OCBC menyebut USD/SGD turun hingga penutupan pasar New York pada Jumat, terkait penurunan tajam Brent (minyak acuan Laut Utara) dan pelemahan USD/JPY (kurs dolar AS terhadap yen Jepang). Pergerakan ini meredakan kekhawatiran jangka pendek soal inflasi dan imbal hasil obligasi (yield, tingkat keuntungan obligasi).
Mereka menilai penurunan itu lebih karena “reli” (relief rally berbalik arah karena pasar merasa lebih tenang) ketimbang pembalikan tren (reversal) yang sepenuhnya. Mereka memperkirakan pergerakan harga bisa dua arah dalam waktu dekat, dengan kecenderungan menjual saat harga menguat (sell into rallies).
Risiko Geopolitik dan Penggerak Pasar
Mereka mencatat berita geopolitik masih cepat berubah dan dapat memengaruhi harga minyak, ekspektasi inflasi (perkiraan inflasi ke depan), kekhawatiran pertumbuhan, serta sentimen risiko (minat pasar pada aset berisiko). Pasar juga memantau perkembangan AS-Iran dan apakah USD/JPY masih punya ruang untuk turun.
USD/SGD terakhir di sekitar 1,2730. Mereka menyebut momentum harian dan RSI (Relative Strength Index, indikator teknikal untuk mengukur kuat-lemahnya dorongan kenaikan/penurunan harga) belum memberi arah yang jelas.
Mereka menempatkan support (area penopang, tempat harga sering tertahan turun) di 1,2720 dan 1,2680. Mereka menempatkan resistance (area hambatan, tempat harga sering tertahan naik) di sekitar 1,2760 hingga 1,2770, dengan level lebih tinggi di 1,2850.
Pelemahan USD/SGD baru-baru ini menuju 1,2730 dinilai sebagai jeda sementara, bukan pembalikan tren yang nyata. Pergerakan ini terutama dipicu koreksi harga Brent ke sekitar US$85 per barel dan sedikit pelemahan USD/JPY. Namun, faktor dasar yang mendukung dolar AS tetap kuat masih ada.
Strategi Perdagangan dan Level Kunci
Bias tetap menjual saat harga menguat, terutama ketika mendekati zona resistance 1,2760–1,2770. Dengan inflasi AS terbaru untuk April 2026 sebesar 3,5%, kekhawatiran inflasi yang sulit turun (sticky prices, harga yang tetap tinggi) masih ada, sehingga kecil kemungkinan The Fed mengubah sikap ketatnya (hawkish, cenderung menahan/menaikkan suku bunga demi menekan inflasi). Dinamika ini dapat menopang dolar AS dalam beberapa pekan ke depan.
Bagi pelaku yang memperdagangkan derivatif (instrumen turunan seperti opsi yang nilainya mengikuti aset acuan), hal ini mengarah pada strategi membeli opsi put (hak untuk menjual di harga tertentu) saat USD/SGD naik mendekati resistance 1,2770. Strategi ini memberi posisi untuk potensi penurunan berikutnya sambil menetapkan risiko awal secara jelas (biaya premi opsi). Level resistance yang lebih besar, dan area lain yang berpotensi untuk strategi serupa, berada di dekat 1,2850.
Perlu tetap mencermati berita geopolitik karena dapat cepat menggerakkan harga minyak dan sentimen pasar. Pengalaman gejolak serupa pada akhir 2025 sempat membuat pasangan ini melonjak tajam sebelum turun lagi, mendukung strategi menjual saat menguat. Lingkungan saat ini dinilai mirip, ketika reli yang didorong judul berita (headline-driven) bisa cepat kehilangan tenaga.
Meski strategi utama adalah menjual saat menguat, pembacaan netral pada indikator momentum harian menunjukkan pergerakan dua arah masih mungkin dalam waktu sangat dekat. Bisa ada peluang membeli saat turun (buy dips) dekat support 1,2720 untuk transaksi cepat. Namun, ini sebaiknya dipandang sebagai langkah jangka pendek yang berlawanan dengan pandangan strategi yang lebih besar.
Indeks Dolar AS (DXY) bertahan kuat di sekitar 98,40, didukung permintaan aset aman di tengah konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah. Laporan menyebut Iran diduga menyerang kapal militer AS, namun AS membantahnya, dan minat pasar terhadap aset berisiko tetap terbatas.
EUR/USD melemah di sekitar 1,1700, tertekan dolar AS yang lebih kuat dan kondisi perdagangan yang hati-hati. GBP/USD turun ke sekitar 1,3540 karena pelaku pasar menghindari posisi besar menjelang rilis data dan agenda penting.
Market Snapshot And Key Levels
USD/JPY naik tipis ke sekitar 157,10, ditopang permintaan dolar AS, sementara yen juga mendapat minat sebagai aset aman. AUD/USD turun menuju 0,7170 menjelang keputusan Reserve Bank of Australia (RBA).
Pasar memperkirakan RBA menaikkan suku bunga 25 bps (basis poin, atau 0,25%), yang dapat membawa Official Cash Rate (OCR, suku bunga acuan resmi) ke 4,35%. Penguatan dolar AS dan risiko geopolitik membatasi kenaikan dolar Australia.
Minyak WTI (West Texas Intermediate, patokan harga minyak AS) diperdagangkan di sekitar US$105 per barel karena kekhawatiran gangguan pasokan. Emas bergerak menuju US$4.524.
