Back

Di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga yang lebih moderat, perak melanjutkan penguatan, bertahan di sekitar US$76 per ons pada perdagangan sesi Asia

Perak (XAG/USD) diperdagangkan di dekat $76,00 per ons troy pada sesi Asia Jumat, melanjutkan tren naik. Harga mendapat penopang setelah gencatan senjata AS–Iran memicu penurunan tajam harga minyak, sehingga mengurangi kekhawatiran inflasi kembali naik dan peluang bank sentral menaikkan suku bunga lagi.

Perak juga terdorong oleh melemahnya Dolar AS awal pekan ini, yang membuat harga perak lebih murah bagi pembeli yang memakai mata uang lain. Namun, ruang kenaikan bisa terbatas karena Dolar cenderung stabil saat pasar bergeser ke mode menghindari risiko (risk-off), dipicu ketidakpastian soal berapa lama gencatan senjata akan bertahan.

Risiko Geopolitik dan Pergerakan Dolar

Kehati-hatian tetap ada karena Israel melanjutkan serangan ke Hezbollah, sementara Benjamin Netanyahu mengatakan Israel akan segera memulai pembicaraan langsung dengan Lebanon. Presiden AS Donald Trump menyatakan pasukan AS akan tetap ditempatkan di sekitar Iran sampai kepatuhan penuh terhadap kesepakatan tercapai.

Pasar juga memantau rencana pembicaraan di Islamabad akhir pekan ini, di mana Wakil Presiden AS JD Vance disebut dapat memimpin delegasi AS dalam pertemuan dengan pejabat Iran. Hingga Jumat, belum ada konfirmasi resmi terkait kedatangan delegasi.

Risalah rapat The Federal Reserve (The Fed/bank sentral AS) bulan Maret menunjukkan pembuat kebijakan masih memilih sikap “tunggu dan lihat”, sambil mencatat risiko inflasi terkait harga minyak kini lebih seimbang. Pelaku pasar menanti rilis Indeks Harga Konsumen AS (CPI), yaitu ukuran inflasi di tingkat konsumen, yang dijadwalkan keluar pada sesi Amerika Utara.

Volatilitas dan Strategi Opsi

Perlu diingat, sikap hati-hati The Fed mirip dengan kondisi 2023 saat pembuat kebijakan berhenti sejenak untuk menilai dampak kenaikan suku bunga yang cepat. Risalah rapat Maret menegaskan mereka belum siap menyatakan inflasi benar-benar terkendali setelah terdorong krisis energi tahun lalu. Karena itu, data inflasi hari ini menjadi penentu penting bagi perkiraan suku bunga dalam waktu dekat.

Dengan dua risiko besar—hasil rilis CPI dan ketahanan gencatan senjata—volatilitas tersirat (implied volatility, yaitu perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi) meningkat. Indeks Volatilitas CBOE (VIX), yaitu indikator “rasa takut” pasar saham AS, bergerak di sekitar 25, jauh di atas rata-rata historisnya. Ini menunjukkan pasar memperkirakan ayunan harga besar dalam beberapa pekan ke depan. Bagi pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures), kondisi ini membuat taruhan satu arah menjadi berisiko.

Strategi yang bisa mendapat keuntungan dari volatilitas tinggi, seperti long straddle atau strangle pada ETF perak, layak dipertimbangkan. Long straddle/strangle adalah strategi membeli opsi beli (call) dan opsi jual (put) sekaligus, sehingga trader dapat untung bila harga bergerak besar ke salah satu arah. Call adalah hak untuk membeli aset pada harga tertentu, sedangkan put adalah hak untuk menjual aset pada harga tertentu. Dengan cara ini, trader tidak perlu menebak arah, cukup berharap terjadi pergerakan besar—baik reli jika CPI jauh lebih rendah dari perkiraan, maupun penurunan tajam jika kesepakatan Iran bermasalah.

Sebagai alternatif, karena harga perak sudah berada di level sangat tinggi, membeli put dapat menjadi lindung nilai (hedge, yaitu perlindungan dari risiko penurunan) atau spekulasi atas koreksi. Jika situasi geopolitik stabil dan The Fed tidak memberi sinyal pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat, alasan mempertahankan perak di $76 melemah. Pergerakan pada 2024, ketika logam mulia terkoreksi tajam setelah ketegangan geopolitik mereda, menjadi pembanding yang relevan untuk risiko ini.

Mulai Februari, nilai produksi industri tahunan Swedia naik ke 7%, dari sebelumnya 1,9%

Nilai produksi industri Swedia naik 7% secara tahunan (year on year/yoy, artinya dibanding bulan yang sama tahun lalu) pada Februari. Ini meningkat dari 1,9% pada rilis sebelumnya.

Data menunjukkan pertumbuhan tahunan pada Februari lebih cepat dibanding periode sebelumnya. Tidak ada rincian tambahan dalam pembaruan tersebut.

Implikasi untuk Kebijakan Moneter

Lonjakan 7% secara yoy pada produksi industri menunjukkan ekonomi Swedia masih kuat. Angka Februari ini jauh di atas perkiraan konsensus (perkiraan rata-rata analis) sekitar 2,5%, sehingga perkiraan berbasis model lama perlu ditinjau ulang. Kekuatan ini membuat sikap “dovish” (cenderung mendukung suku bunga rendah) dari Riksbank (bank sentral Swedia) perlu dievaluasi kembali.

Data ini berpotensi mengangkat nilai Krona Swedia, yang belakangan melemah terhadap Euro, bergerak di sekitar 11,35 SEK per EUR selama sebulan terakhir. Strategi yang bisa dipertimbangkan adalah membeli call option (opsi beli, memberi hak membeli di harga tertentu) pada Krona atau menjual put (opsi jual, memberi hak menjual di harga tertentu) terhadap Euro, dengan perkiraan pergerakan menuju level 11,10 dalam beberapa pekan ke depan. Pasar saat ini hanya menilai peluang kecil kenaikan suku bunga tahun ini, pandangan yang ditantang oleh data terbaru ini.

