Back

Sterling Menembus 1,3415–1,3425 terhadap Dolar AS saat Data PDB, Perdagangan, dan Industri Inggris Rilis Pukul 06.00 GMT

GBP/USD bangkit dari penurunan kecil sehari sebelumnya dan diperdagangkan di sekitar 1,3570 pada perdagangan Asia, Kamis. Pergerakan ini mengikuti membaiknya sentimen pasar setelah muncul harapan konflik Timur Tengah bisa mereda.

Presiden AS Donald Trump mengatakan perang “hampir berakhir”. Sejumlah laporan, termasuk Bloomberg, menyebut adanya pembahasan kemungkinan perpanjangan gencatan senjata dua minggu, meski Trump menilai hal itu tidak perlu karena pembicaraan masih berjalan.

Perkembangan Timur Tengah dan Sentimen Pasar

Ketidakpastian masih ada setelah Washington mengumumkan rencana mengerahkan tambahan 10.000 tentara ke kawasan tersebut. GBP/USD kemudian stabil di sekitar 1,3570 pada Rabu, seiring optimisme soal dimulainya lagi pembicaraan AS-Iran mereda.

Saham AS melanjutkan penguatan, sementara Dolar AS terlihat mulai berhenti melemah setelah menyentuh level terendah enam minggu. Wacana perpanjangan gencatan senjata dua minggu mendukung Wall Street, dan Trump juga menyebut ada “dua hari yang luar biasa” ke depan saat pembicaraan berlanjut.

Implikasi Strategi untuk Opsi GBP/USD

Dengan volatilitas yang rendah, trader dapat mempertimbangkan membeli opsi, bukan menjualnya, agar bisa menangkap potensi kenaikan dengan biaya lebih murah. Volatilitas adalah ukuran seberapa besar harga berayun; saat volatilitas rendah, premi opsi (biaya untuk membeli kontrak opsi) biasanya lebih murah. Stabilitas terbaru membuat opsi call berjangka lebih panjang pada GBP/USD terlihat menarik, sebagai cara berbiaya rendah untuk mengambil posisi kenaikan bertahap yang didorong perbedaan kebijakan bank sentral. Opsi call adalah kontrak yang memberi hak (bukan kewajiban) untuk membeli pada harga tertentu.

Strategi yang bisa dipertimbangkan dalam beberapa minggu ke depan adalah bull call spread pada GBP/USD untuk menargetkan pergerakan di atas 1,4000. Bull call spread adalah strategi dengan membeli opsi call dan sekaligus menjual opsi call lain pada harga strike yang lebih tinggi untuk menekan biaya awal, namun membatasi potensi keuntungan. Contohnya, membeli opsi call Juni 2026 dengan strike 1,3950 sambil menjual call 1,4100 akan membatasi biaya awal. Strike price adalah harga yang disepakati dalam kontrak opsi. Strategi dengan risiko terukur ini bertujuan meraih keuntungan dari kenaikan moderat pada pound, sejalan dengan sentimen pasar yang stabil namun cenderung positif.

Berdasarkan data yang dihimpun, harga emas di India naik, mencerminkan kenaikan harga hari ini di berbagai pasar

Harga emas naik di India pada Kamis, berdasarkan data FXStreet. Emas dipatok di INR 14.538,29 per gram, naik dari INR 14.433,66 pada Rabu.

Harga per tola naik menjadi INR 169.571,70 dari INR 168.351,40 sehari sebelumnya. Kurs lain yang tercatat adalah INR 145.382,80 untuk 10 gram dan INR 452.191,60 per troy ounce (ons troy, satuan berat logam mulia di pasar global).

Bagaimana FXStreet Menghitung Harga Emas India

FXStreet menghitung harga emas India dengan mengonversi harga internasional memakai kurs USD/INR (nilai tukar Dolar AS terhadap Rupee India) ke satuan lokal. Angka diperbarui setiap hari menggunakan harga pasar saat publikasi, dan harga di toko setempat bisa sedikit berbeda.

Bank sentral adalah pemegang emas terbesar dan menambah 1.136 ton senilai sekitar US$70 miliar pada 2022, menurut World Gold Council. Ini menjadi total tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai, dengan pembelian dilaporkan dari negara berkembang seperti China, India, dan Turki.

