Back

Bob Savage dari BNY mengatakan konflik Iran mendorong kenaikan Brent, sementara IEA memperkirakan pasar gas global yang ketat berlanjut selama dua tahun

Harga minyak naik, dengan Brent menguat karena perang Iran mengganggu pasokan energi. Pasar minyak dan gas dipakai sebagai petunjuk kondisi pasar yang lebih luas.

Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan pasar gas alam global diperkirakan tetap ketat setidaknya dua tahun lagi. Perang ini juga menunda ekspansi LNG (gas alam cair, yaitu gas yang didinginkan hingga menjadi cair agar mudah diangkut) yang sebelumnya diperkirakan terjadi.

Gangguan Pasokan dan Dampaknya ke Pasar

Konflik ini menghilangkan sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG global. Kerusakan pada fasilitas Qatar menurunkan kapasitas pencairan (kemampuan mengubah gas menjadi LNG) dan bisa memakan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki, sehingga menunda pertumbuhan pasokan baru yang dipimpin AS.

IEA memperkirakan kekurangan kumulatif sekitar 120 miliar meter kubik pada 2026-2030. Ini menandakan pasar tetap ketat pada periode tersebut.

Permintaan gas melemah di wilayah importir utama, terutama Asia. Harga yang lebih tinggi dan kebijakan pemerintah mendorong peralihan bahan bakar (fuel switching, yaitu berpindah dari gas ke sumber energi lain) dan menekan konsumsi.

Minyak tetap menjadi fokus utama pasar, dengan konflik yang berlanjut menjaga harga tetap tinggi. Minyak Brent bertahan di atas US$115 per barel, level yang belum bertahan lama sejak gejolak 2022. Kami melihat peluang membeli call option berjangka panjang (opsi beli dengan jatuh tempo lebih lama, memberi hak membeli di harga tertentu) untuk menangkap potensi kenaikan sambil membatasi risiko.

Kondisi ini mirip dengan 2022 setelah invasi Ukraina. Pada 2025, banyak yang mengira premi risiko geopolitik (tambahan harga karena risiko perang/sanksi) akan mereda, tetapi konflik Iran membuktikan guncangan dari sisi pasokan kembali dominan. Ini mengarah pada pergerakan harga yang tajam dan sulit diprediksi dalam beberapa bulan ke depan.

Volatilitas Opsi dan Posisi Perdagangan

Situasi gas alam lebih kritis, terutama karena kerusakan fasilitas LNG Qatar. Saat harga TTF Eropa (patokan harga gas di Eropa) diperdagangkan di atas US$35/MMBtu (MMBtu adalah satuan energi untuk gas), selisihnya dengan Henry Hub AS (patokan harga gas di AS) tetap sangat lebar, mencerminkan perebutan pasokan dari luar wilayah konflik. Harapan pasokan tambahan dari terminal ekspor AS (fasilitas untuk mengirim LNG ke luar negeri) kini mundur lebih jauh, sehingga pasar tetap ketat setidaknya hingga 2028.

Volatilitas (besarnya naik-turun harga) yang tinggi membuat membeli opsi secara langsung menjadi sangat mahal. Strategi yang bisa dipertimbangkan antara lain menjual cash-secured put saat harga turun tajam (menjual opsi jual dengan dana tunai disiapkan untuk membeli jika dieksekusi) atau memakai vertical spread (membeli dan menjual opsi pada strike price berbeda untuk menekan biaya masuk) untuk posisi yang mengincar kenaikan. Implied volatility (perkiraan volatilitas yang tercermin dalam harga opsi) pada kontrak bulan terdekat konsisten di atas 40%, membuka peluang mengambil premi (pendapatan dari menjual opsi).

Kami juga perlu memantau sisi permintaan, karena harga tinggi mulai memukul konsumsi di Asia. Data purchasing managers’ index/PMI (indeks aktivitas manufaktur, sering jadi indikator awal permintaan energi) dari pasar negara berkembang utama menunjukkan pelemahan tipis di manufaktur. Ini bisa membatasi kenaikan harga, sehingga posisi beli futures (kontrak berjangka yang mewajibkan transaksi di masa depan) tanpa stop-loss (batas rugi otomatis) menjadi berisiko.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Kazimir: ECB Mungkin Perlu Kenaikan Suku Bunga Kecil, Menurut Bloomberg, pada Jam Perdagangan Eropa

Peter Kazimir, anggota Dewan Gubernur ECB dan Gubernur bank sentral Slovakia, mengatakan kenaikan suku bunga kecil diperlukan, menurut Bloomberg. Ia juga memperingatkan perang Iran masih bisa menekan pertumbuhan global.

