Back

Perak melemah ke sekitar US$78,60, turun 0,49%, seiring sikap hati-hati The Fed dan pembicaraan AS-Iran meredam permintaan

Perak (XAG/USD) diperdagangkan di dekat $78,60 pada Kamis, turun 0,49% pada hari itu. Harga tetap dekat level tertinggi terbaru saat pasar memantau pembicaraan terkait konflik AS-Iran.

Laporan menyebut perpanjangan gencatan senjata bisa dipertimbangkan untuk memberi waktu lebih bagi negosiasi. Ini mendukung selera risiko (minat investor terhadap aset berisiko) dan mengurangi permintaan aset lindung nilai (aset yang diburu saat pasar takut) seperti perak.

Pembicaraan Geopolitik dan Permintaan Aset Lindung Nilai

Ketidakpastian tetap tinggi. Pejabat melaporkan ada kemajuan di beberapa area, tetapi masih ada perbedaan soal isu nuklir. Kondisi ini membuat pelaku pasar tetap berhati-hati dalam menambah posisi di logam mulia (emas, perak, dan sejenisnya).

Pasar minyak juga memengaruhi perak, karena ketegangan di sekitar Selat Hormuz (jalur pelayaran penting untuk ekspor minyak) terus berdampak pada pasokan global. Harga minyak mentah tetap tinggi meski sempat turun, memicu kekhawatiran inflasi yang didorong energi (kenaikan harga barang karena biaya energi naik).

Latar belakang ini bisa membuat The Federal Reserve (bank sentral AS) cenderung mempertahankan kebijakan ketat lebih lama dari perkiraan. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya menekan aset tanpa imbal hasil (aset yang tidak memberi bunga/kupon) seperti perak.

Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, mengatakan guncangan pasokan (gangguan pasokan yang mendadak) berisiko mengganggu target inflasi dan lapangan kerja The Fed. Ia menilai kisaran suku bunga saat ini kemungkinan sudah tepat untuk sementara waktu, dan guncangan minyak dapat menjaga inflasi inti (inflasi tanpa komponen makanan dan energi yang volatil) mendekati 3% hingga akhir tahun.

Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.

Estimasi PDB tiga bulanan NIESR Inggris naik ke 0,6%, dari 0,3% sebelumnya

Perkiraan NIESR Inggris untuk pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto, nilai total produksi barang dan jasa dalam ekonomi) selama tiga bulan hingga Maret naik menjadi 0,6%. Angka sebelumnya 0,3%.

Ini berarti naik 0,3 poin persentase dibanding angka sebelumnya. Data ini adalah estimasi untuk periode tiga bulan yang berakhir pada Maret.

Kejutan Pertumbuhan Inggris dan Penyesuaian Ulang Portofolio

Revisi naik yang tajam ini menunjukkan ekonomi Inggris melaju lebih cepat dari perkiraan. Data ini mengindikasikan kekuatan fundamental yang dapat menopang aset domestik. Posisi portofolio perlu disesuaikan menjauh dari skenario pertumbuhan lambat.

Dengan ekonomi menguat, kami menilai Bank of England (bank sentral Inggris) kemungkinan menunda rencana pemangkasan suku bunga. Laporan inflasi bulan lalu menunjukkan CPI (indeks harga konsumen, ukuran inflasi) bertahan di 2,4%, sehingga ruang untuk melonggarkan kebijakan terbatas. Pertimbangkan strategi yang diuntungkan bila suku bunga bertahan tinggi lebih lama, misalnya menjual kontrak berjangka SONIA (acuan suku bunga pasar uang harian Inggris). Kontrak berjangka adalah perjanjian untuk membeli/menjual aset pada harga dan waktu tertentu di masa depan.

Pandangan ini mendukung penguatan poundsterling, karena potensi suku bunga lebih tinggi meningkatkan daya tariknya. Nilai tukar GBP/USD (kurs pound terhadap dolar AS), yang bergerak di sekitar 1,29, kini berpeluang menembus 1,30. Ada peluang pada opsi call jangka dekat (hak, bukan kewajiban, untuk membeli pada harga tertentu) atas sterling terhadap dolar.

Saham berfokus Inggris, terutama di indeks FTSE 250 (indeks saham perusahaan menengah di Inggris), berpotensi berkinerja lebih baik. Pertumbuhan domestik yang lebih kuat biasanya mendorong laba perusahaan ritel dan konstruksi. Pertimbangkan posisi beli (long) pada kontrak berjangka indeks FTSE 250; posisi long berarti diuntungkan jika harga naik.

Mengelola Volatilitas dan Peluang Transaksi

Perubahan mendadak pada prospek ekonomi kemungkinan meningkatkan volatilitas (naik-turunnya harga) jangka pendek. Ini perubahan besar dari kondisi ekonomi datar yang sebelumnya tercermin dalam harga pasar untuk sebagian besar 2025. Kondisi seperti ini menarik bagi trader opsi yang ingin memanfaatkan pergerakan harga yang lebih besar ke atas atau ke bawah.

