Back

OCBC Menilai Gencatan Senjata AS–Iran yang Rapuh Memicu Pergerakan Valas Asia yang Beragam, Menekan Mata Uang Negara Pengimpor Minyak, dan Menopang Mata Uang Berbasis Teknologi

OCBC strategis Sim Moh Siong dan Christopher Wong memperkirakan pergerakan beragam di pasar valuta asing (foreign exchange/FX, yaitu perdagangan mata uang) Asia, seiring gencatan senjata AS–Iran yang rapuh menurunkan harga minyak dari puncak sebelumnya, tetapi tidak menghilangkan ketegangan. Mereka menggambarkan situasi ini sebagai jeda yang rapuh, bukan penurunan eskalasi yang jelas.

Mereka memperkirakan mata uang yang sensitif terhadap minyak akan tertekan, yakni rupiah Indonesia (IDR), rupee India (INR), peso Filipina (PHP), dan baht Thailand (THB). Mereka juga menyoroti ketegangan baru yang terkait dengan UEA dan Selat Hormuz.

Gencatan Senjata Rapuh dan Premi Risiko Minyak

Mereka menilai mata uang yang terkait kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI, yaitu teknologi yang membuat komputer mampu “belajar” dari data) dan teknologi akan bertahan lebih baik, termasuk dolar Taiwan (TWD) dan won Korea Selatan (KRW). Mereka menambahkan ringgit Malaysia (MYR) juga berpotensi lebih kuat sampai batas tertentu.

Laporan tersebut menyebut harga minyak turun dari level tinggi terbaru setelah gencatan senjata terlihat bertahan, meski sebelumnya sempat terjadi saling serang.

Untuk sementara, gencatan senjata AS-Iran masih bertahan, sehingga harga minyak turun dari puncak krisis yang terlihat pada 2025. Namun, penurunan eskalasi terasa rapuh, dan ketegangan yang terus ada di sekitar Selat Hormuz membuat “premi risiko” (tambahan harga karena pelaku pasar menilai ada risiko gangguan pasokan) tetap menempel pada harga energi. Minyak mentah Brent stabil di sekitar US$85 per barel pada kuartal ini, level yang masih menjadi tantangan bagi ekonomi yang bergantung pada energi impor.

Kondisi ini mengindikasikan tekanan berlanjut pada mata uang yang sensitif terhadap minyak seperti rupiah Indonesia dan rupee India. Rupee India, misalnya, telah melemah lebih dari 1% terhadap dolar sejak awal tahun, kini diperdagangkan di dekat 84,50. Pelaku pasar dapat mempertimbangkan strategi yang diuntungkan dari pelemahan ini, seperti membeli put (opsi jual, yaitu kontrak yang memberi hak—bukan kewajiban—untuk menjual pada harga tertentu) pada peso Filipina atau baht Thailand untuk lindung nilai (hedge, yaitu mengurangi risiko kerugian) terhadap inflasi yang didorong impor yang sulit turun.

Transaksi Nilai Relatif Tanpa Eksposur USD

Sebaliknya, mata uang yang terkait sektor AI dan teknologi menunjukkan kekuatan dasar. Pesanan ekspor Taiwan untuk komponen elektronik melonjak 15% secara tahunan (year-over-year/yoy, yaitu dibanding periode yang sama tahun sebelumnya) pada kuartal I-2026, sehingga mendorong permintaan dolar Taiwan. Mereka menilai menjual call USD out-of-the-money (opsi beli dengan harga kesepakatan yang saat ini tidak menguntungkan jika langsung digunakan) terhadap TWD atau won Korea dapat menjadi strategi untuk memanfaatkan permintaan teknologi yang bertahan.

Pendekatan yang lebih langsung dapat melalui transaksi nilai relatif (relative value, yaitu mengambil posisi beli di satu aset dan jual di aset lain untuk menangkap perbedaan kinerja) yang mengeluarkan dolar AS dari perhitungan. Mereka melihat peluang menggunakan non-deliverable forwards/NDF (kontrak forward mata uang yang penyelesaiannya dalam bentuk selisih nilai secara tunai, tanpa penyerahan fisik mata uang) untuk membangun posisi long (posisi beli, diuntungkan jika naik) pada dolar Taiwan dan posisi short (posisi jual, diuntungkan jika turun) pada rupee India. Struktur derivatif (instrumen turunan, nilainya mengikuti aset acuan) seperti ini menyoroti perbedaan antara siklus ekspor yang kuat didorong AI dan beban biaya impor energi yang tetap tinggi.

AMD Pimpin Kinerja Laba AI yang Beragam saat Investor Pantau Apakah Nasdaq-100 Mampu Bertahan atas Kenaikan Awal Setelah Gap Up

Laporan kinerja keuangan terkait AI menunjukkan hasil beragam: AMD mencatat angka paling kuat, SMCI meleset pada pendapatan tetapi memberi proyeksi yang optimistis, sementara Navitas membukukan pertumbuhan moderat. Fokus pasar kini bergeser ke apakah Nasdaq-100 mampu mempertahankan lonjakan awal (gap up, yaitu pembukaan harga lebih tinggi dari penutupan sebelumnya karena sentimen/berita), atau justru melemah setelah pembukaan.

AMD melaporkan pendapatan sekitar $10,3 miliar dan EPS non-GAAP (laba per saham yang sudah “disesuaikan”, biasanya mengecualikan pos sekali waktu seperti biaya restrukturisasi/kompensasi saham) sebesar $1,37. Perusahaan memproyeksikan pendapatan Q2 sekitar $11,2 miliar ± $300 juta dan margin kotor non-GAAP (persentase laba kotor setelah penyesuaian) sekitar 56%, dengan pendapatan Data Centre naik 57% dibanding periode yang sama tahun lalu (year on year).

