Back

Data AS yang lebih lemah dan optimisme terkait Iran mendorong selera risiko yang lebih luas, menekan Dolar AS secara keseluruhan

Indeks Dolar AS (DXY) turun ke sekitar 98,10 dan menyentuh level terendah dalam beberapa pekan, seiring data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan dan membaiknya sentimen global memicu aksi jual dolar AS secara luas. Turunnya harga minyak dan meredanya imbal hasil obligasi (yield)—bunga efektif yang tercermin dari harga obligasi—menambah tekanan. Pembicaraan tentang kemungkinan negosiasi AS–Iran juga mengurangi permintaan aset aman (safe haven), yaitu aset yang biasanya diburu saat pasar khawatir, seperti dolar AS, yen, dan emas.

Data AS beragam namun cenderung negatif bagi dolar. Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI)—ukuran inflasi di tingkat produsen atau “harga dari pabrik”—pada Maret bertahan di 3,8% (year on year/yoy, dibanding periode yang sama tahun lalu). Rata-rata 4 pekan perubahan tenaga kerja versi ADP (ADP Employment Change)—perkiraan pertambahan pekerjaan dari perusahaan pengolah data gaji—naik ke sekitar 39 ribu dari 26 ribu, menunjukkan tren pasar kerja yang masih stabil.

EUR/USD naik di atas 1,1790 dan GBP/USD menguat ke sekitar 1,3570, didukung pelemahan dolar AS. USD/JPY turun ke sekitar 158,80 seiring yen menguat dan pasar menilai peluang Bank of Japan (BoJ) melihat inflasi lebih tinggi. BoJ adalah bank sentral Jepang; perubahan pandangannya soal inflasi bisa memengaruhi arah suku bunga Jepang.

AUD/USD naik ke sekitar 0,7130 seiring selera risiko (risk appetite)—keinginan investor mengambil aset berisiko seperti saham dan mata uang berimbal hasil lebih tinggi—membaik. Minyak WTI turun di bawah US$91,65 per barel. WTI (West Texas Intermediate) adalah patokan harga minyak AS. Emas bertahan dekat US$4.836 namun ruang kenaikannya terbatas.

Agenda berikutnya mencakup pertemuan IMF AS (15–17 April), CPI (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen, inflasi di tingkat konsumen) Prancis Maret, produksi industri Zona Euro Februari, indeks NY Empire State (survei kondisi bisnis manufaktur wilayah New York), serta Fed Beige Book—laporan berkala Federal Reserve tentang kondisi ekonomi di berbagai distrik AS. Rilis selanjutnya meliputi data tenaga kerja Australia, PDB (GDP) China kuartal I, PDB dan data output Inggris Februari, ukuran inflasi Italia dan Zona Euro Maret, risalah/akun rapat ECB (European Central Bank/Bank Sentral Eropa), serta klaim pengangguran AS dan survei manufaktur.

Jester Koh dari UOB: MAS menaikkan proyeksi inflasi 2026 seiring kenaikan harga energi mendongkrak pembacaan CPI Singapura

MAS menaikkan kisaran proyeksi inflasi inti dan inflasi utama (headline) 2026 menjadi 1,5–2,5%, dari 1,0–2,0% pada MPS Januari 2026. Kenaikan ini menyusul naiknya biaya energi impor dan pandangan MAS yang lebih tegas terhadap risiko inflasi dibanding pertumbuhan ekonomi. (Inflasi inti adalah inflasi yang biasanya tidak menghitung harga yang bergejolak seperti transportasi dan akomodasi; inflasi utama adalah inflasi total/IHK.)

Pernyataan kebijakan menyebut harga energi global bisa tetap tinggi meski pasokan dari Timur Tengah kembali normal. MAS menyoroti keterlambatan pengiriman, waktu pemulihan pasokan, serta upaya pemerintah membangun kembali cadangan energi yang dapat menambah permintaan.

MAS memperkirakan harga barang impor Singapura—baik barang antara (untuk bahan baku/produksi) maupun barang konsumsi akhir—akan naik. Kenaikan harga minyak dan gas diperkirakan akan masuk ke IHK melalui listrik, transportasi, dan harga barang.

UOB menaikkan proyeksi inflasi utama 2026 menjadi 2,0% dari 1,5%, dan proyeksi 2027 menjadi 2,2%. UOB juga menaikkan proyeksi inflasi inti 2026 menjadi 1,9% dari 1,5%, dengan proyeksi inflasi inti 2027 sebesar 1,9%.