Rilis utama meliputi pembaruan kebijakan RBA, China CPI (Consumer Price Index/indeks harga konsumen, ukuran inflasi), US S&P PMIs (Purchasing Managers’ Index/indeks manajer pembelian, indikator awal aktivitas bisnis), US ISM Services PMIs (PMI jasa versi Institute for Supply Management), US JOLTS job openings (Job Openings and Labor Turnover Survey, data lowongan kerja) untuk Maret, penjualan rumah baru AS untuk Februari dan Maret, serta data ketenagakerjaan Selandia Baru, disusul PMI global dan US NFP (Nonfarm Payrolls, laporan tenaga kerja non-pertanian AS) pada 8 Mei.
One Year Comparison And What Changed
Pada periode yang sama tahun lalu, Mei 2025, pasar didominasi kekhawatiran geopolitik, dengan dugaan serangan di Timur Tengah mendorong DXY ke 98,40. Permintaan aset aman menjadi pendorong utama, membuat pelaku pasar mengurangi risiko di berbagai aset. Fokus tertuju pada berita utama, karena setiap kabar baru bisa menggerakkan pasar.
Saat ini kondisinya berbeda: penguatan dolar lebih didorong kebijakan moneter, bukan semata ketakutan konflik. DXY kini diperdagangkan lebih tinggi, sekitar 105,50, level yang tidak terlihat sejak akhir 2022, terutama karena Federal Reserve memberi sinyal suku bunga “lebih tinggi lebih lama” (higher for longer, artinya suku bunga dipertahankan tinggi lebih lama) untuk melawan inflasi yang masih kuat. Ini berarti strategi opsi (options, instrumen turunan/derivatif yang memberi hak beli/jual pada harga tertentu) lebih tepat berbasis data inflasi dan pernyataan pejabat The Fed, bukan hanya berita geopolitik.
Pada Mei 2025, EUR/USD tertekan di 1,1700, dan kini diperdagangkan jauh lebih rendah di sekitar 1,0730. Pelemahan ini diperkuat oleh sikap Bank Sentral Eropa yang lebih hati-hati dalam menaikkan suku bunga dibanding The Fed. Pelaku pasar derivatif perlu memperhatikan selisih suku bunga (interest rate differential, perbedaan tingkat suku bunga antarwilayah) AS dan Zona Euro, yang saat ini di atas 1,5%, kemungkinan masih menekan pasangan ini.
Harga minyak menjadi perhatian besar setahun lalu, dengan WTI menyentuh US$105 per barel karena takut pasokan terganggu. Kini WTI cenderung lebih stabil di sekitar US$82, seiring meredanya kekhawatiran pasokan. Data terbaru dari EIA (Energy Information Administration, lembaga statistik energi AS) yang menunjukkan kenaikan persediaan minyak mentah AS di luar perkiraan turut meredakan kekhawatiran pasokan, sehingga opsi beli (call options, hak untuk membeli) pada minyak menjadi kurang menarik.
Emas juga mencatat pembelian besar sebagai aset aman tahun lalu, mendorongnya mendekati rekor. Kini, meski emas tetap kuat di sekitar US$2.315 per ons, penopangnya lebih dari peran sebagai pelindung inflasi (inflation hedge, aset penahan dampak inflasi) dan pembelian bank sentral yang solid, bukan karena ketakutan perang semata. Perubahan ini berarti trader bisa memakai derivatif emas untuk melindungi dari kejutan inflasi, bukan hanya sebagai pelindung saat krisis.
Setahun lalu, pasar bersiap untuk kenaikan suku bunga 25 bps dari RBA. Kini perhatian tertuju pada perbedaan arah kebijakan antar ekonomi besar, dengan laporan NFP AS Jumat ini sebagai agenda utama. Perkiraan penambahan 180.000 pekerjaan, dan setiap perbedaan besar dapat memicu volatilitas (naik-turunnya harga yang tajam), sehingga posisi seperti straddle (strategi opsi membeli call dan put sekaligus untuk memanfaatkan pergerakan besar ke salah satu arah) pada indeks utama menarik untuk momen rilis data.
Emas spot naik 0.5% kepada $4,541.83 seauns, manakala XAU/USD didagangkan pada 4,544.44, meningkat 21.30 mata atau 0.47%.
State Street Investment Management berkata emas boleh berprestasi jika Fed kekal tidak berubah, selagi panduan (guidance) masih menunjukkan pelonggaran pada masa hadapan.
Minyak pada paras $100 setong sebagai norma baharu boleh mengehadkan lonjakan emas ke arah $5,000 satu auns troy.
Emas cuba membina semula sokongan selepas penarikan balik (pullback) baru-baru ini, dengan emas spot naik 0.5% kepada $4,541.83 seauns. Pada carta harian, XAU/USD didagangkan pada 4,544.44, meningkat 21.30 mata atau 0.47%, selepas mencecah paras tertinggi sesi 4,544.51 dan terendah 4,513.56.
Gold was little changed as traders monitored Trump’s plan to start guiding some ships through the Strait of Hormuz and progress toward a US-Iran deal https://t.co/72IBIDRD9o
Pergerakan ini menunjukkan pembeli emas masih ada, namun mereka tidak mengejar pasaran dengan agresif. Harga kekal di bawah purata bergerak (moving averages) jangka pendek, yang bermaksud lantunan ini masih rapuh.
Pedagang menunggu isyarat yang lebih jelas daripada Rizab Persekutuan (Fed), dolar AS dan harga minyak sebelum mengambil posisi yang lebih besar.