EUR/USD naik 0,1% mendekati 1,1700 pada perdagangan Eropa Jumat. Kenaikan ini terkait pelemahan ringan Dolar AS.

Peran dan Mandat Bank Sentral Eropa (ECB)

Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) berbasis di Frankfurt dan menetapkan suku bunga untuk Zona Euro. Tugas utamanya menjaga stabilitas harga, dengan target inflasi sekitar 2%.

ECB terutama memakai suku bunga untuk mengendalikan inflasi. Suku bunga lebih tinggi sering mendukung Euro. Kebijakan ditetapkan Dewan Gubernur dalam delapan rapat setiap tahun.

Quantitative easing (pelonggaran kuantitatif/QE) adalah langkah bank sentral “menciptakan” uang Euro untuk membeli aset seperti obligasi pemerintah atau obligasi perusahaan (surat utang). Langkah ini biasanya melemahkan Euro karena jumlah uang beredar bertambah dan imbal hasil obligasi turun. ECB memakai QE pada 2009-11, 2015, dan saat pandemi Covid.

Quantitative tightening (pengetatan kuantitatif/QT) adalah kebalikannya: ECB menghentikan pembelian obligasi baru dan tidak lagi menanamkan kembali dana dari obligasi yang jatuh tempo. QT biasanya mendukung Euro karena likuiditas (ketersediaan uang di pasar) berkurang.

Implikasi Pasar dan Rencana Transaksi

Komentar pertengahan 2025 ini memberi sinyal arah langkah ECB pada akhir tahun tersebut. ECB memang menaikkan suku bunga tipis pada September 2025 untuk menahan inflasi. Keputusan itu terjadi saat ketidakpastian geopolitik membuat harga energi naik-turun hingga akhir tahun.

Kini, akhir April 2026, situasinya sulit karena inflasi tetap tinggi, terakhir 2,8% di Zona Euro. Ini masih di atas target 2% ECB, sehingga peluang kenaikan suku bunga kembali terbuka. Namun, data terbaru menunjukkan produksi industri Jerman datar pada kuartal pertama, menandakan ekonomi tertekan oleh suku bunga tinggi.

Ketidakpastian ini mendorong kenaikan implied volatility (perkiraan volatilitas dari harga opsi, yang mencerminkan ekspektasi pasar atas besar kecilnya pergerakan harga) pada opsi Euro. Dengan CBOE EuroCurrency Volatility Index (EVZ)—indeks yang mengukur volatilitas tersirat untuk Euro—naik hampir 15% dalam sebulan terakhir, muncul peluang membeli straddle atau strangle pada EUR/USD. Straddle adalah strategi membeli opsi beli (call) dan opsi jual (put) pada harga kesepakatan yang sama, sedangkan strangle membeli call dan put dengan harga kesepakatan berbeda. Keduanya bisa untung jika harga bergerak besar ke salah satu arah, yang dinilai mungkin setelah rapat ECB berikutnya.

Bagi pelaku pasar derivatif suku bunga (instrumen turunan, nilainya mengikuti pergerakan suku bunga), pasar kontrak berjangka (futures) saat ini memperkirakan peluang sekitar 40% untuk kenaikan 25 basis poin hingga Juli. Basis poin adalah 0,01%, sehingga 25 basis poin sama dengan 0,25%. Perbedaan ekspektasi ini membuat posisi di kontrak berjangka suku bunga jangka pendek—seperti kontrak Euribor tiga bulan (patokan suku bunga pinjaman antarbank di Zona Euro)—bisa menjadi langkah taktis. Pernyataan ECB yang lebih hawkish (cenderung mendukung pengetatan, seperti kenaikan suku bunga untuk menekan inflasi) dapat memicu repricing cepat, yaitu penyesuaian harga pasar secara mendadak.

Ketegangan geopolitik menghambat pengambilan risiko, menopang penguatan dolar AS; DXY bertahan di kisaran 99,00, naik 0,4% dalam sepekan

Dolar AS tetap kuat terhadap mata uang utama pada Jumat, dengan Indeks Dolar AS (DXY) bertahan di kisaran atas 98,00. DXY berpeluang naik 0,4% sepanjang pekan karena ketegangan AS-Iran meningkat dan minat mengambil risiko melemah.

Presiden AS memperpanjang gencatan senjata pekan ini, sementara Iran tetap menutup Selat Hormuz selama delapan pekan dan militer AS melanjutkan blokade pelabuhan-pelabuhan Iran. Pembicaraan damai masih buntu, tanpa jadwal putaran baru yang sebelumnya diperkirakan berlangsung pekan ini.

