Back

Goolsbee: Inflasi Akan Capai 2%, Ketegangan Berkepanjangan di Timur Tengah Bisa Tunda Pemangkasan Suku Bunga hingga 2026

Austan Goolsbee, Presiden Federal Reserve Bank of Chicago, mengatakan ketegangan di Timur Tengah bisa menunda penurunan suku bunga hingga 2026 jika inflasi tetap tinggi. Ia mengatakan kebijakan masih bisa berupa kenaikan suku bunga, menahan suku bunga, atau penurunan suku bunga, tergantung perkembangan kondisi.

Ia mengatakan waktunya bergantung pada berapa lama tekanan saat ini bertahan dan apakah inflasi membaik. Ia menambahkan, jika inflasi tidak menunjukkan kemajuan, perkiraan kapan inflasi membaik akan terus mundur.

Goolsbee mengatakan The Fed (bank sentral AS) memantau pasar minyak dan dampak harga bahan bakar terhadap inflasi. Ia menyebut kemajuan pada inflasi inti (core inflation, ukuran inflasi yang mengeluarkan komponen bergejolak seperti energi dan pangan agar tren lebih jelas) akan menjadi sinyal positif meski inflasi utama (headline inflation, angka inflasi keseluruhan) tetap tinggi.

Ia mengatakan The Fed menargetkan inflasi 2%. Ia menambahkan, jika inflasi 4%, suku bunga tidak semestinya diharapkan kembali ke 2%.

Ia mengatakan ada kabar baik pada inflasi perumahan. Ia menambahkan The Fed biasanya tidak akan memperketat kebijakan saat terjadi guncangan pasokan (supply shock, gangguan pasokan barang/energi yang mendorong harga naik) dan ekspektasi inflasi (perkiraan publik dan pelaku pasar tentang inflasi ke depan) sejauh ini masih tetap terkendali.

Ia mengatakan ekspektasi inflasi bisa menjadi tidak terkendali jika harga bensin mencapai US$5 per galon dan bertahan selama berbulan-bulan. Ia juga mengatakan ia menghormati Kevin Warsh dan memperkirakan fokus akan tetap pada mandat hukum The Fed (tugas resmi: stabilitas harga dan lapangan kerja maksimum), bukan politik pemilu.

Dengan kekhawatiran yang berlanjut di Timur Tengah, jadwal penurunan suku bunga pada 2026 kini diragukan. Dengan Brent (patokan harga minyak global) sempat melonjak mendekati US$98 per barel pada awal April, tekanan pada inflasi utama meningkat tajam. Ada kemungkinan suku bunga akan ditahan sepanjang sisa tahun ini.

Laporan inflasi terbaru untuk Maret 2026 mendukung sikap hati-hati karena menunjukkan sedikit perbaikan. CPI (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen, ukuran inflasi konsumen) utama naik ke 3,6%, dan yang lebih penting inflasi inti tetap tinggi di 3,7%, menandakan tekanan harga dasar belum mereda. Jika tidak ada kemajuan pada inflasi inti dalam waktu dekat, harapan penurunan suku bunga perlu ditunda.

Bagi pedagang derivatif (instrumen turunan yang nilainya mengikuti aset acuan), ini berarti mengambil posisi yang mengandalkan penurunan suku bunga yang mulus menjadi strategi berisiko tinggi. Fokus perlu bergeser ke transaksi yang diuntungkan oleh suku bunga tinggi yang bertahan lama atau volatilitas (naik-turun harga) yang lebih besar di pasar obligasi. Opsi (kontrak hak untuk membeli/menjual pada harga tertentu) pada futures SOFR (kontrak berjangka berbasis Secured Overnight Financing Rate, acuan suku bunga pasar uang AS berbasis transaksi repo dengan jaminan) untuk melindungi skenario “lebih tinggi lebih lama” menjadi lebih masuk akal.

Kita pernah melihat ini, terutama dari data inflasi yang keras kepala sepanjang 2025. Saat itu, pasar berulang kali harus menggeser mundur perkiraan penurunan suku bunga karena kemajuan terhenti. Pengalaman itu menunjukkan kita tidak boleh meremehkan tekad mengembalikan inflasi ke target 2%, meski butuh waktu lebih lama dari perkiraan.

EUR/USD Bertahan di Dekat 1,1800 seiring Dolar Melemah Didorong Optimisme Kesepakatan Iran dan Data PPI yang Lebih Lunak

EUR/USD naik untuk sesi ketujuh berturut-turut pada Selasa, diperdagangkan di dekat 1,1800 dan menguat sekitar 0,37%. Kenaikan terjadi karena Dolar AS melemah dan minat pasar terhadap aset berisiko membaik.

