Back

Persediaan minyak mentah API AS mingguan mencatat kenaikan 6,1 juta barel, berlawanan dengan proyeksi penurunan 1,3 juta barel

Stok minyak mentah mingguan AS versi API untuk pekan yang berakhir 10 April naik 6,1 juta barel.

Ekspektasi pasar mengarah pada penurunan 1,3 juta barel.

Angka yang dilaporkan 7,4 juta barel lebih tinggi dari perkiraan.

Data ini terkait Amerika Serikat dan mencakup satu estimasi mingguan API.

Laporan API terbaru untuk 10 April memberi kejutan besar: stok minyak mentah naik 6,1 juta barel. Ini jauh dari perkiraan, karena pasar memperkirakan stok turun 1,3 juta barel. Kenaikan stok sebesar ini mengindikasikan potensi pasokan berlebih di pasar (oversupply: pasokan lebih besar daripada permintaan).

Data resmi EIA (Energy Information Administration/Badan Informasi Energi AS) setelahnya menguatkan sentimen negatif (bearish: pandangan harga cenderung turun), dengan kenaikan stok yang juga besar, 5,8 juta barel. Harga minyak langsung bereaksi: kontrak berjangka (futures: kontrak jual-beli untuk pengiriman di masa depan) WTI (West Texas Intermediate, patokan harga minyak AS) turun hingga di bawah US$84 per barel setelah kabar tersebut. Ini menunjukkan pasar menilai “banjir pasokan” (supply glut: kelebihan pasokan yang menekan harga) sebagai risiko nyata.

Kejutan seperti ini meningkatkan ketidakpastian pasar, terlihat dari naiknya volatilitas tersirat (implied volatility: perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi) pada opsi minyak. Bagi pelaku pasar, ini berarti opsi jual (put: memberi hak menjual, dipakai untuk perlindungan saat harga turun) menjadi lebih mahal karena banyak yang mencari perlindungan penurunan (downside protection: strategi untuk membatasi kerugian jika harga jatuh). Menjual spread call (call spread: strategi opsi dengan menjual dan membeli opsi beli/call pada harga kesepakatan berbeda) yang lebih jauh dari harga pasar (out of the money: opsi yang belum punya nilai intrinsik karena harga kesepakatan tidak menguntungkan) dapat menjadi cara memanfaatkan premi yang tinggi (premium: harga opsi).

Dilihat dari sudut pandang 2025, kenaikan stok pada musim semi 2024 sempat mendahului penurunan harga sebelum musim puncak berkendara musim panas (summer driving season: periode permintaan bensin biasanya naik). Kondisi April 2026 terasa mirip, sehingga perlu lebih hati-hati untuk tidak terlalu optimistis. Pola historis ini mendukung sikap lebih defensif atau cenderung negatif dalam jangka pendek.

Analis MUFG menilai MAS memperketat kebijakan pada April, sedikit menaikkan kemiringan S$NEER, mendongkrak dolar Singapura terhadap dolar AS

MAS memperketat kebijakan nilai tukar pada April dengan sedikit menaikkan kemiringan (slope) pita Singapore Dollar Nominal Effective Exchange Rate (S$NEER). S$NEER adalah indeks nilai Dolar Singapura terhadap sekeranjang mata uang mitra dagang utama. Lebar pita dan level titik tengahnya tetap tidak berubah.

MAS menjadi bank sentral pertama di Asia (di luar Jepang) yang memperketat kebijakan setelah konflik Iran. MAS menaikkan proyeksi inflasi utama (headline, mencakup seluruh komponen) dan inflasi inti MAS (core, tidak memasukkan biaya akomodasi dan transportasi pribadi) ke 1,5–2,5%, dari sebelumnya 1–2%.

Implikasi Untuk Pertumbuhan, Inflasi, dan Pasar

MAS menurunkan penilaian pertumbuhan untuk 2026. MAS menyatakan pertumbuhan PDB 2026 kemungkinan melambat dari laju di atas tren pada 2025.

MAS menyatakan kesenjangan output (output gap, selisih antara output aktual dan kapasitas ekonomi) yang positif akan menyempit mendekati 0%. MAS menyoroti ketidakpastian akibat konflik Timur Tengah terhadap pertumbuhan dan inflasi.

MAS memperkirakan guncangan pasokan energi akan bertahan dalam berbagai skenario. MAS menilai hal ini dapat terus menaikkan biaya input (biaya bahan baku dan energi) dalam beberapa bulan dan kuartal ke depan.

