Back

Pada Februari, kredit konsumen AS naik US$9,48 miliar, di bawah perkiraan kenaikan US$10 miliar

Kredit konsumen AS naik US$9,48 miliar pada Februari. Angka ini di bawah perkiraan US$10 miliar.

Angka kredit konsumen Februari lebih rendah dari perkiraan, menandakan konsumen menambah utang lebih sedikit. Ini bisa menjadi sinyal awal bahwa belanja konsumen—penggerak utama ekonomi—mulai melambat. Perlu dipantau apakah pola ini berlanjut pada data Maret dan April.

Kredit Konsumen Mengisyaratkan Permintaan Melemah

Laporan ini memperkuat data penjualan ritel Maret yang baru-baru ini melemah, turun 0,4% menurut data terbaru Departemen Perdagangan. Pola serupa terlihat pada akhir 2025 ketika konsumen mulai kelelahan setelah periode suku bunga tinggi yang menekan. Kombinasi data ini memperkuat alasan untuk lebih berhati-hati terhadap prospek ekonomi kuartal II.

Sebagai respons, bisa dipertimbangkan membeli opsi jual (put option), yaitu kontrak yang nilainya cenderung naik saat harga aset turun, pada ETF sektor barang konsumsi non-esensial (consumer discretionary ETFs). ETF (exchange-traded fund) adalah reksa dana yang diperdagangkan seperti saham. Langkah ini bertujuan sebagai lindung nilai (hedging), yakni perlindungan portofolio dari risiko penurunan, terhadap perlambatan belanja non-kebutuhan. Contohnya, SPDR S&P Retail ETF (XRT) sebelumnya sensitif terhadap perubahan belanja konsumen, sehingga dapat menjadi perlindungan langsung atas pelemahan konsumen yang mulai terlihat.

Indeks Volatilitas CBOE (VIX) kini berada dekat level terendah beberapa bulan di sekitar 14, yang mengisyaratkan pasar terlalu tenang. Data ekonomi yang melemah dapat memicu volatilitas, yaitu naik-turun harga yang lebih besar. Untuk mengantisipasi, pelaku pasar dapat membeli opsi beli (call option), yakni kontrak yang nilainya cenderung naik saat harga aset naik, pada VIX dengan jatuh tempo Mei atau Juni.

Jika melihat ke belakang, pada kuartal II 2025 penurunan kredit bergulir (revolving credit), yaitu utang yang bisa ditarik dan dilunasi berulang seperti kartu kredit, sering mendahului melemahnya pasar tenaga kerja dalam beberapa bulan berikutnya. Meski laporan tenaga kerja terbaru menunjukkan penambahan 215.000 pekerjaan pada Maret, kekuatan ini bisa tidak bertahan. Pelemahan pada laporan pekerjaan berikutnya akan menguatkan sikap hati-hati.

Implikasi bagi Kebijakan The Fed dan Suku Bunga

Data ini juga mengubah peluang langkah Federal Reserve (The Fed), sehingga pemangkasan suku bunga sebelum akhir kuartal III menjadi lebih mungkin. Pelaku pasar dapat memakai opsi pada kontrak berjangka SOFR (Secured Overnight Financing Rate), yaitu suku bunga acuan pinjaman semalam yang dijamin, untuk mengambil posisi atas arah kebijakan yang lebih longgar (dovish). Perubahan ekspektasi terhadap The Fed biasanya mendorong kurva imbal hasil (yield curve)—grafik yang menunjukkan imbal hasil obligasi pada berbagai tenor—menjadi lebih menanjak (steeper), dan dapat mendukung harga obligasi.

Dolar AS Bertahan Kuat di Sekitar 99,80, Sementara Harga Minyak Naik seiring Ketegangan dengan Iran Membuat Investor Berhati-hati

Indeks Dolar AS (DXY) bertahan di sekitar 99,80, dekat puncak 100 pekan lalu, saat pasar memantau konflik Iran dan tenggat AS pukul 20.00 waktu New York (EST) yang terkait Selat Hormuz. Teheran menolak gencatan senjata sementara, menutup jalur komunikasi dengan AS, dan menetapkan syarat untuk kesepakatan jangka panjang.

Pesanan barang modal inti AS Februari (core capital goods orders, proksi belanja investasi bisnis di luar sektor pertahanan dan pesawat) naik 0,6%, sementara pesanan barang tahan lama utama (headline durable goods orders, pesanan barang berumur pakai panjang seperti mesin dan kendaraan) turun 1,4%. Perhatian juga tertuju pada risalah FOMC (notulen rapat bank sentral AS) dan data inflasi PCE (Personal Consumption Expenditures, ukuran inflasi favorit The Fed).