Panduan Fed Kekal Pemacu Utama Emas
Emas tidak memerlukan pemotongan kadar Fed serta-merta untuk berprestasi. Ia memerlukan pasaran percaya bahawa pemotongan masih akan berlaku. Itulah perbezaan utama bagi pedagang ketika ini.
Penganalisis pasaran berkata emas boleh berprestasi walaupun Fed kekal tidak berubah, selagi konsensus dan panduan hadapan Fed (forward guidance) menunjukkan pelonggaran pada masa hadapan. Ini mengekalkan tumpuan pada bahasa panduan masa depan berbanding hanya keputusan kadar seterusnya.
Jika penggubal dasar kedengaran sabar tetapi masih terbuka kepada pemotongan kadar, emas mungkin mengekalkan sokongan. Jika mereka kedengaran lebih hawkish untuk tempoh lebih lama, logam itu boleh berdepan tekanan baharu.
Pasaran yang lebih luas masih mengambil kira latar inflasi yang mencabar. Reuters melaporkan bahawa pasaran menjangka Fed mengekalkan kadar dasar tidak berubah tahun ini kerana kejutan tenaga global telah menambah tekanan inflasi. Emas spot juga didagangkan dalam julat terkini ketika minyak kekal di atas $100 setong.
Minyak Melebihi $100 Mengehadkan Kes Bullish
Minyak menjadi masalah bagi emas. Ia menyokong naratif lindung nilai inflasi, namun pada masa yang sama membuatkan Fed lebih berhati-hati. Jika minyak mentah kekal pada $100 setong sebagai norma baharu, State Street berkata itu boleh mengehadkan momentum emas ke arah $5,000 satu auns troy.
U.S. oil exports have jumped to 5.2 million barrels per day (bpd) in April, a more than 30% increase over the 3.9 million bpd exported in February before the war, according to data from Kpler.
Logiknya jelas. Minyak yang lebih tinggi menaikkan kos pengangkutan, penghantaran, dan pengeluaran. Ini boleh meningkatkan inflasi dan mengekalkan hasil nyata (real yields) kukuh. Oleh sebab emas tidak memberikan hasil, kadar nyata yang lebih tinggi meningkatkan kos peluang memegang jongkong.
State Street juga berkata bahawa jika minyak jatuh menghampiri $80 setong susulan perjanjian damai dan pembukaan semula Selat Hormuz, emas boleh bergerak melepasi $5,000 seauns dan kemudian menguji semula $5,500 seauns. Sebaliknya, minyak yang didagangkan antara $120 dan $140 setong berkemungkinan menjadi halangan jangka pendek kepada emas kerana ia boleh melambatkan pelonggaran Fed dan menyokong jangkaan dasar yang lebih ketat.
Risiko Perjanjian Damai Ada Dua Hala
Perjanjian damai boleh menjadi pemangkin utama seterusnya untuk emas. Jika perjanjian menurunkan harga minyak dan melemahkan dolar, emas mungkin memperoleh semula momentum kenaikan yang lebih kukuh. Inilah sebabnya pasaran memerhati Selat Hormuz, rundingan AS-Iran, dan aliran tenaga dengan begitu dekat.
Reuters melaporkan bahawa saham di Asia jatuh manakala harga minyak susut tetapi kekal jauh melebihi $100 setong, ketika AS dan Iran terus berusaha ke arah gencatan senjata sambil bertukar serangan berkaitan Selat Hormuz. Minyak mentah Brent turun 0.5% kepada $113.85 setong, manakala minyak mentah AS merosot 1.3% kepada $105.03 selepas melonjak pada sesi sebelumnya.
Gabungan itu membuatkan emas berada dalam corak menunggu. Perjanjian damai yang kredibel boleh melemahkan dolar dan menghidupkan semula penentuan harga pemotongan kadar Fed. Kegagalan perjanjian boleh mengekalkan minyak tinggi, meningkatkan risiko inflasi, dan memperlahankan kenaikan emas walaupun permintaan selamat (safe-haven) kekal aktif.
Analisis Teknikal
XAUUSD didagangkan berhampiran 4544, bertahan dalam fasa penyatuan (consolidation) yang lembut selepas gagal mengekalkan lantunan terkini daripada paras rendah 4098, dengan harga kini meluncur lebih rendah ke arah bahagian bawah julat jangka pendeknya. Struktur yang lebih luas menunjukkan kehilangan momentum selepas penolakan daripada paras tinggi pertengahan April, dengan penjual beransur-ansur mendapatkan semula kawalan.
Dari sudut teknikal, momentum cenderung bearish dalam jangka terdekat. Harga didagangkan di bawah purata bergerak 5 hari (4568.60) dan 10 hari (4625.88), kedua-duanya menurun dan bertindak sebagai rintangan segera. Purata bergerak 20 hari (4701.35) berada jauh di atas harga semasa, mengukuhkan idea bahawa pemulihan telah pudar dan pasaran kini kembali berada di bawah tekanan.
#image_title
Paras utama untuk diperhatikan:
Sokongan: 4510 → 4410 → 4098
Rintangan: 4568 → 4625 → 4700
Harga kini berlegar sedikit di atas zon sokongan 4510, yang sedang diuji selepas gelinciran menurun baru-baru ini. Penembusan di bawah paras ini boleh membuka ruang pergerakan ke arah 4410, dengan risiko penurunan lebih dalam menuju paras rendah 4098 jika momentum jualan meningkat.