Key Earnings Takeaways

SMCI melampaui perkiraan EPS, namun pendapatan di bawah ekspektasi. Perusahaan memproyeksikan pendapatan Q4 sebesar $11,0 miliar–$12,5 miliar dan EPS non-GAAP $0,65–$0,79.

Navitas melaporkan pendapatan naik 18% dibanding kuartal sebelumnya (sequentially) menjadi $8,6 juta. Perusahaan memproyeksikan pendapatan Q2 sekitar $10,0 juta ± $0,5 juta.

Nasdaq-100 ditutup di 28.015, dengan level teknikal di 28.200, 27.700, 27.592–27.822, serta area penopang (support) lain di sekitar 27,3 ribu, 27 ribu, dan 26,4 ribu. Dua sinyal “kelelahan” yang disebutkan adalah garis tren (trendline) di dekat 28.200 dan bearish divergence (harga naik tetapi indikator momentum melemah, sering menjadi peringatan potensi koreksi) pada osilator per jam, termasuk Stochastic RSI (indikator momentum yang mengukur kondisi jenuh beli/jenuh jual berdasarkan RSI).

Laporan kinerja emiten AI terbaru menegaskan reli masih berlanjut, tetapi investor perlu selektif. Kinerja AMD menjadi sinyal terkuat, menunjukkan boom AI cukup luas sehingga tidak hanya melahirkan satu pemenang. Hingga Mei 2026, laporan industri menunjukkan belanja modal pusat data (data center capital expenditure/capex, yaitu pengeluaran perusahaan untuk membangun/meningkatkan infrastruktur seperti server dan jaringan) naik 35% dibanding tahun lalu, yang mendukung narasi pertumbuhan dan mendorong saham AMD menguat.

Bagi AMD, pergerakan harga yang melampaui volatilitas tersirat pasca laporan kinerja (implied earnings volatility, yaitu besaran gejolak harga yang “diperkirakan” pasar opsi menjelang laporan) mengindikasikan ini bukan sekadar reaksi sesaat. Pola serupa terlihat pada awal 2025, ketika kejutan laba positif memicu kenaikan berkelanjutan dalam beberapa minggu berikutnya. Trader yang memegang posisi call (opsi beli, hak membeli saham pada harga tertentu) dapat mempertimbangkan ambil untung sebagian di area resistensi $420–$426, namun tren dasarnya masih kuat mengarah naik.

Market Levels To Watch

Situasi SMCI lebih didorong momentum harga ketimbang fundamental, karena proyeksi yang kuat menutupi laporan pendapatan yang lemah. Pasar opsi mencerminkan hal ini: volatilitas tersirat untuk opsi mingguan tetap tinggi, menandakan pelaku pasar bersiap menghadapi pergerakan tajam di sekitar level kunci $30,50. Jika support itu bertahan hingga jatuh tempo hari Jumat (expiration, saat kontrak opsi berakhir), ini dapat memicu gamma squeeze (kenaikan cepat akibat pelaku pasar—terutama pembuat pasar—harus membeli saham untuk menutup risiko ketika harga naik, sehingga mendorong harga makin naik) dan mengangkat harga lebih tinggi.

Jika SMCI adalah permainan momentum, Navitas masih menjadi “saham cerita” (story stock, saham yang bergerak lebih karena narasi pertumbuhan masa depan daripada kinerja saat ini) yang tertahan dalam rentang. Ini membuatnya cocok untuk strategi derivatif dalam kisaran (range-bound, harga bolak-balik di area tertentu), misalnya menjual iron condor (strategi opsi yang mengambil premi dengan memasang batas bawah dan atas, mengandalkan harga tetap di rentang) dengan strike di luar kanal $14–$20. Pertumbuhan di pasar daya tinggi menjadi sinyal positif, tetapi sampai harga menembus rentang (breakout) disertai volume transaksi yang kuat, sebaiknya hindari taruhan satu arah.

Nasdaq-100 kini menghadapi ujian penting karena mulai menunjukkan tanda kelelahan. Indeks Volatilitas CBOE (VIX, ukuran “ketakutan” pasar yang dihitung dari harga opsi S&P 500) berada di sekitar 13, level rendah yang tidak terlihat sejak reli tajam (melt-up, kenaikan cepat yang sering didorong euforia) akhir 2025, yang mengindikasikan pasar terlalu percaya diri (complacency). Kondisi ini membuat indeks rentan terhadap skenario “gap-up-and-fade” (dibuka naik lalu melemah) bila pembeli tidak cukup kuat menahan harga setelah pembukaan.

Fokus utama ada pada level tengah 28.200 di kontrak berjangka Nasdaq-100 (futures, kontrak untuk membeli/menjual indeks di masa depan). Kegagalan bertahan di area ini setelah pasar saham reguler dibuka bisa menjadi sinyal untuk membeli put jangka sangat pendek (opsi jual, hak menjual pada harga tertentu) atau menjual call spread (strategi menjual call dan membeli call lain pada strike lebih tinggi untuk membatasi risiko) sebagai lindung nilai (hedge, perlindungan terhadap penurunan). Sebaliknya, jika pasar mampu menyerap tekanan jual awal dan membangun support di atas level tersebut, itu mengonfirmasi reli berbasis AI masih berpotensi berlanjut.