Untuk pasar saham, ini menjadi dorongan bagi indeks OMXS30 Swedia yang banyak berisi saham industri. Karena saham industri menyumbang lebih dari 30% indeks, kinerjanya berpeluang lebih baik dibanding pasar Eropa yang lebih luas. Posisi bisa diarahkan melalui call spread (strategi opsi: membeli call dan menjual call lain untuk membatasi biaya sekaligus membatasi potensi keuntungan) pada kontrak berjangka (futures, kontrak jual/beli di masa depan) OMXS30, dengan target menembus 2.550 yang sulit dilewati sejak Januari.

Jika melihat ke belakang, situasi serupa terjadi pada pertengahan 2025 ketika tanda awal pemulihan ekonomi terlalu lama diabaikan pasar. Keraguan itu berujung pada koreksi (penurunan/penyesuaian harga) yang lebih tajam dan lebih bergejolak di pasar mata uang dan obligasi beberapa pekan kemudian. Bertindak lebih awal dapat memberi harga masuk yang lebih baik sebelum pasar menyesuaikan ekspektasinya.

Volatilitas dan Penempatan Posisi

Volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan gejolak harga yang tercermin dari harga opsi) pada opsi mata uang SEK jangka pendek naik dari 7% ke 9% sejak pengumuman, menandakan pasar mulai mengantisipasi perubahan kebijakan. Premi opsi (biaya opsi) yang lebih tinggi ini bisa dimanfaatkan dengan menjual put out-of-the-money (put dengan harga kesepakatan yang masih jauh dari harga saat ini, sehingga peluang dieksekusinya lebih kecil) pada saham industri seperti Atlas Copco dan Volvo AB. Strategi ini bertujuan memperoleh pendapatan (premi) sambil berharap data ekonomi kuat membantu menopang harga saham mereka.

Menjelang rilis data CPI, Indeks Dolar AS bergerak mendatar di dekat 99,00, mengakhiri penurunan empat hari berturut-turut

Indeks Dolar AS (DXY) mengakhiri pelemahan empat hari dan diperdagangkan di dekat 98,90 pada perdagangan Asia Jumat. Pasar menunggu laporan Indeks Harga Konsumen (CPI)—ukuran inflasi di tingkat konsumen—AS yang akan dirilis pada sesi Amerika Utara untuk melihat arah kebijakan jangka pendek Federal Reserve (The Fed), yaitu bank sentral AS.

Dolar AS mendapat dukungan dari pelaku pasar yang menghindari risiko (risk aversion), dipicu ketidakpastian soal gencatan senjata AS–Iran. Israel melanjutkan serangan ke Hezbollah, sementara Benjamin Netanyahu mengatakan Israel akan segera memulai pembicaraan langsung dengan Lebanon.

Dolar Didukung Risiko Geopolitik

Presiden AS Donald Trump mengatakan pasukan AS akan tetap ditempatkan di sekitar Iran sampai kesepakatan dipatuhi sepenuhnya. JD Vance, Steve Witkoff, dan Jared Kushner dijadwalkan bertemu di Pakistan akhir pekan ini untuk membahas kemungkinan kesepakatan jangka panjang dengan Iran.

Esmaeil Baghaei mengatakan pembicaraan untuk mengakhiri konflik bergantung pada kepatuhan AS terhadap komitmen gencatan senjata, termasuk penghentian permusuhan di Lebanon, yang ditolak Washington dan Israel. Risalah rapat The Fed bulan Maret menunjukkan para pembuat kebijakan memilih sikap “tunggu dan lihat”, sambil mencatat risiko inflasi terkait kenaikan harga minyak kini dinilai lebih seimbang.

Dolar AS adalah mata uang yang paling banyak diperdagangkan di dunia, menyumbang lebih dari 88% dari total transaksi valas (pasar tukar mata uang) global, atau sekitar US$6,6 triliun per hari (2022). Kebijakan The Fed memengaruhi dolar lewat suku bunga (biaya pinjaman) dengan sasaran inflasi sekitar 2%, serta melalui pelonggaran atau pengetatan kuantitatif (QE/QT), yaitu pembelian atau pengurangan pembelian surat utang untuk menambah atau mengurangi likuiditas (uang beredar) di pasar.

Indeks Dolar AS bertahan di dekat 98,90 menjelang rilis data CPI AS yang penting hari ini. Volatilitas tersirat (implied volatility)—perkiraan gejolak harga dari harga opsi—pada opsi dolar jangka pendek terlihat naik, dengan VIX (indeks “ketakutan” pasar yang mengukur perkiraan volatilitas) naik ke 15,8 pekan ini menjelang rilis data. Angka inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat mendorong The Fed bersikap lebih hawkish (lebih condong mengetatkan kebijakan/menaikkan suku bunga), sehingga DXY berpotensi naik di atas 99,50.

Strategi Menjelang Rilis CPI

Risiko berkelanjutan dari situasi AS–Iran memberi dukungan kuat bagi dolar sebagai aset safe haven (aset “perlindungan” saat pasar bergejolak). Ini tercermin di pasar energi, dengan Brent (patokan harga minyak global) bertahan di atas US$92 per barel, yang kembali memicu kekhawatiran inflasi. Kondisi ini menunjukkan opsi put protektif (hak menjual untuk membatasi kerugian) pada mata uang seperti euro atau yen bisa menjadi lindung nilai (hedge) yang masuk akal terhadap potensi eskalasi mendadak pada akhir pekan.