Tekanan Terhadap Iran Meningkat

Pada Kamis, Presiden AS menyatakan di media sosial bahwa Iran memiliki waktu terbatas untuk mencapai kesepakatan damai. Israel mengatakan akan meningkatkan tindakan terhadap Iran jika disetujui AS.

Wakil Presiden Iran, Esmaeil Saqab Esfahani, memperingatkan kemungkinan pembalasan terhadap AS. Ia juga mengatakan Iran dapat menyerang fasilitas minyak di kawasan Teluk jika situs energi Iran menjadi sasaran.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine menjadwalkan konferensi pers pukul 08:00 ET (12:00 GMT) terkait Operation Epic Fury. Data AS juga mendukung dolar, dengan PMI awal (indikator cepat aktivitas bisnis) S&P Global April menunjukkan aktivitas solid dan klaim pengangguran naik terbatas, menandakan pasar tenaga kerja tetap stabil.

Menjelang pengumuman “Operation Epic Fury”, pasar berpotensi mengalami lonjakan volatilitas besar (naik-turun harga yang lebih tajam). Ini biasanya mendorong minat pada opsi (kontrak hak beli/jual) seperti straddle pada S&P 500, yaitu strategi membeli opsi beli dan opsi jual sekaligus agar dapat untung jika harga bergerak besar ke salah satu arah. VIX (indeks “ketakutan” pasar yang mengukur perkiraan volatilitas) sempat melonjak di atas 35 saat awal konflik Ukraina, dan reaksi serupa dinilai mungkin terjadi.

Implikasi Perdagangan Dan Penempatan Posisi

Penutupan Selat Hormuz yang berlanjut—jalur sempit penting yang dilalui hampir seperlima pasokan minyak global—membuat posisi beli (long) pada futures minyak mentah (kontrak berjangka untuk membeli/menjual minyak pada harga dan tanggal tertentu) terlihat menarik. Opsi call (hak untuk membeli pada harga tertentu) pada Brent dapat menjadi cara “berpengungkit” (potensi untung/rugi lebih besar karena memakai premi relatif kecil) untuk memanfaatkan risiko gangguan pasokan bila ada aksi militer langsung. Sebagai gambaran, saat ketegangan geopolitik memanas di Teluk pada 2025, Brent melonjak 15% dalam kurang dari sepekan.

Kekuatan dolar AS didorong arus “flight to safety” (perpindahan dana ke aset yang dianggap aman) dan data domestik yang solid, dengan laporan pekerjaan Maret 2026 menunjukkan kenaikan 215.000 pekerjaan. Ini biasanya membuat pelaku pasar mempertimbangkan membeli futures DXY atau menjual futures EUR/USD, karena dana terus mengalir ke aset AS. Secara historis, DXY pernah naik dari kisaran rendah 90 ke atas 103 dalam kondisi “risk-off” (pasar menghindari risiko) yang dipicu konflik.

Dengan peluang eskalasi konflik yang tinggi, pasar saham berisiko melemah. Membeli opsi put (hak untuk menjual pada harga tertentu) pada Nasdaq 100 dapat menjadi lindung nilai terhadap penurunan saham teknologi yang sensitif terhadap perlambatan. Pada saat yang sama, opsi call pada ETF emas (reksa dana berbasis bursa yang mengikuti harga emas) cenderung diuntungkan, karena emas biasanya dicari sebagai aset aman dan didukung risiko inflasi dari kenaikan harga minyak.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Bank Sentral Rusia Pertahankan Suku Bunga Acuan di 14,5%, Sesuai Perkiraan Ekonom dan Ekspektasi Pasar

Bank sentral Rusia menetapkan suku bunga acuan di 14,5%, sesuai perkiraan. Keputusan ini membuat biaya pinjaman dan imbal hasil tabungan yang mengacu pada patokan ini tetap.

Suku bunga acuan menjadi rujukan untuk penetapan suku bunga kredit, deposito, dan kondisi pembiayaan di seluruh ekonomi. Pasar sudah memperkirakan hasil 14,5% sebelum pengumuman.

Volatilitas Rubel Berpotensi Mereda

Keputusan bank sentral untuk menahan suku bunga acuan di 14,5% sudah banyak diperkirakan, sehingga tidak menimbulkan kejutan. Kepastian ini berpotensi menurunkan volatilitas tersirat (perkiraan gejolak harga ke depan yang tersirat dari harga opsi) pada rubel dalam jangka pendek. Pelaku pasar dapat mempertimbangkan menjual opsi (kontrak hak jual/beli valuta pada harga tertentu), seperti strangle (strategi menjual atau membeli dua opsi: call dan put dengan harga pelaksanaan berbeda) pada pasangan USD/RUB, untuk memanfaatkan potensi periode pergerakan kurs yang lebih tenang.