Di sebelah atas, 4568 ialah paras pertama untuk diperhatikan, selari dengan rintangan trend jangka pendek. Pergerakan kembali melepasi zon ini diperlukan untuk menstabilkan tindakan harga, namun perubahan momentum yang lebih kukuh berkemungkinan memerlukan penembusan semula 4625–4700.
Secara keseluruhan, emas kehilangan momentum menaik dan kembali ke dalam struktur pembetulan, dengan harga memampat berhampiran sokongan. Pergerakan seterusnya berkemungkinan bergantung pada sama ada 4510 bertahan atau ditembusi ke arah penurunan yang lebih dalam.
Unjuran Berhati-hati
Prospek jangka terdekat emas kekal bercampur ketika XAU/USD didagangkan di bawah 4,568.60 dan 4,625.88. Penutupan di atas 4,568.60 akan membantu pembeli menstabilkan pasaran, namun emas memerlukan pergerakan melepasi 4,701.35 untuk membina semula struktur bullish yang lebih kemas.
Kes bullish bergantung pada tiga pemangkin: harga minyak yang lebih lembut, tekanan dolar yang lebih lemah, dan panduan Fed yang lebih jelas ke arah pelonggaran pada masa hadapan. Kes bearish meningkat jika minyak kekal hampir atau melebihi $100, Fed menjadi lebih hawkish, dan XAU/USD menembusi di bawah 4,513.56.
Soalan Pedagang
Mengapa Emas Naik Hari Ini?
Emas naik hari ini kerana pedagang masih menjangkakan pelonggaran Fed pada masa hadapan, walaupun Fed mengekalkan kadar tidak berubah buat masa ini. Emas spot naik 0.5% kepada $4,541.83 seauns, manakala XAU/USD didagangkan pada 4,544.44, meningkat 21.30 mata atau 0.47%.
Berapakah Harga Semasa XAU/USD?
XAU/USD didagangkan pada 4,544.44, naik 21.30 mata atau 0.47%. Paras tertinggi sesi ialah 4,544.51, dengan paras terendah 4,513.56, pembukaan pada 4,523.87, dan penutupan pada 4,523.14.
Mengapa Panduan Rizab Persekutuan Penting Untuk Emas?
Panduan Rizab Persekutuan penting untuk emas kerana ia membentuk jangkaan pemotongan kadar dan dolar AS. Emas masih boleh berprestasi ketika Fed kekal tidak berubah jika panduan hadapan menunjukkan pelonggaran pada masa hadapan.
Jika Fed memberi isyarat pemotongan pada masa depan, dolar mungkin melemah dan emas mungkin menarik lebih ramai pembeli. Jika Fed menjadi lebih hawkish, emas mungkin berdepan tekanan.
Bolehkah Emas Naik Jika Fed Tidak Memotong Kadar?
Emas boleh naik walaupun Fed tidak memotong kadar serta-merta, selagi pasaran percaya pemotongan kadar masih akan berlaku. State Street Investment Management berkata emas boleh berprestasi jika konsensus dan panduan Fed terus menunjukkan pelonggaran pada masa hadapan.
Ini bermakna pedagang memerhati bahasa Fed sama pentingnya seperti langkah dasar seterusnya.
Mengapa Minyak Pada $100 Boleh Mengehadkan Harga Emas?
Minyak pada $100 setong boleh mengehadkan harga emas kerana kos tenaga yang lebih tinggi boleh mengekalkan tekanan inflasi pada paras tinggi. Jika inflasi kekal degil, Fed mungkin menangguhkan pemotongan kadar atau mengekalkan nada dasar yang lebih ketat.
Itu boleh menyokong dolar dan hasil nyata, sekali gus mengehadkan momentum emas ke arah $5,000 satu auns troy.
Mula berdagang sekarang – Klik di sini untuk membuat akaun sebenar VT Markets
Silver (XAG/USD) turun lebih dari 3% pada Senin setelah Dolar AS menguat karena permintaan aset aman (safe haven), dipicu meningkatnya ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz. XAG/USD diperdagangkan di US$72,74 setelah sempat menyentuh US$76,00, seiring Angkatan Laut AS memulai “Operation Freedom” milik Donald Trump.
Setelah menguat pada Jumat, XAG/USD berbalik arah dan membentuk pola *bearish engulfing* (pola pembalikan turun: candlestick merah menelan candlestick hijau sebelumnya) pada grafik. Relative Strength Index (RSI) (indikator kekuatan tren; di sini menunjukkan dorongan turun) mengarah pada momentum bearish.
Support Kunci Dan Level Penurunan
Penurunan di bawah US$70,86, titik terendah siklus terbaru dan *swing low* 20 April (titik rendah sementara setelah pergerakan naik), bisa memperpanjang pelemahan. Level berikutnya adalah US$70,00 dan terendah April di US$68,28.
Di sisi atas, pembeli perlu menembus US$73,00 untuk membidik level yang lebih tinggi. Titik hambatan (resistance) berikutnya adalah puncak 4 Mei di US$76,98 dan US$78,00.
Harga perak dipengaruhi risiko geopolitik, kekhawatiran resesi, suku bunga, dan Dolar AS karena perak diperdagangkan dalam dolar. Harga juga ditentukan oleh permintaan, pasokan dari tambang, daur ulang, penggunaan industri untuk elektronik dan energi surya, serta tren di AS, China, dan India, dan sering bergerak searah dengan emas.