Emas sering bergerak berlawanan arah dengan Dolar AS dan obligasi pemerintah AS (US Treasuries, surat utang negara AS), serta bisa bergerak berlawanan dengan aset berisiko. Harga dapat berubah karena geopolitik, kekhawatiran resesi, suku bunga, dan perubahan Dolar AS, karena emas dihargai dalam dolar (XAU/USD, nilai emas terhadap Dolar AS).

Harga emas bergerak naik, kini di atas 14.500 INR per gram, mencerminkan reaksi berlawanan arah terhadap pelemahan Dolar AS pada awal April. Ini menjadi sinyal pelaku pasar mencari aset yang relatif lebih aman seperti emas saat pasar valuta asing bergejolak. Pergerakan ini menegaskan peran emas sebagai pelindung nilai saat mata uang melemah.

Prospek Pasar dan Pendorong Utama

Tren ini didukung permintaan institusi yang kuat, terlihat dari bank sentral yang terus membeli. Setelah pembelian besar di awal 2020-an, bank sentral global menambah lebih dari 950 ton ke cadangan pada 2025, dipimpin negara berkembang. Pembelian berkelanjutan ini membantu membentuk “lantai harga” (batas bawah harga yang ditopang permintaan), terutama karena data inflasi di AS dan Eropa tetap sulit turun di bawah target 2,5%.

Untuk pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures), kenaikan volatilitas tersirat (implied volatility, ukuran perkiraan naik-turun harga yang tercermin dalam harga opsi) menunjukkan pasar memperkirakan pergerakan yang lebih besar dalam beberapa pekan ke depan. Kondisi ini membuat strategi membeli opsi call (hak membeli aset pada harga tertentu) menarik untuk menangkap potensi kenaikan sambil membatasi risiko. Alternatifnya, menjual opsi put out-of-the-money (opsi jual dengan harga patokan yang masih jauh dari harga pasar) bisa dipertimbangkan untuk mendapatkan premi (imbalan yang diterima penjual opsi), dengan memanfaatkan dukungan kuat pada harga emas.

Namun, pasar perlu mewaspadai komunikasi bank sentral mendatang dari The Fed (bank sentral AS) dan ECB (Bank Sentral Eropa). Sinyal suku bunga akan dipertahankan tinggi lebih lama untuk menekan inflasi bisa menjadi hambatan bagi emas, karena emas adalah aset tanpa imbal hasil (non-yielding, tidak memberi bunga/kupon). Situasi serupa terjadi pada kuartal IV 2024, ketika pernyataan hawkish (bernada mendukung kebijakan ketat/suku bunga tinggi) memicu koreksi sementara namun tajam sekitar 4% pada harga emas.

Hubungan dengan aset berisiko juga berperan, karena reli pasar saham pada kuartal I 2026 mulai kehilangan tenaga. Pelaku pasar semakin banyak memakai kontrak berjangka emas (gold futures, perjanjian jual-beli emas untuk tanggal mendatang) sebagai lindung nilai terhadap potensi penurunan saham. Posisi defensif ini dapat menambah dukungan bagi emas jika sentimen pasar memburuk.

EUR/JPY Turun Tipis Mendekati 187,50, Namun Tetap Bullish di Atas EMA 100 Hari Saat Yen Menguat

EUR/JPY turun tipis ke sekitar 187,50 pada awal perdagangan Eropa, Kamis, seiring Yen Jepang menguat terhadap Euro di tengah kekhawatiran aksi resmi, seperti intervensi pemerintah di pasar valuta asing. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan ia meminta negara G7 untuk memantau ketat pergerakan nilai tukar.

Pelaku pasar memperkirakan Bank of Japan (BoJ/bank sentral Jepang) akan menaikkan suku bunga ke 1,00% pada akhir Juni. Dalam survei Reuters, hampir dua pertiga ekonom memproyeksikan langkah itu, dengan kenaikan pada April atau Juni dinilai sama-sama mungkin karena ketidakpastian terkait perang Iran.

Daily Chart Technical Picture

Pada grafik harian, pasangan ini masih berada di atas exponential moving average (EMA/rata-rata pergerakan eksponensial: indikator tren yang memberi bobot lebih besar pada harga terbaru) 100 hari, sehingga tren jangka dekat tetap positif. Relative Strength Index (RSI/indikator kekuatan momentum) 14 hari berada di sekitar 69, sedikit di bawah area overbought (jenuh beli: harga dinilai sudah naik terlalu cepat sehingga rawan koreksi).

