Back

Imbal hasil lelang US Treasury tenor dua tahun turun ke 3,812%, dari sebelumnya 3,936%

Lelang surat utang AS (Treasury) tenor 2 tahun menghasilkan imbal hasil (yield, yaitu tingkat bunga yang diterima investor dari obligasi) sebesar 3,812%. Angka ini turun dari lelang sebelumnya di 3,936%.

Perubahan itu berarti turun 0,124 poin persentase, atau setara penurunan 12,4 basis poin (bp, satuan perubahan suku bunga; 1 bp = 0,01%).

Harga Pasar untuk Penurunan Suku Bunga

Penurunan tajam yield lelang Treasury 2 tahun menunjukkan pasar kini semakin yakin Federal Reserve (The Fed) akan segera memangkas suku bunga. Ini menjadi sinyal bahwa pelaku pasar obligasi sedang agresif membeli surat utang jangka pendek untuk “mendahului” perubahan kebijakan The Fed (pivot, yaitu peralihan arah kebijakan dari mengetatkan ke melonggarkan). Kondisi ini biasanya sejalan dengan ekspektasi suku bunga yang lebih rendah dalam waktu dekat.

Sentimen ini juga didukung data ekonomi terbaru. Laporan core CPI (inflasi inti, yaitu inflasi yang mengecualikan harga makanan dan energi yang volatil) Maret 2026 menunjukkan inflasi melandai ke 2,7%. Laporan ketenagakerjaan terbaru juga mengindikasikan pertumbuhan pekerjaan melambat menjadi 145.000. Data ini memberi ruang bagi The Fed untuk mulai melonggarkan kebijakan.

Bagi pelaku pasar suku bunga, ini dapat diterjemahkan menjadi posisi pada derivatif (instrumen turunan yang nilainya mengikuti aset acuan) yang diuntungkan saat yield turun. Salah satu caranya adalah membeli kontrak futures (kontrak berjangka, perjanjian jual-beli di masa depan) Treasury tenor 2 tahun dan 5 tahun, karena harga obligasi biasanya naik saat suku bunga turun. Opsi (options, hak untuk membeli/menjual pada harga tertentu) pada futures SOFR (Secured Overnight Financing Rate, patokan suku bunga dana dolar AS berbasis transaksi repo) juga bisa digunakan; membeli call (opsi beli) berarti bertaruh harga kontrak naik, yang umumnya terkait ekspektasi suku bunga turun.

Di pasar saham, pergeseran ke suku bunga lebih rendah biasanya positif untuk saham pertumbuhan, terutama sektor teknologi. Eksposur bisa diperoleh lewat derivatif dengan membeli call options pada indeks Nasdaq 100 (NDX). Strategi ini memberi posisi dengan leverage (pengungkit, potensi keuntungan/rugi lebih besar dari modal) bahwa biaya pinjaman yang lebih rendah bisa mendorong valuasi saham pertumbuhan.

Pelemahan Dolar dan Implikasi Perdagangan

Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed kemungkinan menekan dolar AS. Strategi opsi yang diuntungkan dari dolar yang melemah antara lain membeli call pada euro atau menjual put (opsi jual) pada yen Jepang terhadap dolar. Transaksi ini mengantisipasi arus dana keluar dari AS seiring berkurangnya keunggulan imbal hasil AS.

Jika menengok 2025, pasar sempat khawatir inflasi bertahan tinggi, dengan yield tenor 2 tahun sempat menyentuh 4,4% pada kuartal III tahun itu. Kondisi saat ini menunjukkan perubahan arah yang besar. Hasil lelang ini menegaskan pergeseran ke kebijakan yang lebih longgar (dovish, cenderung mendukung suku bunga lebih rendah) yang telah dinantikan sejak awal tahun ini.

Pasar berhati-hati di tengah mandeknya perundingan AS-Iran, euro pangkas kenaikan sebelumnya terhadap dolar AS, membatasi pelemahan dolar

EUR/USD memangkas sebagian kenaikan pada Senin karena pembicaraan AS-Iran yang buntu membuat pasar berhati-hati dan mendukung Dolar AS. Pasangan ini diperdagangkan dekat 1,1723 setelah sempat mencapai tertinggi harian 1,1755.

Indeks Dolar AS (DXY)—ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama—berada sekitar 98,47 setelah menyentuh terendah harian 98,22. Pergerakan harga terkait berita terbaru soal AS-Iran.