Pergerakan Kunci di Pasangan Valas Utama

EUR/USD melonjak menuju 1,1580 seiring meningkatnya ekspektasi ECB dapat mengetatkan kebijakan bila kenaikan harga minyak mendorong inflasi. GBP/USD naik ke sekitar 1,3270, dengan pound masih dekat level terendah lebih dari empat bulan terhadap dolar di tengah kekhawatiran biaya energi impor dan keterbatasan fiskal (ruang anggaran pemerintah).

USD/JPY berada di sekitar 159,80 ketika Jepang memantau volatilitas akibat minyak, sementara imbal hasil (yield) JGB tenor 10 tahun—yield obligasi pemerintah Jepang—naik ke level tertinggi 27 tahun di 2,43%. AUD/USD diperdagangkan di sekitar 0,6960, ditopang sinyal kebijakan terbaru RBA (bank sentral Australia).

WTI (West Texas Intermediate, patokan minyak mentah AS) sempat naik ke sekitar US$117 per barel lalu turun ke US$113,40, dengan beberapa jenis minyak fisik mendekati US$150 dan sekitar 12 juta barel per hari pasokan terganggu. Emas diperdagangkan di sekitar US$4.680, dengan China memperpanjang pembelian emas selama 17 bulan.

Agenda mencakup RBNZ (bank sentral Selandia Baru), penjualan ritel Uni Eropa, pertemuan ECB, serta risalah FOMC AS (8 April), lalu PCE AS, PDB (GDP), dan data tenaga kerja (9 April), disusul CPI AS (Consumer Price Index, indeks harga konsumen) dan rilis lain (10 April). WTI adalah patokan minyak mentah AS yang diperdagangkan melalui Cushing; harga dipengaruhi pasokan-permintaan, geopolitik, kuota OPEC (batas produksi negara-negara produsen minyak), pergerakan dolar AS, serta laporan persediaan dari API (American Petroleum Institute, asosiasi industri yang merilis estimasi) dan EIA (Energy Information Administration, lembaga pemerintah AS yang merilis data resmi), yang sesuai dalam 1% sekitar 75% dari waktu.

Kredit Konsumen AS Naik US$9,48 Miliar, di Bawah Proyeksi US$10 Miliar pada Februari

Kredit konsumen AS naik US$9,48 miliar pada Februari. Angka ini di bawah perkiraan US$10 miliar.

Kredit konsumen yang lebih lemah dari perkiraan pada Februari menjadi sinyal bahwa belanja konsumen—pendorong utama ekonomi—mulai melambat. Ini bukan sekadar angka sesaat, melainkan bisa menjadi indikator awal (leading indicator: petunjuk dini) perlambatan ekonomi yang lebih luas. Ini menunjukkan konsumen makin berhati-hati, baik karena pilihan sendiri maupun karena bank/lembaga pembiayaan memperketat syarat pinjaman (tighter lending standards: persyaratan kredit lebih ketat).

Data ini membuat Federal Reserve (bank sentral AS) makin sulit membenarkan kenaikan suku bunga acuan dalam waktu dekat. Bahkan, bila pelemahan berlanjut pada rilis data berikutnya, pasar akan mulai “memperhitungkan” (price in: memasukkan ke dalam harga aset) peluang lebih besar penurunan suku bunga sebelum akhir tahun. Karena itu, pelaku pasar dapat mempertimbangkan strategi yang diuntungkan dari suku bunga yang turun atau tetap, seperti membeli kontrak berjangka SOFR (SOFR futures: kontrak derivatif/kontrak berjangka berbasis suku bunga acuan pasar uang AS yang mencerminkan biaya pendanaan jangka pendek).

Laporan ini menambah daftar sinyal ekonomi yang cenderung hati-hati pada awal 2026, termasuk laporan ketenagakerjaan Maret yang menunjukkan perekrutan melambat ke 165.000, di bawah konsensus 180.000 (consensus: perkiraan rata-rata analis). Selain itu, pembacaan terbaru ISM Manufacturing PMI turun ke 49,8, yang menandakan kontraksi (contraction: aktivitas menyusut) di sektor pabrik. Kombinasi data ini memperkuat alasan untuk sikap trading defensif (defensive trading posture: fokus pada pengelolaan risiko dan aset yang lebih aman).