Latar Makro Dan Pendorong Fundamental
Berbeda dari tahun lalu, Dolar AS tidak mendapat dorongan *safe haven* yang sama, dan Federal Reserve memberi sinyal jeda kenaikan suku bunga. Dolar yang lebih lemah dan suku bunga stabil mendukung aset tanpa imbal hasil seperti perak (aset yang tidak memberi bunga/kupon). Ini berbeda dengan kondisi awal Mei 2025, ketika penguatan dolar menjadi tekanan besar bagi logam mulia.
Permintaan industri tetap menjadi pendorong kuat bagi perak, jauh melampaui perkiraan tahun lalu. Konsumsi industri global diproyeksikan mencetak rekor baru 690 juta ons pada 2026, didorong lonjakan 20% (year-on-year/yoy: dibanding periode yang sama tahun sebelumnya) permintaan untuk panel surya dan produksi EV (kendaraan listrik). Penggunaan industri yang kuat ini menjadi penopang harga, yang pada periode ini di 2025 kalah dominan dibanding isu geopolitik.
Rasio emas/perak (Gold/Silver ratio: berapa ons perak setara 1 ons emas), yang sempat naik di atas 85:1 sekitar periode yang sama tahun lalu, telah terkoreksi ke kisaran rata-rata historis 78:1. Rasio ini masih tergolong tinggi, menandakan perak relatif “murah” dibanding emas dan berpeluang mengejar. Ini bisa mendorong pelaku pasar mencari transaksi nilai relatif, lebih memilih perak dibanding emas.
Secara teknikal, pola turun Mei 2025 sudah tidak relevan. Alih-alih tertahan di level US$73, perak kini bergerak mendatar (konsolidasi: bergerak dalam rentang sempit) di atas support kuat US$82 dan berpotensi menguji puncak beberapa tahun di sekitar US$88. Untuk trader derivatif (produk turunan seperti opsi), kondisi ini cenderung mendukung pembelian *call option* (hak membeli pada harga tertentu) atau strategi *bull call spread* (membeli call dan menjual call di strike lebih tinggi untuk menekan biaya) untuk memanfaatkan potensi kenaikan menuju US$90.
Inflasi Indonesia melambat menjadi 2,42% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada April, turun dari 3,48% pada Maret. Angka ini di bawah perkiraan pasar 2,70% dan masih dalam kisaran target Bank Indonesia (BI) 2,5% ±1,0%.
Pelonggaran inflasi terjadi setelah tekanan harga terkait libur panjang berakhir. Inflasi energi tetap terkendali, antara lain karena BBM bersubsidi (bahan bakar yang harganya ditahan pemerintah). Sementara itu, inflasi inti (core inflation, yakni inflasi “dasar” yang biasanya mengecualikan harga pangan bergejolak dan energi) relatif stabil.
Risiko Harga Minyak terhadap Inflasi
Harga minyak global masih menjadi risiko kenaikan. Kenaikan Brent (patokan harga minyak global dari Laut Utara) dapat meningkatkan biaya logistik dan transportasi, yang kemudian bisa mendorong inflasi inti maupun inflasi pangan.
Pemerintah diperkirakan bekerja sama dengan BI untuk mengendalikan biaya logistik dan harga pangan melalui Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan dan Stabilitas Harga (GPIPS). BI diperkirakan mempertahankan suku bunga kebijakan (policy rate, suku bunga acuan) di 4,75% seiring koordinasi tersebut.
Inflasi yang stabil dinilai memberi ruang bagi BI untuk menahan suku bunga di 4,75%, meski rupiah melemah. Sikap ini sejalan dengan kebijakan fiskal ekspansif (belanja pemerintah yang lebih besar untuk mendorong ekonomi).
Implikasi Pasar terhadap Suku Bunga
Dengan inflasi April yang lebih rendah dari perkiraan di 2,42%, BI dinilai tidak memiliki alasan kuat untuk mengubah suku bunga acuannya dari 4,75% dalam waktu dekat. Ini mengindikasikan gejolak jangka pendek di pasar suku bunga (pergerakan harga instrumen berbasis suku bunga) berpotensi tetap rendah. Kondisi ini dapat mendukung strategi yang diuntungkan oleh suku bunga stabil.
Kesediaan bank sentral menoleransi rupiah yang lebih lemah demi pertumbuhan menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar valas. USD/IDR (kurs dolar AS terhadap rupiah) sudah menguji level 16.500 tahun ini, dan sikap kebijakan ini membuka peluang pelemahan lanjutan. Posisi untuk rupiah yang melemah dapat dilakukan melalui futures valas (kontrak berjangka untuk membeli/menjual mata uang pada harga dan waktu tertentu) atau opsi (options, hak untuk membeli/menjual pada harga tertentu), terutama saat Federal Reserve mengisyaratkan penundaan pemangkasan suku bunganya.
Risiko utama terhadap prospek stabil ini berasal dari harga energi global. Brent berada di sekitar US$91 per barel, dan kenaikan bertahan di atas US$95 dapat menaikkan biaya transportasi domestik secara signifikan, sehingga BI mungkin perlu meninjau ulang sikap dovish (dovish, cenderung longgar dan mendukung suku bunga rendah). Karena itu, pasar minyak perlu dipantau sebagai pemicu perubahan kebijakan moneter Indonesia dan ekspektasi inflasi.
Kondisi serupa pernah terjadi pada paruh kedua 2025 saat lonjakan harga komoditas sempat mengguncang pasar obligasi. Namun BI saat itu mempertahankan suku bunga acuannya dan mengandalkan koordinasi dengan pemerintah untuk mengendalikan biaya pangan dan logistik. Langkah tersebut memperkuat pandangan bahwa BI memiliki ambang yang tinggi untuk menaikkan suku bunga hanya karena guncangan eksternal.