Laporan menyebut putaran kedua pembicaraan AS–Iran bisa berlangsung pekan ini setelah Presiden Donald Trump mengatakan Iran telah melakukan kontak. Perubahan ini mengurangi permintaan Dolar sebagai aset aman (safe haven, yaitu mata uang yang biasanya diburu saat pasar takut risiko) dan mendorong harga Minyak turun dari level tinggi terbaru.

Pelemahan Dolar Mendorong Euro Naik

Indeks Dolar AS (DXY, ukuran kekuatan Dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) diperdagangkan di sekitar 98,00, level terendah sejak 2 Maret. Dolar juga turun setelah data Indeks Harga Produsen (PPI, ukuran inflasi di tingkat produsen—harga yang diterima pabrik/penjual sebelum sampai ke konsumen) AS untuk Maret lebih lemah.

PPI utama (headline, angka total tanpa pengecualian) naik 0,5% secara bulanan (month-on-month, dibanding bulan sebelumnya), di bawah perkiraan 1,2%, dan sama dengan angka sebelumnya 0,5% yang direvisi turun dari 0,7% (revisi berarti angka lama diperbarui). Secara tahunan, PPI naik 4,0%, di bawah perkiraan 4,6%, dan naik dari 3,4% sebelumnya.

Harga Minyak secara umum masih tinggi, dan pasar memperkirakan sekitar dua kali kenaikan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB). Presiden ECB Christine Lagarde mengatakan Eropa bukan pusat utama dampak lanjutan (fallout, dampak ikutan) dan kebijakan akan tetap bergantung pada data (data-dependent, keputusan mengikuti data ekonomi terbaru), tanpa kecenderungan untuk mengetatkan kebijakan (tightening bias, sinyal condong ke kenaikan suku bunga).

IMF (Dana Moneter Internasional) memperkirakan pertumbuhan kawasan euro 1,1% pada 2026 dan 1,2% pada 2027, turun dari 1,3% dan 1,4%. Untuk AS, IMF melihat pertumbuhan 2,3% pada 2026 dari sebelumnya 2,4%, dan 2,1% pada 2027 dari sebelumnya 2,0%.

Fokus Pasar Beralih ke Arah Kebijakan

Melihat pergerakan harga terbaru, pasangan EUR/USD menembus resistance penting (resistance, area harga yang biasanya menahan kenaikan) hingga 1,1800, level yang tidak terlihat sejak konflik AS-Iran memanas pada awal tahun lalu. Kenaikan ini didorong pelemahan Dolar AS karena ketegangan geopolitik tampak mereda dan inflasi di tingkat produsen mulai mendingin. Pelaku pasar dapat melihat ini sebagai sinyal perubahan tren jangka menengah (medium-term), yang lebih mendukung Euro dibanding Dolar.

PPI AS yang lemah menjadi faktor kunci, mengindikasikan The Fed (bank sentral AS) bisa mempertahankan sikap sabar dalam kebijakan moneter (monetary policy, pengaturan suku bunga dan jumlah uang di ekonomi). Namun, perlu dicatat data Indeks Harga Konsumen (CPI, inflasi di tingkat konsumen—harga yang dibayar rumah tangga) terbaru untuk Maret 2026 menunjukkan inflasi utama masih “lengket” (sticky, sulit turun) di 3,5%, jauh di atas target The Fed. Perbedaan antara harga produsen yang melemah dan harga konsumen yang masih tinggi membuat gambaran inflasi lebih rumit dan bisa menahan ekspektasi pelemahan Dolar jika tekanan harga di tingkat konsumen berlanjut.

Optimisme geopolitik terkait pembicaraan AS-Iran mengurangi daya tarik Dolar sebagai safe haven, tetapi sentimen ini rapuh. Pasar pernah bereaksi cepat pada 2025 ketika ketegangan pertama kali memanas, memicu lonjakan harga Minyak dan menguatkan Dolar. Karena itu, meski tren saat ini mendukung posisi beli Euro (long, posisi yang untung jika Euro naik), pelaku pasar derivatif (derivative, instrumen turunan seperti opsi dan kontrak berjangka) dapat mempertimbangkan lindung nilai (hedging, cara membatasi risiko) dengan opsi jual (put, instrumen yang untung jika harga turun) EUR/USD yang out-of-the-money (OTM, harga kesepakatan jauh dari harga saat ini sehingga lebih murah namun butuh pergerakan besar) untuk melindungi dari risiko gagalnya negosiasi.

