geseran baharu dengan Iran, pedagang mungkin kembali mengambil posisi defensif.
Bagi USD/JPY, kesannya boleh memihak kepada kedua-dua arah. Tekanan geopolitik yang lebih tinggi boleh menyokong dolar, tetapi ia juga boleh menaikkan yen apabila pedagang mencari aset selamat atau menjangkakan pihak berkuasa Jepun akan bertindak lebih tegas mengekang kelemahan mata wang.
Analisis Teknikal
USDJPY didagangkan berhampiran 156.75, menyusut mendadak selepas penolakan daripada paras tinggi 160.70, dengan harga kini tergelincir kembali ke dalam julat terdahulu dan menguji paras sokongan lebih rendah. Pergerakan menurun kelihatan agresif, mencadangkan perubahan sentimen jangka pendek selepas pasangan itu gagal mengekalkan kenaikan di atas zon 160 yang penting.
Dari sudut teknikal, momentum telah bertukar bearish dalam jangka terdekat. Harga telah memecah di bawah purata bergerak 5 hari (158.07) dan 10 hari (158.77), yang kedua-duanya kini melandai turun dan bertindak sebagai rintangan segera. Purata bergerak 20 hari (158.89) berada sedikit di atas, memperkukuh tekanan di bahagian atas dan menunjukkan aliran menaik baru-baru ini telah kehilangan daya tarikan.
Paras utama untuk diperhatikan:
Sokongan: 156.70 → 153.90 → 152.10
Rintangan: 158.10 → 158.80 → 160.70
Harga kini berlegar sekitar sokongan 156.70, satu paras yang sedang diuji susulan jualan mendadak. Penembusan di bawah zon ini boleh melanjutkan kerugian ke arah 153.90, dengan risiko penurunan lebih dalam ke arah 152.10 jika momentum jualan terus meningkat.
Di bahagian atas, 158.10 kini rintangan pertama, sejajar dengan purata bergerak jangka pendek. Pergerakan kembali di atas kawasan ini diperlukan untuk menstabilkan tindakan harga, walaupun pengesahan yang lebih kukuh berkemungkinan memerlukan penembusan semula 158.80–159.00.
Secara keseluruhan, USDJPY telah beralih ke fasa pembetulan selepas gagal di paras tinggi, dengan tekanan penurunan meningkat dalam jangka pendek. Tindakan harga di sekitar zon sokongan 156.70 akan menjadi kunci untuk menentukan sama ada ini kekal sebagai penarikan semula atau berkembang menjadi pembalikan yang lebih mendalam.
Unjuran Berhati-hati
USD/JPY mungkin kekal di bawah tekanan selagi ia berada di bawah 158.078, 158.771, dan 158.894. Penembusan di bawah 155.703 akan mengukuhkan kes penurunan dan boleh menarik pasangan ini ke arah 153.892.
Pemulihan di atas 158.894 akan menunjukkan bahawa kebimbangan campur tangan semakin pudar dan jurang kadar faedah kembali menguasai. Buat masa ini, pedagang mungkin menganggap lantunan ke arah 158 hingga 159 sebagai rapuh selagi Jepun kekal dalam pemerhatian campur tangan dan kecairan kekal nipis sepanjang Golden Week.
Soalan Pedagang
Mengapa Yen Mengukuh Berbanding Dolar?
Yen mengukuh selepas pedagang semakin peka terhadap kemungkinan tindakan daripada pihak berkuasa Jepun.
USD/JPY jatuh serendah 155.703 pada carta, manakala yen meningkat sehingga 0.75% kepada 155.69 dalam dagangan pasaran yang lebih luas. Sebahagian besar pergerakan berlaku dalam lonjakan tajam selama sembilan minit sekitar tengah hari waktu Singapura.
Adakah Jepun Campur Tangan Untuk Menyokong Yen?
Jepun belum mengesahkan campur tangan terbaharu.
Bagaimanapun, pasaran mengesyaki pihak berkuasa mungkin bertindak lagi selepas sumber berkata Jepun membeli yen minggu lalu buat kali pertama dalam tempoh dua tahun. Pedagang memerhati rapat kerana pegawai Tokyo telah memberi amaran terhadap kelemahan yen yang berlebihan.
Mengapa Risiko Campur Tangan Tinggi Untuk USD/JPY?
Risiko campur tangan tinggi kerana USD/JPY baru-baru ini didagangkan berhampiran kawasan 160.716, di mana kelemahan yen boleh menarik tekanan daripada pembuat dasar Jepun.
Pegawai mungkin mahu menunjukkan bahawa mereka tidak akan bertolak ansur dengan pergerakan yang tidak teratur ke bawah pada yen, terutama ketika dagangan cuti Golden Week yang berkecairan nipis.
Bolehkah Campur Tangan Menguatkan Yen Untuk Tempoh Lama?
Campur tangan boleh mencetuskan lantunan yen yang tajam, namun impak jangka panjangnya bergantung pada jurang kadar faedah.
Jika hasil AS kekal tinggi dan Bank of Japan kekal berhati-hati, pedagang masih boleh membeli USD/JPY ketika penurunan. Rali yen yang lebih kukuh dan lebih berkekalan mungkin memerlukan sokongan kerjasama AS atau perubahan dalam jangkaan kadar faedah.
Mengapa Golden Week Penting Untuk Dagangan Yen?
Golden Week penting kerana pasaran Jepun sebahagiannya ditutup, yang boleh mengurangkan kecairan.
Apabila kecairan nipis, aliran yang lebih kecil boleh mencetuskan pergerakan yang lebih tajam. Itu menjadikan USD/JPY lebih terdedah kepada turun naik harga secara mengejut, terutamanya apabila risiko campur tangan sudah pun tinggi.