Setelah Naik 21% dalam 12 Hari, NVIDIA Mendekati Penutupan Gap sebagai Pemimpin Chip AI Global

Saham NVIDIA naik lebih dari 21% dalam 12 sesi sejak **pivot low** (titik terendah yang menjadi titik balik) pada 30 Maret. Harga saat itu sekitar **US$199**.

Level **US$206,88** disebut sebagai **gap fill** (penutupan celah harga saat pasar dibuka jauh dari harga sebelumnya) dan menjadi fokus utama jangka pendek. Level ini berada di atas harga saat itu dan akan menjadi area berikutnya yang diuji bila sektor semikonduktor (saham pembuat chip) terus menguat.

Setelah kenaikan 21%, **US$206,88** dipaparkan sebagai titik yang berpotensi memicu **reversal** (pembalikan arah). Di atas US$206,88, diperkirakan muncul beberapa **resistance** (area hambatan kenaikan karena banyak penjual) yang saling berdekatan.

Level berikutnya yang disebut adalah **pivot high** (puncak harga pada pergerakan sebelumnya) di **US$211,34** dan **all-time high** (rekor tertinggi sepanjang masa) di **US$212,19**. Jika harga menembus **US$206,88**, zona **US$211–US$212** disebut sebagai area resistance berikutnya.

Pergerakan yang bertahan di atas **US$206,88** dan **penutupan harga** di atas **US$211,34** disebut sebagai syarat untuk kenaikan lanjutan. Analisis ini juga mencatat **tekanan jual** bisa muncul di sekitar **US$206,88** jika harga **ditolak** (gagal menembus dan berbalik turun) di area tersebut.

Dilihat dari sudut pandang kami pada 2025, kami melihat pola penting pada saham NVIDIA. Setelah reli tajam 21%, harga mendekati zona resistance kunci di sekitar penutupan gap **US$206**, dengan penjual diperkirakan muncul. Analisis itu terbukti menjadi titik belok jangka pendek sebelum saham melesat kuat sepanjang sisa tahun.

Struktur harga tersebut kini tinggal catatan lama, terutama setelah **stock split 10 banding 1** (pemecahan saham: 1 saham menjadi 10 agar harga per lembar lebih rendah) pada pertengahan 2024. Kini, pada 16 April 2026, NVDA diperdagangkan di sekitar **US$1.150**, mencerminkan dominasinya di bisnis AI. Namun, pola serupa berupa resistance dan **momentum** (dorongan tren harga) kini kembali terjadi di level yang lebih tinggi ini.

Dengan laporan kinerja kuartal I 2026 yang dijadwalkan akhir Mei, **implied volatility** (perkiraan pasar atas besarnya potensi naik-turun harga ke depan, sering tercermin pada harga opsi) mulai naik, saat ini sekitar **55%**. Ini terjadi ketika laporan terbaru menunjukkan pesaing seperti AMD mulai mendapat momentum lewat chip seri MI400, sehingga menambah ketidakpastian. Meski begitu, analis masih memproyeksikan pertumbuhan pendapatan NVIDIA **45% year-on-year** (dibanding periode yang sama tahun lalu) untuk kuartal berikutnya.

Bagi trader **derivatif** (instrumen turunan seperti opsi), ini membuka peluang membeli **call options** (hak membeli saham pada harga tertentu) yang jatuh tempo Juni. Strategi ini bertujuan menangkap potensi kenaikan bila laba melampaui perkiraan dan proyeksi perusahaan positif, sambil menghindari penurunan nilai opsi menjelang laporan laba yang biasa terjadi. **Strike price** (harga patokan pada kontrak opsi) **US$1.200** terlihat memiliki **open interest** besar (jumlah kontrak opsi yang masih terbuka), menandakan level itu menjadi target penting bagi pihak yang optimistis (bulls).

Sebaliknya, valuasi yang tinggi dan naiknya tekanan kompetisi membuat **protective puts** (membeli opsi jual sebagai asuransi penurunan) menjadi lindung nilai yang masuk akal bagi investor yang sudah memegang posisi beli. Membeli **put spread** mingguan Mei (strategi opsi jual dengan membeli dan menjual opsi pada strike berbeda untuk menekan biaya) dapat menjadi cara murah melindungi portofolio dari reaksi negatif setelah laporan kinerja. Penembusan ke bawah **50-day moving average** (rata-rata pergerakan 50 hari, indikator tren) yang kini dekat **US$1.090** bisa memicu penurunan cepat.

Mengingat peluang pergerakan harga besar setelah laporan laba, strategi **long straddle** juga menarik. Dengan membeli call dan put pada strike yang sama dan jatuh tempo Juni, posisi ini bisa untung bila terjadi pergerakan besar ke salah satu arah. Pendekatan ini menargetkan besarnya perubahan harga, bukan menebak arahnya.