Suku bunga tinggi ini tetap menjadi “jangkar” bagi rubel secara teori, meski kontrol modal (pembatasan arus keluar-masuk dana lintas negara) membatasi carry trade (strategi meminjam dalam mata uang bersuku bunga rendah untuk membeli mata uang bersuku bunga tinggi). Nilai tukar USD/RUB bertahan stabil di kisaran sempit 90–92 sepanjang sebagian besar kuartal terakhir. Ini mengindikasikan spekulasi arah yang bertaruh pada pelemahan rubel besar-besaran kecil kemungkinan menghasilkan keuntungan dalam beberapa pekan ke depan.

Sikap hawkish (cenderung ketat: mengutamakan pengetatan kebijakan untuk menahan inflasi) bank sentral didorong inflasi yang masih tinggi, sekitar 7,5%, jauh di atas target 4%. Ini memberi sinyal pemangkasan suku bunga masih jauh, dan biasanya tercermin pada kontrak berjangka suku bunga (instrumen derivatif untuk berspekulasi atau melindungi nilai atas arah suku bunga). Pelaku pasar cenderung memasang skenario “tinggi lebih lama”, dan menghindari posisi yang bergantung pada pelonggaran kebijakan dalam waktu dekat.

Faktor eksternal, terutama harga energi, turut menopang stabilitas. Dengan minyak Brent (patokan harga minyak global) konsisten diperdagangkan di atas US$90 per barel tahun ini, penerimaan negara tetap kuat dan mengurangi tekanan pada mata uang. Ini memperkuat prospek rubel yang dikelola dan relatif stabil, sehingga strategi derivatif berbasis perdagangan dalam rentang (range-bound: memanfaatkan pergerakan bolak-balik dalam kisaran tertentu) menjadi lebih menarik.

Perdagangan Rentang Masih Diunggulkan

Periode tenang ini berbeda dengan gejolak yang sempat terjadi pada 2025 ketika bank sentral melakukan kenaikan suku bunga agresif untuk meredam lonjakan inflasi. Langkah tersebut membentuk stabilitas saat ini, sehingga fokus bank sentral kini tampaknya menjaga kondisi tetap seperti sekarang. Untuk sementara, pendekatannya adalah memperdagangkan rentang, bukan berspekulasi pada penembusan kisaran (breakout: harga menembus batas atas atau bawah rentang).

Harga minyak yang lebih tinggi dan arus keluar dana asing menekan rupee, memperpanjang pelemahan lima sesi beruntun terhadap dolar AS

Rupee India turun untuk sesi kelima berturut-turut pada Jumat, dengan USD/INR mendekati level tertinggi sepekan di 94,38. Indeks Dolar AS (pengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) berada di sekitar 99,00, dekat level tertinggi 10 hari.

Harga minyak naik setelah Iran menghentikan aliran minyak melalui Selat Hormuz, jalur penting yang mengangkut hampir 20% pasokan energi global. WTI (minyak mentah patokan AS) diperdagangkan di sekitar US$95,00 sambil mempertahankan kenaikan mingguan.

Rupee Tertekan Akibat Guncangan Energi

Iran belum menyetujui untuk memulai kembali pembicaraan damai dengan AS, dan laporan CNN menyebut pejabat militer AS menyiapkan rencana untuk menyerang kemampuan Iran di sekitar selat tersebut jika gencatan senjata saat ini gagal. Kenaikan harga minyak terus menekan mata uang negara pengimpor energi seperti INR (rupee India), karena biaya impor meningkat.

Investor institusi asing (foreign institutional investors/FII, investor besar dari luar negeri) menjadi penjual bersih sepanjang empat hari perdagangan pekan ini, melepas saham senilai Rp8.311,99 crore (satuan India; 1 crore = 10 juta). Aksi jual kembali terjadi setelah sempat jeda pada tiga sesi terakhir pekan sebelumnya, seiring kekhawatiran terhadap laba perusahaan dan kemungkinan perubahan belanja modal pemerintah.

Pasar menanti keputusan Federal Reserve (bank sentral AS) pada Rabu, dengan suku bunga diperkirakan tetap di 3,50%–3,75%. Fokus tertuju pada arahan kebijakan (guidance) terkait risiko inflasi dan potensi kenaikan suku bunga akhir tahun ini.