Penembusan tegas ke bawah support kanal naik di sekitar 27.700 akan menjadi peringatan besar pertama bagi pasar yang lebih luas. Ini menandakan bahkan kabar sangat positif dari sektor AI kemungkinan sudah tercermin dalam harga (priced in, sudah “dibayar” oleh kenaikan sebelumnya), perubahan penting dibanding karakter pasar sepanjang 2025. Dalam skenario itu, perhatian bergeser ke support lebih rendah di sekitar 27.300 sebagai titik pertarungan berikutnya antara pembeli dan penjual.

WTI Merosot Menuju US$91 seiring Harapan Kesepakatan AS-Iran Menekan Premi Risiko Hormuz

Minyak mentah WTI jatuh tajam pada Rabu, diperdagangkan dekat US$91,00 dan turun 8,91% pada hari itu setelah ada laporan kemajuan pembicaraan antara AS dan Iran. Axios menyebut pergerakan ini membuat pasar menyesuaikan ulang penilaian risiko di Timur Tengah.

Axios melaporkan AS dan Iran hampir mencapai *memorandum of understanding* (nota kesepahaman, yaitu kesepakatan awal yang belum tentu mengikat penuh) untuk meredakan konflik dan membuka pembicaraan lebih luas soal program nuklir Iran. Ketentuan yang disebut antara lain pelonggaran bertahap pembatasan terkait Selat Hormuz, moratorium Iran atas pengayaan nuklir (penghentian sementara proses meningkatkan kadar uranium), pelonggaran sanksi AS, serta pelepasan miliaran dolar dana Iran yang dibekukan.

Market Impact And Deal Parameters

Axios menambahkan Gedung Putih mengharapkan respons Iran atas poin-poin utama dalam 48 jam. Reuters juga mengutip sumber Pakistan yang mengatakan kedua pihak “sangat dekat” dengan kesepakatan.

Selat Hormuz menjadi jalur sekitar seperlima arus minyak global. Presiden AS Donald Trump mengatakan “Project Freedom” (program untuk memulihkan jalur pelayaran dagang melalui selat tersebut) akan dijeda agar pembicaraan berjalan.

Persediaan minyak mentah AS turun 8,1 juta barel pekan lalu, menurut API (American Petroleum Institute/Institut Perminyakan Amerika, lembaga industri yang merilis perkiraan data persediaan), dibanding perkiraan konsensus penurunan 2,8 juta barel. Goldman Sachs menyebut persediaan minyak global mendekati level terendah dalam delapan tahun.

Kondisi ini mirip dengan 2025 ketika kabar potensi kesepakatan AS–Iran sempat menekan harga minyak ke sekitar US$91. Kesepakatan itu memberi ruang bernapas bagi pasar, tetapi dengan WTI sebelumnya sempat bergerak di sekitar US$98 per barel, terlihat pasokan yang ketat kembali menjadi faktor utama. Premi risiko geopolitik (tambahan harga karena kekhawatiran konflik) bergeser menjadi premi kelangkaan pasokan.

Pada 2025, nota kesepahaman tersebut memungkinkan ekspor Iran naik sekitar 800.000 barel per hari hingga akhir tahun, membantu menyeimbangkan pasar. Namun tambahan pasokan itu sudah terserap, sementara pertumbuhan permintaan global pada awal 2026 lebih kuat dari perkiraan. Gangguan baru, baik dari Timur Tengah maupun wilayah lain, kini dampaknya lebih besar.

Supply Tightness And Trading Approaches

Pasar fisik (pasar transaksi minyak sungguhan, bukan kontrak turunan) tetap sangat ketat. OPEC+ (kelompok OPEC dan negara produsen mitra) mempertahankan pemangkasan produksi pada pertemuan Maret 2026 karena khawatir ekonomi global rapuh, sehingga menopang harga. Data terbaru EIA (Energy Information Administration/Badan Informasi Energi AS) per 29 April 2026 menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun lagi 2,1 juta barel, memperkuat cerita defisit pasokan.

Dengan latar ini, *implied volatility* (perkiraan volatilitas yang “terlihat” dari harga opsi) pada opsi minyak tinggi, sehingga posisi sederhana beli *call* atau *put* menjadi mahal. Trader dapat mempertimbangkan strategi seperti menjual *put* out-of-the-money (opsi jual dengan harga patokan di bawah harga pasar saat ini) untuk menerima premi (biaya yang diterima penjual opsi), dengan asumsi fundamental kuat akan membatasi penurunan di bawah US$90. Strategi ini diuntungkan oleh volatilitas tinggi dan pasokan yang ketat.

Bagi yang memperkirakan harga melonjak jika ketegangan geopolitik muncul lagi, *call spread* (strategi beli opsi beli lalu menjual opsi beli lain di harga patokan lebih tinggi) bisa lebih hemat. Membeli *call option* (opsi beli) sambil menjual *call* dengan harga patokan lebih tinggi mengurangi premi bersih yang dibayar, penting saat volatilitas tinggi. Ini menciptakan posisi dengan risiko terukur untuk mengambil peluang kenaikan menuju level tertinggi sejak awal tahun di sekitar US$104 tanpa sepenuhnya tergerus *time decay* (penurunan nilai opsi karena waktu).