Saham Jepang menyentuh rekor tertinggi, namun alokasi investor asing dan lindung nilai yen masih tertinggal, membuat JPY tetap tertekan

Saham Jepang kembali ke rekor tertinggi, dan Nikkei sudah menghapus penurunan yang terkait perang Iran. Namun porsi investasi (alokasi) investor global ke Jepang dan lindung nilai (hedging) yen belum kembali ke level Februari.

Sebelum konflik, alokasi investor luar negeri ke Jepang mendekati bobot Jepang di indeks MSCI ACWI (indeks saham global). Kini porsinya lebih rendah. Yen masih tertekan karena investor asing tetap melakukan hedging, sementara arus modal keluar dari Jepang (investasi Jepang ke luar negeri) terbatas.

Hedging Yen dan Arus Dana Luar Negeri

Posisi yen terutama terkait hedging atas investasi Jepang di luar negeri. Data menunjukkan aktivitas hedging dimulai lagi pada pekan terakhir Maret, dan arus masuk dana (inflow) ke Jepang melampaui arus keluar dana (outflow) Jepang ke AS dan pasar lain.

Laporan tersebut menyebut aksi Kementerian Keuangan di pasar valas (foreign exchange/FX, pasar pertukaran mata uang) kemungkinan berdampak lebih kecil sampai posisi hedging ini ditutup (unwind, yaitu hedge dilepas). Laporan juga mengaitkannya dengan basis trading, yakni strategi memanfaatkan selisih harga/imbal hasil antara obligasi pemerintah Jepang (JGB) dan obligasi AS.

Ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ, bank sentral Jepang) dinilai sebagai penggerak utama USD/JPY dalam jangka dekat. Ini disebut akan memengaruhi arah dolar dalam beberapa pekan ke depan.

Saham Jepang sudah kembali ke rekor, tetapi investor internasional belum sepenuhnya kembali ke posisi sebelum ketegangan global terbaru. Artinya, meski dana masuk ke Nikkei 225, banyak yang dilindungi (di-hedge) dari risiko yen melemah. Dengan USD/JPY di sekitar 162,50, risiko intervensi pemerintah tinggi, tetapi efektivitasnya kemungkinan lebih rendah dibanding sebelumnya.

Implikasi Trading Terkait Kebijakan BoJ

Yen tetap tertekan karena hedging asing yang terus-menerus, yang berarti ada penjualan yen berulang. Data kepemilikan juga menunjukkan investor Jepang tidak mengirim cukup modal ke luar negeri untuk menyeimbangkan arus ini. Ketimpangan ini membuat upaya Kementerian Keuangan membeli yen seperti melawan arus yang sangat kuat.

Pada akhir 2022 pernah ada intervensi besar, tetapi besarnya posisi hedging saat ini terlihat lebih besar. Bahkan kenaikan suku bunga pada Maret 2024 hanya sedikit menahan pelemahan yen terhadap dolar. Data IMM (laporan posisi spekulatif di pasar berjangka) menunjukkan posisi net short spekulan terhadap yen—yakni lebih banyak taruhan yen turun daripada naik—masih mendekati level tertinggi sejak 2017, menegaskan sentimen negatif yang luas.

Bagi trader, fokusnya lebih pada langkah BoJ berikutnya soal suku bunga, bukan semata risiko intervensi. Penutupan posisi hedging besar ini kemungkinan terjadi jika BoJ memberi sinyal kenaikan suku bunga lebih cepat dari perkiraan pasar. Kejutan hawkish (kebijakan lebih agresif menaikkan suku bunga), bukan aksi Kementerian Keuangan, menjadi pemicu utama yang perlu dipantau dalam beberapa pekan ke depan.

Situasi ini menunjukkan penggunaan opsi (options, instrumen derivatif yang memberi hak beli/jual pada harga tertentu) untuk memanfaatkan volatilitas (naik-turun harga) di sekitar rapat BoJ lebih bijak daripada langsung menjual USD/JPY. Membeli straddle atau strangle (strategi opsi untuk mendapatkan keuntungan bila harga bergerak besar ke salah satu arah) bisa efektif karena bisa untung dari pergerakan besar ke atas atau ke bawah. Ini memungkinkan memanfaatkan potensi perubahan kebijakan tanpa terpapar risiko yen makin lemah jika BoJ tetap ragu bertindak.

Patterson dan Manthey dari ING: Harga minyak melemah karena harapan gencatan senjata, sementara gangguan di Hormuz memperketat kondisi pasokan

Harga minyak cenderung turun tipis karena pasar memperhitungkan kemungkinan perpanjangan gencatan senjata AS–Iran selama dua minggu dan kembalinya perundingan damai. Namun, pasokan fisik makin ketat karena aliran minyak melalui Selat Hormuz belum pulih.