Resistance (area hambatan kenaikan) pertama terlihat di sekitar 187,95 pada upper Bollinger Band (pita Bollinger atas: batas volatilitas yang sering menjadi hambatan saat harga naik), lalu 188,50. Support (area penopang) dimulai dari 186,20, kemudian middle Bollinger Band (pita Bollinger tengah: biasanya rata-rata pergerakan yang menjadi acuan) di dekat 185,00, dengan EMA 100 hari di 182,75 di bawahnya.

Melihat kembali periode ini tahun lalu, pada April 2025, EUR/JPY diperdagangkan di sekitar 187,50. Pandangan kami saat itu cenderung bullish (optimistis naik) karena harga bertahan kuat di atas moving average (rata-rata pergerakan) 100 hari. Kekuatan teknikal ini mengindikasikan penurunan kecil berpeluang menjadi kesempatan beli.

Pendorong utama saat itu adalah kekhawatiran intervensi dari pejabat Jepang dan ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ. Kami mencatat ekonom dalam survei Reuters pada April 2025 mayoritas memprediksi kenaikan suku bunga ke 1,00% pada Juni tahun itu. Namun pada akhirnya, BoJ lebih hati-hati dan hanya menaikkan suku bunga ke 0,75% hingga akhir 2025 karena ekonomi menunjukkan tanda perlambatan.

How The Trend Played Out

Tren bullish tersebut memang terjadi, ketika pasangan ini menembus resistance 188,50 dan berlanjut naik sepanjang musim panas 2025. Pergerakan ini mengonfirmasi sinyal teknikal. Trader yang membeli call options (opsi beli: hak membeli aset pada harga tertentu) atau memakai bull call spreads (strategi opsi dengan membeli call dan menjual call lain di harga lebih tinggi untuk membatasi biaya dan risiko) berdasarkan analisis itu meraih keuntungan ketika pasangan ini bergerak menuju 195,00 pada akhir tahun.

Data yang dihimpun FXStreet menunjukkan harga emas di Malaysia naik, seiring logam mulia tersebut mencatat kenaikan.

Harga emas di Malaysia naik pada Kamis, berdasarkan data FXStreet. Emas dipatok di MYR 612,87 per gram, naik dari MYR 608,41 pada Rabu.

Harga per tola naik menjadi MYR 7.148,42 dari MYR 7.096,32 sehari sebelumnya. Harga lain yang tercatat adalah MYR 6.128,72 untuk 10 gram dan MYR 19.062,30 per troy ounce (ons troy, satuan berat logam mulia internasional).

Perhitungan Harga Emas Malaysia

FXStreet menghitung harga emas Malaysia dengan mengonversi harga internasional menggunakan kurs USD/MYR dan satuan lokal. Angka diperbarui setiap hari memakai kurs pasar saat publikasi, dan harga lokal bisa sedikit berbeda.

Bank sentral adalah pemegang emas terbesar. Mereka menambah 1.136 ton senilai sekitar US$70 miliar pada 2022, menurut World Gold Council, total tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai.

Emas sering bergerak berlawanan arah dengan Dolar AS dan US Treasuries (obligasi pemerintah AS). Emas juga bisa bergerak berlawanan dengan aset berisiko seperti saham. Harga bisa berubah karena peristiwa geopolitik, kekhawatiran resesi, suku bunga, dan pergerakan Dolar AS, karena emas dihargai dalam dolar (XAU/USD, pasangan harga emas terhadap Dolar AS).

Pendorong Pasar Utama ke Depan

Ke depan, pasar memantau sinyal dari Federal Reserve (bank sentral AS) terkait kebijakan suku bunga untuk paruh kedua tahun ini. Data ekonomi terbaru, seperti laporan tenaga kerja Maret 2026 yang sedikit lebih lemah dengan pengangguran naik ke 4,1%, meningkatkan spekulasi pasar soal pemangkasan suku bunga pada kuartal IV. Karena emas adalah aset tanpa imbal hasil (tidak memberi bunga), emas cenderung lebih menarik saat suku bunga turun, yang dapat mendorong kenaikan lanjutan.