Dengan ekspektasi kebijakan yang stabil, menerima suku bunga tetap pada interest rate swap rupiah (swap suku bunga, kontrak untuk menukar pembayaran bunga mengambang dengan bunga tetap) dapat menjadi posisi menarik. Strategi ini diuntungkan jika suku bunga bertahan di level saat ini, sejalan dengan pandangan bahwa BI akan memprioritaskan dukungan pertumbuhan ketimbang mempertahankan nilai tukar dalam waktu dekat. Data inflasi terkini memberi ruang lebih besar untuk mempertahankan sikap tersebut.
Tyson Foods melaporkan kinerja sebelum pasar dibuka. Laba per saham (EPS, *earning per share*—laba bersih dibagi jumlah saham beredar) melampaui perkiraan 11,59% dan pendapatan melampaui 0,18%. Harga saham naik hampir 4% ke sekitar US$66,25.
Tyson adalah produsen daging besar yang mengolah ayam, sapi, dan babi untuk pelanggan ritel dan layanan makanan (*foodservice*—pemasok restoran, katering, dan institusi) di seluruh dunia. Area US$66,25 menjadi “resistance” (level penahan kenaikan/hambatan harga) lebih dari setahun.
Level ini diuji pada September 2024 dan Februari 2026, dan harga kembali turun pada kedua kesempatan tersebut. Jika harga menembus US$66,25 dan ditutup menguat pada penutupan mingguan (konfirmasi tren lewat *weekly close*—penutupan harga akhir pekan perdagangan), maka resistance berikutnya berada di US$72,83.
Jika harga melewati US$72,83, garis tengah 50% dari *inclining parallel channel* (kanal paralel yang menanjak—rentang pergerakan harga di antara dua garis tren naik) berada di US$83,33. Jika menembus US$83,33, harga masuk ke separuh atas kanal tersebut.
Jika kenaikan memudar dan harga kembali turun dari US$66,25, “support” (level penahan penurunan) berada di US$60,36. Jika turun lebih jauh, batas bawah kanal berada di US$53,85.
Dengan saham Tyson Foods menekan resistance penting US$66,25, keputusan transaksi jangka pendek menjadi dua arah. Bagi yang percaya laporan laba positif akan memicu “breakout” (penembusan kuat di atas resistance), membeli opsi beli (*call option*—hak membeli saham di harga tertentu sebelum jatuh tempo) memberi “leverage” (pengganda paparan: modal lebih kecil untuk eksposur lebih besar). Perlu melihat jatuh tempo beberapa minggu ke depan, seperti kontrak Juni 2026 dengan harga kesepakatan (*strike price*—harga yang digunakan dalam kontrak opsi) US$67 atau US$68, untuk menangkap potensi kenaikan menuju US$72,83.
Alternatif strategi bullish adalah menjual “put credit spread” di luar uang (*out-of-the-money put credit spread*—menjual opsi jual dan membeli opsi jual lain di strike lebih rendah; untung jika saham tidak jatuh tajam). Misalnya, bisa menjual spread dengan strike di bawah support US$60,36 untuk jatuh tempo Juni atau Juli 2026. Strategi ini mengumpulkan premi (uang yang diterima penjual opsi) sambil memberi ruang bagi saham bergerak mendatar sebelum berpotensi naik lagi.
Sebaliknya, jika memperkirakan ini akan menjadi penolakan lagi di resistance, membeli opsi jual (*put option*—hak menjual saham di harga tertentu sebelum jatuh tempo) adalah cara langsung. Kegagalan ketiga di US$66,25 bisa menjadi penentu, sehingga put Juni 2026 dengan strike US$65 menarik untuk menargetkan penurunan kembali ke US$60,36. Secara historis, pernah terlihat pelemahan pasca-laba setelah reli awal pada September 2024.
Skenario bearish diperkuat oleh volatilitas historis pasar komoditas (harga bahan baku yang mudah bergejolak), karena lonjakan tak terduga biaya pakan dapat cepat menghapus optimisme dari laporan ini. Hal itu pernah terjadi saat gangguan rantai pasok 2024 dan 2025, ketika sentimen investor pada produsen pangan bisa berubah cepat. Cara dengan risiko terukur (*defined-risk*—kerugian maksimum sudah dibatasi sejak awal) adalah menjual “call credit spread” (menjual call dan membeli call lain di strike lebih tinggi; untung jika saham tertahan atau turun) dengan strike jual sedikit di atas resistance US$66,25, sehingga diuntungkan bila saham sulit naik atau berbalik turun.
Joachim Nagel, pembuat kebijakan ECB dan Presiden Bundesbank, berbicara di Frankfurt am Main pada Senin. Ia mengatakan konflik Timur Tengah yang lebih lama meningkatkan risiko inflasi tetap tinggi jika ECB tidak bertindak.
Ia mengatakan posisi awal jauh lebih baik dibanding 2022. Ia menambahkan kenaikan suku bunga pada Juni bisa diperlukan jika prospek inflasi tidak membaik.
Penyesuaian Ulang Jalur Kebijakan ECB
Komentar ini merupakan sinyal hawkish (cenderung mendukung kebijakan lebih ketat, seperti menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi) dari anggota ECB yang sangat berpengaruh. Ini berarti langkah berikutnya ECB bisa berupa kenaikan suku bunga, bukan penurunan. Kondisi ini menantang narasi pasar dan menuntut peninjauan ulang posisi yang sensitif terhadap suku bunga Eropa.