Sikap netral The Fed membuat langkah berikutnya sangat bergantung pada data terbaru, sehingga laporan CPI hari ini menjadi sangat penting bagi arah pasar. Karena itu, strategi opsi straddle atau strangle—membeli opsi beli dan opsi jual sekaligus untuk meraih keuntungan dari pergerakan harga besar ke salah satu arah tanpa harus menebak arahnya—dapat efektif.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Berdasarkan data terkompilasi, harga emas di Arab Saudi relatif tidak berubah, stabil pada Jumat.

Harga emas di Arab Saudi secara umum tidak berubah pada Jumat, berdasarkan data FXStreet. Emas dihargai 574,61 Riyal Saudi (SAR) per gram, dibandingkan SAR 575,00 pada Kamis.

Emas berada di SAR 6.702,19 per tola (satuan berat yang umum dipakai di Asia Selatan), turun dari SAR 6.706,69 sehari sebelumnya. Harga lain yang tercantum adalah SAR 5.746,14 untuk 10 gram dan SAR 17.872,51 per troy ounce (ons troy, satuan berat khusus untuk logam mulia).

Snapshot Harga Emas Arab Saudi

FXStreet menghitung harga emas Arab Saudi dengan mengonversi harga internasional menggunakan kurs USD/SAR serta satuan lokal. Harga diperbarui setiap hari menggunakan harga pasar pada saat publikasi, dan harga lokal dapat sedikit berbeda.

Bank sentral adalah pemegang cadangan (reserve) emas terbesar. Mereka menambah 1.136 ton senilai sekitar US$70 miliar pada 2022, menurut World Gold Council, tertinggi sejak pencatatan dimulai.

Harga emas sering bergerak berlawanan arah (inverse) dengan Dolar AS dan obligasi pemerintah AS (US Treasuries, yaitu surat utang pemerintah AS yang dianggap aset aman). Emas juga dapat bergerak berlawanan dengan aset berisiko seperti saham. Harga juga bisa bereaksi terhadap peristiwa geopolitik, kekhawatiran resesi, dan perubahan suku bunga.

Harga emas saat ini stabil, menandakan pasar cenderung menunggu rilis data ekonomi penting. Konsolidasi (bergerak dalam rentang sempit) ini membuka peluang untuk bersiap menghadapi pergerakan berikutnya, yang kemungkinan dipicu data inflasi mendatang. Pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan kontrak berjangka) bisa memanfaatkan periode tenang ini untuk menyusun strategi untuk beberapa pekan ke depan.

Permintaan Bank Sentral dan Penggerak Pasar

Dukungan dasar bagi emas tetap kuat karena pembelian bank sentral berlanjut. Data World Gold Council yang dirilis pekan lalu menunjukkan bank sentral global menambah 228 ton ke cadangan mereka pada kuartal I 2026, melanjutkan tren pembelian agresif sepanjang 2025. Permintaan yang konsisten ini menciptakan “lantai harga” (level yang menahan penurunan), sehingga penurunan tajam menjadi lebih kecil kemungkinannya.

Namun, sikap Federal Reserve AS (bank sentral AS) yang cenderung hawkish (condong mengetatkan kebijakan, misalnya mempertahankan/menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi) menjadi hambatan besar bagi harga. Setelah pemangkasan suku bunga pada 2025, pasar memperkirakan pelonggaran (easing, kebijakan yang membuat kondisi keuangan lebih longgar) berlanjut, tetapi inflasi yang masih sulit turun pada Februari dan Maret membuat The Fed memberi sinyal jeda. Ini mendorong ekspektasi suku bunga jangka pendek naik, sehingga biaya peluang (opportunity cost, manfaat yang hilang karena memilih satu aset dibanding alternatif lain) memegang emas—aset tanpa imbal hasil (non-yielding, tidak memberi bunga/kupon)—menjadi lebih tinggi.

Perubahan arah kebijakan The Fed ini menguatkan Dolar AS, yang baru-baru ini menyentuh level tertinggi empat bulan terhadap sekeranjang mata uang (ukuran nilai dolar terhadap beberapa mata uang utama). Dolar yang kuat membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga biasanya menekan permintaan. Hubungan terbalik ini terlihat saat ini, membatasi peluang kenaikan harga emas.

Meski begitu, risiko geopolitik menjadi penyeimbang dan menjaga permintaan aset aman. Meningkatnya kembali friksi dagang antara Amerika Serikat dan China memicu ketidakpastian, sehingga sebagian investor mencari perlindungan. Ketegangan ini mengindikasikan bahwa membeli call option (opsi beli, hak untuk membeli pada harga tertentu) dengan jatuh tempo dua bulan bisa menjadi cara lindung nilai (hedging, mengurangi risiko kerugian) yang relatif hemat jika terjadi eskalasi mendadak.

Melihat pasar derivatif, volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan pasar atas besarnya fluktuasi harga ke depan yang tercermin dari harga opsi) untuk opsi emas naik dari level rendah pada akhir 2025. Ini menandakan pelaku pasar memperkirakan pergerakan harga yang lebih besar daripada stabilitas saat ini. Strategi yang diuntungkan dari pergerakan besar ke salah satu arah, seperti long straddle (membeli opsi beli dan opsi jual sekaligus pada harga kesepakatan dan jatuh tempo yang sama), dapat dipertimbangkan dalam beberapa pekan ke depan.

Berdasarkan data kompilasi, harga emas di Filipina relatif tidak berubah dan stabil sepanjang perdagangan

Harga emas di Filipina relatif tidak berubah pada Jumat, berdasarkan data FXStreet. Emas dihargai PHP 9.145,69 per gram, dibandingkan PHP 9.152,41 pada Kamis.

Emas juga dikutip pada PHP 106.673,50 per tola, dari PHP 106.751,90 sehari sebelumnya. FXStreet menghitung harga lokal dengan mengonversi harga internasional memakai kurs USD/PHP dan satuan lokal.