Perbedaan penting juga terlihat antara ekspektasi pasar dan komentar bank sentral dari ECB. Kontrak berjangka suku bunga (interest rate futures, instrumen yang mencerminkan perkiraan pasar atas suku bunga masa depan) saat ini mengindikasikan peluang 70% untuk setidaknya dua kali kenaikan suku bunga 25 basis poin (basis point/bps, 1 bps = 0,01%) dari ECB hingga akhir 2026, sementara Lagarde tetap menekankan keputusan berbasis data dan tidak memberi komitmen. Artinya, data inflasi Zona Euro ke depan akan sangat penting untuk mengonfirmasi penilaian pasar yang agresif (hawkish, cenderung mendukung suku bunga lebih tinggi) atau memaksa pasar menilai ulang ke arah lebih longgar (dovish, cenderung menahan/menurunkan suku bunga) yang dapat membatasi penguatan Euro.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Lynn Song dari ING memperingatkan surplus dagang China yang menyusut pada Maret meningkatkan risiko pertumbuhan, seiring ekspor melambat dan impor melonjak

Surplus perdagangan China pada Maret turun ke level terendah dalam 13 bulan, menjadi US$51,1 miliar, karena ekspor melambat dan impor naik. Untuk 1Q26, surplus perdagangan tercatat US$264,3 miliar.

Dalam hitungan dolar AS, surplus perdagangan 1Q26 turun 2,5% (year on year/yoy, dibanding periode yang sama tahun lalu) dibanding 1Q25. Dalam hitungan renminbi (RMB/yuan, mata uang China), surplus turun 4,8% yoy, yang lebih relevan untuk perhitungan PDB (GDP, nilai total produksi barang dan jasa).

Surplus Perdagangan Sinyal Beban bagi Pertumbuhan

Impor naik seiring kenaikan harga, dengan kenaikan lebih besar pada barang terkait teknologi. Harga energi yang lebih tinggi diperkirakan akan mendorong nilai impor lebih lanjut dalam beberapa bulan ke depan.

Tagihan impor yang lebih besar akan mengurangi dukungan dari ekspor neto (net exports, selisih ekspor dikurangi impor), yang dapat menekan PDB China pada 1Q26. Proyeksi PDB ING untuk 1Q26 saat ini 4,7%, dan dinilai berisiko jika tren ini berlanjut.

Prospek juga bergantung pada permintaan eksternal (permintaan dari luar negeri) dan kebijakan dagang AS, dengan asumsi tidak ada kejutan tarif baru (tarif, pajak impor) namun risikonya tetap ada. Catatan ini menyebutkan materi dibuat dengan alat AI dan ditinjau editor.

Dampak pada Posisi Pasar

Bagi pasar saham, ini mengisyaratkan perlunya sikap lebih hati-hati, dan mempertimbangkan posisi defensif pada indeks saham China yang luas. Turunnya kontribusi ekspor neto—yang selama ini menjadi mesin pertumbuhan—dapat menekan laba perusahaan dan sentimen pasar secara umum. Strategi lindung nilai (hedging, mengurangi risiko) seperti membeli opsi jual (put options, hak untuk menjual di harga tertentu) pada ETF (exchange-traded fund, reksa dana yang diperdagangkan seperti saham) yang berfokus pada China bisa dipertimbangkan menjelang rilis resmi PDB Q1.

Sebaliknya, kuatnya impor menunjukkan peluang lain, terutama di komoditas. Dengan harga minyak Brent bertahan di atas US$95 per barel, kenaikan biaya impor energi akan makin membengkakkan tagihan impor China. Permintaan yang tetap kuat ini, bersama laporan kenaikan 14% yoy impor semikonduktor (chip) bulan lalu, mengindikasikan kekuatan berlanjut bagi pemasok global energi dan komponen teknologi.

Kartu liar tetap risiko tarif baru AS, yang dapat menggagalkan prospek permintaan eksternal. Ketidakpastian ini menunjukkan volatilitas pasar (volatility, besarnya naik-turun harga) kemungkinan meningkat dalam beberapa minggu ke depan. Strategi yang diuntungkan dari naiknya volatilitas dapat berkinerja baik, saat pasar menimbang sinyal pelemahan pertumbuhan domestik di tengah permintaan global yang masih kuat namun sensitif secara politik.

Visa Membentuk Level Dasar di US$300, Bidik US$400, Seiring Tren Naik Usai dan Harga Terkoreksi di Grafik Mingguan

Kenaikan Visa dari titik terendah 2022 disebut sudah tuntas, dengan kenaikan lima gelombang yang mengakhiri gelombang (III) di $375. Setelah itu, saham masuk ke koreksi mingguan yang diberi label gelombang (IV).

Penurunan ini digambarkan sebagai pola koreksi “double three”, yaitu koreksi dua tahap yang biasanya bergerak menyamping dan terdiri dari dua rangkaian tiga gelombang. Harga sudah masuk ke zona “Blue Box” $300–$264 yang disebut sebagai area ekstrem (zona harga yang sering menjadi titik reaksi karena probabilitas pembalikan lebih tinggi).

