Back

Iklim Bisnis IFO Jerman April di Bawah Perkiraan, Tercatat 84,4 vs Ekspektasi 85,5

Indeks iklim bisnis Ifo Jerman tercatat 84,4 pada April. Angka ini di bawah perkiraan 85,5.

Data ini menunjukkan sentimen pelaku usaha lebih lemah dari perkiraan. Ini melanjutkan kondisi yang masih lesu dalam beberapa bulan terakhir.

Sentimen Bisnis Jerman Mengindikasikan Pelemahan

Data IFO Jerman pagi ini mengecewakan, di level 84,4 dibanding perkiraan 85,5. Ini menandakan sentimen pelaku usaha di ekonomi terbesar Eropa memburuk lebih cepat dari perkiraan. Kondisi ini memperkuat pandangan negatif terhadap pertumbuhan Jerman dan, imbasnya, Zona Euro pada kuartal II.

Reaksi awal kemungkinan tertuju pada euro yang tertekan. Dengan inflasi Zona Euro terakhir sedikit lebih tinggi dari perkiraan di 2,3%, Bank Sentral Eropa (ECB) terjepit antara menekan inflasi dan menopang ekonomi yang melemah. Kami melihat peluang pada pembelian opsi jual (put option, kontrak yang memberi hak untuk menjual aset pada harga tertentu) EUR/USD dengan jatuh tempo 4–6 minggu untuk memanfaatkan potensi pelemahan.

Untuk pelaku pasar saham, indeks DAX (indeks saham utama Jerman) terlihat rentan. Sentimen lemah memukul prospek perusahaan industri dan manufaktur besar yang porsinya dominan dalam indeks. Kami mempertimbangkan membeli opsi jual pada DAX atau menjual kontrak berjangka (futures, perjanjian membeli/menjual aset di masa depan pada harga yang disepakati), karena perkiraan laba perusahaan kuartal depan berpotensi direvisi turun.

Data ini menegaskan pola beberapa bulan terakhir. Pesanan pabrik Jerman bulan lalu sudah menunjukkan kontraksi mengejutkan 1,2%, dan angka IFO ini memperkuat narasi perlambatan. Ini bukan pelemahan sesaat seperti akhir 2025; indikasinya lebih bersifat struktural, artinya terkait masalah mendasar ekonomi, bukan gangguan sementara.

Lingkungan pertumbuhan melambat dan ketidakpastian kebijakan biasanya mendorong volatilitas pasar (naik-turun harga yang makin besar). Situasi serupa terjadi pada kuartal III 2025, ketika data Jerman yang lemah membuat indeks VSTOXX (indikator volatilitas pasar saham Eropa) melonjak lebih dari 15% dalam dua minggu. Membeli opsi beli (call option, kontrak yang memberi hak untuk membeli aset pada harga tertentu) pada VSTOXX bisa menjadi cara berbiaya relatif rendah untuk mengambil peluang dari perkiraan gejolak.

Minyak mentah WTI bertahan di sekitar US$94, berkonsolidasi setelah reli tiga hari di tengah memudarnya ekspektasi perdamaian AS-Iran

WTI diperdagangkan di dekat US$94,45 pada Jumat setelah menyentuh US$97,00 pada Kamis. WTI turun dari puncak, tetapi masih berpotensi mencatat kenaikan mingguan hampir 7%.

Harga naik pekan ini di tengah konflik yang berlanjut di Timur Tengah dan gangguan terkait Selat Hormuz. Laporan mencakup penyitaan kapal, rekaman pasukan komando menaiki kapal kargo pada Kamis, serta klaim pungutan US$1 per barel bagi kapal tanker yang melintasi jalur tersebut.

Snapshot Pasokan, Permintaan, dan Persediaan WTI

Di AS, Energy Information Administration (EIA/lembaga pemerintah AS yang merilis data energi) melaporkan persediaan minyak mentah komersial naik 1,9 juta barel pada pekan yang berakhir 17 April. Ini berlawanan dengan perkiraan penurunan (drawdown/penyusutan persediaan) 1,2 juta barel dan menekan WTI.

WTI adalah singkatan dari West Texas Intermediate, salah satu dari tiga jenis minyak mentah utama bersama Brent dan Dubai. WTI termasuk minyak mentah ringan dan “manis” (kadar belerang rendah sehingga lebih mudah diolah), diproduksi di AS dan didistribusikan melalui hub Cushing (titik penyimpanan dan pengiriman utama di Oklahoma). Harganya banyak dipakai sebagai patokan pasar (benchmark/acuan).

Harga WTI terutama bergerak mengikuti pasokan dan permintaan, termasuk pertumbuhan ekonomi global, gangguan politik, sanksi, keputusan produksi OPEC (kelompok negara pengekspor minyak), dan dolar AS. Pembaruan persediaan mingguan dari API (American Petroleum Institute/lembaga industri yang merilis perkiraan stok) dan EIA juga memengaruhi harga; hasil keduanya biasanya berbeda tipis.