Referensi Harga Harian

Harga diperbarui setiap hari menggunakan harga pasar yang tersedia saat publikasi. Angka ini hanya sebagai acuan, dan harga di tingkat lokal bisa sedikit berbeda.

Emas banyak dipakai sebagai perhiasan dan juga disimpan sebagai penyimpan nilai (aset untuk menjaga daya beli) serta alat tukar. Emas sering digunakan sebagai lindung nilai (cara mengurangi risiko) terhadap inflasi (kenaikan harga) dan pelemahan mata uang.

Bank sentral adalah pemegang emas terbesar dan dapat membelinya untuk diversifikasi cadangan (menyebar simpanan aset agar tidak bergantung pada satu jenis). Mereka menambah 1.136 ton senilai sekitar US$70 miliar pada 2022, menurut World Gold Council.

Harga emas sering bergerak berlawanan arah dengan Dolar AS dan US Treasuries (obligasi pemerintah AS). Emas juga dapat bergerak berlawanan dengan aset berisiko seperti saham.

Pendorong Pasar Utama

Harga emas bisa bereaksi terhadap risiko geopolitik atau kekhawatiran resesi (perlambatan ekonomi). Harga juga dipengaruhi suku bunga dan pergerakan Dolar AS, karena emas dihargai dalam dolar (XAU/USD, yaitu pasangan harga emas terhadap Dolar AS).

Kami melihat harga emas bertahan stabil, tetapi ini bisa menjadi jeda sementara sebelum bergerak lagi. Penopang utama datang dari bank sentral, yang membeli lebih dari 1.000 ton emas untuk tahun ketiga berturut-turut pada 2025. Permintaan besar dan konsisten ini membantu membentuk “lantai” harga (level yang menahan penurunan).

Daya tarik emas juga meningkat karena hubungan berlawanan arah dengan Dolar AS. Saat Federal Reserve (bank sentral AS) melanjutkan siklus penurunan suku bunga secara hati-hati yang dimulai tahun lalu, dolar melemah, sehingga mendorong emas ke level tinggi pada akhir 2025. Kondisi ini membuat emas menarik sebagai lindung nilai terhadap pelemahan mata uang lebih lanjut.

Ketegangan geopolitik yang berlanjut dan kekhawatiran inflasi yang tetap ada juga memperkuat peran emas sebagai aset safe haven (aset “pelarian” saat pasar tidak pasti). Setelah lonjakan inflasi pada awal 2020-an, investor cenderung cepat mencari perlindungan dari volatilitas pasar (naik-turun harga yang tajam). Faktor risiko ini menjadi alasan untuk memperkirakan minat pada emas meningkat saat ketidakpastian.

Untuk trader derivatif (instrumen turunan seperti opsi), ini berarti membeli call option (hak membeli pada harga tertentu) atau membentuk bull call spread (strategi opsi dengan membeli call dan menjual call lain untuk menekan biaya) bisa menjadi strategi yang masuk akal dalam beberapa pekan ke depan. Posisi ini memungkinkan ikut menikmati potensi kenaikan harga sambil membatasi risiko penurunan secara jelas. Ini berguna setelah tren naik kuat sepanjang 2025.

Kita perlu memantau fase konsolidasi (harga bergerak dalam rentang sempit), karena ini bisa memberi titik masuk yang lebih baik untuk posisi long (posisi beli yang diuntungkan saat harga naik). Setelah kenaikan besar tahun lalu, implied volatility (perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi) pada opsi emas bisa tinggi, sehingga penting menyusun transaksi dengan hati-hati. Pertimbangkan menunggu koreksi kecil untuk membeli derivatif, alih-alih mengejar reli (kenaikan cepat) di puncaknya.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Data menunjukkan harga emas di Uni Emirat Arab relatif stabil, nyaris tidak berubah belakangan ini

Harga emas di Uni Emirat Arab pada Jumat relatif tidak berubah, berdasarkan data FXStreet. Emas dihargai AED 562,31 per gram, dibanding AED 562,73 pada Kamis.

Harga emas juga stabil di AED 6.558,62 per tola, turun dari AED 6.563,53 sehari sebelumnya. Harga lain yang tercantum adalah AED 5.623,06 untuk 10 gram dan AED 17.489,05 per troy ounce (ons troy adalah satuan berat untuk logam mulia).

Bagaimana Harga Emas Lokal Dihitung

FXStreet menghitung harga emas lokal dengan mengonversi harga internasional menggunakan kurs USD/AED dan menyesuaikannya dengan satuan ukuran setempat. Harga diperbarui setiap hari saat artikel terbit dan hanya sebagai acuan, karena harga di pasar lokal bisa sedikit berbeda.

Bank sentral adalah pemegang emas terbesar. Menurut World Gold Council, pada 2022 bank sentral menambah 1.136 ton (tonne adalah metrik ton, setara 1.000 kg) atau sekitar US$70 miliar, pembelian tahunan tertinggi sejak pencatatan dimulai.

Harga emas sering bergerak berlawanan arah dengan Dolar AS dan obligasi pemerintah AS (US Treasuries, yaitu surat utang pemerintah AS). Emas juga bisa bergerak berlawanan dengan aset berisiko (misalnya saham). Harganya dapat bereaksi terhadap ketegangan geopolitik, kekhawatiran resesi, dan perubahan suku bunga, karena emas diperdagangkan dalam Dolar AS (XAU/USD adalah kode harga emas terhadap Dolar AS).

Harga emas saat ini cenderung stabil, yang dipandang sebagai fase konsolidasi (bergerak mendatar) setelah kenaikan tajam. Jeda di sekitar level US$2.370 per ounce memberi waktu untuk menilai arah pasar. Bagi trader, kondisi stabil ini menunjukkan pasar sedang “mencerna” kenaikan sebelumnya sebelum bergerak besar berikutnya.