Dengan memperhitungkan pengalihan lewat pipa dan pergerakan kapal tanker yang masih terbatas, sekitar 13 juta barel per hari (bph) pasokan diperkirakan terganggu. Kondisi blokade AS yang berlanjut bisa memperbesar gangguan itu.

Kesenjangan Harga Kertas vs Fisik

Terbuka kesenjangan antara harga “kertas” dan harga fisik. *Dated Brent* (harga minyak Brent fisik untuk pengiriman paling dekat) diperdagangkan sekitar US$117 per barel, sementara kontrak *Brent futures* bulan depan (kontrak berjangka, yaitu perjanjian membeli/menjual di harga tertentu untuk pengiriman di masa depan) ditutup sedikit di bawah US$95 per barel. Risiko kenaikan utama disebut berasal dari kemungkinan gagalnya perundingan damai AS–Iran.

Saat pembeli beralih ke barel AS, pasar domestik AS diperkirakan makin ketat sementara gangguan Timur Tengah berlanjut. Namun, aktivitas pengeboran AS hampir tidak berubah sejak konflik dimulai.

Proyeksi EIA (lembaga energi AS) menunjukkan produksi minyak mentah AS tahun ini nyaris tidak berubah. Kenaikan pengeboran biasanya baru terasa jelas pada produksi sekitar 2027.

Saat ini terlihat jurang besar antara pasar berjangka minyak dan kondisi pasokan fisik. Harga *Dated Brent* diperdagangkan dengan *premi* (harga lebih tinggi) lebih dari US$20 dibanding kontrak berjangka bulan depan. *Selisih* ini menandakan pasokan fisik sangat ketat. Perbedaan ini membuka peluang karena pasar berjangka seolah sudah “mematok” skenario kesepakatan damai yang belum tentu terjadi.

Posisi untuk Penyesuaian Harga

Pasar fisik makin ketat akibat gangguan di Selat Hormuz, yang diperkirakan mengurangi pasokan sekitar 13 juta barel per hari. Laporan terbaru IEA (lembaga energi internasional) menegaskan hal ini: *persediaan* (stok) minyak mentah global turun 2,1 juta barel per hari pekan lalu, penurunan terdalam tahun ini. Namun, kontrak berjangka Brent bulan depan masih tertahan di bawah US$100 per barel, didorong harapan perpanjangan gencatan senjata AS–Iran.

Kondisi ini mirip situasi pertengahan 2025 sebelum konflik membesar, ketika risiko geopolitik diremehkan dan memicu koreksi harga tajam. Pelaku pasar bisa mempertimbangkan mengambil posisi agar harga pasar berjangka kembali menyesuaikan dengan ketatnya pasokan fisik. Risiko lebih condong ke arah kenaikan jika perundingan damai yang rapuh ini terganggu.

Respons pasokan AS yang diharapkan belum terjadi, sehingga menambah tekanan kenaikan harga. Data *rig count* Baker Hughes (jumlah rig/menara pengeboran aktif) yang dirilis Jumat lalu hanya menunjukkan tambahan bersih tiga rig minyak, menandakan produsen masih enggan meningkatkan pengeboran. Minimnya investasi ini membuat kenaikan produksi AS yang berarti kemungkinan baru terasa pada 2027, sehingga pasar tetap rentan terhadap guncangan pasokan hingga akhir tahun ini.

Dengan *implied volatility* yang rendah (perkiraan volatilitas/harga bergejolak yang tercermin dari harga opsi), membeli *call option* berjangka panjang (opsi beli: hak membeli pada harga tertentu, bukan kewajiban) bisa menjadi strategi untuk memanfaatkan potensi lonjakan harga dengan risiko yang terukur. Alternatif lain adalah *calendar spread* (strategi memperdagangkan selisih harga kontrak berjangka dengan bulan berbeda), yakni bertaruh kontrak jangka pendek menguat lebih jauh dibanding kontrak yang lebih panjang karena ketatnya pasokan fisik. Harga berjangka saat ini dinilai terlalu optimistis terhadap situasi geopolitik.

Output industri AS turun 0,5% secara bulanan, meleset dari perkiraan naik 0,1% pada Maret

Produksi industri AS turun 0,5% secara bulanan (month on month/mom) pada Maret. Perkiraan sebelumnya kenaikan 0,1%.

Angka produksi industri Maret yang lemah—turun 0,5% alih-alih naik tipis seperti perkiraan—menjadi sinyal negatif (bearish, artinya berpotensi menekan harga aset berisiko seperti saham). Ini menunjukkan ekonomi bisa melambat lebih cepat dari perkiraan, sehingga proyeksi pertumbuhan kuartal II (Q2) perlu ditinjau ulang. Ini juga menjadi peringatan untuk sektor yang sensitif terhadap siklus ekonomi (cyclical, yaitu sektor yang ikut naik-turun mengikuti kondisi ekonomi).