Saat WTI berkonsolidasi di sekitar US$94,50, pasar melihat tarik-menarik antara data fundamental yang negatif (stok naik) dan risiko geopolitik yang positif bagi harga. Kenaikan hampir 7% pekan ini terutama didorong risiko gangguan di Selat Hormuz, jalur sempit penting (chokepoint/titik rawan macet) bagi pasokan global. Ketegangan ini meningkatkan ketidakpastian, kondisi yang biasanya membuat produk turunan (derivatif/instrumen yang nilainya mengikuti harga aset seperti minyak) lebih sering digunakan.

Strategi Opsi Saat Volatilitas Tinggi

Pasar memberi bobot lebih besar pada potensi gangguan pasokan besar dibanding data stok jangka pendek. Secara historis, sekitar 20% konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz, sehingga penutupan berkepanjangan akan berdampak jauh lebih besar dibanding kenaikan stok 1,9 juta barel di AS. Karena itu, berita geopolitik menjadi pendorong utama pergerakan harga dalam beberapa pekan ke depan.

Seperti yang sering dibahas pada 2025, situasi ini mirip fase awal konflik Ukraina pada 2022, ketika volatilitas minyak—diukur oleh indeks OVX (Oil Volatility Index/indeks perkiraan gejolak harga minyak berbasis opsi)—melonjak di atas 50%. Ini mengindikasikan volatilitas tersirat (implied volatility/ekspektasi pasar atas besarnya kenaikan-turunnya harga yang tercermin pada harga opsi) kemungkinan tetap tinggi, membuat premi opsi (biaya membeli opsi) lebih mahal sekaligus menandakan pasar mengantisipasi pergerakan harga besar. Trader perlu siap harga bergerak beberapa dolar ke dua arah hanya karena satu berita.

Dalam volatilitas tinggi, minat meningkat pada strategi yang bisa untung dari pergerakan tajam tanpa peduli arah. Salah satunya membeli long straddle (strategi membeli opsi beli/call dan opsi jual/put sekaligus, dengan strike price/harga kesepakatan dan jatuh tempo yang sama). Alternatifnya, pihak yang yakin konflik memburuk bisa membeli call option (opsi beli/hak membeli pada harga tertentu) atau membuat bull call spread (membeli call dan menjual call lain pada strike lebih tinggi untuk menekan biaya awal).

Namun sisi permintaan juga perlu diperhatikan karena bisa menahan kenaikan harga. Data PMI manufaktur China untuk Maret 2026 (Purchasing Managers’ Index/indeks aktivitas pabrik; di bawah 50 berarti kontraksi) sedikit di bawah perkiraan di 49,8, menandakan kontraksi ringan dan memunculkan kekhawatiran permintaan dari importir minyak terbesar dunia. Ini, ditambah stok AS yang naik, menjadi dasar skenario negatif bila ketegangan di Timur Tengah tiba-tiba mereda.

Untuk saat ini, level kunci yang dipantau adalah puncak terbaru US$97,00 sebagai resistance (hambatan kenaikan) dan US$90,00 sebagai support psikologis (penopang harga yang penting secara psikologi pasar). Pergerakan WTI di area ini memberi sinyal untuk menentukan strike price pada posisi opsi baru. Kami memperkirakan berita geopolitik, bukan laporan stok mingguan, akan menjadi pemicu pergerakan besar berikutnya.

Strategis UOB mengatakan GBP/USD berpotensi turun ke 1,3440, sementara 1,3400 kecil kemungkinannya tercapai; momentum tetap sedikit negatif

GBP/USD turun ke 1,3448 pada sesi New York, lalu memantul dan ditutup di 1,3467. Momentum turun masih terbatas, dengan peluang turun ke 1,3440. Penembusan di bawah level itu masih mungkin.

Dalam pandangan 24 jam, pasangan mata uang ini semula diperkirakan bergerak di kisaran 1,3475–1,3530, tetapi turun di bawah kisaran itu menjelang akhir hari. Resistance (level hambatan kenaikan) ada di 1,3480. Jika naik menembus 1,3510, itu mengindikasikan harga kemungkinan tidak menuju 1,3440.

Near Term Technical Picture

Untuk pandangan 1–3 minggu, pasangan ini diperkirakan bergerak dalam kisaran 1,3400–1,3600, dengan momentum naik sebelumnya melemah. Meski kenaikan momentum turun masih terbatas, peluang menguji 1,3400 meningkat.

Peluang ini diperkirakan terus naik kecuali 1,3530—yang disebut sebagai resistance kuat—berhasil ditembus. Disebutkan artikel ini dibuat dengan bantuan alat AI dan ditinjau editor.

Options Strategy Considerations

Bagi trader derivatif (instrumen turunan dari harga aset, seperti opsi), pandangan ini mengarah pada strategi membeli put option (opsi jual, yaitu hak untuk menjual di harga tertentu) dengan strike price (harga kesepakatan) di sekitar atau di bawah 1,3400. Alternatifnya, menjual call credit spread (strategi opsi yang mendapat premi bersih dengan menjual call dan membeli call lain sebagai pembatas risiko) dengan short strike (call yang dijual) di atas resistance 1,3530, sehingga bisa mengantongi premium (imbalan yang diterima dari penjualan opsi) jika harga bergerak mendatar atau turun. Implied volatility (perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi) masih moderat, sehingga biaya strateginya relatif wajar.