Tembaga Rebound di Atas US$13.000 saat Ketegangan Mereda Pascagencatan Senjata, Mengimbangi Stok LME Tinggi dan Risiko Gangguan Pasokan

Harga tembaga naik, dengan tembaga di LME (London Metal Exchange, bursa logam di London) kembali diperdagangkan di atas US$13.000 per ton saat pasar menilai seberapa kuat gencatan senjata AS-Iran bertahan. Harga pulih pada Selasa sore setelah sempat melemah, didukung perbaikan sentimen risiko (minat investor mengambil aset berisiko).

Stok di gudang bursa (persediaan resmi yang tercatat di bursa) tetap tinggi, mendekati level tertinggi sejak 2013, sehingga membatasi kenaikan lanjutan. Pergerakan pasar terkait perkembangan geopolitik dan arus berita jangka pendek.

Penutupan Selat Hormuz dalam waktu lama disebut sebagai risiko utama bagi logam. Penutupan ini dapat menaikkan biaya energi, mendorong inflasi (kenaikan harga umum), dan menekan permintaan manufaktur, sehingga membatasi kenaikan logam industri.

Agar harga tembaga naik secara berkelanjutan, laporan tersebut menilai dibutuhkan permintaan fisik yang lebih kuat (pembelian untuk kebutuhan nyata, bukan transaksi spekulatif) atau penurunan stok (inventori berkurang).

Pembicaraan Kesepakatan AS-Iran Mendongkrak Selera Risiko, Menekan Harga Minyak dan Volatilitas Seiring Meredanya Pembatasan di Selat Hormuz

Axios melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Iran bergerak menuju kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Syarat yang dilaporkan mencakup kedua pihak melonggarkan pembatasan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz.

Laporan itu menyebut Iran akan berkomitmen pada moratorium pengayaan nuklir (penghentian sementara peningkatan kadar uranium). Laporan itu juga menyebut AS akan mencabut sanksi dan mencairkan dana Iran yang dibekukan senilai miliaran dolar.

Rincian Kesepakatan dan Jadwal

AS disebut mengharapkan Iran merespons beberapa poin penting dalam 48 jam ke depan. Reuters juga melaporkan bahwa sumber Pakistan yang terlibat dalam upaya perdamaian mengonfirmasi laporan Axios dan mengatakan kedua pihak hampir merampungkan kesepakatan.

Pasar beralih ke aset berisiko setelah kabar tersebut. Indeks Dolar AS (DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) turun lebih dari 0,6% ke sekitar 97,90, sementara kontrak berjangka indeks saham AS (futures, acuan pergerakan indeks sebelum pasar dibuka) naik 0,65% hingga 1,1%.

Emas naik sekitar 3% ke sekitar US$4.700. Pergerakan ini terjadi saat pelaku pasar merespons kemajuan menuju kesepakatan.

Dengan kabar bahwa kesepakatan AS–Iran semakin dekat, kami menilai ini sebagai peristiwa pengurangan risiko besar yang akan menekan harga minyak dalam beberapa pekan ke depan. Transaksi utama yang kami pertimbangkan adalah membeli opsi jual (put options, hak untuk menjual pada harga tertentu guna melindungi/bertaruh harga turun) pada kontrak berjangka Brent Juli dan Agustus. Dibukanya kembali Selat Hormuz dan kembalinya pasokan minyak Iran berpotensi memicu kelebihan pasokan (supply glut, pasokan melampaui permintaan). Laporan International Energy Agency/IEA (badan energi internasional) Maret 2026 memperkirakan pencabutan sanksi dapat menambah lebih dari 1 juta barel per hari ke pasokan global dalam enam bulan, angka yang baru mulai diperhitungkan pasar.

Kami melihat dinamika serupa setelah kesepakatan nuklir awal pada 2015, yang menekan harga minyak hampir 20% dalam dua bulan berikutnya. Mengingat harga sempat menyentuh US$110 per barel saat eskalasi ketegangan tanker pada Februari 2026, kami menilai ada peluang kembali turun ke kisaran US$85–US$90. Karena itu, posisi bearish (pandangan harga turun) di sektor energi menjadi posisi dengan keyakinan tertinggi saat ini.

Volatilitas Saham dan Prospek Emas

Turunnya ketegangan geopolitik jelas positif untuk saham, dan kami menilai perlu menambah posisi long (posisi beli) melalui opsi beli (call options, hak untuk membeli pada harga tertentu untuk mengambil untung saat harga naik) di S&P 500. Volatilitas (tingkat naik-turun harga) sudah tinggi selama berbulan-bulan, dengan VIX (indeks “ketakutan” yang mengukur perkiraan volatilitas S&P 500) rata-rata di atas 22 pada kuartal I 2026, terutama akibat konflik ini. Kami memperkirakan VIX turun di bawah 15 saat ketidakpastian besar ini hilang, sehingga strategi call spread (membeli call dan menjual call lain untuk membatasi risiko dan biaya) menjadi cara berisiko terukur untuk menangkap potensi kenaikan.

Lonjakan awal emas ke US$4.700 tampak lebih sebagai reaksi langsung terhadap pelemahan dolar daripada murni “pelarian ke aset aman” (flight to safety, perpindahan dana ke aset yang dianggap lebih aman). Saat minat risiko pulih dan dolar stabil, kenaikan ini berpotensi berbalik, membuka peluang membeli opsi jual pada kontrak berjangka emas. Kesepakatan yang dikonfirmasi menghapus salah satu penopang utama reli emas belakangan ini.