Pembicaraan AS-Iran dan Reaksi Dolar

Axios melaporkan Iran menawarkan usulan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, sementara pembicaraan nuklir ditunda. Washington belum merespons, dan Presiden AS Donald Trump menegaskan pembatasan program nuklir Iran menjadi syarat untuk kesepakatan apa pun.

Perhatian juga tertuju pada rapat bank sentral pekan ini: Federal Reserve (The Fed/bank sentral AS) dan European Central Bank (ECB/bank sentral kawasan euro). Keduanya diperkirakan menahan suku bunga (tidak mengubah tingkat bunga acuan), sementara kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi (kenaikan harga barang dan jasa secara umum).

Pada grafik harian, EUR/USD masih cenderung naik secara ringan, bertahan di atas simple moving average (SMA/rata-rata pergerakan sederhana) 50, 100, dan 200 hari—indikator teknikal untuk melihat arah tren. Ketiga SMA ini berkumpul di kisaran 1,1650–1,1710, dengan RSI (Relative Strength Index/indikator untuk mengukur kuat-lemahnya momentum) di sekitar 55.

MACD (Moving Average Convergence Divergence/indikator momentum yang membandingkan dua rata-rata pergerakan) bergerak kembali mendekati nol, dan ADX (Average Directional Index/indikator kekuatan tren) berada di sekitar 24. Penurunan di bawah zona rata-rata pergerakan bisa membuka jalan ke 1,1600, sementara hambatan (resistance/area yang sering menahan kenaikan) ada di sekitar 1,1800.

Dari Latar 2025 ke Pasar Saat Ini

Kita ingat betapa rapuhnya sentimen pasar pada 2025, ketika pembicaraan AS-Iran yang buntu membuat EUR/USD tertahan di sekitar 1,17. Saat ini situasinya sangat berbeda, dengan pasangan ini diperdagangkan lebih dekat ke 1,09 dan Indeks Dolar AS (DXY) menguat di atas 104, dibandingkan 98 pada periode tersebut. Ini menegaskan adanya pergeseran besar pada kekuatan dasar dolar.

Fokus pada The Fed dan ECB yang menahan suku bunga karena harga minyak pada 2025 kini terasa jauh. Keduanya sejak itu memulai siklus pelonggaran (easing cycle/serangkaian penurunan suku bunga atau kebijakan yang membuat kondisi keuangan lebih longgar), tetapi The Fed memberi sinyal pemangkasan lebih lambat karena inflasi AS yang tetap tinggi, saat ini 2,9%. Perbedaan arah kebijakan (policy divergence/perbedaan kebijakan moneter antar bank sentral) ini menjadi alasan utama dolar tetap kuat dan menciptakan peluang di interest rate swaps (swap suku bunga/kontrak untuk menukar pembayaran bunga, misalnya bunga tetap ditukar dengan bunga mengambang, untuk lindung nilai atau spekulasi).

Gambaran teknikal tahun lalu menunjukkan dasar yang stabil dengan momentum moderat, yang mendukung strategi menjual volatilitas (selling volatility/strategi yang untung jika pergerakan harga tetap tenang) melalui short straddles (straddle jual/menjual opsi call dan put pada harga pelaksanaan yang sama, mengharap harga tidak bergerak besar). Namun, kondisi sekarang lebih tidak pasti, dan implied volatility (volatilitas tersirat/perkiraan volatilitas dari harga opsi) pada opsi EUR/USD tenor satu bulan naik di atas 8%, dari di bawah 6% pada sebagian besar 2025. Ini mengisyaratkan trader bisa mempertimbangkan membeli opsi, seperti long strangles (strangle beli/membeli call dan put dengan harga pelaksanaan berbeda, untuk untung jika harga bergerak tajam ke salah satu arah).

Level dukungan lama di sekitar 1,1650 kini menjadi “plafon” yang jauh, dengan pasar saat ini menemui hambatan di sekitar 1,1050. Trader memakai level ini untuk membuka posisi bearish (posisi yang mengharap harga turun) atau membeli put options (opsi put/hak menjual pada harga tertentu), dengan taruhan sikap hati-hati The Fed akan menahan reli euro. Penembusan di bawah terendah year-to-date (terendah sejak awal tahun berjalan) 1,0820 kemungkinan memicu momentum penurunan lanjutan.