Kami melihat pola serupa pada akhir 2025, ketika pasangan ini sulit menembus resistance di sekitar 1,3600. Kenaikan itu gagal karena kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan Inggris saat itu. Riwayat pergerakan harga ini memperkuat pandangan bahwa resistance saat ini di sekitar 1,3530 cukup kuat.

Meski bias mulai bearish (cenderung turun), momentum turun belum kuat. Penembusan tegas di atas 1,3530 akan membatalkan pandangan ini dan menandakan tekanan turun mereda. Karena itu, posisi jual perlu batas risiko yang jelas berdasarkan level tersebut.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Di tengah dukungan yang solid, S&P 500 tampak siap melanjutkan penguatan, dengan potensi kenaikan lanjutan terbuka

S&P 500 masih bertahan setelah kenaikan terbaru, dengan pergerakan harga tetap mendukung tren naik. Ini menunjukkan indeks masih berada dalam fase “bullish” (tren naik) dan belum berbalik turun.

Pembaruan ini mengindikasikan peluang kenaikan masih terbuka selama level “support” (area penyangga harga tempat tekanan beli biasanya muncul) tetap terjaga. Disebutkan juga, langkah berikutnya bisa ditentukan oleh apakah indeks mampu menembus “resistance” (area hambatan harga tempat tekanan jual biasanya muncul) terdekat.

Kelanjutan Kenaikan Pasar

Pasar berpeluang melanjutkan kenaikan, artinya strategi sebaiknya mengarah pada potensi penguatan lanjutan di S&P 500. Laporan laba kuartal I 2026 solid, dengan laba perusahaan melampaui perkiraan rata-rata 6,5%. Ini mempertegas kondisi ekonomi yang masih kuat. Tren ini membuat strategi bullish menjadi pilihan paling masuk akal dalam beberapa pekan ke depan.

Data inflasi terbaru juga cukup positif, dengan laporan CPI Maret (Indeks Harga Konsumen, ukuran inflasi di tingkat konsumen) menunjukkan kenaikan tahunan 2,7%. Ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (bank sentral AS) akan mulai memangkas suku bunga pada kuartal III. Lingkungan suku bunga lebih rendah secara historis biasanya mendukung valuasi saham (penilaian harga saham).

Bagi trader, salah satu strategi adalah membeli opsi call (hak untuk membeli aset pada harga tertentu) dengan jatuh tempo Juni dan Juli 2026 untuk menangkap potensi kenaikan ini. Fokus dapat diarahkan ke ETF indeks (reksa dana berbentuk saham yang mengikuti indeks) seperti SPY atau ETF sektor teknologi yang masih memimpin pasar. Strategi ini bertaruh langsung pada kenaikan, dengan peluang imbal hasil besar jika tren berlanjut.

Volatilitas tersirat (perkiraan gejolak harga yang tercermin dari harga opsi) tetap rendah, dengan VIX (indeks volatilitas yang sering disebut “indeks ketakutan” pasar) konsisten di bawah 15. Kondisi ini membuat strategi menjual put credit spread out-of-the-money (kombinasi menjual dan membeli opsi put untuk mencari premi, dengan harga strike di bawah harga pasar) menarik karena peluangnya relatif tinggi untuk menghasilkan pendapatan. Trader bisa diuntungkan dari kenaikan bertahap dan time decay (penurunan nilai opsi seiring waktu) selama pasar tidak mengalami penurunan tajam.

Konteks Tren Saat Ini

Kekuatan saat ini melanjutkan ketahanan yang terlihat sepanjang tahun lalu. Jika melihat ke belakang, kemampuan pasar menyerap ketidakpastian suku bunga pada awal 2025 dan mencetak rekor tertinggi baru menunjukkan kekuatan dasar pasar. Kini terlihat fase lanjutan dari tren kuat tersebut.

Ahli strategi OCBC mencatat USD/JPY mendekati 160 seiring meningkatnya permintaan Dolar sebagai aset safe haven dan Jepang mengisyaratkan kesiapan intervensi

USD/JPY kembali mendekati 160 seiring dolar AS menguat karena arus safe-haven (aliran dana ke aset yang dianggap lebih aman saat pasar gelisah). Otoritas Jepang kembali menegaskan siap melakukan intervensi untuk mengatasi pelemahan yen (aksi pemerintah/ bank sentral masuk ke pasar valas untuk menahan pergerakan kurs).

OCBC memperkirakan Bank of Japan (BoJ/bank sentral Jepang) akan menaikkan suku bunga 25bp (25 basis poin = 0,25 poin persentase) menjadi 1,0% pada 28 April. Pasar juga menilai ada risiko BoJ menahan suku bunga namun dengan nada hawkish (pesan yang cenderung mendukung kenaikan suku bunga atau kebijakan lebih ketat).