Posisi Perdagangan SGD dan Manajemen Risiko

Langkah kebijakan selanjutnya dikaitkan dengan kejutan (realisasi yang meleset) inflasi dan output gap dibanding penilaian MAS.

Dengan keputusan MAS menaikkan kemiringan pita kebijakan S$NEER, sinyal utamanya adalah Dolar Singapura cenderung tetap kuat. Kebijakan ini bertujuan menahan inflasi, sehingga posisi beli (long) Dolar Singapura lewat derivatif (instrumen turunan) seperti kontrak forward (kesepakatan kurs untuk tanggal tertentu di masa depan) atau opsi call (hak membeli pada harga tertentu) menjadi cara langsung untuk mengambil pandangan ini. Pasar dapat memperkirakan mata uang menguat sedikit lebih cepat dibanding perkiraan sebelumnya.

Sikap ketat (hawkish, cenderung mengetatkan kebijakan untuk menekan inflasi) ini didukung data terbaru: inflasi inti Maret sebesar 2,3%, berada dalam kisaran proyeksi baru MAS 1,5–2,5%. Kondisi ini menunjukkan otoritas cenderung memilih mata uang yang lebih kuat untuk menahan biaya impor. Karena itu, strategi menjual USD/SGD saat terjadi kenaikan (rally, penguatan sementara) dapat dipertimbangkan dalam beberapa pekan ke depan.

Namun, prospek pertumbuhan yang diturunkan juga perlu diperhatikan. Angka PDB kuartal I menunjukkan perlambatan menjadi 1,8% (year-on-year, dibanding periode yang sama tahun lalu) dari laju yang lebih kuat pada 2025. Perbedaan antara upaya menahan inflasi dan pertumbuhan yang melambat menambah ketidakpastian, sehingga strategi opsi menarik. Pelaku pasar dapat mempertimbangkan membeli opsi put USD/SGD (hak menjual pada harga tertentu) untuk mendapat potensi keuntungan jika USD/SGD turun (artinya SGD menguat), sambil membatasi risiko bila kekhawatiran pertumbuhan global mendorong arus ke Dolar AS (flight to quality, perpindahan dana ke aset aman).

Konflik Timur Tengah tetap menjadi pendorong utama, menjaga harga energi tinggi dan memperkuat fokus MAS pada inflasi. Dengan Brent (patokan harga minyak global) berada sekitar US$95 per barel, naik dari rata-rata US$85 pada 2025, tekanan inflasi impor belum mereda. Faktor eksternal ini menjadi alasan kuat bagi MAS untuk mempertahankan kecenderungan mengetatkan kebijakan.

Sebagai bank sentral pertama di kawasan (di luar Jepang) yang memperketat, MAS menciptakan perbedaan arah kebijakan (policy divergence, perbedaan sikap kebijakan antarnegara). Ini membuka peluang transaksi nilai relatif (relative value, mencari peluang dari perbedaan kekuatan antar aset), misalnya membeli Dolar Singapura terhadap mata uang regional yang bank sentralnya masih longgar (akomodatif). Posisi long SGD/THB atau long SGD/MYR dapat berkinerja baik bila jarak kebijakan ini makin lebar.

Perlu mengingat contoh historis, seperti kenaikan suku bunga Bank Sentral Eropa pada 2011 menjelang perlambatan besar yang akhirnya harus dibalik. Perlambatan global yang lebih tajam dari perkiraan dapat memaksa MAS meninjau ulang sikapnya dan memicu volatilitas (gejolak harga) yang besar. Risiko ini menegaskan pentingnya memakai struktur derivatif dengan profil risiko yang terukur (risiko sudah dibatasi sejak awal).

Emas Melonjak 2% Seiring Optimisme Pembicaraan AS-Iran Kembali Mencuat yang Melemahkan Dolar, Meski Penyitaan Kapal Terkait Iran dan Blokade Masih Berlangsung

Emas naik hampir 2% pada Selasa karena harapan pembaruan pembicaraan AS–Iran menekan Dolar AS. XAU/USD diperdagangkan di $4.835 setelah memantul dari $4.742.

Militer AS menyita kapal-kapal yang terkait Iran saat blokade Selat Hormuz berlanjut. Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan pertemuan Washington–Teheran pekan ini.