Dalam skenario dasar UOB, MAS diperkirakan akan memperketat kebijakan pada MPS Oktober 2026 dengan menaikkan kemiringan (slope) pita S$NEER sebesar 50 bps menjadi 1,5% per tahun. (S$NEER adalah nilai tukar dolar Singapura terhadap sekeranjang mata uang mitra dagang; “pita” adalah rentang pergerakan yang dikelola; “kemiringan” adalah laju penguatan atau pelemahan yang diizinkan. 50 bps = 0,50 poin persentase.) UOB juga menilai ada kemungkinan langkah serupa di MPS Juli 2026.

MAS juga mencatat harga minyak mentah Brent di pasar futures kini diperdagangkan di atas US$110 per barel setelah gangguan pasokan di Timur Tengah. (Futures adalah kontrak untuk membeli/menjual di harga tertentu untuk pengiriman di masa depan.) Harga yang bertahan di level ini dapat menahan penurunan inflasi domestik.

Pasar forward mulai memperhitungkan dolar Singapura yang lebih kuat dalam enam bulan ke depan, terutama menjelang jadwal kebijakan Juli dan Oktober. (Forward adalah kesepakatan kurs untuk transaksi di masa depan.) Permintaan opsi yang diuntungkan saat SGD menguat juga meningkat. (Opsi adalah kontrak yang memberi hak—bukan kewajiban—untuk membeli/menjual aset di harga tertentu.) Ini menunjukkan pasar mulai membangun ekspektasi adanya pengetatan kebijakan.

AUD/USD menguat tipis, bidik resistensi 0,7150-0,7170 seiring Dolar AS melemah karena harapan pembicaraan AS-Iran mendongkrak AUD

AUD/USD bergerak menguat tipis pada Selasa, didukung pelemahan Dolar AS. Pasangan ini berada di sekitar 0,7132, level tertinggi sejak 12 Maret.

Harapan dimulainya kembali pembicaraan AS–Iran menekan Dolar AS dan mendukung mata uang yang peka terhadap sentimen risiko seperti Dolar Australia. Ekspektasi tercapainya kesepakatan mendorong harga minyak turun, sehingga risiko inflasi jangka pendek mereda dan tekanan terhadap Federal Reserve (bank sentral AS) untuk mengetatkan kebijakan juga berkurang.

Data Indeks Harga Produsen (PPI) AS yang lebih lemah dari perkiraan menambah tekanan pada Dolar AS. Indeks Dolar AS (DXY)—ukuran kekuatan Dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama—diperdagangkan di sekitar 98,00, terendah sejak 2 Maret.

Dolar Australia juga ditopang sikap Reserve Bank of Australia (RBA/bank sentral Australia) yang relatif “hawkish” (cenderung mendukung suku bunga tinggi untuk menahan inflasi) di tengah inflasi yang masih sulit turun. Pada grafik harian, AUD/USD masih berada dalam struktur tren naik yang lebih luas setelah kembali menembus di atas Simple Moving Average (SMA) 50 hari (rata-rata pergerakan harga 50 hari).

Level terendah Maret di dekat 0,6833 berdekatan dengan SMA 100 hari. SMA 50 hari berada di sekitar 0,7033 dan berada di atas SMA 100 hari di sekitar 0,6874.

RSI 14 hari (indikator momentum yang mengukur kekuatan beli/jual) berada di sekitar 63, sementara MACD (indikator tren dan momentum) naik di atas garis nol dengan batang histogram positif. Area support (tumpuan) berada di 0,7033, lalu 0,6920 dan 0,6874. Area resistance (hambatan) berada di 0,7150–0,7170 lalu 0,7200.

Strategis OCBC sebut USD/KRW naik di tengah ketegangan Timur Tengah dan kenaikan harga minyak, menekan won yang berbeta tinggi dan pengimpor minyak.

USD/KRW naik seiring ketegangan di Timur Tengah meningkat dan harga minyak meroket. Ini menekan won Korea Selatan karena won termasuk mata uang yang lebih sensitif terhadap sentimen risiko global (high-beta: mudah menguat saat pasar optimistis dan mudah melemah saat pasar panik) dan Korea Selatan adalah pengimpor minyak bersih. Pejabat Bank of Korea (bank sentral Korea Selatan) menilai pelemahan won belakangan ini terutama dipicu guncangan eksternal dan penataan ulang portofolio (portfolio rebalancing: investor mengurangi/menambah porsi aset setelah kenaikan besar saham Korea).