Outlook For Gold Market

Kami menilai faktor dasar (fundamental) masih mendukung emas, terutama karena kebijakan bank sentral. Jika melihat ke belakang, Federal Reserve memulai siklus pemangkasan suku bunga pada akhir 2025. Dengan data inflasi Maret 2026 yang masih “lengket” di 2,8% (artinya turun lambat), imbal hasil riil (real yields, yaitu imbal hasil setelah dikurangi inflasi) diperkirakan tetap rendah. Pasar memperkirakan setidaknya ada dua kali lagi pemangkasan suku bunga tahun ini, yang biasanya menguntungkan aset yang tidak memberi bunga/kupon seperti emas.

Permintaan bank sentral tetap menjadi pendorong kuat bagi harga. Data resmi menunjukkan bank sentral global menambah 800 ton lagi ke cadangan mereka sepanjang 2025, menandakan strategi diversifikasi yang berlanjut untuk mengurangi ketergantungan pada Dolar AS. Pembelian oleh lembaga resmi ini membantu menahan penurunan harga dan menyerap pasokan fisik.

Tren ini juga terlihat di pasar mata uang, ketika Indeks Dolar AS (DXY, ukuran kekuatan Dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama) cenderung melemah, dan baru-baru ini turun di bawah level 101 pada kuartal I-2026. Dolar yang lebih lemah membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang lain, sehingga umumnya meningkatkan permintaan. Hubungan berlawanan arah antara dolar dan emas menjadi salah satu hal kunci yang dipantau.

Dengan faktor-faktor tersebut, stabilnya harga saat ini terlihat seperti konsolidasi yang positif (bullish). Trader produk turunan (derivatif, yaitu instrumen seperti opsi dan kontrak berjangka yang nilainya mengikuti aset acuan) dapat melihatnya sebagai peluang untuk membangun posisi beli (long, yaitu mengambil posisi yang diuntungkan jika harga naik) untuk beberapa bulan ke depan. Menggunakan opsi beli (call options, hak untuk membeli pada harga tertentu) berjangka lebih panjang bisa menjadi strategi untuk memanfaatkan potensi kenaikan. Sementara itu, bull call spread (strategi opsi dengan membeli call dan menjual call lain di strike lebih tinggi untuk menekan biaya) dapat dipakai untuk membatasi biaya dan menetapkan risiko bila tren naik berlanjut.

Di tengah ketegangan Iran, USD/KRW bertahan di dekat 1.480 seiring Bank of Korea tetap menunggu

USD/KRW diperdagangkan di dekat 1.478,00 pada perdagangan Asia Jumat. Pasangan ini tetap kuat karena won melemah setelah Bank of Korea (BoK/bank sentral Korea Selatan) menahan suku bunga acuan di 2,5%, sesuai perkiraan, dan menyampaikan sikap “wait and see” (menunggu dan melihat) karena risiko konflik Timur Tengah.

Gubernur Rhee Chang-yong mengatakan dampak perang Iran terhadap pertumbuhan ekonomi dan inflasi lebih besar dibanding yang terlihat saat perang Ukraina. Ia menambahkan situasinya masih sangat tidak menentu, sehingga mendukung pendekatan “wait and see”.

Sinyal Kebijakan dan Reaksi Pasar

Calon gubernur Shin Hyun-song mengatakan stagflasi (kondisi ketika inflasi tinggi tetapi ekonomi melambat) kecil kemungkinannya terjadi, dan cadangan devisa (simpanan valuta asing milik negara untuk menstabilkan nilai tukar dan membayar kewajiban luar negeri) Korea Selatan dapat membantu meredam guncangan eksternal. Ini dilaporkan KED Global.

Indeks Dolar AS (US Dollar Index/DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) sedikit naik ke sekitar 98,88 menjelang rilis Indeks Harga Konsumen AS (Consumer Price Index/CPI, data inflasi konsumen) untuk Maret. Data dijadwalkan rilis pukul 12:30 GMT.

Pasar juga mencermati pembicaraan antara AS dan Iran. Negosiasi mengenai proposal perdamaian 10 poin di Pakistan dijadwalkan Sabtu.

Melihat perkembangan setahun lalu pada 2025, kunci bagi pelaku pasar adalah menilai seberapa besar risiko geopolitik itu sudah tercermin dalam harga. Pendekatan “wait and see” BoK saat itu, ketika USD/KRW menyentuh 1.478, menjadi sinyal kuat ketidakpastian ekstrem akibat konflik Iran. Kondisi ini memicu lonjakan volatilitas (tingkat besar-kecilnya pergerakan harga), yang menguntungkan trader yang memegang opsi (kontrak derivatif yang memberi hak membeli/menjual pada harga tertentu) posisi long, seperti straddle (strategi membeli call dan put sekaligus pada harga dan jatuh tempo yang sama), yang berpotensi untung saat harga bergerak besar ke dua arah.

Pergeseran Strategi di Era Volatilitas Lebih Rendah

Secara historis, fase ketegangan tinggi membuat strategi lindung nilai (hedging, langkah untuk mengurangi risiko kerugian) menjadi penting bagi pihak yang punya eksposur ke ekonomi Korea Selatan. Membeli call option USD/KRW (hak membeli USD terhadap KRW pada harga tertentu) atau kontrak futures (kontrak berjangka yang mengunci harga untuk transaksi di masa depan) menjadi cara langsung untuk melindungi diri dari pelemahan won lebih lanjut. Pihak yang memegang posisi itu melindungi diri dari skenario yang diperingatkan Gubernur Rhee, yakni dampak konflik yang bisa melampaui perang Ukraina.