Imbal hasil lelang US Treasury tenor 5 tahun turun ke 3,955%, dari sebelumnya 3,98%

Amerika Serikat menggelar lelang Surat Utang Negara (Treasury) tenor 5 tahun. Imbal hasil (yield, yaitu tingkat pengembalian yang diminta investor) lelang turun ke 3,955% dari 3,98% sebelumnya.

Turunnya yield lelang Treasury 5 tahun ke 3,955% menunjukkan permintaan kuat terhadap utang pemerintah. Ini mengindikasikan pasar makin bertaruh suku bunga akan turun dalam waktu dekat. Kami melihat ini sebagai sinyal jelas “flight to safety” (perpindahan dana ke aset yang dianggap lebih aman) di tengah isu ekonomi melambat.

Inflasi Melandai Menguatkan Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga

Pergerakan ini sejalan dengan laporan terbaru Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI, ukuran inflasi di tingkat konsumen) untuk Maret 2026, yang menunjukkan inflasi inti (core inflation, inflasi yang mengecualikan harga pangan dan energi yang lebih bergejolak) melandai ke 2,8%. Angka ini turun dari 3,1% pada Februari. Data ini memperkuat pandangan bahwa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan sebelum akhir tahun.

Ini berbeda dari sentimen sepanjang 2025 saat yield masih tinggi. Saat itu, inflasi jasa yang bertahan membuat yield Treasury 10 tahun bertahan di atas 4,4% dalam waktu lama. Permintaan obligasi saat ini menandakan perubahan besar pada ekspektasi pasar.

Dengan outlook ini, kami mengantisipasi yield berpotensi terus turun. Trader dapat mempertimbangkan posisi beli (long, yaitu mengambil posisi untuk mendapat untung jika harga naik) pada kontrak futures Treasury, seperti 5-Year T-Note futures (ZF). Ini cara langsung untuk memanfaatkan kenaikan harga obligasi saat yield turun.

Opsi (options, kontrak yang memberi hak—bukan kewajiban—untuk membeli/menjual aset pada harga tertentu) pada ETF yang sensitif terhadap suku bunga, seperti IEF untuk obligasi tenor menengah, juga menarik. Membeli opsi beli (call options, hak untuk membeli) bisa memberi eksposur “berpengungkit” (leverage, potensi dampak lebih besar dengan modal lebih kecil) terhadap kenaikan harga obligasi. Strategi ini lebih efisien dari sisi modal dibanding memegang aset dasarnya.

Transaksi Saham yang Sensitif Suku Bunga Makin Menarik

Biaya pinjaman yang lebih rendah biasanya positif bagi sektor saham berorientasi pertumbuhan. Kondisi ini mendukung sikap bullish (optimistis harga naik) pada teknologi dan saham lain yang sensitif terhadap suku bunga. Transaksi derivatif (instrumen turunan) pada indeks seperti Nasdaq 100 melalui opsi beli atau futures kini lebih menarik.

Seiring pedagang mengantisipasi BoJ mempertahankan kebijakan dengan sikap hawkish, USD/JPY bergerak di sekitar 159,30 sementara Yen menguat

USD/JPY diperdagangkan di dekat 159,30 saat pelaku pasar bersiap menjelang keputusan Bank of Japan (BoJ). Pasar memperkirakan BoJ mempertahankan suku bunga acuan (suku bunga utama) di 0,75% sambil memberi sinyal bisa menaikkan suku bunga lagi.

Yen menguat karena ekspektasi tersebut, meski perbedaan arah kebijakan dengan Federal Reserve (bank sentral AS/The Fed) masih menopang Dolar AS. Konflik di Timur Tengah yang mendekati dua bulan juga menjaga permintaan Dolar sebagai aset aman (safe haven), yaitu aset yang biasanya diburu saat risiko meningkat.

Gambaran Teknis Empat Jam

Pada grafik empat jam, USD/JPY berada di sekitar 159,29. Pasangan ini bertahan di atas support (area penahan penurunan) dekat 159,27 dan simple moving average/SMA 100-periode (rata-rata harga sederhana 100 batang) di 159,21, sementara resistance (area penahan kenaikan) berada dekat 159,30 dan SMA 20-periode di 159,47.