Mula berdagang sekarang – Klik di sini untuk membuat akaun sebenar VT Markets
Perak (XAG/USD) turun setelah dibuka naik dengan *gap* (selisih harga saat pembukaan karena pasar dibuka jauh di atas penutupan sebelumnya), tetapi tetap menguat dan diperdagangkan di sekitar US$75,40 per troy ounce (ons troy, satuan berat untuk logam mulia) pada sesi Asia, Senin. Kenaikan harian mereda seiring melemahnya permintaan aset *safe haven* (aset “pelindung nilai” yang biasanya diburu saat pasar takut risiko) ketika pelaku pasar menilai perkembangan pembicaraan damai AS–Iran.
Bloomberg melaporkan pada Minggu bahwa Donald Trump mengatakan Amerika Serikat akan mulai memandu kapal-kapal netral yang terjebak di Teluk Persia untuk keluar melalui Selat Hormuz mulai Senin. Rencana ini ditujukan untuk membantu kapal sipil dari negara non-blok (tidak berpihak) meninggalkan wilayah tersebut dan kembali beroperasi normal.
Upaya diplomatik berlanjut ketika konflik di Iran memasuki bulan ketiga. Iran menyatakan sedang meninjau respons Washington terhadap proposal terbaru 14 poin, sementara Bloomberg melaporkan Trump mengatakan proposal Teheran mungkin tidak memenuhi harapan.
Axios melaporkan, mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut, Iran mengusulkan tenggat satu bulan untuk perundingan. Pembicaraan itu bertujuan membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri blokade angkatan laut AS (pencegatan kapal dengan kekuatan laut), serta konflik di Iran dan Lebanon.
Perak juga tertekan karena konflik Timur Tengah mendorong harga energi naik dan meningkatkan risiko inflasi (kenaikan harga barang dan jasa secara umum). Ini memicu kekhawatiran bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau memperketat kebijakan (menaikkan suku bunga atau mengurangi likuiditas/uang beredar).
NZD/USD naik di atas 0,5900 pada sesi Asia setelah aksi beli saat harga turun (dip-buying) di awal pekan. Pasangan ini menghadapi hambatan (resistance) di 0,5920–0,5925, dengan perhatian pasar tertuju pada krisis Timur Tengah.
Donald Trump mengatakan AS akan memandu kapal netral yang terjebak di Selat Hormuz melalui Project Freedom. Ia mengatakan AS akan menggunakan kekuatan jika proses itu diganggu, sementara Ebrahim Azizi memperingatkan bahwa campur tangan AS akan melanggar gencatan senjata.
Risiko Geopolitik dan Dukungan Dolar
Perkembangan ini menjaga risiko geopolitik tetap tinggi, yang biasanya mendukung Dolar AS dan menekan NZD/USD. Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari mengatakan konflik Iran yang berkepanjangan dapat meningkatkan risiko inflasi (kenaikan harga) dan merugikan ekonomi, serta membuka kemungkinan suku bunga lebih tinggi.
Dukungan untuk Dolar Selandia Baru berasal dari ekspektasi bahwa Reserve Bank of New Zealand (RBNZ/bank sentral Selandia Baru) bisa tetap berhati-hati atau mempertimbangkan pengetatan (tightening: menaikkan suku bunga atau memperketat kondisi kredit) untuk mengembalikan inflasi ke titik tengah 2%. Dengan faktor pendorong yang campuran, dibutuhkan penembusan yang jelas di atas 0,5920–0,5925 sebelum kenaikan berlanjut.
Tidak ada data utama AS yang dijadwalkan pada Senin, membuat Dolar AS sensitif terhadap berita terbaru (headline). Menjelang akhir pekan, laporan Nonfarm Payrolls (NFP: data bulanan penambahan pekerjaan di AS di luar sektor pertanian) dan laporan ketenagakerjaan kuartalan Selandia Baru diperkirakan akan menjadi penentu arah pasangan ini.
Strategi Opsi untuk Bias Bearish
Perbedaan yang makin lebar antara Fed yang cenderung agresif (hawkish: condong menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi) dan RBNZ yang ruang geraknya terbatas mengarah pada potensi pelemahan NZD/USD. Pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi) dapat mempertimbangkan membeli opsi put NZD/USD (hak untuk menjual pada harga tertentu) dengan jatuh tempo satu hingga tiga bulan untuk mengantisipasi penurunan menuju 0,5800. Volatilitas tersirat (implied volatility: perkiraan volatilitas yang tercermin dalam harga opsi) saat ini terlihat rendah dibanding ketidakpastian bank sentral, sehingga put menarik untuk risiko yang terbatas (defined-risk: kerugian maksimum sudah diketahui sejak awal).
Pendekatan lain adalah menjual call spread out-of-the-money (strategi menjual opsi beli di atas harga pasar dan membeli opsi beli lain di level lebih tinggi untuk membatasi risiko). Misalnya, menjual call spread dengan strike 0,6200 dan 0,6250 dapat menghasilkan pendapatan sambil bertaruh pasangan ini sulit naik jauh karena Dolar AS kuat. Strategi ini diuntungkan oleh harga yang turun dan peluruhan waktu (time decay: nilai opsi menyusut seiring mendekati jatuh tempo) jika pasangan bergerak datar di bawah strike yang dijual.
Data ekonomi mendatang, terutama NFP AS dan laporan ketenagakerjaan kuartalan Selandia Baru, akan menjadi pemicu penting volatilitas. Trader yang memperkirakan pergerakan besar tetapi belum yakin arahnya dapat mempertimbangkan membeli straddle (membeli opsi call dan put di strike dan jatuh tempo yang sama) sebelum rilis untuk memanfaatkan lonjakan volatilitas, terlepas dari apakah berita menguntungkan atau merugikan pasangan ini.