Latar Dolar, Minyak, dan Suku Bunga

Indeks Dolar AS (DXY)—ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama—turun ke level terendah enam pekan di 97,96 dan melemah 0,26% pada sesi tersebut. Minyak mentah WTI—patokan harga minyak AS—turun hampir 6,40% ke $91,72 per barel.

Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee mengatakan suku bunga mungkin tetap tahun ini, dengan pemangkasan pada 2027 jika harga energi membuat inflasi tetap tinggi. Gubernur Stephen Miran mengatakan ia memperkirakan inflasi lebih dekat ke target dalam setahun dan tidak melihat alasan harga minyak bertahan tinggi.

PPI Maret—indeks harga di tingkat produsen, sering dilihat sebagai indikator awal tekanan inflasi—naik 4% (year on year/tahunan) dibanding perkiraan 4,6%, sementara PPI inti—PPI tanpa komponen yang bergejolak seperti energi dan pangan—3,8% (tahunan), tidak berubah dari Februari. Rata-rata empat minggu ADP—perkiraan pertambahan pekerjaan sektor swasta—naik menjadi 39,25 ribu dari 26 ribu.

Pelaku pasar memantau pidato pejabat The Fed, Beige Book—laporan kondisi ekonomi regional AS—serta klaim awal pengangguran pada Kamis. Level resistance emas (area hambatan kenaikan) termasuk $4.857 dan SMA 50 hari—rata-rata pergerakan sederhana 50 hari untuk membaca tren—di $4.896, dengan support (area penahan penurunan) dekat $4.800 serta SMA di $4.677 dan $4.650.

Benturan Geopolitik dan Dolar

Kami melihat situasi serupa pada April tahun lalu, ketika harapan meredanya ketegangan AS–Iran mendorong emas naik menuju $4.850. Namun kini, ketegangan baru di Selat Hormuz mendorong harga minyak kembali naik, dengan WTI saat ini diperdagangkan di atas $105 per barel. Kali ini Dolar AS tidak melemah, dengan DXY bertahan di sekitar 104,50, sehingga prospek emas menjadi lebih rumit dibanding reli yang terjadi pada 2025.

Benturan antara risiko geopolitik yang mendorong harga naik dan dolar yang kuat yang menekan harga menciptakan ketidakpastian, kondisi yang sering dimanfaatkan trader opsi. Volatilitas tersirat pada opsi emas—perkiraan pasar atas besarnya pergerakan harga ke depan—telah naik lebih dari 12% dalam sepuluh hari terakhir, mencerminkan kecemasan pasar. Ini mirip lonjakan volatilitas awal 2022 sebelum langkah besar bank sentral, menandakan pasar memperkirakan pergerakan besar ke salah satu arah.

Dalam kondisi ini, trader bisa mempertimbangkan opsi untuk membatasi risiko. Membeli opsi beli (call) out-of-the-money—harga kesepakatan (strike) di atas harga pasar saat ini—dengan strike sekitar $4.950 untuk jatuh tempo Juni memberi peluang jika harga menembus naik, sambil membatasi kerugian modal jika dolar tetap kuat. Strategi ini memungkinkan ikut potensi reli karena konflik tanpa terlalu tertekan oleh penguatan mata uang.

Selain itu, posisi The Federal Reserve kini lebih sensitif dibanding 2025 saat pejabat memberi sinyal suku bunga akan ditahan lama. Setelah dua pemangkasan kecil awal tahun ini, data CPI Maret—indeks harga konsumen, ukuran inflasi utama—lebih tinggi dari perkiraan di 3,2%, sehingga membuka peluang jeda pelonggaran berikutnya. Dengan data klaim pengangguran terbaru juga menunjukkan pasar tenaga kerja masih kuat, langkah The Fed berikutnya semakin tidak pasti.

Societe Generale: Penguatan yuan kembali, USD/CNY mendekati 6,80, daya tarik aset safe haven menguat di tengah pelayaran tanker melalui Selat Hormuz

Yuan menguat, dengan USD/CNY mendekati 6,80 untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, seiring tanker yang terkait dengan China melintasi Selat Hormuz. Mata uang ini disebut mulai berperan sebagai *safe haven* regional (aset “tempat berlindung” saat pasar bergejolak), sementara saham dan obligasi domestik (*onshore*, diperdagangkan di pasar daratan China) menunjukkan sikap defensif (cenderung bertahan saat risiko naik).