Risiko Rapat Bank of Japan

Jika BoJ tidak menaikkan suku bunga, USD/JPY bisa bergerak ke area 160-an. Ini dapat meningkatkan peluang intervensi Kementerian Keuangan Jepang untuk mendorong pasangan ini kembali ke sekitar 155.

Bank Sentral Swiss (Swiss National Bank/SNB) juga menegaskan kembali kesiapan melakukan intervensi untuk membatasi penguatan franc Swiss.

Dengan USD/JPY mendekati level 160, risiko pergerakan besar menjelang rapat BoJ pada 28 April meningkat. Pasar melihat peluang lebih besar pada skenario “tahan suku bunga namun bernada hawkish”, bukan kenaikan 25bp seperti perkiraan kami. Perbedaan ekspektasi ini dapat memicu pergerakan tajam, sehingga strategi opsi menjadi relevan.

Bagi pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan kontrak berjangka), fokus utama adalah lonjakan perkiraan besar-kecilnya pergerakan harga. Implied volatility (perkiraan volatilitas dari harga opsi) tenor satu minggu untuk USD/JPY sudah melampaui 15%, mencerminkan kekhawatiran pasar soal kejutan kebijakan atau intervensi langsung di pasar valas. Trader dapat mencoba “membeli volatilitas” lewat strategi seperti straddle (membeli opsi beli/call dan opsi jual/put pada harga kesepakatan yang sama), yang menguntungkan jika terjadi pergerakan besar ke salah satu arah setelah pengumuman BoJ.

Pola Intervensi Sebelumnya

Contoh terbaru terjadi pada musim semi 2024. Saat itu, otoritas Jepang menghabiskan hampir ¥10 triliun untuk menopang yen, sehingga USD/JPY turun tajam dari level yang juga dekat 160. Catatan ini membuat peringatan Kementerian Keuangan saat ini dinilai serius.

Jika BoJ tidak menaikkan suku bunga dan USD/JPY menembus 160, peluang intervensi untuk mendorong kembali ke sekitar 155 dinilai tinggi. Dalam skenario ini, membeli opsi jual (put option: hak untuk menjual pada harga tertentu) USD/JPY jangka pendek bisa menarik untuk mengantisipasi penguatan yen yang mendadak. Sebaliknya, jika BoJ benar-benar mengejutkan pasar dengan kenaikan suku bunga dan daya tarik dolar sebagai safe-haven melemah, opsi jual tersebut juga bisa tetap menguntungkan.

Risiko kenaikan berlanjut tetap ada jika BoJ mengecewakan pasar dan intervensi terlambat atau tidak sekuat perkiraan. Data menunjukkan inflasi inti Jepang masih sekitar 2,5%, di atas target bank sentral, sehingga tekanan untuk bertindak besar. Jika tidak ada langkah, pasar bisa menilai ini sebagai sinyal yen berpotensi terus melemah, sehingga opsi beli (call option: hak untuk membeli pada harga tertentu) dengan strike price (harga kesepakatan) di atas 161 menjadi salah satu pilihan, meski berisiko tinggi.

Kekhawatiran intervensi membatasi USD/JPY di bawah 160,00 saat pihak bullish berkonsolidasi, mengincar penembusan dan membidik kenaikan mingguan

USD/JPY bergerak dalam konsolidasi bullish pada Jumat, berfluktuasi di bawah 160,00 pada awal sesi Eropa. Pasangan ini berpeluang mencatat kenaikan untuk pertama kalinya dalam tiga pekan.

Pembicaraan bahwa otoritas Jepang bisa bertindak untuk membatasi pelemahan yen lebih lanjut menopang JPY dan menekan USD/JPY. Ketegangan Timur Tengah, ketegangan AS-Iran terkait Selat Hormuz, serta turunnya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed menopang USD.

Sinyal Campuran Menjaga Pasangan Tetap Ditopang

Ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ yang mundur, terkait rilis CPI Nasional yang kurang kuat (CPI = Indeks Harga Konsumen, ukuran inflasi), juga menekan yen. Faktor-faktor ini memberi sinyal campuran, namun secara umum masih menopang pasangan.

Sejak pertengahan Maret, pergerakan harga bertahan dalam kisaran yang mirip setelah memantul dari EMA 200 hari (EMA = rata-rata bergerak eksponensial, indikator tren yang memberi bobot lebih besar pada data terbaru). Pola ini mengarah pada kecenderungan naik, dengan koreksi tetap dipandang sebagai peluang beli.

RSI berada di 56,79, masih positif dan belum jenuh beli (RSI = indikator kekuatan tren; jenuh beli berarti kenaikan sudah terlalu cepat). MACD tetap sedikit negatif, menandakan dorongan naik ada tetapi terbatas (MACD = indikator momentum yang membandingkan dua rata-rata bergerak).

Penurunan di bawah sekitar 159,60 bisa memicu minat beli dekat 159,00, dengan area penopang kisaran di sekitar 158,30. Penembusan turun yang jelas bisa membuka ruang pelemahan menuju EMA 200 hari di sekitar 155,03.