Penempatan Portofolio Pasar Saham

Dengan data ini, posisi defensif di pasar saham patut dipertimbangkan, terutama lewat opsi jual (put options, kontrak yang memberi hak untuk menjual pada harga tertentu sehingga untung saat harga turun) pada ETF (exchange-traded fund, reksa dana yang diperdagangkan seperti saham) sektor industri dan material seperti XLI. Pola serupa terjadi pada kuartal III 2025, ketika data manufaktur melemah lebih dulu sebelum pasar turun lebih luas. Kelemahan saat ini bisa membatasi peluang reli (rally, kenaikan harga) pada S&P 500 (indeks saham utama AS) dalam beberapa minggu ke depan.

Laporan ini membuat Federal Reserve (bank sentral AS) semakin sulit membenarkan pengetatan lanjutan (tightening, yaitu kenaikan suku bunga atau pengurangan likuiditas). Peluang kenaikan suku bunga pada musim panas kini turun tajam, yang bisa mendukung reli di pasar pendapatan tetap (fixed income, seperti obligasi). Trader dapat melirik opsi beli (call options, kontrak yang memberi hak membeli pada harga tertentu sehingga untung saat harga naik) pada futures Treasury note (kontrak berjangka obligasi pemerintah AS), karena pasar kemungkinan akan memasukkan ekspektasi The Fed yang lebih dovish (lebih longgar/kurang agresif menaikkan suku bunga) ke dalam harga.

Perlambatan yang mengejutkan ini hampir pasti mendorong volatilitas pasar lebih tinggi. VIX (indeks volatilitas, ukuran “ketakutan” pasar saham AS) saat ini berada di sekitar 14, level yang relatif rendah dan menarik untuk masuk posisi long volatilitas (bertaruh volatilitas naik). Kami membeli call VIX dengan jatuh tempo 30–45 hari sebagai lindung nilai (hedge, perlindungan portofolio) jika terjadi aksi jual saham.

Di pasar valuta asing, pelemahan ekonomi ini menekan dolar AS. Kebijakan The Fed yang kurang agresif mengurangi keunggulan imbal hasil dolar (yield advantage, selisih bunga/imbal hasil dibanding mata uang lain). Karena itu, kami mempertimbangkan posisi short (bertaruh turun) pada indeks dolar (DXY, indeks nilai dolar terhadap sekeranjang mata uang), terutama terhadap mata uang yang bank sentralnya masih ketat, seperti euro, setelah inflasi zona euro terbaru sedikit di atas perkiraan.

Risiko dan Pemicu Utama

Utilisasi kapasitas AS tercatat 75,7% pada Maret, di bawah perkiraan 76,3% untuk bulan tersebut

Pemanfaatan kapasitas (capacity utilisation, yakni persentase kemampuan produksi pabrik dan industri yang benar-benar dipakai) AS tercatat 75,7% pada Maret. Angka ini di bawah perkiraan 76,3%.

Rilis tersebut menunjukkan pemanfaatan kapasitas tetap di bawah proyeksi. Tidak ada angka atau rincian lain dalam teks.

Pemanfaatan Kapasitas Mengisyaratkan Perlambatan

Turunnya pemanfaatan kapasitas ke 75,7% pada Maret menjadi sinyal ekonomi melambat lebih dari perkiraan. Capaian yang lebih rendah dari ekspektasi 76,3% ini menunjukkan mulai terbentuknya kelonggaran (slack, yaitu kapasitas produksi yang menganggur) di sektor industri. Ini bisa dibaca sebagai indikator awal (leading indicator, yakni petunjuk yang biasanya lebih dulu bergerak sebelum ekonomi secara umum) bahwa laba perusahaan di sektor terkait berpotensi tidak sesuai harapan pada kuartal mendatang.

Data yang lebih lemah ini sejalan dengan laporan Core CPI (inflasi inti, yaitu inflasi yang tidak memasukkan harga pangan dan energi karena biasanya lebih bergejolak) Maret, yang menunjukkan inflasi melandai menjadi 2,8% secara tahunan (year-over-year, yakni dibandingkan periode yang sama tahun lalu). Kondisi produksi yang melambat mengurangi tekanan inflasi, sehingga The Federal Reserve (bank sentral AS) punya lebih banyak alasan untuk menahan kenaikan suku bunga (pause dalam siklus pengetatan/tightening cycle, yakni periode bank sentral menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi). Dampaknya, peluang pemangkasan suku bunga sebelum akhir tahun meningkat.