Mereka membandingkannya dengan akhir tahun lalu, ketika pelemahan won lebih terkait faktor domestik seperti arus investasi keluar negeri oleh penduduk (outbound flows) dan ketidakpastian terkait aset di luar negeri. Mereka juga menyebut risiko inflasi kini lebih condong naik dibanding risiko perlambatan ekonomi, dibandingkan dengan proyeksi saat ini.

Komentar kebijakan menandakan sikap hati-hati selama ketidakpastian perang di Iran masih tinggi. Jika guncangan ini hanya sementara, dewan Bank of Korea kemungkinan menahan perubahan suku bunga. Namun jika guncangan bertahan lama, bank sentral bisa merespons lewat kebijakan (misalnya penyesuaian suku bunga atau langkah stabilisasi pasar).

USD/KRW terakhir di sekitar 1488. Momentum harian masih cenderung bearish (bearish: mengarah pada pelemahan USD/KRW/ penguatan won), sementara RSI (Relative Strength Index: indikator untuk mengukur apakah harga sudah terlalu jenuh jual atau jenuh beli) naik dari area oversold (jenuh jual: penurunan dianggap sudah terlalu jauh). Pasangan ini diperkirakan bergerak dua arah di kisaran 1470–1500, dengan support (area penahan penurunan) di 1475 (DMA 50: rata-rata bergerak 50 hari) dan 1469 (DMA 100: rata-rata bergerak 100 hari), serta resistance (area penahan kenaikan) di 1492 (fib retracement 38,2%: level pantulan berdasarkan perhitungan Fibonacci) dan 1500 (DMA 21: rata-rata bergerak 21 hari).

Kontrak berjangka (futures: kontrak jual-beli untuk pengiriman di masa depan) Brent untuk pengiriman Juni menembus $112 per barel bulan ini, yang langsung menekan biaya impor energi dan memengaruhi ekonomi. Ini mendukung pandangan bank sentral bahwa risiko inflasi meningkat, terutama setelah data Maret menunjukkan inflasi konsumen naik 3,8% secara tahunan (year-over-year: dibanding periode yang sama tahun lalu). Penataan ulang portofolio juga masuk akal setelah penguatan besar indeks KOSPI pada kuartal pertama.

Minyak mentah WTI turun untuk sesi ketiga, diperdagangkan di sekitar US$89,10, seiring diplomasi AS-Iran meredakan kekhawatiran terkait Selat Hormuz

WTI turun untuk hari ketiga berturut-turut pada Selasa, diperdagangkan di sekitar US$89,10 per barel dan melemah 3,93% saat penulisan. Harga turun karena pasar menilai peluang dimulainya lagi pembicaraan AS-Iran.

CNN melaporkan pejabat AS mungkin menggelar pertemuan tatap muka kedua dengan perwakilan Iran sebelum gencatan senjata dua minggu berakhir pada 21 April. Ini menyusul pembicaraan sebelumnya di Pakistan yang belum menghasilkan kesepakatan.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran bisa terjadi dalam beberapa hari ke depan. Ini terjadi meski ada blokade angkatan laut AS yang menargetkan pelabuhan-pelabuhan Iran. (Blokade angkatan laut adalah upaya membatasi keluar-masuk kapal lewat jalur laut.)

Pasar menilai diplomasi dapat menurunkan risiko konflik dalam waktu dekat yang bisa mengganggu pasokan energi. Pada saat yang sama, perselisihan soal program nuklir Iran masih belum selesai. (Program nuklir mengacu pada kegiatan pengembangan teknologi nuklir, yang diperdebatkan terkait tujuan energi maupun potensi militer.)

Perhatian juga tertuju pada Selat Hormuz, jalur penting ekspor minyak global. Kawasan ini tetap menjadi sumber risiko bagi pelayaran dan pasokan.

Rabobank mengatakan gangguan di sekitar Hormuz bisa memicu “kejutan pasokan” jika pembatasan makin ketat. (Kejutan pasokan berarti pasokan turun mendadak sehingga harga bisa melonjak.) Rabobank juga menilai beberapa kilang bisa kekurangan minyak mentah jika arus kapal tetap terhambat, yang dapat memicu kelangkaan bahan bakar dan menambah tekanan inflasi. (Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum.)