USD/INR diperdagangkan di atas 94,20, di atas EMA 20-periode (Exponential Moving Average, rata-rata bergerak yang memberi bobot lebih besar pada harga terbaru) di 93,35. RSI (14) sebesar 59 (Relative Strength Index, indikator momentum untuk melihat kuat-lemahnya pergerakan), dengan area dukungan di 93,35 dan hambatan di sekitar 95,20.

Wakil Presiden Iran Peringatkan AS soal Pembalasan, Ancam Serang Fasilitas Minyak di Negara yang Menjadi Basis Serangan

Wakil presiden Iran, Esmaeil Saqab Esfahani, memperingatkan Amerika Serikat soal pembalasan “mata dibalas mata” terkait serangan ke fasilitas minyak, menurut kantor berita Mehr, seperti dikutip The Guardian. Ia mengatakan Iran akan menyerang fasilitas minyak di negara-negara yang wilayahnya digunakan untuk menargetkan sumur minyak Iran.

Esfahani mengatakan tim perunding Teheran telah “mencekik lawan di meja perundingan”. Ia juga menyebut warga Iran tidak perlu khawatir soal pasokan energi karena “pengaturan yang diperlukan” sudah dibuat.

Operation Epic Fury Briefing

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan (Joint Chiefs of Staff) Dan Caine mengatakan mereka akan menggelar konferensi pers tentang Operation Epic Fury, yang digambarkan sebagai pengeboman Iran. Pengarahan dijadwalkan pukul 08.00 ET (12.00 GMT).

Brent WTI Spread Signals

Trader juga perlu memantau indikator struktur pasar seperti selisih harga Brent–WTI (Brent-WTI spread). Selisih ini melebar hingga di atas US$7, mencerminkan risiko geopolitik yang terkonsentrasi di Timur Tengah yang lebih langsung memengaruhi harga Brent. Kondisi ini membuka peluang transaksi untuk bertaruh selisih tersebut makin melebar jika ketegangan meningkat.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Di tengah sentimen risk-off, harga perak turun di bawah US$74 seiring dolar AS menguat dan kekhawatiran di Timur Tengah membebani

Perak (XAG/USD) turun untuk hari kedua pada Jumat karena Dolar AS tetap kuat dan harapan konflik di Timur Tengah cepat berakhir mereda. Harga diperdagangkan di US$74,65 setelah sempat menyentuh level terendah 10 hari di US$73,95, dan berada di jalur penurunan hampir 7% dalam sepekan.

Logam mulia tetap lemah di tengah kebuntuan proses perdamaian AS-Iran, yang mendukung permintaan terhadap Dolar AS. Gencatan senjata masih belum terwujud, sementara penyitaan kapal kargo oleh AS dan Iran menambah ketegangan.

Ketegangan Timur Tengah dan Risiko Minyak

Perkembangan ini mengurangi peluang pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat dan membuat harga minyak mentah tetap tinggi, sehingga menambah risiko resesi (perlambatan ekonomi yang bisa berujung kontraksi). Dalam analisis teknikal (membaca pergerakan harga melalui grafik), XAG/USD menembus ke bawah kanal naik (pola pergerakan harga yang cenderung naik dalam “lorong” garis tren) sejak akhir Maret dan memperpanjang penurunan dari sekitar US$78,50.

RSI (Relative Strength Index, indikator untuk mengukur apakah harga sudah terlalu banyak dijual atau dibeli) mendekati area jenuh jual, sementara MACD (indikator yang mengukur arah tren dan momentum) tetap negatif. Support (area penopang harga yang sering menahan penurunan) terlihat di level Fibonacci retracement 38,2% di US$74,60—Fibonacci retracement adalah alat teknikal untuk memperkirakan area support/resistance dari persentase koreksi pergerakan harga. Level berikutnya berada di kisaran US$72,61 hingga sedikit di atas US$72,00, dengan resistance (area hambatan kenaikan) dekat US$75,60 dan US$78,60.

Perak digunakan sebagai penyimpan nilai dan diperdagangkan melalui kepemilikan fisik atau ETF (Exchange Traded Fund, produk investasi yang diperdagangkan di bursa dan mengikuti harga aset acuan). Harga dapat dipengaruhi oleh Dolar AS, suku bunga, kondisi geopolitik, inflasi, pasokan dari tambang, daur ulang, permintaan industri seperti elektronik dan panel surya, serta pergerakan emas dan rasio emas/perak (perbandingan harga emas terhadap perak).