Korelasi 90 hari antara CSI 300 dan Bloomberg China Treasury Total Return Index berubah menjadi positif pada pertengahan Maret. Kedua pasar dilaporkan bergerak searah dan mengungguli aset Barat serta kawasan lain pada periode *risk aversion* (ketika pelaku pasar menghindari risiko dan memilih aset yang dinilai lebih aman).

Data kredit China menunjukkan pertumbuhan kredit beredar melambat menjadi 7,9% secara tahunan (*year on year*/yoy, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya), terlemah sejak November 2024. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah China tenor 10 tahun turun di bawah 1,79%, yang disebut sebagai rata-rata pergerakan 200 hari (*200-day moving average*, rata-rata harga/yield 200 hari untuk melihat tren).

Permintaan tambahan untuk obligasi pemerintah China dikaitkan dengan risiko pelemahan PDB kuartal I (1Q GDP, produk domestik bruto periode Januari–Maret) dan data aktivitas. Artikel itu mencatat alat AI membantu membuat konten dan editor meninjaunya.

CPI bulanan Argentina naik 3,4%, melampaui perkiraan 3%, menurut data inflasi Maret

Indeks harga konsumen (IHK) Argentina naik 3,4% secara bulanan (month on month) pada Maret. Angka ini lebih tinggi dari perkiraan 3%.

Rilis Maret melampaui ekspektasi sebesar 0,4 poin persentase. Data ini menambah rangkaian pemantauan inflasi terbaru di Argentina.

Inflasi Maret 3,4% yang lebih tinggi dari perkiraan merupakan kejutan besar. Ini menantang pandangan pasar bahwa Bank Sentral Argentina (BCRA) bisa melanjutkan siklus pemangkasan suku bunga yang agresif, yang membuat suku bunga acuan turun ke 45% bulan lalu. Kini, arah kebijakan moneter pada kuartal II perlu dipertanyakan.

Kami melihat tekanan langsung pada peso, yang sebelumnya stabil di sekitar 1.250 per dolar di pasar paralel (pasar nilai tukar di luar jalur resmi). Lindung nilai (hedging, yaitu strategi untuk mengurangi risiko kurs) atau spekulasi terhadap pelemahan peso melalui non-deliverable forwards/NDF (kontrak forward tanpa penyerahan mata uang fisik, diselesaikan dengan selisih nilai dalam mata uang tertentu) untuk beberapa bulan ke depan kini terlihat menarik. Peluang tembus di atas 1.300 dalam beberapa pekan ke depan kini jauh lebih besar karena inflasi yang sulit turun (inflasi “lengket”).

Pasar sebelumnya memperhitungkan setidaknya tambahan pemangkasan 400 basis poin (bps; 1 bps = 0,01 poin persentase) dari BCRA hingga Juli. Kini, kami menyarankan posisi mengantisipasi jeda pemangkasan dengan memakai interest rate swaps (swap suku bunga; kontrak untuk menukar pembayaran suku bunga) dengan membayar suku bunga tetap (pay fixed). Ini melindungi dari risiko suku bunga mengambang (floating rate; suku bunga yang berubah mengikuti acuan) tidak turun seperti yang diharapkan.

Data ini menambah ketidakpastian, sehingga kondisi menjadi ideal untuk membeli volatilitas (volatilitas; ukuran besar-kecilnya fluktuasi harga). Volatilitas tersirat (implied volatility; volatilitas yang tercermin dalam harga opsi) pada opsi indeks Merval (indeks saham utama Argentina) dan ADR utama (American Depositary Receipt; sertifikat saham perusahaan non-AS yang diperdagangkan di bursa AS) kemungkinan terlalu murah dibanding ketenangan belakangan ini. Kami melihat nilai pada strategi seperti long straddle (membeli opsi beli dan opsi jual pada harga strike dan jatuh tempo yang sama) untuk meraih keuntungan dari pergerakan pasar yang lebih besar dari perkiraan saat pemerintah dan bank sentral bereaksi.

Data AS yang lebih lemah dan optimisme terkait Iran mendorong selera risiko yang lebih luas, menekan Dolar AS secara keseluruhan

Indeks Dolar AS (DXY) turun ke sekitar 98,10 dan menyentuh level terendah dalam beberapa pekan, seiring data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan dan membaiknya sentimen global memicu aksi jual dolar AS secara luas. Turunnya harga minyak dan meredanya imbal hasil obligasi (yield)—bunga efektif yang tercermin dari harga obligasi—menambah tekanan. Pembicaraan tentang kemungkinan negosiasi AS–Iran juga mengurangi permintaan aset aman (safe haven), yaitu aset yang biasanya diburu saat pasar khawatir, seperti dolar AS, yen, dan emas.