Analisis memperkirakan ada reaksi naik dari zona ini, setidaknya pantulan tiga gelombang. Gelombang (V) baru diproyeksikan dimulai dari area tersebut, dengan target $395–$427.

Pendekatan ini menyarankan mencari peluang masuk setelah koreksi 3, 7, atau 11 “swing” selesai. “Swing” adalah hitungan ayunan naik-turun pada grafik (rangkaian pergerakan harga) untuk menilai apakah koreksi sudah matang. Analisis juga merujuk pada metode “Blue Box” (metode khusus) untuk menentukan area harga yang berpotensi menjadi zona transaksi.

Scotiabank: Dolar Kanada menguat tipis terhadap dolar AS yang melemah, namun tertinggal dari mata uang utama; USD/CAD mendekati nilai keseimbangan 1,3527

Dolar Kanada mencatat kenaikan kecil terhadap Dolar AS yang melemah, tetapi masih tertinggal dibanding mata uang utama lain dan melemah pada nilai tukar silang (cross rate, yaitu nilai tukar CAD terhadap mata uang selain USD). USD/CAD diperkirakan berada di level wajar (equilibrium, kira-kira nilai “seimbang”) di 1,3527, dengan selisih yang mengecil terutama karena pelemahan Dolar AS, bukan karena penguatan Dolar Kanada.

Pola musiman (seasonality, kecenderungan pergerakan berulang pada bulan tertentu) untuk USD/CAD di April disebut sangat bearish (cenderung turun). Perkembangan politik terbaru dinilai hanya berdampak kecil pada prospek mata uang.

Pada grafik, USD/CAD semakin bearish setelah turun menembus dukungan tren (trend support, garis penahan penurunan) dari titik terendah awal Maret. Pasangan ini juga turun di bawah rata-rata bergerak 200 hari (200-day moving average, rata-rata harga 200 hari terakhir sebagai acuan tren) dan level retracement 38,2% di dekat 1,38 (retracement, level pantulan berdasarkan perhitungan Fibonacci yang sering dipakai trader untuk memetakan area dukungan/tekanan jual).

Penurunan sudah mendekati retracement 50% dari kenaikan Maret di 1,3745. Momentum penurunan jangka pendek yang lebih kuat meningkatkan risiko pelemahan ke kisaran 1,36 bagian atas, dengan 1,3690 ditandai sebagai level retracement 61,8% (level Fibonacci yang kerap dianggap area target/dukungan penting).

Dolar Kanada memang menguat sedikit, namun ini lebih karena pelemahan Dolar AS secara luas. Koreksi perlahan atas valuasi CAD yang dinilai terlalu murah (undervaluation, harga lebih rendah dari nilai wajarnya) kemungkinan tetap digerakkan oleh Dolar AS yang lebih lemah. Tren ini sudah terlihat sejak gejolak (volatility, naik-turun harga yang tajam) pada 2025.

Tren musiman April dinilai sangat mendukung penurunan USD/CAD. Secara historis dalam 15 tahun terakhir, USD/CAD lebih dari 70% menutup bulan April di level lebih rendah. Pola berulang ini mengindikasikan peluang tekanan turun berlanjut hingga akhir bulan.

Sinyal teknikal terbaru memperkuat pandangan bearish. Turunnya harga menembus rata-rata bergerak 200 hari dan level retracement 38,2% di sekitar 1,3800 pekan lalu menjadi sinyal penting. Ini menunjukkan momentum turun masih kuat.

Untuk beberapa pekan ke depan, strategi yang dipertimbangkan adalah membeli opsi put USD/CAD (put option, kontrak yang memberi hak—bukan kewajiban—untuk menjual di harga tertentu sehingga diuntungkan saat harga turun) dengan jatuh tempo akhir April atau pertengahan Mei (expiry, tanggal kontrak berakhir). Harga strike (strike price, harga patokan dalam kontrak opsi) di sekitar 1,3700 dinilai menarik untuk memanfaatkan potensi penurunan menuju dukungan besar berikutnya. Strategi ini membatasi risiko (defined risk, kerugian maksimum diketahui dari premi) sambil mengikuti tren turun.

Pandangan ini didukung perbedaan fundamental ekonomi. Inflasi AS pekan lalu lebih rendah dari perkiraan di 2,9%, sehingga meningkatkan spekulasi The Fed akan jeda (pause, menahan kenaikan suku bunga). Sementara itu, harga minyak WTI (West Texas Intermediate, patokan harga minyak AS) menguat lebih dari 5% dalam sebulan terakhir dan diperdagangkan di atas US$87 per barel, memberi dukungan bagi Dolar Kanada yang sensitif komoditas (commodity-linked, cenderung mengikuti pergerakan harga komoditas). Sikap netral Bank of Canada juga berlawanan dengan The Fed yang berpotensi lebih dovish (dovish, cenderung mendukung kebijakan lebih longgar seperti suku bunga lebih rendah).