Konfirmasi kesepakatan ini berpotensi menekan implied volatility (perkiraan volatilitas yang tercermin dalam harga opsi) di berbagai aset, terutama sektor energi. Kami menilai menjual volatilitas (strategi mengambil premi opsi ketika volatilitas diperkirakan turun) melalui pendekatan seperti short strangle (menjual opsi call dan put sekaligus pada level berbeda untuk mengantongi premi, dengan risiko bila harga bergerak tajam) pada ETF minyak adalah cara yang lebih hati-hati untuk mengumpulkan premi saat pasar beralih dari ketidakpastian tinggi ke kondisi lebih stabil. Penurunan volatilitas paling tajam kemungkinan terjadi segera setelah pengumuman resmi, sehingga penempatan posisi lebih awal menjadi penting.

Perak melonjak 5,4% ke US$76,78 seiring rasio emas/perak turun; permintaan industri dan pelemahan dolar menopang reli

Perak naik pada Rabu, dengan XAG/USD di $76,78 per troy ounce (satuan berat logam mulia). Ini naik 5,42% dari $72,83 pada Selasa.

Harga naik 8,01% sejak awal tahun. Dalam ukuran lain, perak dihargai $2,47 per gram.

Pembaruan Rasio Emas/Perak

Rasio Emas/Perak berada di 61,16 pada Rabu, turun dari 62,56 pada Selasa. Rasio ini menunjukkan berapa troy ounce perak yang setara nilainya dengan satu troy ounce emas.

Perak diperdagangkan sebagai logam mulia dan bisa dibeli dalam bentuk koin atau batangan, atau melalui produk seperti exchange traded fund/ETF (reksa dana yang diperdagangkan di bursa) yang mengikuti harga perak. Perak juga dipakai sebagai penyimpan nilai dan alat tukar.

Harga perak dapat dipengaruhi risiko geopolitik (ketegangan perang/konflik antarnegara), kekhawatiran resesi (perlambatan ekonomi), suku bunga, dan dolar AS, karena perak dihargai dalam dolar. Faktor pasokan mencakup produksi tambang, daur ulang, dan tingkat permintaan.

Penggunaan industri di elektronik dan tenaga surya dapat memengaruhi harga, begitu juga kondisi ekonomi di AS, China, dan India. Perak sering bergerak searah dengan emas, dan rasio Emas/Perak digunakan untuk membandingkan harga relatif keduanya.

Pertimbangan Strategi Opsi

Dengan harga perak memperlihatkan momentum kenaikan yang kuat dan kenaikan harian 5,42%, volatilitas tersirat (perkiraan besarnya naik-turun harga yang tercermin dalam harga opsi) pada opsi perak kemungkinan naik tajam. Ini membuat membeli opsi call (kontrak yang memberi hak membeli di harga tertentu) menjadi mahal. Karena itu, pelaku pasar dapat mempertimbangkan strategi yang bisa diuntungkan dari arah harga sekaligus premi yang tinggi (biaya opsi). Pergerakan ke $76,78 melanjutkan kenaikan sekitar 8% sepanjang tahun, menguatkan tren bullish (tren naik) pada perak.

Rasio Emas/Perak turun ke 61,16, menandakan perak sedang mengungguli emas. Ini bisa menjadi peluang pairs trading (strategi memperjualbelikan dua instrumen sekaligus), misalnya long (posisi beli) kontrak berjangka perak dan short (posisi jual) kontrak berjangka emas untuk memanfaatkan penyempitan rasio ini. Secara historis, rasio ini sering berada lebih tinggi, rata-rata di kisaran 70–80 dalam satu dekade terakhir. Jika penurunan bertahan, ini bisa menandakan perubahan besar yang lebih menguntungkan perak.

Kekuatan harga ini didukung permintaan industri yang solid, faktor yang membedakan perak dari emas. Data industri terbaru menunjukkan pemasangan panel surya global pada kuartal I 2026 naik 18% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Karena perak adalah komponen penting, konsumsi industri ini membantu menahan harga agar tidak mudah jatuh.

Kondisi makroekonomi juga ikut mendukung reli. Setelah pernyataan Federal Reserve bulan lalu mengisyaratkan jeda kenaikan suku bunga, Indeks Dolar AS (DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) turun ke 101,50, terendah tahun ini. Karena perak tidak memberi imbal hasil (aset tanpa bunga) dan dihargai dalam dolar, perak cenderung diuntungkan saat ekspektasi suku bunga turun dan dolar melemah.

Namun, tetap perlu waspada, mengingat pembalikan harga tajam pada kuartal III 2025. Saat itu, perak melonjak karena optimisme serupa sebelum data inflasi AS yang naik mengejutkan memicu aksi jual cepat. Ini mengingatkan bahwa posisi derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures) perlu disusun dengan manajemen risiko yang jelas.

Dengan volatilitas tersirat yang tinggi, strategi yang dapat dipertimbangkan adalah menjual put spread out-of-the-money (menjual kombinasi dua opsi put dengan harga strike di bawah harga pasar; put adalah hak menjual) pada kontrak berjangka perak atau ETF terkait. Strategi ini memungkinkan menerima premi sambil mengambil pandangan bullish hingga netral pada aset dasarnya. Hasilnya bisa menguntungkan jika perak terus naik, bergerak mendatar, atau turun sedikit, dengan risiko maksimum yang sudah ditetapkan sejak awal.