Untuk derivatif indeks saham (equity index derivatives: instrumen turunan seperti futures dan opsi berbasis indeks), ini mengarah pada potensi pelemahan, karena perlambatan aktivitas konsumen pada akhirnya menekan laba perusahaan. Kami mengantisipasi volatilitas pasar meningkat (volatility: besar-kecilnya fluktuasi harga), dengan perkiraan indeks VIX (VIX: indikator “ketakutan” pasar yang mengukur volatilitas tersirat dari opsi S&P 500) bisa naik dari level 18. Membeli opsi put protektif (protective put options: opsi jual untuk membatasi risiko penurunan) pada indeks S&P 500 atau Nasdaq 100 dinilai masuk akal dalam beberapa pekan ke depan.

Kami khususnya mewaspadai sektor consumer discretionary (barang/jasa non-kebutuhan pokok: belanja yang mudah ditunda), yang mencakup perusahaan ritel dan otomotif. Kami melihat pola serupa pada kuartal III-2025 ketika perlambatan pertumbuhan kredit mendahului kinerja buruk ETF seperti XLY (ETF: reksa dana yang diperdagangkan di bursa; XLY: ETF sektor consumer discretionary). Preseden historis ini menunjukkan posisi short (short: strategi meraih untung saat harga turun) pada sektor ini berpotensi menguntungkan.

Indeks Dolar AS Bertahan di Sekitar 99,80, Sementara Harga Minyak Melonjak Saat Pasar Mencermati Tenggat Trump terkait Selat Iran

Indeks Dolar AS bertahan di sekitar 99,80, dekat puncak pekan lalu di 100, ketika pasar memantau konflik Iran dan tenggat waktu AS pukul 20.00 waktu EST yang terkait dengan Selat Hormuz. Teheran menolak gencatan senjata sementara dan memutus komunikasi dengan AS, sementara pasar minyak memasukkan risiko gangguan pasokan dalam harga.

Pesanan barang modal inti AS untuk Februari (core capital goods orders—pesanan untuk barang modal “inti”, biasanya tidak termasuk pesawat dan pertahanan, dipakai sebagai indikator belanja investasi bisnis) naik 0,6%, sementara pesanan barang tahan lama (durable goods orders—pesanan untuk barang yang umumnya dipakai lebih dari tiga tahun) turun 1,4%. Perhatian beralih ke risalah FOMC (Federal Open Market Committee—komite bank sentral AS yang menetapkan suku bunga) dan data inflasi PCE (Personal Consumption Expenditures—ukuran inflasi pilihan The Fed berdasarkan belanja konsumsi).

EUR/USD naik menuju 1,1580 karena euro tetap ditopang ekspektasi ECB (European Central Bank—bank sentral zona euro) bisa menaikkan suku bunga bila inflasi akibat minyak bertahan. GBP/USD menguat menuju 1,3270, sementara pound tetap dekat level terendah lebih dari empat bulan terhadap dolar.

USD/JPY diperdagangkan di sekitar 159,80, dekat area yang sebelumnya dikaitkan dengan intervensi Jepang (aksi otoritas menjual/membeli mata uang untuk menahan pergerakan kurs). Imbal hasil JGB 10 tahun Jepang (Japanese Government Bonds—obligasi pemerintah Jepang) mencapai tertinggi 27 tahun di 2,43%.

AUD/USD bertahan di dekat 0,6960 di tengah sikap RBA (Reserve Bank of Australia—bank sentral Australia) yang cenderung “hawkish” (condong menahan/menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi). Minyak WTI (West Texas Intermediate—patokan harga minyak AS) sempat sekitar US$117 per barel sebelum turun ke US$113,40, dengan sebagian grade fisik (jenis minyak yang benar-benar diperdagangkan untuk pengiriman) mendekati US$150 dan sekitar 12 juta barel per hari efektif terganggu.

Emas diperdagangkan di sekitar US$4.680, ditopang ketidakpastian dan bank sentral China memperpanjang pembelian emas menjadi 17 bulan. Agenda pekan ini mencakup Penjualan Ritel Uni Eropa, pertemuan ECB non-kebijakan moneter (bukan keputusan suku bunga), rilis data Selandia Baru dan AS, serta CPI AS pada Jumat (Consumer Price Index—indeks harga konsumen, ukuran inflasi).

Maurice van Sante dari ING mengatakan konflik Timur Tengah mendongkrak minyak dan gas, meningkatkan biaya bahan bangunan di Eropa

Harga minyak dan gas yang lebih tinggi akibat konflik di Timur Tengah diperkirakan akan menaikkan biaya bahan bangunan Eropa seperti semen, beton, dan batu bata. Produsen di sektor ini memakai energi dalam jumlah besar, sehingga kenaikan biaya bahan baku (biaya input) kemungkinan diteruskan ke perusahaan konstruksi. Dampaknya, biaya pembangunan naik dan margin (selisih laba) serta aktivitas proyek tertekan.