Alasannya terkait data terbaru: ketegangan geopolitik terlihat mendorong harga energi. Inflasi Zona Euro berdasarkan Harmonised Index of Consumer Prices (HICP, indeks inflasi standar Uni Eropa yang mengukur perubahan harga barang dan jasa konsumsi) untuk April 2026 tercatat 2,7% dan masih “lengket” (sulit turun cepat), jauh di atas target 2%. Harga minyak Brent (patokan global harga minyak mentah) juga bertahan di atas US$95 per barel selama sebulan terakhir, memperkuat tekanan inflasi dan mendukung pandangan hawkish.
Bagi pelaku pasar suku bunga jangka pendek, ini berarti harga pasar untuk rapat ECB Juni perlu menyesuaikan. Instrumen seperti futures EURIBOR 3 bulan (kontrak berjangka yang mencerminkan ekspektasi suku bunga pinjaman antarbank euro tertinggi) dan overnight index swaps/OIS (swap suku bunga yang mereferensikan suku bunga semalam) perlu mencerminkan peluang lebih tinggi untuk kenaikan 25 basis poin (bps; 1 bps = 0,01%, jadi 25 bps = 0,25%). Ini biasanya berarti menjual futures suku bunga tenor terdekat untuk bersiap pada imbal hasil yang lebih tinggi.
Di pasar valuta asing, prospek ini pada dasarnya mendukung euro. Permintaan euro berpotensi meningkat, sehingga ada peluang di pasar opsi dengan membeli call spread EUR/USD (strategi opsi membeli call dan menjual call lain pada strike lebih tinggi untuk membatasi biaya dan risiko) agar bisa menangkap potensi kenaikan dengan risiko terukur. Implied volatility (volatilitas tersirat, yaitu perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi) pada pasangan euro juga berpotensi naik menjelang rapat Juni.
Ekonom DBS Group Research, Ma Tieying, menaikkan perkiraan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB/GDP) Taiwan tahun 2026 menjadi 9,4% dari 7,0%, dengan alasan ekspor yang didorong kecerdasan buatan (AI) lebih kuat dan permintaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK/ICT) tetap stabil. Proyeksi ini menunjukkan laju ekspansi tercepat sejak pemulihan pascakrisis keuangan global pada 2010.
Laporan tersebut menyoroti PDB kuartal I yang kuat dan memperkirakan pertumbuhan kuartalan mencapai puncak pada kuartal I (1Q). Setelah itu, pertumbuhan diperkirakan melambat pada paruh berikutnya 2026.
Disebutkan siklus perangkat keras global yang berfokus pada AI diperkirakan tetap kuat meski ada ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Ini diperkirakan menopang permintaan semikonduktor (chip), server, dan ekspor TIK lainnya.
Laporan menambahkan ekspor non-TIK berpeluang mendapat tekanan lebih besar saat permintaan global melambat. Laporan juga menyoroti keterbatasan pasokan LNG (gas alam cair, gas yang didinginkan agar mudah diangkut) sebagai kendala struktural.
Laporan itu juga mencantumkan biaya energi yang lebih tinggi serta risiko pembatasan pasokan listrik (penjatahan listrik) sebagai risiko makroekonomi utama.
John Williams mengatakan belum mungkin mengetahui bagaimana perang Iran akan memengaruhi perekonomian AS. Ia menilai kebijakan moneter AS (kebijakan suku bunga dan pengaturan likuiditas oleh bank sentral) masih berada pada posisi yang tepat untuk menghadapi ekonomi yang tidak pasti.
Ia mengatakan risiko terhadap dua mandat The Fed (menjaga inflasi rendah dan stabil, serta menjaga lapangan kerja tetap kuat) sama-sama meningkat, dan ekonomi menghadapi kondisi yang tidak biasa. Ia menggambarkan prospek energi di pasar saat ini relatif tenang, namun tetap mengingatkan adanya skenario negatif yang masuk akal.
Ketidakpastian Perang Iran dan Lindung Nilai terhadap Guncangan Harga Minyak
Ia memperkirakan inflasi kemungkinan 3% tahun ini dan kembali ke target 2% pada 2027. Ia menilai tarif (bea masuk impor) dan energi menjadi pendorong utama inflasi, sementara inflasi inti (inflasi dasar, biasanya tidak memasukkan komponen yang sangat bergejolak seperti energi dan pangan) relatif stabil, dan inflasi akibat tarif diperkirakan mereda.
Ia mengatakan mulai muncul gangguan rantai pasok (hambatan pengiriman dan ketersediaan barang dari produsen ke konsumen). Ia menilai positif bahwa ekspektasi inflasi (perkiraan masyarakat dan pelaku pasar soal inflasi ke depan) masih terkendali, dan tugas The Fed adalah menjaganya tetap stabil.
Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS sekitar 2% hingga 2,25% tahun ini. Ia memperkirakan tingkat pengangguran bertahan di kisaran 4,25% hingga 4,50%, dan menilai pasar tenaga kerja masih cukup kuat.