Data AS beragam namun cenderung negatif bagi dolar. Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI)—ukuran inflasi di tingkat produsen atau “harga dari pabrik”—pada Maret bertahan di 3,8% (year on year/yoy, dibanding periode yang sama tahun lalu). Rata-rata 4 pekan perubahan tenaga kerja versi ADP (ADP Employment Change)—perkiraan pertambahan pekerjaan dari perusahaan pengolah data gaji—naik ke sekitar 39 ribu dari 26 ribu, menunjukkan tren pasar kerja yang masih stabil.

EUR/USD naik di atas 1,1790 dan GBP/USD menguat ke sekitar 1,3570, didukung pelemahan dolar AS. USD/JPY turun ke sekitar 158,80 seiring yen menguat dan pasar menilai peluang Bank of Japan (BoJ) melihat inflasi lebih tinggi. BoJ adalah bank sentral Jepang; perubahan pandangannya soal inflasi bisa memengaruhi arah suku bunga Jepang.

AUD/USD naik ke sekitar 0,7130 seiring selera risiko (risk appetite)—keinginan investor mengambil aset berisiko seperti saham dan mata uang berimbal hasil lebih tinggi—membaik. Minyak WTI turun di bawah US$91,65 per barel. WTI (West Texas Intermediate) adalah patokan harga minyak AS. Emas bertahan dekat US$4.836 namun ruang kenaikannya terbatas.

Agenda berikutnya mencakup pertemuan IMF AS (15–17 April), CPI (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen, inflasi di tingkat konsumen) Prancis Maret, produksi industri Zona Euro Februari, indeks NY Empire State (survei kondisi bisnis manufaktur wilayah New York), serta Fed Beige Book—laporan berkala Federal Reserve tentang kondisi ekonomi di berbagai distrik AS. Rilis selanjutnya meliputi data tenaga kerja Australia, PDB (GDP) China kuartal I, PDB dan data output Inggris Februari, ukuran inflasi Italia dan Zona Euro Maret, risalah/akun rapat ECB (European Central Bank/Bank Sentral Eropa), serta klaim pengangguran AS dan survei manufaktur.

Jester Koh dari UOB: MAS menaikkan proyeksi inflasi 2026 seiring kenaikan harga energi mendongkrak pembacaan CPI Singapura

MAS menaikkan kisaran proyeksi inflasi inti dan inflasi utama (headline) 2026 menjadi 1,5–2,5%, dari 1,0–2,0% pada MPS Januari 2026. Kenaikan ini menyusul naiknya biaya energi impor dan pandangan MAS yang lebih tegas terhadap risiko inflasi dibanding pertumbuhan ekonomi. (Inflasi inti adalah inflasi yang biasanya tidak menghitung harga yang bergejolak seperti transportasi dan akomodasi; inflasi utama adalah inflasi total/IHK.)

Pernyataan kebijakan menyebut harga energi global bisa tetap tinggi meski pasokan dari Timur Tengah kembali normal. MAS menyoroti keterlambatan pengiriman, waktu pemulihan pasokan, serta upaya pemerintah membangun kembali cadangan energi yang dapat menambah permintaan.

MAS memperkirakan harga barang impor Singapura—baik barang antara (untuk bahan baku/produksi) maupun barang konsumsi akhir—akan naik. Kenaikan harga minyak dan gas diperkirakan akan masuk ke IHK melalui listrik, transportasi, dan harga barang.

UOB menaikkan proyeksi inflasi utama 2026 menjadi 2,0% dari 1,5%, dan proyeksi 2027 menjadi 2,2%. UOB juga menaikkan proyeksi inflasi inti 2026 menjadi 1,9% dari 1,5%, dengan proyeksi inflasi inti 2027 sebesar 1,9%.

Dalam skenario dasar UOB, MAS diperkirakan akan memperketat kebijakan pada MPS Oktober 2026 dengan menaikkan kemiringan (slope) pita S$NEER sebesar 50 bps menjadi 1,5% per tahun. (S$NEER adalah nilai tukar dolar Singapura terhadap sekeranjang mata uang mitra dagang; “pita” adalah rentang pergerakan yang dikelola; “kemiringan” adalah laju penguatan atau pelemahan yang diizinkan. 50 bps = 0,50 poin persentase.) UOB juga menilai ada kemungkinan langkah serupa di MPS Juli 2026.