Dari 2010 hingga 2020, pemakaian minyak untuk pemanas di sektor ini turun tajam, tetapi tidak turun lagi dalam lima tahun terakhir. Pada 2020–2025, perusahaan terutama menghentikan penggunaan batu bara, sementara pemakaian gas relatif tidak berubah selama 15 tahun.

Paparan Energi dan Penyaluran Biaya

Paparan sektor ini terhadap minyak dan gas dinilai mirip dengan 2022, yang berarti sektor ini masih rentan jika harga energi naik lagi. Kenaikan izin mendirikan bangunan (building permits) menunjukkan potensi dukungan permintaan, tetapi pemulihan masih bergantung pada pasar energi yang lebih stabil dan perubahan cara produksi.

Jika biaya produksi terus naik, harga jual bisa ikut naik dan permintaan bisa melemah.

Lonjakan harga energi terbaru dinilai mirip dengan tekanan biaya pada 2022. Kontrak berjangka (futures, yaitu kesepakatan membeli/menjual di harga tertentu untuk tanggal mendatang) minyak Brent kini diperdagangkan di atas US$95 per barel, naik 8% dalam sebulan terakhir akibat konflik. Produsen bahan bangunan Eropa berisiko mengalami penyusutan margin (margin compression), yaitu margin laba menyempit karena biaya naik lebih cepat daripada harga jual. Kenaikan biaya energi ini diperkirakan akan diteruskan ke pelanggan, sehingga memukul seluruh rantai industri konstruksi (construction value chain), dari bahan baku sampai proyek.

Kondisi ini membuka peluang untuk bersiap menghadapi pelemahan sektor konstruksi dan material di Eropa dalam beberapa pekan ke depan. Indeks S&P Global Eurozone Construction PMI (Purchasing Managers’ Index/PMI, survei aktivitas bisnis; angka di bawah 50 berarti aktivitas menyusut) untuk Maret 2026 sudah turun ke 48,2, menandakan kontraksi bahkan sebelum guncangan harga energi ini. Strategi yang disebutkan: mempertimbangkan membeli opsi jual (put options, instrumen derivatif untuk mendapat keuntungan/hedging saat harga turun) pada ETF indeks sektor atau pada produsen yang boros energi seperti Heidelberg Materials dan Holcim.

Struktur Perdagangan dan Sinyal Historis

Kerentanan dasar industri tidak banyak berubah sejak tahun lalu. Analisis periode 2020–2025 menunjukkan meski penggunaan batu bara turun, ketergantungan sektor pada gas alam dan minyak tetap tinggi. Paparan struktural ini membuat perusahaan-perusahaan tersebut sangat sensitif terhadap volatilitas (gejolak) pasar energi.

Strategi pair trade (posisi dua arah untuk mengurangi risiko pasar umum: satu dibeli/long dan satu dijual/short) disebut dapat menyoroti tema ini dengan cara long ETF sektor energi sambil short ETF material konstruksi. Pada krisis energi 2022, indeks STOXX Europe 600 Construction & Materials berkinerja lebih buruk (underperform) dibanding pasar luas hampir 15% dalam enam bulan setelah lonjakan harga awal. Preseden (contoh historis) ini mengindikasikan perbedaan kinerja serupa bisa terjadi lagi.

Mereka akan mencermati laporan laba kuartal I (Q1) untuk melihat potensi revisi turun panduan laba (profit guidance), yakni proyeksi kinerja yang diberikan manajemen. Rilis data izin bangunan berikutnya juga akan menjadi indikator apakah kenaikan biaya mulai menahan permintaan. Eskalasi geopolitik lebih lanjut berpotensi mempercepat tekanan tersebut, sehingga opsi dengan tanggal jatuh tempo (expiries) Mei dan Juni 2026 dinilai makin menarik.

Dolar Australia Menguat Terhadap Dolar AS, Uji 0,6950 Setelah Rebound dari SMA 100-Hari seiring Dolar AS Melemah Menjelang Tenggat Waktu

Dolar Australia menguat terhadap Dolar AS pada Selasa seiring Dolar AS melemah menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump bagi Iran untuk mencapai kesepakatan atau membuka kembali Selat Hormuz pada pukul 20.00 Waktu AS Timur (00.00 GMT Rabu). AUD/USD berada di sekitar 0,6955, naik sekitar 0,54% pada hari itu.

Indeks Dolar AS (DXY)—ukuran kekuatan Dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama—diperdagangkan di sekitar 99,80 setelah gagal bertahan di atas 100. Dolar Australia juga mendapat dukungan dari Yuan China yang lebih kuat setelah Bank Sentral China (People’s Bank of China/PBoC) menetapkan nilai acuan harian di 6,8854, level terkuat dalam hampir tiga tahun.