Relative Strength Index/RSI (14) berada sekitar 47, menandakan momentum netral (tidak kuat naik atau turun). Support berikutnya terlihat di 159,20, dengan penembusan di bawah sekitar 159,10 membuka peluang penurunan lebih dalam.

Bagian analisis teknikal dibuat dengan bantuan alat AI.

Latar Volatilitas dan Posisi

Kenaikan di atas 160,00 pada akhir tahun lalu menjadi titik balik, memicu intervensi pembelian yen oleh Kementerian Keuangan, mirip langkah pada 2022 dan 2024. Pergerakan itu besar, mendorong pasangan ini turun tajam dan mengingatkan bahwa peringatan otoritas berdampak besar. Karena itu, risiko “melawan” otoritas yang mahal membuat pelaku pasar berhati-hati untuk membangun kembali posisi besar short yen (bertaruh yen melemah) di dekat level puncak historis.

Implied volatility (perkiraan volatilitas dari harga opsi) pada opsi USD/JPY, yang sempat melonjak di atas 14% saat periode intervensi, kini turun ke kisaran 8–9% untuk kontrak 3 bulan per pekan ini. Kondisi yang lebih tenang ini bisa mendukung strategi seperti menjual strangle atau straddle (strategi opsi untuk mengambil premi, yaitu pendapatan dari menjual opsi, saat harga bergerak dalam rentang). Taruhan arah yang ekstrem mulai bergeser menjadi strategi rentang (range-bound), yaitu fokus pada pergerakan bolak-balik dalam kisaran tertentu.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Di tengah ketegangan Iran yang memanas dan menjelang pekan keputusan The Fed, futures DJIA turun 0,4% ke 49.100

Futures saham AS melemah pada Senin, dengan futures DJIA turun sekitar 0,4% di dekat 49.100 setelah sempat turun ke bawah 49.050. S&P 500 turun sekitar 0,2% dan Nasdaq Composite turun sekitar 0,4% setelah keduanya mencetak rekor tertinggi pada Jumat.

Ketegangan terkait Iran membuat pasar energi tetap ketat, setelah Presiden Donald Trump membatalkan rencana mengirim Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Pakistan untuk pembicaraan gencatan senjata. Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan tidak ada pertemuan dengan Washington yang dijadwalkan, sementara Axios melaporkan Iran mengusulkan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai imbalan penundaan pembicaraan nuklir.

Pasar Minyak Makin Ketat

WTI naik di atas US$97 per barel dan Brent menembus US$109, masing-masing naik sekitar 3% hari ini. Stochastic RSI pada grafik 5 menit berada di sekitar 34. (Stochastic RSI adalah indikator teknikal untuk mengukur momentum sekaligus kondisi “jenuh beli/jenuh jual” dalam jangka sangat pendek.)

Keputusan FOMC akan diumumkan Rabu pukul 18:00 GMT, dengan konferensi pers pukul 18:30 GMT. (FOMC adalah komite bank sentral AS, The Fed, yang menentukan kebijakan suku bunga.) CME FedWatch menempatkan peluang suku bunga ditahan di kisaran 3,50%–3,75% sekitar 99%, sementara Polymarket menunjukkan peluang 40% untuk tidak ada pemangkasan suku bunga pada 2026 dan 28% memperkirakan satu kali pemangkasan. (CME FedWatch dan Polymarket adalah alat/pasar yang membaca ekspektasi pelaku pasar terhadap arah suku bunga.)

Lima dari “Magnificent Seven” melaporkan kinerja pekan ini, dengan Microsoft, Meta, Alphabet, dan Amazon pada Rabu serta Apple pada Kamis. JPMorgan menaikkan target akhir tahun S&P 500 menjadi 7.600 dari 7.200.

Verizon naik sekitar 3,5% setelah menaikkan proyeksi laba 2026 versi “adjusted”, sementara Qualcomm melonjak sekitar 10% karena laporan kemitraan. Domino’s turun sekitar 10%, Marvell turun lebih dari 5%, dan POET Technologies merosot hampir 50%. (“Adjusted earnings” adalah laba yang sudah disesuaikan—biasanya mengeluarkan pos sekali jalan—agar dianggap lebih mencerminkan kinerja inti.)