Analis Commerzbank: MAS Perketat Kebijakan, Percepat Penguatan SGD NEER, Prioritaskan Pengendalian Inflasi Ketimbang Pertumbuhan

Otoritas Moneter Singapura (MAS) memperketat kebijakan dengan sedikit menaikkan laju penguatan Nilai Tukar Efektif Nominal (NEER) dolar Singapura (SGD). NEER adalah indeks nilai tukar berbasis “keranjang” mata uang mitra dagang utama (berbobot perdagangan), bukan hanya terhadap satu mata uang. Laju penguatan ini diperkirakan 1,75% per tahun, naik dari 1,5% sebelumnya, dan langkah ini ditujukan untuk menahan inflasi, bukan mendorong pertumbuhan.

Saat inflasi mereda pada akhir 2024, MAS menurunkan laju penguatan dua kali, pada Januari dan April 2025. Dalam pembaruan terbaru, proyeksi inflasi utama (headline, yaitu inflasi keseluruhan) dan inflasi inti (core, yaitu inflasi yang biasanya tidak memasukkan komponen yang bergejolak seperti pangan dan energi) direvisi naik.

Setelah pengumuman, USD/SGD naik tipis ke 1,2740. NEER SGD diperkirakan berada dekat sisi terkuat dalam “pita kebijakan” (policy band, yaitu kisaran target NEER yang dikelola MAS). Ini mengindikasikan kisaran USD/SGD sekitar 1,2600–1,3120 dengan titik tengah sekitar 1,2850.

Renminbi (CNY) menjadi faktor jangka pendek yang perlu dipantau karena merupakan komponen penting dalam NEER SGD. SGD menguat sekitar 6% terhadap dolar AS pada 2025 dan naik 0,9% sejauh tahun ini, dibanding rata-rata -0,9% untuk mata uang Asia (di luar Jepang).

Bagi pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan kontrak berjangka), ini mengarah pada strategi menjual saat USD/SGD menguat. Pasangan ini diperkirakan bergerak dalam kisaran 1,2600 hingga 1,3120, sehingga strategi seperti menjual opsi jual (put) “di luar harga pasar” (out-of-the-money, yaitu harga kesepakatan/strike berada di bawah harga pasar saat ini) pada USD/SGD dengan strike dekat 1,2600 menjadi menarik. Strategi ini diuntungkan jika SGD tetap kuat dan volatilitas (tingkat naik-turun harga) menurun.

Kebijakan ini merupakan pembalikan arah dibanding tahun lalu. Pada awal 2025, MAS dua kali memperlambat laju penguatan ketika tekanan inflasi mereda. Langkah terbaru ini memberi sinyal bank sentral tetap proaktif dan siap bertindak lagi bila diperlukan untuk mengendalikan kenaikan harga.

Setelah PPI yang lebih lemah dan optimisme gencatan senjata Iran, ia melihat Dow naik 300 poin, dengan S&P/Nasdaq lebih tinggi

Saham AS naik pada Selasa. Dow menguat sekitar 300 poin (0,60%) ke dekat 48.500, S&P 500 naik 1,1%, dan Nasdaq bertambah 1,8%, dipimpin saham teknologi.

Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI)—ukuran inflasi di tingkat grosir atau harga yang diterima produsen—untuk Maret menunjukkan inflasi grosir lebih lambat dari perkiraan. PPI utama (headline, angka keseluruhan) naik 0,5% secara bulanan (month on month/mom) dibanding kekhawatiran sekitar 1,2%, dan naik 4% secara tahunan (year on year/yoy) dibanding konsensus 4,6% (perkiraan rata-rata analis).

PPI inti (core, tidak memasukkan komponen yang mudah bergejolak) yang mengecualikan makanan, energi, dan jasa perdagangan naik 0,2% mom, setelah 0,5% pada Januari dan Februari. Harga energi untuk permintaan akhir (final demand, barang/jasa yang dibeli pengguna akhir) naik 8,5% dan bensin naik 15,7%, sementara harga jasa datar 0,0%.

Pasar juga memantau perkembangan pembicaraan AS–Iran. Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan putaran kedua sedang dibahas, dan laporan menyebut pertemuan lanjutan bisa terjadi dalam hitungan hari, sebelum gencatan senjata dua minggu saat ini berakhir.