Level Teknikal yang Perlu Diperhatikan

Pada grafik harian, AUD/USD memantul setelah bertahan di atas Simple Moving Average (SMA) 100 hari di 0,6842. SMA adalah rata-rata harga penutupan dalam periode tertentu dan sering dipakai sebagai penanda arah tren. Pasangan ini menguji 0,6950, yang sebelumnya merupakan level penopang (support) dan kini menjadi hambatan (resistance).

Kenaikan di atas 0,6950 dapat membuka peluang menuju 0,7000, dekat dengan SMA 50 hari di 0,7024. Jika harga ditutup di bawah SMA 100 hari, area berikutnya yang diperhatikan adalah 0,6700, yang disebut sebagai zona “breakout” sebelumnya (area saat harga dulu menembus dan bergerak kuat).

RSI (Relative Strength Index/Indeks Kekuatan Relatif)—indikator momentum untuk melihat apakah pasar cenderung jenuh beli atau jenuh jual—bergerak kembali mendekati 50 (area netral). MACD (Moving Average Convergence Divergence)—indikator yang membandingkan dua rata-rata bergerak untuk membaca arah dan kekuatan momentum—masih sedikit di bawah garis sinyalnya namun naik menuju nol, sementara histogram (selisih antara MACD dan garis sinyal) menyempit, menandakan tekanan arah sebelumnya mulai berkurang.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Maurice van Sante dari ING meyakini kenaikan harga minyak dan gas akibat konflik di Timur Tengah akan mendorong naik biaya bahan bangunan di Eropa

Konflik di Timur Tengah telah mendorong naik harga minyak dan gas. Kenaikan biaya energi diperkirakan akan menaikkan biaya bahan bangunan di Eropa seperti semen, beton, dan batu bata.

Ketergantungan produsen pada minyak dan gas disebut mirip dengan level tahun 2022. Jika harga energi tetap tinggi, pabrikan kemungkinan akan meneruskan kenaikan biaya ini kepada perusahaan konstruksi.

Risiko Penerusan Kenaikan Harga Energi

Penerusan biaya ini dapat menekan margin laba (sisa keuntungan setelah biaya) di sektor konstruksi. Biaya pembangunan juga bisa naik dan aktivitas pembangunan melemah.

Pada 2010 hingga 2020, sektor ini mengurangi penggunaan minyak untuk pemanas dalam jumlah besar. Namun, dalam lima tahun terakhir tidak ada penurunan lagi pada penggunaan minyak.

Pada 2020 hingga 2025, perusahaan terutama mengurangi penggunaan batu bara. Penggunaan gas relatif tidak berubah selama 15 tahun terakhir.

Izin mendirikan bangunan (building permits, persetujuan resmi untuk memulai proyek) sempat naik belakangan. Pemulihan yang lebih lama dikaitkan dengan pasar energi yang lebih stabil dan metode produksi yang lebih hemat energi.

Posisi Pasar dan Lindung Nilai

Dengan ketegangan terbaru di Timur Tengah yang mendorong minyak mentah Brent (patokan harga minyak global) kembali mendekati US$95 per barel, dampak langsung terlihat pada sektor yang bergantung pada energi. Kondisi ini mirip dengan tekanan pada 2022, saat harga energi tinggi cepat diteruskan oleh produsen. Sektor bahan bangunan Eropa, yang sangat bergantung pada gas alam dan minyak, sangat rentan terhadap lonjakan harga ini.

Melihat ke belakang, perusahaan bahan bangunan hanya sedikit mengurangi ketergantungan pada minyak dan gas pada 2020–2025. Meski penggunaan batu bara dihentikan bertahap, ketergantungan pada gas tetap tinggi selama lebih dari 15 tahun, sehingga perusahaan mudah terdampak. Kinerja indeks STOXX Europe 600 Construction & Materials (indeks saham sektor konstruksi dan material Eropa) yang tertinggal hampir 5% dari pasar yang lebih luas dalam kuartal terakhir menunjukkan risiko ini sudah mulai diperhitungkan investor.

Untuk beberapa pekan ke depan, pelaku pasar dapat mempertimbangkan posisi yang mengantisipasi penurunan lanjutan di sektor ini karena margin laba tertekan. Salah satu strategi adalah membeli opsi jual (put option, kontrak yang memberi hak menjual aset pada harga tertentu) pada emiten utama seperti HeidelbergCement atau Saint-Gobain untuk memanfaatkan potensi penurunan laba. Pandangan ini didukung data terbaru Eurostat (badan statistik Uni Eropa) Februari 2026 yang menunjukkan harga produsen industri untuk bahan konstruksi naik 1,2%, menandakan tekanan kenaikan biaya mulai terjadi.