Ketegangan geopolitik, terutama meningkatnya gesekan di Laut Cina Selatan, menambah permintaan aset aman (safe haven, aset yang dicari saat pasar bergejolak). Selain itu, meski inflasi utama (headline inflation, angka inflasi total) sudah turun dari puncak 2023, inflasi inti (core inflation, inflasi tanpa komponen yang sangat bergejolak seperti energi dan pangan) masih bertahan di atas 3% di AS dan Eropa. Kondisi ini mendorong pelaku pasar memakai derivatif (instrumen turunan dari aset acuan) seperti opsi beli/call options (hak untuk membeli pada harga tertentu) untuk lindung nilai (hedging, proteksi risiko) terhadap guncangan mendadak dan penurunan daya beli.

Indeks Dolar AS (US Dollar Index, ukuran kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama) melemah dalam beberapa pekan terakhir, turun dari level tertinggi awal 2026 seiring meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga. Hubungan terbalik ini mendukung harga emas dalam dolar. Salah satu pendekatan derivatif yang bisa dipertimbangkan adalah membeli call spread pada kontrak berjangka emas (gold futures, kontrak beli/jual emas di masa depan): strategi ini membatasi biaya dan membatasi risiko sambil tetap memberi peluang untung jika harga naik.

Di Belanda, tingkat pengangguran tiga bulan yang disesuaikan secara musiman turun menjadi 4% dari sebelumnya 4,1%

Tingkat pengangguran Belanda yang sudah disesuaikan faktor musiman (seasonally adjusted) untuk periode tiga bulan berada di 4% pada Maret. Angka ini turun dari 4,1% pada rilis sebelumnya.

Tingkat pengangguran Belanda turun ke 4% dari 4,1%. Ini menunjukkan pasar tenaga kerja yang ketat (artinya lowongan kerja banyak dibanding jumlah pencari kerja) dan ketahanan ekonomi di salah satu wilayah utama Zona Euro. Ini menjadi sinyal belanja konsumen bisa tetap kuat.

Implikasi bagi Kebijakan ECB

Data tenaga kerja yang kuat ini langsung memengaruhi pertimbangan Bank Sentral Eropa (ECB) soal inflasi (kenaikan harga). Dengan inflasi Zona Euro yang baru dilaporkan masih “lengket” di 2,8% untuk Maret (artinya sulit turun cepat), tekanan upah dari pasar tenaga kerja Belanda yang ketat membuat pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat menjadi kurang mungkin. Hal ini menantang pandangan yang lebih “dovish” (cenderung mendukung suku bunga lebih rendah) yang banyak pihak pegang setelah 2025, ketika serangkaian data yang lebih lemah mengarah pada pelonggaran kebijakan yang lebih cepat (penurunan suku bunga atau kebijakan uang lebih longgar).

Untuk saham (equities), kondisi ini mendukung indeks saham Belanda dan Eropa seperti AEX. Opsi beli (call options, instrumen derivatif yang memberi hak membeli aset pada harga tertentu) pada indeks AEX 25 bisa dipertimbangkan, karena ekonomi yang sehat dapat mendorong ekspektasi laba perusahaan. Menjual opsi jual out-of-the-money (put yang harga strike-nya berada di bawah harga pasar saat ini, sehingga kecil kemungkinan dieksekusi) adalah cara lain untuk mengambil posisi pada pasar yang stabil atau naik.

Di pasar obligasi, data ini menjadi hambatan karena menunda harapan penurunan suku bunga. Imbal hasil (yield, besaran “bunga efektif” yang diminta investor) obligasi pemerintah Jerman (Bund, acuan utama utang Eropa) berpotensi mendapat tekanan naik, melanjutkan tren sejak yield menyentuh titik terendah pada akhir 2025. Ini membuat posisi jual pada kontrak berjangka Bund (Bund futures, kontrak derivatif untuk membeli/menjual Bund di kemudian hari) menarik sebagai strategi.

Perkembangan ini juga bisa menjadi penopang Euro. ECB yang kurang dovish dibanding bank sentral lain dapat menguatkan nilai tukar EUR/USD dari sekitar 1,09. Strategi seperti membeli opsi call Euro dapat dimanfaatkan untuk menangkap potensi penguatan mata uang (apresiasi, kenaikan nilai) dalam beberapa pekan ke depan.