Kami melihat perak masih berada dalam tekanan, diperdagangkan di sekitar US$74,65 seiring ketegangan AS-Iran mendorong investor ke Dolar AS. Indeks Dolar (DXY, ukuran kekuatan Dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama) saat ini bertahan di atas 107,50, level tertinggi kuartal ini, yang menekan aset berdenominasi dolar seperti perak. Kondisi ini terkait kegagalan de-eskalasi (upaya menurunkan ketegangan) di Selat Hormuz, sehingga pasar tetap waspada.

Opsi dan Ide Posisi

Dari sisi teknikal, setelah harga menembus kanal naik sejak akhir Maret dan gagal bertahan di support US$78,50, penjual mengendalikan pasar. Target berikutnya adalah titik terendah 12 April di US$72,61 dan area support sedikit di atas US$72,00. Dengan momentum ini, dapat dipertimbangkan pembelian opsi put (kontrak yang memberi hak untuk menjual pada harga tertentu; biasanya dipakai untuk mencari untung saat harga turun atau melindungi risiko) dengan strike price (harga kesepakatan dalam kontrak opsi) di sekitar US$73,00 untuk mengantisipasi penurunan lanjutan dalam beberapa pekan.

Pandangan negatif ini didukung data terbaru yang menunjukkan perlambatan 3% permintaan perak industri pada kuartal I 2026, terutama akibat pertumbuhan manufaktur elektronik yang lebih lambat. Laporan Commitment of Traders (laporan posisi pelaku pasar di bursa berjangka) juga menunjukkan managed money (manajer dana spekulatif seperti hedge fund) mengurangi posisi net-long (posisi beli bersih, yaitu jumlah posisi beli dikurangi posisi jual) perak untuk minggu ketiga berturut-turut. Ini menandakan spekulan besar mulai mengurangi keyakinan terhadap peluang kenaikan dalam waktu dekat.

Rasio emas/perak juga dipantau, yang naik ke 88:1, level yang tidak terlihat sejak akhir 2025. Meski rasio tinggi dapat mengindikasikan perak relatif “murah” dibanding emas dalam jangka panjang, tren jangka pendek tetap turun. Pola ini mengingatkan pada fase konsolidasi (pergerakan mendatar sebelum tren baru) akhir 2024, ketika perak menghapus sebagian kenaikan sebelum menemukan dasar baru.

Dengan data inflasi AS pekan lalu menunjukkan laju tahunan 3,1% yang masih bertahan, ekspektasi penurunan suku bunga dalam waktu dekat oleh Federal Reserve (bank sentral AS) melemah. Sebagai aset tanpa imbal hasil (non-yielding, tidak memberi bunga/kupon), perak berpotensi sulit menarik pembeli saat suku bunga bertahan tinggi lebih lama. Ini membuat strategi menjual opsi call out-of-the-money (opsi beli dengan strike di atas harga pasar saat ini; biasanya dipakai untuk meraih premi) di atas resistance kunci US$78,60 menjadi opsi untuk mengumpulkan premi (penerimaan dari penjualan opsi) selama harga masih tertahan.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Strategis UOB Memperkirakan AUD/USD Akan Berkonsolidasi Setelah Turun ke 0,7111, dengan Harga Ditutup Dekat 0,7130

AUD/USD sempat turun ke 0,7111 sebelum berbalik naik dan ditutup di 0,7129 (-0,45%). Pasangan ini masih di sekitar 0,7130 dan disebut tetap berada dalam fase konsolidasi (bergerak menyamping dalam kisaran sempit).

Untuk 24 jam ke depan, pergerakan diperkirakan tetap terbatas dalam kisaran 0,7110 hingga 0,7160. Penurunan ke 0,7111 diikuti pemulihan cepat, tanpa tanda jelas peningkatan momentum turun (tekanan jual yang makin kuat).

Near Term Range Outlook

Dalam satu hingga tiga minggu ke depan, pergerakan harga diperkirakan tetap berada dalam kisaran lebih lebar 0,7080 hingga 0,7180. Ini mengikuti pandangan sebelumnya pada Senin (20 Apr), saat harga spot (harga saat ini di pasar) di 0,7130, yang memperkirakan kisaran 0,7060 hingga 0,7210.

Bias turun jangka lebih panjang (kecenderungan arah turun) masih dicatat.

Tahun lalu, pada April 2025, kami mencatat dolar Australia tertahan dalam fase konsolidasi yang tenang di sekitar 0,7130. Kami memperkirakan pergerakan pada minggu-minggu berikutnya akan berada dalam kisaran ketat 0,7080 hingga 0,7180. Periode volatilitas rendah (naik-turun harga kecil) itu pada akhirnya berakhir dengan penurunan, sejalan dengan bias jangka panjang saat itu.