Pada saat yang sama, kondisi ini membuka peluang strategi pasangan (pair trade, membeli satu aset dan menjual aset lain untuk memanfaatkan perbedaan kinerja) dengan mengambil posisi beli pada sektor energi. Harga minyak dan gas yang tinggi yang menekan pabrikan berpotensi meningkatkan pendapatan produsen energi. Pilihannya antara lain opsi beli (call option, kontrak yang memberi hak membeli aset pada harga tertentu) pada perusahaan energi Eropa besar atau kontrak berjangka (futures, perjanjian jual-beli pada harga dan tanggal tertentu) yang terkait gas alam Eropa sebagai lindung nilai (hedging, langkah untuk mengurangi risiko) atau untuk meraih keuntungan dari mahalnya energi yang bertahan.

Sinyal positif dari kenaikan tipis izin bangunan pada akhir 2025 kini terlihat rapuh. Laporan terbaru menunjukkan izin baru melambat di Jerman dan Prancis, mengindikasikan perkiraan biaya pembangunan yang lebih tinggi sudah menekan permintaan konstruksi. Ketidakpastian yang meningkat ini mengarah pada kenaikan volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan pasar atas besarnya naik-turun harga ke depan), sehingga strategi opsi yang diuntungkan dari pergerakan harga besar, seperti straddle (membeli opsi jual dan opsi beli sekaligus pada harga dan jatuh tempo yang sama), bisa menarik.

AUD Menguat terhadap USD, Uji 0,6950, Ketidakpastian Pasar Tekan Dolar AS Menjelang Tenggat Iran

Dolar Australia menguat terhadap Dolar AS pada Selasa, seiring melemahnya Dolar AS menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump agar Iran mencapai kesepakatan atau membuka kembali Selat Hormuz sebelum pukul 20.00 Waktu Timur AS (00.00 GMT, Rabu). AUD/USD diperdagangkan dekat 0,6955, naik sekitar 0,54%, sementara Indeks Dolar AS (DXY)—ukuran kekuatan Dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama—berada di sekitar 99,80 setelah gagal bertahan di atas 100.

AUD juga ditopang oleh Yuan China yang lebih kuat setelah Bank Sentral China (People’s Bank of China/PBoC) menetapkan kurs acuan harian di 6,8854, yang merupakan level terkuat dalam hampir tiga tahun. AUD sering bergerak searah dengan sentimen terkait China karena hubungan dagang Australia yang erat dengan China.

Audusd Tests Key Resistance

Pada grafik harian, AUD/USD memantul setelah bertahan di atas Simple Moving Average (SMA) 100 hari di 0,6842. SMA adalah rata-rata harga penutupan dalam periode tertentu yang sering dipakai untuk membaca arah tren. Pasangan ini menguji 0,6950, yang berubah dari area penopang (support) menjadi hambatan (resistance) jangka pendek.

Kenaikan di atas 0,6950 berpotensi mengarah ke 0,7000 dan SMA 50 hari di 0,7024. Area penopang tetap berada di sekitar SMA 100 hari, dan penutupan harian di bawahnya dapat membuka jalan ke 0,6700.

RSI (Relative Strength Index)—indikator untuk mengukur kuat-lemahnya dorongan beli/jual—bergerak kembali mendekati 50. MACD (Moving Average Convergence Divergence)—indikator yang membandingkan dua rata-rata bergerak untuk membaca momentum—masih di bawah garis sinyalnya namun naik mendekati nol, dan histogram menyempit.

Trade Talks Add Market Fragility

Saat ini, pembahasan ulang tarif dagang AS-Uni Eropa menciptakan kondisi pasar yang lebih rapuh. Indeks Dolar AS turun 1,2% dalam dua pekan terakhir dan kesulitan bertahan di sekitar 101,50. Ini mendorong penguatan mata uang utama lain, termasuk dolar Australia.

Kekuatan dolar Australia juga didukung data ekonomi China yang positif. Laporan terbaru menunjukkan pertumbuhan PDB kuartal I sebesar 5,1%, di atas perkiraan, sehingga memperkuat permintaan komoditas Australia. Harga bijih besi naik lebih dari 8% dalam sebulan terakhir, yang langsung mengangkat nilai ekspor Australia.