Katalis Makro Utama

Kamis ada rilis PDB (GDP) kuartal I pukul 12:30 GMT, diperkirakan 2,2% secara tahunan (annualised) dibanding 0,5% sebelumnya, serta core PCE diperkirakan 3,2% YoY dibanding 3,0%. (Annualised berarti laju kuartalan yang “disetarakan” menjadi laju setahun; YoY berarti dibanding periode yang sama tahun lalu. Core PCE adalah inflasi “inti” versi The Fed, tidak memasukkan harga makanan dan energi yang volatil.) PMI manufaktur ISM Jumat diperkirakan 53 dari 52,7. (PMI adalah indeks aktivitas pabrik; di atas 50 berarti ekspansi.)

Selama perdagangan Amerika Utara, GBP/USD menguat tipis seiring mandeknya perundingan AS-Iran, membuat pasar tetap rapuh

GBP/USD naik pada sesi Amerika Utara hari Senin, menguat 0,19% setelah pembicaraan AS-Iran macet dan saham AS melemah. Pasangan ini diperdagangkan di 1,3548 setelah memantul dari titik terendah harian (intraday, yaitu terendah pada hari yang sama) 1,3506.

Pada Senin malam, GBP/USD diperdagangkan di sekitar 1,3565, naik 0,23% pada hari itu, didukung Dolar AS yang lebih lemah seiring selera risiko (risk appetite, yaitu minat investor mengambil aset berisiko seperti saham) membaik. Laporan menyebut adanya usulan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz dan mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat.

Ringkasan Sesi Pasar

Pada sesi Asia, GBP/USD menarik minat beli saat harga turun (buy the dip, yaitu membeli ketika harga melemah) di dekat level psikologis 1,3500 dan naik ke level tertinggi lebih dari satu pekan. Pasangan ini bergerak tepat di bawah area pertengahan 1,3500, naik 0,10% pada hari itu, dengan 1,3600 disebut sebagai target kenaikan.

Tim konten FXStreet, yang terdiri dari jurnalis ekonomi dan spesialis valuta asing, memproduksi dan mengawasi konten yang diterbitkan FXStreet. Mereka menyatakan liputannya menggunakan pendekatan jurnalistik untuk pasar valuta asing (foreign exchange/FX, yaitu perdagangan mata uang).

Kami mengingat bahwa pada awal 2025 sempat ada optimisme singkat ketika GBP/USD menguji level 1,3550, didorong harapan terkait pembicaraan AS-Iran. Periode itu ditandai sentimen pasar yang rapuh, ketika berita geopolitik bisa cepat menggerakkan nilai tukar secara besar. Saat ini, dengan pasangan ini diperdagangkan jauh lebih rendah di sekitar 1,2720, gejolak (volatilitas, yaitu cepat-lambatnya dan besar-kecilnya perubahan harga) tersebut mengingatkan bahwa faktor eksternal dapat memengaruhi pasar.

Dalam kondisi saat ini, ketika Bank of England (bank sentral Inggris) dengan hati-hati memantau inflasi Inggris yang bertahan sedikit di atas target 2,1%, volatilitas tersirat (implied volatility, yaitu perkiraan volatilitas dari harga opsi) pada opsi GBP/USD menjadi ukuran penting. Ketidakstabilan tahun lalu menunjukkan bahwa membeli straddle (strategi opsi membeli call dan put pada harga strike yang sama) bisa menjadi cara untuk memanfaatkan potensi pergerakan harga dalam beberapa pekan ke depan, terutama menjelang rapat bank sentral. Strategi ini memungkinkan keuntungan dari pergerakan besar tanpa menebak arah.

Opsi dan Lindung Nilai

Berbeda dari fokus tahun lalu pada target 1,3600, level hambatan (resistance, yaitu area harga yang sering menahan kenaikan) saat ini tampaknya tertahan kuat di dekat 1,2800. Dengan laporan terbaru tenaga kerja AS menunjukkan penambahan lebih dari 250.000 pekerjaan (payrolls, yaitu jumlah pekerja yang tercatat di perusahaan), kekuatan dasar (fundamental strength, yaitu dukungan dari data ekonomi) dolar terlihat lebih tahan dibanding saat harapan damai sementara pada 2025. Karena itu, bisa dipertimbangkan membeli opsi put out-of-the-money (opsi jual dengan strike di bawah harga saat ini) dengan harga strike (harga pelaksanaan) di sekitar 1,2600 untuk mengantisipasi potensi penurunan.