Sentimen Positif Menguat pada Selasa: Futures Saham AS Naik, Saham Perangkat Lunak Rebound, Reli Teknologi Berlanjut, Sementara JPM Mandek, Harapan Perdamaian Tetap Ada

Kontrak berjangka saham AS menguat tipis pada Selasa, didukung kenaikan beberapa saham teknologi. Sentimen membaik setelah Iran mengatakan tidak akan menghentikan kapal yang melintas di Selat Hormuz, setelah dua kapal yang terdaftar di bursa China sebelumnya lewat tanpa tindakan AS.

Saham AS menguat, dipimpin sektor barang konsumsi non-pokok (consumer discretionary: saham ritel, otomotif, perjalanan), komunikasi, dan teknologi. Sektor energi tertinggal setelah minyak Brent turun di bawah US$98 per barel. Indeks S&P 500 melanjutkan pemulihan dari penurunan yang terkait awal konflik di Timur Tengah.

Pasar Beralih ke Aset Berisiko

JP Morgan melaporkan pendapatan kuartal I naik 10% (year on year/yoy: dibanding periode yang sama tahun lalu) menjadi US$49,84 miliar, di atas perkiraan US$49,1 miliar. Pendapatan bunga bersih (net interest income: selisih bunga yang diterima bank dari kredit dengan bunga yang dibayar untuk dana nasabah) naik 9% menjadi US$25,48 miliar, dengan proyeksi pendapatan bunga bersih 2026 sebesar US$103 miliar, sementara sahamnya turun 0,4%.

Pendapatan perdagangan (trading revenue: pemasukan dari aktivitas jual-beli instrumen keuangan) naik hampir US$4 miliar menjadi US$23 miliar, dan biaya jasa perbankan investasi (investment banking fees: fee dari kegiatan seperti penerbitan saham/obligasi dan konsultasi M&A) naik 28%. Bank menilai konsumsi masih kuat untuk saat ini, tetapi ada risiko dari faktor perang dan naik-turunnya harga energi.

Saham perangkat lunak rebound, dengan Oracle naik 12% pada Senin dan bertambah 6% pada awal Selasa. Oracle masih hampir 50% di bawah puncak September, dan menyebut teknologinya menghemat konsumen AS US$300 juta per tahun.

Poundsterling naik saat dolar melemah, meski data Inggris lebih lemah. IMF memangkas proyeksi pertumbuhan PDB (GDP: nilai total produksi barang dan jasa dalam suatu negara) Inggris 2026 menjadi 0,8% dari 1,3%. Lelang obligasi pemerintah Inggris 10 tahun (Gilt: surat utang pemerintah Inggris) tercetak pada imbal hasil 4,9% dibanding level pasar 4,76%, dan imbal hasil obligasi 10 tahun Inggris turun 5 bps (basis poin: 1 bps = 0,01%).

Strategi untuk Volatilitas dan Lindung Nilai

Dengan meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah, sinyalnya pasar kembali bersedia mengambil risiko, terutama di sektor teknologi. Indeks Volatilitas CBOE (VIX: ukuran perkiraan gejolak pasar saham AS dari harga opsi) turun di bawah 15 untuk pertama kalinya sejak konflik dimulai. Ini mendukung strategi membeli call option jangka pendek (opsi beli: hak membeli aset pada harga tertentu; jangka pendek: jatuh tempo dekat) pada indeks berbobot teknologi seperti Nasdaq 100. Reli pada saham seperti Oracle menunjukkan minat kembali pada saham perangkat lunak yang sebelumnya dijual besar-besaran pada akhir 2025.

Pemulihan saham teknologi ini mengingatkan pada rebound tajam saham growth (growth stocks: saham perusahaan yang tumbuh cepat, biasanya valuasinya sensitif terhadap suku bunga) pada kuartal II 2023 setelah tekanan besar. Paparan manfaat AI (kecerdasan buatan) Oracle di dunia nyata memberi alasan fundamental bagi optimisme ini, menandakan pasar kembali menghargai inovasi. Strategi lain adalah menjual put spread out-of-the-money (put: hak menjual; spread: gabungan dua posisi opsi; out-of-the-money: harga strike kurang menguntungkan dari harga pasar saat ini) pada ETF (exchange-traded fund: reksa dana yang diperdagangkan seperti saham) perangkat lunak unggulan untuk memanfaatkan sentimen yang membaik dan turunnya volatilitas.