Dengan latar ini, pedagang dapat mempertimbangkan peluang kenaikan lanjutan di AUD/USD. Salah satu opsi adalah membeli call option—kontrak yang memberi hak (bukan kewajiban) untuk membeli pada harga tertentu—dengan strike price (harga kesepakatan) sekitar 0,7150 untuk menangkap potensi kenaikan beberapa pekan ke depan. Strategi ini memungkinkan ikut menikmati kenaikan sambil membatasi risiko turun pada premi (biaya) yang dibayar.

Untuk mengelola risiko, perhatikan level penopang utama untuk memasang put option pelindung. Put option adalah kontrak yang memberi hak untuk menjual pada harga tertentu, sehingga berfungsi seperti “asuransi” saat harga turun. SMA 100 hari, kini dekat 0,6920, menjadi lantai teknikal yang kuat. Penembusan di bawah level ini akan menjadi sinyal perubahan momentum dan alasan keluar dari posisi beli.

Indikator teknikal saat ini mendukung prospek positif. RSI naik di atas 60, menandakan dorongan beli menguat. MACD juga menunjukkan bullish crossover—saat garis MACD memotong naik garis sinyal—yang biasanya menandakan tren naik masih berlanjut.

Elias Haddad dari BBH Perkirakan RBI, NBP, BCRP, dan BOK Akan Mempertahankan Suku Bunga Acuan Pekan Ini

Brown Brothers Harriman memperkirakan empat bank sentral akan mempertahankan suku bunga kebijakan pada rapat pekan ini. Bank tersebut adalah Reserve Bank of India (RBI), Bank Sentral Polandia (NBP), bank sentral Peru (BCRP), dan Bank of Korea (BOK).

RBI diperkirakan menahan suku bunga pada 5,25% untuk rapat kedua pada Rabu. Bank ini bisa mengubah sikap kebijakan dari netral menjadi lebih ketat karena prospek inflasi melemah.

Bank Sentral Diperkirakan Menahan

NBP diperkirakan menahan suku bunga pada 3,75% pada Kamis setelah pemangkasan 25 bps (basis poin, 1 bps = 0,01%) pada 4 Maret. Perkiraan pasar di instrumen swap (kontrak untuk menukar arus pembayaran, sering dipakai membaca ekspektasi suku bunga) menunjukkan kenaikan sekitar 60 bps dalam 12 bulan ke depan.

BCRP Peru diperkirakan menahan suku bunga pada 4,25% untuk rapat ketujuh pada Kamis. Inflasi CPI (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen, ukuran kenaikan harga barang dan jasa) utama (headline, angka total) dan inti (core, tanpa komponen yang bergejolak seperti makanan dan energi) naik pada Maret di atas target bank 1% hingga 3%.

BOK diperkirakan menahan suku bunga pada 2,50% untuk rapat ketujuh pada Jumat. Proyeksi suku bunga enam bulan ke depan bisa berubah dan mengarah ke kenaikan, bukan jalur suku bunga tetap.

Reserve Bank of India diperkirakan menahan suku bunga repo (suku bunga acuan untuk pinjaman jangka pendek bank ke bank sentral) di 6,0% pekan ini, namun risikonya tidak seimbang. Setelah data CPI Maret menunjukkan inflasi kembali naik ke 4,9%, ada risiko nada gubernur menjadi lebih “hawkish” (lebih cenderung menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi). Situasi ini mirip 2025, saat dewan mempertimbangkan beralih ke sikap lebih ketat karena prospek inflasi memburuk.

Fokus pada Arah Kebijakan ke Depan

Bank sentral Polandia kemungkinan mempertahankan suku bunga kebijakan di 4,50%, namun fokus pasar pada arah kebijakan ke depan (forward guidance, sinyal bank sentral tentang langkah suku bunga berikutnya) dari Gubernur Glapinski. Pasar swap saat ini memperkirakan kenaikan lebih dari 50 bps dalam setahun ke depan karena pertumbuhan upah masih tinggi. Ini mengulang pola Maret 2025, ketika kurva swap (gambaran ekspektasi suku bunga untuk berbagai tenor) juga menunjukkan kenaikan besar dan dipantau pelaku pasar.

Kami memperkirakan bank sentral Peru akan menghentikan sementara siklus pelonggaran (easing, penurunan suku bunga) dan menahan suku bunga di 5,00% untuk rapat kedua berturut-turut. Risiko inflasi kembali naik, dengan inflasi Maret mencapai 3,2%, sedikit di atas target 1–3%. Pola ini juga terlihat pada 2025, yang membuat BCRP menahan suku bunga selama tujuh rapat beruntun.