Melihat ke belakang, fokus pasar pada geopolitik di 2025 terlihat lebih sempit dibanding kekhawatiran ekonomi yang lebih luas saat ini terkait perbedaan arah kebijakan bank sentral. Premi risiko (risk premium, yaitu tambahan “kompensasi” yang diminta investor karena ketidakpastian) dari kejadian tertentu bisa memudar, tetapi inflasi yang bertahan lama tetap menjadi pendorong utama. Bagi pemilik aset dalam sterling (aset berdenominasi pound), penggunaan kontrak berjangka (futures, yaitu kontrak untuk membeli/menjual di harga tertentu pada waktu tertentu) untuk lindung nilai (hedging, yaitu mengurangi risiko) terhadap penembusan berkelanjutan di bawah 1,2700 tetap merupakan langkah yang bijak.

Menjelang rapat The Fed, perak diperdagangkan di dekat US$74,90, turun 1,06%, di tengah sentimen hati-hati tanpa arah yang jelas

Perak (XAG/USD) turun 1,06% pada Senin dan diperdagangkan di sekitar $74,90. Pergerakan perdagangan campuran karena pasar tetap berhati-hati.

Fokus tetap pada Timur Tengah dan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. Axios melaporkan Teheran mengusulkan inisiatif untuk mengakhiri permusuhan dan membuka kembali Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dunia.

Risiko Timur Tengah Mendorong Sikap Hati-hati

Ketidakpastian masih tinggi karena kemajuan terbatas dan perundingan sempat ditangguhkan. Gangguan berlanjut di Selat Hormuz menjaga harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan kekhawatiran stagflasi (kondisi saat inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi lemah).

Situasi ini menopang Dolar AS dan menekan permintaan logam mulia, termasuk perak. Rapat Federal Reserve (bank sentral AS) pada pekan ini juga menjadi perhatian, dengan pasar luas memperkirakan suku bunga ditahan.

Pelaku pasar menunggu arahan langkah kebijakan berikutnya. Harga energi yang lebih tinggi menambah tekanan inflasi dan mengurangi perkiraan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.

Perhatian juga tertuju pada ketidakpastian soal penerus Ketua The Fed Jerome Powell seiring masa jabatannya mendekati akhir. Hal ini menambah risiko volatilitas (naik-turun harga yang tajam) dan memengaruhi ekspektasi terhadap Dolar AS.

Perak Masih Bergerak dalam Kisaran

Di tengah ketidakpastian geopolitik dan kebijakan, perak tetap dalam fase konsolidasi (bergerak mendatar dalam rentang sempit) dan belum memiliki arah yang jelas.

Aksi harga perak mengonfirmasi bahwa permintaan industri (pemakaian perak untuk manufaktur dan teknologi) tertahan oleh sensitivitasnya terhadap kebijakan moneter yang hawkish (sikap bank sentral yang cenderung ketat, misalnya mempertahankan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi).

Chris Beauchamp mengatakan saham memangkas kenaikan sebelumnya karena absennya dialog AS-Iran dan agenda pekan ini yang padat menekan pasar hari ini

Pasar saham menghapus kenaikan sebelumnya setelah tidak ada pembicaraan AS-Iran dan pelaku pasar fokus pada pekan yang padat agenda. Dengan minim berita pada Senin, perdagangan cenderung lesu sementara harga minyak menguat.

Perhatian beralih ke pekan ini, yang diperkirakan dipenuhi arus berita setelah awal yang tenang. Pergeseran fokus ini menurunkan minat pada aset berisiko dan membatasi penguatan pasar.

Alphabet Memimpin Pasar

Alphabet naik ke rekor tertinggi baru menjelang rilis laporan keuangan. Saham ini mengungguli anggota “Magnificent 7” lainnya, termasuk Nvidia, karena model kecerdasan buatan (AI) Gemini menarik perhatian, ditopang bisnis iklannya.

Dengan ketidakpastian geopolitik kembali meningkat, pasar menunjukkan tanda-tanda keraguan. Indeks volatilitas VIX—ukuran “tingkat naik-turun” pasar yang sering disebut indikator ketakutan—baru-baru ini naik lagi di atas 20, mencerminkan kekhawatiran atas ketegangan di Selat Hormuz dan minimnya kemajuan diplomatik. Pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures) dapat mempertimbangkan lindung nilai (hedging, yakni mengurangi risiko) atas portofolio posisi beli (long) dengan membeli opsi jual (put, hak untuk menjual pada harga tertentu) pada indeks pasar luas seperti SPY (ETF yang melacak indeks S&P 500) untuk melindungi dari penurunan mendadak.