Strategi Opsi untuk Mengelola Risiko Penembusan

Trader dapat menunggu harga bertahan di atas 160,00 sebelum menambah posisi beli (long = bertaruh harga naik). Analisis teknikal dibuat dengan bantuan alat AI (AI = kecerdasan buatan, program komputer yang membantu analisis data).

Risiko utama adalah intervensi langsung dari otoritas Jepang (intervensi = tindakan pemerintah/bank sentral di pasar valas untuk memengaruhi nilai tukar), seperti yang terjadi saat pasangan menembus 160,00 pada akhir April 2024. Menteri Keuangan Shun’ichi Suzuki kembali memberi peringatan pekan ini terkait spekulan, menyebut ia memantau pasar dengan “sense of urgency” atau tingkat kewaspadaan tinggi. Riwayat ini membuat pembelian langsung pasangan ini lebih berisiko dalam beberapa pekan ke depan.

Dengan kondisi ini, trader bisa mempertimbangkan opsi untuk mengelola risiko sambil bersiap jika terjadi kenaikan. Membeli call option dengan strike price sedikit di atas 160,00 (call option = hak membeli aset pada harga tertentu; strike price = harga yang disepakati) memungkinkan ikut dalam penembusan naik sambil membatasi kerugian maksimal pada premi (premi = biaya membeli opsi). Jika otoritas Jepang melakukan intervensi dan USD/JPY turun tajam, risiko turun tetap terbatas.

Bagi yang menilai area 159,00 akan bertahan, menjual out-of-the-money put option bisa menjadi strategi (put option = hak menjual; out-of-the-money = strike berada di luar harga pasar saat ini sehingga belum bernilai jika langsung dieksekusi). Strategi ini menghasilkan pendapatan dari premi dan untung jika USD/JPY bertahan di atas strike hingga jatuh tempo (expiration = tanggal berakhirnya opsi). Ini sejalan dengan pandangan bahwa penurunan cenderung dimanfaatkan untuk beli dan berlangsung singkat.

Pendekatan lebih konservatif adalah bull call spread (spread = kombinasi dua opsi), yakni membeli call pada strike lebih rendah dan menjual call pada strike lebih tinggi. Cara ini menurunkan biaya awal, namun juga membatasi potensi untung. Cocok untuk trader yang memperkirakan kenaikan moderat, bukan lonjakan tajam menembus puncak.

Setelah penjualan ritel Inggris yang solid, EUR/GBP bergerak datar di sekitar 0,8675, tertahan di bawah 0,8680, bangkit dari level terendah 0,8654

Euro nyaris tidak berubah terhadap Pound Sterling pada Jumat, diperdagangkan di 0,8675. Area tahanan (resistance, yaitu batas harga yang sering menahan kenaikan) di sekitar 0,8680 membatasi pemulihan dari level terendah Kamis di 0,8654. Data ritel Inggris tidak banyak menggerakkan pasangan ini.

Penjualan Ritel Inggris naik 0,7% pada Maret setelah turun 0,6% pada Februari, melampaui perkiraan 0,2%. Penjualan inti (core, yaitu data yang tidak memasukkan komponen tertentu agar lebih stabil), tidak termasuk bahan bakar dan mobil, naik 0,2% setelah turun 0,6%, sesuai ekspektasi.

Survei Inggris dan Kenaikan Biaya Input

Survei awal (preliminary, yaitu rilis sementara) dunia usaha Inggris menunjukkan sektor manufaktur dan jasa masih bertumbuh, sementara biaya input (input costs, yaitu biaya bahan baku, energi, dan komponen produksi) mencapai level tertinggi sejak pencatatan dimulai. Ini menambah ketidakpastian atas aktivitas ke depan.

Indeks Keyakinan Konsumen GfK turun ke level terendah dalam tiga tahun. Kekhawatiran mencakup kenaikan harga terkait guncangan energi, serta biaya hipotek (mortgage, yaitu cicilan pinjaman rumah) yang lebih tinggi jika Bank of England menaikkan suku bunga.

Di kawasan euro, perhatian beralih ke data iklim bisnis IFO Jerman, yang diperkirakan melemah pada April akibat biaya energi yang lebih tinggi. Ketegangan geopolitik juga meningkat setelah Iran menayangkan rekaman penyitaan kapal kargo di Selat Hormuz, sementara Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan kapal apa pun yang menambang jalur perairan tersebut.

Kami melihat pola yang mirip dengan April 2025, ketika EUR/GBP tertahan di bawah 0,8680 meski data ekonomi Inggris memberi sinyal campuran. Kini, pasangan ini bergerak tanpa arah yang jelas di sekitar 0,8590, saat pelaku pasar menimbang dorongan ekonomi yang saling bertentangan. Data terbaru dari Office for National Statistics menunjukkan volume penjualan ritel Inggris naik tipis 0,1% pada Maret 2026, menandakan konsumen masih tertekan.