Saham teknologi tetap kuat, dengan Oracle naik sekitar 5% setelah melonjak 12% pada sesi sebelumnya. Nvidia dan Palantir juga naik, sementara kinerja bank beragam: Wells Fargo turun lebih dari 5% dan JPMorgan sedikit melemah.

Harga minyak turun, dengan WTI (West Texas Intermediate, patokan minyak AS) turun lebih dari 5% menuju US$93 per barel dan Brent (patokan global) turun sekitar 3% dekat US$95. IEA (International Energy Agency/Agen Energi Internasional) memangkas proyeksi permintaan 2026 dan kini memperkirakan permintaan akan menyusut.

Sterling Naik Tipis ke 1,3590 seiring meredanya PPI AS dan harapan terkait Iran menekan permintaan Dolar

Sterling menguat pada Selasa ketika pasar mencermati laporan bahwa AS dan Iran mungkin melanjutkan perundingan paling cepat pekan ini. GBP/USD diperdagangkan di dekat 1,3590, naik 0,61%, sementara Dolar AS melemah.

Indeks Dolar AS (DXY)—ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama—turun 0,34% ke 98,03, mendekati level terendah enam pekan. Minyak West Texas Intermediate (WTI)—patokan harga minyak AS—turun 4,50% menjadi US$93,50 per barel.

Data inflasi AS lebih rendah dari perkiraan. Indeks Harga Produsen (PPI)—harga di tingkat produsen/pabrik—Maret naik 4% dibanding proyeksi 4,6%, sementara PPI inti (core PPI)—PPI tanpa komponen yang sangat bergejolak seperti energi dan pangan—3,8% secara tahunan, tidak berubah dari Februari.

Data tenaga kerja juga menjadi sorotan, dengan rata-rata 4 pekan ADP Employment Change—perkiraan perubahan jumlah pekerja versi perusahaan pengolah gaji ADP—naik menjadi 39,25 ribu dari 26 ribu pada pekan sebelumnya. Pelaku pasar juga menunggu pidato pejabat Bank of England dan Federal Reserve.

Data berikutnya mencakup PDB (GDP)—nilai total barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara—Inggris hingga Kamis dan klaim awal pengangguran AS (jobless claims). Dari sisi teknikal, GBP/USD tercatat di 1,3572, dengan kumpulan SMA 50, 100, dan 200 hari—rata-rata bergerak sederhana untuk membaca tren—di sekitar 1,3429.

Area resistance (hambatan kenaikan) disebut dekat 1,3812 dan 1,3869. Area support (penopang penurunan) disebut dekat 1,3572, lalu 1,3429.

Kita ingat pada periode yang sama tahun lalu, April 2025, ketika harapan kesepakatan AS-Iran mengangkat pound mendekati 1,3590 terhadap dolar. Kondisinya kini berbeda, dengan GBP/USD sulit bertahan di atas 1,2550 di tengah ketegangan geopolitik baru dan dolar yang lebih kuat. Perubahan arah ini membuka peluang bagi trader derivatif—instrumen turunan yang nilainya mengikuti aset acuan seperti valas.

Optimisme tahun lalu juga didorong PPI AS yang lebih lemah dari perkiraan. Namun, situasi berubah: Indeks Harga Konsumen (CPI)—ukur inflasi di tingkat konsumen/biaya hidup—Maret 2026 menunjukkan inflasi 3,1%, mengejutkan pasar yang memperkirakan 2,9%. Inflasi yang bertahan ini menguatkan sikap hawkish The Fed—kecenderungan bank sentral untuk tetap ketat, misalnya menahan suku bunga tinggi—sehingga mendukung dolar.

Dukungan geopolitik pada 2025 juga memudar karena diplomasi dengan Iran belum menghasilkan kesepakatan yang bertahan. Akibatnya, minyak WTI kini lebih kuat di sekitar US$88 per barel, berbeda dengan penurunan tajam saat kesepakatan dinilai sudah dekat. Ini menambah ketidakpastian pada prospek ekonomi global.