Bank of Korea diperkirakan mempertahankan suku bunga kebijakan di 3,50%, level yang dipertahankan lebih dari dua tahun. Risiko utama bagi pelaku pasar adalah kejutan “hawkish” dalam proyeksi ke depan, terutama setelah won Korea melemah menembus level psikologis 1.400 per dolar AS (angka bulat yang sering menjadi perhatian pasar). Ini sejalan dengan potensi perubahan sikap yang dipantau pada 2025, ketika dewan mempertimbangkan memberi sinyal kenaikan suku bunga, bukan mempertahankan proyeksi stabil.

Saat pasar gelisah, harga emas berfluktuasi seiring tenggat ultimatum Presiden Trump soal kesepakatan Iran kian dekat

Emas (XAU/USD) bergerak naik-turun tanpa arah jelas pada Selasa, di sekitar $4.658, saat pasar menunggu perkembangan menjelang tenggat waktu Donald Trump untuk Iran. Tenggat itu ditetapkan pukul 20.00 Waktu Pantai Timur AS (00.00 GMT pada Rabu), dengan peringatan yang terkait Selat Hormuz (jalur laut strategis untuk pengiriman minyak global).

Trump mengatakan Iran harus “membuat kesepakatan atau membuka Selat Hormuz” serta mengancam akan menargetkan infrastruktur energi dan fasilitas sipil Iran jika tidak ada kesepakatan. IRNA melaporkan Teheran menolak proposal gencatan senjata (penghentian tembak-menembak sementara) yang disampaikan melalui Pakistan dan mengeluarkan rencana 10 poin yang menyerukan pengakhiran perang secara permanen, pencabutan sanksi, serta kerangka jalur aman lewat Selat Hormuz.

Reaksi Pasar Dan Peran Aset Aman

Emas sulit mendapat dorongan sebagai aset aman (instrumen yang biasanya diburu saat risiko meningkat), karena Dolar AS tetap kuat dan kebutuhan likuiditas (permintaan memegang uang tunai/aset mudah dicairkan) masih tinggi. Kenaikan harga minyak menambah kekhawatiran inflasi (kenaikan harga barang/jasa) dan menurunkan harapan pemangkasan suku bunga.

Data CPI AS (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen, ukuran inflasi) bulan Maret akan rilis pekan ini, dengan perkiraan 0,9% bulanan (dari 0,3%) dan 3,3% tahunan (dari 2,4%). Pasar sebagian besar sudah menghapus ekspektasi pemangkasan suku bunga tahun ini.

Permintaan bank sentral berlanjut, dengan China menambah sekitar 160.000 troy ounce (sekitar 5 ton; troy ounce adalah satuan untuk logam mulia) pada Maret untuk bulan ke-17 berturut-turut, dan bank sentral global membeli bersih 25 ton dalam dua bulan pertama. Pada grafik 4 jam, level harga mencakup SMA (Simple Moving Average/rata-rata pergerakan sederhana, indikator untuk melihat arah tren) 100-periode dekat $4.654, SMA 200-periode dekat $4.908, SMA 50-periode sekitar $4.585, serta area pelemahan di $4.400 dan $4.100. RSI (Relative Strength Index/indikator momentum untuk menilai kuat-lemahnya dorongan beli/jual) bertahan dekat 50, sementara MACD (Moving Average Convergence Divergence/indikator tren dan momentum) tetap di bawah garis sinyalnya.

Pendekatan Trading Dan Antisipasi Gejolak

Dengan latar ini, pelaku pasar dapat mengantisipasi kenaikan implied volatility (perkiraan gejolak harga ke depan yang tercermin pada harga opsi) dalam beberapa pekan mendatang. Strategi opsi seperti long straddle (membeli call dan put pada strike dan jatuh tempo yang sama agar bisa untung dari pergerakan besar ke atas atau ke bawah) bisa efektif untuk memanfaatkan potensi lonjakan harga dua arah. Ini memungkinkan trader meraih peluang dari pergerakan besar tanpa harus menebak arah dengan tepat.

Secara umum, suku bunga tinggi cenderung menekan emas karena emas tidak memberikan imbal hasil bunga (non-yielding), sehingga daya tariknya berkurang saat instrumen berbunga menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Meski begitu, dukungan jangka panjang dari bank sentral tetap penting. Pembelian yang konsisten dapat menjadi “lantai” harga (penopang) sehingga posisi jual agresif berisiko.

Saat ini, emas masih kesulitan menembus area resistance (batas atas yang sering menahan kenaikan) di $4.850. Jika support (batas bawah yang sering menahan penurunan) kunci di $4.720 jebol, opsi put (hak untuk menjual pada harga tertentu) bisa digunakan sebagai lindung nilai (hedging) terhadap koreksi yang lebih dalam.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code