RBA Pertahankan Suku Bunga 4,35%, Dolar Australia Tetap Jadi Carry Trade Teratas di G10 saat Pemangkasan The Fed Lebarkan Selisih Imbal Hasil

Reserve Bank of Australia (RBA) menaikkan suku bunga acuan (cash rate/suku bunga kebijakan) 25 bps (basis poin, setara 0,25%) menjadi 4,35% lewat voting 8–1, dibanding sebelumnya 5–4. Keputusan ini mengembalikan suku bunga ke level tertinggi sejak era pasca-Covid, dengan RBA menyoroti risiko inflasi yang masih bisa naik dan ekspektasi inflasi (perkiraan pasar dan pelaku usaha soal inflasi ke depan) yang tetap tinggi.

Setelah tiga kali kenaikan beruntun, panduan RBA berubah lebih seimbang. Bank mengisyaratkan kemungkinan jeda (pause/menahan suku bunga) sambil menilai dampak ekonomi dari kenaikan harga bahan bakar.

Dukungan Carry Trade Dolar Australia

Dolar Australia disebut menawarkan carry (carry trade: strategi meminjam dalam mata uang bersuku bunga rendah lalu membeli mata uang bersuku bunga lebih tinggi untuk mengejar selisih bunga) tertinggi di G10 FX (kelompok 10 mata uang utama dunia yang paling aktif diperdagangkan). Keunggulan imbal hasil (yield: tingkat hasil/imbal hasil dari memegang aset berbunga) itu, bersama posisi Australia sebagai eksportir energi dan karakter mata uang yang high-beta (lebih sensitif terhadap sentimen risiko global sehingga pergerakannya cenderung lebih besar), dinilai bisa menopang kinerja dibanding mata uang lain.

Melihat ke akhir 2025, kenaikan RBA ke 4,35% menjadi momen penting. Kenaikan itu menempatkan dolar Australia sebagai salah satu mata uang G10 terbaik untuk carry trade. Hal ini ditopang selisih suku bunga dan status Australia sebagai eksportir energi besar.

Saat ini, keunggulan imbal hasil itu masih kuat, karena RBA menahan suku bunga sementara bank sentral lain memberi sinyal arah kebijakan yang lebih dovish (cenderung mendukung suku bunga lebih rendah). Misalnya, setelah Federal Reserve mulai memangkas suku bunga, selisih suku bunga (interest rate differential: perbedaan tingkat suku bunga antarnegara) makin menguntungkan dolar Australia. Ini membuat posisi long AUD (membeli AUD dengan harapan naik) terhadap USD menarik untuk mengejar carry.

Strategi Opsi untuk Dolar Australia

Inflasi Australia, yang tercatat 3,2% pada kuartal I 2026, melandai tetapi masih di atas target RBA. Ini memperkuat pandangan bahwa RBA berpotensi menjadi salah satu bank sentral besar terakhir yang menurunkan suku bunga. Sikap ini menjaga daya tarik imbal hasil AUD dalam waktu dekat.

Keterkaitan mata uang dengan ekspor energi juga masih menjadi penopang. Dengan harga spot LNG Asia (harga transaksi segera untuk gas alam cair) stabil di atas US$14/mmBtu (juta British thermal unit, satuan energi) di tengah permintaan yang bertahan, pendapatan ekspor Australia tetap kuat. Dukungan fundamental (faktor dasar seperti ekspor, neraca perdagangan, dan pertumbuhan) ini menambah alasan untuk posisi long AUD.

Untuk beberapa pekan ke depan, ini menyiratkan pelaku pasar bisa mempertimbangkan membeli opsi call AUD (hak membeli AUD pada harga tertentu sebelum tanggal jatuh tempo) untuk bertaruh pada kenaikan lanjutan, terutama melawan mata uang berimbal hasil lebih rendah. Menjual opsi put AUD berjangka pendek (hak menjual; strategi menjual put bertujuan menerima premi, yaitu biaya yang dibayar pembeli opsi) juga bisa dipertimbangkan untuk mengumpulkan premi. Ini didasarkan pada pandangan bahwa carry yang kuat dan harga komoditas dapat menjadi penahan penurunan (floor: batas bawah) bagi mata uang.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Rabobank Nilai Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga BoE Berlebihan Saat Pertumbuhan Inggris Melambat, Pelonggaran Pasar Tenaga Kerja Dorong EUR/GBP

Tim Strategi Valas Rabobank menilai harga pasar yang memasukkan perkiraan hingga tiga kali kenaikan suku bunga Bank of England (BoE) dalam 12 bulan ke depan terlalu tinggi, karena pertumbuhan ekonomi Inggris melemah dan pasar tenaga kerja makin longgar. Rabobank memperkirakan hanya satu perubahan suku bunga BoE tahun ini.

Saat perang Iran mulai pecah, harga pasar berubah dari memperkirakan pemangkasan suku bunga BoE tahun ini menjadi memperhitungkan hingga empat kali kenaikan suku bunga. Saat ini pasar masih memasukkan risiko tiga kali kenaikan suku bunga dalam horizon satu tahun.

Pasar Tenaga Kerja yang Lebih Longgar Menurunkan Risiko Kenaikan Suku Bunga

Pasar tenaga kerja Inggris makin longgar tahun ini, yang berarti kapasitas cadangan (tenaga kerja dan produksi yang belum terpakai) lebih besar dan risiko “inflasi putaran kedua” lebih rendah. Inflasi putaran kedua adalah kenaikan harga lanjutan yang dipicu kenaikan upah dan biaya, lalu diteruskan lagi ke harga barang/jasa. Penyesuaian harga pasar menuju hanya satu kali langkah BoE berkaitan dengan pelemahan pound.

Proyeksi utama Rabobank memperkirakan EUR/GBP naik tipis dalam 9–12 bulan. Laporan tersebut menyebut artikel dibuat dengan alat AI dan ditinjau editor.