Awal pekan yang sepi ini terasa seperti “tenang sebelum badai”, dengan keputusan Federal Reserve (bank sentral AS) pada Mei dan rilis laporan inflasi April di depan mata. Pergerakan harga terlihat tidak menentu (choppy), karena trader enggan mengambil posisi besar menjelang data ekonomi utama. Kondisi ini bisa cocok untuk strategi seperti long straddle pada QQQ (ETF yang melacak Nasdaq-100), yaitu membeli opsi call (hak membeli) dan opsi put sekaligus pada harga dan jatuh tempo yang sama, sehingga berpotensi untung jika harga bergerak besar ke salah satu arah setelah berita keluar.

Kita pernah melihat pola serupa pada 2025, ketika saham-saham tertentu dengan cerita kuat bergerak sendiri terlepas dari pasar yang gelisah. Seperti saat Alphabet melonjak karena kekuatan AI Gemini, saham ini terus mengungguli, melampaui kinerja Nasdaq 100 lebih dari 12% sejak awal tahun pada 2026. Bagi yang mencari eksposur bullish (pandangan naik), membeli opsi call pada saham pemenang yang jelas bisa lebih efektif daripada bertaruh seluruh pasar akan reli.

Strategi Opsi Untuk Pekan yang Volatil

Emas Turun Tipis Mendekati US$4.669 Meski Dolar Melemah, Perang AS–Iran dan Ekspektasi Suku Bunga Membatasi Kenaikan

Emas (XAU/USD) turun pada Senin meski Dolar AS melemah, karena perang AS-Iran menekan pergerakan harga. Emas diperdagangkan di sekitar $4,669, turun 0,84%, setelah sempat menyentuh tertinggi harian $4,730.

Axios melaporkan Iran mengirim proposal baru ke Amerika Serikat untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, sementara pembahasan nuklir ditunda. Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana kunjungan ke Islamabad oleh utusan Jared Kushner dan Steve Witkoff, mengatakan Iran telah “menawarkan banyak, tetapi belum cukup.”

Fokus Pasar Beralih Ke Diplomasi

Indeks Dolar AS (US Dollar Index—ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) bergerak di sekitar 98,40, turun 0,13%, dan Washington belum menanggapi laporan Axios. Pasar memantau peluang kembalinya perundingan saat Teheran meningkatkan upaya diplomatik.

Emas tidak terbantu oleh pelemahan dolar karena pasar tetap fokus pada ekspektasi suku bunga menjelang pertemuan bank sentral The Fed (bank sentral AS), ECB (bank sentral zona euro), BoE (bank sentral Inggris), dan BoJ (bank sentral Jepang) pekan ini. Pasar luas memperkirakan suku bunga tidak berubah, karena kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi (kenaikan harga umum) dan risiko perlambatan pertumbuhan.

Pada grafik, harga bertahan di atas SMA 200 hari (Simple Moving Average/rata-rata bergerak sederhana 200 hari, indikator tren) di $4,257, namun masih di bawah SMA 100 hari dan 50 hari. RSI (Relative Strength Index/indikator momentum untuk melihat kondisi jenuh beli/jenuh jual) berada dekat 43 dan ADX (Average Directional Index/indikator kekuatan tren) dekat 20. Area resistensi (hambatan kenaikan) berada di sekitar $4,746 lalu $4,863, sedangkan support (penopang harga) di $4,650-$4,600, lalu $4,257.

Pergeseran Makro Dan Strategi

De-eskalasi konflik pada akhir 2025 dan dibukanya kembali Selat Hormuz membuat harga minyak turun tajam. Minyak WTI (West Texas Intermediate, patokan harga minyak AS) yang sempat melonjak di atas $150 per barel saat perang, kini stabil dan diperdagangkan sekitar $85 per April 2026. Penurunan biaya energi ini menjadi faktor utama turunnya inflasi global dalam dua kuartal terakhir.

Dampaknya, tekanan inflasi 2025 mereda. Laporan terbaru CPI AS (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen, ukuran inflasi) menunjukkan inflasi tahunan 2,8%, jauh di bawah sekitar 5% saat konflik. Kondisi ini membuat The Fed dan bank sentral lain bergeser dari sikap hawkish (cenderung ketat, mengutamakan pengetatan suku bunga) ke dovish (lebih longgar, cenderung mendukung penurunan suku bunga). Pasar kini memperkirakan setidaknya dua kali pemotongan suku bunga The Fed sebelum akhir tahun.