Ia mengatakan pertumbuhan angkatan kerja berubah, dan titik impas pasar kerja (jumlah penambahan pekerjaan minimum agar pengangguran tidak naik) kini mungkin berada di 0 hingga 50.000 pekerjaan per bulan. Ia mengatakan R-star (suku bunga netral, yaitu tingkat suku bunga yang tidak mendorong maupun menahan ekonomi) kemungkinan lebih tinggi daripada pembacaan rendah terbaru, dan 3% kemungkinan menjadi tingkat suku bunga dana federal jangka panjang (Fed funds rate, suku bunga acuan antarbank AS yang memengaruhi biaya pinjaman di seluruh ekonomi).
Euro melemah terhadap Dolar AS pada Senin setelah muncul laporan serangan kembali di Timur Tengah. EUR/USD diperdagangkan di sekitar 1,1690, turun sekitar 0,25% pada hari itu.
Indeks Dolar AS (DXY)—pengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama—bergerak di sekitar 98,47, melanjutkan pemulihan pada Jumat dari level terendah sekitar dua pekan. Uni Emirat Arab diserang Iran untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata yang rapuh pada awal April.
Ketegangan Timur Tengah Kembali Memanas
Kebakaran dilaporkan terjadi di sebuah lokasi minyak di Fujairah setelah serangan drone (pesawat tanpa awak). Militer Inggris mengatakan dua kapal kargo terbakar di lepas pantai UEA.
Kantor berita Fars milik Iran menyebut dua rudal menghantam kapal angkatan laut AS dekat Jask setelah peringatan yang diduga disampaikan IRGC—Korps Garda Revolusi Islam, unit militer elite Iran. Seorang pejabat AS membantah ada kapal Amerika yang terkena serangan, menurut Axios.
Teheran dikaitkan dengan pergerakan di sekitar Selat Hormuz—jalur pelayaran sempit dan sangat penting bagi pengiriman minyak global—setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan misi angkatan laut bernama “Project Freedom”. Misi ini bertujuan mengawal kapal-kapal yang terjebak agar bisa keluar dari jalur tersebut.
Harga minyak tetap memuat premi risiko geopolitik, yaitu tambahan harga karena ketidakpastian konflik. Biaya energi yang lebih tinggi mendorong inflasi (kenaikan harga barang/jasa), sehingga bank sentral cenderung mempertahankan kebijakan ketat, yakni suku bunga tinggi untuk menekan inflasi.
Prospek Suku Bunga dan Volatilitas
CME FedWatch Tool—alat yang membaca peluang arah suku bunga The Fed dari harga kontrak futures (kontrak berjangka)—menunjukkan peluang kenaikan suku bunga AS pada Desember sekitar 33%, naik dari hampir nol sepekan lalu. Pasar memperkirakan setidaknya dua kali kenaikan suku bunga ECB (Bank Sentral Eropa), seiring fokus beralih ke laporan Nonfarm Payrolls AS pada Jumat—data utama ketenagakerjaan di luar sektor pertanian.
Euro berada di bawah tekanan terhadap dolar AS, diperdagangkan di sekitar 1,0750, setelah serangan kembali terhadap kapal di Selat Bab el-Mandeb mendorong pelaku pasar masuk ke dolar sebagai safe haven, yaitu aset “perlindungan” saat risiko meningkat. Indeks Dolar AS (DXY) bertahan di atas 104,50, mencerminkan penguatan yang luas. Kondisi ini menekan aset berisiko dan mengingatkan pada episode ketegangan geopolitik sebelumnya.
Dampaknya paling terlihat di pasar energi, dengan harga minyak Brent—patokan global—melonjak 8% dalam dua pekan terakhir ke atas US$92 per barel. Lonjakan ini menambah rumit arah inflasi, dengan data core CPI AS terbaru tetap tinggi di 3,6%. Core CPI adalah inflasi inti, yaitu inflasi yang biasanya tidak memasukkan harga pangan dan energi yang bergejolak, sehingga dianggap lebih mencerminkan tren.
Bagi pasar, ini berarti The Fed kecil kemungkinan memangkas suku bunga dalam waktu dekat, berbeda dari perkiraan sebulan lalu. Bahkan, pasar futures kini menunjukkan peluang sekitar 40% untuk kenaikan suku bunga pada September. Namun ECB berada dalam posisi lebih sulit, menghadapi inflasi serupa sementara pertumbuhan PDB (GDP) kawasan mendekati nol.
Dengan latar ini, pelaku pasar derivatif—instrumen turunan seperti opsi dan futures—perlu mengantisipasi volatilitas lebih tinggi, yaitu pergerakan harga yang lebih besar dan cepat. Volatilitas tersirat (implied volatility) 1 bulan pada EUR/USD sudah melonjak ke 9,5%. Implied volatility adalah perkiraan volatilitas yang “tercermin” dalam harga opsi; naiknya angka ini membuat premi opsi lebih mahal, tetapi berguna untuk lindung nilai (hedging), yaitu strategi mengurangi risiko.
Pelaku pasar bisa mempertimbangkan posisi yang mengantisipasi pelemahan euro dengan membeli opsi put EUR/USD—hak untuk menjual pada harga tertentu—atau memakai put spread, yaitu kombinasi membeli dan menjual opsi put pada strike berbeda untuk menekan biaya sekaligus membatasi risiko.
Sentimen “risk-off”—kondisi ketika investor menghindari risiko dan memilih aset aman—berpotensi membatasi kenaikan EUR/USD sampai ada tanda penurunan tensi yang jelas di Laut Merah. Perkembangan positif dapat memicu pembalikan tajam. Perhatian juga tertuju pada laporan pekerjaan AS Jumat ini, yang akan memengaruhi langkah The Fed berikutnya.