Konvergensi Kebijakan dan Volatilitas Pasar

Kekhawatiran tahun lalu soal biaya energi dan pesimisme konsumen berubah, tetapi belum hilang. Meski guncangan energi besar pada 2025 sudah lewat, kepercayaan konsumen Inggris menurut GfK baru pulih ke -22 bulan ini, masih mencerminkan sentimen negatif. Dengan inflasi Inggris kini 2,9% per Maret 2026, Bank of England memberi sinyal penurunan suku bunga dipertimbangkan pada musim panas, berbalik dari sikap hawkish (hawkish, yaitu cenderung mengetatkan kebijakan/menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi) pada periode yang sama tahun lalu.

Perubahan arah Bank of England ini kini sejalan dengan Bank Sentral Eropa (ECB), yang juga diperkirakan mulai melonggarkan kebijakan (easing, yaitu menurunkan suku bunga atau membuat kebijakan lebih longgar) dalam beberapa bulan ke depan setelah inflasi Zona Euro turun ke 2,4% pada Maret. Konvergensi kebijakan ini menekan volatilitas (volatility, yaitu besarnya naik-turun harga) EUR/GBP, sehingga strategi range trading (range-trading, yaitu jual-beli dalam kisaran harga) atau menjual premi opsi (options premium, yaitu harga/biaya dari kontrak opsi) bisa relevan untuk sementara. Pelaku pasar perlu siap terhadap breakout (breakout, yaitu pergerakan menembus batas kisaran) jika salah satu bank sentral memberi sinyal penurunan suku bunga yang lebih agresif dibanding yang lain.

Ketegangan geopolitik khusus 2025 terkait Iran kini bergeser menjadi kekhawatiran baru atas rantai pasok global (supply chains, yaitu jaringan produksi dan distribusi barang) dan biaya pengiriman karena ketidakstabilan maritim di Laut Merah. Risiko ini membuat lonjakan inflasi mendadak tetap menjadi ancaman utama, yang bisa cepat mengubah arah suku bunga. Karena itu, menyimpan posisi long volatilitas (long volatility, yaitu posisi yang diuntungkan jika volatilitas naik) melalui derivatif (derivatives, yaitu instrumen keuangan turunan seperti opsi dan futures) dapat menjadi lindung nilai (hedge, yaitu pengaman risiko) terhadap guncangan ekonomi tak terduga yang mengganggu kondisi volatilitas rendah saat ini.

Tim Danske melaporkan saham global melemah tipis; sektor teknologi tertinggal setelah saham perangkat lunak turun, sementara saham value mengungguli saham siklikal

Saham global ditutup turun 0,4% seiring melemahnya minat terhadap aset berisiko. Saham value (saham berfundamental kuat dengan valuasi relatif murah dan mengandalkan laba saat ini) berbalik dari penurunan Rabu dan mengungguli saham siklikal (saham yang kinerjanya sangat mengikuti siklus ekonomi) dalam sesi yang lebih defensif (investor lebih memilih aset yang dianggap lebih aman).

Sektor teknologi menjadi yang terlemah, dipicu anjloknya saham perangkat lunak. Perusahaan perangkat lunak turun 5,1% pada hari itu.

Pasar Makin Defensif

Kontrak berjangka (futures, yaitu perjanjian jual-beli aset pada harga tertentu untuk waktu mendatang) mayoritas melemah, sementara futures Nasdaq bertahan setelah Intel merilis proyeksi yang didorong AI (kecerdasan buatan). Indeks saham Asia mayoritas diperdagangkan di zona merah.

Kami melihat pemisahan yang jelas di pasar ketika selera risiko memburuk. Sektor teknologi tertekan, tetapi pelemahan ini sangat terkonsentrasi pada saham perangkat lunak, yang turun lebih dari 5% dalam sehari setelah perusahaan besar melaporkan perlambatan penjualan. Kegelisahan ini tercermin pada CBOE Volatility Index (VIX, indeks yang mengukur ekspektasi volatilitas pasar dan sering disebut “indeks ketakutan”), yang naik kembali di atas 18, menandakan pelaku pasar membayar lebih mahal untuk perlindungan.

Sebagai respons, dana berputar ke saham value yang membalikkan kerugian sebelumnya. Sepanjang pekan ini, ETF berfokus value (Exchange Traded Fund, reksa dana yang diperdagangkan seperti saham di bursa) naik hampir 1%, sementara dana growth (saham pertumbuhan yang valuasinya lebih bertumpu pada potensi laba masa depan) turun lebih dari 2%, mengonfirmasi pergeseran defensif. Ini menunjukkan preferensi pada emiten dengan laba yang stabil saat ini dibanding perusahaan yang menjanjikan pertumbuhan di masa depan.

Posisi Opsi dan Ide Transaksi

Ini sangat berbeda dari reli luas saham teknologi yang terjadi pada sebagian besar 2025, ketika hampir semua saham terkait AI naik bersama. Proyeksi Intel yang kuat berbasis AI menunjukkan tema ini belum berakhir, tetapi pasar kini menuntut bukti profitabilitas (kemampuan menghasilkan laba). Mulai terlihat pemisahan yang jelas antara penyedia infrastruktur AI (misalnya chip dan pusat data) dan perusahaan perangkat lunak yang memakai teknologinya.