Pendorong utama penembusan ke bawah adalah melebar-nya selisih suku bunga antara AS dan Australia (interest rate differential: perbedaan tingkat bunga yang memengaruhi arus dana). Ketika Reserve Bank of Australia menurunkan suku bunga acuannya (cash rate: suku bunga patokan) ke 4,10% untuk menopang ekonomi yang melambat, Federal Reserve AS mempertahankan suku bunga di 5,25% untuk menekan inflasi yang masih bertahan, terakhir berada di 3,1%. Perbedaan ini membuat aset berbasis dolar AS lebih menarik dibanding dolar Australia, sehingga menekan pasangan ini ke level saat ini di sekitar 0,6650.

Selain itu, pelemahan harga komoditas membebani dolar Australia, karena nilainya erat terkait dengan ekonomi ekspor. Harga bijih besi, misalnya, turun lebih dari 15% dari puncak awal 2025 dan kini diperdagangkan di sekitar US$105 per ton di tengah kekhawatiran permintaan global. Ini mengurangi penopang penting yang sebelumnya membantu mata uang tersebut tahun lalu.

Derivative And Trade Positioning

Bagi pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures), tren turun yang sudah terbentuk ini membuat strategi menjual opsi call (call option: hak membeli pada harga tertentu; menjual call berarti mendapat premi namun rugi jika harga naik tajam) dinilai layak untuk beberapa minggu ke depan. Karena pasangan ini sulit kembali ke level yang lebih tinggi, menjual call out-of-the-money (harga strike di atas harga pasar saat ini) dengan strike price (harga kesepakatan) di sekitar area resistance 0,6800 dapat menghasilkan pendapatan dari peluruhan premi (premium decay: nilai opsi cenderung turun seiring waktu jika harga tidak bergerak menguntungkan). Strategi ini diuntungkan bila AUD/USD bergerak mendatar atau turun.

Sebagai alternatif, trader yang memiliki pandangan arah lebih kuat dapat memanfaatkan reli (kenaikan sementara) untuk masuk posisi short (bertaruh harga turun) menggunakan kontrak futures (kontrak berjangka: perjanjian jual/beli di masa depan pada harga tertentu). Berbeda dengan 2025 ketika memperdagangkan dua sisi kisaran masih memungkinkan, kondisi saat ini lebih mendukung strategi menjual saat ada penguatan sementara. Area support (level penahan penurunan) teknikal sekaligus psikologis berikutnya berada di sekitar 0,6500.

Kewaspadaan tetap diperlukan terhadap rilis data ekonomi penting yang bisa mengganggu tren ini, terutama laporan inflasi AS dan data ketenagakerjaan Australia berikutnya. Kenaikan tak terduga pada pertumbuhan tenaga kerja Australia atau penurunan cepat inflasi AS dapat memicu pembalikan tajam, meski kemungkinan sementara. Karena itu, posisi bearish (posisi yang diuntungkan saat harga turun) perlu dikelola dengan stop-loss (batas rugi otomatis untuk membatasi kerugian) yang jelas.

Schlegel: Bank Nasional Swiss Bebas Menyesuaikan Suku Bunga dan Telah Melakukan Intervensi Valas

Ketua SNB Martin Schlegel mengatakan dalam Rapat Umum SNB pada Jumat bahwa bank sentral memiliki ruang gerak tanpa batas untuk bertindak pada suku bunga kebijakan dan melakukan intervensi valuta asing (aksi bank sentral membeli/menjual mata uang di pasar untuk memengaruhi nilai tukar).

Ia mengatakan konflik di Timur Tengah diperkirakan menahan pertumbuhan ekonomi Swiss. Ia menambahkan SNB akan menyesuaikan kebijakan moneter (kebijakan mengatur suku bunga dan jumlah uang beredar) bila diperlukan.

Risiko Inflasi dan Intervensi

Schlegel mengatakan harga energi yang lebih tinggi akan mendorong inflasi Swiss naik. Ia juga menyebut kemauan SNB untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing meningkat karena konflik.

Setelah pernyataan tersebut, franc Swiss menguat tipis. USD/CHF sedikit turun ke sekitar 0,7860.