Perubahan prospek kebijakan moneter ini mendorong emas ke rekor baru, dengan harga saat ini sekitar $5,100, sementara Indeks Dolar AS melemah ke 91,50. Pendorong utama emas kini bukan ketakutan geopolitik, melainkan ekspektasi biaya pinjaman yang lebih rendah.

Untuk beberapa pekan ke depan, membeli call option (opsi beli, kontrak yang memberi hak membeli pada harga tertentu) dinilai cara langsung untuk memanfaatkan tren naik. Membeli call strike $5,250 (harga patokan eksekusi) untuk Juni atau Juli memberi eksposur berlipat (leverage, potensi dampak lebih besar dari modal) jika emas naik seiring ekspektasi pemangkasan suku bunga. Risiko strategi ini dibatasi pada premi (biaya) yang dibayar.

Alternatifnya, menjual put option out-of-the-money (opsi jual dengan strike di bawah harga saat ini) dapat menghasilkan pendapatan (premi) dengan pandangan bullish hingga netral. Menjual put strike $4,900 untuk Juni dinilai layak, dengan asumsi emas bertahan di atas level tersebut. Pendekatan ini diuntungkan oleh time decay (penurunan nilai opsi seiring waktu) dan kuatnya area support harga emas.

Meski tren naik, level teknikal tetap penting untuk manajemen risiko. Rata-rata bergerak 50 hari, kini sekitar $5,020, menjadi support jangka pendek. Jika harga turun tegas di bawah area ini, reli bisa tertahan dan menjadi sinyal untuk meninjau ulang posisi derivatif (instrumen turunan seperti opsi) yang bullish.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

GBP/USD Naik Tipis pada Perdagangan Amerika Utara, Pembicaraan AS-Iran yang Mandek Mengguncang Pasar dan Saham Melemah

GBP/USD naik 0,19% pada sesi Amerika Utara hari Senin setelah pembicaraan AS-Iran menemui jalan buntu dan saham AS turun. Pasangan ini diperdagangkan di 1,3548 setelah memantul dari level terendah harian 1,3506.

Pekan ini ada sejumlah rapat bank sentral yang penting. Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) memulai rapat dua hari pada Selasa dan diperkirakan menahan suku bunga (tidak mengubah suku bunga acuan) di tengah harga energi yang tinggi terkait konflik Timur Tengah.

Fokus Bank Sentral Pekan Ini

Perhatian juga tertuju pada apakah Ketua The Fed Jerome Powell akan tetap menjabat atau mundur setelah Kevin Warsh disetujui sebagai penggantinya. Pada Kamis, Bank of England (BoE/bank sentral Inggris) juga diperkirakan menahan suku bunga, dengan proyeksi hasil suara 8-1 dan satu anggota diperkirakan mendukung kenaikan.

Pasar uang (money market, yaitu pasar instrumen jangka pendek seperti obligasi jangka pendek dan kontrak suku bunga) sudah memperhitungkan (priced in) kenaikan total 56 basis poin, menurut data Prime Terminal. Satu basis poin (bp) = 0,01%. Politik Inggris dapat memengaruhi pound sterling, dengan Perdana Menteri Keir Starmer menghadapi sorotan terkait penunjukan Peter Mandelson sebagai duta besar untuk AS serta tekanan terkait berkas Epstein.

Kalender data Inggris pada Selasa tidak menjadwalkan rilis apa pun. Di AS, pasar memantau ADP Employment Change rata-rata 4 pekan (perkiraan perubahan tenaga kerja versi ADP/sebuah laporan swasta), data perumahan, serta survei Conference Board Consumer Confidence (kepercayaan konsumen) untuk April.

Secara teknikal, GBP/USD bertahan di atas SMA 50-, 100-, dan 200-hari (Simple Moving Average/rata-rata pergerakan sederhana, indikator tren) yang berdekatan di sekitar 1,3410 serta garis tren naik (trend-line) di sekitar 1,3490. FXS Fed Sentiment Index berada di 129,62; area support (penopang harga) ada di 1,3490, lalu 1,3435, lalu 1,3410.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code