MAS juga mencatat harga minyak mentah Brent di pasar futures kini diperdagangkan di atas US$110 per barel setelah gangguan pasokan di Timur Tengah. (Futures adalah kontrak untuk membeli/menjual di harga tertentu untuk pengiriman di masa depan.) Harga yang bertahan di level ini dapat menahan penurunan inflasi domestik.

Pasar forward mulai memperhitungkan dolar Singapura yang lebih kuat dalam enam bulan ke depan, terutama menjelang jadwal kebijakan Juli dan Oktober. (Forward adalah kesepakatan kurs untuk transaksi di masa depan.) Permintaan opsi yang diuntungkan saat SGD menguat juga meningkat. (Opsi adalah kontrak yang memberi hak—bukan kewajiban—untuk membeli/menjual aset di harga tertentu.) Ini menunjukkan pasar mulai membangun ekspektasi adanya pengetatan kebijakan.

AUD/USD menguat tipis, bidik resistensi 0,7150-0,7170 seiring Dolar AS melemah karena harapan pembicaraan AS-Iran mendongkrak AUD

AUD/USD bergerak menguat tipis pada Selasa, didukung pelemahan Dolar AS. Pasangan ini berada di sekitar 0,7132, level tertinggi sejak 12 Maret.

Harapan dimulainya kembali pembicaraan AS–Iran menekan Dolar AS dan mendukung mata uang yang peka terhadap sentimen risiko seperti Dolar Australia. Ekspektasi tercapainya kesepakatan mendorong harga minyak turun, sehingga risiko inflasi jangka pendek mereda dan tekanan terhadap Federal Reserve (bank sentral AS) untuk mengetatkan kebijakan juga berkurang.

Data Indeks Harga Produsen (PPI) AS yang lebih lemah dari perkiraan menambah tekanan pada Dolar AS. Indeks Dolar AS (DXY)—ukuran kekuatan Dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama—diperdagangkan di sekitar 98,00, terendah sejak 2 Maret.

Dolar Australia juga ditopang sikap Reserve Bank of Australia (RBA/bank sentral Australia) yang relatif “hawkish” (cenderung mendukung suku bunga tinggi untuk menahan inflasi) di tengah inflasi yang masih sulit turun. Pada grafik harian, AUD/USD masih berada dalam struktur tren naik yang lebih luas setelah kembali menembus di atas Simple Moving Average (SMA) 50 hari (rata-rata pergerakan harga 50 hari).

Level terendah Maret di dekat 0,6833 berdekatan dengan SMA 100 hari. SMA 50 hari berada di sekitar 0,7033 dan berada di atas SMA 100 hari di sekitar 0,6874.

RSI 14 hari (indikator momentum yang mengukur kekuatan beli/jual) berada di sekitar 63, sementara MACD (indikator tren dan momentum) naik di atas garis nol dengan batang histogram positif. Area support (tumpuan) berada di 0,7033, lalu 0,6920 dan 0,6874. Area resistance (hambatan) berada di 0,7150–0,7170 lalu 0,7200.

Strategis OCBC sebut USD/KRW naik di tengah ketegangan Timur Tengah dan kenaikan harga minyak, menekan won yang berbeta tinggi dan pengimpor minyak.

USD/KRW naik seiring ketegangan di Timur Tengah meningkat dan harga minyak meroket. Ini menekan won Korea Selatan karena won termasuk mata uang yang lebih sensitif terhadap sentimen risiko global (high-beta: mudah menguat saat pasar optimistis dan mudah melemah saat pasar panik) dan Korea Selatan adalah pengimpor minyak bersih. Pejabat Bank of Korea (bank sentral Korea Selatan) menilai pelemahan won belakangan ini terutama dipicu guncangan eksternal dan penataan ulang portofolio (portfolio rebalancing: investor mengurangi/menambah porsi aset setelah kenaikan besar saham Korea).

Mereka membandingkannya dengan akhir tahun lalu, ketika pelemahan won lebih terkait faktor domestik seperti arus investasi keluar negeri oleh penduduk (outbound flows) dan ketidakpastian terkait aset di luar negeri. Mereka juga menyebut risiko inflasi kini lebih condong naik dibanding risiko perlambatan ekonomi, dibandingkan dengan proyeksi saat ini.