Kondisi ini membuat pembelian opsi put pada GBP/USD layak dipertimbangkan sebagai lindung nilai (hedging) terhadap risiko penurunan. Opsi put adalah kontrak yang memberi hak untuk menjual pada harga tertentu; nilainya cenderung naik saat harga turun. Seiring perbedaan arah kebijakan antara The Fed yang ketat dan Bank of England yang mungkin lebih hati-hati, volatilitas tersirat (implied volatility)—perkiraan gejolak harga yang tercermin dalam harga opsi—meningkat. Indeks Volatilitas (VIX) dari Chicago Board Options Exchange—sering disebut pengukur ketakutan pasar karena mengukur volatilitas yang diharapkan—berada di sekitar 18, mencerminkan ketidakpastian yang lebih tinggi.

Tahun lalu, pound mendapat penopang kuat di atas rata-rata pergerakan pentingnya di sekitar 1,34, yang mendorong aksi beli saat harga turun (dip-buying). Kini pasangan ini kesulitan bergerak di atas 1,26, yang menjadi resistance besar. Trader dapat mempertimbangkan menjual opsi call—kontrak yang memberi hak untuk membeli pada harga tertentu—dengan strike price (harga kesepakatan) di 1,26 atau lebih tinggi untuk memanfaatkan perkiraan batas kenaikan (price ceiling).

USD/JPY melemah mendekati 158,90 seiring data AS yang melunak, BoJ yang hawkish, dan optimisme pembicaraan AS-Iran membebani

USD/JPY diperdagangkan di dekat 158,90 pada Selasa, memperpanjang pelemahan saat Dolar AS melemah. Sentimen risiko membaik setelah Reuters melaporkan AS dan Iran mungkin kembali ke Islamabad untuk perundingan akhir pekan ini atau awal pekan depan, meski Gedung Putih mengatakan belum ada tanggal yang ditetapkan.

Data AS menambah tekanan pada dolar, dengan pertumbuhan Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI, yaitu ukuran perubahan harga di tingkat produsen/pabrik yang sering menjadi sinyal awal inflasi) Maret tercatat 3,8%, di bawah ekspektasi. Data ini tidak menghilangkan kekhawatiran soal tekanan harga yang masih berlanjut maupun harapan pasar akan pengetatan lanjutan oleh Federal Reserve (The Fed, bank sentral AS).

Yen Jepang menguat di tengah laporan bahwa Bank of Japan (BoJ, bank sentral Jepang) mempertimbangkan menaikkan proyeksi harganya. BoJ dan The Fed sama-sama dijadwalkan menggelar rapat kebijakan dalam sekitar dua pekan.

Pada grafik empat jam, USD/JPY berada di sekitar 158,87 dan bertahan di bawah SMA 20-periode di 159,24 dan SMA 100-periode di 159,27 (SMA atau simple moving average adalah rata-rata pergerakan harga untuk melihat arah tren). RSI berada di dekat 42, dengan resistensi di 158,94 (RSI atau relative strength index adalah indikator momentum untuk menilai apakah harga cenderung jenuh beli atau jenuh jual).

Level support tercatat di 158,78, 158,72, dan 158,61 (support adalah area harga yang sering menahan penurunan). Kenaikan di atas 158,94 dapat mengurangi tekanan jual jangka pendek, dengan resistensi lanjutan di 159,24 dan 159,27 (resistensi adalah area harga yang sering menahan kenaikan).

Kami melihat pasangan USD/JPY cenderung turun, sehingga strategi seperti membeli opsi put (hak untuk menjual pada harga tertentu hingga jatuh tempo) atau membuka posisi short pada kontrak futures (kontrak berjangka; posisi short diambil untuk mendapat untung saat harga turun) bisa relevan. PPI AS terbaru, meski masih tinggi di 3,8%, menunjukkan kenaikan yang lebih lambat dari perkiraan, sehingga mengurangi kekuatan dolar. Ini membuka peluang untuk bersiap menghadapi penurunan lanjutan menjelang rapat bank sentral.

Potensi perubahan sikap BoJ menjadi faktor paling penting, karena langkah menuju normalisasi kebijakan akan menjadi perubahan besar. Terlihat pada 2024, pasangan ini sangat sensitif terhadap isu intervensi saat mendekati level 160, dan BoJ pada tahun itu akhirnya mengakhiri kebijakan suku bunga negatif. Dengan bank sentral kini mempertimbangkan revisi naik proyeksi harga, pasar menilai BoJ bisa lebih “hawkish” (cenderung lebih ketat/condong menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi) dibanding bertahun-tahun terakhir.