Memasuki 2026, pasar tenaga kerja Inggris terus melemah. Data terbaru dari Office for National Statistics (ONS, badan statistik resmi Inggris) untuk kuartal I menunjukkan tingkat pengangguran naik ke 4,5%, menegaskan kapasitas cadangan yang meningkat. Ini mengurangi tekanan bagi BoE untuk mengetatkan kebijakan lebih lanjut. CPI utama (indeks harga konsumen utama, ukuran inflasi yang paling sering dipakai) kini turun ke 2,8%.

Prospek EUR/GBP dan Posisi

Latar ekonomi ini mendukung euro terhadap pound. Dalam sembilan bulan terakhir, nilai tukar EUR/GBP naik perlahan dari sekitar 0,8600 pada pertengahan 2025 menjadi mendekati 0,8850 saat ini. BoE mempertahankan suku bunga acuannya di 5,50% pada rapat April untuk ketiga kalinya berturut-turut, memperkuat tren tersebut.

Dengan pertumbuhan Inggris yang lemah, ditunjukkan oleh PDB kuartal I (produk domestik bruto, total nilai barang dan jasa yang dihasilkan) yang turun 0,1% berdasarkan estimasi awal, arah EUR/GBP masih cenderung naik. Dalam beberapa minggu ke depan, trader dapat mempertimbangkan membeli opsi call EUR/GBP (kontrak yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli pada harga tertentu) dengan jatuh tempo tiga hingga enam bulan untuk memanfaatkan potensi kenaikan bertahap. Risiko strategi ini terbatas pada premi opsi (biaya yang dibayar di awal).

Bagi yang ingin lindung nilai (hedging, mengurangi risiko nilai tukar) atas aset berbasis sterling, kontrak forward (perjanjian untuk menukar mata uang pada kurs yang ditetapkan sekarang untuk tanggal di masa depan) dapat digunakan untuk mengunci penjualan GBP ke EUR pada level saat ini. Ini melindungi dari potensi depresiasi bertahap pound.

Kenaikan PPI Zona Euro Memperkuat Spekulasi ECB yang Lebih Hawkish, Mendongkrak Imbal Hasil Bund dan Menopang Euro

Harga produsen Zona Euro naik 3,4% secara bulanan (month on month/bulan ke bulan) pada Maret. Perkiraan sebelumnya 3,3%.

Hasil ini 0,1 poin persentase di atas ekspektasi. Ini menunjukkan kenaikan harga bulanan di tingkat produsen sedikit lebih cepat.

Implikasi untuk Inflasi dan Kebijakan

Dengan hari ini 6 Mei 2026, data harga produsen Maret yang lebih tinggi dari perkiraan menjadi sinyal inflasi yang penting. Data ini menunjukkan tekanan biaya masih meningkat di jalur produksi (tahap sebelum barang sampai ke konsumen) dan kemungkinan akan mendorong harga konsumen dalam beberapa bulan ke depan. Kondisi ini membuat langkah Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) dalam kebijakan moneter (kebijakan suku bunga dan likuiditas untuk mengendalikan inflasi dan ekonomi) menjadi lebih sulit.

Kami memperkirakan ECB akan lebih hawkish (lebih condong menaikkan suku bunga atau menahannya tetap tinggi untuk menekan inflasi) menjelang rapat Juni. Pasar sudah menyesuaikan: peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin (bps; 1 bps = 0,01%, jadi 25 bps = 0,25%) pada Juni kini di atas 80%, naik dari sekitar 60% pekan lalu. Data inflasi cepat (flash) Zona Euro untuk April juga menunjukkan inflasi lebih sulit turun dari harapan di 2,7%, sehingga memperkuat pandangan ini.

Trader perlu mempertimbangkan strategi untuk menghadapi suku bunga jangka pendek yang lebih tinggi. Ini bisa dilakukan dengan melihat call option (opsi beli, memberi hak membeli pada harga tertentu) pada EURIBOR (Euro Interbank Offered Rate; acuan suku bunga pasar uang euro) atau masuk pay-fixed interest rate swap (swap suku bunga dengan membayar bunga tetap dan menerima bunga mengambang, biasanya diuntungkan saat suku bunga naik). Imbal hasil (yield; tingkat keuntungan obligasi) bund Jerman 2 tahun (obligasi pemerintah Jerman) sudah naik 8 bps pagi ini menjadi 3,15% karena kabar ini.

Pertimbangan Posisi Pasar

Data ini juga mendukung Euro, karena selisih suku bunga (interest rate differentials; perbedaan tingkat suku bunga antarnegara yang memengaruhi arus modal dan nilai tukar) berpotensi bergerak menguntungkannya. Pasangan EUR/USD menguji level 1,0900; jika tembus, ini bisa menjadi sinyal penguatan lanjutan. Menggunakan opsi untuk membangun posisi long (posisi beli, untung jika harga naik) pada Euro terhadap dolar AS dapat menjadi strategi yang lebih terukur.

Untuk trader saham, inflasi yang bertahan meningkatkan risiko kondisi keuangan yang lebih ketat (biaya pinjaman lebih mahal dan likuiditas lebih sempit), yang bisa menekan valuasi saham. Volatilitas (naik-turun harga yang lebih besar) berpotensi meningkat, sehingga protective put (opsi jual untuk lindung nilai jika harga turun) pada indeks seperti EURO STOXX 50 dapat menjadi pelindung. Ini relevan karena indeks tersebut sudah naik lebih dari 7% sejak awal tahun dan bisa rentan koreksi (penurunan setelah kenaikan kuat).