Untuk posisi saham, pertimbangkan membeli opsi jual (put options, yaitu kontrak yang nilainya cenderung naik saat harga aset turun) pada ETF (exchange-traded fund, reksa dana yang diperdagangkan seperti saham) sektor industri dan material seperti XLI dan XLB sebagai lindung nilai (hedge, yaitu strategi untuk mengurangi risiko kerugian) terhadap pelemahan lanjutan. Perlambatan setelah pertumbuhan yang kuat pada 2025 kini mulai terlihat pada data, sehingga portofolio perlu lebih defensif (lebih fokus pada pengurangan risiko) dalam beberapa pekan ke depan.

Di pasar suku bunga, kondisi ini memperkuat alasan untuk posisi beli (long positions, yakni mengambil posisi yang untung jika harga naik) pada futures Treasury (kontrak berjangka obligasi pemerintah AS), dengan asumsi imbal hasil (yields, yakni tingkat keuntungan obligasi) akan turun saat pasar menilai The Fed lebih dovish (lebih cenderung melonggarkan kebijakan). Secara historis, periode ketika pemanfaatan turun di bawah 78% sering mendahului lonjakan gejolak pasar. Karena itu, membeli opsi beli VIX yang out-of-the-money (harga kesepakatan/strike jauh di atas harga saat ini sehingga lebih murah namun berisiko) dapat menjadi langkah perlindungan terhadap kenaikan volatilitas (volatility, yakni besarnya naik-turun harga).

Prospek Dolar Berbalik Melemah

Kombinasi ekonomi yang melambat dan The Fed yang tidak terlalu hawkish (hawkish, yakni cenderung mendukung suku bunga lebih tinggi) menjadi sentimen negatif bagi dolar AS. Dollar Index (DXY, indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) sudah turun ke 103,50 pekan ini dan tren ini diperkirakan berlanjut. Strateginya adalah mengambil posisi jual (short, yakni untung jika harga turun) dolar terhadap mata uang dengan prospek bank sentral yang lebih kuat, melalui futures atau opsi pada ETF mata uang.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Pada Maret, output industri bulanan AS naik 0,2%, melampaui proyeksi ekonom sebesar 0,1%

Produksi industri AS naik 0,2% secara bulanan (month on month/m/m) pada Maret. Angka ini di atas perkiraan 0,1%.

Hasil ini menunjukkan kenaikan output bulanan lebih cepat dari perkiraan. Tidak ada rincian tambahan dalam teks.

Implikasi untuk Pertumbuhan dan Suku Bunga

Kenaikan tipis di atas perkiraan pada produksi industri ini menunjukkan ekonomi punya kekuatan dasar yang lebih baik dari dugaan banyak pihak. Setelah perlambatan sepanjang 2025, ketahanan ini bisa menunda potensi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (bank sentral AS). Karena itu, perlu berhati-hati jika terlalu agresif memasang posisi untuk resesi dalam waktu dekat.

Data ini menambah tantangan bagi The Fed, apalagi laporan inflasi inti (core CPI, yaitu indeks harga konsumen yang mengecualikan makanan dan energi karena harganya sering bergejolak) Maret menunjukkan inflasi tetap tinggi di 3,1%. Peluang pemangkasan suku bunga pada rapat FOMC Mei (Federal Open Market Committee, rapat penentu kebijakan suku bunga), yang sudah dihitung pasar di bawah 30%, kemungkinan turun lagi. Pasar juga perlu bersiap untuk sikap lebih “hawkish” (cenderung mendukung suku bunga lebih tinggi untuk menahan inflasi) dari pembuat kebijakan dalam beberapa minggu ke depan.

Dengan menguatnya sektor manufaktur ini, bisa dipertimbangkan membeli call option (kontrak opsi yang memberi hak membeli aset pada harga tertentu) pada ETF (Exchange Traded Fund, reksa dana yang diperdagangkan di bursa) sektor industri. Ini memberi peluang untung jika momentum berlanjut ke kuartal II dan memicu kejutan laba yang positif, berbeda dari strategi defensif yang banyak dipakai akhir tahun lalu.

Sebaliknya, prospek suku bunga tinggi lebih lama membuat obligasi jangka panjang kurang menarik. Bisa dipertimbangkan membeli put option (kontrak opsi yang memberi hak menjual aset pada harga tertentu) pada ETF obligasi Treasury (obligasi pemerintah AS) sebagai lindung nilai jika imbal hasil/yield (tingkat pengembalian obligasi) naik. Ini sejalan dengan pandangan bahwa tren disinflasi (perlambatan laju inflasi) sepanjang 2025 sedang tertahan untuk sementara.

Posisi untuk Volatilitas

Ketidakpastian terkait arah kebijakan The Fed juga bisa memicu lonjakan volatilitas (naik-turunnya harga pasar). Opsi bisa digunakan untuk membuat posisi “long volatility” (diuntungkan saat volatilitas meningkat), misalnya strategi straddle pada S&P 500 (membeli call dan put pada harga dan jatuh tempo yang sama), menjelang pengumuman FOMC berikutnya. Strategi ini memungkinkan keuntungan jika pasar bergerak besar, tanpa harus menebak arah.