Pelaku pasar derivatif (instrumen turunan yang nilainya mengikuti aset acuan) dapat mempertimbangkan membeli opsi put (hak untuk menjual pada harga tertentu; umumnya dipakai untuk lindung nilai/hedging terhadap penurunan) pada ETF perangkat lunak seperti IGV untuk melindungi diri dari pelemahan lanjutan di area tersebut. Pada saat yang sama, kekuatan saham semikonduktor (produsen chip) dapat membuka strategi menjual cash-secured puts (menjual opsi put dengan dana tunai disiapkan untuk membeli saham jika dieksekusi) atau menggunakan bull call spread (strategi membeli call dan menjual call lain pada strike lebih tinggi untuk membatasi biaya dan potensi untung) pada perusahaan yang menunjukkan laba AI yang nyata. Ini membentuk potensi pairs trade (strategi memasang posisi berlawanan pada dua aset terkait), yaitu pesimistis pada aplikasi perangkat lunak sambil tetap optimistis pada perangkat keras AI yang menjadi fondasinya.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Setelah tiga sesi penurunan, GBP/USD stabil di dekat 1,3470 seiring penjualan ritel Inggris naik 0,7% pada Maret

GBP/USD stabil di dekat 1,3470 pada perdagangan Asia Jumat setelah tiga hari turun, bertahan di atas 1,3450. Pergerakan ini mengikuti rilis data Penjualan Ritel Inggris untuk Maret.

Penjualan Ritel Inggris naik 0,7% secara bulanan (month-on-month/m-m, artinya dibanding bulan sebelumnya) pada Maret setelah Februari direvisi turun 0,6%, lebih tinggi dari perkiraan 0,1%. Secara tahunan (year-on-year/y-y, artinya dibanding periode yang sama tahun lalu), Penjualan Ritel naik 1,7% pada Maret dibanding sebelumnya yang direvisi 1,8%, dan di atas ekspektasi 1,3%.

Rincian Penjualan Ritel Inggris

Penjualan Ritel Inti (Core Retail Sales), tidak termasuk bahan bakar kendaraan (auto fuel), naik 0,2% m-m setelah penurunan Februari direvisi 0,6%. Secara y-y, Penjualan Ritel inti naik 1,7% pada Maret, turun dari Februari yang direvisi 2,7%.

Pasangan ini diperdagangkan di sekitar 1,3465, sedikit di atas level terendah hampir dua pekan yang tercatat sehari sebelumnya. GBP/USD masih berada di bawah area 1,3600 dan di bawah puncak dua bulan di 1,3599.

Fokus pasar juga tertuju pada Timur Tengah, termasuk perpanjangan sementara gencatan senjata AS-Iran dan ketegangan terkait blokade AS terhadap pelabuhan Iran. Perselisihan AS-Iran mengenai Selat Hormuz (jalur pelayaran penting bagi pengiriman minyak) juga menjadi perhatian.

Prospek Kebijakan Bank Sentral

Bank of England (bank sentral Inggris) kini menahan suku bunga acuannya di 5,25%, dipertahankan beberapa bulan karena inflasi yang masih tinggi. Data terbaru dari Office for National Statistics menunjukkan Indeks Harga Konsumen (Consumer Prices Index/CPI, ukuran inflasi harga barang dan jasa) di 2,3%, masih di atas target 2%. Ini membuat pemangkasan suku bunga berikutnya belum pasti dan membatasi potensi penguatan Pound.

Di sisi lain, Federal Reserve (bank sentral AS) juga memberi sinyal suku bunga “tinggi lebih lama” (higher for longer, artinya suku bunga dipertahankan tinggi lebih lama) dengan suku bunga dana federal (federal funds rate, acuan bunga jangka pendek AS) di kisaran 5,25%–5,50%. Data ekonomi AS masih lebih kuat dibanding Inggris, sehingga menopang dolar. Selisih suku bunga ini membuat dolar lebih menarik bagi investor yang mengejar imbal hasil (yield-seeking, mencari return dari bunga).

Ketidakpastian dari kedua bank sentral berpotensi menjaga volatilitas (naik-turun harga) dalam beberapa pekan ke depan. Pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi) dapat mempertimbangkan membeli opsi (options, kontrak hak untuk membeli/menjual pada harga tertentu) untuk memanfaatkan pergerakan harga di sekitar rilis data penting, seperti laporan inflasi kedua negara. Volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan volatilitas yang tercermin pada harga opsi) berpotensi naik, sehingga strategi yang diuntungkan dari pergerakan harga, bukan arah, menjadi menarik.