De-eskalasi di Selat Hormuz menekan harga minyak, dengan Brent kini di bawah US$98 per barel. Data terbaru dari Energy Information Administration (EIA: lembaga data energi pemerintah AS) mengonfirmasi pelemahan, menunjukkan kenaikan tak terduga persediaan minyak mentah AS 2,8 juta barel pekan lalu. Tekanan fundamental ini membuka peluang membeli put option pada ETF sektor energi seperti XLE untuk memanfaatkan potensi turunnya harga minyak mencari level dasar baru yang lebih rendah.

Peringatan JPMorgan soal konsumen AS perlu diperhatikan meski pasar menguat. Data Federal Reserve pekan lalu menunjukkan utang kredit bergulir (revolving credit: utang kartu kredit/limit pinjaman yang bisa dipakai berulang) mencapai rekor US$1,5 triliun, menandakan keuangan rumah tangga ketat. Ini membuka peluang lindung nilai (hedging: mengurangi risiko kerugian) dengan membeli put option berjangka lebih panjang pada ETF consumer discretionary, yang berpotensi untung jika pelemahan ini muncul di paruh kedua tahun ini.

Strategis Rabobank mengatakan MAS Singapura memperketat kebijakan nilai tukar, meski PDB lemah, untuk menangkal risiko inflasi inti yang didorong energi

Strategis Rabobank melaporkan bahwa Monetary Authority of Singapore (MAS/bank sentral Singapura) telah memperketat kebijakan lewat nilai tukar di tengah guncangan harga energi saat ini. Langkah ini terjadi meski Singapura mencatat pertumbuhan PDB kuartal I yang negatif, karena kekhawatiran inflasi inti (inflasi yang mengecualikan harga pangan dan energi yang bergejolak) bisa naik.

Mereka juga menggambarkan keterlibatan Indonesia dengan Rusia dan Amerika Serikat. Presiden Indonesia Prabowo bertemu Vladimir Putin di Moskow, sementara menteri pertahanan Indonesia setuju memperdalam kemitraan pertahanan dengan AS.

Monetary Policy And Inflation Outlook

Kemitraan tersebut dilaporkan memungkinkan pesawat militer AS melakukan penerbangan lintas (flyover/melintas di udara), sehingga Pentagon (Kementerian Pertahanan AS) mendapat rute baru menuju Timur Tengah dan Asia. Para strategis mengaitkan perkembangan ini dengan Selat Malaka, titik sempit (chokepoint/jalur sempit yang bila terganggu menghambat arus barang dan energi) untuk energi dan kargo, yang terkait dengan Indonesia dan Singapura.

Mereka menambahkan bahwa Singapura menolak “jalan tol” baru di jalur perairan utama. Para strategis mengatakan valuta asing Asia (foreign exchange/FX: perdagangan mata uang) bisa bereaksi terhadap keputusan kebijakan dan peristiwa geopolitik.

Kami melihat bank sentral Singapura mengambil sikap proaktif melawan inflasi. Mereka memperkuat dolar Singapura untuk menahan kenaikan biaya energi, meski ekonomi menunjukkan tanda melemah. Data terbaru menunjukkan inflasi inti Singapura bertahan di 3,1% pada Maret 2026, sehingga MAS mempertahankan kebijakan yang lebih ketat (hawkish: cenderung menaikkan atau mempertahankan kebijakan ketat untuk menekan inflasi).

Penguatan terencana dolar Singapura (SGD) ini membuka peluang jangka pendek bagi pelaku pasar mata uang. Karena MAS berkomitmen pada arah ini, penggunaan opsi (options: kontrak yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli/menjual aset pada harga tertentu) untuk bertaruh SGD tetap menguat terhadap mata uang dengan bank sentral yang lebih longgar (dovish: cenderung menurunkan suku bunga atau melonggarkan kebijakan) dinilai masuk akal. SGD sudah menguat lebih dari 1,5% terhadap sekeranjang mata uang (basket: gabungan beberapa mata uang sebagai pembanding) tahun ini, dan tren ini diperkirakan berlanjut.

Geopolitics And Strait Of Malacca Risk

Pada saat yang sama, pasar perlu mencermati langkah Indonesia menyeimbangkan hubungan antara AS dan Rusia. Manuver diplomatik ini berdampak langsung pada Selat Malaka, jalur sempit yang penting bagi perdagangan global. Lebih dari 84.000 kapal melintas pada 2025, mengangkut hampir sepertiga dari seluruh barang yang diperdagangkan dunia, sehingga ketidakstabilan di kawasan menjadi risiko besar.

Ketegangan geopolitik yang meningkat ini memperkuat alasan untuk membeli volatilitas (volatility: tingkat naik-turunnya harga yang tajam). Gangguan, atau bahkan ancaman yang dianggap nyata, terhadap Selat Malaka dapat membuat harga minyak dan biaya pengiriman melonjak. Guncangan energi 2022 menunjukkan seberapa cepat Brent (patokan harga minyak global) bisa melesat di atas US$120 per barel karena kekhawatiran seperti ini, sehingga opsi beli (call options: hak untuk membeli pada harga tertentu) berjangka lebih panjang pada minyak dapat menjadi lindung nilai (hedge: strategi untuk mengurangi risiko kerugian) yang lebih aman.