Positioning di FX dan Suku Bunga

Output industri China naik 5,7% secara tahunan, melampaui perkiraan 5,5% untuk data Maret

Produksi industri China secara tahunan (year-on-year/yoy, yaitu dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya) naik 5,7% pada Maret. Angka ini di atas perkiraan 5,5%.

Rilis ini membandingkan output Maret dengan bulan yang sama setahun sebelumnya. Hasilnya 0,2 poin persentase lebih tinggi dari perkiraan.

Implikasi Pasar untuk Komoditas

Kami menilai data yang lebih kuat dari perkiraan ini sebagai sinyal langsung bahwa permintaan komoditas berpotensi meningkat dalam beberapa pekan ke depan. Kenaikan di atas perkiraan ini menunjukkan sektor manufaktur (industri pengolahan) China lebih kuat dari yang diperkirakan sebelumnya, sehingga dapat menopang logam industri utama. Perlu dipertimbangkan posisi beli (long, yaitu mengambil posisi untuk mendapat keuntungan jika harga naik) pada kontrak berjangka (futures, kontrak untuk membeli/menjual aset di harga tertentu pada waktu tertentu) tembaga dan bijih besi, karena harganya sangat sensitif terhadap aktivitas industri China.

Data ini juga memperkuat pandangan positif (bullish, yaitu memperkirakan harga naik) terhadap mata uang yang terkait komoditas, terutama dolar Australia. Sebagai mitra dagang terbesar Australia, ekonomi China yang tetap kuat langsung mendorong permintaan ekspor Australia, terutama bijih besi. Mengingat AUD/USD (nilai tukar dolar Australia terhadap dolar AS) bergerak dalam kisaran sempit di sekitar 0,6650, ini bisa menjadi pemicu harga menembus ke atas (breakout, yaitu keluar dari kisaran pergerakan harga).

Kami juga memperkirakan dampak pada pasar energi, karena aktivitas industri yang lebih kuat berarti konsumsi energi lebih tinggi. Impor minyak mentah China, yang baru-baru ini naik lagi di atas 11 juta barel per hari, kemungkinan tetap tinggi atau bahkan meningkat setelah kabar ini. Ini memperkuat alasan untuk mempertahankan posisi beli pada opsi beli (call options, kontrak yang memberi hak—bukan kewajiban—untuk membeli aset pada harga tertentu sebelum jatuh tempo) minyak mentah yang jatuh tempo dalam satu hingga dua bulan ke depan.

Pertimbangan Manajemen Risiko

Namun, meski datanya positif, kita tetap perlu mewaspadai risiko yang masih berlangsung di sektor properti China. Karena itu, strategi dengan risiko terbatas (defined-risk, yaitu potensi rugi maksimum sudah ditentukan) seperti bull call spread (strategi opsi: membeli opsi beli dan sekaligus menjual opsi beli lain pada harga kesepakatan yang lebih tinggi untuk membatasi biaya dan risiko) pada ETF komoditas (Exchange Traded Fund, reksa dana yang diperdagangkan di bursa) atau saham pertambangan adalah pendekatan yang lebih bijak. Ini memungkinkan kita ikut memanfaatkan potensi kenaikan, sambil membatasi kerugian maksimum jika penguatan industri ini hanya bersifat sementara.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

PDB China tumbuh 5% secara tahunan (yoy) pada kuartal I, melampaui perkiraan 4,8%

Produk domestik bruto (PDB, ukuran total nilai barang dan jasa yang dihasilkan) China secara tahunan (year-on-year, dibanding periode yang sama tahun lalu) tumbuh 5% pada kuartal pertama. Angka ini di atas perkiraan 4,8%.

Data ini membandingkan output kuartal pertama dengan periode yang sama setahun sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan melampaui proyeksi sebesar 0,2 poin persentase.

Implikasi Untuk Penempatan Posisi

Rilis PDB yang lebih kuat dari perkiraan menunjukkan ekonomi China memiliki dorongan yang lebih besar dari perkiraan kami. Kejutan positif ini mendorong peninjauan ulang posisi bearish (posisi yang bertaruh harga turun) dan mencari peluang pada aset yang terkait pertumbuhan China. Dalam beberapa pekan ke depan, strategi yang diuntungkan dari aktivitas ekonomi yang meningkat dan sentimen yang membaik patut diprioritaskan.