Buat akun live VT Markets dan mulai trading sekarang.

Elias Haddad dari BBH menyebut saham mencetak rekor sementara dolar kembali menguat, menutupi proyeksi pertumbuhan yang lebih lemah dari IMF

Saham global berada di rekor tertinggi dan Dolar AS memangkas kembali sebagian pelemahannya, sementara IMF merilis proyeksi pertumbuhan yang lebih lemah. Indeks Dolar AS (DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) diperkirakan tetap bergerak di kisaran 96,00–100,00 dalam beberapa bulan ke depan.

Selisih suku bunga antara AS dan ekonomi besar lainnya disebut menjadi faktor yang menahan DXY dalam rentang sekitar satu tahun terakhir. Permintaan asing yang berkelanjutan terhadap surat berharga AS bertenor panjang juga dinilai menopang dolar dalam jangka dekat.

Permintaan Asing Terhadap Surat Berharga AS

Data US Treasury International Capital (TIC, laporan arus dana lintas negara untuk pembelian/penjualan aset AS) menunjukkan bahwa dalam 12 bulan hingga Februari, pembeli asing mengakumulasi US$1.615 miliar surat berharga AS bertenor panjang. Ini mencakup obligasi dan surat utang pemerintah AS (Treasury), obligasi korporasi, saham, obligasi lembaga pemerintah (agency bonds, yaitu surat utang yang diterbitkan/ditanggung lembaga terkait pemerintah), serta instrumen jangka panjang lainnya.

Permintaan asing atas surat berharga AS bertenor panjang diperkirakan melandai seiring waktu jika aliran dolar AS ke luar negeri berkurang. Hal ini dikaitkan dengan upaya mempersempit defisit perdagangan AS (selisih ketika impor lebih besar dari ekspor), yang dapat mengurangi “daur ulang” dolar dari luar negeri kembali ke aset AS.

Fed funds futures (kontrak berjangka yang mencerminkan ekspektasi pasar atas suku bunga acuan The Fed) mengindikasikan peluang 45% untuk pemangkasan 25 bps (basis poin; 25 bps = 0,25%) hingga akhir tahun, sehingga suku bunga kebijakan menjadi 3,25–3,50%. Satu kali pemangkasan suku bunga hingga akhir tahun juga disebut sebagai skenario dasar yang sejalan dengan proyeksi FOMC (komite penentu kebijakan moneter The Fed).

Pasar tetap mengabaikan proyeksi pertumbuhan global yang campuran dan lebih memperdagangkan narasi pemulihan AS. IMF baru-baru ini memproyeksikan pertumbuhan global stabil 3,2%, namun ini tertutupi oleh kekuatan ekonomi AS secara relatif. Kami sependapat bahwa fokus pasar pada pemulihan akan dominan dalam jangka dekat.

Selisih Suku Bunga dan Strategi Volatilitas

Kami tidak memperkirakan Dolar AS mencetak puncak siklus baru dalam beberapa bulan ke depan. Selisih suku bunga, dengan The Fed mempertahankan suku bunga di 5,25–5,50%, membuat DXY tetap tertahan dalam kisaran 103,00–107,00 belakangan ini. Stabilitas ini mengisyaratkan pelaku pasar bisa mempertimbangkan strategi menjual volatilitas (strategi opsi yang diuntungkan bila pergerakan harga kecil) pada pasangan mata uang utama.

Selain itu, permintaan asing terhadap surat berharga AS bertenor panjang tetap kuat, memberi penopang bagi dolar. Data TIC terbaru menunjukkan arus masuk bersih asing (net foreign inflows; dana asing yang masuk bersih setelah dikurangi keluarnya dana) sebesar US$51,6 miliar dalam satu bulan pada awal tahun ini. Minat berkelanjutan terhadap aset AS membantu menopang mata uangnya.

Meski begitu, kami memperkirakan minat asing terhadap surat berharga AS bertenor panjang akan berkurang seiring waktu, mengikuti kekhawatiran serupa yang terlihat pada 2025 terkait perubahan kebijakan perdagangan. Upaya mengelola defisit perdagangan AS yang besar pada akhirnya berarti lebih sedikit dolar mengalir ke luar negeri. Ini mengurangi kebutuhan dana tersebut untuk kembali diinvestasikan ke surat berharga AS.

Fed funds futures kini mengindikasikan kemungkinan hanya satu atau dua kali pemangkasan suku bunga hingga akhir tahun, berbalik dari ekspektasi sebelumnya. Ini mendukung pandangan kami bahwa pergerakan akan cenderung dalam kisaran (range-bound; naik-turun terbatas). Dengan begitu, strategi seperti menjual straddle atau strangle (dua strategi opsi yang diuntungkan bila harga tidak bergerak besar; straddle memakai opsi beli dan jual di harga yang sama, strangle memakai harga yang berbeda) pada pasangan seperti EUR/USD menjadi menarik. Pelaku pasar bisa mencari peluang ketika volatilitas tersirat (implied volatility; perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi) tinggi dibanding stabilitas yang diperkirakan.