Taborsky Perkirakan Inflasi Rumania Mendekati 11%, Tembus 10%, Dorong Bank Sentral Pertahankan Suku Bunga hingga 2026

Inflasi Rumania pada Maret naik dari 9,3% menjadi 9,9% secara tahunan (year on year/yoy, dibandingkan periode yang sama tahun lalu), di atas perkiraan pasar. Inflasi diperkirakan tetap di atas 10% dalam beberapa bulan ke depan dan mencapai puncak pada April sekitar 11%.

Prospek ini mengarah pada Bank Nasional Rumania mempertahankan suku bunga acuan lebih lama. Tidak ada perkiraan penurunan suku bunga pada 2026.

Di Republik Ceko, estimasi final inflasi Maret akan dirilis setelah rilis awal (flash, data sementara) yang naik dari 1,4% menjadi 1,9%, namun di bawah perkiraan pasar. Perhatian tertuju pada inflasi inti (core inflation, inflasi yang mengecualikan komponen yang harganya sangat bergejolak seperti energi dan makanan) setelah Februari sebesar 2,7%.

Bank Sentral Ceko (CNB) diperkirakan mempertahankan kebijakan moneter (policy, arah pengaturan suku bunga dan likuiditas) tidak berubah tahun ini. EUR/CZK sudah turun di bawah 24,350 dan mendekati 24,250, namun penguatan ke bawah 24,250 tidak diperkirakan dalam kondisi ketidakpastian geopolitik saat ini dan dengan dua kenaikan suku bunga CNB yang sudah “dipatok” pasar (priced in, sudah tercermin dalam harga pasar dan ekspektasi investor).

Di Hungaria, EUR/HUF diperkirakan stabil di kisaran 355–360.

Cetakan inflasi terbaru Rumania sebesar 9,9% memberi sinyal Bank Nasional kemungkinan mempertahankan suku bunga kebijakan (policy rate, suku bunga acuan bank sentral) di 7,00% sepanjang 2026. Ini menunjukkan tekanan harga yang masih kuat. Bagi pelaku pasar, ini mengarah pada penggunaan Forward Rate Agreements (FRA, kontrak untuk mengunci/menetapkan suku bunga pinjaman/deposito di masa depan) untuk berspekulasi bahwa suku bunga Rumania akan tetap tinggi sepanjang tahun.

Di Republik Ceko, situasinya menunjukkan stabilitas, dengan CNB diperkirakan menahan suku bunga acuan tetap. Dengan EUR/CZK kecil kemungkinan menembus jauh di bawah level dukungan (support, area harga yang biasanya menahan penurunan) 24,250 yang bertahan pada kuartal ini, ruang penguatan koruna terbatas. Kondisi ini membuat strategi menjual volatilitas (volatility, ukuran besar-kecilnya pergerakan harga) menarik, misalnya menjual strangle EUR/CZK (strategi opsi menjual opsi beli/call dan opsi jual/put sekaligus pada harga kesepakatan berbeda) dengan strike (harga kesepakatan opsi) di luar kisaran yang diperkirakan untuk beberapa bulan ke depan.

Hungaria tetap menjadi pasar pilihan di kawasan, dengan forint terlihat tahan banting karena siklus pemangkasan suku bunga agresif tahun lalu tampaknya berhenti. Kami memperkirakan nilai tukar EUR/HUF akan berada di kisaran 355–360, menguat dibanding level di atas 380 tahun lalu. Pelaku pasar dapat mempertimbangkan membeli opsi put pada EUR/HUF (hak untuk menjual pada harga tertentu) yang akan diuntungkan jika pasangan ini turun mendekati batas bawah kisaran target tersebut.

GBP/JPY Naik ke Level Tertinggi Sejak 2008, Harga Minyak yang Lebih Mahal Tekan Yen sementara Sentimen Membaik Angkat Sterling di Tengah Harapan Pembicaraan

GBP/JPY naik untuk hari ketujuh pada Selasa, diperdagangkan di dekat 215,60 dan mencapai level tertinggi sejak Juli 2008. Kenaikan harga minyak membebani yen, sementara membaiknya sentimen pasar seiring harapan baru negosiasi AS-Iran mendukung pound.

Harga minyak turun dari puncak terakhir karena peluang putaran kedua pembicaraan di Islamabad. Namun harga tetap tinggi karena ketegangan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz (jalur pelayaran penting untuk pengiriman minyak).