Bank Nasional Swiss memberi sinyal sikap lebih tegas untuk menopang franc, sehingga membatasi kenaikan pasangan seperti USD/CHF (menciptakan “batas atas” atau ceiling). Kami menilai meningkatnya kesiapan intervensi membuat strategi menjual opsi yang diuntungkan saat USD/CHF naik (menjual “potensi kenaikan”) menjadi menarik. Ini mengarah pada strategi menjual call spread (strategi opsi: menjual opsi beli/call dan membeli call lain di harga yang lebih tinggi untuk membatasi risiko) untuk memanfaatkan kenaikan yang tampak tertahan di sekitar level 0,7900.

Pandangan ini diperkuat statistik terbaru yang menunjukkan inflasi Swiss naik ke 1,5% pada Maret, didorong harga minyak mentah Brent (patokan harga minyak global) yang kembali di atas US$100 per barel. Pasar opsi (pasar kontrak yang memberi hak beli/jual aset pada harga tertentu) sudah mencerminkan pergeseran ini, karena risk reversal satu bulan (indikator selisih harga opsi call dan put yang menunjukkan bias arah pasar) kini menunjukkan premi lebih tinggi untuk penguatan franc dibanding pekan lalu. Ini menandakan pelaku pasar aktif mengubah posisi untuk mengantisipasi SNB mempertahankan mata uangnya (mencegah franc melemah).

Prospek Suku Bunga dan Volatilitas

Pasar juga bisa jadi meremehkan risiko SNB menahan jeda pemangkasan suku bunga, terutama setelah memangkas suku bunga ke 1,25% bulan lalu. Peringatan bank sentral soal harga energi dan “ruang gerak tanpa batas” menunjukkan arah suku bunga tidak lagi otomatis turun. Karena itu, perlu memantau swap suku bunga Swiss jangka pendek (kontrak tukar arus bunga tetap vs mengambang, sering dipakai untuk mengukur ekspektasi suku bunga) yang berpotensi kembali dipatok lebih tinggi dalam beberapa pekan ke depan.

Kami pernah melihat SNB mengambil langkah drastis, seperti saat melepas patokan (pegging) franc terhadap euro pada 2015, yang memicu volatilitas pasar ekstrem (gejolak harga yang tajam). Riwayat ini menunjukkan ancaman intervensi SNB perlu diperhatikan serius oleh pasar. Retorika saat ini memang tidak sedramatis itu, namun polanya mirip: memperingatkan pasar agar tidak melawan arah kebijakan.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Iklim Bisnis IFO Jerman turun ke 84,4 pada April, meleset dari perkiraan, memburuk lebih cepat dibandingkan capaian Maret

Indeks Iklim Bisnis IFO Jerman turun ke 84,4 pada April. Angka ini diperkirakan 85,5 dan turun dari 86,3 pada Maret, yang direvisi dari 86,4.

Indeks Penilaian Kondisi Saat Ini (IFO Current Assessment Index) turun ke 85,4. Ini dibandingkan dengan perkiraan 86,2 dan angka sebelumnya 86,7.

Ekspektasi IFO Jerman Melemah

Indeks Ekspektasi (Expectations Index) turun ke 83,3. Angka ini diproyeksikan 85,0 dan turun dari 85,9, yang direvisi dari 86,0.

Setelah rilis, euro mengalami tekanan jual ringan. EUR/USD (nilai tukar euro terhadap dolar AS) mendatar di sekitar 1,1685 pada saat penulisan.

Dengan kondisi ini, pasar derivatif (instrumen turunan, yaitu produk keuangan yang nilainya mengikuti aset acuan seperti mata uang atau indeks) mengindikasikan potensi pelemahan euro. Salah satu strategi adalah membeli opsi jual (put option, hak untuk menjual pada harga tertentu) pada EUR/USD untuk memanfaatkan penurunan dengan risiko yang sudah dibatasi pada premi opsi. Jika data ekonomi terus mengecewakan, pasangan ini bisa menguji area dukungan (support, level harga yang sering menahan penurunan) di 1,0700 dalam beberapa pekan ke depan.

Demikian juga indeks saham Jerman DAX (indeks yang berisi saham-saham perusahaan besar Jerman) yang tertahan di dekat 18.100 setelah kuartal pertama yang kuat, terlihat rentan. Pertimbangkan membeli opsi jual pada kontrak berjangka (futures, perjanjian membeli/menjual aset pada harga dan waktu tertentu di masa depan) DAX untuk lindung nilai (hedging, upaya mengurangi risiko) atau berspekulasi atas koreksi. Kombinasi perlambatan aktivitas industri dan inflasi yang masih tinggi dapat menekan sentimen investor saham dan menghapus sebagian kenaikan terbaru.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code