Kini, pada April 2026, situasinya berubah. Inflasi Korea Selatan mereda ke 2,8% pada kuartal I, sehingga mendukung pandangan Shin Hyun-song saat itu bahwa stagflasi bukan skenario utama. Won juga stabil jauh di bawah level tertinggi 2025, mengindikasikan skenario terburuk risiko geopolitik tidak sepenuhnya terjadi.

Pelaku pasar kini dapat menutup (unwind) lindung nilai mahal era krisis dan mempertimbangkan strategi yang mencerminkan kondisi lebih stabil, meski tetap hati-hati. Cadangan devisa Korea Selatan tetap kuat di atas US$415 miliar, memberi bantalan besar yang kini lebih diperhitungkan pasar. Ini membuka peluang strategi seperti menjual call option out-of-the-money (opsi call dengan harga strike di atas harga pasar saat ini, peluang dieksekusi kecil) pada USD/KRW untuk meraih premi (biaya yang diterima penjual opsi), dengan asumsi lonjakan kembali ke area 1.470-an kecil kemungkinannya.

Fokus juga kembali ke perbedaan arah suku bunga (monetary policy differentials, selisih kebijakan suku bunga antarnegara), khususnya dengan AS. Indeks Dolar AS berada di 98,88 dan relatif lemah saat gejolak 2025, tetapi arah kebijakan Federal Reserve (The Fed/bank sentral AS) sejak itu lebih mendukung dolar. Kuncinya memantau perbedaan antara kesiapan BoK memangkas suku bunga dibanding The Fed, karena ini dapat menjadi penggerak utama USD/KRW ke depan.

Karena itu, penggunaan strategi derivatif (instrumen turunan dari aset acuan) yang diuntungkan oleh volatilitas lebih rendah, seperti put spread (strategi opsi dengan membeli put dan menjual put lain pada strike berbeda untuk menekan biaya), dapat dipertimbangkan bagi pihak yang ingin melindungi diri dari pelemahan won secara moderat. Strategi ini memberi perlindungan penurunan (downside protection) dengan biaya lebih rendah daripada membeli put secara langsung, sesuai dengan pasar yang tidak setakut setahun lalu, namun tetap memperhitungkan ketidakpastian ekonomi yang tersisa.

USD/JPY Naik Mendekati 159,15 di Tengah Ketegangan Timur Tengah, Pedagang Menanti Rilis Data CPI AS Mendatang

USD/JPY naik ke sekitar 159,15 pada perdagangan Asia Jumat, dengan dolar AS ditopang kekhawatiran soal Selat Hormuz dan situasi Timur Tengah yang lebih luas. Pasar juga memantau rilis inflasi AS Maret lewat laporan CPI (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen) yang dijadwalkan keluar Jumat malam.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Selasa bahwa ia setuju “menangguhkan pengeboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu” jika Iran membuka kembali Selat Hormuz. Pada Jumat, ia menuduh Iran melakukan “pekerjaan yang sangat buruk” dalam pengelolaan jalur pengiriman minyak di selat itu, dan mengatakan ia bisa memerintahkan serangan skala besar jika syarat gencatan senjata tidak dipenuhi.

Ketegangan Timur Tengah dan Dukungan untuk Dolar

Wakil Presiden AS JD Vance serta utusan Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan menggelar pembicaraan di Pakistan pada Sabtu mengenai kemungkinan kesepakatan jangka panjang dengan Iran. Di Jepang, Perdana Menteri Sanae Takaichi mengatakan pemerintah mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak tambahan setara sekitar 20 hari mulai awal Mei untuk menstabilkan pasokan di tengah gangguan pengiriman.

Pasar memperhitungkan kemungkinan Bank of Japan (BoJ/bank sentral Jepang) menaikkan suku bunga pada pertemuan April, yang bisa menopang yen. Tomohisa Fujiki dari Citi Research menilai peluang langkah itu hingga 70%.

Pergerakan yen dipengaruhi kinerja ekonomi Jepang, kebijakan BoJ, dan selisih imbal hasil (yield/tingkat keuntungan obligasi) antara obligasi AS dan Jepang. Nilainya juga bisa berubah mengikuti selera risiko pasar (risk appetite/minat investor mengambil risiko).

Dengan USD/JPY menembus 159, terlihat perpindahan dana ke dolar AS (flight to the US Dollar/arus menuju aset yang dianggap lebih aman) yang dipicu ketakutan geopolitik terkait Selat Hormuz. Ketegangan ini mendorong lonjakan harga minyak, dengan kontrak berjangka (futures/kontrak untuk membeli atau menjual di harga tertentu pada waktu mendatang) Brent naik lebih dari 12% dalam dua minggu terakhir ke dekat US$105 per barel, sehingga menambah daya tarik dolar. Pelaku pasar perlu waspada karena dorongan ini sangat bergantung pada berita, bukan semata faktor dasar ekonomi (fundamentals/kondisi ekonomi inti seperti inflasi, pertumbuhan, dan suku bunga).

Fokus terdekat adalah laporan CPI AS yang akan menjadi pemicu besar (catalyst/pemicu pergerakan harga). Konsensus pasar memperkirakan inflasi inti (core inflation/inflasi tanpa komponen yang bergejolak seperti energi dan pangan) sedikit melambat. Jika terbukti, hal itu dapat mengurangi kekuatan dolar dan membuat pasangan ini turun tajam dari level tinggi. Namun jika inflasi justru lebih tinggi dari perkiraan, pasar kemungkinan meningkatkan spekulasi bahwa The Fed akan lebih agresif (hawkish/cenderung menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi) dan bisa mendorong pasangan ini menuju level 160.