Melihat kembali 2025, pasar beberapa kali meremehkan kesediaan ECB menahan suku bunga lebih tinggi lebih lama saat menghadapi data harga yang tetap kuat. Pengalaman itu menunjukkan pasar sebaiknya tidak mengandalkan perubahan kebijakan yang cepat sekarang. Bank sentral terlihat memprioritaskan pengendalian inflasi, meski berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Pasar mengikuti perkembangan berita Timur Tengah, kekhawatiran intervensi yen, dan data ketenagakerjaan AS saat dolar melemah

Gejolak pasar meningkat pada Rabu, 6 Mei, seiring pelaku pasar memantau kabar dari Timur Tengah dan pergerakan Yen Jepang setelah dugaan intervensi valas (aksi pihak berwenang membeli/menjual mata uang untuk memengaruhi nilai tukar). Selanjutnya, agenda AS mencakup data ketenagakerjaan sektor swasta untuk April.

Presiden AS Donald Trump menunda “Project Freedom”, dengan alasan ada “kemajuan besar” menuju perjanjian damai permanen dengan Iran. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan AS menjalankan “kebijakan tekanan maksimum” dan “mustahil” bagi Iran untuk tunduk pada tuntutan sepihak AS.

Pasar Merespons Geopolitik dan Pergerakan Valas

Minyak mentah WTI diperdagangkan dekat US$96, turun sekitar 4% pada hari itu. Indeks Dolar AS (DXY: ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) turun sekitar 0,5% ke dekat 98,00, sementara kontrak berjangka indeks saham AS (futures: kontrak untuk membeli/menjual aset pada harga tertentu di masa depan) naik 0,3% hingga 0,8% pada sesi Eropa.

USD/JPY turun ke 155,00 dari sekitar 158,00 dalam kurang dari satu jam sebelum diperdagangkan di 156,20, turun 1,1% pada hari itu. EUR/USD naik sekitar 0,4% ke dekat 1,1730, dan GBP/USD menguat ke sekitar 1,3600.

AUD/USD naik lebih dari 0,7% ke atas 0,7230, level tertinggi sejak Juni 2022. Emas naik lebih dari 2,5% menuju US$4.700.

Kondisi ketenagakerjaan memengaruhi mata uang lewat belanja, pertumbuhan, inflasi, dan kebijakan bank sentral. Pertumbuhan upah dipantau sebagai sumber inflasi yang sulit turun, dan bank sentral, termasuk The Fed (bank sentral AS) dan ECB (bank sentral zona euro), memantau data tenaga kerja sebagai bahan keputusan kebijakan.

Volatilitas Kunci dan Implikasi Opsi

Dugaan intervensi pada Yen Jepang perlu dicermati karena memberi sinyal batas yang tegas dari pembuat kebijakan. Pada 2024, pergerakan besar serupa terjadi ketika otoritas Jepang menggelontorkan hampir US$60 miliar untuk menopang mata uangnya. Riwayat ini mengindikasikan volatilitas tersirat (implied volatility: perkiraan volatilitas dari harga opsi) pada opsi yen akan melonjak, sehingga strategi yang meraih untung dari pergerakan besar—seperti long straddle (membeli opsi beli/call dan opsi jual/put pada harga eksekusi yang sama untuk bertaruh pada lonjakan gerak harga)—lebih menarik daripada menjual opsi.

Pelemahan dolar AS sangat bergantung pada laporan ketenagakerjaan sektor swasta yang akan rilis, karena data ini dapat memengaruhi langkah The Fed berikutnya. Jika angkanya lebih lemah dari perkiraan, seperti perlambatan pada akhir 2023, pasar bisa makin yakin pada penurunan suku bunga lebih cepat dan mendorong dolar turun. Trader derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures) dapat bersiap menghadapi potensi penurunan DXY, misalnya memakai opsi put (hak menjual) untuk lindung nilai atau spekulasi.

Penurunan 4% WTI menunjukkan premi risiko geopolitik (tambahan harga karena risiko konflik) bisa hilang cepat. Redanya tensi di Timur Tengah berpotensi menekan volatilitas minyak, seperti yang pernah terjadi saat OVX (indeks volatilitas minyak) turun dua digit persen dalam sepekan setelah ketegangan mereda. Ini membuat pembelian opsi put untuk perlindungan dari penurunan lanjutan menjadi langkah yang masuk akal, meski kini lebih mahal.

Dengan perbaikan sentimen pasar, opsi call (hak membeli) pada indeks saham utama AS menjadi lebih menarik. VIX (indeks volatilitas S&P 500, sering disebut “indeks ketakutan”) berpeluang turun dari level tinggi terbaru, pola yang terlihat saat reli risk-on (minat risiko meningkat) awal 2024 ketika konsisten di bawah 15. VIX yang lebih rendah menekan biaya membeli opsi call, sehingga lebih murah untuk mendapatkan eksposur kenaikan saham.

Reli Dolar Australia ke level tertinggi sejak pertengahan 2022 didorong sentimen risk-on dan pelemahan dolar AS. Penembusan di atas 0,7230 mengisyaratkan tren naik masih kuat. Strategi call spread (membeli call dan menjual call lain pada level lebih tinggi untuk menekan biaya sekaligus membatasi untung maksimal) pada AUD/USD dapat dipertimbangkan untuk mengikuti momentum sambil membatasi risiko jika sentimen berbalik.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code