Kami dapat mempertimbangkan membeli opsi call (kontrak derivatif yang memberi hak membeli aset pada harga tertentu) pada indeks saham China seperti CSI 300 dan Hang Seng. Setelah kinerja tertinggal sepanjang 2025, data ini memberi alasan fundamental untuk reli (kenaikan). Volatilitas tersirat (perkiraan gejolak harga yang tercermin dalam harga opsi) pada indeks tersebut bisa menurun setelah data penting ini keluar, sehingga strategi call spread (membeli call dan menjual call lain untuk menekan biaya) menjadi cara yang lebih efisien untuk mengambil peluang kenaikan.

Data ini juga memperkuat peluang penguatan yuan, sehingga dapat dilirik futures (kontrak berjangka untuk membeli/menjual di harga dan tanggal tertentu) atau opsi pada CNH (yuan lepas pantai/offshore yang diperdagangkan di luar China daratan). Bank Sentral China (People’s Bank of China/PBoC) kini memiliki ruang lebih besar untuk membiarkan mata uang menguat secara terbatas tanpa khawatir menekan pertumbuhan. Data terbaru dari CFTC (otoritas AS yang memantau pasar derivatif) menunjukkan berkurangnya taruhan bearish terhadap yuan, dan angka PDB ini kemungkinan mempercepat tren tersebut.

Komoditas menjadi pihak yang langsung diuntungkan, sehingga posisi long (posisi yang bertaruh harga naik) pada futures tembaga dan bijih besi patut dipertimbangkan. China masih mengonsumsi lebih dari setengah tembaga olahan dunia, sehingga pertumbuhan PDB 5% mengarah pada permintaan industri yang kuat. Pada 2025, harga bahan ini sempat melemah akibat kekhawatiran sektor properti, dan laporan ini memberi sinyal potensi pembalikan arah.

Karena data positif ini mengurangi sumber ketidakpastian utama, volatilitas bisa dijual (strategi yang diuntungkan saat gejolak turun), misalnya dengan menjual opsi put (kontrak yang memberi hak menjual; penjual put menerima premi namun menanggung risiko jika harga turun) pada ETF (reksa dana yang diperdagangkan di bursa) seperti iShares MSCI China ETF (MCHI). Strategi ini memungkinkan menerima premi sambil menyampaikan pandangan optimistis secara hati-hati bahwa pasar telah membentuk dasar (level terendah sementara).

Efek Lanjutan

Menilik langkah stimulus yang konsisten dari Beijing sepanjang 2025, angka PDB ini menjadi bukti nyata pertama bahwa kebijakan tersebut mulai berdampak. Tidak seperti pemulihan yang tidak merata pada tahun lalu, kali ini terlihat penguatan yang lebih menyeluruh dan lebih sulit diabaikan. Ini menandakan upaya pemerintah menstabilkan ekonomi mulai efektif.

Dampaknya akan menjalar ke perusahaan global yang bergantung pada pasar China. Opsi call dapat dipertimbangkan pada merek barang mewah Eropa dan produsen otomotif Jerman, karena laba mereka sensitif terhadap belanja konsumen China. Perusahaan tambang besar juga berpotensi diuntungkan, karena output industri yang lebih kuat biasanya meningkatkan permintaan bahan baku.

PDB Kuartalan China Naik 1,3% pada Kuartal I, Sesuai Ekspektasi Analis

Produk domestik bruto (PDB, total nilai barang dan jasa yang dihasilkan) China naik 1,3% secara kuartalan (quarter-on-quarter/QoQ, dibanding kuartal sebelumnya) pada kuartal I. Angka ini sesuai dengan perkiraan pasar.

Hasil tersebut menunjukkan ekonomi tumbuh sesuai ekspektasi pada periode itu. Tidak ada rincian tambahan dalam rilis singkat tersebut.

Reaksi Pasar dan Prospek Volatilitas

PDB kuartal I sebesar 1,3% QoQ persis seperti yang diperkirakan pasar. Karena tidak ada kejutan, sumber utama ketidakpastian jangka dekat untuk aset China berkurang. Ini menjadi sinyal bahwa volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan besarnya naik-turun harga yang tercermin pada harga opsi) pada instrumen seperti opsi (options, kontrak yang memberi hak beli/jual) untuk ETF FXI dan MCHI kemungkinan turun dalam beberapa pekan ke depan.