Kebijakan BoJ dan Selisih Suku Bunga

Ada peluang besar BoJ menaikkan suku bunga pada rapat kebijakan April, yang bisa langsung menekan pelemahan yen. Pasar mengingat yen sempat menguat setelah BoJ meninggalkan kebijakan suku bunga negatif pada Maret 2024. Kenaikan kedua dapat mempercepat penguatan yen dan memicu koreksi turun cepat pada USD/JPY.

Potensi langkah BoJ membuat selisih suku bunga/imbal hasil antara obligasi AS dan Jepang menjadi ukuran utama yang perlu dipantau. Selisih antara US Treasury 10 tahun (obligasi pemerintah AS) dan obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun saat ini sekitar 380 basis poin (bps/1 bps = 0,01%). Level ini secara historis mendukung dolar yang kuat. Jika BoJ menaikkan suku bunga, selisih ini berpeluang menyempit, sehingga instrumen derivatif (produk turunan dari aset utama) yang bertaruh USD/JPY turun dalam beberapa minggu ke depan—seperti put option (opsi jual/hak menjual pada harga tertentu)—terlihat lebih menarik.

Dengan tarik-menarik antara faktor geopolitik dan kebijakan uang, tema utama adalah volatilitas (volatility/tingkat naik-turunnya harga). Indeks Volatilitas USD/JPY milik Cboe, JYVIX, sudah naik ke level tertinggi sejak tekanan pasar pada akhir 2025. Kondisi ini mengarah pada strategi “membeli volatilitas” (long volatility/strategi yang diuntungkan bila pergerakan harga membesar), seperti straddle (membeli opsi beli dan opsi jual di harga strike yang sama) atau strangle (membeli opsi beli dan opsi jual di strike berbeda), untuk pelaku pasar yang memperkirakan pergerakan besar tetapi belum yakin arahnya.

Pembicaraan diplomatik di Pakistan akhir pekan ini menjadi faktor tak terduga (wildcard/faktor yang sulit diprediksi). Jika terjadi kesepakatan untuk meredakan konflik (de-escalation/penurunan ketegangan) dengan Iran, harga minyak berpotensi turun tajam dan “premi risiko” dolar (risk premium/kelebihan nilai karena dianggap lebih aman) bisa memudar, sehingga USD/JPY melemah. Sebaliknya, jika negosiasi gagal, posisi dolar sebagai aset aman (safe-haven/aset yang dicari saat ketidakpastian) akan menguat dan dapat mendorong pasangan ini naik lebih tinggi.

XAG/USD Bergerak Mendatar di Bawah Pertengahan US$75, Gagal Menguat Lebih Lanjut Usai Pulih di Atas US$70, dengan 200-EMA 4 Jam Jadi Level Kunci

Perak (XAG/USD) bergerak mendatar dalam rentang sempit pada sesi Asia Jumat, setelah pemulihan tiga hari dari bawah $70,00. Harga diperdagangkan di bawah $75,50 dan nyaris tidak berubah hari ini, namun masih berpeluang menutup pekan ini naik untuk pekan ketiga berturut-turut.

Pada grafik 4 jam, harga masih berada di bawah EMA 200-periode (rata-rata bergerak eksponensial 200 periode, yaitu indikator yang memberi bobot lebih besar pada harga terbaru untuk membaca arah tren), sehingga bias jangka pendek masih tertahan. Sinyal momentum (indikator untuk menilai kekuatan dorongan naik/turun) cenderung mendukung, dengan RSI 14-periode (Relative Strength Index, pengukur kecepatan dan besarnya perubahan harga) di sekitar 57 dan MACD (Moving Average Convergence Divergence, indikator berbasis selisih dua rata-rata bergerak untuk membaca momentum dan perubahan tren) sedikit positif.

Level Resistance dan Support Utama

EMA 200-periode pada H4 (grafik 4 jam) berada di $76,66 dan menjadi resistance (area hambatan kenaikan) pertama yang perlu dicermati. Resistance lanjutan terlihat di level Fibonacci 50,0% di $78,71, kemudian level 61,8% di $82,86, level 78,6% di $88,76, serta puncak siklus (cycle high, titik tertinggi pada fase pergerakan tertentu) di $96,28.

Support (area penopang yang menahan penurunan) dimulai dari level Fibonacci 38,2% di $74,57. Support lebih rendah berada di retracement 23,6% di $69,44 dan area dasar (base, zona akumulasi/penyangga harga) di sekitar $61,15.

Strategi Derivatif dan Positioning

Untuk trader derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures yang nilainya mengikuti aset acuan), ini mengarah pada strategi membeli opsi call (hak, bukan kewajiban, untuk membeli di harga tertentu/strike sebelum jatuh tempo) guna memanfaatkan potensi lanjutan kenaikan. Terlihat volume besar pada kontrak dengan strike $88,00 dan $90,00 untuk jatuh tempo (expiration) Mei dan Juni 2026. Ini menunjukkan ekspektasi pasar bahwa perak akan menguji resistance psikologis utama di $90,00 dalam beberapa pekan mendatang.

Namun, karena kenaikan harga yang cepat, penggunaan spread (strategi menggabungkan beli dan jual opsi untuk membatasi biaya dan risiko) dapat membantu mengelola biaya dan risiko. Bull call spread, misalnya membeli call $85,00 dan menjual call $89,00, memberikan profil risiko-imbalan yang jelas untuk kenaikan bertahap. Pendekatan ini lebih hati-hati, terutama karena data inflasi terbaru Maret 2026 sedikit lebih rendah dari perkiraan, yang bisa menekan harga dalam jangka pendek.

Level teknikal yang dipantau pada 2025 kini menjadi zona support penting. Resistance lama di level Fibonacci $78,71 berpotensi berubah menjadi lantai yang kuat jika terjadi koreksi (pullback, penurunan sementara dalam tren naik). Pelemahan ke kisaran $80,00–$82,00 dapat menjadi peluang untuk menambah posisi bullish (posisi yang diuntungkan saat harga naik).