Williams Perkirakan Inflasi 2,75–3% Tahun Ini Seiring Naiknya Biaya Energi dan Munculnya Gangguan Pasokan

John Williams, Presiden Federal Reserve Bank of New York, mengatakan ada tanda awal gangguan rantai pasok (jaringan pengadaan dan pengiriman barang dari produsen ke konsumen). Ia memproyeksikan inflasi tahun ini di 2,75%–3%, dipicu kenaikan harga energi, dan menyebut perang di Timur Tengah sudah mendorong inflasi naik.

Ia mengatakan sebagian guncangan energi (lonjakan harga minyak/gas yang tiba-tiba) merembet ke harga lain. Namun, jika konflik cepat berakhir, tekanan inflasi bisa mereda. Ia menambahkan prospek ekonomi sangat tidak pasti karena dampak perang.

Fed Policy And Inflation Outlook

Williams mengatakan kebijakan moneter (kebijakan suku bunga dan pengaturan uang beredar oleh bank sentral) sudah berada di posisi yang tepat dan sistem pengendalian suku bunga The Fed berjalan sangat baik. Ia juga mengatakan dampak tarif (pajak impor) terhadap inflasi diperkirakan melemah tahun ini.

Ia memperkirakan pengangguran bertahan di 4,25%–4,5%. Ia memproyeksikan inflasi kembali ke target 2% pada 2027 dan memperkirakan pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto/GDP, ukuran total output ekonomi) 2%–2,5% pada 2026.

Ia mengatakan pasar tenaga kerja memberi sinyal beragam. Setelah pernyataan itu, Indeks Dolar AS (US Dollar Index, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) bertahan dengan kenaikan harian kecil di atas 98,00.

Dengan inflasi kini diperkirakan mendekati 3% pada 2026, harapan pemangkasan suku bunga The Fed yang agresif tahun ini memudar. Kebijakan moneter dinilai tetap ketat (suku bunga cukup tinggi untuk menahan permintaan), sehingga pelaku pasar perlu bersiap untuk kondisi suku bunga “tinggi lebih lama” (higher for longer). Pandangan ini diperkuat data terbaru: laporan Indeks Harga Konsumen (CPI, ukuran inflasi di tingkat konsumen) Maret 2026 lebih tinggi dari perkiraan, 3,1% secara tahunan (year-over-year/yoy, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya).

Trading Implications For Higher For Longer

Dengan prospek ini, pelaku pasar bisa mempertimbangkan strategi yang diuntungkan oleh suku bunga tinggi yang bertahan, seperti menjual kontrak futures suku bunga (kontrak berjangka yang nilainya terkait ekspektasi suku bunga) untuk jatuh tempo akhir 2026. Pasar sudah mengubah ekspektasi: kini hanya terlihat satu potensi pemangkasan suku bunga tahun ini, dari tiga yang diperkirakan pada Januari. Imbal hasil (yield, tingkat keuntungan obligasi) bisa naik lagi jika harga energi tidak turun.

Pendorong utama adalah harga energi, dengan konflik di Timur Tengah membuat minyak mentah WTI (West Texas Intermediate, patokan harga minyak AS) tetap tinggi sekitar US$95 per barel. Ini membuat strategi derivatif (instrumen turunan yang nilainya mengikuti aset acuan) di sektor energi, seperti membeli opsi beli (call option, hak untuk membeli pada harga tertentu) pada futures minyak, menjadi cara langsung untuk memanfaatkan tekanan inflasi ini. Posisi ini diuntungkan jika gangguan pasokan berlanjut dan harga terus naik.

Pernyataan soal ketidakpastian tinggi juga mengisyaratkan volatilitas pasar (tingkat naik-turun harga) tidak cepat hilang. Pergerakan tajam bisa lebih sering terjadi, sehingga posisi “long volatility” (strategi yang untung jika volatilitas naik) lewat opsi pada VIX (indeks volatilitas yang mencerminkan perkiraan gejolak S&P 500) atau indeks saham utama bisa menjadi lindung nilai (hedge, perlindungan risiko) yang masuk akal. Kenaikan ketegangan geopolitik bisa memicu lonjakan volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi).

Kondisi ini tetap mendukung dolar AS, karena selisih suku bunga yang lebih tinggi menarik arus modal. Indeks Dolar yang bertahan di atas 98,00 mencerminkan kekuatan tersebut. Strategi memegang posisi long dolar (bertaruh dolar menguat) terhadap mata uang dari bank sentral yang lebih dovish (cenderung mendukung suku bunga lebih rendah) masih dinilai layak.

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code