Jika dilihat lebih rinci, datanya menunjukkan ketimpangan yang masih berlanjut. Produksi industri (industrial production, output pabrik) Maret melampaui perkiraan, naik 6,1%, sementara penjualan ritel (retail sales, belanja konsumen) mengecewakan karena hanya naik 3,1%, di bawah konsensus (consensus, rata-rata perkiraan analis) 4,5%. Ini menandakan pemulihan yang dipimpin sektor manufaktur belum berubah menjadi kepercayaan konsumen yang kuat.

Pertumbuhan yang stabil namun biasa saja ini juga tidak cukup menjadi pendorong reli besar pada komoditas industri. Harga bijih besi (iron ore), yang belakangan stabil di sekitar US$115 per ton setelah turun tajam di awal tahun, kecil kemungkinan melonjak signifikan karena tambahan permintaan dari data ini. Kondisi ini mendukung strategi pergerakan dalam kisaran (range-bound, harga cenderung bolak-balik dalam batas tertentu), misalnya menjual covered call (strategi menjual opsi beli dengan memiliki saham sebagai lindung nilai) pada saham produsen komoditas.

Bagi pelaku pasar valuta asing, PDB yang sesuai perkiraan memberi sedikit alasan bagi People’s Bank of China (PBoC, bank sentral China) untuk mengubah arah kebijakan secara besar. Ini memperkuat stabilitas pasangan USD/CNH (nilai dolar AS terhadap yuan lepas pantai), yang bergerak sempit di sekitar 7,23 dan disebut ditahan bank milik negara. Menjual strangle berjangka pendek (short-dated strangle, strategi menjual opsi beli dan opsi jual sekaligus pada level berbeda untuk mengambil premi saat harga stabil) pada pasangan mata uang ini dapat menjadi pilihan untuk memanfaatkan perkiraan volatilitas yang rendah.

Konteks Historis dari 2025

Pada 2025, pola serupa berulang: pencapaian target pertumbuhan yang rendah tidak cukup untuk menahan dampak krisis sektor properti yang berkepanjangan. Rilis data saat itu sering memicu lega sesaat, tetapi tidak menghasilkan kenaikan yang bertahan lama pada saham. Ini menunjukkan perlunya kehati-hatian untuk bertaruh pada penembusan besar (breakout, harga keluar dari kisaran) hanya berdasarkan angka hari ini.

Minyak mentah WTI masih lesu di sekitar US$88, dengan ketegangan Selat Hormuz menyeimbangi optimisme atas kemajuan diplomatik Iran

WTI diperdagangkan melemah untuk hari ketiga, tetapi tanpa kelanjutan tekanan yang kuat. Harganya berada sedikit di bawah $88,00 pada sesi Asia, turun sekitar 0,40%, setelah memantul dari bawah $85,00, terendah dalam lebih dari tiga minggu.

Harga tertekan oleh ekspektasi meredanya ketegangan AS-Iran dan potensi perpanjangan gencatan senjata. Presiden AS Donald Trump mengatakan perang dengan Iran mungkin mendekati akhir, dan Gedung Putih menyatakan optimistis soal kesepakatan, dengan laporan adanya putaran kedua pembicaraan dalam beberapa hari.

Risiko Hormuz Menahan Penurunan WTI

Penurunan dibatasi oleh risiko di Selat Hormuz dan ketegangan kawasan yang masih berlangsung. Iran menetapkan syarat untuk pembicaraan lanjutan, sementara Perdana Menteri Israel mengatakan tidak ada komitmen gencatan senjata dan IDF (militer Israel) diminta memperluas zona keamanan.

Blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran dilaporkan sudah diterapkan penuh setelah pembicaraan di Islamabad berakhir Sabtu lalu. Komando militer gabungan Iran menyatakan perdagangan di Teluk bisa dihentikan jika blokade tidak dicabut, sehingga meningkatkan risiko gangguan pasokan.

WTI adalah patokan harga minyak mentah AS. Pergerakannya terutama dipengaruhi oleh pasokan dan permintaan, geopolitik (risiko politik dan keamanan global), nilai tukar dolar AS, keputusan OPEC (kelompok negara pengekspor minyak), serta laporan persediaan mingguan dari API dan EIA. API (American Petroleum Institute/lembaga industri minyak AS) merilis data pada Selasa, sedangkan EIA (Energy Information Administration/badan statistik energi pemerintah AS) pada Rabu. Hasil keduanya selaras (selisih sekitar 1%) sekitar 75% dari waktu.