Dengan kekuatan dolar yang masih dominan, antisipasi penurunan lanjutan atau pergerakan dalam rentang (range-bound, bolak-balik dalam kisaran) terlihat lebih aman. Salah satu opsi adalah membeli opsi jual (put option, hak menjual pada harga tertentu) untuk lindung nilai jika turun di bawah 1,2400. Alternatifnya, menjual opsi beli (call option, hak membeli) dengan harga kesepakatan (strike price, harga yang dikunci dalam kontrak) di sekitar resistance 1,2700 bisa menghasilkan premi (pendapatan dari penjualan opsi) jika pasangan ini gagal menembus lebih tinggi.

Ketegangan geopolitik terkait Iran telah berkembang menjadi ketidakpastian global yang terus mendukung dolar AS sebagai aset safe haven (aset yang dicari saat risiko tinggi). Pola serupa terlihat pada periode ketidakstabilan sebelumnya, seperti 2022. Kondisi ini mengindikasikan penguatan besar Pound Sterling kemungkinan tetap terbatas dalam jangka dekat.

Strategis UOB mengatakan pelemahan aktivitas Zona Euro menekan EUR/USD lebih rendah, berpotensi bergerak dalam kisaran 1,1665–1,1715 seiring momentum mereda

EUR/USD turun ke level terendah dua pekan di sekitar 1,1680, lalu sempat menyentuh 1,1668 pada sesi New York. Pasangan ini ditutup melemah 0,17% di 1,1683, dengan tekanan jual mulai mereda.

Dalam 24 jam ke depan, EUR/USD diperkirakan bergerak di kisaran 1,1665–1,1715. Level support (area penopang harga) berada di 1,1685 dan 1,1665, sementara resistance (area penghambat kenaikan) di 1,1715 dan 1,1750.

Kisaran Jangka Pendek dan Level Kunci

Dalam pandangan 1–3 minggu, EUR/USD masih diperkirakan bergerak dalam kisaran (range-bound: harga naik-turun di rentang tertentu tanpa tren jelas), awalnya di 1,1665–1,1840, lalu menyempit ke 1,1665–1,1795. Pelemahan terbaru ke 1,1668 membuat pasangan ini mendekati batas bawah kisaran tersebut.

Pergerakan menuju 1,1625 diperkirakan terjadi hanya jika EUR/USD menembus dan bertahan di bawah 1,1665. Risiko penembusan jelas di bawah 1,1665 masih ada selama 1,1750 belum terlampaui.

Kami mencermati level support 1,1665 pada EUR/USD, karena jika penembusan berlanjut (sustained break: harga turun melewati level dan bertahan), itu mengindikasikan peluang penurunan lanjutan. Pasangan ini melemah ke level terendah dua pekan pada 23 April 2025, dan tekanan turun meningkat. Untuk saat ini, harga kemungkinan tertahan dalam kisaran sempit 1,1665–1,1715.

Kelemahan teknikal ini didukung pelebaran perbedaan ekspektasi kebijakan bank sentral (policy divergence: arah kebijakan moneter AS dan Eropa makin tidak sejalan). Data inflasi AS Maret 2025 lebih tinggi dari perkiraan, memicu pembicaraan bahwa Federal Reserve (bank sentral AS) bisa lebih agresif menaikkan suku bunga atau menahan suku bunga tinggi lebih lama. Sebaliknya, komentar pejabat kebijakan Eropa mengarah pada pendekatan lebih hati-hati. Pola ini mengingatkan kondisi akhir 2021, saat inflasi AS yang meningkat mendorong dolar menguat luas.

Bagi trader yang menilai support 1,1665 akan jebol, membeli opsi put (kontrak turunan yang memberi hak—bukan kewajiban—untuk menjual pada harga tertentu) dengan strike price (harga kesepakatan) di sekitar 1,1650 atau 1,1600 bisa menjadi strategi yang sederhana. Strategi ini memungkinkan memperoleh keuntungan jika harga turun menuju target 1,1625, sambil membatasi risiko secara jelas. Biaya premi opsi (harga opsi) adalah kerugian maksimum bila pasangan ini berbalik naik.

Opsi dan Pertimbangan Strategi

Jika memperkirakan pasangan ini tetap bergerak dalam kisaran, menjual iron condor (strategi opsi yang menggabungkan dua spread: menjual spread put di bawah dan spread call di atas, untuk meraih premi saat harga bergerak datar) bisa menjadi pendekatan. Caranya: menjual put spread (dua opsi put untuk membatasi risiko) di bawah support 1,1665 dan menjual call spread (dua opsi call untuk membatasi risiko) di atas resistance 1,1750. Strategi ini diuntungkan oleh berlalunya waktu (time decay: nilai opsi berkurang seiring waktu) dan volatilitas rendah, selama EUR/USD tetap berada dalam kisaran tersebut.

Risiko utama untuk pandangan bearish ini adalah resistance 1,1750. Jika harga naik menembus level ini, itu menandakan tekanan turun mereda. Posisi derivatif short (taruhan penurunan melalui instrumen turunan) perlu dievaluasi ulang atau dilindungi (hedging: mengurangi risiko dengan posisi penyeimbang) bila pasangan ini menembus level itu secara tegas dalam beberapa hari ke depan.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code