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Selama perdagangan Asia, pound melemah seiring sentimen risk-off menopang dolar di tengah ketidakpastian mengenai gencatan senjata AS-Iran

GBP/USD turun setelah empat hari menguat, diperdagangkan dekat 1,3430 pada jam perdagangan Asia Jumat. Dolar AS bertahan lebih kuat di tengah kembali naiknya penghindaran risiko (investor mengurangi aset berisiko dan mencari aset yang dianggap lebih aman) terkait ketidakpastian soal gencatan senjata AS-Iran.

Pelaku pasar menunggu rilis laporan inflasi harga konsumen AS (CPI/Consumer Price Index, ukuran kenaikan harga barang dan jasa yang dibayar rumah tangga) yang dijadwalkan pada sesi Amerika Utara. Sentimen overall tetap hati-hati.

Risiko Geopolitik Dan Sentimen Pasar

Israel melanjutkan serangan ke Hizbullah, sementara Benjamin Netanyahu mengatakan Israel akan segera memulai pembicaraan langsung dengan Lebanon. Donald Trump menyatakan pasukan AS akan tetap dikerahkan di sekitar Iran sampai ada kepatuhan penuh terhadap kesepakatan.

JD Vance, Steve Witkoff, dan Jared Kushner dijadwalkan bertemu di Pakistan akhir pekan ini untuk membahas kemungkinan kesepakatan jangka panjang dengan Iran. Esmaeil Baghaei dari Iran mengatakan pembicaraan untuk mengakhiri perang bergantung pada AS yang memegang komitmen gencatan senjata.

Baghaei menyebut komitmen itu termasuk gencatan senjata di Lebanon, yang menurut AS dan Israel tidak termasuk dalam kesepakatan. Andrew Bailey memperingatkan perang Iran bisa memicu krisis seperti 2008, terkait tekanan di pasar private credit (pinjaman swasta di luar perbankan yang tidak transparan) senilai US$3 triliun (£2,2 triliun).

Lindung Nilai Volatilitas Dan Penempatan Posisi

Melihat kembali ketegangan geopolitik 2025, sikap hati-hati pasar saat itu menimbulkan dampak yang masih terasa. Penghindaran risiko yang bertahan, dipicu kebuntuan AS-Iran tahun lalu dan aksi militer Israel, terus mendorong dana ke aset safe haven (aset “pelabuhan aman” saat pasar bergejolak). Ini tercermin pada CBOE Volatility Index (VIX/indeks perkiraan gejolak pasar saham AS), yang bertahan pada level dasar lebih tinggi di sekitar 18, dibanding rata-rata pra-2025 di 14.

Dengan ketidakpastian yang tinggi, trader dapat mempertimbangkan membeli perlindungan dari pergerakan tajam. Call option pada VIX atau VIX futures (kontrak berjangka VIX) adalah cara langsung untuk diuntungkan saat volatilitas yang diperkirakan naik dalam beberapa pekan ke depan. Strategi ini menjadi lindung nilai (hedge/perlindungan risiko) yang efektif untuk portofolio saham long (posisi beli) yang rentan terhadap guncangan geopolitik.

Peran Dolar AS sebagai safe haven utama, yang menguat saat pembicaraan gencatan senjata 2025, masih menjadi tema kunci. Dollar Index (DXY/indeks kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang) naik hampir 3% sejak awal tahun dan tren ini diperkirakan berlanjut selama tensi Timur Tengah masih memanas. Menggunakan derivatif (instrumen turunan seperti futures dan options) untuk mempertahankan posisi long pada Dolar AS, melalui kontrak berjangka atau call option terhadap sekeranjang mata uang, dinilai langkah yang lebih aman.

Sebaliknya, Poundsterling Inggris terlihat rentan, kekhawatiran yang disampaikan Gubernur Bailey tahun lalu. Dengan inflasi Inggris tetap tinggi di atas target Bank of England di 3,1% pada kuartal lalu dan pertumbuhan PDB (GDP/produk domestik bruto, ukuran total aktivitas ekonomi) melemah, GBP/USD berada dalam tekanan. Membeli put option pada GBP/USD (opsi jual yang diuntungkan saat harga turun) dinilai cara relatif murah untuk mengambil posisi jika Pound melemah lebih lanjut.

Ancaman guncangan energi yang disebut Gubernur BoE pada 2025 membuat ekspektasi inflasi (perkiraan inflasi ke depan) bertahan lebih tinggi lebih lama. Ini mengisyaratkan The Fed mungkin lebih lambat menurunkan suku bunga dibanding yang diperkirakan pasar. Karena itu, trader dapat menelaah derivatif suku bunga, misalnya mengambil posisi di SOFR futures (kontrak berjangka berbasis suku bunga acuan SOFR/tingkat pendanaan semalam AS yang dijamin) untuk bertaruh suku bunga tetap tinggi hingga kuartal III-2026.

Peringatan Gubernur Bailey soal pasar private credit semakin relevan karena ukurannya diperkirakan naik menjadi US$3,5 triliun. Credit spread (selisih imbal hasil obligasi berisiko dibanding acuan yang lebih aman) pada utang perusahaan high-yield (obligasi “imbal hasil tinggi” berisiko lebih besar, sering disebut junk bond) melebar 50 basis poin (bp, 1 bp = 0,01%) dalam dua bulan terakhir, menandakan tekanan meningkat. Membeli perlindungan credit default swap/CDS (asuransi gagal bayar) pada indeks seperti Markit CDX North American High Yield Index adalah cara langsung untuk melindungi portofolio dari potensi peristiwa kredit (misalnya gagal bayar atau restrukturisasi utang).

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code