Kekhawatiran intervensi mengangkat Yen, sementara tekanan Dolar yang melemah membuat USD/JPY bertahan di dekat level terendah mingguan

USD/JPY turun pada sesi Asia hari Kamis, melemah ke 158,70–158,65. Pasangan ini bertahan dekat level terendah pekan ini yang terlihat pada Selasa, setelah Dolar AS melemah.

Indeks Dolar AS (US Dollar Index/DXY, ukuran kekuatan Dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) berada dekat level terendah sejak awal Maret, seiring pasar merespons harapan gencatan senjata dan komentar bahwa perang dengan Iran mendekati akhir. Ekspektasi negosiasi menekan permintaan Dolar.

Minyak Dan Ekspektasi Kebijakan

Minyak mentah diperdagangkan dekat level terendah tiga pekan yang tercatat pada Selasa, meredakan kekhawatiran inflasi dan menurunkan ekspektasi kebijakan Federal Reserve (bank sentral AS) yang lebih ketat. Yen mendapat dukungan dari spekulasi bahwa otoritas Jepang dapat melakukan intervensi (aksi jual-beli mata uang oleh pemerintah/bank sentral untuk memengaruhi nilai tukar) guna membatasi pelemahan mata uang.

Penguatan Yen terbatas oleh risiko terkait Selat Hormuz dan pembatasan pengapalan di sekitar Iran. Jepang sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah, dan gangguan arus minyak meningkatkan kekhawatiran tekanan jangka pendek pada ekonomi Jepang.

USD/JPY bergerak dalam kisaran yang mirip selama sekitar sebulan, setelah terkoreksi dari area pertengahan 160,00, level tertinggi sejak Juli 2025 yang tercapai bulan lalu. Karena tidak ada rilis data utama AS, komentar dari anggota FOMC (Federal Open Market Committee, komite penentu suku bunga The Fed) dipantau sebagai penggerak Dolar.

Optimisme pada akhir 2025 soal gencatan senjata AS-Iran memudar, kembali memicu tekanan naik pada USD/JPY. Pasangan ini kini menguji level 159,50, mengingatkan pasar pada kekhawatiran intervensi saat mendekati 160,00 tahun lalu. Kondisi ini mengindikasikan volatilitas (naik-turun harga yang lebih tajam) berpotensi meningkat dalam waktu dekat.

Perbedaan Suku Bunga Dan Risiko Intervensi

Data terbaru menunjukkan perbedaan kebijakan AS-Jepang melebar lagi, berlawanan dengan tren penyempitan pada 2024 dan 2025. Indeks Harga Konsumen AS (Consumer Price Index/CPI, ukuran inflasi) untuk Maret 2026 pekan lalu lebih tinggi dari perkiraan di 3,1%, memperkuat pandangan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Ini mendorong imbal hasil (yield, tingkat hasil obligasi) US Treasury 10 tahun kembali di atas 4,50%, kontras dengan yield acuan Jepang yang bertahan dekat 0,90%.

Sementara itu, kondisi ekonomi Jepang terlihat lebih rapuh. Data awal PDB (Produk Domestik Bruto/GDP, ukuran total produksi ekonomi) kuartal I 2026 menunjukkan kontraksi 0,2%, dengan biaya impor energi yang tinggi akibat ketidakstabilan Timur Tengah disebut sebagai faktor utama. Pertumbuhan yang lemah ini menyulitkan Bank of Japan (bank sentral Jepang) untuk mengetatkan kebijakan, membuat Yen rentan terhadap carry trade (strategi meminjam mata uang berbunga rendah untuk membeli aset/mata uang berbunga lebih tinggi).

Risiko utama untuk posisi beli USD/JPY tetap intervensi langsung dari otoritas Jepang, yang dapat memicu penurunan mendadak dan tajam. Intervensi singkat pada Februari 2026 sempat menekan pasangan ini hampir 400 pip (satuan perubahan kecil pada pasangan valas) dalam satu hari, namun tren naik kembali dalam beberapa pekan. Ini menunjukkan intervensi dapat mengguncang harga, tetapi dampaknya bisa tidak bertahan lama saat tekanan fundamental masih kuat.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code