Dari sisi AS, narasi bergeser dari berapa kali lagi The Fed akan menaikkan suku bunga ke kapan siklus pengetatan resmi berakhir. Meski The Fed kecil kemungkinan memberi sinyal beralih cepat ke pemangkasan suku bunga, tema perbedaan arah kebijakan (policy divergence, yaitu kebijakan moneter AS dan Jepang bergerak berlawanan) yang mendorong USD/JPY naik sepanjang 2023 dan 2024 jelas menyempit. Rapat The Fed mendatang penting untuk petunjuk, tetapi momentum penguatan dolar tampak memudar.

Dengan rapat The Fed dan BoJ dijadwalkan dalam dua pekan, kami memperkirakan kenaikan tajam pada volatilitas tersirat (implied volatility, yaitu perkiraan volatilitas dari harga opsi yang mencerminkan besarnya pergerakan yang diperkirakan pasar). Ini membuat strategi opsi menarik karena risiko bisa dibatasi pada taruhan arah tertentu atau untuk memperdagangkan perkiraan ayunan harga. Contohnya bear put spread (strategi opsi: membeli put di strike lebih tinggi dan menjual put di strike lebih rendah untuk menekan biaya, sambil tetap mendapatkan keuntungan jika harga turun) dapat memanfaatkan penurunan lanjutan menuju 158,00 sambil membatasi biaya awal.

Analis MUFG Michael Wan: Trump Mulai Blokade Laut Hormuz, Namun Aset Berisiko Menguat di Tengah Pembicaraan AS–Iran

Blokade laut Angkatan Laut AS di Selat Hormuz telah dimulai pada era Trump, sementara pembicaraan antara AS dan Iran masih berlangsung. Meski ada blokade, aset berisiko (seperti saham dan mata uang negara berkembang yang sensitif terhadap sentimen) kembali menguat.

Sentimen pasar kini bergantung pada seberapa ketat blokade diterapkan dan apakah negosiasi menghasilkan kesepakatan. Perubahan dalam penegakan atau diplomasi dapat mengubah arah pasar.

Pasar Asia dinilai lebih rentan karena bergantung pada pengiriman energi melalui Selat Hormuz. Kepekaan ini membuat pergerakan mata uang regional dan pasar secara luas terkait erat dengan perkembangan di selat tersebut.

Kami melihat pemulihan yang rapuh pada aset berisiko setelah blokade laut AS di Selat Hormuz dimulai, didorong oleh pembicaraan diplomatik yang masih berjalan. Namun ketenangan ini bisa menipu: Brent sempat melonjak lebih dari 20% ke US$115 per barel pekan lalu sebelum turun dan stabil di sekitar US$105 setelah ada kabar negosiasi. Pelaku pasar dapat mempertimbangkan membeli opsi beli (call option), yaitu kontrak yang memberi hak (bukan kewajiban) untuk membeli pada harga tertentu, pada kontrak berjangka (futures) minyak. Pilih opsi yang “out-of-the-money” (harga strike di atas harga pasar saat ini), yang biasanya lebih murah, untuk mendapat peluang untung jika perundingan gagal dan blokade diperketat.

Ketidakpastian geopolitik ini mendorong volatilitas (tingkat naik-turun harga) pasar, dengan CBOE Volatility Index (VIX)—sering disebut “indeks ketakutan” karena mengukur ekspektasi gejolak pasar saham AS—melonjak dari 15 ke puncak 28, level yang terakhir terlihat saat kekhawatiran sektor perbankan tahun lalu. Meski VIX turun ke sekitar 22, level yang masih tinggi ini menandakan tekanan pasar belum hilang. Menggunakan kontrak berjangka VIX atau opsi pada ETF (reksa dana yang diperdagangkan di bursa) yang mengikuti volatilitas dapat menjadi lindung nilai (hedging), yakni perlindungan nilai portofolio, jika eskalasi mendadak mengguncang pasar saham global.

Pasar Asia sangat rentan mengingat sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati selat ini, dengan Jepang, China, dan Korea Selatan sebagai pengimpor utama. Pada reaksi awal, Yen Jepang dan Won Korea Selatan sama-sama melemah lebih dari 2% terhadap dolar AS sebelum pulih sebagian. Opsi jual (put option), yaitu kontrak yang memberi hak untuk menjual pada harga tertentu, pada mata uang tersebut terhadap dolar dapat menjadi cara lindung nilai yang lebih tepat sasaran bila ketegangan kembali memanas dan lebih memukul perekonomian mereka.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code