Komentar kebijakan menandakan sikap hati-hati selama ketidakpastian perang di Iran masih tinggi. Jika guncangan ini hanya sementara, dewan Bank of Korea kemungkinan menahan perubahan suku bunga. Namun jika guncangan bertahan lama, bank sentral bisa merespons lewat kebijakan (misalnya penyesuaian suku bunga atau langkah stabilisasi pasar).

USD/KRW terakhir di sekitar 1488. Momentum harian masih cenderung bearish (bearish: mengarah pada pelemahan USD/KRW/ penguatan won), sementara RSI (Relative Strength Index: indikator untuk mengukur apakah harga sudah terlalu jenuh jual atau jenuh beli) naik dari area oversold (jenuh jual: penurunan dianggap sudah terlalu jauh). Pasangan ini diperkirakan bergerak dua arah di kisaran 1470–1500, dengan support (area penahan penurunan) di 1475 (DMA 50: rata-rata bergerak 50 hari) dan 1469 (DMA 100: rata-rata bergerak 100 hari), serta resistance (area penahan kenaikan) di 1492 (fib retracement 38,2%: level pantulan berdasarkan perhitungan Fibonacci) dan 1500 (DMA 21: rata-rata bergerak 21 hari).

Kontrak berjangka (futures: kontrak jual-beli untuk pengiriman di masa depan) Brent untuk pengiriman Juni menembus $112 per barel bulan ini, yang langsung menekan biaya impor energi dan memengaruhi ekonomi. Ini mendukung pandangan bank sentral bahwa risiko inflasi meningkat, terutama setelah data Maret menunjukkan inflasi konsumen naik 3,8% secara tahunan (year-over-year: dibanding periode yang sama tahun lalu). Penataan ulang portofolio juga masuk akal setelah penguatan besar indeks KOSPI pada kuartal pertama.

Minyak mentah WTI turun untuk sesi ketiga, diperdagangkan di sekitar US$89,10, seiring diplomasi AS-Iran meredakan kekhawatiran terkait Selat Hormuz

WTI turun untuk hari ketiga berturut-turut pada Selasa, diperdagangkan di sekitar US$89,10 per barel dan melemah 3,93% saat penulisan. Harga turun karena pasar menilai peluang dimulainya lagi pembicaraan AS-Iran.

CNN melaporkan pejabat AS mungkin menggelar pertemuan tatap muka kedua dengan perwakilan Iran sebelum gencatan senjata dua minggu berakhir pada 21 April. Ini menyusul pembicaraan sebelumnya di Pakistan yang belum menghasilkan kesepakatan.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran bisa terjadi dalam beberapa hari ke depan. Ini terjadi meski ada blokade angkatan laut AS yang menargetkan pelabuhan-pelabuhan Iran. (Blokade angkatan laut adalah upaya membatasi keluar-masuk kapal lewat jalur laut.)

Pasar menilai diplomasi dapat menurunkan risiko konflik dalam waktu dekat yang bisa mengganggu pasokan energi. Pada saat yang sama, perselisihan soal program nuklir Iran masih belum selesai. (Program nuklir mengacu pada kegiatan pengembangan teknologi nuklir, yang diperdebatkan terkait tujuan energi maupun potensi militer.)

Perhatian juga tertuju pada Selat Hormuz, jalur penting ekspor minyak global. Kawasan ini tetap menjadi sumber risiko bagi pelayaran dan pasokan.

Rabobank mengatakan gangguan di sekitar Hormuz bisa memicu “kejutan pasokan” jika pembatasan makin ketat. (Kejutan pasokan berarti pasokan turun mendadak sehingga harga bisa melonjak.) Rabobank juga menilai beberapa kilang bisa kekurangan minyak mentah jika arus kapal tetap terhambat, yang dapat memicu kelangkaan bahan bakar dan menambah tekanan inflasi. (Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum.)

Back To Top
server

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

Segera berbual dengan pasukan kami

Chat Langsung

Mulakan perbualan secara langsung melalui...

  • Telegram
    hold Ditangguh
  • Akan datang...

Hai 👋

Bagaimana saya boleh membantu?

telegram

Imbas kod QR dengan telefon pintar anda untuk mula berbual dengan kami, atau klik di sini.

Tidak ada aplikasi Telegram atau versi Desktop terpasang? Gunakan Web Telegram sebaliknya.

QR code