IMF memperingatkan skenario yang lebih buruk dapat membuat rata-rata harga minyak mencapai US$110 per barel pada 2026 dan US$125 pada 2027, dibanding sekitar US$82 pada skenario dasar. IMF juga menilai kondisi ini bisa mendorong sebagian ekonomi masuk resesi (kontraksi ekonomi) dan mengerek inflasi global di atas 6%.

Secara teknikal, pasangan ini masih dalam tren naik, bertahan di atas SMA 100-hari (rata-rata pergerakan sederhana 100 hari) di 210,88 dan SMA 200-hari di 205,68. Indikator menunjukkan RSI (14) (pengukur momentum/kejenuhan beli-jual) di 68, MACD (indikator arah dan kekuatan tren) mendekati 0,41, dan ADX (pengukur kekuatan tren) sekitar 17.

Kenaikan di atas 215,00 dapat membuka jalan ke 217,00, dengan peluang menuju 220,00. Jika turun di bawah 215,00, support (area penahan penurunan) berada di sekitar 213,00, lalu 210,88; penembusan di bawahnya dapat membuka risiko ke 205,68.

Lee Hardman dari MUFG mengatakan indeks dolar kembali melemah seiring pembicaraan AS–Iran kembali meredakan ketegangan

Indeks Dolar AS kehilangan rebound di awal pekan dan kembali mendekati level sebelum konflik Timur Tengah. Optimisme naik terkait kelanjutan pembicaraan AS–Iran dan langkah menuju penurunan tensi (de-eskalasi, yaitu meredakan konflik).

Dolar AS dan Yen Jepang tertinggal, sementara mata uang Skandinavia dan mata uang yang pergerakannya terkait komoditas (misalnya terpengaruh harga minyak dan bahan mentah) tampil terbaik di kelompok G10 bulan ini. Krone Norwegia dan krona Swedia memimpin penguatan, disusul dolar Selandia Baru dan dolar Australia.

Harga minyak turun lagi di bawah USD100 per barel, dan pasar saham global bergerak mendekati rekor tertinggi. Dolar tidak melanjutkan penguatan meski harga energi sempat naik, sehingga menambah risiko penurunan pada proyeksi dolar terbaru MUFG.

Kami mencatat bahwa kegagalan dolar mempertahankan penguatan saat de-eskalasi Timur Tengah pada 2025 adalah sinyal bearish (indikasi harga berpotensi turun) yang penting. Peristiwa itu menegaskan pergeseran ke sentimen risk-on (pelaku pasar lebih berani mengambil risiko), yang menekan mata uang safe haven (mata uang “aset aman” seperti dolar dan yen). Pola dolar yang gagal mempertahankan reli karena berita geopolitik sejak itu makin terlihat.

Mata uang komoditas yang menguat tahun lalu, seperti dolar Australia, mengalami perlambatan momentum pada kuartal pertama 2026. Kami melihat pasangan AUD/USD kesulitan menembus level 0,6900 ketika data CPI (Consumer Price Index, indeks harga konsumen/ukuran inflasi) terbaru Australia menunjukkan inflasi mendingin ke 3,4%. Ini mengindikasikan kenaikan “mudah” dari pemulihan risk-on 2025 kemungkinan sudah berlalu.

Indeks Dolar AS kemudian stabil, bergerak dalam kisaran sempit dan kini bertahan di sekitar 104,5. Keputusan The Federal Reserve pada Maret 2026 untuk menahan suku bunga, dengan alasan inflasi jasa yang tetap lengket (sticky, sulit turun), memberi “lantai” (penopang) bagi dolar untuk sementara. Pergerakan ini menunjukkan fase konsolidasi (harga cenderung bergerak datar dalam rentang tertentu), yang sering cocok bagi penjual opsi.

Dengan stabilitas ini, pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi) dapat mempertimbangkan strategi menjual volatilitas (fluktuasi harga). Misalnya, menyusun short straddle atau short strangle di EUR/USD bisa menjadi strategi untuk mengumpulkan premi (biaya yang dibayar pembeli opsi) saat pasar mencerna langkah The Fed berikutnya. Kami menilai volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan volatilitas yang “terbaca” dari harga opsi) di pasangan utama belum sepenuhnya mencerminkan pola harga yang cenderung bertahan dalam rentang.

Namun, kami juga mencatat Yen Jepang tetap lemah, melanjutkan kinerja buruk sejak 2025. Ini membuat pasangan seperti AUD/JPY sensitif terhadap perubahan mendadak kembali ke sentimen risk-off (pelaku pasar menghindari risiko). Trader dapat mempertimbangkan membeli opsi put out-of-the-money (opsi jual dengan strike/level eksekusi di luar harga pasar saat ini, sehingga lebih murah) pada pasangan ini sebagai lindung nilai (hedge) berbiaya rendah terhadap guncangan global yang tak terduga.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code